Artikel-artikel dari bulan Mei 2013

Seberapa Penting Kartu Kredit di Perjalanan?

Pejalan pemula, yang biasanya masih mahasiswa atau baru saja bekerja, dan ingin melakukan perjalanan ke luar negeri biasanya bertanya-tanya, apakah mereka butuh kartu kredit. Jangankan untuk perjalanan, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin belum merasa perlu untuk memilikinya. “Takut boros,” atau “tidak penting dan tidak butuh,” adalah salah satu di antara alasannya. Ada juga yang mungkin beralasan, “tidak mampu membiayainya.”

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama kenapa kita butuh kartu kredit di perjalanan, tidak hanya uang tunai. Uang tunai tentu penting dalam perjalanan, karena ia adalah metode pembayaran yang paling jelas dan dapat diterima. Namun, bayangkan jika kita harus membawa uang tunai sampai beribu-ribu dolar Amerika untuk membiayai dua minggu perjalanan kita ke Cina, misalnya. Apakah itu tidak riskan juga? Tidak hanya soal kecopetan atau kehilangan, tetapi soal ketenangan pikiran dan bagaimana membawanya ke mana-mana. Lebih lagi, banyak penukar uang di Indonesia yang kemudian tidak menerima uang kertas asing yang rusak karena kita masukkan tas atau dilipat-lipat.

Alternatif kedua, tentu saja, kita dapat membawa kartu debit dengan jaringan internasional, yang bisa digunakan untuk tarik tunai di berbagai ATM di luar negeri. Walau dengan biaya dan kurs yang mungkin tidak sesuai keinginan, tetap saja ini menjadi opsi yang menarik dari segi kepraktisan. Namun, sekali lagi, ada hal-hal yang tidak bisa kita bayarkan dengan kartu debit. Misalnya, membeli tiket pesawat online, membayar hotel atau hostel, atau pengeluaran yang “agak besar” lain terutama yang berhubungan dengan transportasi dan akomodasi.

Kartu kredit menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi kesulitan pembayaran mayor, terutama untuk transportasi dan akomodasi. Pernah pesawat saya dari Frankfurt, Jerman, tidak bisa mendarat di Jakarta, Indonesia karena Gunung Merapi dikatakan dalam tahap waspada. Saya diturunkan di Singapura. Karena tidak punya tiket ke Jakarta, saya dengan sigap membuka komputer jinjing dan membeli tiket Garuda Indonesia di situs webnya dengan kartu kredit. Lain cerita, saya salah bandara di Narvik, Norwegia, dan terpaksa tertinggal pesawat. Karena terburu-buru, saya membeli tiket baru lagi dengan kartu kredit, alhasil, saya bisa naik pesawat yang berangkat satu jam kemudian! (Tentu, jangan ditanya berapa harga kursi dadakan ini.)

Beberapa hostel atau hotel membutuhkan deposit atau melunasi seluruh jumlah malam. Bagaimana jika kita tidak sempat membawa uang tunai atau belum menukarnya ke mata uang lokal? Kartu kredit dengan jaringan internasional yang baik akan menjadi penyelamat.

Tentu, menggunakan kartu kredit untuk perjalanan harus dengan bijak. Bukan berarti kita harus impulsif atau jor-joran. Semua tetap dalam koridor perencanaan awal. Buat saya, jika saya membawa uang seribu dolar Amerika, saya hemat-hemat uang tunai dan sebanyak mungkin menggunakan kartu kredit. Siapa yang tahu kita membutuhkan uang tunai di kemudian hari dalam perjalanan kita.


Ulasan Buku: “Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia’s Capital”

Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia's Capital

Kemarin saya baru dibelikan buku “Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta’s Capital” oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program “Enjoy Jakarta!“.

Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti “sudah mati dan masuk neraka”. Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu “nyaman” di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.

Saya tidak banyak membeli buku panduan wisata, dan sekalinya membeli, biasanya untuk destinasi luar negeri. Biasanya saya tak begitu tertarik membeli buku panduan wisata di Jakarta, karena memang jarang atau tidak ada, atau buku-buku seputar Jakarta biasanya ditujukan pada ekspat atau pengunjung. Tentu, buku Whitmarsh ini juga diakuinya ditujukan terutama pada ekspat, tetapi bagi saya yang orang lokal sekalipun, banyak dari destinasi dan rekomendasi yang tidak terpikirkan oleh saya. Selain itu, menarik untuk mengetahui bagaimana seorang Andrew dan Melanie, yang bukan asli Jakarta, melihat Jakarta dan mengkurasi kota ini sebegitu rapi dan menariknya.

Sesuai judulnya, buku ini merekomendasikan 25 rute perjalanan di kota Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Puncak, Jatiluhur, Jonggol). Ke-25 rute ini tidak semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, tetapi sebisa mungkin, Andrew merekomendasikan untuk melakukannya dengan jalan kaki atau menaiki transportasi umum. Saya kagum dengan detil-detil seperti mendeskripsikan secara tepat jalan dan lingkungannya (baca: “ancer-ancer“), harga-harga transportasi umum dan gerai makanan yang biasanya tak mungkin digunakan atau dikunjungi turis kebanyakan, sampai bagaimana memahami karakter penduduk di Jakarta dan menghadapi jalan raya yang “kejam”.

Ulasan-ulasannya juga sangat jujur, tidak semata memuji, tapi juga tidak menjelek-jelekkan. Apa adanya. Misalnya, ketika mendeskripsikan Kota Tua, ia menggunakan kata “grungy“, namun mengerti potensinya belum terbangun dengan baik. Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua tidak begitu lengkap, katanya, tetapi justru yang menjadi magnet adalah arsitektur gedungnya. Selain itu, buku panduan wisata ini tidak berusaha untuk memberi informasi kontak untuk setiap tempat, tetapi ia justru ingin pembacanya fokus pada perjalanan itu sendiri.

Tidak ada yang pernah membayangkan jalan kaki di Jakarta untuk berwisata, termasuk saya sendiri. Saya jalan kaki hanya untuk keperluan kerja atau jika memang butuh. Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood membuka mata saya kembali bahwa masih ada harapan untuk melihat Jakarta dari sisi lain, dari sisi yang lebih individual. Tipsnya adalah, “Sebisa mungkin, jauhi jalan-jalan utama dan lihatlah kehidupan di balik jalan raya. Surga dunia,” katanya. Saya mengerti maksudnya. Jika di Sudirman, mulailah melihat Bendungan Hilir dan selami “kampung” di tengah kota. Pondok Indah pun dapat menjadi menarik jika kita menjelajah jalan-jalan di belakangnya, tidak hanya arteri atau Mal Pondok Indah. Taman pemakaman umum (TPU) pun dapat menjadi atraksi yang menarik bagi Andrew, “tempat yang tenang dari hiruk-pikuk lalu-lintas.”

Tak kalah menarik, jika banyak buku panduan wisata hanya merekomendasikan wisata kuliner yang terkenal, nyaman atau “ramah” kepada turis, maka Andrew justru juga merekomendasikan makanan di gerobak seperti gorengan. Atau, bagaimana dengan mencoba bekam atau terapi api bersamaan dengan spa mewah yang nyaman?


Menikmati Pantai Pribadi di Kuta, Lombok

Awal tahun lalu, saya dan suami berkesempatan untuk berbulan madu ke Pulau Seribu Masjid—tetangga Pulau Seribu Pura yang tersohor itu. Ya, akhirnya saya berhasil menjejakan kaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, setelah sekian lama saya menuliskan pulau ini di “bucket list” yang saya miliki.

Selama ini saya mengenal Lombok karena dua hal. Pertama, sebagai penggemar kuliner, siapa yang tidak pernah mendengar nama masakan khas Lombok, ayam taliwang, yang pedas namun sangat lezat itu, dilengkapi plecing kangkung yang segar? Dua masakan tersebut adalah menu khas Lombok yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.

Panorama Pantai Kuta, Lombok
Panorama Pantai Kuta, Lombok.

Panorama Pantai Kuta, Lombok
Sudut lain panorama Pantai Kuta, Lombok.

Hal kedua yang membuat saya mengenal Lombok ini adalah Gili Trawangan, sebuah “gili” (pulau kecil) di sebelah Barat Laut Pulau Lombok yang memiliki pantai yang super cantik dengan pasir nan halus dan warna air hijau kebiruan. Sebenarnya ada gili-gili lain yang tak kalah cantiknya tersebar di sekitar Pulau Lombok, namun Gili Trawangan adalah salah satu yang terbesar dan juga memiliki fasilitas paling lengkap.

Namun, bukan hanya kuliner khas Lombok dan Gili Trawangan yang meninggalkan memori menyenangkan selama saya berbulan madu di sana. Ada tempat lain, suatu tempat yang bisa dikatakan harta karun tersembunyi Pulau Lombok. Namanya adalah Pantai Kuta. Ya, Kuta di Pulau Lombok.

Pantai Kuta ini terletak di Desa Kuta yang lokasinya tak jauh dari Lombok International Airport, bandara baru yang terletak di wilayah Praya, menggantikan bandara yang sebelumnya berlokasi di Mataram. Pantai ini kira-kira hanya 20-30 menit menggunakan taksi dari bandara Praya yang bersih dan bernuansa modern itu.

Untuk akomodasi, cukup banyak fasilitas penginapan yang terdapat di sekitar Pantai Kuta ini. Dari cottage-cottage sederhana hingga hotel bintang lima, silahkan dipilih yang sesuai anggaran.

Berbeda dengan Kuta di Bali yang sangat padat dan komersial, Pantai Kuta yang satu ini bagaikan putri cantik yang amat pemalu. Meski memiliki pemandangan yang sangat indah—bisa dikatakan lebih cantik dari kembarannya di pulau sebelah—pantai ini terhitung amat sepi. Ketika saya dan suami berkunjung ke sana, hanya ada dua pengunjung lain ditambah beberapa penjual pernak-pernik khas Lombok yang hilir mudik menawarkan kaos atau songket Sasak.

Detil pasir Pantai Kuta, Lombok
Detil pasir Pantai Kuta, Lombok, seperti merica.

Warna air di Pantai Kuta mungkin tidak hijau kebiruan seperti di Kepulauan Gili. Namun, pantai ini memiliki pasir khas berwarna putih kecoklatan yang bulat-bulat seukuran biji merica. Agak geli-geli saat menginjaknya dengan kaki telanjang. Ombaknya pun bergulung-gulung relatif tenang. Namun saya rasa, keunggulan utama Pantai Kuta yang membuatnya luar biasa, boleh jadi adalah lanskapnya yang dikelilingi oleh karang-karang dan bukit-bukit hijau. Dari sudut tertentu, pantai ini seakan-akan terperangkap oleh bukit-bukit tersebut yang membuatnya tampak seperti danau. Sungguh indah.

Bayangkan, alangkah menyenangkannya menghabiskan waktu sambil tidur-tiduran santai membaca novel lalu sesekali bermain air di pantai yang berpemandangan indah namun nyaris tak berpenghuni. Benar-benar seperti pantai milik pribadi!


© 2017 Ransel Kecil