Artikel-artikel dari bulan Juni 2013

Ketenangan di Desa Coloane, Makau

Makau, negara tetangga Hong Kong yang hanya seluas kota Bogor ini memang sangat terkenal dengan kemewahannya. Suasana yang gemerlap di malam hari, dentingan mesin-mesin kasino, pertunjukan-pertunjukan spektakuler, dan pemandangan deretan gedung hotel raksasa yang tinggi menjulang menjadi suatu daya tarik para turis untuk berkunjung ke tempat ini, baik sekedar belibur melepas penat maupun menghabiskan pundi-pundi uang mereka di meja judi.

Sudut Rua de Interior
Sudut Rua de Interior

Namun, di balik suasana kota modern yang serba glamor tersebut, tersembunyi sebuah desa yang sunyi dan sederhana di pinggiran kota bernama Coloane. Tempat ini pulalah yang menjadi tujuan utama saya ketika berkunjung ke Makau. Maka, setelah puas berkeliling Senado Square, saya langsung menaiki bus nomor 26A (alternatif lain adalah bus no. 21A yang juga lewat di depan halte Senado Square) dari halte bus di depan Largo de Senado menuju Coloane Village, perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Suasana di dalam bis sangatlah nyaman, selain sejuk ber AC, terdapat pula monitor di depan bus dalam tiga versi bahasa, Cantonese, Inggris, dan Portugis yang sangat ramah terhadap turis. Monitor bersuara tersebut adalah petunjuk nama halte selanjutnya yang akan disinggahi bus tersebut, sehingga kecil kemungkinan akan tersesat atau terlewat. Sebaiknya kita bayar ongkos bus dengan uang pas, karena jika uang yang kita bayarkan jumlahnya lebih besar, maka selisihnya tidak akan dikembalikan.

Kapel FX Xavier
Kapel FX Xavier

Antrian di Lord Stow Cafe.
Antrian di Lord Stow Cafe.

Lord Stow Cafe
Lord Stow Cafe

Di sepanjang jalan menuju Coloane, tampak plang-plang jalan dengan bahasa Portugis dan mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. Tak lama kemudian, sampailah bus di tempat tujuan. Saya turun di halte bus Coloane Villa dan langsung menuju Lord Stow’s Bakery untuk mencicipi Portugese egg tart yang sangat legendaris di seantero Makau. Lord Stow’s Bakery ini adalah toko pertama dimana portugese egg tart pertama kali diproduksi, jam buka mulai pukul 10.00 pagi, semakin siang antriannya semakin panjang. Jika telah membeli egg tart, cobalah untuk duduk-duduk sebentar di bangku besi yang terletak menghadap ke jalan di depan toko tersebut sambil menikmati egg tart yang bertekstur lembut dan harum tersebut. Sebenarnya, Lord Stow’s ini sudah membuka cabangnya di The Venettian Hotel, tetapi saya tetap ingin mengunjungi kedai pertama mereka yang dibangun di Coloane, tepatnya di Rua de Cordoaria. Jika belum juga kenyang dengan eggtart, di sek itar Lord Stow’s Bakery terdapat Lord Stow’s Cafe yang menyuguhkan makanan berat. Keduanya selalu dipenuhi oleh pengunjung sehingga kita harus rela untuk mengantri.

Restoran-restoran di pinggir jalan.
Restoran-restoran di pinggir jalan.

Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.
Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.

Setelah melepas rasa penasaran dengan egg tart, saya pun lanjut menelusuri sudut-sudut lain di desa ini. Di sebuah taman kecil terlihat pasangan suami istri yang sedang asyik mengobrol santai, di ujung jalan tampak seorang wanita berpakaian kasual sedang mengajak kedua anjingnya berjalan-jalan, tidak jauh kemudian terlihat pasangan muda yang sedang menikmati makan siang di sebuah kafe di pinggir jalan. Saya terus berjalan menuju Rua de Interior. Sungguh cantik sudut jalan ini, rumah-rumah bertingkat khas Portugis berukuran mini bersandingan satu dengan yang lainnya tanpa dibatasi pagar, beberapa memiliki pekarangan kecil dengan bunga warna warni dalam pot yang membingkai jendela. Di sudut jalan lain, banyak pula rumah tua di lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, walaupun sempit, namun sangat bersih dan tertata.

Saya pun terus menyusuri hingga masuk ke dalam pasar. Pasar di Coloane adalah sederetan kios-kios kecil yang berjejer dalam gang yang sempit, panjang gang ini hanyalah sekitar 20 meter, lebih mirip seperti deretan warung dibandingkan dengan pasar. Hanya beberapa kios saja yang buka pada saat itu, selebihnya tutup. Ternyata, pasar di sana hanya ramai pada saat akhir minggu. Terlihat pula beberapa wanita yang sedang mengobrol, menunggui kiosnya sambil menggendong anak–anak mereka.

Di ujung gang pasar tersebut, berdirilah Chapel of St. Francis Xavier yang dirikan pada tahun 1928, bangunan ini memiliki keunikan jendela yang berbentuk oval dan terdapat menara lonceng di atasnya. Di depannya, terdapat sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang kemenangan warga lokal terhadap para bajak laut pada tahun 1910. Dahulu, Coloane merupakan sebuah desa nelayan dan pelabuhan perdagangan. Karena itu, banyak terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh para bajak laut, sehingga memicu penyerangan warga lokal terhadap bajak laut. Kemenangan inilah yang diperingati warga dalam bentuk monumen tersebut. Jika perut terasa lapar, mampirlah sebentar ke Kafe Nga Tim yang terletak di sebelah kapel tersebut untuk mencicipi kuliner khas Portugis, atau hanya sekedar duduk beristirahat. Kafe ini selalu ramai oleh turis karena masakannya terkenal sangat lezat.

Monumen kemenangan atas bajak laut.
Monumen kemenangan atas bajak laut.

Deretan mobil di tepi laut.
Deretan mobil di tepi laut.

Di seberang kapel tersebut, kita bisa melihat laut yang memantulkan cahaya temaram ketika matahari mulai terbenam. Rentetan mobil mewah terparkir di sepanjang garis laut tersebut. Tak jauh dari sana, tepatnya di Avenida de Cinco de Outubro, terdapat Kuil Tam Kung yang sangat khas dengan ornamen Cina dengan dominasi warna merah menyala pada bangunannya.

Kebanyakan warga Coloane memang tidak dapat berbahasa Inggris, mereka hanya bisa berbahasa Cantonese, jadi agak sedikit sulit jika bertanya jalan atau arah kepada mereka.

Tetapi jangan khawatir, karena Coloane sangatlah kecil, ke manapun kita melangkah pasti dapat menemukan jalan pulang dengan mudah. Setengah hari sangatlah cukup untuk menjelajahi tempat ini. Saya benar-benar puas menikmati suguhan suasana yang ditawarkan desa nelayan ini. Selain udaranya yang masih segar, kondisi lingkungannya pun sangat bersih, tertib, dan rapi. Perpaduan arsitektur Cina dan Portugis masih terasa sangat kental. Selain itu, banyak fasilitas publik yang bisa dijadikan tempat berkumpul warga setempat, sehingga kita akan betah berlama-lama berada disini. Suasana yang benar-benar damai, tidak ada yang tergesa-gesa, jauh dari hiruk-pikuk dan hingar bingar, semua terlihat tenang seperti air yang mengalir.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

Menikmati Moskow di Bulan April

St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.

Moskow begitu suram pada akhir musim dingin. Salju yang tidak cair sempurna masih ada di rerumputan, sungai dan pohon. Saya tiba di Moskow pada pertengahan April. Langit kelabu, jalanan kotor oleh salju bercampur tanah. Kesan “pasca” negara adidaya masih jelas terlihat dari gedung–gedung tinggi dan bentuk bangunan mereka yang berseni serta berwarna–warni.

Beruntung saya tinggal di hotel yang tak jauh dari pusat kota. Hanya 20-25 menit jalan kaki menuju Lapangan Merah (Red Square) dan Kremlin. Gerimis turun saat saya dan teman–teman berencana keliling kota dengan jalan kaki. Namun tidak ada yang urung untuk tetap menelusuri budaya Rusia. Kami berangkat tepat setelah makan siang!

Alexander Park
Alexander Park

Jalan–jalan kami diawali dengan mengunjungi Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja ortodoks tertinggi di dunia. Gereja ini dibangun pada tahun 1883 dan diruntuhkan semasa perang. Alih–alih dibangun kembali, pemerintah malah membangun kolam renang air panas untuk umum di atas tanah reruntuhannya dan menuai protes dari banyak pihak. Akhirnya pada bulan Agustus 2000, gereja ini dibangun kembali dengan mengulang tiap detil desain, lukisan, ukiran maupun pahatan mimbar. Di dalam, mural serta kubah sungguh indah, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret.

Lapangan Merah hanya terletak 10 menit dari situ. Tapi, terlebih dahulu kami masuk ke dalam Kremlin. Kremlin berada di tengah antara Sungai Moskva (selatan), Katedral St. Basil dan Lapangan Merah (timur), Alexander Park (barat). Kremlin terdiri dari lima istana, empat katedral, dinding dan menara Kremlin. Empat katedral kecil di dalam Kremlin berbeda “aliran” karena Tsarina terdahulu ingin meraih sebanyak mungkin simpati rakyat dengan membangun gereja–gereja yang berbeda untuk mereka. Saat ini Kremlin masih digunakan sebagai kediaman resmi presiden Rusia.

Lapangan Merah (Red Square)
Lapangan Merah (Red Square)

Hal lucu yang kami temui di salah satu katedral di dalam Kremlin itu adalah bagaimana asal pelukis memengaruhi warna pada setiap lukisan yang ada. Pelukis gereja asal Rusia selalu melukis karakter/tokoh orang/ malaikat dengan warna kulit putih. Sementara pemugaran dan perbaikan gereja dilakukan oleh pelukis asal Itali yang menggunakan warna gelap untuk kulit (coklat tua). Sehingga ada bagian – bagian tertentu dimana manusia dan malaikat digambarkan dengan warna kulit putih dan ada yang berkulit hitam padahal mural itu menggambarkan satu rangkaian cerita.

The Kremlin
The Kremlin

Dari tepi Kremlin pemandangan kota Moskow sangat indah. Wisata gereja kami pun sungguh berkesan. Kami berjalan ke gerbang luar menuju taman kota yang membentang sepanjang sisi depan Kremlin ke arah lapangan merah. Dekat gerbang luar kami mendapati bangunan terpisah yang dijaga ketat. Ternyata bangunan tersebut adalah apartemen Lenin. Di situlah dia menghabiskan masa–masa terakhir hidupnya dengan membawa seluruh keluarga besarnya menetap di sana.

Lapangan Merah dikelilingi bangunan–bangunan tua yang indah, termasuk gereja St. Basil yang merupakan ikon terkenal kota Moskow. Saya sengaja memotret St. Basil saat siang dan malam hari karena menurut kabar, bangunan tersebut memiliki karisma mistis yang berbeda saat terang dan gelap. Di bagian luar lapangan merah banyak kaki lima menjajakan tanda mata dan pin-pin kuno jaman perang.

Satu hal yang sangat disayangkan dari Lapangan Merah adalah bangunan panjang di sisi kiri yang dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan lampu terang-benderang yang mengingatkan saya akan istana di Disneyland.

Tidak sulit menemukan restauran atau kafe enak di Moskow. Resto fusion Asia pun banyak. Hanya saja harganya memang mirip dengan standar Eropa. Siap–siap tutup mata saat bayar. Ada satu restoran Ukraina yang letaknya dekat Kremlin. Dengan suasana hangat khas petani, resto ini sangat nyaman dengan pilihan makan beragam seperti lidah sapi rebus, vodka cabai (chilli vodka) serta roti dadar dengan salmon mentah dan keju.

Pusat kota Moskow menyenangkan bagi saya. Ada kesan klasik dan modern jadi satu. Lapangan merah dan Taman Alexander selalu “hidup” siang dan malam menjadi tempat nongkrong berbagai usia. Satu lagi hal menarik dari Moskow adalah Moskow Metpo (dibaca: Metro) atau kereta bawah tanah. Keretanya mungkin sama saja dengan kereta bawah tanah negara lain, tapi stasiun bawah tanahnya mengesankan. Selalu ada desain berbeda yang ditemui di tiap stasiun, entah mural atau mozaik yang menceritakan perang, atau patung-patung serta pedang–pedang tembaga sepanjang lorong stasiun. Lebih mirip basement istana atau bunker perang daripada stasiun kereta.

Moskow mempunyai pasar tradisional yang terkenal, Izmailovo. Letaknya agak jauh dari pusat kota namun barang–barang yang dijual jauh lebih murah. Selain tanda mata umum seperti kaus, matryoshka, magnet atau gantungan kunci, Izmailovo menjual barang–barang bekas menarik dengan berbagai harga mulai dari kamera analog, lukisan tua dan pin kuno.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

The Owl Museum, Penang Hill, Malaysia

Satu tempat yang menarik perhatian saya saat mengunjungi Penang Hill adalah The Owl Museum. The Owl Museum merupakan museum burung hantu pertama di Asia Tenggara, tempatnya amat unik, di dalamnya terdapat koleksi patung, gambar, foto, lukisan, replika, film, boneka kayu, dan lainnya yang berbentuk burung hantu. Museum ini berisi lebih dari 1.000 koleksi replika burung hantu, koleksi ini berasal lebih dari 20 negara seperti Jepang, Korea Selatan, Uruguay, China, Vietnam, Thailand, Inggris, Indonesia dan Perancis.

Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.
Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.

Untuk menuju ke tempat ini saya naik bus Rapid Penang dari Komtar dan turun langsung di depan pintu gerbang Penang Hill, kemudian dilanjutkan naik kereta kabel menuju puncak Penang Hill. Museum ini terletak di tempat yang nyaman, udaranya sangat sejuk ditambah dengan pemandangan langit biru dan laut biru yang tampak menyatu dari kejauhan.

The Owl Museum sangat mudah untuk ditemukan, terdapat plang nama besar yang bertuliskan “The Owl Museum”. Dari luar bangunan The Owl Museum terlihat dengan mayoritas bahan kayu, terlihat amat bernafaskan etnik. Gedung museum ini jadi satu dengan gedung tempat menjual makanan dan cinderamata di Penang Hill. The Owl Museum terletak di bawah tempat penjual makanan dan cinderamata.

Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.
Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.

Boneka-boneka lucu burung hantu.
Boneka-boneka lucu burung hantu.

Di depan tangga menuju pintu masuk The Owl Museum terdapat lobi penjualan tiket, saya membeli tiket masuk di tempat tersebut seharga RM5 (sekitar Rp15.000). Harga sebenarnya untuk tiket masuk adalah RM10, namun ada diskon RM5 bila pengunjung masih mahasiswa dan bisa menunjukan kartu mahasiswa, kebetulan status saya selain sebaga karyawan swasta saya juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana, saya tunjukanlah kartu mahasiswa saya kepada petugas, dan saya pun berhasil mendapat potongan setengah harga.

Satu langkah memasuki The Owl Museum langsung disuguhi ornamen burung hantu yang unik. Terdapat banyak ornamen burung hantu yang terbuat dari bermacam-macam material seperti kayu, batu, logam, kaca, tanah liat, plastik, tanduk kerbau, kerang, kacang-kacangan, tanaman serat, kristal, porselen, gerabah, kertas dan barang-barang daur ulang. Semuanya sangat unik.

Ada beberapa lukisan dan gambar burung hantu yang tertempel dengan rapi di dinding museum. Selain itu terdapat pula koleksi burung hantu dalam bentu patung dan boneka yang tersusun rapi di dalam rak kaca, semua dalam bentuk yang berbeda, terlihat sangat menarik.

Toko cinderamata.
Toko cinderamata.

Rak penuh dengan patung burung hantu.
Rak penuh dengan patung burung hantu.

Di sudut sebelah kiri dekat dengan pintu masuk terdapat meja dan dan kursi kayu, di atas meja itu tersusun replika burung hantu yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan cara dipahat. Di sekitar meja tersebut juga terdapat alat-alat ukir dan pahat yang menandakan bahwa replika burung hantu tersebut dibuat dari kayu yang diukir dan dipahat. Sungguh kombinasi karya yang penuh dengan nilai seni.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat karpet tebal yang tergelar di lantai, dan di atas karpet tersebut terdapat banyak boneka burung hantu. Kemudian tepat di depan karpet tersebut terdapat TV layar datar yang memutarkan video dan film yang bertemakan burung hantu.

Satu hal unik lain dalam museum ini adalah kutipan kata-kata yang terpampang di dalam museum. Ada satu kutipan yang paling menarik perhatian saya, bunyinya, “A wise old owl lived in an oak, the more he saw the less he spoke, the less he spoke the more he heard. Why can’t we be like that wise old bird?”.

Tempat yang paling terakhir saya kunjungi adalah toko cinderamata museum, di tempat itu dijual boneka, kaos, patung, jam, alat tulis, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Harga-harganya juga terjangkau.

Tempat ini sangat direkomendasikan bagi semua pelancong yang sedang berlibur di Penang, terutama saat mengunjungi Penang Hill. The Owl Museum buka setiap hari dari pukul 9:00 sampai dengan pukul 18:00.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Naik Sleeper Train Dari Penang ke Kuala Lumpur

Usai menikmati keindahan George Town, Penang, saya melanjutkan perjalan saya ke Kuala Lumpur. Dalam perjalanan tersebut ada satu hal yang saya rasakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, yaitu naik rangkaian kereta api bertempat tidur (sleeper train).

Ada dua alasan kenapa saya memilih sleeper train, alasan pertama adalah untuk menghilangkan rasa penasaran, yang kedua untuk menghemat biaya penginapan. Rangkaian kereta tersebut berangkat dari Butterworth pukul 23.00 dan sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 06.00. Tidur di sleeper train sangat nyaman, tidur nyenyak sampai pagi dan sampai di Kuala Lumpur. Badan kembali segar di pagi hari.

Kereta berangkat dari Butterworth yang letaknya bukan di Pulau Penang, tapi sudah menyeberang ke semenanjung Malaysia. Negara bagian Pulau Penang memang terbagi dua, yakni pulaunya itu sendiri dan sebagian semenanjung Malaysia. Untuk meuju Butterworth, saya menggunakan kapal feri yang berangkat dari dermaga (Weld Quay) yang letaknya tidak jauh dari penginapan saya di George Town. Perjalanan tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Sesampainya di Butterworth saya pun langsung menuju stasiun kereta api Butterworth yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Petunjuk arah menuju stasiun kereta cukup lengkap dan jelas, jadi tidak perlu takut tersasar.

Peron stasiun Butterworth di malam hari.
Peron stasiun Butterworth di malam hari.

Sesampainya di stasiun Butterworth saya langsung membeli tiket sleeper train di loket pembelian, harganya RM46 (sekitar Rp150.000). Jangan sampai salah beli tiket, sleeper train dari Butterworth ke Kuala Lumpur dioperasikan oleh perusahaan kereta api nasional, Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad. Sebenarnya tiket bisa dipesan secara online di situs web KTM, tapi saya memutuskan untuk beli langsung saja di loket stasiun Butterworth.

Ruang tunggu stasiun Butterworth.
Ruang tunggu stasiun Butterworth.

Stasiun kereta di Butterworth sangat nyaman, ruang tunggunya sangat dingin oleh pendingin udara. Kantinnya juga sangat nyaman, banyak penjual berbagai makanan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kala itu masih pukul 20.00, sedangkan kerata berangkat pukul 23.00, sengaja saya datang lebih awal agar tidak kehabisan tiket. Sehabis membeli tiket saya pun membeli beberapa makanan di kantin stasiun yang letaknya di belakang. Di sana dijual berbagai makanan yang harganya relatif murah. Kantin tersebut juga dilengkapi fasilitas TV kabel, jadi menunggu kereta tidak menjadi hal yang membosankan!

Menurut jadwal, kereta akan berangkat pukul 23.00 dan sampai di KL Sentral pukul 06.00. Keretanya tepat waktu! Sebelum pukul 23.00 pengumuman sudah berbunyi melalui pengeras suara bahwa kereta sudah siap dan penumpang harap bersiap-siap menuju peron.

Dengan rasa penuh antusias saya naik ke dalam kereta. Setelah memasuki gerbong saya sejenak terkesima dengan kenyamanan interior gerbong. Tempat tidurnya ada di sisi kiri dan kanan jendela. Di tengah-tengah ada lorong panjang untuk berjalan. Saya tidur di tempat tidur bagian bawah, ukuran tempat tidurnya lumayan, tidak terlalu lebar tapi juga tidak sempit. Sepreinya berwarna putih, sarung bantalnya juga. Kereta terus melaju, satu jam pertama saya masih memandangi suasana malam dari jendela, setelah itu saya menutup tirai jendela dan siap untuk tidur.

Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.
Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.

Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.
Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.

Esok paginya, saat kereta sebentar lagi sampai di stasiun KL Sentral, ada petugas yang mengingatkan bahwa kereta sesaat lagi akan sampai tujuan. Saya pun terbangun dengan segar. Saya pun bergegas merapikan barang bawaan saya kemudian turun dari kereta dan siap untuk menjelajahi Kuala Lumpur.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Musim Gugur di Canberra

Canberra sebagaimana yang kita kenal sebagai ibu kota Australia saat ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Dengan penduduk hanya sekitar 200.000 jiwa, Canberra yang terletak di antara Sydney dan Melbourne saat ini sayangnya belum menjadi destinasi wisata utama apabila di bandingkan dengan kedua kota tersebut. Didorong oleh hasrat saya mengamati arsitektur dan perkotaan, sudah lama saya ingin meluangkan waktu agak lama untuk lebih mendalami isi kota yang konon merupakan salah satu dari dua kota buatan manusia di dunia yang dirancang dari nol.

Gedung parlemen Australia.
Gedung parlemen Australia.

Karena merupakan kota yang dirancang sejak awal, maka segalanya terlihat sangat teratur. Inti kota adalah gedung Australian War Memorial di titik utara kota, kemudian jika kita tarik garis lurus akan sampai di Central Business District (pusat kota dan perdagangan) di titik tengah, kemudian ditarik garis lagi ke selatan, kita menjumpai danau buatan (Lake Burley Griffin) dan diakhiri dengan gedung parlemen di selatan kota.

Australian War Memorial.
Australian War Memorial.

Pemandangan paling utama ketika musim gugur di kota ini adalah taman dengan perpohonan yang menguning di mana-mana. Sungguh indah dan sangat berasa suasana musim gugur di kota ini. Untuk pembaca yang ingin merasakan tinggal di kota yang modern tapi tenang, penduduk yang ramah, aman, pepohonan di mana-mana dengan udaranya yang segar bisa memasukkan kota ini sebagai wish list perjalanan mereka.

National Museum of Australia.
National Museum of Australia.

Oh ya, karena sedang merayakan ulang tahun yg ke-100, maka pemerintah kota menyediakan suttle bus gratis (bus nomor 100) yang akan mengelilingi obyek wisata yang ada di kota ini, misalnya Australian War Memorial, Australia Gallery, Old Parliament Building, New Parliament Building (semua orang bisa masuk ke dalam gedung tanpa biaya, sampai ke ruang rapat anggota parlemen) dan National Museum of Australia, mulai dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Lebih asyik lagi, sebagian besar tiket masuk obyek wisatanya juga gratis. Semoga fasilitas bus gratis ini akan tetap dipertahankan di tahun-tahun mendatang.

Di dalam gedung parlemen Australia.
Di dalam gedung parlemen Australia.

Bagi yang bertanya-tanya tentang cara mencapai Canberra, ada banyak cara yang bisa ditempuh. Antara yang paling sering digunakan adalah menyewa mobil atau naik bus dari Sydney. Tapi, saya memilih untuk naik kereta dari Sydney (Central Station) dengan lama perjalanan sekitar 4,5 jam. Setiap hari ada dua kali perjalanan kereta dari Sydney ke Canberra maupun sebaliknya. Ingin yang lebih cepat? Naik pesawat bisa jadi pertimbangan anda. Tunggu apa lagi? Ayo, cek cuti dan tabungan anda, setelah itu berangkat!


Pelajaran Berharga dari Deles Indah, Klaten

Hari itu, tepatnya hari Rabu. Bersama dengan sang saudara yang lahir mendahului saya, kami pergi dari rumah tanpa ada tujuan yang pasti. Tampaknya kebiasaan ini memang ada di dalam jiwa kami masing-masing. Kami suka pergi untuk mencari tempat dan hal-hal baru yang belum pernah kami datangi dan kami nikmati. Perjalanan kami hari ini pun akhirnya sampai di tempat yang tidak kami duga sejak berangkat tadi.

Rencana awal kami, hari ini hendak pergi ke suatu kota yang sudah amat terkenal dengan Jalan Malioboro. Alih-alih, perjalanan secara spontan berganti dengan jalan menantang menuju daerah wisata Deles Indah, sebuah lokasi wisata yang bagi kami berdua memiliki kadar ekstremitas tersendiri, karena letaknya cukup tinggi di atas permukaan laut. Namun, untuk kali ini rasa penasaran menambah jiwa keberanian kami untuk menuju lokasi. Tanpa ada rasa rendah diri kami pun mengarahkan sepeda motor kami ke arah kanan di pertigaan sebelum pabrik gula Gondang Winangoen di Klaten. Kondisi jalan di sini memang sedikit mengerikan. Lubang jalan yang lebarnya selebar kubangan kerbau pun selalu siap menghadang di jalan depan. Truk-truk pasir dengan muatan penuh siap menghalangi jalan kami dengan tumpahan pasirnya. Sempitnya jalanan pun harus kami bagi dengan pengendara-pengendara di sekitar kami. Keletihan, kesemutan, dan panasnya mesin bercampur menjadi satu pada saat itu. Namun, kami pantang istirahat sebelum sampai di tujuan akhir. Rasa penasaran menambah keinginan kami untuk segera sampai ke tujuan akhir. Setelah berjalan sekitar satu setengah jam dengan menghindari lubang-lubang jalan, kami pun sampai di tempat pembayaran tiket masuk.

Sungguh perjalanan yang sangat memuaskan. Ternyata dengan segala ketakutan kami untuk menghadapi sesuatu yang belum pernah kita coba mendapatkan hasil yang luar biasa. Walau, kami sedikit kecewa, karena tidak ada informasi mengenai tujuan selanjutnya setelah sampai di sini.

Papan nama Taman Nasional Gunung Merapi.
Papan nama Taman Nasional Gunung Merapi.

Akhirnya, kami memutuskan untuk turun lagi. Kami berdua ingin merasakan sensasi pemandangan yang luar biasa lebih dari ini. ini bermula ketika saya berpikir, dari tadi motor kami berpapasan dengan truk pasir bermuatan penuh. Lalu saya berpikir lagi, di mana tempat truk-truk itu tadi mendapatkan pasir sebanyak itu? Tujuan kami selanjutnya pun adalah mencari lokasi tempat di mana truk-truk besar tadi mendapatkan bebannya. Tak tahu arah sudah pasti, kami kemudian bertanya kepada warga sekitar tentang di mana truk-truk tadi mendapatkan pasir muatannya. Dengan ramah warga yang kami tanyai menjawab dengan baik. Kami pun segera meluncur ke sana sesuai petunjuk warga. Sudah seperti yang saya duga, jalan menuju lokasi ternyata lebih terjal dan curam dari yang tadi. Dengan permukaan jalan penuh batu dan kerikil membuat sepeda motor kami bekerja lebih keras. Mustahil untuk memutuskan untuk kembali setelah sekian jauh. Setelah berhasil menghadapi ujian jalan tadi, kami pun berhenti pada suatu titik di mana tempat itu menjadi tempat yang paling indah untuk mengambil foto.

Truk penambang pasir.
Truk penambang pasir.

Sebuah pelajaran saya dapatkan kali ini, betapa kerasnya pekerjaan orang-orang yang saya temui di tempat ini. Mereka bekerja bertaruh nyawa demi kehidupan keluarga. Mengangkat batu dan menaikkan pasir ke atas bak truk menjadi pekerjaan sehari-hari. Lelah atau sakit pun tak pernah mereka rasakan. Hal itu membuat segala keluhan kami selama di perjalanan tak mungkin saya ulangi lagi. Kami terdiam sesaat melihat semua keadaan ini. Dalam diamnya kami, kata pertama yang terucap pada saat itu adalah, “Ayo ndang muleh mas”. Ayo, segera pulang.

Nenek penjual durian di jalan pulang.
Nenek penjual durian di jalan pulang.

Dalam perjalanan pulang, banyak sekali pedagang durian. Kami yang hendak pulang, tidak sah rasanya bila tidak membawa satu dari dagangan ini. Setelah melewati beberapa pedagang di pinggir jalan akhirnya kamipun berhenti di sebuah lapak kecil dengan nenek tua yang duduk di antara puluhan buah dagangannya. Kakak saya langsung bertanya kepada sang nenek mengenai berapa harga buah tersebut. Apa yang saya duga ternyata benar, harganya sedikit lebih murah bila dibandingkan dengan harga durian di kota dengan kualitas yang sama. Kami pun mendapatkan tiga buah durian dengan harga Rp50.000.

Pesan dari perjalanan ini, berwisatalah atau bepergianlah tanpa ada tujuan yang jelas dan matang. Karena dengan itu, anda akan menemukan banyak pelajaran berharga yang tak mungkin bisa dibeli dengan uang. Salam!


© 2017 Ransel Kecil