Bulan: June 2013 (halaman 1 dari 2)

Ketenangan di Desa Coloane, Makau

Makau, negara tetangga Hong Kong yang hanya seluas kota Bogor ini memang sangat terkenal dengan kemewahannya. Suasana yang gemerlap di malam hari, dentingan mesin-mesin kasino, pertunjukan-pertunjukan spektakuler, dan pemandangan deretan gedung hotel raksasa yang tinggi menjulang menjadi suatu daya tarik para turis untuk berkunjung ke tempat ini, baik sekedar belibur melepas penat maupun menghabiskan pundi-pundi uang mereka di meja judi.
Sudut Rua de Interior
Sudut Rua de Interior
Namun, di balik suasana kota modern yang serba glamor tersebut, tersembunyi sebuah desa yang sunyi dan sederhana di pinggiran kota bernama Coloane. Tempat ini pulalah yang menjadi tujuan utama saya ketika berkunjung ke Makau. Maka, setelah puas berkeliling Senado Square, saya langsung menaiki bus nomor 26A (alternatif lain adalah bus no. 21A yang juga lewat di depan halte Senado Square) dari halte bus di depan Largo de Senado menuju Coloane Village, perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Suasana di dalam bis sangatlah nyaman, selain sejuk ber AC, terdapat pula monitor di depan bus dalam tiga versi bahasa, Cantonese, Inggris, dan Portugis yang sangat ramah terhadap turis. Monitor bersuara tersebut adalah petunjuk nama halte selanjutnya yang akan disinggahi bus tersebut, sehingga kecil kemungkinan akan tersesat atau terlewat. Sebaiknya kita bayar ongkos bus dengan uang pas, karena jika uang yang kita bayarkan jumlahnya lebih besar, maka selisihnya tidak akan dikembalikan.
Kapel FX Xavier
Kapel FX Xavier
Antrian di Lord Stow Cafe.
Antrian di Lord Stow Cafe.
Lord Stow Cafe
Lord Stow Cafe
Di sepanjang jalan menuju Coloane, tampak plang-plang jalan dengan bahasa Portugis dan mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. Tak lama kemudian, sampailah bus di tempat tujuan. Saya turun di halte bus Coloane Villa dan langsung menuju Lord Stow’s Bakery untuk mencicipi Portugese egg tart yang sangat legendaris di seantero Makau. Lord Stow’s Bakery ini adalah toko pertama dimana portugese egg tart pertama kali diproduksi, jam buka mulai pukul 10.00 pagi, semakin siang antriannya semakin panjang. Jika telah membeli egg tart, cobalah untuk duduk-duduk sebentar di bangku besi yang terletak menghadap ke jalan di depan toko tersebut sambil menikmati egg tart yang bertekstur lembut dan harum tersebut. Sebenarnya, Lord Stow’s ini sudah membuka cabangnya di The Venettian Hotel, tetapi saya tetap ingin mengunjungi kedai pertama mereka yang dibangun di Coloane, tepatnya di Rua de Cordoaria. Jika belum juga kenyang dengan eggtart, di sek itar Lord Stow’s Bakery terdapat Lord Stow’s Cafe yang menyuguhkan makanan berat. Keduanya selalu dipenuhi oleh pengunjung sehingga kita harus rela untuk mengantri.
Restoran-restoran di pinggir jalan.
Restoran-restoran di pinggir jalan.
Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.
Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.
Setelah melepas rasa penasaran dengan egg tart, saya pun lanjut menelusuri sudut-sudut lain di desa ini. Di sebuah taman kecil terlihat pasangan suami istri yang sedang asyik mengobrol santai, di ujung jalan tampak seorang wanita berpakaian kasual sedang mengajak kedua anjingnya berjalan-jalan, tidak jauh kemudian terlihat pasangan muda yang sedang menikmati makan siang di sebuah kafe di pinggir jalan. Saya terus berjalan menuju Rua de Interior. Sungguh cantik sudut jalan ini, rumah-rumah bertingkat khas Portugis berukuran mini bersandingan satu dengan yang lainnya tanpa dibatasi pagar, beberapa memiliki pekarangan kecil dengan bunga warna warni dalam pot yang membingkai jendela. Di sudut jalan lain, banyak pula rumah tua di lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, walaupun sempit, namun sangat bersih dan tertata.
Saya pun terus menyusuri hingga masuk ke dalam pasar. Pasar di Coloane adalah sederetan kios-kios kecil yang berjejer dalam gang yang sempit, panjang gang ini hanyalah sekitar 20 meter, lebih mirip seperti deretan warung dibandingkan dengan pasar. Hanya beberapa kios saja yang buka pada saat itu, selebihnya tutup. Ternyata, pasar di sana hanya ramai pada saat akhir minggu. Terlihat pula beberapa wanita yang sedang mengobrol, menunggui kiosnya sambil menggendong anak–anak mereka.
Di ujung gang pasar tersebut, berdirilah Chapel of St. Francis Xavier yang dirikan pada tahun 1928, bangunan ini memiliki keunikan jendela yang berbentuk oval dan terdapat menara lonceng di atasnya. Di depannya, terdapat sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang kemenangan warga lokal terhadap para bajak laut pada tahun 1910. Dahulu, Coloane merupakan sebuah desa nelayan dan pelabuhan perdagangan. Karena itu, banyak terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh para bajak laut, sehingga memicu penyerangan warga lokal terhadap bajak laut. Kemenangan inilah yang diperingati warga dalam bentuk monumen tersebut. Jika perut terasa lapar, mampirlah sebentar ke Kafe Nga Tim yang terletak di sebelah kapel tersebut untuk mencicipi kuliner khas Portugis, atau hanya sekedar duduk beristirahat. Kafe ini selalu ramai oleh turis karena masakannya terkenal sangat lezat.
Monumen kemenangan atas bajak laut.
Monumen kemenangan atas bajak laut.
Deretan mobil di tepi laut.
Deretan mobil di tepi laut.
Di seberang kapel tersebut, kita bisa melihat laut yang memantulkan cahaya temaram ketika matahari mulai terbenam. Rentetan mobil mewah terparkir di sepanjang garis laut tersebut. Tak jauh dari sana, tepatnya di Avenida de Cinco de Outubro, terdapat Kuil Tam Kung yang sangat khas dengan ornamen Cina dengan dominasi warna merah menyala pada bangunannya.
Kebanyakan warga Coloane memang tidak dapat berbahasa Inggris, mereka hanya bisa berbahasa Cantonese, jadi agak sedikit sulit jika bertanya jalan atau arah kepada mereka.
Tetapi jangan khawatir, karena Coloane sangatlah kecil, ke manapun kita melangkah pasti dapat menemukan jalan pulang dengan mudah. Setengah hari sangatlah cukup untuk menjelajahi tempat ini. Saya benar-benar puas menikmati suguhan suasana yang ditawarkan desa nelayan ini. Selain udaranya yang masih segar, kondisi lingkungannya pun sangat bersih, tertib, dan rapi. Perpaduan arsitektur Cina dan Portugis masih terasa sangat kental. Selain itu, banyak fasilitas publik yang bisa dijadikan tempat berkumpul warga setempat, sehingga kita akan betah berlama-lama berada disini. Suasana yang benar-benar damai, tidak ada yang tergesa-gesa, jauh dari hiruk-pikuk dan hingar bingar, semua terlihat tenang seperti air yang mengalir.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

Menikmati Moskow di Bulan April

St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
Moskow begitu suram pada akhir musim dingin. Salju yang tidak cair sempurna masih ada di rerumputan, sungai dan pohon. Saya tiba di Moskow pada pertengahan April. Langit kelabu, jalanan kotor oleh salju bercampur tanah. Kesan “pasca” negara adidaya masih jelas terlihat dari gedung–gedung tinggi dan bentuk bangunan mereka yang berseni serta berwarna–warni.
Beruntung saya tinggal di hotel yang tak jauh dari pusat kota. Hanya 20-25 menit jalan kaki menuju Lapangan Merah (Red Square) dan Kremlin. Gerimis turun saat saya dan teman–teman berencana keliling kota dengan jalan kaki. Namun tidak ada yang urung untuk tetap menelusuri budaya Rusia. Kami berangkat tepat setelah makan siang!
Alexander Park
Alexander Park
Jalan–jalan kami diawali dengan mengunjungi Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja ortodoks tertinggi di dunia. Gereja ini dibangun pada tahun 1883 dan diruntuhkan semasa perang. Alih–alih dibangun kembali, pemerintah malah membangun kolam renang air panas untuk umum di atas tanah reruntuhannya dan menuai protes dari banyak pihak. Akhirnya pada bulan Agustus 2000, gereja ini dibangun kembali dengan mengulang tiap detil desain, lukisan, ukiran maupun pahatan mimbar. Di dalam, mural serta kubah sungguh indah, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret.
Lapangan Merah hanya terletak 10 menit dari situ. Tapi, terlebih dahulu kami masuk ke dalam Kremlin. Kremlin berada di tengah antara Sungai Moskva (selatan), Katedral St. Basil dan Lapangan Merah (timur), Alexander Park (barat). Kremlin terdiri dari lima istana, empat katedral, dinding dan menara Kremlin. Empat katedral kecil di dalam Kremlin berbeda “aliran” karena Tsarina terdahulu ingin meraih sebanyak mungkin simpati rakyat dengan membangun gereja–gereja yang berbeda untuk mereka. Saat ini Kremlin masih digunakan sebagai kediaman resmi presiden Rusia.
Lapangan Merah (Red Square)
Lapangan Merah (Red Square)
Hal lucu yang kami temui di salah satu katedral di dalam Kremlin itu adalah bagaimana asal pelukis memengaruhi warna pada setiap lukisan yang ada. Pelukis gereja asal Rusia selalu melukis karakter/tokoh orang/ malaikat dengan warna kulit putih. Sementara pemugaran dan perbaikan gereja dilakukan oleh pelukis asal Itali yang menggunakan warna gelap untuk kulit (coklat tua). Sehingga ada bagian – bagian tertentu dimana manusia dan malaikat digambarkan dengan warna kulit putih dan ada yang berkulit hitam padahal mural itu menggambarkan satu rangkaian cerita.
The Kremlin
The Kremlin
Dari tepi Kremlin pemandangan kota Moskow sangat indah. Wisata gereja kami pun sungguh berkesan. Kami berjalan ke gerbang luar menuju taman kota yang membentang sepanjang sisi depan Kremlin ke arah lapangan merah. Dekat gerbang luar kami mendapati bangunan terpisah yang dijaga ketat. Ternyata bangunan tersebut adalah apartemen Lenin. Di situlah dia menghabiskan masa–masa terakhir hidupnya dengan membawa seluruh keluarga besarnya menetap di sana.
Lapangan Merah dikelilingi bangunan–bangunan tua yang indah, termasuk gereja St. Basil yang merupakan ikon terkenal kota Moskow. Saya sengaja memotret St. Basil saat siang dan malam hari karena menurut kabar, bangunan tersebut memiliki karisma mistis yang berbeda saat terang dan gelap. Di bagian luar lapangan merah banyak kaki lima menjajakan tanda mata dan pin-pin kuno jaman perang.
Satu hal yang sangat disayangkan dari Lapangan Merah adalah bangunan panjang di sisi kiri yang dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan lampu terang-benderang yang mengingatkan saya akan istana di Disneyland.
Tidak sulit menemukan restauran atau kafe enak di Moskow. Resto fusion Asia pun banyak. Hanya saja harganya memang mirip dengan standar Eropa. Siap–siap tutup mata saat bayar. Ada satu restoran Ukraina yang letaknya dekat Kremlin. Dengan suasana hangat khas petani, resto ini sangat nyaman dengan pilihan makan beragam seperti lidah sapi rebus, vodka cabai (chilli vodka) serta roti dadar dengan salmon mentah dan keju.
Pusat kota Moskow menyenangkan bagi saya. Ada kesan klasik dan modern jadi satu. Lapangan merah dan Taman Alexander selalu “hidup” siang dan malam menjadi tempat nongkrong berbagai usia. Satu lagi hal menarik dari Moskow adalah Moskow Metpo (dibaca: Metro) atau kereta bawah tanah. Keretanya mungkin sama saja dengan kereta bawah tanah negara lain, tapi stasiun bawah tanahnya mengesankan. Selalu ada desain berbeda yang ditemui di tiap stasiun, entah mural atau mozaik yang menceritakan perang, atau patung-patung serta pedang–pedang tembaga sepanjang lorong stasiun. Lebih mirip basement istana atau bunker perang daripada stasiun kereta.
Moskow mempunyai pasar tradisional yang terkenal, Izmailovo. Letaknya agak jauh dari pusat kota namun barang–barang yang dijual jauh lebih murah. Selain tanda mata umum seperti kaus, matryoshka, magnet atau gantungan kunci, Izmailovo menjual barang–barang bekas menarik dengan berbagai harga mulai dari kamera analog, lukisan tua dan pin kuno.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

The Owl Museum, Penang Hill, Malaysia

Satu tempat yang menarik perhatian saya saat mengunjungi Penang Hill adalah The Owl Museum. The Owl Museum merupakan museum burung hantu pertama di Asia Tenggara, tempatnya amat unik, di dalamnya terdapat koleksi patung, gambar, foto, lukisan, replika, film, boneka kayu, dan lainnya yang berbentuk burung hantu. Museum ini berisi lebih dari 1.000 koleksi replika burung hantu, koleksi ini berasal lebih dari 20 negara seperti Jepang, Korea Selatan, Uruguay, China, Vietnam, Thailand, Inggris, Indonesia dan Perancis.
Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.
Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.
Untuk menuju ke tempat ini saya naik bus Rapid Penang dari Komtar dan turun langsung di depan pintu gerbang Penang Hill, kemudian dilanjutkan naik kereta kabel menuju puncak Penang Hill. Museum ini terletak di tempat yang nyaman, udaranya sangat sejuk ditambah dengan pemandangan langit biru dan laut biru yang tampak menyatu dari kejauhan.
The Owl Museum sangat mudah untuk ditemukan, terdapat plang nama besar yang bertuliskan “The Owl Museum”. Dari luar bangunan The Owl Museum terlihat dengan mayoritas bahan kayu, terlihat amat bernafaskan etnik. Gedung museum ini jadi satu dengan gedung tempat menjual makanan dan cinderamata di Penang Hill. The Owl Museum terletak di bawah tempat penjual makanan dan cinderamata.
Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.
Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.
Boneka-boneka lucu burung hantu.
Boneka-boneka lucu burung hantu.
Di depan tangga menuju pintu masuk The Owl Museum terdapat lobi penjualan tiket, saya membeli tiket masuk di tempat tersebut seharga RM5 (sekitar Rp15.000). Harga sebenarnya untuk tiket masuk adalah RM10, namun ada diskon RM5 bila pengunjung masih mahasiswa dan bisa menunjukan kartu mahasiswa, kebetulan status saya selain sebaga karyawan swasta saya juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana, saya tunjukanlah kartu mahasiswa saya kepada petugas, dan saya pun berhasil mendapat potongan setengah harga.
Satu langkah memasuki The Owl Museum langsung disuguhi ornamen burung hantu yang unik. Terdapat banyak ornamen burung hantu yang terbuat dari bermacam-macam material seperti kayu, batu, logam, kaca, tanah liat, plastik, tanduk kerbau, kerang, kacang-kacangan, tanaman serat, kristal, porselen, gerabah, kertas dan barang-barang daur ulang. Semuanya sangat unik.
Ada beberapa lukisan dan gambar burung hantu yang tertempel dengan rapi di dinding museum. Selain itu terdapat pula koleksi burung hantu dalam bentu patung dan boneka yang tersusun rapi di dalam rak kaca, semua dalam bentuk yang berbeda, terlihat sangat menarik.
Toko cinderamata.
Toko cinderamata.
Rak penuh dengan patung burung hantu.
Rak penuh dengan patung burung hantu.
Di sudut sebelah kiri dekat dengan pintu masuk terdapat meja dan dan kursi kayu, di atas meja itu tersusun replika burung hantu yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan cara dipahat. Di sekitar meja tersebut juga terdapat alat-alat ukir dan pahat yang menandakan bahwa replika burung hantu tersebut dibuat dari kayu yang diukir dan dipahat. Sungguh kombinasi karya yang penuh dengan nilai seni.
Di sebelah kanan pintu masuk terdapat karpet tebal yang tergelar di lantai, dan di atas karpet tersebut terdapat banyak boneka burung hantu. Kemudian tepat di depan karpet tersebut terdapat TV layar datar yang memutarkan video dan film yang bertemakan burung hantu.
Satu hal unik lain dalam museum ini adalah kutipan kata-kata yang terpampang di dalam museum. Ada satu kutipan yang paling menarik perhatian saya, bunyinya, “A wise old owl lived in an oak, the more he saw the less he spoke, the less he spoke the more he heard. Why can’t we be like that wise old bird?”.
Tempat yang paling terakhir saya kunjungi adalah toko cinderamata museum, di tempat itu dijual boneka, kaos, patung, jam, alat tulis, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Harga-harganya juga terjangkau.
Tempat ini sangat direkomendasikan bagi semua pelancong yang sedang berlibur di Penang, terutama saat mengunjungi Penang Hill. The Owl Museum buka setiap hari dari pukul 9:00 sampai dengan pukul 18:00.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil