Artikel-artikel dari bulan September 2012

Menengok Keunikan Tempat Ibadah di Semarang

Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.

Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.

Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.

Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong.
Kelenteng Sam Po Kong.

Kala siang itu matahari bersinar cukup terik, saya memasuki gerbang pintu kelenteng, saya sudah disuguhkan keindahan arsitektur pintu gerbang dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Setelah langkah saya sampai di dalam komplek kelenteng, sesuai dugaan saya, ternyata bagian dalamnya memang menawan.

Kelenteng ini merupakan bangunan yang amat bersejarah yang terletak di barat daya Semarang. Dahulu kala kelenteng ini merupakan tempat pendaratan pertama Laksamana China beragama Islam yang bernama Cheng Ho. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat mengunjungi kelenteng tersebut, saat Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau juga mendirikan bangunan untuk tempat beribadah agama Islam dengan arsitektur Tiongkok (saat ini bernama Kelenteng Sam Po Kong). Dalam pembangunan tempat ibadah tersebut terdapat unsur akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Islam. Dalam perkembangannya, karena bangunan tempat ibadah tersebut berarsitektur Tiongkok, orang Indonesia keturunan Tiongkok menganggap bangunan tersebut sebagai kelenteng. Sampai saat ini kelenteng tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat ibadah. Selain itu tempat ini juga kerap dijadikan tempat untuk berziarah sekaligus berwisata sambil menikmati Kota Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk.

Gereja ini terletak di Kota Lama Semarang. Saya singgah di sini sambil mengambil banyak foto di berbagai sudut. Kota lama identik dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa, kalau dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini mirip dengan Kota Tua, yang ada Museum Fatahillah-nya.

Begitu pun dengan gereja blenduk, bangunannya tua dengan arsitektur Eropa. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda ini merupakan Gereja tertua di Jawa Tengah. Dari bagian depan bangunan tua terlihat tulisan “Gereja GPIB Immanuel”, bukan Gereja Blenduk. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak masuk ke dalam gereja tersebut karena di dalam sedang dilangsungkan ibadah, selain itu gereja ini juga bukan merupakan tempat wisata umum seperti halnya dengan Kelenteng Sam Pho Kong. Hanya umat Kristiani yang berniat ingin beribadah saja yang dapat masuk ke bangunan tua ini. Kala itu, saya hanya berfoto-foto memotret keindahan bangunannya.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah.

Sampai di tempat ini, sang surya sudah tenggelam, dan hari mulai berganti malam. Sesampainya di pintu gerbang, saya di sambut dengan penampakan Masjid Agung yang bersinar terang, lagi-lagi saya terpesona, terpatri di tempat saya berpijak sejenak. Saat setelah sadar terbangun dari hipnotis pesona Masjid Agung saya perlahan melangkahkan kaki saya menuju bagian atas masjid. Sesampainya di atas, terbaca oleh saya pada prasasti atau semacam piagam pengesahan yang terbuat dari keramik bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.

Sungguh luar biasa. Malam itu, Masjid Agung terlihat bersinar terang disinari oleh cahaya lampu, terlihat arsitektur Masjid yang begitu mempesona. Terlihat atap kubah dengan struktur tumpang yang dikelilingi lima pilar putih. Menurut saya, masjid ini terlihat sangat elegan, dengan gaya arsitektur modern.

Di depan Masjid ini, dekat dengan pintu masuk, terdapat menara masjid yang menjulang tinggi. Berdasarkan informasi penduduk setempat di atas menara tersebut terdapat restoran kecil yang biasa digunakan untuk tempat makan umum. Setiap pengunjung masjid ini bisa menaiki menara ini baik untuk sekedar melihat pemandangan dari atas atau untuk bersantai ria sambil makan sambil menikmati pemandangan kota Semarang. Satu hal yang saya sesalkan kala itu adalah saya tidak bisa naik ke menara tersebut, karena saya sampai sudah terlalu malam, jadi menara tersebut sudah ditutup.

Itulah ketiga tempat ibadah yang menurut saya amat menarik, terdapat tiga tempat ibadah unik untuk tiga agama berbeda dalam satu kota. Sungguh realita prularisme agama yang dibingkai dalam nuasa keindahan. Semoga keindahan tersebut juga bisa dimaknai sebagai indahnya toleransi beragama.

  • Disunting oleh SA 16/09/2012

Berpetualang ke Negeri Ceylon

Mungkin tidak banyak orang yang ingin berwisata ke negara di Asia Selatan, apalagi yang namanya jarang terdengar di telinga seperti Sri Lanka. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Memang awalnya karena tergiur promo murah dari maskapai penerbangan hemat biaya rute Kuala Lumpur-Kolombo untuk periode keberangkatan enam bulan dari masa pembelian penerbangan tersebut. Tetapi perjalanan saya ke Sri Lanka juga didorong rasa penasaran akan negeri-negeri yang jarang dari pemberitaan di tanah air. Akhirnya saya pun berhasil membujuk dua orang teman untuk nekat membeli tiket penerbangan tersebut!

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya tersadar bahwa untuk peraturan terbaru, pengunjung yang ingin memasuki Sri Lanka (kecuali beberapa negara tertentu) membutuhkan visa kunjungan. Padahal sebelumnya warga negara Indonesia dapat memasuki Sri Lanka tanpa menggunakan visa kunjungan. Untungnya, untuk mengajukan visa Sri Lanka, dapat dilakukan online dengan biaya US$20. Namun, permasalahan lain muncul: saya masih buta tentang tempat yang akan dikunjungi di Sri Lanka. Tidak kehilangan akal, saya pun buru-buru di group Couchsurfing (salah satu situs untuk para backpack dunia) tentang rencana kedatangan saya yang kemudian ditanggapin dengan baik oleh para anggota Couchsurfer Sri Lanka. Dari sini muncul bayangan saya bahwa masyarakat Sri Lanka sangat ramah terhadap wisatawan asing.

Anak-anak Srilanka.
Anak-anak Sri Lanka.

Waktu berlalu cepat dan tanpa terasa tibalah hari keberangkatan. Setelah transit beberapa saat di Kuala Lumpur, akhirnya saya dan rombongan mendarat juga di sebuah pulau di ujung selatan India yang tidak lain adalah negara Sri Lanka. Begitu keluar dari Colombo International Airport, kami langsung bergegas menuju kediaman salah satu kenalan saya dari situs Couchsurfing (yang baru berkenalan dengan saya via situs tersebut dua hari yang lalu). Untungnya, karena Sri Lanka adalah negara bekas jajahan Inggris, maka seperti umumnya masyarakat negara anggota persemakmuran, fasih berbahasa Inggris. Hal ini memudahkan kami berkomunikasi dengan masyarakat lokal dalam mencari arah.

Begitu tiba di rumah teman baru saya tersebut, kami disambut dengan baik, terutama oleh pihak keluarganya. Dengan rasa penasaran, mereka bertanya banyak hal tentang Indonesia sambil sesekali membandingkan dengan kondisi di Sri Lanka. Setelahnya kami disuguhkan banyak makanan enak yang dimasak sendiri oleh ibu teman saya itu! Belakangan saya baru mengetahui bahwa memasak makanan yang lezat adalah cara bagi masyarakat Sri Lanka untuk menerima tamunya.

Sebelum menjelajahi beberapa objek menarik di Sri Lanka, kami memutuskan untuk memulai perjalanan dengan menjelajahi ibu kota Sri Lanka yakni Kolombo. Ibu kota ini menarik karena berada di pesisir pantai dengan sederet bangunan tua bekas peninggalan Inggirs. Namun kota ini tidak segemerlap ibu kota negara berkembang pada umumnya. Bahkan menurut saya masih jauh tertinggal dari Jakarta. Jarang saya melihat bangunan bertingkat, kecuali beberapa apartemen dan resident yang pada umumnya dihuni oleh para ekspatriat. Puas menikmati keindahkan kota, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja di sekitar Kolombo. Sudah bukan rahasia lagi kalau Sri Lanka adalah negara penghasil teh terbaik di dunia. Oleh karenanya, berbelanja produk teh adalah hal yang wajib dilakukan bila berada di Sri Lanka. Ada berbagai jenis teh yang ditawarkan, mulai dari teh aneka rasa, teh berdasarkan wilayah penanaman, hingga teh yang dikelompokkan berdasarkan ketinggian penanaman.

Setelah beberapa jam berkeliling kota Kolombo, saya tersadar satu hal: perempuan di Sri Lanka menjunjung tinggi nilai budaya mereka. Kebanyakan perempuan Sri Lanka berseliweran di jalanan sambil mengenakan busana tradisional Sari. Sangat jarang saya mendapati perempuan Sri Lanka dalam kesehariannya hanya mengenakan kaus dan jins. Hal unik lainnya yang saya dapati adalah penggunaan kata “hotel” menggantikan kata “restoran”. Sebagian besar rumah makan kecil di Sri Lanka memasang pamflet besar dengan kata “hotel”. Hal ini tentu membuat wisatawan seperti saya merasa bingung. Dari luar saya bisa saja mengira bahwa bangunan tersebut adalah penginapan kecil. Namun ternyata setelah masuk ke dalam, tempat tersebut hanya menjajakan makanan berat yang menu utamanya adalah kari and nasi. Masyarakat Sri Lanka pada awalnya tidak bisa membedakan antara restoran dan hotel, jadi hingga sekarang penggunaan terminologi yang salah tersebut menjadi umum. Duh…

Puas berkeliling Kolombo, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kandy. Walaupun perjalanan menggunakan kereta ke Kandy memakan waktu sekitar 4 jam, pengalamannya tidak membosankan karena sepanjang perjalanan kami disuguhkan panorama pengunungan yang indah. Kandy sendiri adalah kota terbesar kedua di Sri Lanka. Kota yang sejuk ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Kandy adalah tempat transit yang paling cocok bagi wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah wisata lain, karena disekitar kota ini banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti misalnya Temple of Sacred Tooth dan danau buatan Kandy Lake yang lokasinya saling bersebelahan.

Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.
Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.

Berpose di Kandy Lake.
Berpose di Kandy Lake.

Sebagai negara tujuan utama peribadahan bagi penganut Budha, berwisata ke kuil Budha merupakan agenda wajib bila berkunjung ke Sri Lanka. Saya sendiri berkesempatan mendatangi salah satu kuil paling terkenal di Sri Lanka yakni Temple of Sacred Tooth Relic. Disebut demikian, karena konon relik gigi Budha disimpan didalam kuil ini. Sejarah menceritakan bahwa telah banyak perang terjadi akibat perebutan Tooth Relic. Hal ini karena Tooth Relic tersebut dipercaya dapat memberikan kekuasan di pemerintahan bagi siapapun yang memegang atau mendapatkan relik tersebut.

Temple of Tooth Relic.
Temple of Tooth Relic.

Tempat lain yang wajib dikunjungi di Sri Lanka adalah Adam’s Peak, bukit setinggi 2243 meter yang dianggap sakral untuk penduduk Sri Lanka. Uniknya lagi, pendakian ke puncak Adam’s Peak adalah ziarah bagi empat agama utama di dunia yakni Budha, Hindu, Islam dan Kristen. Umat Buddha percaya bahwa jejak yang berada di puncak bukit Adam adalah jejak Buddha, umat Hindu menganggapnya sebagai tanda dari Shiva, sementara umat Muslim percaya bahwa tanda itu berasal Adam yang menangis setelah diusir Eden. Lain lagi dengan umat Kristiani yang meyakini bahwa lekukan bukit di Adam’s Peak terjadi ketika St. Thomas berdoa di puncak bukit tersebut.

Bayang-bayang Adam's Peak.
Bayang-bayang Adam’s Peak.

Berpose di Adam's Peak bersama pejalan lain.
Berpose di Adam’s Peak bersama pejalan lain.

Pendakian ke puncak Adam’s Peak yang memakan waktu tiga hingga empat jam tidak akan sia-sia, sebab pemandangan yang didapatkan ketika berada dipuncak gunung tersebut sangat memukau mata. Selain itu, bila pendaki dapat tiba di puncak bukit tepat sewaktu matahari terbit, maka ia bisa melihat fenomena alam “Shadow of Adam’s Peak“, yaitu munculnya siluet bayangan gunung yang terlihat sangat mistis.

Setelah puas menjelajahi daerah perbukitan di Sri Lanka seperti Kandy dan Adam’s Peak, kami pun melanjutkan perjalanan ke ujung Selatan Sri Lanka yakni menuju pantai Unuwatuna. Pantai ini dikenal diseluruh dunia akan pasirnya putih dan warna toska lautnya. Meskipun pantai Unawatuna sempat tersapu gelombang Tsunami di tahun 2005, namun berangsur-angsur pantai ini kembali kedatangan turis.

Pantai Unawatuna.
Pantai Unawatuna.

Sebelum kembali ke tanah air, kami menyempatkan diri untuk singgah di kota Galle. Kota yang berada di ujung paling selatan Sri Lanka ini telah berdiri sejak abad ke-16 dan kemudian mengalami perkembangan pesat selama periode kolonial Portugis, Belanda dan Inggris. Objek yang paling menarik di kota ini adalah situs warisan dunia bernama Galle Fort. Situs ini berbentuk kota benteng yang dianggap kota benteng terbaik yang pernah dibangun oleh masyarakat Eropa di Asia Selatan. Berkeliling dengan menggunakan sepada di Old Town Galle membuat kita serasa menjelajah waktu ke masa lampau. Sewaktu hendak memesan menu makanan di salah satu restoran di sekitar Old Town Gale, saya tertegun mendapatkan menu makanan yang terdengar familiar: gado-gado dan nasi goreng. Setelah ditelusuri, ternyata makanan khas Indonesia tersebut diperkenalkan oleh Belanda ke masyarakat Sri Lanka pada masa kolonial.

Secara keseluruhan, berwisata ke Sri Lanka memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Keunikan budaya serta panorama alam yang indah dan masih alami menjadi kekhasan sendiri yang ditawarkan bagi para wisatawan. Selain itu keramahan masyarakat setempat membuat wisatawan semakin betah berada di negeri yang dulu sempat dinamakan Ceylon ini.


Ujung Genteng, “Tanah Lot” di Pulau Jawa

Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!

Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.

Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.

Setelah bernegosiasi ria dengan beberapa supir van, akhirnya saya dan teman-teman saya mendapatkan harga termurah, langsunglah kami semua memasukkan daypack ke dalam van.

Perjalanan dilanjutkan ke Surade, trek menuju surade lumayan panjang, masih sekitar tiga jam lagi. Saya merasakan petualangan yang seru di destinasi menuju Surade, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak, perjalanan terasa seperti offroad. Mau tidur pun sulit, van bergoyang bak penari dangdut handal. Memandang keluar hanya terlihat bayang-bayang semak dan pepohonan, sesekali terlihat cahaya saat melewati depan rumah penduduk.

Tak terasa tiga jam berlalu, van mulai berhenti perlahan, pertanda sudah sampai kawasan Ujung Genteng. Saat pintu van terbuka, saya langsung disapa oleh angin pantai, semilir membelai rambut saya. Ombak pun tidak mau kalah menyambut saya, dalam kegelapan terdengar suara ombak berdebur, pantai memang tidak terlihat jelas, tapi saya bisa merasakan sensasi keindahannya.

Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, bagi umat muslim seharusnya sedang fokus sholat tahujud, tapi saya dan teman-teman saya baru saja sampai serta kebingunan untuk mencari homestay untuk bermalam. Inilah hal-hal tak terduga yang terkadang saya temukan dalam perjalanan. Namun, Hal-hal yang tak terduga itulah yang biasanya paling berkesan.

Setelah keluar masuk homestay dan ternyata penuh semua, kami semua tidak kehabisan akal. Kami bertanya pada penduduk sekitar yang masih bercengkerama di warung pinggir pantai mengenai alternatif penginapan, setelah diskusi panjang, akhirnya kami semua diarahkan ke rumah penduduk yang letaknya agak jauh dari pantai.

Saya terus berjalan menyusuri jalan berbatu, sampai akhirnya tiba di rumah penduduk yang pemiliknya bersedia agar rumahnya disewakan sebagai tempat penginapan. Sungguh tidak terduga, saya ternyata bermalam di rumah penduduk. Tarifnya jauh lebih murah dari homestay.

Rumah tersebut ternyata lumayan besar, tidak kalah nyaman dengan homestay. Tanpa pikir panjang karena semua sudah kelelahan, kami langsung terbaring mengambil posisi tidur paling nyaman. Semua bergegas tidur agar energi pulih tuk bekal petualangan esok ke pantai, air terjun, dan goa.

Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur, saya sudah terbangun dari lelap kemudian langsung bersiap-siap tuk memulai petualangan sesungguhnya.

Dengan angkot carteran, saya berpetualang di kawasan Ujung Genteng, destinasi nomor wahid yang saya singgahi adalah Air Terjun Cikaso. Air terjun ini memiliki pesona luar biasa, disini saya disuguhkan empat air terjun sekaligus, keempatnya berjejer dalam posisi berdampingan. Terpana saya memandangi air terjun sambil merasakan kesejukan cipratan buih air terjun, sebuah pesona yang unik. Terlihat lumut-lumut menyelimuti tebing-tebing air tenjun, terlihat hijau terang dan amat menyegarkan mata. Air terjunnya sangat deras, membentuk sebuah kubangan air luas menyerupai danau. Airnya jernih dan sejuk, bisa digunakan untuk berenang.

Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh mendekati letak posisi air terjun, karena semakin menjauh semakin dalam, tidak disarankan untuk orang yang tidak mahir berenang.

Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.

Saat di sana, saya tidak berenang sungguhan, saya hanya di pinggiran main air sambil membasahkan kaki saja. Saat teman-teman saya sibuk berenang, saya malah sibuk mengabadikan keindahan Cikaso dengan kamera saya, saya abadikan dari berbagai sudut, semuanya tampak sempurna, indah terekam dalam lensa saya.

Puas dengan pesona Air Terjun Cikaso, saya lanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu Goa Walet. Saya caving di sini. Letak goa Walet tidak terlalu jauh dari Air Terjun Cikaso, mobilisasi dengan angkot carteran hanya sekitar lima belas menit. Akses menuju goa ini hanya berupa jalan setapak, jadi angkot tidak bisa mendekat. Selanjutnya modal kaki, jalan menyusuri jalan setapak, melewati perkampungan dan sawah-sawah, sensasi trekking-nya amat terasa.

Terus melangkah menyusuri hamparan padi, sampai akhirnya tiba di bibir goa. Setelah izin dengan penduduk setempat, mulailah saya memasuki goa, akses pertama yang harus dilalui adalah jalan menurun yang terjal. Bahu-membahu kami memasuki goa tersebut. Goa amat gelap, bermodalkan sinar lampu petromaks, saya berjalan membuntuti seorang penduduk setempat yang menjadi pemandu wisata dadakan. Walaupun terasa pengap, sedikit udara, kegerahan, dan pakaian terbasahi dengan keringat yang mengucur, saya tetap menikmati sensasi caving di goa Walet, sangat direkomendasikan bagi para pelancong yang singgah di kawasang Ujung Genteng.

Pantai Pangumbahan.
Pantai Pangumbahan.

Puas dengan bentang alam air terjun dan goa, saya melanjutkan destinasi utama, yaitu pantai. Di kawasan Ujung Genteng, saya singgah ke beberapa pantai. Pertama, Pantai Ujung Genteng itu sendiri, lalu Pantai Pangumbahan dan terakhir Pantai Amanda Ratu. Ketiga pantai tersebut memiliki keunikan yang berbeda, masing-masing memiliki daya magnet atau daya tarik yang berbeda. Pantai Ujung Genteng memiliki keunikan dengan karang-karangnya. Terdapat banyak karang di sekitar bibir pantainya, bila air surut akan terlihat lebih jelas hamparan karang yang luas, jadi para pelancong bisa menikmati keindahan karang-karang ini sambil berjalan menjauh dari bibir pantai ke arah laut.

Berbeda lagi dengan Pantai Pangumbahan, di sini saya disuguhkan dengan keunikan penyu dan tukik. Pantai ini terkenal dengan habitat penyu menetaskan telur-telurnya. Penyu-penyu menjadikan pantai ini sebagai tempat yang paling nyaman untuk bertelur, bila para pelancong beruntung, pada tengah malam bisa melihat secara langsung prosesi penyu bertelur. Di dekat pintu masuk pantai ini terdapat penangkaran penyu, telur-telur penyu dieramkan dengan sistem penangkaran, tukik yang menetas dari telur tersebut akan dilepaskan kembali ke lautan lepas. Satu keunikan lagi dari pantai ini yaitu para pelancong dapat ikut bersama melepaskan tukik ke laut lepas, biasanya disore hari, sayang sekali saat saya berkunjung ke sana saya agak telat, sehingga prosesi pelepasan tukik ke laut lepas terlewatkan. Tapi tak mengapa, karena kekecewaan itu terbayarkan dengan keindahan pantainya. Pantainya amat indah, pasir putihnya terhampar luas, melangkahkan kaki di pantai ini akan merasakan kelembutan tiap butir pasirnya. Sama seperti pantai-pantai lain yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombak di pantai ini amat besar, mengalir dengan derasnya menuju bibir pantai. Jadi, jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari bibir pantai.

Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.

Pantai lain yang tidak kalah elok adalah Pantai Amanda Ratu. Pantai ini sudah mulai dikembangkan oleh investor pariwisata setempat, sehingga fasilitas di kawasan pantai ini sudah cukup eksklusif. Terdapat penginapan mewah di sekitar pantai ini, penginapan yang langsung terletak di pinggir pantai. Untuk para pelancong tipe “menggembel” sebaiknya tidak menginap di sini, karena dijamin harganya agak menguras kantong. Lebih baik mencari homestay di sekitar Pantai Ujung genteng yang harganya bersahabat dengan kantong. Tapi, bagi pelancong khas “koper” yang menginginkan fasilitas yang agak mewah, Amanda Ratu sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat menginap, karena fasilitas di Amanda Ratu sudah lumayan lengkap, termasuk fasilitas kolam renang di dalamnya.

Saya menyebut Pantai Amanda ratu dengan Tanah Lot versi Ujung Genteng. Pantai Amanda Ratu selintas memang menyerupai Pantai Tanah Lot yang terkenal di Pulau Dewata sana. Kemiripan itu terletak pada pulau kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.


Kampung Muslim di Chau Doc

Pertama kali saya mendengar adanya kampung muslim di Vietnam, saya sempat mengernyitkan dahi. Hingga pada akhirnya, kesempatan itu datang untuk melihatnya pertama kali, ketika saya berkunjung ke Vietnam tahun lalu.

Ketika itu saya ingin pergi ke Kamboja dari Ho Chi Minh City. Resepsionis hotel tempat saya tinggal di Ho Chi Minh City menyarankan saya untuk pergi ke Kamboja melalui Sungai Mekong, dan perjalanan tersebut membutuhkan menginap satu malam di Chau Doc, tempat adanya kampung muslim. Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan dan ambil paket tersebut. Harganya 700.000 dong Vietnam atau sekitar Rp350.000.

Esok pagi, sekitar pukul 07:30 saya dan teman saya dijemput bis yang akan membawa saya ke Kamboja melalui Sungai Mekong.

Perjalanannya cukup lama dan melelahkan, karena baru sekitar pukul tujuh malam, bis yang kita tumpangi sampai di hotel di daerah Chau Doc.

Setelah masuk ke hotel dan mandi, kami berencana mencari makan malam di luar. Pegawai hotel mengatakan mereka tidak menyediakan makanan halal.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami tidak menemukan rumah makan yang menyediakan makanan halal. Hanya ada penjual buah dan jajanan pasar. Untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan, kami membeli buah apel dan pir.

Saat kami akan kembali ke hotel, kami berjumpa anak-anak muda dengan wajah Melayu dan berpakaian muslim. Kami ucapkan salam dan berbicara dalam bahasa Melayu, namun mereka tidak mengerti. Syukur, salah satu dari mereka mampu berbahasa Inggris meski terbata-bata. Dia menyarankan untuk menyeberang ke delta di seberang sungai, karena ada kampung muslim dan rumah makan halal.

Dengan membayar 1.500 dong Vietnam, kami menaiki feri yang akan menyeberang ke delta seberang. Selama kami menunggu, ada satu perempuan berjilbab dengan anaknya. Saya berusaha untuk berbahasa Melayu yang sederhana, namun dia hanya paham kalau saya lapar dan ingin makanan halal. Ada hal lucu di atas feri, ada tiga waria yang menggoda saya dan teman saya. Dan perempuan muslim ini sangat marah dan berbicara dalam bahasa Vietnam sambil mengibas tangannya untuk mengusir ketiga waria tersebut.

Setelah kami sampai di delta seberang, ternyata ada acara pernikahan. Peempuan ini menyarankan kami untuk ikut makan malam bersama mereka. Tentu saja kami menolak dengan halus. Mengingat kami mengenakan kaos dan celana pendek selutut, tidak sopan sekiranya kami ikut hadir dan makan malam. Salah seorang remaja pria menanyakan kami dengan kata “lapar?” dan “makan?”, lalu dia mengajak kami ke salah satu rumah tetua di situ.

Kebetulan sekali rumah tersebut sedang ramai dikunjungi ibu-ibu. Tak berapa lama, keluarlah seorang ibu tua yang dipanggil “Ibu Haji”. Remaja ini mengutarakan maksud kami dengan kata lapar dan makan. Ternyata, Ibu Haji ini mampu berbahasa Melayu cukup fasih.

Ibu Haji menawarkan cucu dan menantunya untuk mengantarkan kami ke rumah makan Muslim di bagian lain delta di Chau Doc, karena lokasi rumah makan tersebut lumayan jauh dari rumah Ibu Haji.

Selama menunggu cucu dan menantunya berganti pakaian, kami sempat berbincang-bincang mengenai kaum muslim di Chau Doc. Dia berkata bahwa kaum muslim di sini merupakan keturunan dari pendatang muslim dari Malaysia, Bugis maupun Jawa, sejak abad ke-17. Banyak keturunannya yang sebenarnya sudah tidak bisa berbahasa Melayu, Bugis maupun Jawa. Beliau pernah sekolah di Malaysia di masa mudanya, maka beliau masih bisa berbahasa Melayu.

Dua cucu beliau sekarang belajar agama Islam di Malaysia. Sekolah madrasah yang ada di Chau Doc hanya setingkat SMA. Untuk belajar agama Islam lebih tinggi, harus ke Malaysia. Malaysia lebih dekat juga dengan asal-usul mereka di masa lalu. Sayangnya tak satupun yang bersekolah di Indonesia.

Mesjid di Chau Dhoc.

Kaum muslim di Chau Doc, banyak yang meninggal saat perang Vietnam dulu. Saat itu banyak yang melarikan diri ke Thailand dan Malaysia. Setelah perang mereda, sebagian dari mereka kembali daerah mereka di Chau Doc, sebagian lagi menetap di Thailand dan Malaysia. Beliau teringat, masa perang dulu merupakan masa yang sulit. Mereka harus melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri. Percakapan kami terhenti, setelah cucu dan menantu beliau telah siap mengantarkan kami.

Dengan menaiki dua motor, kami diajak menuju delta lain yang lumayan jauh dengan melewati jembatan. Sekitar lima menit, kami sampai di rumah makan terbuka yang memiliki taman dan wifi gratis (canggih juga!). Kami memesan pho, mi rebus daging sapi khas Vietnam. Selama di Ho Chi Minh City, kami belum menemukan pho halal.

Selama menunggu pesanan kami datang, Abdul Rojak, cucu Ibu Haji dan menantunya, bercakap-cakap bersama kami. Sayangnya, Abdul Rojak tidak terlalu mengerti bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Banyak pengunjung yang penasaran tentang kami. Mereka mendekati kami dan menanyakan beberapa hal dalam “bahasa tarzan” atau bahasa isyarat.

Mereka sangat gembira ketika tahu bahwa kami dari Indonesia, lalu menanyakan tujuan kami ke Vietnam. Mereka sungguh penasaran dengan pakaian kami berdua. Pengunjung di rumah makan itu yang perempuan memakai jilbab dan yang pria mengenakan sarung atau celana panjang dan kopiah warna putih. Kami hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos.

Untungnya, pesanan kami segera datang, dengan membayar 40.000 dong Vietnam, kami membawa dua bungkus pho daging sapi. Kami diantar hingga ke tempat penyeberangan feri untuk kembali di hotel.

Esok paginya, kami berkumpul di lobi hotel untuk menunggu kapal kayu yang akan membawa kami keliling Chau Doc untuk melihat keramba ikan gurame dan perkampungan muslim. Ada hal yang menarik. Pemandu wisata menjelaskan, dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih, yang memiliki keramba ikan gurame adalah kaum miskin. Itu alasan mereka hidup di atas sungai bukan di daratan, karena harga tanah mahal.

Saat akan memasuki kampung muslim, dijelaskan bahwa pelajar di sekolah muslim mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan baik. Kami berdua tertawa, karena kami tahu bahwa kemampuan pelajar muslim di Chau Doc dalam berbahasa Inggris sangat minim.

Kami mengelilingi delta yang kami sempat kunjungi malam sebelumnya. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang muslim yang sempat kami temui. Kami pun melewati rumah makan yang sempat kami kunjungi. Kami pun harus meninggalkan kampung muslim di Chau Doc untuk menuju perbatasan Kamboja melalu Sungai Mekong.


Pulau Ubin, Destinasi Berbeda di Singapura

Sering kali wisatawan asal Indonesia apabila berkunjung ke Singapura, tidak akan melewatkan wisata ke Patung Merlion, Esplanade, Universal Studio, Sentosa Island, Marina Bay atau belanja di Orchard Road. Sebetulnya, banyak sekali destinasi yang cukup menarik di Singapura. Contohnya Pulau Ubin.

Pulau Ubin merupakan salah satu pulau yang ada di Singapura. Terletak di selat Johor sebelah timur dari pelabuhan udara Changi.

Asal-usulnya, menurut legenda Melayu, adalah dahulu kala terdapat tiga binatang yakni katak, babi dan gajah. Mereka saling menantang untuk mencapai pantai di Johor (Malaysia). Namun, ketiga binatang tersebut gagal mencapai pantai Johor. Babi dan gajah menyatu menjadi Pulau Ubin dan katak menjadi Pulau Sekudu.

Ketika zaman kolonialisme Inggris, ditemukan batu granit di pulau Ubin. Seketika Pulau Ubin menjadi pertambangan batu granit. Batu granit ini dijadikan bahan dasar pembuatan lantai/ubin bagi bangunan di Singapura termasuk Johor.

Suasana Sederhana di Pulau Ubin
Suasana sederhana di Pulau Ubin.

Kini, sejak sekitar tahun 1970-an, pertambangan batu granit perlahan-lahan mulai ditutup. Tahun 1999 pertambangan di Pulau Ubin resmi ditutup. Banyak penambang batu granit meninggalkan pulau ini menuju Pulau Singapura. Sekarang Pulau Ubin menjadi sepi, tetapi menjadi destinasi yang baik untuk mengeksplorasi bagian lain dari Singapura yang selama ini kita kenal. Kelebihan lain dengan ditutupnya pertambangan ini adalah banyak burung maupun hewan lain yang kembali ke pulau ini. Vegetasinya pun juga terjaga.

Banyak penduduk Singapura mengunjungi pulau ini sekedar untuk melepaskan kepenatan ataupun untuk berolahraga sepeda.

Ada beberapa cara untuk mencapai pulau Ubin ini. Bisa menggunakan taksi, tapi akan mahal harganya. Atau bisa juga dengan menggunakan MRT, turun di stasiun Tanah Merah dan lanjut dengan menggunakan bis SBS Transit No. 2 menuju Changi Village Terminal. Turun di Changi Village Terminal, lalu langsung menuju Changi Point Ferry Terminal. Arah petunjuknya sangat mudah. Langsung turun tangga menuju ke dermaga. Ada dua arah yang satu menuju ke perahu pulau Ubin atau ke pulau Pengerang. Khusus ke pulau Pengerang, harus membawa paspor, karena pulau ini termasuk wilayah Malaysia.

Dek di Pantai Pulau Ubin
Dek di Pantai Pulau Ubin.

Perahu (disebut juga bumboat) yang menuju ke pulau Ubin akan menunggu sampai penuh yakni 12 penumpang. Biayanya hanya S$2.50 per orang. Bila tidak sabar menunggu, bisa membayar Sing S$30 untuk langsung jalan. Uniknya, pembayaran ditarik saat di perahu, jadi tidak perlu mengantri membeli tiket.

Perjalanan sendiri akan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Begitu sampai dermaga Pulau Ubin, kita akan disambut dengan air yang bening. Tidak berasa di Singapura, meski di kejauhan kelihatan pesawat yang akan mendarat maupun yang terbang, plus gedung-gedung apartemen.

Di dermaga Pulau Ubin banyak sepeda ataupun sepeda motor di sepanjang jalan menuju pulau. Kendaraan-kendaraan ini milik penghuni Pulau Ubin yang mungkin sedang sekolah di pulau utama di Singapura atau ada keperluan. Pulau Ubin tidak memiliki sekolah ataupun toko besar yang menjual keperluan sehari-hari.

Kapal Penyeberangan ke Pulau Ubin
Kapal penyeberangan ke Pulau Ubin.

Tidak jauh dari dermaga kita akan bertemu kantor polisi Pulau Ubin, pusat informasi turis, “ojek” mobil van yang bisa disewa buat keliling pulau plus tempat sewa sepeda. Sepeda disewa dengan harga S$2–S$20. Kondisi sepeda harus diperiksa dan dicoba sebentar. Jangan sampai menyesal karena rusak atau tidak nyaman, karena pulau Ubin lumayan luas dan ada beberapa jalan yang masih tanah dan becek. Tidak disangka, sepeda gunung yang saya sewa seharga S$10 ternyata bermerek Polygon yang notabene produksi Indonesia. Bangga dengan buatan negara sendiri!

Ternyata, banyak juga orang lokal yang mengunjungi pulau Ubin, baik dari anak-anak sekolah maupun orang umum. Yang memilih berjalan kaki untuk mengelilingi pulau, lumayan juga, mungkin sekalian buat jalan sehat.
Karena ingin menjelajah Pulau Ubin sendirian, aku tidak melihat peta yang terpampang di pinggir jalan, hanya ingin mengikuti kata hati dan alur jalan yang ada di Pulau Ubin. Banyak hal yang bisa dilihat di pulau ini, seperti quarry atau ceruk bekas tempat pertambangan granit, kuburan muslim, kuil Fo Shan Ting Da Bao Gong, maupun Chek Jawa.

Quarry yang ditinggalkan
Quarry yang ditinggalkan.

Banyak tanda peringatan di pulau ini untuk kenyamanan maupun keamanan pengunjung, seperti peringatan tertimpa buah yang jatuh, harus menuntun sepeda, tidak boleh berenang di quarry ataupun jalanan yang licin. Keselamatan menjadi yang pertama.

Pulau ini sekarang memiliki hotel yang lokasinya dekat kantor polisi tadi. Untuk yang mau berkemah, harus membawa tenda sendiri dan melaporkan diri, di mana akan berkemah, agar kalau terjadi sesuatu akan diketahui rimbanya.

Ada juga daerah yang memang dilarang untuk dimasuki, kebetulan di bagian sisi timur pulau, ada National Police Cadet Corps (NPCC), yang merupakan sekolah untuk menjadi polisi. Kalau untuk sekedar melewati sah-sah saja, asal jangan memasuki.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah adanya kuburan muslim. Ada dua letak kuburannya, namun kuburan lebih kelihatan seperti hutan, karena kuburannya tidak banyak dan juga tanda nisannya mirip nisan yang ada di kuburan kuno di Pulau Jawa atau kuburan di Jl. Kubor di dekat Kampong Arab (dekat Bugis) di pulau utama Singapura.

Sewaktu memasuki daerah Chek Jawa, di pos penjagaan, tidak ada orang yang menjaga. Ketika itu saya ingin sekali naik ke menara ataupun jalan di dermaga yang ada di Chek Jawa Wetland. Kita tidak diperbolehkan memasuki Chek Jawa Wetland tanpa adanya petugas yang menemani. Karena lama menunggu, saya putuskan untuk bersepeda lagi menuju bukit yang ada di pulau ini.

Ada sekitar lima quarry yang ada di pulau ini, seperti Ketam Quarry atau Ubin Quarry. Semuanya diberi pagar pelindung, supaya pengunjung tidak langsung berenang. Tidak ada penjaga yang mengawasi!

Bagi yang suka bersepeda gunung, jogging ataupun berolahraga yang lain, pulau ini menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan udara yang sangat segar, tentunya tempat ini sangat cocok sebagai tempat beraktivitas, sambil melihat “desa” asli Singapura. Sepi dan tenang. Rumah penduduk tidak banyak dan jarang terlihat orang berlalu-lalang.

Sayang sekali, waktu saya berkunjung, belum waktunya buah durian berbuah. Tempat ini terkenal dengan buah duriannya.

Tidak terasa, sudah lebih dari tiga jam saya bersepeda mengelilingi pulau ini. Waktunya untuk meninggalkan Pulau Ubin. Saya ,enunggu isi penumpang perahu sampai 12 orang untuk kembali ke Changi Point Ferry Terminal.
Tidak ada salahnya untuk mengunjungi pulau Ubin sebagai liburan alternatif di Singapura, mencari sisi lain dari Singapura untuk mendapatkan keaslian kehidupan di Pulau Ubin.


Menjemput Senja di Masjid Raya

Waktu sudah menunjuk lima belas menit lepas dari pukul lima sore saat saya langkahkan kaki meninggalkan hotel di Peunayong, Banda Aceh. Tujuan saya kali ini: merasakan senja menghujam Banda Aceh di kompleks Masjid Raya Baiturrahman.

Matahari memang sudah berada di ufuk barat; tapi senja belum lahir. Panas sore masih cukup menyengat dan membuat keringat mengucur perlahan. Aku memilih berjalan kaki menyusuri trotoar, melewati simpang lima kota, dan menyeberang jembatan yang melintang di atas Krueng Aceh.

Tak jauh selepas jembatan, menara tinggi Masjid Raya sudah menjulang; menjadi penanda arah tujuan saya yang sudah tepat. Beberapa sisi menara tampak rusak; mungkin sisa musibah tsunami yang belum diperbaiki.

Becak; lebih serupa becak motor khas medan –motor dua tak dengan kereta tempel- lalu lalang mengantarkan penumpang. Di sisi utara Masjid Raya, labi-labi jurusan Lhoknga dan Darussalam tampak menunggu terisi penumpang.

Labi-labi, angkutan kota versi Banda Aceh adalah mobil bak terbuka yang bagian belakangnya telah dimodifikasi dengan menambahkan atap; dan jendela tentu saja. Dua buah bangku panjang melintang sejajar di kedua sisinya.

Matahari belum juga surut; sementara jam tangan membentuk garis lurus memanjang. Tepat pukul delapan belas.

Banda Aceh memang masih termasuk dalam daerah waktu Indonesia barat; namun waktunya tidak serta merta sama dengan Jakarta. Jadilah aku beruntung menikmati indahnya sore bersama ratusan warga ibukota Nanggroe di halaman Masjid Raya.

Tak jauh dari menara di muka masjid, sebuah kolam ikan dipadati anak-anak yang riang melihat ikan-ikan berebut pangan. Digantung dalam plastik panjang oleh orang tua mereka, puluhan ikan berebut menggigit, membuat air kolam riuh beriak.

Di bawah pohon disamping menara, remaja putri duduk melingkar; mendengarkan guru ngajinya. Anak-anak yang lebih kecil, tampak menyimak ustadnya melafalkan ayat-ayat suci di sisi selatan masjid. Mereka duduk manis di atas rumput, dinaungi pohon-pohon menjulang yang rindang.

Kuputari masjid, berjalan melalui sisi utara, melewati bagian ‘belakang’ masjid dan kembali ke plasa depannya lewat sisi selatan. Detail-detail di dindingnya memukau. Himbauan berpakaian muslim tercetak besar pada papan besi. Sayangnya aku hanya berkaus oblong dan sandal jepit.

Puas memandangnya dari luar; kuambil wudhu dan masuk ke dalam. Selagi menunggu adzan maghrib, mataku menelanjangi interiornya. Lampu-lampu gantung, ornamen-ornamen, hingga karpet merah yang terbentang; syahdu terasa.

Jamaah mulai berdatangan; menyusun baris-baris shalat. Kumandang adzan menandai kelahiran senja, pukul tujuh malam waktu Banda Aceh. Dalam hati aku berdoa semoga dapat kembali bersama yang tercinta; menikmati senja lagi. Di masjid ini lagi.


Kudapan Legendaris Indonesia

Ini tentang hasil perburuan jajanan tradisional waktu pulang kampung kemarin. Bersama adik paling kecil, pada suatu Minggu pagi, kami niatkan pergi ke Pasar Wage, pasar terbesar se-kabupaten Banyumas, untuk berburu kudapan jaman dulu.

Ternyata tidak mudah menemukan jajanan pasar yang sudah tergolong antik. Untuk beberapa jenis jajanan alasannya antara lain adalah karena jajanan itu tidak memiliki nilai ekonomis yang cukup layak untuk dijual atau karena memiliki masa kadaluarsa yang pendek.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.

Ambil saja misalnya awug-awug dan ongol-ongol. Biasanya jajanan tersebut dibuat guna pra-syarat yang harus ada pada acara slametan pengantinan, khitanan, ruwatan, wayangan dan acara sejenis lainnya. Jajanan macam itu sengaja dimasak pagi hari untuk untuk dapat dihidangkan langsung siang harinya, karena kalau tidak habis dimakan hari itu, dapat dipastikan besoknya pasti basi.

Asal-usul jajanan macam ini tidak bisa dijelaskan secara pasti, karena biasanya sejarahnya hanya berdasar cerita mulut ke mulut yang entah dimulai dari siapa. Contohnya kisah tentang kue kamir.

Beberapa cerita menyebutkan bahwa kue kamir dibuat pertama kalinya oleh keturunan Arab yang tinggal di kelurahan Mulyoharjo, Pemalang. Nama Kamir sendiri konon kabarnya berasal dari kata “khamir” yang artinya ragi. Tapi, siapa yang bisa menjamin kebenaran sejarah tersebut, kalau bahkan adik saya pun bisa memiliki pendapat lain. “Kue kamir itu bukan dari Arab, kue kamir itu sebenernya dari Jepang, aslinya namanya kue dorayaki, sering dimakan Doraemon!”. Padahal, pergi ke Jepang atau makan kue dorayaki yang asli pun adik saya belum pernah.

Bicara tentang kemiripan, kudapan lokal juga memiliki beberapa kemiripan dengan makanan kecil dari negara luar, seperti misalnya serabi juruh dan roti klepes.

Serabi juruh sungguh sangat mirip dengan panekuk atau kue pancake. “Serabi juruh ini seperti pancake tradisional, atau kue panekuk kampung, mas,” adik saya berkomentar. Serabi juruh dan panekuk sama-sama dibuat dari tepung terigu ditambah bahan-bahan lain yang kemudian dituang dalam cetakan. Yang membedakan antara serabi juruh dan panekuk adalah bahwa serabi juruh memiliki pasangan saos berupa campuran antara santan, gula kelapa dan pandan, sedangkan panekuk biasanya disajikan dengan madu.

Lain lagi dengan kue klepes. Kue klepes ini dibuat dari dua lapis biskuit yang antar lapisnya diisi tape. Sekilas hampir mirip dengan konsep pembuatan crepes, bukan? Bisa jadi karena itulah namanya berasal. Crepes menjadi klepes?

Selain memiliki kesamaan dengan makanan luar, jajanan pasar juga memiliki kesamaan antar daerah di Indonesia, kadang yang membedakan hanya penyebutannya saja.

Misalnya, jajanan berbahan baku singkong yang digoreng dengan cairan gula merah di dalamnya. Kalau di Banyumas jajanan itu namanya ondol-ondol sedang di Sunda biasa disebut roti obi. Ada lagi kudapan dari sayuran matang disiram bumbu parutan kelapa pedas, kalau di Banyumas disebut kluban, sedang di tanah Sunda disebut urap. Lalu ada lagi tentang holang-galing Banyumas yang di Jakarta biasa disebut “kue bantal”. Dage Purwokerto, oncom tahu di sunda atau menjes di Malang.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.

Untuk jenis jajanan tertentu bahkan walau memiliki komposisi yang sama namun bisa memiliki nama yang berlainan, di sama-sama satu daerah. Misalnya nagasari dan utri. Sama-sama berasal dari olahan tepung beras dan sama-sama dibungkus daun pisang (yang dibuat seperti jenang dengan potongan pisang di dalamnya), namun kalau nagasari dibungkus berbentuk segitiga, sedang utri cukup “digubet” sehingga berbentuk pipih menyerupai tempe bungkus.

Beberapa jajanan juga memiliki cerita yang unik, tentang meniran misalnya. Walau hampir sama dengan arem-arem tapi sejatinya dia berbeda. Kalau arem-arem dibuat dari beras yang masih baik sedang meniran dibuat dari beras menir, atau sisa beras yang rusak/patah. Namun justru karena itu meniran jadi memiliki rasa yang lebih unik karena teksturnya, yang berasal dari beras rusak tersebut, lebih lembut.

Jajanan pasar tradisional, juga memiliki kemiripan dalam bahan baku olahannya. biasanya jajanan pasar tradisional berbahan baku beras, terigu, singkong, kedelai, bahkan ada beberapa memakai bahan ampas yang dimanfaatkan kembali.

Jajanan berbahan baku beras (atau tepung beras) dan terigu contohnya serabi, kamir, carabikang, lupis (beras ketan), utri, golang-galing, mendut, meniran, jongkong dan lain sebagainya. Kalau yang berbahan baku singkong misalnya ciwel, cenil, getuk (oyek, mawur, intil), klanting dan cimplung. Sedang yang berasal dari ampas yang diolah kembali bisa seperti seperti ranjem (ampas tahu), templek (ampas kedelai), tempe bongkrek (ampas peraman air kelapa) dan dage (ampas kelapa).

Masih terkait bahan baku, beberapa jajanan tradisional juga masih memakai bahan pewarna alami. Misalnya ciwel hitam (jajanan yang dibuat dari pati singkong). Warna hitamnya berasal dari oman (abu hasil bakaran batang padi selepas panen) yang diambil airnya untuk dijadikan pewarna si ciwel.

Pada akhirnya jajanan tradisional, walau sudah semakin jarang ditemukan, masih tetap terbukti sebagai legenda hidup tangguh yang tetap bisa menahan gempuran makanan olahan modern yang lebih canggih dan lebih “nge-brand”.

  • Disunting oleh SA 09/09/2012

© 2017 Ransel Kecil