Artikel-artikel dari bulan Agustus 2012

Romantisnya George Town

Pernah dengar pameo “city for the newlyweds and the nearly deads“? George Town di Pulau Penang menurut saya adalah salah satu kota yang pantas mendapat julukan seperti ini. Kotanya yang tidak terlalu besar, tenang, damai, memberikan banyak kejutan yang menyenangkan. Berencana menikah di tahun naga ini? kenapa tidak menghabiskan bulan madu anda di kota ini? Ini dia beberapa titik yang bisa dikunjungi!

Pesona malam Penang Hill

Penang Hill
Penang Hill dari kereta pendaki.

Kereta ini bergerak ke atas dengan pelan, semakin lama semakin cepat dengan sudut ketinggian yang semakin curam. Saya yang memilih duduk di bagian depan kereta hanya bisa menahan napas, antara takut dan terlalu riang. Untung saja kereta ini baru direnovasi sehingga terlihat kuat dan bisa diandalkan, kalau tidak mungkin saya akan berpikiran macam-macam. Namun pikiran itu cepat teralihkan ketika kereta bergerak semakin ke atas, dan pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Klik, klik! Pemandangan itu pun terabadikan dalam jepretan kamera saya.

Sempat ditutup selama beberapa waktu, tahun 2011 kemarin kereta Penang Hill itu kembali dibuka untuk umum. Begitu tiba di atas bukit, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kota George Town dan Pulau Penang akan terhampar luas di hadapan kita. Penang Bridge yang terkenal itupun terlihat seperti garis tipis dari kejauhan, menghubungkan Penang dengan semenanjung Malaysia. Di atas bukit ini pun kita akan menemukan kafe dan hotel, bagi yang berminat untuk menghabiskan waktu lebih lama.

Pemandangan dari Penang Hill ketika malam
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam.

Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian. Beberapa turis yang datang bersama pasangan, semakin dekat berpelukan. Mungkin selain udara malam yang memang cukup dingin di ketinggian, pasangan ini juga berusaha menyimpan memori romantis ini sebanyak mungkin dalam pikiran mereka. Tidak perlu berkata-kata ketika menikmati pemandangan indah seperti ini, cukup bergandengan tangan dan lihatlah senyum bahagia yang terpancar di muka pasangan. Such a romantic place to share with your beloved ones, right?

Menuju Penang Hill ini cukup menggunakan bus Rapid Penang no. 204 dari Komtar. Tidak usah khawatir harus turun di mana, karena Penang Hill ini adalah pemberhentian terakhir. Siapkan uang pas, sebesar RM2.70 sebelum naik bus ini. Ingat, uang pas ya, karena supir bus tidak akan memberikan kembalian. Nah, setelah membayar, pilihlah tempat duduk dengan nyaman, karena perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 30-40menit dari Pusat Kota. Sekedar ngopi-ngopi di kafe dengan pasangan, atau berminat untuk menghabiskan malam di hotel yang ada di Penang Hill juga bisa menjadi pilihan. Jika hanya menghabiskan waktu, belilah tiket pulang-pergi untuk naik dan turun dengan kereta, sebesar RM30 (dewasa) dan RM15 (anak-anak). Jika berminat menghabiskan malam, cukup beli tiket satu arah saja. Karena tiket yang dibeli hanya berlaku di hari pembelian saja.

Gurney Drive Hawker Centre

Selepas berpetualang mendaki bukit dengan kereta di Penang Hill, sempatkanlah mengisi perut di pusat jajanan yang terletak di pinggir pantai, “Gurney Drive Hawker Centre” namanya. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pusat makanan serba ada ini menyediakan berbagai jenis makanan khas Penang yang memang terkenal dengan wisata kulinernya. Ingin mencoba char kwe tiauw khas Penang yang terkenal? di sini tempatnya. Siap-siap mengantri ya, karena peminat makanan ini cukup banyak. Teman saya saja harus sabar menunggu hampir 15 menit lamanya untuk menunggu giliran memesan makanan ini.

Pasembur
Pasembur.

Penjual pasembur
Penjual pasembur.

Satu lagi makanan yang harus dicoba, yakni “rojak” atau “pasembur”. Bermacam-macam gorengan dipotong dan disiram dengan bumbu merah manis pedas, lengkap dengan irisan timun. Lezat dan unik. Kalau char kwe tiauw tadi bisa dinikmati dengan RM3 saja, maka rojak ini paling tidak harus mengeluarkan RM6, karena harga gorengan RM2 per buah. Semakin banyak gorengan yang kita pesan, ya semakin mahal harganya.

Selepas makan, mari berjalan-jalan di pasar malam dadakan yang ada di sepanjang jalan dekat Gurney Drive Hawker Centre. Ada satu kios yang menjual magnet unik dengan tulisan-tulisan Cina yang lengkap dengan wisdomnya. Sang penjual semangat sekali menerangkan arti dari tulisan-tulisan Cina yang tertera di barang dagangannya. Salah satu teman saya akhirnya membeli satu buah magnet yang bertulisan “Wo Ai Ni”, atau “I Love You”!

Cinderamata magnet
Cinderamata magnet.

Di seberang pasar malam, terdapat jalur pejalan kaki sepanjang pantai yang biasa digunakan penduduk setempat untuk berbagai aktivitas. Ada pemuda yang sibuk berlari, keluarga yang mengajak anak-anaknya makan, dan tentu saja, untuk pasangan-pasangan baru yang ingin menikmati suasana malam kota George Town. Berjalan-jalan sepanjang trotoar, menikmati udara pantai dan suasana malam kota yang ramai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, terdengar menarik bukan?

Menuju Gurney Drive Hawker Centre ini cukup naik bus Rapid Penang no. 103/101/304, ongkosnya RM1.40 dari Komtar. Letaknya tidak jauh dari kota, jadi katakan pada supir tempat tujuan kamu, agar tidak salah turun ya, karena letaknya yang tidak searah dengan jalur tujuan bus (kita harus menyeberang, dan jalan sedikit karena lokasi berada di tikungan jalan). Gurney Drive Hawker Centre ini terletak tidak jauh dari Gurney Plaza dan buka sampai tengah malam.

Semilir angin siang Esplanade

City Hall
City Hall.

Papan informasi bus gratis
Papan informasi bus gratis.

Di hari berikutnya, kamu dan pasangan bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota sepanjang hari. Saya menyebutnya, a heritage walk in a heritage city. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah daerah Padang Lama. Di sini banyak terdapat bangunan-bangunan dengan gaya Victoria yang wajib diabadikan. Lihat saja bangunan City Hall dan Town Hall yang cantik sekali dijadikan latar belakang foto bersama pasangan, seperti di Eropa!

Selepas berfoto, nikmatilah semilir angin siang di taman sepanjang Esplanade sambil duduk-duduk di tepi pantai bersama pasanganmu. Bertukar cerita apa saja dengan pasanganmu sembari menyantap es krim rasa kelapa yang segar, untuk menghilangkan dahaga di tengah panasnya udara kota George Town.

Kali ini saya menyarankan kamu untuk mencoba berkeliling kota dengan bus gratis yang disediakan pemerintah kota George Town. Bus ini berhenti di setiap titik pemberhentian dengan titik-titik menarik di seluruh kota. Untuk menuju City Hall ini, berhentilah di titik pemberhentian no. 17, di dekat dewan kota Penang. Untuk kembali ke Komtar, tunggu lagi bus gratis di titik pemberhentian no. 18, di Esplanade.

Love Chair Pinang Peranakan Mansion

"Kursi cinta"
“Kursi cinta” di Peranakan Mansion.

Peranakan Mansion
Peranakan Mansion.

Terletak di daerah Little India, Penang Peranakan Mansion ini terkenal dengan kebudayaan khas Cina peranakan yang cukup populer di Malaysia dahulu. Alkisah, seorang saudagar Cina kaya-raya menikah dengan perempuan Malaysia dan terlahirlah budaya Cina peranakan yang biasa disebut dengan budaya “baba-nyonya” ini. Cukup membayar RM10, kita dapat berkeliling rumah ini dan mengagumi semua perabotannya yang berkelas serta sejarah rumah ini yang sudah berumur lebih dari 100 tahun lamanya. Saran saya, mintalah bantuan pemandu yang ada untuk lebih memahami arti dari setiap ruangan dan perabotan yang ada di rumah ini.

Satu hal yang unik di rumah ini adalah “love chair” atau “kursi cinta” yang terletak di lantai dua. Love chair ini adalah kursi dari bahan rotan yang biasa dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk berpacaran. Jika sedang berpacaran, mereka akan duduk berhadapan, bertukar cerita saling bertatapan. Namun, jika sedang bermusuhan, mereka akan duduk saling membelakangi, bercakap-cakap tanpa melihat muka pasangan.

Banyak titik foto menarik yang bisa diambil bersama pasangan di tempat ini. Namun, foto yang wajib diambil, tentu saja, pose kamu dan pasangan di love chair legendaris ya!

Menuju ke tempat ini, bisa ditempuh dengan bus gratis, mintalah supir untuk menurunkan kamu di titik pemberhentian no. 3, Little India. Jika terlalu lama menunggu bus, tinggal berjalan kaki tak jauh dari titik pemberhentian no. 18, Esplanade menuju Jalan Gereja. Cek situs web-nya untuk keterangan lebih lanjut.

  • Disunting oleh SA 27/08/2012

Mengintip Sekolah “Laskar Pelangi”

Sekolah Laskar Pelangi berdiri terseok di tanah tanpa ubin, berdinding kayu berlubang. Pencahayaan masuk dari celah-celah di antara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan. Kondisi kelas berantakan, dengan lebah berseliweran. Di luarnya tampak dua buah kayu penyangga karena bangunan nyaris roboh. Di sebelah kanan sekolah ada sumur dan di dekatnya ada balai kecil. Dibangun di atas bukit bekas penambangan timah, sekolah ini menjadi replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk keperluan film Laskar Pelangi. Semua ditata sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi aslinya.

Berada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, sekolah Laskar Pelangi adalah simbol dan gambaran sekolah dengan fasilitas minim dan serba kurang ideal. Meski demikian, banyak sekali pesan moral dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari film ini. Laskar Pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa.

Sekolah "Laskar Pelangi"
Sekolah “Laskar Pelangi”.

Papan sekolah bertuliskan "Laskar Pelangi"
Papan sekolah bertuliskan “Laskar Pelangi”.

Bangku dan meja belajar
Bangku dan meja belajar.

Turis berkunjung
Turis berkunjung.

Papan penyangga bangunan sekolah
Tiang-tiang penyangga bangunan sekolah.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Menikmati Pagi di Krabi

Hujan pagi ini di Jakarta mengingatkan saya pada suatu pagi di Krabi, kota kecil di Thailand selatan. Suara gemeritik hujan di luar, suara fan kipas yang terus menyala sepanjang malam di kamar, dan pemandangan penghuni kamar hostel lainnya yang masih tertidur dengan bertelanjang dada.

Krabi, kota favorit saya selama perjalanan enam hari kemarin di antara kota-kota lain yang saya kunjungi dari Kuala Lumpur, Melaka, dan Phuket. Kota kecil di Thailand Selatan ini mayoritas penduduknya beragama muslim. Walaupun tergolong kota kecil, Krabi menjadi tujuan wisata utama para pejalan di Thailand. Ia punya daya tarik sendiri.

Setelah hampir 12 jam perjalanan menggunakan kereta dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, dilanjutkan empat jam perjalanan dengan van, sampailah saya di Krabi pada sore hari. Sampai di kota, saya dipandu oleh supir van dan dititipkan ke “taxi motor” (ojek) untuk diantarkan ke hostel tempat saya menginap, Pak Up Hostel. To the hostel, we go!

Where are you from?“, cetus bapak ojek itu. “Jakarta, Indonesia!”, jawab saya. “Oh, Indonesia, so you are muslim?” “Yes, I am muslim“, “Me too,” dengan nada yang lebih ceria dia menutup pembicaraan singkat kami. Kurang dari lima menit saya diantarkan dengan baik ke hostel, beliau tidak keberatan saya bayar 20 baht dari yang tadinya dia minta 30 baht.

Pak Up Hostel
Pak Up Hostel.

Keramahan penduduk lokal ini memang sudah saya rasakan sejak pertama menginjakkan kaki di Krabi. Beberapa kali berinteraksi dengan penduduk lokal di sini, mereka memang sangat ramah dengan wisatawan. Staf hostel yang ramah, supir tuk-tuk, petugas binatu, penjaga toko souvenir, sampai pramuniaga kafe tempat saya makan pad thai terenak selama saya di Krabi, mereka semua ramah. Meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, mereka berusaha mengerti apa yang kita bicarakan dan menjawab semampunya. Mungkin mereka sadar kota ini ramai dikunjungi wisatawan, jadi mereka sebisa mungkin berlaku ramah terhadap mereka. Kesan awal yang bagus sebelum akhirnya menutup mata hari itu.

Pagi pertama di Krabi, rintik hujan terdengar dari dalam kamar. Melihat jam menunjukkan pukul 06:00, saya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri. Hujan bertambah deras ketika saya mandi. Oh tidak, jangan kau hambat rencana saya hari ini wahai hujan, gumam saya di kamar mandi. Dan persis ketika saya selesai mandi, hujan ternyata juga berhenti. Mungkin dia tahu saya ingin pergi, menikmati hari, ke Laut Andaman.

Rencananya pagi ini saya akan ikut tur sehari ke Pulau Phi Phi dan pulau-pulau di sekitar Laut Andaman. Tidak sabar, meski cuaca agak mendung. Jam tujuh saya sudah siap untuk pergi. Setelan kaos-celana pendek-sendal jepit dan dry bag saya rasa pas untuk hari ini. Masih ada waktu, pikir saya pagi itu melihat jam dan mengetahui bahwa masih ada satu jam lagi sebelum saya dijemput di hostel oleh staf tur. Penyedia paket tur ini memang menyediakan antar jemput dari hotel/hostel ke pelabuhan di Pantai Au Nang sebelum bertolak menggunakan perahu cepat.

Lalu, jalan-jalanlah saya di sekitar hostel sambil mencari cemilan untuk sarapan. Di Krabi, terdapat hutan bakau yang cukup luas. Ada pula tur mengelilingi hutan bakau dengan sampan atau kano.

Suasana kota Krabi
Suasana kota Krabi di pagi hari.

Hutan bakau
Hutan bakau.

Selesai berjalan-jalan singkat, berangkatlah saya untuk tur sehari ke Pulau Phi Phi dan Laut Andaman. Saya tidak akan bercerita tentang Laut Andaman di tulisan ini. Mungkin akan ada tulisan sendiri mengenai keindahan Laut Andaman. Tapi percayalah, ia indah sekali.

Menginap dua malam di Krabi bukanlah rencana awal saya. Rencana awal saya adalah tinggal di sini semalam untuk kemudian menghabiskan waktu lebih lama di Phuket. Namun, suasana pagi di Krabi ingin saya nikmati sekali lagi. Saya putuskan untuk menginap sehari lagi.

Pagi berikutnya saya bangun dan memutuskan untuk berkunjung ke Tiger Cave (Gua Harimau), sebelum berangkat ke Phuket. Tiger Cave direkomendasikan teman baik saya Willy Irawan, yang juga salah kontributor Ransel Kecil. Setelah saya cek ke staf hostel, ternyata Tiger Cave hanya berjarak sekitar 20 menit menggunakan tuk-tuk dari hostel. Tiger Cave merupakan kawasan kuil di mana para murid belajar untuk menjadi biksu. Konon di sini dulu juga menjadi tempat persembunyian harimau di sebuah gua di lokasi ini, oleh karenanya ia disebut sebagai Tiger Cave.

Selain melihat situs tempat persembunyian harimau tersebut, saya juga tertarik dengan keberadaan patung Buddha di atas bukit di lokasi ini. Patung Buddha tersebut bisa kita temui dengan menaiki 1.237 anak tangga! Bukan anak tangga normal menurut saya, karena di beberapa titik, anak tangga tersebut memiliki kemiringan yang cukup curam.

Saya ke Tiger Cave bersama Irham, seorang pejalan dari Yogyakarta yang kebetulan saya temui di hostel tempat saya menginap. Dia berencana backpacking 10 hari, mulai dari Singapiura dan berakhir di Bangkok, kalau saya tidak salah ingat. Karena dia juga belum ada rencana pagi ini, maka saya ajaklah dia. Kami membayar 50 baht per orang ke pak supir tuk-tuk pagi itu.

1.237 anak tangga ke puncak!
1.237 anak tangga ke puncak!

Patung-patung Buddha
Patung-patung Buddha.

Sejumlah 1.237 anak tangga untuk mencapai puncak adalah perjalanan mendaki yang cukup melelahkan, namun akhirnya kita berhasil menyelesaikannya setelah beberapa kali sempat berpikir untuk menyerah dan turun. Kami menghabiskan waktu setengah jam di atas. Tempatnya memang agak kurang terawat. Mungkin karena saat itu sedang sepi atau kami yang terlalu dini berkunjung.

Setelah sampai di atas juga saya menyesal tidak bangun lebih pagi lagi dan melihat matahari terbit. Sepertinya akan cantik sekali melihat matahari terbit dari sini, karena ini merupakan titik tertinggi di Krabi. Mungkin lain kali.

Puncak Tiger Cave
Puncak Tiger Cave.

Terima kasih Krabi untuk pagi-pagi yang berkesan, meski hanya sempat berjumpa dua kali.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Tips Menggunakan Dubai Metro

Dubai memiliki beberapa pilihan sarana transportasi yang nyaman dan “ekonomis”, salah satunya adalah Dubai Metro yang diresmikan pada tahun 2009. Dubai Metro merupakan sistem kereta otomatis tanpa pengemudi terpanjang di dunia. Ia memiliki dua jalur komuter, jalur merah sepanjang 52 kilometer melintasi Rashidiya hingga Jebel Ali dan jalur hijau yang melintasi area dari Al Qusais hingga Al Jadaf. Dubai Metro sangat mengedepankan kenyamanan penumpang dengan menyediakan gerbong untuk pelanggan kelas “Gold”-nya, gerbong khusus wanita dan anak-anak, lapangan parkir mobil gratis pagi pengguna Dubai Metro, dan bus pengumpan gratis yang melayani daerah di sekitar stasiun Metro.

Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro
Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro.

Sejumlah 29 stasiun di jalur merah melintasi beberapa atraksi wisata utama modern di Dubai seperti pusat perbelanjaan dan landmark ikon kota Dubai mulai dari Terminal 1 dan 3 bandara Dubai, kawasan perbelanjaan Diera City Center, Burj Al Arab—sebuah hotel berbintang tujuh, Dubai Mall dengan Burj Khalifa—gedung tertinggi di dunia, Mall of the Emirates, Medinat Jumeirah, pulau buatan The Palm dan The Atlantis, hingga Dubai Marina—kota kanal buatan. Sejumlah 18 stasiun di jalur hijau melintasi area kawasan kota tuanya, di sekitar The Creek. Wilayah ini dimulai dari Terminal 2 bandara Dubai, souk (pasar) yang menjual emas dan rempah, Shaeek Shaid House, Heritage and Diving Village, Bastakiya, Dubai Museum, Dubai Creek Abra (taksi air) dan Wafi City Mall.

Untuk menggunakan Dubai Metro, kita diharuskan membeli “Nol Card” berupa kartu plastik atau kertas.

Kartu plastik Nol Card bisa juga digunakan untuk bus umum dan taksi air, serta berlaku selama lima tahun dan dapat menyimpan kredit hingga maksimum 500 AED.

Terdapat empat jenis Nol card. Nol Blue Card diperoleh dengan mendaftar secara online dan membutuhkan 10 hari kerja. Nol Gold Card untuk yang menginginkan perjalanan dengan gerbong VIP. Kedua kartu ini lebih cocok apabila anda berdomisili di Dubai.

Di samping itu juga ada Nol Silver Card, kartu standar bisa menyimpan kredit dan cocok untuk pejalan yang sering mengunjungi Dubai.

Untuk pengunjung singkat atau turis lebih cocok menggunakan Nol Red Card. Kartu Nol dari bahan kertas tidak bisa menyimpan kredit dan hanya bisa digunakan maksimal 10 kali perjalanan atau lima kali tiket terusan harian (Daily Passes) dengan mengisi ulang sesuai harga standar per segmen perjalanan (trip). Selain harga per segmennya, setiap kartu kertas Nol Red Card dikenakan biaya tambahan 2 AED yang tidak dapat diuangkan kembali (bukan merupakan deposit).

Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern
Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern.

Apabila anda sering melakukan perjalanan lebih baik membeli tiket terusan harian seharga 14 AED/hari plus 2 AED untuk kartunya dan bebas digunakan tak terbatas untuk Metro dan bus selama sehari.
Perlu diperhatikan dalam membeli Red Nol Card, mekanismenya tidak sama seperti MRT di Singapura yang tinggal menentukan awal dan akhir stasiun. Dengan Metro Dubai, harga tiket tidak ditentukan awal dan tujuan stasiun, melainkan dengan sistem zona yang dilintasi: single zone, two zones, dan all zones.

Saya sendiri sempat bingung pada awalnya. Single zone saya maknai kalau saya naik dan turun di stasiun di sepanjang jalur yang berwarna sama, sedangkan two zones saya maknai kalau saya naik di stasiun di jalur hijau dan turun di jalur merah atau sebaliknya.

Papan penunjuk sistem zona
Papan penunjuk sistem zona.

Seperti yang terlihat di foto jalur metro melintasi beberapa zona; zona lima, enam, dua dan satu.
Ketika anda membeli tiket di mesin pembelian, terdapat tiga pilihan: single zone, two zones, dan all zones. Supaya tidak salah beli, pilih single zone apabila stasiun keberangkatan dan tujuan akhir anda berada di zona yang sama (contohnya, dari Terminal 1 bandara Dubai ke Diera City yang sama-sama berada di zona lima). Pilih two zones apabila zona tujuan akhir anda berada di sebelah zona stasiun keberangkatan anda (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Burj Khalifa di zona enam). Terakhir, pilih all zones apabila dari stasiun keberangkatan anda hingga stasiun tujuan akhir melintasi lebih dari dua zona (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Dubai Marina di zona dua atau Zebel Ali di zona satu).

Apabila anda ragu, lebih baik beli tiket melalui petugas di loket.

Jam operasional setiap hari dari pukul 05:00 pagi – tengah malam (00:00), kecuali hari Kamis dan Jumat kereta beroperasi hingga pukul 01:00 dini hari, dan khusus hari Jumat dibuka pukul 01.00 siang. Untuk hari besar tertentu seperti malam tahun baru, jam operasional Dubai metro akan beroperasi lebih panjang.


Mesjid Agung Sheik Zayed, Abu Dhabi

Tiba di Dubai International Airport menjelang matahari bergerak ke ufuk barat, saya masih memiliki setengah hari sebelum keberangkatan penerbangan lanjutan pagi keesokan harinya. Dengan mengantongi visa Uni Emirat Arab (UEA) yang berlaku selama 30 hari, saya pun bergegas menuju ke kaunter imigrasi untuk menuju ke kota terbesar di UEA yang juga ibukota negara, Abu Dhabi.

Sarana dan infrastruktur transportasi di Dubai sangat memudahkan mengunjungi Abu Dhabi dengan menggunakan bus umum. Bus berangkat setiap hari dimulai dari pukul 5.30 pagi hingga bus terakhir 11.30 malam dari kedua terminal. Terminal bus Al-Ghubaiba di Dubai dan terminal bus Al-Wadha di Abu Dhabi dengan interval keberangkatan setiap 30 menit atau lebih awal apabila bus sudah terisi penuh. Tiket bus menuju Abu Dhabi seharga 25 AED dan menuju Dubai seharga 15 AED.

Menumpang taksi murah ke lokasi
Menumpang taksi murah ke lokasi.

Setelah kurang lebih dua jam di dalam bus yang nyaman, terkantuk-kantuk melintasi pemandangan monoton gurun kering sejauh 130 kilometer, saya tiba di terminal bus Al-Wadha, Abu Dhabi. Dari sini saya menggunakan taksi borongan menuju masjid Agung Sheikh Zayed, masjid terbesar di UEA dan ke-6 terbesar di dunia. Dari riset saya di internet, biaya taksi dari terminal bus menuju masjid Agung Sheik Zayed seharga 35 AED, tapi saat itu saya menghindari taksi yang terlihat mengkilap dan beralih menghentikan taksi yang terlihat sedikit kusam. Saya menawar seharga 20 AED sekali jalan dan akhirnya disetujui si supir taksi, pekerja imigran asal Pakistan.

Motif lantai dan pilar yang menawan
Motif lantai dan pilar yang menawan.

Lantai marmer berdekorasi indah
Lantai marmer berdekorasi indah.

Sebenarnya masjid Agung Sheik Zayed bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum. Tapi karena masalah waktu yang mengharuskan saya kembali ke Dubai pada hari yang sama, saya memutuskan untuk menggunakan taksi.

Dari kejauhan, dari balik jendela taksi terlihat minaret dan kubah besar dari masjid Agung Sheik Zayed. Sesuai namanya bangunan masjid berarsitektur Islam kontemporer yang berwarna putih ini dipelopori oleh presiden pertama UEA, HH Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Mesjid yang memiliki empat minaret dan 82 kubah berukuran besar dibangun dengan biaya US$545 juta dan bisa menampung hampir 50.000 umat.

Tampak depan
Tampak depan.

Mesjid Agung Sheikh Zayed ini dibangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat dari edukasi dan budaya Islam yang terbuka bagi siapa saja dan tidak dikenakan biaya apapun, termasuk untuk jasa pemandu yang sangat berpengalaman. Mesjid Agung Sheikh Zayed dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 pagi hingga 10.00 malam (tutup Jumat pagi) dan khusus selama bulan Ramadan tutup 12.00 malam (tutup hari Jumat).

Pilar megah
Pilar megah.

Mimbar imam
Mimbar imam.

Desain dan pembangunan masjid ini melibatkan 3.000 pekerja dan mendatangkan seniman dan material dari berbagai negara di antaranya berasal dari Italia, Jerman, Moroko, India, Turki, Iran, RRC, Inggris, Selandia Baru, Yunani dan UEA. Mesjid ini dilengkapi dengan perpustakaan dengan berbagai koleksi buku literatur Islam dalam berbagai bahasa antara lain Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea!

Interior
Interior.

Mesjid yang berdiri di atas tanah seluas 22.412 meter persegi atau seluas lima kali lapangan bola memiliki 1.000 kolom marmer dan dilapisi dengan batu berharga seperti lapis lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl. Halaman utama masjid seluas 17.000 meter persegi berbatu marmer putih dengan dekorasi pola bunga dikelilingi oleh kolam refleksi seluas 7.847 meter persegi yang mengelilingi masjid.

Desain interior ruangan pun berlomba tidak mau kalah menandingi estetika eksterior masjid. Marmer putih asal Italia dengan pola bunga menghiasi ruang sholat. Di ruang utama terdapat lampu gantung terbesar di dunia dengan diameter 10 meter dan setinggi 15 meter. Lampu gantung seberat sembilan ton yang tergantung di bawah kubah utama dihiasi ribuan kristal Swarovski asal Austria. Lantai ruang utama dihiasi karpet rajutan tangan terbesar di dunia yang dirancang oleh seniman asal Iran dan dibuat oleh 1.300 pengerajin karpet yang didatangkan langsung dari Mashhadin, desa kecil di Iran yang terkenal dengan keahlian penduduknya membuat karpet.

Ketika malam
Ketika malam.

Interior di sisi lain
Interior di sisi lain.

Pilar-pilar dan refleksi
Pilar-pilar dan refleksi.

Tempat berwudhu
Tempat berwudhu.

Kiblat setinggi 23 meter dengan lebar 50 meter dihiasi oleh seni kaligrafi 99 nama yang menggambarkan Allah, di disain oleh seniman kaligrafi ternama UEA. Secara keseluruhan masjid ini melibatkan seniman kaligrafi asal Syria, Turki dan Jordan.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid ini adalah sebelum dan setelah matahari terbenam. Ketika gelap, kolam refleksi di sekeliling masjid akan merefleksikan deretan kolom sepanjang halaman masjid. Pencahayaan masjid ini juga unik, dirancang arsitek tata lampu Jonathon Spiers, sorotan proyeksi awan abu kebiru biruan pada dinding luar masjid intensitas cahayanya selalu berubah setiap malam mengikuti fase bulan. Redup ketika bulan sabit, terang ketika bulan purnama.

  • Disunting oleh SA 02/08/2012

Semburat India

India adalah negeri penuh warna dan budaya. Ragam etnis, bahasa, kepercayaan dan sejarah yang panjang menjadikannya salah satu tempat yang penuh perbedaan. Tidak heran India menjadi salah satu destinasi utama pengelana di dunia. Safir Soeparna membawakan kepada kita beberapa sorotan khazanah dunia ini melalui foto-fotonya yang apik.

Pakaian eksentrik para Sadhu, atau mereka yang memutuskan untuk hanya beribadah selama sisa hidupnya, menjadi pemandangan tersendiri saat saya berada di Varanasi, salah satu kota tersuci umat Hindu di India.

Pakaian eksentrik para Sadhu, atau mereka yang memutuskan untuk hanya beribadah selama sisa hidupnya, menjadi pemandangan tersendiri saat saya berada di Varanasi, salah satu kota tersuci umat Hindu di India.

Hampir semua publikasi foto hanya menampilkan sisi selatan Taj Mahal. Namun menurut saya, sisi timur sang mauseloum tidaklah kalah memukau.

Hampir semua publikasi foto hanya menampilkan sisi selatan Taj Mahal. Namun menurut saya, sisi timur sang mauseloum tidaklah kalah memukau.

Memandangi Golden Temple, atau yang dikenal lokal sebagai Harmandir Sahib, merupakan kenikmatan tersendiri bagi para umat Sikh yang datang berziarah.

Memandangi Golden Temple, atau yang dikenal lokal sebagai Harmandir Sahib, merupakan kenikmatan tersendiri bagi para umat Sikh yang datang berziarah.

Gambar pegunungan Himalaya yang indah ini saya ambil dari balkoni kamar hotel saya di Manali yang hanya seharga tiga puluh ribu rupiah saja semalam.

Gambar pegunungan Himalaya yang indah ini saya ambil dari balkoni kamar hotel saya di Manali yang hanya seharga tiga puluh ribu rupiah saja semalam.

Shimla, kota yang kental akan arsitektur khas Inggris, tidak memperkenankan kendaraan beremisi karbon memasuki area townhall. Alhasil, jasa pengangkutan barang benar-benar dilakoni oleh tenaga manusia.

Shimla, kota yang kental akan arsitektur khas Inggris, tidak memperkenankan kendaraan beremisi karbon memasuki area townhall. Alhasil, jasa pengangkutan barang benar-benar dilakoni oleh tenaga manusia.

Saat berkemah di Triund (2875 m di atas laut), saya menjalin persahabatan dengan pendaki gunung berasal dari Inggris dan Labrador retriever peliharaannya.

Saat berkemah di Triund (2875 m di atas laut), saya menjalin persahabatan dengan pendaki gunung berasal dari Inggris dan Labrador retriever peliharaannya.

Pendaki gunung yang berhasil mencapai Triund dianjurkan untuk berteriak melepaskan perasaan apapun yang dipendam di dalam hati di bukit ini.

Pendaki gunung yang berhasil mencapai Triund dianjurkan untuk berteriak melepaskan perasaan apapun yang dipendam di dalam hati di bukit ini.

Nek Chand Fantasy Rock Garden di Chandigarh mengingatkan saya pada Alice in Wonderland. Taman seluas dua puluh kali lapangan sepakbola ini terbuat dari hasil daur ulang bahan-bahan sisa kontruksi bangunan yang tidak terpakai.

Nek Chand Fantasy Rock Garden di Chandigarh mengingatkan saya pada Alice in Wonderland. Taman seluas dua puluh kali lapangan sepakbola ini terbuat dari hasil daur ulang bahan-bahan sisa kontruksi bangunan yang tidak terpakai.

  • Disunting oleh SA 01/08/2012

© 2017 Ransel Kecil