Artikel-artikel dari bulan Desember 2012

The House Hostel, Sokcho, Korea Selatan

Sampai di Inter-City Bus Terminal di Sokcho saya melanjutkan berjalan kaki selama lima menit. Ya, hanya selama lima menit dari terminal bahkan plang nama penginapan ini sudah terlihat saat kita keluar terminal. The House Hostel merupakan salah satu akomodasi yang begitu hangat baik interior hingga manajer penginapan di kota yang dingin ini.

Mr. Yoo sebagai manajer dari hostel ini menyambut saya di meja resepsionis. Saya pikir serupa dengan hostel yang pernah saya inapi, petugas resepsionis hanya akan melayani urusan administrasi dan langsung memberikan kunci kamar. Ternyata Mr. Yoo sangat berbeda, setelah memberikan kunci kamar lalu ia memberikan peta pariwisata Sokcho dan menjelaskan satu persatu termasuk bagaimana cara menuju ke tempat yang harus dikunjungi di peta, tanpa diminta. Kerennya lagi Mr. Yoo menjelaskan hingga mendetil naik bis nomor berapa, jam berapa, lama perjalanan, dan dia tidak menjual tur, jadi saya diberikan informasi bagaimana saya bisa keliling Sokcho sendiri.

Resepsionis.
Resepsionis.

Nama The House Hostel sepertinya bukan tanpa maksud, melainkan suasana dan atmosfer dari hostel ini dibuat sedemikian rupa seperti layaknya rumah sendiri. Lobi sekaligus ruang resepsionis hostel ini memang tidak begitu besar namun keragaman perabot dan pernak-pernik yang merupakan simbol dari penjelajah dunia kumpul di ruangan ini. Uang kertas dari seluruh dunia dipajang di dinding resepsionis dan uang receh dari berbagai negara tersebar di meja resepsionis itu tersendiri yang semuanya itu sumbangan dari traveler yang menginap di hostel ini. Masuk ke lobi sekaligus ruang resepsionis di The House Hostel seperti ruang tamu untuk pengunjung rumah Mr. Yoo.

Pintu masuk hostel.
Pintu masuk hostel.

Yang tidak kalah serunya adalah ruang makan dan dapur dari The House Hostel. Satu meja makan dengan enam kursi kayu diletakkan di tengah ruangan seperti ruang makan rumah sendiri. Selain itu di ruang makan ini juga terdapat komputer untuk menggunakan fasilitas internet gratis. Asiknya, teh atau kopi dapat dinikmati secara gratis sepanjang waktu. Seluruh tamu yang menggunakan gelas dan piring diharuskan mencuci sendiri di tempat cuci yang telah disediakan. Jadi seluruh kegiatan di hostel ini bebasis layanan mandiri karena sejauh saya mengamati, The House Hostel cuma punya tiga karyawan, dan mereka adalah anggota keluarga dari Mr. Yoo sendiri.

Salah satu sudut hostel.
Salah satu sudut hostel.

Meja untuk merilekskan diri.
Meja untuk merilekskan diri.

Lokasi yang paling saya senangi dan sebagian besar tamu dari The House Hostel adalah teras yang sangat mengasyikkan. Asyik karena banyak bangku dan meja taman tempat para pejalan berbagi cerita satu sama lain. Selain itu suasana pagi yang dingin dan sejuk di Sokcho ditemani secangkir kopi dan suasana teras yang terasa seperti di rumah membuat kita betah berlama-lama di teras hostel ini. Lucunya lagi, anjing peliharaan Mr. Yoo yang rumah mungilnya berada di sekitar teras hostel selalu ingin ikut berbincang dengan tamu yang datang.

Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.
Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.

Fasilitas di tiap kamar yang ada di The House Hostel antara lain pendingin udara, kulkas kecil, televisi, pengering rambut, dan koneksi wifi. Sepeda juga disediakan di hostel ini secara gratis untuk tamu yang ingin berkeliling kota Sokcho dengan bersepeda. Kota Sokcho sangat ramah dengan sepeda. Terdapat jalur sepeda pada tiap ruas jalan di kota ini yang mengitari berbagai objek wisata seperti danau dan pantai sehingga turis yang datang ke kota ini sangat mudah untuk menikmati kota yang mempunyai tagline “The Sky to Sea Activity“.

Saya memesan penginapan ini dengan menggunakan reservasi kolektif di internet dan saran saya lebih baik melakukan reservasi tersebih dahulu sebelum menginap di hostel ini karena The House Hostel merupakan penginapan favorit di kota Sokcho.

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

Prosedur & Etika Naik Pesawat Terbang

Jika dulu naik pesawat merupakan hal yang sangat identik dengan kaum borjuis, kini setiap orang bisa dengan bebas menjelajahi dunia menggunakan pesawat terbang. Bahkan, semakin hari harga tiket yang ditawarkan pun semakin murah. Hal ini terjadi karena banyaknya maskapai yang berlomba-lomba memberikan pelayanan prima dengan pembukaan rute-rute baru yang semakin marak. Selain karena persaingan jadwal dalam satu destinasi yang sama, tingkat keterisian pesawat juga merupakan salah satu faktor penentunya, sehingga harga yang ditawarkan menjadi sangat kompetitif dan menguntungkan para konsumen.

Namun, walau kita sudah sering naik pesawat, terkadang ada saja yang terlupa soal detil-detil terkait menggunakan sarana transportasi ini, mulai dari saat reservasi tiket, di bandara, ketika di penerbangan, dan lain sebagainya. Banyak hal di bawah ini sangat mendasar, semoga berguna bagi baik yang baru mulai naik pesawat atau yang sudah sering bepergian.

Tiket = harga mati

Tiket adalah dokumen yang wajib dimiliki setiap calon penumpang sebelum ia menggunakan jasa transportasi tersebut, entah untuk moda transportasi udara, laut, dan darat. Blanko tiket biasanya diisi dengan identitas calon penumpang, rute perjalanan, dan jenis pelayanan yang diinginkan. Yang perlu diingat, nama yang tertera di tiket harus sesuai dengan KTP anda. Selain menaati aturan main, itu juga merupakan syarat mutlak untuk melakukan klaim asuransi jika terjadi apa-apa selama penerbangan.

Tiket untuk anak

Anak yang berusia dibawah 22 bulan (infant/bayi) tidak diwajibkan membeli tiket dan duduk sendiri, orang tua harus ikut terbang bersama bayi dan menjadi pendamping. Kebanyakan maskapai menerapkan peraturan ketat dalam hal ini, bahkan ada yang harus dibawa ke loket pembelian tiket dan ditimbang berat badannya sebelum label boarding pass diberikan. Sedangkan anak diatas 22 bulan (child) sudah terhitung dewasa dan harus membeli tiket terpisah. Masalah harga, infant hanya cukup membayar sebesar 10% dari total harga tiket orang dewasa, sedangkan child tetap dihitung normal karena mendapat tempat duduk dan servis standar layaknya tiket yang berlaku untuk dewasa.

Pemesanan

Pemesanan tiket adalah istilah lain dari “mengamankan tempat”, biasanya jika seorang calon penumpang sudah sepakat dengan harga yang berlaku, ia akan dianjurkan oleh petugas reservasi untuk melakukan booking terlebih dahulu. Jangan khawatir, pemesanan tiket adalah fasilitas bebas biaya yang diberikan oleh maskapai. Masukan data calon penumpang sesuai KTP, tunggu proses pemesanan tiket selesai, selanjutnya anda akan mendapatkan informasi berupa kode pemesanan tiket beserta batas waktu pembayaran untuk reservasi anda. Biasanya bentuknya berupa kombinasi angka dan huruf.

Tiket yang sudah dikeluarkan

Setelah melakukan reservasi dan mendapatkan kode pemesanan tiket, anda harus melakukan pembayaran sebelum melewati batas waktu yang diberikan. Untuk mencetak tiket anda, cukup hubungi petugas reservasi dan informasikan bukti pembayaran, selanjutnya minta petugas mencetak tiket anda dengan perintah “issued“. Kebanyakan orang tak mengerti istilah ini dan sering salah kaprah dengan menyebut pemesanan tiket sebagai perintah untuk mencetak tiket. Hal ini dapat berakibat fatal jika petugas reservasi tak bisa menangkap maksud anda dan mengabaikan pembukuan anda hingga terbatalkan karena lewat waktu pembayaran.

Stasus sosial

Status sosial dan gelar akademik tidak diperlukan selama perjalanan (misalnya: SE, SH, Hj, M.Si, dan laninnya), jadi jangan membuang waktu anda dengan menulisnya di tiket. Pesawat tak peduli anda berpendidikan atau tidak, asalkan bisa bersikap sopan dan menuruti peraturan, itu saja sudah cukup.

Khusus dokter

Jika anda adalah seorang dokter, silakan menyertakan gelar anda di tiket. Hal ini sangat membantu awak kabin selama penerbangan, di mana pada saat-saat darurat yang dapat mengancam nyawa penumpang, maka hanya tenaga medislah yang paling dibutuhkan. Sejak naik ke pesawat, anda akan langsung ditandai sebagai penumpang khusus di basis data maskapai tersebut.

Anak kecil yang tidak ditemani

Atau yang biasa disingkat “UM” (“Unaccompanied Minors“) adalah layanan khusus bagi anak-anak yang bepergian tanpa pendamping. Biasanya mereka akan ditangani oleh awak kabin sejak dari proses lapor berangkat hingga penjemputan oleh pihak yang telah diberi kuasa. Hubungi maskapai yang bersangkutan untuk lebih memperjelas aturan yang mereka terapkan, selanjutnya anda akan diminta menandatangani surat perjanjian dan pemindahan kuasa selama anak anda ikut bersama dalam penerbangan. Batas usia yang ditetapkan adalah maksimal 11 tahun dan minimal empat tahun.

Bagasi

Bawalah bagasi sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan anda. Selain menyiksa diri sendiri, hal ini sangat ampuh mengantisipasi terjadinya kelebihan bagasi (overweight). Tandai bagasi sensitif anda sebagai barang pecah belah (fragile), dan jangan sekali-kali memasukkan barang berharga ke dalam bagasi.

Setelah mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan sebelum terbang, berikut saya akan berbagi langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan sebelum naik ke pesawat.

Siapkan tiket

Kini, hampir semua maskapai penerbangan sudah mengganti tampilan tiket mereka dari tiket blanko menjadi e-ticket, maksudnya adalah data-data penerbangan dan identitas calon penumpang hanya dicetak dalam satu kertas saja. Perhatikan baik-baik nama, tanggal, rute, dan harga tiketnya sesaat setelah anda menerimanya. Simpan kode booking yang tertera di tiket untuk mengantisipasi jika anda teledor meninggalkan tiket di tempat lain. Minta petugas maskapai mencetak kembali tiket anda dengan menunjukkan kode booking yang sudah disimpan. Kode booking biasanya berupa enam digit gabungan antara angka dan huruf, terletak di pojok kiri/kanan atas, dan dicetak tebal.

Check-in

Ini adalah istilah lain dari “lapor berangkat”, dimana penumpang yang sudah memiliki tiket akan didata kembali dan ditimbang bagasinya. Siapkan kartu identitas anda saat berada dalam antrian agar lebih mempercepat proses. Check-in dapat diwakilkan oleh orang lain, dengan syarat nama calon penumpang harus sesuai dengan nama yang tertera di kartu identitas. Layanan check-in mulai dibuka sejak 2 jam sebelum waktu keberangkatan, dan ditutup 45 menit sebelum pesawat tinggal landas.

Memesan kursi

Anda dapat memilih posisi tempat duduk yang diinginkan, tentu hal ini disesuaikan dengan harga tiket dan kelas yang anda beli. Untuk kelas bisnis, anda dapat memintanya melalui pusat layanan maskapai atau langsung di loket pembelian. Tapi jika anda membeli kelas ekonomi (promo), mintalah petugas check-in menyimpan nomor tempat duduk yang anda kehendaki. Perlu diingat, perempuan hamil dan anak-anak tidak diizinkan untuk duduk di barisan di mana terdapat pintu darurat.

Pajak bandara

Umumnya, pajak bandara dibayarkan setelah anda melakukan proses lapor berangkat di meja check-in. Besaran biaya di bandara-bandara Indonesia untuk penerbangan domestik adalah Rp40.000, sedangkan untuk penerbangan internasional dikenakan Rp150.000. Jangan membayar biaya lain selain pajak bandara, hindari loket dan petugas yang menawarkan layanan asuransi dan mengatasnamakan pajak daerah. Asuransi anda sudah dijamin maskapai sejak tiket anda dianggap sah di meja check-in. Daerah sudah mendapat pemasukan semenjak anda membayarkan pajak bandara tadi, jadi lupakan saja petugas dan loket dadakan yang nyaris menipu anda.

Masuk pesawat

Setelah melakukan verifikasi data di meja check-in, penumpang akan mendapatkan kertas yang berisi jadwal keberangkatan, nomor bagasi, hingga nomor ruang tunggu dan jadwal naik ke pesawat (boarding). Kertas itu disebut boarding pass, fungsinya untuk memastikan kembali jumlah penumpang yang ada di database airlines dengan yang hendak naik ke pesawat. Boarding dilakukan 45 menit sebelum pesawat lepas landas. Pastikan anda tak meninggalkan ruang tunggu agar tidak ketinggalan pesawat.

Penumpang transit

Jika anda adalah penumpang lanjutan dan menggunakan maskapai yang sama tapi beda pesawat, anda akan diberikan kartu transit yang nantinya harus diserahkan kepada petugas maskapai di bandara penghubung. Misalnya, jika anda terbang dengan Garuda Indonesia dari Jakarta – Ternate (via Makassar), anda harus menyerahkan kartu transit saat tiba di bandara Makassar untuk ganti pesawat. Lain jika anda terbang dengan penerbangan lanjutan, dalam artian anda tetap singgah di Makassar tapi tak diperkenankan turun dari pesawat.

Jika sudah tahu prosedur dan langkah-langkah naik pesawat, sekarang waktunya anda belajar bagaimana bersikap sebagai seorang penumpang yang baik.

Dilarang merokok

Semua penerbangan dalam dan luar negeri adalah penerbangan bebas asap rokok. Matikan rokok anda sejak memasuki area bandara. Walaupun kini beberapa bandara sudah menyediakan ruangan khusus untuk perokok, sangatlah tidak etis jika anda tetap menyebarkan asap beracun di area publik, bahkan dari dalam ruangan tertutup sekalipun.

Perangkat elektronik

Biasakan mematikan telepon genggam saat masih berada di ruang tunggu, hal ini untuk mencegah terjadinya kelalaian penumpang saat berada di dalam pesawat. Seperti yang telah diketahui, sinyal telepon genggam adalah masalah serius yang dapat mengancam sistem navigasi pesawat terbang. Untuk komputer tablet dan perangkat hiburan lain, sebaiknya jangan dulu dinyalakan sebelum pesawat benar-benar lepas landas dan mendarat. Jika anda hendak menggunakan earphone selama penerbangan, usahakan agar tak menyetel volume suara ke tingkat maksimal. Selain dapat merusak gendang telinga, anda juga tak akan bisa mendengar perintah yang diberikan awak kabin selama penerbangan. Satu lagi, orang di sebelah anda akan merasa terganggu dengan suara musik anda.

Cara berpakaian

Ada baiknya anda mencocokkan waktu terbang dengan pakaian yang akan digunakan, jangan memakai kaca mata hitam di malam hari, atau memakai jaket mantel saat musim kemarau. Tak masalah jika anda memang dalam penerbangan transit ke luar negeri yang memang sedang dilanda hujan dan badai. Sebaliknya, gunakan jaket, sweater, atau baju berbahan tebal untuk penerbangan di malam hari. Hal ini dapat menghangatkan tubuh anda agar tetap segar dan tak cepat lelah saat tubuh terkena penyejuk kabin. Yang terakhir, jangan gunakan parfum secara berlebihan agar tidak mengganggu orang yang duduk disebelah anda.

Demonstrasi keselamatan

Walaupun ini sudah menjadi hal yang biasa bagi yang sering naik pesawat, tapi bukan berarti anda harus tutup mata saat simulasi tanggap darurat dilakukan. Perhatikan dengan seksama dan selalu membayangkan jika anda berada dalam penerbangan naas. Dengan begitu, anda akan bersungguh-sungguh mempelajari langkah apa saja yang harus segera dilakukan jika pesawat dalam keadaan bahaya.

Berdoa & antisipasi

Selalu utamakan keselamatan anda diamanapun berada, berdoalah sebelum melakukan perjalanan. Maskapai biasanya menyediakan buku panduan berdoa beserta majalah penerbangan yang disematkan di kantong kecil di depan tempat duduk anda, bacalah sambil menunggu proses lepas landas dilakukan. Untuk mengantisipasi, sebaiknya periksa kembali gadget dan telepon genggam anda untuk memastikan anda telah mematikannya dan mengikuti semua prosedur penerbangan dengan benar.

Porter

Tak ada salahnya menggunakan jasa porter jika barang bawaan anda terlalu banyak dan berat. Porter biasanya siaga di pintu keberangkatan maupun pintu kedatangan sejak anda memasuki bandara. Hindari menggunakan jasa ini jika barang yang anda bawa tak terlalu banyak, selain berbayar dengan tarif sukarela yang tak dapat diprediksi, menggunakan porter juga akan merugikan anda karena tak akan pernah bisa menyusun barang bawaan sendiri.

Semoga bermanfaat.

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

Menelusuri Seni Bercinta di Kuil Khajuraho

Siapapun pasti pernah mendengar tentang Kama Sutra dari India, bukan? Kama Sutra merupakan turunan dari bahasa Sanskrit yang berarti seni bercinta, ditulis secara indah oleh Vatsyayana. Konon, Kama Sutra ini pertama kali disebarkan oleh Nandi, seekor sapi keramat penjaga dari Dewa Shiva saat ia mencuri dengar Shiva ketika sedang berhubungan seksual dengan istrinya Parvati.

Saya yang memang sangat tertarik dengan keindahan budaya India sangat penasaran dengan Kama Sutra ini. Dulu saya memang pernah mendengar adanya kuil Kama Sutra di India, tapi memang tidak terpikir akan mencarinya. Dari pencarian melalui internet, saya menemukan bahwa relief Kama Sutra bisa ditemukan di dua tempat di India, yaitu di kuil Khajuraho, Madhya Pradesh dan Konark di Orissa. Saya memutuskan mengunjungi Khajuraho dulu, karena Orissa relatif lebih dekat dari Mumbai jadi bisa saya kunjungi kapan pun.

Dimulailah “perjalanan cinta” saya mengunjungi kuil Khajuraho ini. Untuk menuju Khajuraho, saya naik kereta ekspres dari Mumbai. Kebetulan saya pergi saat musim dingin, menjelang natal dan memang di bulan Desember, India daerah utara memang sangat ekstrim dinginnya, hingga empat sampai lima derajat Celcius di pagi dan malam hari. Walau namanya ekspres, tetap saya perjalanan kereta sekitar 26 jam. Keretanya lumayan nyaman, dengan biaya sekitar 1000 rupee (sekitar Rp176.000). Kompartemen 2-tier sleeper class memang pilihan terbaik mengingat perjalanan yang cukup panjang. Jhansi adalah stasiun terakhir dari perjalanan kereta saya. Sebuah mobil lalu menjemput saya untuk diantar ke Khajuraho. Saya yang tadinya sudah sangat lelah kembali segar bugar saat menikmati perjalanan berpemandangan indah sepanjang jalur Jhansi-Khajuraho yang memakan waktu 3 jam. Di kiri dan kanan jalan terbentang persawahan, di sana-sini terdapat kuil-kuil kecil kuno. Terasa seperti kembali ke masa lalu.

Kuil Lakhsmana.
Kuil Lakshmana.

Khajuraho ternyata adalah sebuah kota kecil di distrik Chattarpur, Madhya Pradesh. Kota ini memiliki sekitar 85 kuil, walau hanya 25 yang terpelihara. Pagi itu begitu cerah saat kami memasuki kota ini. Hotel bintang tiga yang kami pesan memang terletak di sekitar kuil Khajuraho yang akan kami kunjungi. Di sekitar kompleks ini banyak sekali hotel bintang tiga dan guesthouse dengan tarif 500-1000 rupee/malam. Untuk memasuki kawasan monument kuil Khajuraho, turis asing membayar 250 rupee yang merupakan harga standar setiap UNESCO Heritage Site di India, sedangkan penduduk lokal hanya membayar 10 rupee.

Seni yang mengagumkan, itu adalah kata pertama yang muncul di benak saya pertama kali melihatnya. Saya sudah melihatnya beberapa kali di internet, tapi melihat kuil ini secara nyata memang luar biasa. Nama Khajuraho berasal dari kata “Kharjuravahaka“, yang berarti “seseorang yang membawa kurma”. Namun demikian, seseorang yang lama tinggal di India pasti tahu “khaju” yang artinya cashew atau kacang mete/biji jambu monyet. Konon, awalnya dinamakan demikian karena saat itu di kompleks monumen ini banyak barisan pohon khaju. Kompleks monumen khajuraho terbagi wilayahnya menjadi barat, timur dan selatan. Dari semuanya, barat adalah yang paling utama. Keseluruhan kuil di kompleks monumen Khajuraho memiliki kesatuan desain yang mendasar. Kuil-kuil ini umumnya terbuat dari sandstones yang berasal dari Panna atau Sungai Ken yang direkatkan satu sama lain dengan memakai konsep mortise dan tenon joint. Beberapa kuil seperti Brahma dan Lalguan-Mahadeva terbuat dari granit.

Kejayaan kultur dinasti Chandella yang memerintah India sekitar abad 9-13 SM terurai dengan adanya keberadaan kuil Khajuraho ini, saat ia “ditemukan” kembali oleh arsitek Inggris bernama T.S. Burt di tahun 1838.

Berpose di salah satu kuil.
Berpose di salah satu kuil.

Kuil-kuil di Khajuraho memiliki konsep pahatan erotis yang sangat indah dan detil. Kuil-kuil ini sendiri kebanyakan didedikasikan ke dewa Shiva, Vaishnava dan Jaina. Keseluruhan ruang di dalam kuil terhubungkan secara eksternal dan internal, sebagai satu aksis dari timur ke barat, sehingga merupakan konsep ruang yang terstruktur. Elemen utama tiap kuil adalah “ardha-mandapa” (pintu masuk), “mandapa” (hall), “antrala” (pintu masuk tempat pemujaan), dan “garbha griha” (tempat pemujaan). Atap-atap kuil Khajuraho sangat tinggi dan berundak-undak berbentuk piramida. Interior di dalam kuil memperlihatkan detil dekorarif yang sangat luar biasa, dari mulai pilar, dinding, lantai, hingga plafon. Motif gemotris dan bunga banyak dipakai di sini dan menunjukan tingkat keahlian pahat yang tinggi.

Pahatan-pahatan relief di kompleks monumen ini bisa terbagi menjadi lima bagian secara umum, Pertama adalah pahatan dewa-dewa, kedua adalah keluarga dari dewa-dewa ini, ketiga adalah dewi-dewi yang biasanya memakai pakaian dan perhiasan yang indah dalam berbagai pose sedang menari, keempat tentang hal-hal umum seperti guru, penari, dan beberapa pasangan yang sedang bercinta, dan kelima adalah hewan-hewan dalam mitos agama Hindu termasuk Vyala, suatu monster berwujud singa.

Detil pahatan.
Detil pahatan.

Pahatan erotis di Khajuraho memang membuat kita sulit melepaskan diri dari pandangan. Struktur ini membawa kita ke interpretasi yang berbeda-beda. Beberapa merasa bahwa ini adalah suatu kemunduran moral, sedangkan yang lain menghargainya sebagai ilustrasi dari seluruh postur erotis dari kitab kuno Kama Sutra. Seluruh posisi bercinta ada di sini, dengan satu atau lebih pasangan, bahkan dengan binatang (baca: kuda). Saya kaget mendengar ini, pemandu saya justru bilang itu wajar karena kalau raja berperang, dia akan terpisah dari istrinya selama berbulan-bulan. Jadi tidak ada ratu, kuda pun jadi.

Pahatan ini juga menunjukan adanya seni bercinta di saat zaman India kuno yang sarat dengan penggabungan ritual simbolik, yoga (latihan spiritual), bhoga (kenikmatan fisik), hingga tercapai kepuasan yang hakiki. Sangat bisa dimengerti bahwa saat itu mereka tidak tabu terhadap seks, sehingga cukup bebas mengeksplornya, mengingat Kama atau kenikmatan seksual adalah satu dari empat tujuan hidup sesuai kitab kuno.

Kandariya-Mahadeva adalah kuil terbesar yang cukup menyolok keberadaannya di kompleks kuil di barat ini dan merupakan kuil yang memiliki keseluruhan konsep elemen utama. Dengan tinggi sekitar 30 meter dengan desain yang simetris dan proporsional, kuil ini sangat indah. Pahatan di kuil ini tampak lebih tinggi dan langsing, namun konturnya lebih halus. Di dalam kuil Varaha, bisa ditemui struktur Varaha yang merupakan salah satu dari bentuk inkarnasi dewa Vishnu. Menariknya, menurut mitos, Vishnu menyelamatkan bumi dari banjir dengan meletakkannya di atas moncongnya. Sebaliknya, struktur Nandi setinggi 1,8 meter bisa ditemui di dalam kuil Visvanatha. Nandi merupakan kendaraan dari Dewa Shiva. Chitragupta adalah satu-satunya kuil di kompleks ini yang didedikasikan untuk Surya, dewa matahari. Beberapa reliefnya memperlihatkan aksi gajah sedang berperang atau aktivitas berburu lainnya. Totalnya ada 11 kuil dalam kompleks bagian barat. Tidak ada tradisi tertentu, hanya tiap hendak memasuki kuil harus melepas alas kaki dan dilarang mengabdikan foto dari Vyala. Jangan kaget bila kadang turis lokal ingin mengajak berfoto bersama, hal ini biasa terjadi di India.

Kuil Jain.
Kuil Jain.

Di kompleks bagian timur terdapat tiga kuil Brahma dan tiga kuil Jain, sedangkan bagian selatan memiliki dua kuil, bisa dicapai dengan sepeda atau mobil dalam waktu 20 menit dari kompleks kuil bagian barat. Kuil-kuil di kompleks timur dan selatan ini lebih sederhana desain pahatannya. Walau disebut kuil Brahma, kuil-kuil ini ternyata didedikasikan untuk Dewa Vishnu. Yang menarik waktu saya melihat pahatan di kuil Chaturbuja yang justru menunjukan hubungan monogami dewa dengan dewi pasangannya, seperti Shiva dengan Parvati atau Vishnu dengan Lakshmi. Chaturbuja di bagian selatan adalah satu-satunya kuil tanpa pahatan erotis di Khajuraho.

Puas menjelajah kompleks monumen Khajuraho, kita bisa menikmati jajanan sekitar kompleks. Di tempat ini banyak restoran lokal dengan harga sangat murah dan enak, beberapa yang saya coba adalah Raja’s Café, Bamboori Treat dan Paradise yang juga direkomendasikan di banyak situs. Restoran-restoran ini beberapa memiliki view ke arah monumen, jadi bisa dibayangkan anda sedang makan malam sambil menatap kuil Khajuraho di bawah sinar lampu di kejauhan. Khajuraho juga memiliki acara light and sound yang diselenggarakan tiap malam di kompleks kuil. Bisa dicoba tapi disarankan jangan lupa memakai lotion anti-nyamuk! Untuk belanja oleh-oleh, toko kerajinan tangan tersebar di sini, namun harus pandai menawar memang. Saya membeli oleh-oleh gantungan kunci bergambar pahatan erotis untuk teman-teman.

Perjalanan saya pun berakhir setelah menghabiskan tiga hari di Khajuraho. Amatlah benar bila tempat ini termasuk dalam buku “1000 Places You Must Visit Before You Die“. Seluruh kata-kata yang saya tulis di atas ini rasanya tidak pernah cukup untuk merangkum keindahannya. Simply beautiful, that’s it!

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

Selamat Datang di Pulau Nami!

Sapaan hangat yang ditulis di papan tembus pandang itu menarik perhatian begitu saya menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Ya, sapaan itu tertulis dalam bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa Melayu, mengingat ada bendera Indonesia, Malaysia dan Singapura di bawah tulisan itu), bukan bahasa Inggris apalagi bahasa Korea di mana Pulau Nami ini berada.

Terkenal sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar drama Korea terkenal “Winter Sonata“, Pulau Nami sekarang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Terletak kurang lebih 63 km dari kota Seoul, kita dapat menjangkau pulau ini dengan beberapa cara. Apabila menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan, tinggal arahkan mobil menuju Gapyeong Wharf. Tempat ini merupakan pintu masuk ke “Naminara Republic”. Menuju pulau Nami dengan transportasi umum? Silakan memilih naik shuttle bus atau menggunakan kereta ITX, kereta ekspres yang baru saja beroperasi sejak bulan Februari 2012.

Kapal kecil ke Pulau Nami.
Kapal kecil ke Pulau Nami.

Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.
Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.

Sesampainya di Gapyeong Wharf, kita harus membeli tiket masuk yang mereka sebut “visa fee“. Asyiknya, berbeda dengan kebanyakan di tempat lain, Pulau Nami ini mematok harga “visa” lebih murah untuk orang asing. Harga “visa” untuk orang asing adalah 8.000 won, atau sekitar Rp72.000, sementara harga “visa” yang diperuntukkan untuk warga setempat adalah 10.000 won. Mau lebih murah lagi? Datang saja ke pulau Nami diatas jam enam malam, harga “visa”-nya 4.000 won saja. Tapi, jangan lupa membawa senter karena penerangan sangat jarang.

Sengaja dibuat seolah-olah sebuah “negara” yang berdiri sendiri, Pulau Nami menamai wilayah mereka yang hanya seluas 480.000 meter per segi atau kurang lebih lima kilometer per segi itu dengan sebutan “Naminara Republic” sejak tahun 2006. Mereka mempunyai stempel resmi, seragam resmi para perangkat negara (yang agak mirip koboi, lengkap dengan topinya), harga “visa” dan “paspor”. Paspor ini merupakan sebutan untuk tiket terusan (pass) gratis yang berlaku selama satu tahun. Pemegang paspor Naminara Republic berhak untuk keluar masuk pulau ini selama setahun penuh sejak waktu pembeliannya. Harga paspor itu dibanderol 25.000 won (sekitar Rp225.000). Cukup murah untuk sebuah daerah wisata yang lengkap seperti Pulau Nami.

Setelah mendapatkan visa, kita harus mengantri naik feri menuju Pulau Nami, karena pulau ini sejatinya terletak di tengah-tengah Danau Cheongpyeong. “Visa” yang dibeli sebelumnya sudah termasuk biaya pulang pergi untuk naik feri ini. Feri berangkat setiap 10 – 30 menit sekali,  semakin sore semakin lama selang waktu keberangkatannya. Feri terakhir beroperasi hingga pukul 21.45 malam. Malas naik feri? Ada cara terkeren untuk mencapai pulau Nami yang ada di tengah danau itu. Caranya? Naik zip wire! Pemerintah “Naminara Republic” menyediakan flying fox untuk menyeberangi Danau Cheongpyeong. Cukup membayar 38.000 won (sekitar Rp341.000), maka anda bisa meluncur ria menyeberangi Danau Cheongpyeong menuju Pulau Nami. Tentu saja, zip wire ini hanya ditujukan untuk yang berani. Maksudnya, mungkin, berani tidak membayar begitu mahal untuk menyeberang danau!

Piknik di Pulau Nami.
Piknik di Pulau Nami.

Winter Sonata Cafe.
Winter Sonata Cafe.

Winter Sonata Lane.
Winter Sonata Lane.

Begitu memasuki daerah Pulau Nami, kita akan disambut dengan deretan pohon tinggi yang berjejer lurus. Dingin sekali rasanya melihat suasana alam yang masih terjaga seperti itu. Pulau Nami ini memang menjunjung konsep perpaduan antara manusia, hewan dan tumbuhan untuk “living in harmony far away from crowd and civilization“. Jadi pulau ini memang seperti tempat berlibur untuk bersantai dan istirahat bagi warga kota Seoul dan sekitarnya. Mereka masih bisa menikmati udara bersih, tanaman yang rindang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Pada umumnya pengunjung adalah pasangan muda yang asyik berpacaran. Tidak jarang juga, saya melihat keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang menghabiskan waktu mereka dengan berpiknik di pulau ini. Di suatu sudut pulau, malah ada tempat yang disediakan untuk menyimpan buku yang dapat dibaca oleh pengunjung dengan bebas. Saya melihat seorang ibu yang sedang tekun membacakan cerita dari buku untuk kedua putrinya, manis sekali.

Berkeliling di pulau selain jalan kaki, bisa juga menggunakan kereta yang disediakan oleh “pemerintah Naminara Republic”. Penyewaan sepeda dan Nami Car juga ada. Tidak akan capek, deh, keliling pulau kecil ini. Tempat yang paling populer di Pulau Nami tak lain tak bukan adalah Winter Sonata Lane. Tempat romantis ini menjadi lokasi utama pengambilan gambar drama Korea yang terkenal pada zamannya itu. Nama sebenarnya Metaseqouia Lane. Metaseqouia Lane sebenarnya merupakan jajaran pepohonan yang ditanam oleh tim Seoul National University di tahun 1977. Di sekitarnya banyak terdapat tempat yang berbau Winter Sonata. Ada patung pemeran cowok dan cewek utama di drama Korea tersebut, penyewaan sepeda, Winter Sonata Café dan toko cinderamata. Penggemar drama Winter Sonata pasti akan “menggila” di sini. Selain Winter Sonata Lane ini, banyak juga spot lain yang menjadi lokasi pengambilan gambar drama seperti First Kiss Bridge, lokasi di mana kedua tokoh utama melakukan ciuman pertama. Aduhai.

Seperti halnya tempat wisata terkenal, tidak perlu khawatir akan akomodasi dan kuliner. Di Pulau Nami, terdapat berbagai macam restoran, mulai dari tradisional Korea, Jepang, Cina, sampai masakan Italia. Mau lebih lama menjelajah Pulau Nami? Tinggal pesan kamar di Naminara Hotel Jeonggwanru saja untuk bermalam. Anda tidak akan menemukan internet dan TV di hotel ini, karena konsepnya memang sengaja mendekatkan diri ke alam. Tarifnya cukup terjangkau dan ada potongan harga pula jika menginap di hari minggu sampai kamis. Lumayan, kan?

Namun dari semua itu, yang membuat saya salut dengan pulau kecil ini adalah bagaimana mereka melakukan branding. Bagaimana mereka mencoba menarik para turis mancanegara dengan semua fasilitas yang ada. Tidak jauh dari deretan pepohonan tinggi tadi, anda akan menemukan deretan papan dengan bendera beberapa negara. Papan ini memuat foto dan beberapa informasi penting tentang negara yang bersangkutan. Sayangnya seluruh informasi ditulis dalam bahasa Hanggeul. Buat saya, ini sungguh strategi pemasaran yang menarik. Bisa ditebak, para turis ini pasti akan senang sekali melihat nama dan bendera negaranya terpasang di sebuah pulau kecil yang jaraknya ribuan kilometer dari negara asalnya. Belum lagi bagaimana mereka menggunakan nama tenar Winter Sonata sebagai salah satu media promosi wisatanya. Wah, semakin ramai sepertinya pulau kecil ini. Tahun 2012 ini, Pulau Nami diperkirakan telah dikunjungi oleh sekitar 500.000 wisatawan mancanegara. Itu baru jumlah wisatawan yang mengunjungi Nami melalui agen perjalanan dan semacamnya. Belum termasuk yang perorangan dan backpacker macam saya dan teman-teman.

Satu lagi yang membuat saya salut dengan Pulau Nami. Mereka menyediakan fasilitas prayer room (musholla) untuk pengunjung yang beragama Islam. Letaknya di dalam bangunan yang jadi satu dengan restoran dan ruang pameran seni. Saya sangat terkejut mendapati fasilitas musholla di sini. Jujur saja, fasilitas musholla di Pulau Nami ini sangat pantas dan termasuk salah satu yang terbaik menurut saya. Dengan semua fasilitas itu, saya tidak apabila sutau hari nanti, Pulau Nami akan jadi ikon pariwisata Korea Selatan. Daebak, Nami!

Ada dua cara menggunakan kendaraan umum yang cukup mudah menuju Pulau Nami:

  • Gunakan shuttle bus Naminara. Ada dua tempat di mana kita bisa menemukan shuttle bus ini, yakni Insa-dong (di sebelah Tapgol Park) dan di Jamsil. Bus berangkat pukul 09.30 pagi dari masing-masing tempat tersebut dan hanya satu kali keberangkatan setiap harinya. Jadi pastikan untuk memesan terlebih dahulu (bisa melalui email ke namibus@naminara.com). Harga tiket sekitar 23.000 won (sekitar Rp206.000) untuk perjalanan pulang-pergi dan “visa” untuk Pulau Nami.
  • Gunakan ITX (Intercity Train Xpress), kereta ekspres yang menghubungkan Seoul dengan Cheongchun. Dari Seoul bisa berangkat dari Yongsan atau stasiun Cheongyangni dan berhenti di stasiun Gapyeong (merupakan stasiun kereta terdekat dengan Gapyeong Wharf untuk menuju Pulau Nami). Dari stasiun Gapyeong dilanjutkan dengan taksi dengan ongkos sekitar 3.000-4.000 won saja ke Gapyeong Wharf.
  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012

Wisata Pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

Ada surga di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon namanya. Di tempat yang merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi ini hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Bentang alam di Taman Nasional Ujung Kulon amat beragam, mulai dari bentang alam laut, bentang alam hutan rawa dan ekosistem daratan. Jadi, saat saya berkunjung ke taman nasional yang asri ini, saya bisa merasakan serunya petualangan trekking di bentang rawa dan hutan yang masih alami dan snorkeling di bentang alam laut yang masih bersih dengan perpaduan pasir putih nan indah.

Menikmati senja.
Menikmati senja.

Terdapat sensasi tersendiri saat trekking di bentang alam hutan Taman Nasional Ujung Kulon. Di hutan ini, saya bisa melihat hamparan keanekaragaman hayati tetumbuhan. Sekitar lima ratus jenis tumbuh-tumbuhan hidup di hutan ini. Hutan ini merupakan kawasan hutan nasional yang dilindungi dan tumbuhan tersebut tumbuh terlindungi dengan baik. Tumbuh besar dan lebat, saat di tempat ini saya melihat beberapa pohon yang umurnya sudah ratusan tahun.

Saat trekking di sela-sela pepohonan yang tumbuh dengan amat rimbun, sesekali saya menemukan pohon yang tumbang membentang di jalur trekking. Keadaan ini agak menghalangi para trekker, namun menjadi tantangan tersendiri. Nilai petualangannya terasa lebih kental. Kadang saya berjalan menunduk, merangkak, sampai terkadang meloncat. Hutan pohon-pohon besar, suara-suara serangga dan burung dan jalanan berlumpur, menjadi perpaduan petualangan sempurna.

Salah satu tujuan trekking di tempat ini adalah untuk mencoba keberuntungan untuk bisa menyaksikan badak jawa dengan mata kepala sendiri. Populasi badak jawa di hutan ini tidak terlalu banyak. Badak jawa pernah masuk di daftar yang dikeluarkan oleh Masyarakat Zoologi London (ZSL) dan Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN) sebagai salah satu dari daftar seratus flora dan fauna yang paling terancam punah. Dari tahun ke tahun populasinya semakin berkurang. Berdasarkan pengawasan populasi dengan kamera video, diketahui tidak sampai lima puluh ekor badak jawa yang hidup di Taman Nasional ini.

Saya sempat mengobrol dengan salah satu penjaga Kawasan Hutan Taman Nasional Ujung Kulon, menurut beliau, badak jawa jarang terlihat di sekitar wilayah trekking. Badak jawa hidup terpencar di tengah-tengah hutan dan cenderung menjauhi keramaian. Kala itu tampaknya kurang beruntung, saya tidak bisa melihat penampakan badak jawa. Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas hutan, saya lantas tidak langsung kecewa. Menurut penjaga hutan, beliau saja sebagai penjaga hutan yang sehari-hari hidup dan menjaga di pos hutan, jarang melihat hewan itu.

Sensasi lain yang bisa dirasakan di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah kegiatan wisata island hopping. Ada beberapa pulau menawan nan elok yang harus dikunjungi, di antaranya adalah Pulau Peucang, Pulau Handeleum, Cidaun, dan Pulau Badul.

Saya menginap di Pulau Peucang, pulau kecil yang amat menawan dengan pasir putih halus terhampar luas. Bentuk penginapan di Pulau Peucang ini berbentuk barak-barak rumah panggung yang lokasinya tidak jauh dari bibir pantai. Saya bermalam di sini bersama teman-teman saya.

Memberi makan rusa.
Memberi makan rusa.

Tinggal dan bermalam di Pulau Peucang sangat mengasyikkan, di belakang penginapan terhampar luas hutan dengan rerimbunan hijau pohon yang asri. Di depan penginapan sejauh mata memandang, terlihat birunya laut dengan ombak yang tenang. Di sekitaran penginapan berlalu lalang hewan-hewan hutan yang sesekali menghampiri penginapan untuk mencari makan. Mulai dari monyet-monyet kecil, babi hutan sampai rusa. Benar-benar serasa menjadi tarzan atau anak hutan, hidup bersama dengan hewan-hewan liar. Sensasi petualangan alam liarnya amat terasa.

Hal unik lain yang saya rasakan di tempat ini adalah kelakuan dan tingkah hewan-hewan liar yang kadang membuat jengkel, terutama monyet-monyet kecil yang berkeliaran. Monyet-monyet tersebut sering sekali mendekati penginapan untuk mencuri makanan. Saat saya dan teman-teman saya sedang makan dan santai bersama, monyet-monyet langsung datang berbondong-bondong dengan raut muka celingak-celinguk bak perampok yang ingin mencuri makanan. Saya pun harus siap siaga mengamankan pasokan makanan agar tidak terampas oleh monyet-monyet nakal. Begitu pula dengan rusa dan babi hutan, mereka juga datang ke kerumunan kami yang sedang makan, namun untungnya geliat rusa dan babi hutan tidak seberingas monyet-monyet yang sedang mengintai makanan. Intinya, saya harus waspada akan makanan saya dari intaian hewan-hewan liar.

Sebenarnya saya tidak terlalu merasa risih dan terganggu dengan kondisi seperti itu, saya malah merasakan pesona fauna yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Kalau berkunjung ke kebun binatang, kita hanya disuguhkan pemandangan hewan-hewan yang terkurung di kandang, maka di kawasan Ujung Kulon kita akan hidup bersama hewan-hewan yang terlepas bebas di hutan liar.

Tepat di depan penginapan terdapat pantai pasir putih yang indah. Ombaknya tenang, airnya bening dan pasir putihnya sangat halus. Kala itu, di sore hari yang cerah, saya dan kawan-kawan menikmati keindahan tersebut, santai bersama di pinggir pantai, main air, berenang dan sampai ke tengah laut untuk snorkeling.

Malam harinya, kami makan malam bersama di pinggir pantai, menikmati hidangan seadanya. Makan malam ditemani suara ombak menjadi begitu nikmat, walaupun makan tidak dengan menu istimewa. Seusai menyantap hidangan makan malam, kami semua santai dan bercengkerama ria di dermaga pantai. Ada yang memancing di atas kapal yang tersandar di ujung dermaga dan ada pula yang hanya sekedar tidur dengan mata terbuka menatap ke kerlipan bintang.

Pesona Kawasan Ujung Kulon tidak hanya terbatas di Pulau Peucang, tapi juga terdapat di beberapa tempat lainnya, tempat lain yang saya kunjungi adalah Pulau Cidaun. Tempat ini merupakan kawasan habitat Banteng liar, hewan bertanduk ini hidup liar di lahan rerumputan yang begitu luas. Perjalanan dari Pulau Peucang ke Pulau Cidaun tidak terlalu memakan waktu, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, kapal sudah berlabuh di dermaganya.

Saya turun perlahan dari kapal dan langsung jalan beriringan menuju habitat kawanan banteng. Setelah berjalan kaki lima menit, hamparan padang rumput sudah terlihat, dari jauh terlihat kerumunan banteng yang sedang merumput. Saya tidak berani mendekat, hanya melihat sambil mengabadikan foto saja dari jauh. Seru rasanya melihat langsung banteng-banteng liar, serasa berada di Afrika.

Setelah puas melihat padang rumput dan banteng-banteng, saya langsung mampir ke tepi pantai untuk menikmati senja. Hari semakin sore, senja dan semburat jingga mulai menyala-nyala. Dari bibir pantai dan dari atas demaga terlihat sang surya yang mulai tenggelam perlahan. Sampai tiba saatnya langit mulai gelap, saya pun kembali ke penginapan di Pulau Peucang.

Perjalanan di lanjutkan untuk meraih pesona pulau lain, yaitu Pulau Handeleum dan Pulau Badul. Perjalanan dengan kapal dari Pulau Peucang ke Pulau Handeleum tidak begitu jauh dan memakan waktu, apalagi di atas kapal saya disuguhkan dengan pamandangan laut yang menawan. Perjalanan sangat amat tidak terasa, tahu-tahu kapal sudah merapat di dermaga Pulau Handeleum.

Hal yang paling menarik di Pulau Handeleum adalah fasilitas kayaking. Kayaking dilakukan di Pulau Handeleum dengan menyusuri sungai sampai ke dalam pulau. Satu kayak bisa diisi lima sampai enam orang plus ditemani satu petugas yang mendayung. Kabarnya di sungai ini terdapat buaya liar, bisa dibayangkan bagaimana sensasi kayaking di sungai ini. Dengan alasan takut buaya dan malas untuk merogoh kocek untuk biaya kayaking, saya memilih untuk menikmati keindahan pantai di Pulau Handeleum sambil berfoto-foto ria di dermaga.

Bersama teman-teman.
Bersama teman-teman.

Destinasi selanjutnya dilanjutkan ke Pulau Badul, pulau kecil yang berada di tengah laut. Pulaunya amat elok. Saya snorkeling di pulau ini. Air lautnya jernih, pasir pantainya putih dan terdapat banyak karang-karang kecil. Saya pun menyempatkan untuk mengumpulkan karang dan kerang kecil yang lucu.

Pulau Badul amat kecil dan sepi, serasa di pulau pribadi. Saat saya menjejakkan kaki di sana, hanya rombongan kami yang berada di sana.

Kebersamaan penuh makna dengan kawan-kawan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon berakhir di Pulau Badul. Setelah puas menyelami keindahan Pulau Badul, saya dan kawan-kawan satu per satu menaiki kapal untuk kembali ke daratan Pulau Jawa. Taman Nasional Ujung Kulon sangat fenomenal, sungguh pengalaman liburan yang luar biasa.

  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012

© 2017 Ransel Kecil