Artikel-artikel dari bulan November 2012

Hat Yai, Pesona Thailand Selatan

Tepat jam enam pagi, pintu imigrasi Bukit Kayu Hitam dibuka. Bukit Kayu Hitam yang terletak di negara bagian Kedah ini, merupakan salah satu pintu perbatasan Malaysia dengan Thailand. Kami berdua pun mengantri untuk mendapat cap keluar dari Malaysia di paspor saya.

Pagi ini cuaca cukup dingin. Kamipun bergegas masuk kembali ke dalam bis. Setelah semua penumpang masuk ke dalam bis, bis pun melaju ke arah Sadao, gerbang imigrasi Thailand selatan. Jarak imigrasi Malaysia dan Thailand adalah sekitar 500 meter. Di antara jarak tersebut, di sisi kiri nampak Kedai Bebas Cukai yang telah buka. Di bagian kanan merupakan markas Tentera Darat Diraja Malaysia atau Angkatan Darat Malaysia.

Pemandangan Kota Hat Yai.
Pemandangan Kota Hat Yai.

Tidak sampai lima menit, kita telah sampai kantor imigrasi Sadao, Thailand. Kondektur bis meminta semua penumpang untuk turun dan membawa barang bawaan. Sambil menenteng ransel kecil, saya pun turun untuk mengantri. Setiap warga asing yang akan masuk Thailand, akan diambil foto wajahnya melalui kamera yang terdapat di depan petugas imigrasi. Di paspor, terdapat cap dan tanda mendapatkan 15 hari untuk masa tinggal di Thailand. Berbeda dengan visa yang didapatkan melalui bandara, akan mendapatkan 30 hari masa tinggal. Lalu, saya memasukkan ransel saya ke dalam mesin pemindai.

Kemudian saya mencari bis yang saya tumpangi dari Golden Mile Complex Singapura di tempat parkir. Untuk kedua kalinya saya pergi ke Hat Yai setelah dua bulan sebelumnya, saya mengunjungi Hat Yai melalui Penang. Perjalanan yang tidak terlalu melelahkan. Berangkat dari Singapura pukul enam sore, sehari sebelumnya. Sampai di imigrasi Bukit Kayu Hitam sekitar pukul dua pagi. Ada waktu untuk beristirahat di dalam bis. Lumayan lelap tidur saya rupanya.

Sambil menunggu, saya pun melihat suasana sekitar imigrasi Sadao. Dibanding dengan Malaysia, Sadao tampak lebih kotor dan semrawut dibandingkan dengan suasana Bukit Kayu Hitam tetangganya.

Saya pun memundurkan jam tangan saya satu jam, mengingat waktu Thailand adalah satu jam lebih lambat dari Malaysia. Waktu di Thailand sama dengan Waktu Indonesia Bagian Barat.

Setelah penumpang memenuhi tempat duduknya kembali, bis melaju ke arah Hat Yai. Saya pun melanjutkan tidur kembali. Masih mengantuk rupanya.

Saya terbangun ketika bis memasuki kota Hat Yai. Hat Yai sendiri merupakan kota terbesar di provinsi Songkhla. Meskipun bukan sebagai ibukota provinsi Songkhla, namun Hat Yai lebih dikenal dibanding ibukotanya sendiri, Songkhla.

Bis berhenti di agen tempat penjualan tiket bis. Setelah turun dari bis, saya menanyakan ke petugas mengenai jam keberangkatan bis ke Singapura esok hari. Ternyata bis akan berangkat pukul 12 siang. Saya dan teman saya berkeliling mencari hotel untuk menginap semalam. Setelah menanyakan harga kamar ke beberapa hotel, akhirnya kami mendapatkan hotel yang cukup murah, yang terletak di depan agen bis.

Ternyata, waktu check in di hotel saya menginap adalah pukul 12 siang. Jam di tangan saya menunjukkan waktu delapan pagi. Kami bergegas mencari restoran halal di seputar hotel untuk sarapan. Sangat mudah mencari restoran halal di Hat yai. Banyak komunitas muslim Thai atau Melayu di kota ini.

Setelah selesai sarapan, kami mencari kendaraan yang bisa kami sewa untuk keliling Hat Yai. Ternyata tidak ada tempat persewaan sepeda motor. Yang ada hanyalah sewa mobil sedan ber-AC plus supir termasuk bensin seharga 900 baht (sekitar Rp282.000,-) untuk enam jam atau mobil bak tertutup (menggunakan terpal) sebagian di bagian belakang dengan sopir dan bensin seharga 800 baht (sekitar Rp250.000,-) untuk delapan jam. Pilihan kami jatuh ke alternatif pertama.

Setelah 15 menit menunggu, mobil sedan pilihan kami datang. Berhubung waktu kami hanya enam jam, maka kami memilih tempat wisata yang populer di kalangan wisatawan. Supir yang mendampingi kami tidak dapat berbahasa Inggris, namun bisa berbahasa Hokkian dengan baik. Syukur sekali, teman saya dapat berbahasa Hokkian dengan baik juga, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik.

Wat Hat Yai Nai.
Wat Hat Yai Nai.

Pilihan pertama kami adalah mengunjungi Wat Hat Yai Nai. Patung Buddha tidur ini bernama Phra Phuttha Hattha Mongkho dan diyakini sebagai patung Buddha tidur terbesar ketiga di dunia. Suasananya sangat sepi, hanya kami berdua yang datang. Seorang wanita langsung menghampiri kami sambil membawa hio, dia menanyakan apakah kami akan berdoa. Teman saya hanya bilang bahwa kami ingin melihat-lihat kuil saja. Setelah melihat lihat suasana kuil dan mengambil beberapa foto, kami bergegas untuk pergi ke tempat lainnya. Wanita tadi menghampiri kami kembali untuk mengajak kami masuk ke dalam ruangan yang berada tepat di bawah patung Buddha tidur, namun kami menolak.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Laem Samila atau Pantai Samila. Di pantai ini terdapat patung putri duyung berwarna emas. Awalnya, pantai ini tidak ada patung putri duyung, hingga akhirnya di tahun 1966, seorang seniman dari Bangkok membuat patung yang terbuat dari perunggu dan dicat warna emas. Banyak wisatawan termasuk kami berdua berfoto di patung ini. Akhirnya, patung putri duyung ini menjadi ikon pantai Samila.

Pantai Samila dengan pasir putih ini sangatlah bersih dengan ombak yang tenang. Selain patung putri duyung, ada patung lain yang terdapat di pantai ini, yakni patung tikus dan kucing. Kedua patung ini menceritakan legenda asal usul daerah Songkhla. Sementara itu, ada patung pria yang sedang membaca buku sambil menyilangkan kaki.

Kami sempat belanja cinderamata di pantai ini. Harga-harga cinderamata termasuk murah untuk ukuran tempat wisata di sini, kami baru mengetahui ketika pada malam harinya kita berbelanja cinderamata di Hat Yai.

Selanjutnya, supir kami menyarankan untuk masuk ke dalam Songkhla Aquarium. Kami sempat melihat suasananya dan kami memutuskan untuk tidak masuk. Kami pikir Sea World di Ancol jauh lebih cantik.

Perjalanan berlanjut tak jauh dari pantai Samila maupun Songkhla Aquarium, kami ingin melihat bukit Tang Kuan. Yakni kuil Relic Buddha yang terdapat di atas bukit. Dengan membayar tiket 60 baht (sekitar Rp18.800,-) per orang pulang-pergi, kami harus menunggu lif atau kereta yang membawa kami ke atas bukit. Bentuk lif ini mirip seperti tram yang berada di Penang Hill, Malaysia—hanya dalam skala lebih kecil.

Selama menunggu, seorang fotografer membidik kami, sambil menyuruh kami untuk tersenyum.

Sekitar 15 menit kemudian, kami masuk ke dalam lif ini, yang berdaya tampung sekitar 20 orang. Untuk yang takut ketinggian, disarankan tidak melihat kaca bagian belakang. Sekitar satu menit kemudian, kami mencapai puncak bukit Khao Tang Kuan. Saat akan keluar dari bangunan lift, lagi-lagi seorang fotografer meminta kami untuk tersenyum. “Klik!”, kami pun difoto lagi.

Untuk mencapai puncak bukit, tidak hanya menggunakan lif, kita bisa mencapai lewat jalan setapak. Namun, dengan cuaca panas seperti ini, saya tidak menyarankan anda melakukannya.

Dari atas bukit, kita dapat melihat kota Songkhla maupun Danau Songkhla, termasuk Pantai Samila. Setelah berfoto sana-sini, kamipun memutuskan untuk turun.

Sesampai di lobi bawah, pengunjung digiring untuk melihat hasil jepretan fotografer mereka. Ternyata, foto kami dicetak di piring kecil dengan peyangga. Kami tidak ambil, karena satu piring di hargai 200 baht (sekitar Rp62.800,-), mahal sekali buat kami.

Saat kami keluar, kami melihat penjual es serut. Mirip es campur atau es teler. Cukup membayar 20 baht (sekitar Rp6.280,-) per mangkok. Lumayan untuk mendinginkan tenggorakan yang kering akibat panasnya cuaca.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju danau Songkhla. Di tengah danau terdapat Pulau Ko Yo. Pulau ini tidak seberapa luas, untuk mencapainya harus melewati jembatan Tinsulanond.

Perjalanan sendiri memakan waktu 30 menit, karena supir sempat salah jalan, sehingga kami harus berputar putar untuk mencari jalan kembali.

Tak lama, kami sudah mencapai jembatan Tinsulanond. Jembatan ini sangat bagus dan kelihatan kokoh. Penduduk Ko Yo sangat mengandalkan jembatan ini untuk mencapai daratan utama. Mereka tidak perlu menggunakan kapal feri lagi seperti dulu.

Saat mencapai pulau Ko Yo, kami melihat di sisi kiri jalan, adanya patung tidur Buddha yang terbuka. Nampak baru selesai dibangun, karena banyak sisa puing di sana sini.

Kami memutuskan untuk kembali kota Hat Yai, karena kami berdua merasa ngantuk dan capek sekali. Di dalam mobil, kami langsung terlelap dengan hembusan AC yang dingin. Keluar dari jembatan Tinsulanond, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Songkhla. Kami tidak bisa membayangkan, seandainya kami menyewa mobil bak terbuka, bisa-bisa kami malah kehujanan dan masuk angin.

Tidak terasa enam jam telah berlalu, dan kami pun sampai di hotel di mana kami akan tinggal. Ya, Hat Yai cukup besar sebagai kota yang bukan ibukota provinsi. Banyak hotel berbintang dan beberapa pusat perbelanjaan.

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Hat Yai ini, meski untuk perjalanan pada hari yang sama maupun yang tinggal menginap semalam seperti kami. Ingin meluangkan waktu di Hat Yai? Tidak ada salahnya mencoba.

  • Disunting oleh SA 28/11/2012

Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Bagi penggemar makanan pedas, pasti akan suka dengan menu ini, pedasnya dijamin akan memanjakan lidah Anda. Ayam Taliwang dibuat dengan bahan dasar ayam kampung berukuran kecil yang umurnya harus masih muda, sekitar tiga sampai empat bulan, karena kondisi umur ayamnya yang masih muda bentuk ayamnya kecil, sehingga bisa dihidangkan utuh satu ekor tanpa dipotong-potong lagi.

Siang itu, matahari mulai naik dan bersinar terik, saya dan ketiga teman saya duduk di dermaga kapal Pulau Gili Trawangan untuk kembali ke Pulau Lombok. “Nanti, sesampainya di Pantai Senggigi kita harus berburu Ayam Taliwang, ya,” ajak saya ke ketiga teman saya. “Oh, tentunya! Suatu keharusan itu,” jawab ketiga teman saya serentak. Sudah hampir satu jam lebih saya menunggu kapal, tapi kapal belum menunjukan tanda-tanda kemunculannya. Karena kelelahan saya menunggu sampai terkantuk-kantuk. Saya merasa lelah karena hari sebelumnya waktu saya habis untuk berpetualang di Tiga Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setalah hampir dua jam menunggu, akhirnya kapal yang saya tunggu-tunggu pun muncul, langsunglah saya menuju ke tepian pantai dan langsung menaiki kapal dengan perlahan sambil membayangkan kelezatan Ayam Taliwang.

Saya bertanya pada supir taksi untuk menujukan tempat restoran Ayam Taliwang yang paling enak. “Mau ke mana, dek?”, tanya sang supir pada kami. “Kita mau ke Pantai Senggigi Pak, tapi sebelum itu kita mau cari restoran Ayam Taliwang yang enak di sekitaran Senggigi, kira-kira di mana ya, Pak?”, tanya saya penasaran. “Oh, Kalau restoran Ayam Taliwang banyak, kok, di sekitar Senggigi, nanti akan saya tunjukan tempat yang paling enak dan nyaman,” sang supir menjelaskan. Taksi terus melaju, sampai akhirnya sampai di Senggigi. Supir taksi langsung mengarahkan taksinya ke arah restoran yang menurut keterangannya tempatnya bersih dan menunya enak. Taksi pun berhenti di depan restoran tersebut, ternyata lokasinya tepat di pinggir Jalan Raya Senggigi.

Saya pun menuruni taksi, dan langsung melangkahkan kaki saya untuk masuk ke dalam, kesan pertama memasuki restoran itu menorehkan kesan yang baik, restorannya lumayan luas dan rapi. Ada beberapa meja dan bangku kayu yang disusun memanjang dan ada pula yang disusun melingkar dengan payung kayu diatasnya. Saya pun disambut dengan pelayan yang ramah yang kemudian langsung menyodorkan buku menu.

“Pak, Menu Ayam Taliwang di sini ada berapa macam ya,” tanya saya sesaat setelah disodorkan buku menu. “Cuma ada satu jenis, dek, Ayam Taliwang bumbu pedas,” jawab sang pelayan singkat. Saya pun langsung memesan Ayam Taliwang empat porsi, untuk saya dan ketiga teman saya. Tidak lupa, selain itu saya juga memesan Plecing Kangkung sebagai menu tambahan.

Plecing Kangkung
Plecing Kangkung.

Setelah dua puluh menit ditunggu pelayan berjalan dari dapur restoran menghampiri kami dengan menu sesuai pesanan saya. Akhirnya Ayam Taliwang terhidang di depan mata saya. Ayam Taliwang utuh satu ekor dan sungguh menggugah selera. Tak pakai pikir panjang, setelah berdoa dalam hati, kami makan Ayam Taliwang itu. Gigitan pertama, sungguh menggugah selera, dagingnya terasa sangat empuk, terasa sekali bumbunya menyerap sampai ke dalam daging. Gigitan kedua, makin menambah selera saya untuk segera menghabiskan santapan yang begitu lezat. Disela menikmati Ayam Taliwang tidak lupa saya icip-icip Plecing Kangkung sebagai menu tambahan. Plecing Kangkung yang begitu lezat, sungguh terasa perpaduan bumbu yang sempurna di mulut, Plecing Kangkung memang pendamping yang pas untuk Ayam Taliwang.

Tiba pada suapan terakhir, rasanya tetap nikmat dan lezat sampai pada suapan terakhir. Rasa kecapnya, rasa cabainya, bumbu rempah-rempahnya, semua terasa menjadi suatu kombinasi citra rasa yang sempurna. Diakhiri dengan menyeruput es teh manis, kemudian saya pun memanggil pelayan untuk meminta bon dan lekas membayar. Setelah itu saya meninggalkan restoran dan lanjut ke Pantai Senggigi yang letaknya tidak jauh dari restoran.

  • Disunting oleh SA 28/11/2012

Goa Pindul, Gunung Kidul

Terkesima saya melihat surga kecil tersembunyi di Desa Beji, kecamatan Karang mojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul namanya. Saya menyusuri goa ini dengan decak kagum yang tiada henti-hentinya. Mereka yang menyukai kegiatan cave tubing atau penyusuran goa dengan menggunakan ban yang mengapungkan tubuh kita, pasti suka dengan Goa Pindul karena kondisinya cocok untuk kegiatan ini.

Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik  keindahan yang memanggil-manggil.
Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik keindahan yang memanggil-manggil.

Cave Tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk ala cave tubing dengan mulut ternganga mendongak keatas melihat keindahan yang sempurna.
Cave tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk dengan mulut ternganga mendongak ke atas melihat keindahan yang sempurna.

Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata 'selamat berpetualang di Goa Pindul'.
Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata “selamat berpetualang di Goa Pindul”.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Saat semua pelancong terpesona dengan keelokan goa, sibuk menyusuri goa dan berenang. Sang pemandu Goa Pindul membantu mengambil gambar dengan kamera, merekam saat saat istimewa di tempat super istimewa.

  • Disunting oleh PW & SA 06/11/2012

Taman Lampion

Taman lampion, bukan taman sembarang taman, melainkan taman yang unik dengan kekhasan lampionnya. Taman lampion, destinasi yang berbeda dan menawan.

Persis dengan namanya, taman lampion, di tempat ini di sana-sini bertebaran lampion menerangi taman dengan sinarnya. Sejauh mata memandang terlihat lampion yang bersinar dan berkelip, ada yang tergelantung diatas, ada yang tertanam ditanah, dan ada pula yang mengapung di kolam. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk yang tak beraturan, bentuk yang menyerupai bangunan-bangunan legendaris dunia, menyerupai tokoh-tokoh kartun, sampai yang menyerupai dunia flora dan fauna.

Lampu bertuliskan Lampion Garden
Lampu bertuliskan Lampion Garden

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya saat mengunjungi taman-taman lampion di Indonesia, negeri indah yang saya banggakan ini. Saya tidak begitu mengetahui di Indonesia tepatnya ada berapa banyak taman lampion, yang saya ketahui, dan tentunya cukup lumayan terkenal namanya yaitu, taman lampion di Batu Night Spectacular (BNS) kota Malang dan taman lampion di Taman Pelangi di kota Yogyakarta. Saya sudah meninggalkan jejak di kedua tempat ini, pesona kedua tempat ini menorehkan keindahan di memori saya.

Seperti namanya, Batu Night Spectacular terletak di Kota Batu Malang, Jawa timur. Satu hal yang menjadi keistimewaan Batu Night Spectacular adalah tempat ini terletak di kota yang mata sejuk dengan suasana yang menenangkan. Di Batu Night Spectacular ini, sambil menikmati keindahan taman lampion pengunjung juga dimanjakan dengan beragam wahana menarik seperti go-kart, sepeda udara, rumah hantu, bumper car, dan masih banyak lagi. Semua pengunjung dapat merasakan serunya menikmati sensasi wahana-wahana tersebut sambil ditemani sorotan sinar lampion.

Atraksi lampion di BNS
Atraksi lampion di BNS

Batu Night Spectacular cocok untuk wisata bersama keluarga, cocok untuk dikunjungi semua kalangan umur, mulai dari anak-anak sampai dewasa. yang datang bersama keluarga silahkan bergembira ria bersama anggota keluarganya, anak-anak kecil dijamin sumringah melihat wahana-wahana yang menarik untuk di coba. Yang sudah dewasa, tempat ini juga pas dijadikan tempat berpacaran, coba bayangkan betapa romantisnya berpacaran ditemani lampu-lampu lampion dan dinginnya udara perbukitan, ibarat judul film nih, otomatis romantis!

Tempat kedua yang pesonanya tidak kalah menarik adalah Taman Pelangi di Yogyakarta. Taman Pelangi Yogyakarta letaknya di monumen Jogja Kembali. Jadi, monumen Jogja Kembali sekarang dikelilingi taman lampion yang terlihat semakin keren. Konsepnya sama dengan taman lampion yang ada di Malang, konsep taman lampion dengan wahan-wahana permainan sebagai komplementer. Hal lain yang tidak kalah seru untuk dinikmati, disini pengunjung disuguhi live music yang lumayan “yahud”. Saat saya berkunjung ke sana, saya disuguhi penampilan band indie yang salah satu anggotanya cukup handal memainkan biola.

Suhu di Taman Pelangi di Yogyakarta ini tidak sedingin taman lampion di Malang karena ia tidak terletak di perbukitan. Tapi, malam itu tetap terasa dingin dengan sentuhan semilir angin malamnya. Ditemani semilir angin saya berjalan mengelilingi Taman Pelangi Yogyakarta, saya keluarkan kamera saya untuk mengabadikan kelipan lampu-lampu lampion, terlihat indah terekam lensa kamera, kelipan lampu-lampu lampion terlihat bak kelipan bintang di langit.

Di Taman Pelangi Yogyakarta terdapat wahana-wahana yang seru, seperti sepeda air, bola air, trampolin, becak mini, dan masih banyak lagi. Saya sempat menikmati wahana sepeda air, saya bermain sepeda air bersama sepupu saya, kita main sepeda air bertiga, saling kejar-kejaran, dan sempat berlomba kebut-kebutan menggunakan sepeda air dari ujung kolam yang satu ke ujung kolam lainnya. Amat seru! Bermain bak anak kecil yang masa kecilnya kurang bahagia.

Bagi saya, taman lampion merupakan destinasi yang unik. Bagi yang bosan dengan destinasi pantai atau gunung, taman lampion bisa dijadikan tujuan destinasi pilihan. Dan bagi yang bosan keluar masuk nongkrong di kafe atau mal, taman lampion dapat dijadikan alternatif yang menarik.

  • Disunting oleh PW & SA 06/11/2012

© 2017 Ransel Kecil