Artikel-artikel dari bulan Februari 2013

Sebuah Puisi Tersembunyi di Madhya Pradesh

Embun itu masih ada, waktu kami beranjak pergi menuju Orchha yang letaknya cukup jauh dari Khajuraho. Masih bertempat di Madhya Pradesh, Orchha terletak 15 km dari stasiun kota Jhansi atau sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari khajuraho. Saya berharap keputusan yang saya ambil tepat untuk mengunjungi tempat ini mengingat tidak begitu banyak informasi yang saya peroleh dari internet sebelumnya.

“Orchha” artinya “tersembunyi”. Dan seperti arti dari namanya, semua hal yang ada di kota kecil ini memang seakan-akan “tersembunyi” dari sentuhan peradaban luar, menyepi di pinggir Sungai Betwa. Kota kuno yang seakan tertidur ini mengisahkan peradaban dinasti raja Bundela pada masa sekitar abad ke-15 di setiap sudut istana, benteng, dan kuilnya. Akibat letaknya yang memang tersembunyi di antara hutan yang mengelilinginya, kota ini bahkan terbebas dari sentuhan penjajahan kerajaan Mughal di masa itu.

Jahangir Mahal.
Jahangir Mahal.

Memasuki kota ini, tampak beberapa backpacker sedang lalu-lalang. Musim dingin memang waktu terbaik mengunjungi tempat ini. Di kiri-kanan jalan tampak beberapa usaha hostel kecil yang memasang tarif sekitar 750-1000 ruppee dan kafe-kafe kecil memasang promosi simbol Lonely Planet sebagai rekomendasinya.

Orchha Fort Complex adalah bangunan yang pertama kali menyambut saya saat menginjakkan kaki di kota ini. Di dalam kompleks ini, dapat ditemui istana Raaj Mahal. Adalah Rudra Pratap Singh dari dinasti Bundela yang membangun konstruksi awal dari Raaj Mahal walau akhirnya baru kelar dibangun di masa pemerintahan Bharti Chandra. Istana ini berdesain seperti bujur sangkar, namun terbagi menjadi dua sayap. Di satu sisi bangunan ini memiliki empat lantai dan di tiga sisi lainnya memiliki lima lantai. Raja Madhukar Shah-lah yang pada akhirnya menyempurnakan desain dari Raaj Mahal di akhir abad ke-16 setelah melakukan beberapa renovasi. Kombinasi arsitektur Hindu dan Islam amat kental terlihat di sini. Dinding istana Raaj Mahal ini sebagian melukiskan perjalanan hidup Rama dan Krishna, inkarnasi dewa Wisnu, sedangkan sebagian lain melukiskan kegiatan masyarakat seperti duel, berburu, menggambar, dan lain-lain.Kondisi istana ini sebenarnya cukup memprihatinkan, karena memang kurang dipelihara. Tampak sebagian lukisan di dinding yang koyak dan terhapus oleh waktu. Sebagian dinding lain dipenuhi coretan-coretan nakal pengunjung. Sayang sekali karena bangunan ini sangat kokoh dan indah secara historis.

Raaj Mahal.
Raaj Mahal.

Jehangir Mahal adalah bangunan kedua yang dapat ditemui dalam lokasi kompleks ini. Bangunan indah berlantai tiga dengan air mancur di tengah-tengahnya ini dibangun dan diperuntukan bagi raja Jehangir setiap beliau berkunjung ke Orchha dan merupakan simbol persahabatan Bundela dan Mughal. Area dalam bangunan ini amat gelap, dan tidak dianjurkan berfoto memakai ‘blitz’ karena dapat merusak lukisan di dinding yang ada. Hati-hati saat menaiki tangga, karena memang licin dan cukup curam. Pemandangan di atas balkon lantai atas memang sangat memukau dengan kabut yang mengelilingi bangunan ini. Di kejauhan tampak tempat penyimpanan kandang kuda raja dan Turkish bath serta kompleks kuil shiva Panchmukhi Mahadeva. Sudut mata saya menangkap sebuah bangunan dua lantai yang dinamakan Rai Praveen Mahal , dikelilingi oleh taman Anand Mahal di sekitarnya. Pemandu saya segera menjawab rasa keingintahuan saya dengan menjelaskan siapa Rai Praveen yang dimaksud ini. Lambat laun terungkaplah sebuah kisah cinta yang menyertai sosok ini. Praveen adalah seorang penari istana yang sangat terkenal kecantikan dan bakatnya bahkan dalam hal berpuisi, berkuda, dan memainkan alat musik. Selain sebagai penari, ia juga merupakan istri dari Raja Indrajit Singh yang memerintah di abad ke-16. Bangunan Praveen Mahal ini dibangun olehnya sebagai lambang cintanya terhadap Rai Praveen. Lukisan di dinding melukiskan Rai Praveen dalam berbagai gaya dan ungkapan emosi. Sedemikian tersohornya kabar kecantikan Rai Praveen, sehingga menarik perhatian raja Jehangir dari Mughal untuk memperisterinya dan menaruhnya di harem. Saat itu Indrajit sangat tidak berdaya, sehingga Rai Praveen akhirnya mendatangi sendiri istana Mughal untuk menemui Jehangir demi menyelamatkan Orchha. Pada kesempatan itu Praveen mengungkapkan isi hatinya dalam puisi. Puisi itu menggambarkan bahwa ia hanyalah seorang kasta terendah dalam Hindu. Raja Jehangir yang memang seorang yang bijak dapat menangkap kegelisahan Rai Praveen dalam puisinya. Ia pun menghargai keinginan Praveen dan membiarkannya kembali ke Orchha dengan penuh rasa hormat. Raj Praveen Mahal akhirnya bukan hanya sebuah monumen belaka, namun perwujudan kesetiaan seorang isteri terhadap suaminya.

Rai Praveen Mahal.
Rai Praveen Mahal.

Kisah cinta Praveen tidak menghentikan langkah saya menyusuri kompleks ini lebih lanjut. Sheesh Mahal adalah bangunan yang masih merupakan bagian dari Jehangir Mahal yang sudah berubah fungsi menjadi hotel. Wow, ada hotel di dalam sebuah benteng, saya tidak dapat membayangkan sensasinya seperti apa bermalam di sana. Kuil Raja Ram Nadir merupakan satu-satunya kuil yang menyembah Ram sebagai raja. Raja Madhukar Singh terkenal sebagai pemuja Krishna, sedangkan istrinya Ganeshi Bai sangat memuja Ram. Lagi-lagi pemandu saya membuai saya dengan legenda mengenai asal muasal nama tempat ini. Alkisah Madhukar Singh sering meledek dan membujuk istrinya untuk juga menyembah Krishna. Hal ini berbuah pertengkaran yang menyebabkan sang istri diam-diam pergi ke Ayodhya untuk menemui Ram dan dibawa ke Orchha. Sesampai di Ayodhya, Ram bersedia ikut dengannya namun mengajukan tiga persyaratan. Pertama, ia bersedia pergi ke Orchha dalam bentuk bayi. Kedua, sesampainya di Orchha, ia akan menjadi raja di sana. Dan terakhir bila muncul Pushya Nakshatra (zodiak ke-9 dari 27 zodiak dlm astrologi Hindu), ia akan selamanya bersemayam di tempat ia berada. Ratu tentu saja mengiyakan semua persyaratan ini dan dengan gembira membawa Ram ke Orchha. Sementara itu Madhukar bermimpi tentang Krishna yang menyuruh dirinya untuk tidak membeda-bedakan antara dirinya dan Ram, oleh karena kedua sosok ini sebenarnya adalah perwujudan yang sama. Setelah sang ratu kembali, Madhukar menghadiahinya berbagai hal sebagai wujud permintaan maaf. Hal ini ditolak mentah-mentah oleh ratu yang memilih berdiam di dalam kamarnyadi dalam istana sambil berniat akan membawa bayi Ram ke Chatturbuj keesokan harinya. Namun ternyata takdir berkata lain. Malam itu terjadilah Pushya Nakshatra, sehingga bayi Ram pun bertransformasi dan melebur ke dalam sosok istana. Sebagai janji ratu pada Ram, istana tersebut akhirnya dinamakan Ram Raj Nadir, sebuah istana dan sebuah kuil yang memuja Ram.

Chaturbhuj Monastery of Orchha.
Chaturbhuj Monastery of Orccha.

Chaturbhuj Monastery Orchha yang terletak di kawasan sebelah barat ini sudah menarik perhatian saya semenjak datang. Sosoknya yang tinggi menjulang di atas bukit mengingatkan saya akan salah satu gereja katedral bergaya Eropa di Goa. Amatlah kaget waktu saya mengetahui bahwa ini adalah sebuah kuil Hindu yang awalnya diperuntukan untuk “menyimpan” Dewa Ram. Arti kata Chaturbhuj adalah seseorang berlengan empat, yang tentu saja merefleksikan Dewa Wisnu. Bangunan batu ini tampak sepi dari ornamen, kecuali tampak gambaran lotus yang terbenam di bagian eksteriornya. Untuk memasukinya, kita harus menaiki beberapa rangkaian anak tangga namun tidak terjal. Bangunan ini memang sangat unik dengan menara yang berbentuk lancip selayaknya gereja. Senter amat diperlukan karena pada siang haripun area dalam bangunan gelap dan tampak kotoran kelewar di sana-sini. Menilik arsitekturnya yang berbeda, amat pantas bila bangunan ini adalah sosok perhatian utama dibanding bangunan lain di Orchha.

Raaj Mahal.
Raaj Mahal.

Kuil Lakshmi Narayan merupakan bangunan unik yang merupakan perpaduan antara benteng dan kuil dan keharmonisan gaya Bundela dan Mughal. Dindingnya secara rapi tertata lukisan yang indah. Bangunan ini didedikasikan untuk menyembah dewi Lakshmi, walau hingga kini tidak spesifik Dewa mana yang disembah di sini.

Orchha juga dikelilingi bangunan seperti kuil kecil yang disebut chhatris yang terletak di sepanjang sungai Betwan. Bangunan ini berjumlah sekitar 14 buah dan merupakan bangunan dasar dari arsitektur Hindu dengan gaya Mughal. Namun demikian, di balik sosoknya yang berwarna kecoklatan dengan atap runcingnya, keberadaannya di balik kabut dan refleksinya pada permukaan air menambah sisi melankolis dari sungai Betwan itu sendiri.

Satu hal yang saya sadari dari akhir perjalanan ini adalah bahwa Orchha bukanlah kumpulan arsitektur bangunan kuno belaka, namun sebuah kota yang setiap dindingnya punya cerita; yang setiap lukisannya merefleksikan sebuah budaya dimana dongeng tentang persahabatan, cinta, pengorbanan, pengkhianatan, dan mitos seakan bersuara dari setiap sudut monumen yang ada…

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

Pacu Adrenalin ke Puncak Bromo

Pandangan saya berkeliling. Di depan saya adalah samudera pasir yang seperti hamparan gurun tak bertepi. Bisikan pasirnya sampai di telinga seolah mengucapkan salam. Di sisi kanan, pelangi menyapa seakan mengucapkan selamat datang. Saya berdiri mematung, memandang puncak Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu.

Hardtop tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, karena terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan. Untuk naik, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Ongkos naik kuda sendiri sangat variatif. Ada yang menawarkan Rp50.000, ada yang Rp70.000, bahkan ada yang menawarkan ongkos Rp100.000. Namun, bila ingin lebih dalam menikmati sensasinya, berjalan kaki menjadi pilihan yang tepat. Sambil berjalan, resapi pemandangan yang indah dengan latar belakan gunung Semeru yang selalu mengeluarkan asap raksasa secara berkala. Telusuri tiap jengkalnya!

Patahan kawah Gunung Bromo. Patahan kawah Gunung Bromo.

Udara dingin memaksa saya melilitkan syal di leher, menarik rapat-rapat kancing jaket dan sarung tangan. Mengenakan pakaian tebal, saya, dan beberapa kawan menuju kawah Bromo. Memang Gunung yang terletak 2.392 meter di atas permukaan laut ini terkenal memiliki hawa yang sangat dingin mencapai 10 sampai 0 derajat celcius.

Sinar matahari yang terik. Sinar matahari yang terik.

Awalnya saya begitu bersemangat lantaran kontur yang dilalui landai. Tapi setelah berapa lama, rasanya kaki semakin berat diajak melangkah. Medan berundak-undak naik turun, ditambah dengan sinar matahari yang terik menerpa kulit dan tiupan angin yang membuat pasir berterbangan.

Medan berundak-undak naik turun.Medan berundak-undak naik turun.

Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.

Hal yang paling mengganggu saat berjalan menuju kawah Gunung Bromo adalah debu. Debunya sangat banyak dari bekas pengunjung lain yang berjalan, bekas kuda, atau debu yang terkena angin. Jadi, jangan lupa menggunakan kacamata dan penutup hidung agar debu tak mengganggu Anda. Kita juga harus hati-hati dengan kotoran kuda yang banyak berserakan di jalan, jangan sampai terinjak. Beberapa kali saya berhenti sekadar istirahat mengatur napas, hingga akhirnya sampailah di dasar ujung tangga menuju kawah Gunung Bromo. Di titik ini adalah tempat melepas lelah kita terakhir, sebelum menaiki ratusan anak tangga untuk sampai bisa dibibir kawah. Saya menyempatkan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh.

Konon katanya jumlah tangga di tempat ini berubah–ubah jika dihitung. Tapi sebaiknya, nikmati saja perjalanan pendakian ini daripada menghitung dan mengkalkulasikan jumlah anak tangga. Dengan degup jantung yang agak kencang dan langkah berat satu demi satu anak tangga berhasil dilalui. Ada yang memberi strategi untuk setengah berlari karena akan lebih cepat dan tidak terasa tekanan di tulang lutut. Ini berhasil, buktinya rekan saya sudah sampai ke puncak, sementara saya masih tertinggal di belakang dengan napas tersengal-sengal. Perjalanan menuju Puncak Bromo, memang bukanlah perjalanan yang mudah. Apalagi anak tangga dipenuhi debu pasir yang cukup licin, membuat pengunjung harus ekstra hati-hati. 

Pemandangan dari atas kawah. Pemandangan dari atas kawah.

Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Tapi seakan tak kenal lelah, kaki saya terus melangkah. Mendebarkan sekaligus memesona. Sensasi itulah yang terasa saat saya harus menaiki ratusan anak tangga ini. Perjuangan tidak berhenti, saya harus meniti jalan sempit yang berbatasan dengan kawah. Sungguh memacu adrenalin. Pengunjung berjejal di bibir kawah, tanpa ada pengaman. Ini yang membuat kawan saya lainnya tepar menyerah pada kondisi.

Hingga akhirnya, rasa pegal kedua kaki tertebus dengan pemandangan begitu indah dan spektakuler dari Puncak Bromo. Trekking yang melelahkan seolah terbayar lunas, letih pun sirna seketika. Saya berhasil menaklukan Puncak Bromo, objek yang telah mendunia dan popularitasnya di Jawa Timur menduduki peringkat pertama. Sesampainya di Puncak Bromo, saya dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap dari dekat. Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Pelangi menyapa.Pelangi menyapa.

Selain mengamati kawah Bromo, saya juga menyaksikan keindahan Gunung Batok yang persis berada di sebelah Gunung Bromo. Jika melayangkan pandangan kebawah, kita juga bisa menyaksikan pengunungan di sekitar yang memagari lautan pasir yang menghijau dan terdapat sebuah pura di tengahnya. Pura Poten. Sebuah pura milik masyarakat Suku Tengger yang terletak di tengah lautan pasir gunung Bromo. Sangat indah. Benar-benar pemandangan luar biasa, sulit buat kamera untuk menceritakannya selain dengan sepasang mata. Di atas ini, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Ilahi.

Tunggu apa lagi? Siap bertualang dan pacu adrenalin anda!

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

Menyambut Pagi di Lok Baintan

Sesaat setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya melawan dinginnya kota Banjarmasin dengan sepeda motor untuk menjemput teman saya yang bernama Nurul menuju warung soto banjar Bang Amat, dimana perahu sewaan kami atau yang biasa disebut orang Banjar “kelotok” menunggu. Sesampainya di warung soto banjar Bang Amat, teman kami satu lagi bernama Micah telah menunggu bersama kelotok yang sudah kami pesan sehari sebelumnya seharga Rp200.000. Kelotok yang dapat menampung hingga sepuluh orang tersebut memang terlalu besar untuk kami bertiga, namun tidak ada pilihan lain karena kami tidak mempunyai rombongan sebesar itu. Jadilah kami bertiga naik ke kelotok tersebut dan siap melihat keunikan pasar terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung
Pasar terapung.

Pasar terapung Lok Baintan adalah pasar terapung yang direkomendasikan Nurul sebagai orang Banjar asli karena pasar terapung ini berbeda dengan pasar terapung Kuin yang berada di aliran sungai Barito. Pasar terapung Lok Baintan berada di aliran Sungai Martapura dan kata Nurul, pasar terapung ini lebih sepi dan lebih tradisional karena sebagian besar wisatawan berkunjung ke pasar terapung Kuin yang telah terkenal.

Pasar Terapung
Pasar terapung dari sisi lain.

Perjalanan dimulai dari warung soto banjar Bang Amat menuju ke pasar terapung Lok Baintan yang memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan kami berkejaran dengan terbitnya sang fajar yang menembus kabut pagi di Sungai Martapura. Kami dapat menikmati pemandangan aktifitas pagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta bersamaan dengan para penjual pasar terapung yang muncul dari berbagai anak sungai menuju arah yang sama dengan kami.

Kami datang lebih awal sehingga lokasi pasar terapung masih terbilang sepi. Tidak lama kemudian kami dapat melihat para pedagang dan pembeli berdatangan satu persatu dari balik kabut pagi yang masih menemani. Transaksi jual beli di pasar terapung ini sebagian besar dilakukan oleh para perempuan, mulai dari seorang ibu yang mendayung kelotok bersama anaknya yang berusia sekitar lima tahun hingga ibu-ibu lanjut usia yang sekedar ingin bercengkerama dengan teman sebaya mereka.

Bercengkerama di atas Kelotok Bercengkerama di atas Kelotok.

Bahan makanan yang dijual di pasar ini tidak selalu sama setiap harinya karena para penjual di sini langsung menjual sayuran, buah-buahan, serta bahan makanan lainnya langsung dari kebun mereka masing-masing. Saat kami berkunjung ke pasar terapung ini ternyata sedang musim pisang dan jeruk, sehingga begitu banyak pedagang yang menjajakan buah-buahan tersebut. Selain sayuran dan buah-buahan terdapat pula kue basah khas banjar yang sangat cocok untuk dimakan di pagi hari. Pembayaran di pasar ini sebagian masih melakukan transaksi berupa barter dan sebagian lagi menggunakan uang.

Hanya sekitar satu sampai dua jam para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli di pasar terapung ini. Setelah membeli beberapa kue basah serta sekantong jeruk kami pun pulang bersamaan dengan para pedagang dan penjual yang satu persatu meninggalkan lokasi pasar terapung Lok Baintan tersebut. Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan untuk mampir ke jembatan gantung Lok Baintan yang bertempat tidak jauh dari pasar terapung Lok Baintan.

Jembatan Gantung Lok Baintan Jembatan Gantung Lok Baintan.

Jembatan gantung Lok Baintan memang tidak terlalu modern dan megah namun kesederhanaan inilah yang membuat saya tertarik untuk melihatnya lebih dekat. Ketika pagi hari seperti saat kami datang, dari atas jembatan ini kami dapat melihat lalu-lalang para pelajar menyebrangi sungai menuju sekolah serta para pekerja yang melewati jembatan yang apabila dilewati sepeda motor akan bergoyang. Suasana sederhana seperti inilah yang jarang saya temukan di kota besar seperti Jakarta.

Soto Banjar
Soto Banjar.

Akhirnya kami sampai kembali ke warung soto banjar Bang Amat yang juga merupakan akhir dari perjalanan kami. Sepertinya sangat tepat waktu saat kami tiba di warung soto ini, saat itu pula waktu sarapan pagi. Kami segera memesan soto banjar yang mempunyai kuah bening dengan irisan telur bebek dan suwiran daging ayam. Makan soto banjar dengan pemandangan lalu lalang kelotok sungai Martapura serta pikiran yang merangkum seluruh perjalanan membuat pagi itu begitu sempurna.

  • Disunting oleh SA 20/02/2012

Raja Ampat

Lelahnya karena perjalanan dari tepat pukul 12.00 WIB dini hari tadi pagi hingga sore ini ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIT terbayar sudah. Saya sekarang berada di salah satu tempat impian saya: Raja Ampat, Indonesia.

Setelah cukup beristirahat, saya dan teman seperjalanan mulai menjelajahi kepulauan ini pada hari berikutnya.

Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, "Pelangi!" Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon.

Saya sedang tengah tertidur di kapal ketika teman-teman berteriak, “Pelangi!” Setelah mencari sesaat, saya menemukannya tengah malu-malu bersembunyi di balik awan, di batas horizon.

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya...

Sudah 45 menit berlalu sejak kami meninggalkan dermaga, lalu sampailah kami di Pulau Arborek, salah satu pulau wisata yang terkenal di sana. Cantiknya…

Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah.

Setelah menambatkan tali kapal, kami turun dan melewati dermaga berpagar merah.

Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia.

Kami terus melangkah dengan riang walau matahari bersinar terik tanpa ampun, karena kami tahu, kami sedang berada di salah satu surga di Indonesia.

Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini.

Melewati pagar biru di pulau cantik ini, kami mencari penduduk yang biasa membuat kerajinan tangan anyaman khas pulau ini.

Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp100.000 hingga Rp350.000 per buah.

Kami lalu bertemu dengan Mama Maria, yang sedang menganyam topi. Berbagai kerajinan yang tersedia berupa tas, topi, tempat buku, dan lainnya, mulai dari harga Rp.100.000 hingga Rp.350.000 per buah.

Sambil melihat para Mama menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki Mamanya ini...

Sambil melihat para ibu menganyam, aku tersenyum melihat adik kecil yang tengah berbaring manja di kaki ibunya ini…

Sembari menunggu, aku melihat ke halaman.

Sembari menunggu, aku melihat ke halaman. Ya, ampun!

Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir.

Ah, kalau adik satu yang satu ini pasti baru saja dikeroyok temannya dengan pasir.

Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. "Terima kasih, Mama!" Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi.

Tak lama kemudian, topi pesanan kami sudah selesai. “Terima kasih, Mama!” Sampai jumpa lagi, Pulau Arborek. Kami pasti kembali lagi.

  • Disunting oleh SA 18/02/2013

Mount Buller, Australia

Penggemar olahraga ski atau bukan, anda wajib mengunjungi Mount Buller apabila anda (baik sendiri maupun bersama keluarga) sedang mengunjungi Melbourne di saat musim dingin (Juni-Agustus). Terletak 208 kilometer di sebelah timur kota Melbourne dan dapat di tempuh dalam 3 jam perjalanan darat, anda bisa mencapai Mount Buller yang memiliki area bermain ski seluas 300 hektar.

Fasilitas baik untuk bermain salju maupun sarana penunjang di Mount Buller sangat lengkap. Mulai dari fasilitas bermain salju untuk anak anak (terdapat dua lapangan toboggan), area bermain ski untuk pemula (tersedia juga instruktur untuk yang ingin belajar ski) sampai lereng lereng curam untuk yang sudah mahir. Asyik, bukan?

Area Ski Mount Buller

Untuk yang hanya ingin leyeh-leyeh (karena faktor usia ataupun faktor lainnya), duduk di depan restoran/kafe sambil melihat pemandangan juga tak kalah mengesankan. Apalagi sambil di temani secangkir kopi hangat dan sepotong cheese cake.

Untuk yang kalap ingin bermain salju, mohon berhati-hati saat berjalan karena area bermain salju ini menyatu dengan area untuk belajar ski. Jangan sampai seperti kejadian istri saya yang sudah berjalan di pinggiran untuk pejalan kaki tapi masih ditabrak dari belakang, karena si pemula masih belum bisa rem dan akhirnya nyelonong kepinggiran dan menabrak istri saya. Efeknya dahsyat, istri saya yang biasanya bicara bahasa Inggris dengan aksen patah-patah, tiba-tiba menjadi lancar sambil memberi “kuliah” ke si penabrak. Saya yakin setelah itu si penabrak akan trauma untuk bermain ski lagi!

Bila ingin ke sana, selain menyetir sendiri, bisa juga mengikuti tur sehari yang berangkat dari Melbourne. Ada beberapa agen perjalanan yang bertetangga di Federation Square (sebelah Flinder St. Station) yang menawarkan tur ke Mount Buller. Silahkan membandingkan harga yang ada, kadang ada yang sedang menawarkan promosi dengan harga miring. Tidak usah khawatir dengan servis karena mereka sudah memiliki standar yang sama. Tak jarang, apabila sedang sepi, peserta dari beberapa agen akan digabung jadi satu bus.

  • Disunting oleh SA 18/12/2013

Menjelajahi Dunia Sihir Harry Potter

Art Science Museum telah menjadi ikon unik di Singapura. Betapa tidak, bangunan Art Science Museum yang terlihat sekilas seperti bunga teratai ini sangat mudah dikenali bahkan untuk pengunjung yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Singapura seperti saya. Siang itu langit Singapura terlihat mendung dan benar saja tak berselang lama hujan gerimis mengguyur negara Singa itu. Saya dan seorang teman saya warga Singapura yang tatkala itu sedang berjalan-jalan di sekitar area Marina Bay Sands segera mencari tempat berteduh. Kami akhirnya mampir ke Art Science Museum.

Begitu kami memasuki gedung Art Science Museum, saya terheran-heran melihat adanya antrian panjang. Saya pun kemudian bertanya kepada teman saya dan ternyata di Art Science Museum pada saat itu sedang digelar Harry Potter The Exhibition. Saya yang notabene penikmat film Harry Potter kontan langsung berbaur dengan antrian panjang tadi. Saya sangat merasa beruntung berada di Singapura pada saat berlangsungnya pameran Harry Potter karena memang Harry Potter The Exhibition ini hanya mampir ke Singapura dan tidak mampir di negara lainnya di Asia Tenggara.

Art Science Museum
Art Science Museum, Singapura.

Dengan membayar S$24 saya pun kemudian diperbolehkan masuk untuk melihat pameran. Rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan koleksi benda-benda dalam film Harry Potter yang biasanya cuma bisa saya lihat di televisi ataupun bioskop. Sebelum memasuki ruang pameran, pengunjung disuguhi dengan pemandangan mobil Ford biru yang melayang. Ya, benar, ternyata mobil ini adalah Flying Ford Anglia, mobil Arthur Weasley yang dipakai Ron dan Harry menuju ke Hogwarts. Tapi, dasar Ron yang tidak pandai menyetir, mobil ini tidak bisa mendarat dengan mulus dan alhasil malah tersangkut di pohon. Efek sihir sudah terasa ketika pengunjung memasuki ruang pertama. Di pintu menuju ruang pertama pameran dibuat efek kabut dengan sound effect khas Harry Potter yang membuat kami semua semakin terhanyut dalam suasana dunia sihir. Para pengunjung seakan-akan merasakan menjadi murid baru di Hogwarts karena di ruang pertama, pengunjung akan melalui proses seleksi dengan topi seleksi yang bisa berbicara. Meskipun tidak semua pengunjung bisa merasakan memakai topi seleksi tapi hal ini cukup menjadi permulaan yang menyenangkan untuk merasakan dunia sihir Harry Potter.

The Flying Ford
The Flying Ford.

Pengunjung pun berkesempatan untuk berfoto dengan mengenakan jubah Hogwarts dan syal Gryffindor (sayang tidak ada syal Slytherin karena saya lebih menyukai warna hijau yang identik dengan Slytherin). Memasuki ruang utama pameran pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Ini yang sangat saya sayangkan karena saya tidak bisa mengabadikannya dalam bentuk gambar namun hanya bisa saya simpan dalam memori otak saya Ruang utama pameran berisi berbagai macam kostum yang dikenakan oleh para pemain Harry Potter mulai dari film pertama (Harry Potter and The Philosopher’s Stone) hingga film terakhir (Harry Potter and The Deadly Hallows). Saya pun mulai berandai-andai akan lebih menarik bila tokohnya benar-benar ada dan mengenakan kostum-kostum itu daripada hanya kostumnya saja.

Selain kostum, pengunjung juga bisa melihat berbagai lukisan yang ada di Hogwarts dan yang paling menarik bagi saya adalah lukisan The Fat Lady yang suka menyanyi seriosa. Sama seperti di film, lukisan ini benar-benar bisa bergerak dan menyanyi! Ada pula tongkat sihir dan sapu terbang yang dipakai para pemain Harry Potter yang disimpan dalam kotak kaca. Setiap koleksi dijelaskan dengan keterangan yang lengkap sehingga pengunjung tidak perlu khawatir akan lupa dengan benda apa yang sedang ditampilkan.

Ingin tahu rasanya bermain Quidditch seperti Harry Potter? Pengunjung juga bisa mencoba memainkan Quidditch tapi tidak di lapangan yang besar melainkan di arena kecil. Karena sedang ada orang lain yang memainkan Quidditch, saya mengurungkan niat untuk memainkannya tapi saya tidak kecewa karena ada hal menarik lain yang saya temui. Di ruangan ini ternyata ada juga kebun botani professor herbologi Harry, Mrs. Sprout. Dan para penggemar Harry Potter pasti tidak asing dengan tanaman Mandrake, tanaman yang kalau ditarik dari pot bisa berteriak dan mengeluarkan suara yang memekikkan telinga. Saya pun mencoba sensasi menarik Mandrake dari potnya dan benar saja selama beberapa detik mereka mengeluarkan suara-suara yang memekikkan telinga persis seperti yang saya lihat di filmnya.

Menuju ruang berikutnya, pikiran pengunjung dibawa untuk berandai-andai seakan-akan mereka sedang berada di rumah Hagrid. Dan memang ruangan ini didesain sangat mirip dengan Hagrid, raksasa penjaga Hogwarts sahabat Harry, Ron, dan Hermione. Bahkan ada juga single sofa Hagrid yang ukurannya sangat besar sampai-sampai bisa diduduki dua-tiga orang.

Petualangan saya belum selesai. Dari rumah Hagrid saya menuju ruang dansa Hogwarts yang kala itu finalis Triwizard Tournament harus mengajak pasangannya untuk berdansa termasuk Harry. Di sana pengunjung bisa melihat pakaian dansa yang dipakai Harry dkk. Juga ada tiruan buah-buahan, kue dan makanan untuk jamuan makan malam di Hogwarts. Rasanya ingin saya makan!

Ternyata ada bagian yang menyeramkan juga di pameran ini. Ada replika Dementor (penjaga penjara Azkaban) yang memang sekilas melihatnya saja membuat saya langsung merinding. Ada juga replika Buckbeak (kalau lupa, tonton lagi Harry Potter and The Prisoner of Azkaban), Fawkes (burung phoenix Dumbledore) dan Hedwig (burung hantu Harry).

Di akhir ruang pameran, pengunjung bisa membeli berbagai pernak-pernik Harry Potter seperti cangkir, stiker, pembatas buku, gantungan kunci, topi, hingga syal Griffindor dan tongkat sihir Harry! Namun, pengunjung perlu merogoh kocek yang dalam karena harga-harganya sangat mahal. Yang termurah saja S$10 untuk stiker dan bisa diperkirakan sendiri berapa harga syal Gryffindor. Meski mahal, para penggemar berat Harry Potter tak ragu untuk membeli pernak-pernik Harry Potter untuk melengkapi koleksi mereka. Tak sedikit pengunjung yang membeli syal Griffindor dan tongkat sihir Harry, Ron, dan Hermione. Untuk mencetak foto pengunjung dengan jubah Hogwarts dan syal Gryffindor pun perlu membayar sebesar S$10.

Sungguh pengalaman yang tak akan pernah terlupakan dan saya tak menyesal membayar S$10 untuk menjelajahi dunia sihir Harry Potter yang sangat menantang. Film Harry Potter telah menyihir banyak orang termasuk saya dan petualangan saya mengunjungi Harry Potter The Exhibition membuat saya semakin menggilai Harry Potter. Expecto Patronum!

  • Disunting oleh SA 04/02/2013

Marrakech dalam Warna dan Aroma

Marrakech merupakan tempat yang benar-benar menantang sekaligus memanjakan panca indera saya sebagai seorang backpacker wanita yang berpetualang seorang diri. Di satu sisi saya harus selalu waspada akan keselamatan barang-barang dari tangan-tangan jahil, menajamkan insting agar tidak diganggu atau dibuntuti pria hidung belang, serta mengira-ngira arah agar tidak tersesat di lika-liku souk kota tua. Di sisi lain mata dan lensa saya dimanjakan oleh eksotika kerajinan dan warna di setiap sudut kotanya.

Marrakech 1

Kota tua atau biasa disebut medina adalah jantung tradisi dan budaya setiap kota di Maroko. Alun-alun Djemaa El Fna adalah jantung dari medina Marrakech. Kalau anda tersesat, sebutkan kata sakti “Djemaa El Fna” maka orang akan menunjukkan jalan ke sana. Mulai dari dukun sakti, peramal masa depan, pawang ular, seniman tato henna hingga atraksi akrobatik, semua hadir dalam lapangan ini.

Marrakech 2

Jangan lupa mencoba kesegaran jus d’orange atau jus jeruk khas Maroko, escargot, dan minuman tradisional yang terbuat dari jahe dan rempah-rempah lainnya dari pedagang-pedagang di Djemaa El Fna.

Marrakech 3

Tak lengkap rasanya kalau tidak tersesat di dalam souk atau pasar medina. Barisan kain dan karpet aneka warna dapat membuat anda terlena sehingga tidak tahu kemana harus melangkah. Jalan-jalan sempit penuh cabang seolah tanpa ujung telah menanti anda. Sungguh membingungkan. Hindari berjalan sendirian di souk saat matahari telah terbenam.

Marrakech 4

Aneka suvenir, kilau kerajinan tembaga berhias kaca patri, serta keramik dari berbagai bentuk dan ukuran cukup menggoda siapa saja yang datang untuk merogoh beberapa dirham.

Marrakech 5

Eksotika rempah-rempah akan menghentikan langkah kita dengan aromanya yang kuat dan menyegarkan. Mereka mempunyai segala jenis rempah-rempah yang bisa digunakan untuk makanan, minuman dan obat-obatan.

Marrakech 6

Permainan warna dan bidang geometri berpadu di setiap sudut kota Marrakech, menjadi ciri khas tersendiri bagi kota ini.

Marrakech 7

Penggemar kucing atau bukan, bersiap-siaplah karena akan ada banyak sekali kucing yang berkeliaran di setiap sudut Marrakech, berpose untuk anda.

Marrakech 8

Di saat sinar matahari semakin kuat menyengat bumi, pergilah ke Jardin Majorelle. Anda akan disambut oleh barisan pohon bambu, kaktus, taman bunga aneka rupa serta kolam-kolam ikan yang tertata sedemikian rupa menyejukkan siapa saja yang melihatnya.

Marrakech 9

Potret Marrakech tak lengkap rasanya tanpa keagungan masjid Koutoubia di saat senja. Alunan adzan terdengar dari puncak menara memanggil umatnya untuk berserah diri di hadapan Yang Kuasa.

  • Disunting oleh SA 04/02/2013

© 2017 Ransel Kecil