Bulan: September 2012 (halaman 1 dari 3)

Menengok Keunikan Tempat Ibadah di Semarang

Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.
Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.
Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.
Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong.
Kelenteng Sam Po Kong.
Kala siang itu matahari bersinar cukup terik, saya memasuki gerbang pintu kelenteng, saya sudah disuguhkan keindahan arsitektur pintu gerbang dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Setelah langkah saya sampai di dalam komplek kelenteng, sesuai dugaan saya, ternyata bagian dalamnya memang menawan.
Kelenteng ini merupakan bangunan yang amat bersejarah yang terletak di barat daya Semarang. Dahulu kala kelenteng ini merupakan tempat pendaratan pertama Laksamana China beragama Islam yang bernama Cheng Ho. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat mengunjungi kelenteng tersebut, saat Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau juga mendirikan bangunan untuk tempat beribadah agama Islam dengan arsitektur Tiongkok (saat ini bernama Kelenteng Sam Po Kong). Dalam pembangunan tempat ibadah tersebut terdapat unsur akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Islam. Dalam perkembangannya, karena bangunan tempat ibadah tersebut berarsitektur Tiongkok, orang Indonesia keturunan Tiongkok menganggap bangunan tersebut sebagai kelenteng. Sampai saat ini kelenteng tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat ibadah. Selain itu tempat ini juga kerap dijadikan tempat untuk berziarah sekaligus berwisata sambil menikmati Kota Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk.
Gereja ini terletak di Kota Lama Semarang. Saya singgah di sini sambil mengambil banyak foto di berbagai sudut. Kota lama identik dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa, kalau dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini mirip dengan Kota Tua, yang ada Museum Fatahillah-nya.
Begitu pun dengan gereja blenduk, bangunannya tua dengan arsitektur Eropa. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda ini merupakan Gereja tertua di Jawa Tengah. Dari bagian depan bangunan tua terlihat tulisan “Gereja GPIB Immanuel”, bukan Gereja Blenduk. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak masuk ke dalam gereja tersebut karena di dalam sedang dilangsungkan ibadah, selain itu gereja ini juga bukan merupakan tempat wisata umum seperti halnya dengan Kelenteng Sam Pho Kong. Hanya umat Kristiani yang berniat ingin beribadah saja yang dapat masuk ke bangunan tua ini. Kala itu, saya hanya berfoto-foto memotret keindahan bangunannya.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah.
Sampai di tempat ini, sang surya sudah tenggelam, dan hari mulai berganti malam. Sesampainya di pintu gerbang, saya di sambut dengan penampakan Masjid Agung yang bersinar terang, lagi-lagi saya terpesona, terpatri di tempat saya berpijak sejenak. Saat setelah sadar terbangun dari hipnotis pesona Masjid Agung saya perlahan melangkahkan kaki saya menuju bagian atas masjid. Sesampainya di atas, terbaca oleh saya pada prasasti atau semacam piagam pengesahan yang terbuat dari keramik bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.
Sungguh luar biasa. Malam itu, Masjid Agung terlihat bersinar terang disinari oleh cahaya lampu, terlihat arsitektur Masjid yang begitu mempesona. Terlihat atap kubah dengan struktur tumpang yang dikelilingi lima pilar putih. Menurut saya, masjid ini terlihat sangat elegan, dengan gaya arsitektur modern.
Di depan Masjid ini, dekat dengan pintu masuk, terdapat menara masjid yang menjulang tinggi. Berdasarkan informasi penduduk setempat di atas menara tersebut terdapat restoran kecil yang biasa digunakan untuk tempat makan umum. Setiap pengunjung masjid ini bisa menaiki menara ini baik untuk sekedar melihat pemandangan dari atas atau untuk bersantai ria sambil makan sambil menikmati pemandangan kota Semarang. Satu hal yang saya sesalkan kala itu adalah saya tidak bisa naik ke menara tersebut, karena saya sampai sudah terlalu malam, jadi menara tersebut sudah ditutup.
Itulah ketiga tempat ibadah yang menurut saya amat menarik, terdapat tiga tempat ibadah unik untuk tiga agama berbeda dalam satu kota. Sungguh realita prularisme agama yang dibingkai dalam nuasa keindahan. Semoga keindahan tersebut juga bisa dimaknai sebagai indahnya toleransi beragama.

  • Disunting oleh SA 16/09/2012

Berpetualang ke Negeri Ceylon

Mungkin tidak banyak orang yang ingin berwisata ke negara di Asia Selatan, apalagi yang namanya jarang terdengar di telinga seperti Sri Lanka. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Memang awalnya karena tergiur promo murah dari maskapai penerbangan hemat biaya rute Kuala Lumpur-Kolombo untuk periode keberangkatan enam bulan dari masa pembelian penerbangan tersebut. Tetapi perjalanan saya ke Sri Lanka juga didorong rasa penasaran akan negeri-negeri yang jarang dari pemberitaan di tanah air. Akhirnya saya pun berhasil membujuk dua orang teman untuk nekat membeli tiket penerbangan tersebut!
Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya tersadar bahwa untuk peraturan terbaru, pengunjung yang ingin memasuki Sri Lanka (kecuali beberapa negara tertentu) membutuhkan visa kunjungan. Padahal sebelumnya warga negara Indonesia dapat memasuki Sri Lanka tanpa menggunakan visa kunjungan. Untungnya, untuk mengajukan visa Sri Lanka, dapat dilakukan online dengan biaya US$20. Namun, permasalahan lain muncul: saya masih buta tentang tempat yang akan dikunjungi di Sri Lanka. Tidak kehilangan akal, saya pun buru-buru di group Couchsurfing (salah satu situs untuk para backpack dunia) tentang rencana kedatangan saya yang kemudian ditanggapin dengan baik oleh para anggota Couchsurfer Sri Lanka. Dari sini muncul bayangan saya bahwa masyarakat Sri Lanka sangat ramah terhadap wisatawan asing.
Anak-anak Srilanka.
Anak-anak Sri Lanka.
Waktu berlalu cepat dan tanpa terasa tibalah hari keberangkatan. Setelah transit beberapa saat di Kuala Lumpur, akhirnya saya dan rombongan mendarat juga di sebuah pulau di ujung selatan India yang tidak lain adalah negara Sri Lanka. Begitu keluar dari Colombo International Airport, kami langsung bergegas menuju kediaman salah satu kenalan saya dari situs Couchsurfing (yang baru berkenalan dengan saya via situs tersebut dua hari yang lalu). Untungnya, karena Sri Lanka adalah negara bekas jajahan Inggris, maka seperti umumnya masyarakat negara anggota persemakmuran, fasih berbahasa Inggris. Hal ini memudahkan kami berkomunikasi dengan masyarakat lokal dalam mencari arah.
Begitu tiba di rumah teman baru saya tersebut, kami disambut dengan baik, terutama oleh pihak keluarganya. Dengan rasa penasaran, mereka bertanya banyak hal tentang Indonesia sambil sesekali membandingkan dengan kondisi di Sri Lanka. Setelahnya kami disuguhkan banyak makanan enak yang dimasak sendiri oleh ibu teman saya itu! Belakangan saya baru mengetahui bahwa memasak makanan yang lezat adalah cara bagi masyarakat Sri Lanka untuk menerima tamunya.
Sebelum menjelajahi beberapa objek menarik di Sri Lanka, kami memutuskan untuk memulai perjalanan dengan menjelajahi ibu kota Sri Lanka yakni Kolombo. Ibu kota ini menarik karena berada di pesisir pantai dengan sederet bangunan tua bekas peninggalan Inggirs. Namun kota ini tidak segemerlap ibu kota negara berkembang pada umumnya. Bahkan menurut saya masih jauh tertinggal dari Jakarta. Jarang saya melihat bangunan bertingkat, kecuali beberapa apartemen dan resident yang pada umumnya dihuni oleh para ekspatriat. Puas menikmati keindahkan kota, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja di sekitar Kolombo. Sudah bukan rahasia lagi kalau Sri Lanka adalah negara penghasil teh terbaik di dunia. Oleh karenanya, berbelanja produk teh adalah hal yang wajib dilakukan bila berada di Sri Lanka. Ada berbagai jenis teh yang ditawarkan, mulai dari teh aneka rasa, teh berdasarkan wilayah penanaman, hingga teh yang dikelompokkan berdasarkan ketinggian penanaman.
Setelah beberapa jam berkeliling kota Kolombo, saya tersadar satu hal: perempuan di Sri Lanka menjunjung tinggi nilai budaya mereka. Kebanyakan perempuan Sri Lanka berseliweran di jalanan sambil mengenakan busana tradisional Sari. Sangat jarang saya mendapati perempuan Sri Lanka dalam kesehariannya hanya mengenakan kaus dan jins. Hal unik lainnya yang saya dapati adalah penggunaan kata “hotel” menggantikan kata “restoran”. Sebagian besar rumah makan kecil di Sri Lanka memasang pamflet besar dengan kata “hotel”. Hal ini tentu membuat wisatawan seperti saya merasa bingung. Dari luar saya bisa saja mengira bahwa bangunan tersebut adalah penginapan kecil. Namun ternyata setelah masuk ke dalam, tempat tersebut hanya menjajakan makanan berat yang menu utamanya adalah kari and nasi. Masyarakat Sri Lanka pada awalnya tidak bisa membedakan antara restoran dan hotel, jadi hingga sekarang penggunaan terminologi yang salah tersebut menjadi umum. Duh…
Puas berkeliling Kolombo, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kandy. Walaupun perjalanan menggunakan kereta ke Kandy memakan waktu sekitar 4 jam, pengalamannya tidak membosankan karena sepanjang perjalanan kami disuguhkan panorama pengunungan yang indah. Kandy sendiri adalah kota terbesar kedua di Sri Lanka. Kota yang sejuk ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Kandy adalah tempat transit yang paling cocok bagi wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah wisata lain, karena disekitar kota ini banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti misalnya Temple of Sacred Tooth dan danau buatan Kandy Lake yang lokasinya saling bersebelahan.
Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.
Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.
Berpose di Kandy Lake.
Berpose di Kandy Lake.
Sebagai negara tujuan utama peribadahan bagi penganut Budha, berwisata ke kuil Budha merupakan agenda wajib bila berkunjung ke Sri Lanka. Saya sendiri berkesempatan mendatangi salah satu kuil paling terkenal di Sri Lanka yakni Temple of Sacred Tooth Relic. Disebut demikian, karena konon relik gigi Budha disimpan didalam kuil ini. Sejarah menceritakan bahwa telah banyak perang terjadi akibat perebutan Tooth Relic. Hal ini karena Tooth Relic tersebut dipercaya dapat memberikan kekuasan di pemerintahan bagi siapapun yang memegang atau mendapatkan relik tersebut.
Temple of Tooth Relic.
Temple of Tooth Relic.
Tempat lain yang wajib dikunjungi di Sri Lanka adalah Adam’s Peak, bukit setinggi 2243 meter yang dianggap sakral untuk penduduk Sri Lanka. Uniknya lagi, pendakian ke puncak Adam’s Peak adalah ziarah bagi empat agama utama di dunia yakni Budha, Hindu, Islam dan Kristen. Umat Buddha percaya bahwa jejak yang berada di puncak bukit Adam adalah jejak Buddha, umat Hindu menganggapnya sebagai tanda dari Shiva, sementara umat Muslim percaya bahwa tanda itu berasal Adam yang menangis setelah diusir Eden. Lain lagi dengan umat Kristiani yang meyakini bahwa lekukan bukit di Adam’s Peak terjadi ketika St. Thomas berdoa di puncak bukit tersebut.
Bayang-bayang Adam's Peak.
Bayang-bayang Adam’s Peak.
Berpose di Adam's Peak bersama pejalan lain.
Berpose di Adam’s Peak bersama pejalan lain.
Pendakian ke puncak Adam’s Peak yang memakan waktu tiga hingga empat jam tidak akan sia-sia, sebab pemandangan yang didapatkan ketika berada dipuncak gunung tersebut sangat memukau mata. Selain itu, bila pendaki dapat tiba di puncak bukit tepat sewaktu matahari terbit, maka ia bisa melihat fenomena alam “Shadow of Adam’s Peak“, yaitu munculnya siluet bayangan gunung yang terlihat sangat mistis.
Setelah puas menjelajahi daerah perbukitan di Sri Lanka seperti Kandy dan Adam’s Peak, kami pun melanjutkan perjalanan ke ujung Selatan Sri Lanka yakni menuju pantai Unuwatuna. Pantai ini dikenal diseluruh dunia akan pasirnya putih dan warna toska lautnya. Meskipun pantai Unawatuna sempat tersapu gelombang Tsunami di tahun 2005, namun berangsur-angsur pantai ini kembali kedatangan turis.
Pantai Unawatuna.
Pantai Unawatuna.
Sebelum kembali ke tanah air, kami menyempatkan diri untuk singgah di kota Galle. Kota yang berada di ujung paling selatan Sri Lanka ini telah berdiri sejak abad ke-16 dan kemudian mengalami perkembangan pesat selama periode kolonial Portugis, Belanda dan Inggris. Objek yang paling menarik di kota ini adalah situs warisan dunia bernama Galle Fort. Situs ini berbentuk kota benteng yang dianggap kota benteng terbaik yang pernah dibangun oleh masyarakat Eropa di Asia Selatan. Berkeliling dengan menggunakan sepada di Old Town Galle membuat kita serasa menjelajah waktu ke masa lampau. Sewaktu hendak memesan menu makanan di salah satu restoran di sekitar Old Town Gale, saya tertegun mendapatkan menu makanan yang terdengar familiar: gado-gado dan nasi goreng. Setelah ditelusuri, ternyata makanan khas Indonesia tersebut diperkenalkan oleh Belanda ke masyarakat Sri Lanka pada masa kolonial.
Secara keseluruhan, berwisata ke Sri Lanka memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Keunikan budaya serta panorama alam yang indah dan masih alami menjadi kekhasan sendiri yang ditawarkan bagi para wisatawan. Selain itu keramahan masyarakat setempat membuat wisatawan semakin betah berada di negeri yang dulu sempat dinamakan Ceylon ini.

Ujung Genteng, "Tanah Lot" di Pulau Jawa

Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!
Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.
Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.
Setelah bernegosiasi ria dengan beberapa supir van, akhirnya saya dan teman-teman saya mendapatkan harga termurah, langsunglah kami semua memasukkan daypack ke dalam van.
Perjalanan dilanjutkan ke Surade, trek menuju surade lumayan panjang, masih sekitar tiga jam lagi. Saya merasakan petualangan yang seru di destinasi menuju Surade, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak, perjalanan terasa seperti offroad. Mau tidur pun sulit, van bergoyang bak penari dangdut handal. Memandang keluar hanya terlihat bayang-bayang semak dan pepohonan, sesekali terlihat cahaya saat melewati depan rumah penduduk.
Tak terasa tiga jam berlalu, van mulai berhenti perlahan, pertanda sudah sampai kawasan Ujung Genteng. Saat pintu van terbuka, saya langsung disapa oleh angin pantai, semilir membelai rambut saya. Ombak pun tidak mau kalah menyambut saya, dalam kegelapan terdengar suara ombak berdebur, pantai memang tidak terlihat jelas, tapi saya bisa merasakan sensasi keindahannya.
Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, bagi umat muslim seharusnya sedang fokus sholat tahujud, tapi saya dan teman-teman saya baru saja sampai serta kebingunan untuk mencari homestay untuk bermalam. Inilah hal-hal tak terduga yang terkadang saya temukan dalam perjalanan. Namun, Hal-hal yang tak terduga itulah yang biasanya paling berkesan.
Setelah keluar masuk homestay dan ternyata penuh semua, kami semua tidak kehabisan akal. Kami bertanya pada penduduk sekitar yang masih bercengkerama di warung pinggir pantai mengenai alternatif penginapan, setelah diskusi panjang, akhirnya kami semua diarahkan ke rumah penduduk yang letaknya agak jauh dari pantai.
Saya terus berjalan menyusuri jalan berbatu, sampai akhirnya tiba di rumah penduduk yang pemiliknya bersedia agar rumahnya disewakan sebagai tempat penginapan. Sungguh tidak terduga, saya ternyata bermalam di rumah penduduk. Tarifnya jauh lebih murah dari homestay.
Rumah tersebut ternyata lumayan besar, tidak kalah nyaman dengan homestay. Tanpa pikir panjang karena semua sudah kelelahan, kami langsung terbaring mengambil posisi tidur paling nyaman. Semua bergegas tidur agar energi pulih tuk bekal petualangan esok ke pantai, air terjun, dan goa.
Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur, saya sudah terbangun dari lelap kemudian langsung bersiap-siap tuk memulai petualangan sesungguhnya.
Dengan angkot carteran, saya berpetualang di kawasan Ujung Genteng, destinasi nomor wahid yang saya singgahi adalah Air Terjun Cikaso. Air terjun ini memiliki pesona luar biasa, disini saya disuguhkan empat air terjun sekaligus, keempatnya berjejer dalam posisi berdampingan. Terpana saya memandangi air terjun sambil merasakan kesejukan cipratan buih air terjun, sebuah pesona yang unik. Terlihat lumut-lumut menyelimuti tebing-tebing air tenjun, terlihat hijau terang dan amat menyegarkan mata. Air terjunnya sangat deras, membentuk sebuah kubangan air luas menyerupai danau. Airnya jernih dan sejuk, bisa digunakan untuk berenang.
Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh mendekati letak posisi air terjun, karena semakin menjauh semakin dalam, tidak disarankan untuk orang yang tidak mahir berenang.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Saat di sana, saya tidak berenang sungguhan, saya hanya di pinggiran main air sambil membasahkan kaki saja. Saat teman-teman saya sibuk berenang, saya malah sibuk mengabadikan keindahan Cikaso dengan kamera saya, saya abadikan dari berbagai sudut, semuanya tampak sempurna, indah terekam dalam lensa saya.
Puas dengan pesona Air Terjun Cikaso, saya lanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu Goa Walet. Saya caving di sini. Letak goa Walet tidak terlalu jauh dari Air Terjun Cikaso, mobilisasi dengan angkot carteran hanya sekitar lima belas menit. Akses menuju goa ini hanya berupa jalan setapak, jadi angkot tidak bisa mendekat. Selanjutnya modal kaki, jalan menyusuri jalan setapak, melewati perkampungan dan sawah-sawah, sensasi trekking-nya amat terasa.
Terus melangkah menyusuri hamparan padi, sampai akhirnya tiba di bibir goa. Setelah izin dengan penduduk setempat, mulailah saya memasuki goa, akses pertama yang harus dilalui adalah jalan menurun yang terjal. Bahu-membahu kami memasuki goa tersebut. Goa amat gelap, bermodalkan sinar lampu petromaks, saya berjalan membuntuti seorang penduduk setempat yang menjadi pemandu wisata dadakan. Walaupun terasa pengap, sedikit udara, kegerahan, dan pakaian terbasahi dengan keringat yang mengucur, saya tetap menikmati sensasi caving di goa Walet, sangat direkomendasikan bagi para pelancong yang singgah di kawasang Ujung Genteng.
Pantai Pangumbahan.
Pantai Pangumbahan.
Puas dengan bentang alam air terjun dan goa, saya melanjutkan destinasi utama, yaitu pantai. Di kawasan Ujung Genteng, saya singgah ke beberapa pantai. Pertama, Pantai Ujung Genteng itu sendiri, lalu Pantai Pangumbahan dan terakhir Pantai Amanda Ratu. Ketiga pantai tersebut memiliki keunikan yang berbeda, masing-masing memiliki daya magnet atau daya tarik yang berbeda. Pantai Ujung Genteng memiliki keunikan dengan karang-karangnya. Terdapat banyak karang di sekitar bibir pantainya, bila air surut akan terlihat lebih jelas hamparan karang yang luas, jadi para pelancong bisa menikmati keindahan karang-karang ini sambil berjalan menjauh dari bibir pantai ke arah laut.
Berbeda lagi dengan Pantai Pangumbahan, di sini saya disuguhkan dengan keunikan penyu dan tukik. Pantai ini terkenal dengan habitat penyu menetaskan telur-telurnya. Penyu-penyu menjadikan pantai ini sebagai tempat yang paling nyaman untuk bertelur, bila para pelancong beruntung, pada tengah malam bisa melihat secara langsung prosesi penyu bertelur. Di dekat pintu masuk pantai ini terdapat penangkaran penyu, telur-telur penyu dieramkan dengan sistem penangkaran, tukik yang menetas dari telur tersebut akan dilepaskan kembali ke lautan lepas. Satu keunikan lagi dari pantai ini yaitu para pelancong dapat ikut bersama melepaskan tukik ke laut lepas, biasanya disore hari, sayang sekali saat saya berkunjung ke sana saya agak telat, sehingga prosesi pelepasan tukik ke laut lepas terlewatkan. Tapi tak mengapa, karena kekecewaan itu terbayarkan dengan keindahan pantainya. Pantainya amat indah, pasir putihnya terhampar luas, melangkahkan kaki di pantai ini akan merasakan kelembutan tiap butir pasirnya. Sama seperti pantai-pantai lain yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombak di pantai ini amat besar, mengalir dengan derasnya menuju bibir pantai. Jadi, jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari bibir pantai.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pantai lain yang tidak kalah elok adalah Pantai Amanda Ratu. Pantai ini sudah mulai dikembangkan oleh investor pariwisata setempat, sehingga fasilitas di kawasan pantai ini sudah cukup eksklusif. Terdapat penginapan mewah di sekitar pantai ini, penginapan yang langsung terletak di pinggir pantai. Untuk para pelancong tipe “menggembel” sebaiknya tidak menginap di sini, karena dijamin harganya agak menguras kantong. Lebih baik mencari homestay di sekitar Pantai Ujung genteng yang harganya bersahabat dengan kantong. Tapi, bagi pelancong khas “koper” yang menginginkan fasilitas yang agak mewah, Amanda Ratu sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat menginap, karena fasilitas di Amanda Ratu sudah lumayan lengkap, termasuk fasilitas kolam renang di dalamnya.
Saya menyebut Pantai Amanda ratu dengan Tanah Lot versi Ujung Genteng. Pantai Amanda Ratu selintas memang menyerupai Pantai Tanah Lot yang terkenal di Pulau Dewata sana. Kemiripan itu terletak pada pulau kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.

Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil