Bulan: August 2012 (halaman 1 dari 2)

Romantisnya George Town

Pernah dengar pameo “city for the newlyweds and the nearly deads“? George Town di Pulau Penang menurut saya adalah salah satu kota yang pantas mendapat julukan seperti ini. Kotanya yang tidak terlalu besar, tenang, damai, memberikan banyak kejutan yang menyenangkan. Berencana menikah di tahun naga ini? kenapa tidak menghabiskan bulan madu anda di kota ini? Ini dia beberapa titik yang bisa dikunjungi!

Pesona malam Penang Hill

Penang Hill
Penang Hill dari kereta pendaki.
Kereta ini bergerak ke atas dengan pelan, semakin lama semakin cepat dengan sudut ketinggian yang semakin curam. Saya yang memilih duduk di bagian depan kereta hanya bisa menahan napas, antara takut dan terlalu riang. Untung saja kereta ini baru direnovasi sehingga terlihat kuat dan bisa diandalkan, kalau tidak mungkin saya akan berpikiran macam-macam. Namun pikiran itu cepat teralihkan ketika kereta bergerak semakin ke atas, dan pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Klik, klik! Pemandangan itu pun terabadikan dalam jepretan kamera saya.
Sempat ditutup selama beberapa waktu, tahun 2011 kemarin kereta Penang Hill itu kembali dibuka untuk umum. Begitu tiba di atas bukit, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kota George Town dan Pulau Penang akan terhampar luas di hadapan kita. Penang Bridge yang terkenal itupun terlihat seperti garis tipis dari kejauhan, menghubungkan Penang dengan semenanjung Malaysia. Di atas bukit ini pun kita akan menemukan kafe dan hotel, bagi yang berminat untuk menghabiskan waktu lebih lama.
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam.
Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian. Beberapa turis yang datang bersama pasangan, semakin dekat berpelukan. Mungkin selain udara malam yang memang cukup dingin di ketinggian, pasangan ini juga berusaha menyimpan memori romantis ini sebanyak mungkin dalam pikiran mereka. Tidak perlu berkata-kata ketika menikmati pemandangan indah seperti ini, cukup bergandengan tangan dan lihatlah senyum bahagia yang terpancar di muka pasangan. Such a romantic place to share with your beloved ones, right?
Menuju Penang Hill ini cukup menggunakan bus Rapid Penang no. 204 dari Komtar. Tidak usah khawatir harus turun di mana, karena Penang Hill ini adalah pemberhentian terakhir. Siapkan uang pas, sebesar RM2.70 sebelum naik bus ini. Ingat, uang pas ya, karena supir bus tidak akan memberikan kembalian. Nah, setelah membayar, pilihlah tempat duduk dengan nyaman, karena perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 30-40menit dari Pusat Kota. Sekedar ngopi-ngopi di kafe dengan pasangan, atau berminat untuk menghabiskan malam di hotel yang ada di Penang Hill juga bisa menjadi pilihan. Jika hanya menghabiskan waktu, belilah tiket pulang-pergi untuk naik dan turun dengan kereta, sebesar RM30 (dewasa) dan RM15 (anak-anak). Jika berminat menghabiskan malam, cukup beli tiket satu arah saja. Karena tiket yang dibeli hanya berlaku di hari pembelian saja.

Gurney Drive Hawker Centre

Selepas berpetualang mendaki bukit dengan kereta di Penang Hill, sempatkanlah mengisi perut di pusat jajanan yang terletak di pinggir pantai, “Gurney Drive Hawker Centre” namanya. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pusat makanan serba ada ini menyediakan berbagai jenis makanan khas Penang yang memang terkenal dengan wisata kulinernya. Ingin mencoba char kwe tiauw khas Penang yang terkenal? di sini tempatnya. Siap-siap mengantri ya, karena peminat makanan ini cukup banyak. Teman saya saja harus sabar menunggu hampir 15 menit lamanya untuk menunggu giliran memesan makanan ini.
Pasembur
Pasembur.
Penjual pasembur
Penjual pasembur.
Satu lagi makanan yang harus dicoba, yakni “rojak” atau “pasembur”. Bermacam-macam gorengan dipotong dan disiram dengan bumbu merah manis pedas, lengkap dengan irisan timun. Lezat dan unik. Kalau char kwe tiauw tadi bisa dinikmati dengan RM3 saja, maka rojak ini paling tidak harus mengeluarkan RM6, karena harga gorengan RM2 per buah. Semakin banyak gorengan yang kita pesan, ya semakin mahal harganya.
Selepas makan, mari berjalan-jalan di pasar malam dadakan yang ada di sepanjang jalan dekat Gurney Drive Hawker Centre. Ada satu kios yang menjual magnet unik dengan tulisan-tulisan Cina yang lengkap dengan wisdomnya. Sang penjual semangat sekali menerangkan arti dari tulisan-tulisan Cina yang tertera di barang dagangannya. Salah satu teman saya akhirnya membeli satu buah magnet yang bertulisan “Wo Ai Ni”, atau “I Love You”!
Cinderamata magnet
Cinderamata magnet.
Di seberang pasar malam, terdapat jalur pejalan kaki sepanjang pantai yang biasa digunakan penduduk setempat untuk berbagai aktivitas. Ada pemuda yang sibuk berlari, keluarga yang mengajak anak-anaknya makan, dan tentu saja, untuk pasangan-pasangan baru yang ingin menikmati suasana malam kota George Town. Berjalan-jalan sepanjang trotoar, menikmati udara pantai dan suasana malam kota yang ramai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, terdengar menarik bukan?
Menuju Gurney Drive Hawker Centre ini cukup naik bus Rapid Penang no. 103/101/304, ongkosnya RM1.40 dari Komtar. Letaknya tidak jauh dari kota, jadi katakan pada supir tempat tujuan kamu, agar tidak salah turun ya, karena letaknya yang tidak searah dengan jalur tujuan bus (kita harus menyeberang, dan jalan sedikit karena lokasi berada di tikungan jalan). Gurney Drive Hawker Centre ini terletak tidak jauh dari Gurney Plaza dan buka sampai tengah malam.

Semilir angin siang Esplanade

City Hall
City Hall.
Papan informasi bus gratis
Papan informasi bus gratis.
Di hari berikutnya, kamu dan pasangan bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota sepanjang hari. Saya menyebutnya, a heritage walk in a heritage city. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah daerah Padang Lama. Di sini banyak terdapat bangunan-bangunan dengan gaya Victoria yang wajib diabadikan. Lihat saja bangunan City Hall dan Town Hall yang cantik sekali dijadikan latar belakang foto bersama pasangan, seperti di Eropa!
Selepas berfoto, nikmatilah semilir angin siang di taman sepanjang Esplanade sambil duduk-duduk di tepi pantai bersama pasanganmu. Bertukar cerita apa saja dengan pasanganmu sembari menyantap es krim rasa kelapa yang segar, untuk menghilangkan dahaga di tengah panasnya udara kota George Town.
Kali ini saya menyarankan kamu untuk mencoba berkeliling kota dengan bus gratis yang disediakan pemerintah kota George Town. Bus ini berhenti di setiap titik pemberhentian dengan titik-titik menarik di seluruh kota. Untuk menuju City Hall ini, berhentilah di titik pemberhentian no. 17, di dekat dewan kota Penang. Untuk kembali ke Komtar, tunggu lagi bus gratis di titik pemberhentian no. 18, di Esplanade.

Love Chair Pinang Peranakan Mansion

"Kursi cinta"
“Kursi cinta” di Peranakan Mansion.
Peranakan Mansion
Peranakan Mansion.
Terletak di daerah Little India, Penang Peranakan Mansion ini terkenal dengan kebudayaan khas Cina peranakan yang cukup populer di Malaysia dahulu. Alkisah, seorang saudagar Cina kaya-raya menikah dengan perempuan Malaysia dan terlahirlah budaya Cina peranakan yang biasa disebut dengan budaya “baba-nyonya” ini. Cukup membayar RM10, kita dapat berkeliling rumah ini dan mengagumi semua perabotannya yang berkelas serta sejarah rumah ini yang sudah berumur lebih dari 100 tahun lamanya. Saran saya, mintalah bantuan pemandu yang ada untuk lebih memahami arti dari setiap ruangan dan perabotan yang ada di rumah ini.
Satu hal yang unik di rumah ini adalah “love chair” atau “kursi cinta” yang terletak di lantai dua. Love chair ini adalah kursi dari bahan rotan yang biasa dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk berpacaran. Jika sedang berpacaran, mereka akan duduk berhadapan, bertukar cerita saling bertatapan. Namun, jika sedang bermusuhan, mereka akan duduk saling membelakangi, bercakap-cakap tanpa melihat muka pasangan.
Banyak titik foto menarik yang bisa diambil bersama pasangan di tempat ini. Namun, foto yang wajib diambil, tentu saja, pose kamu dan pasangan di love chair legendaris ya!
Menuju ke tempat ini, bisa ditempuh dengan bus gratis, mintalah supir untuk menurunkan kamu di titik pemberhentian no. 3, Little India. Jika terlalu lama menunggu bus, tinggal berjalan kaki tak jauh dari titik pemberhentian no. 18, Esplanade menuju Jalan Gereja. Cek situs web-nya untuk keterangan lebih lanjut.

  • Disunting oleh SA 27/08/2012

Mengintip Sekolah "Laskar Pelangi"

Sekolah Laskar Pelangi berdiri terseok di tanah tanpa ubin, berdinding kayu berlubang. Pencahayaan masuk dari celah-celah di antara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan. Kondisi kelas berantakan, dengan lebah berseliweran. Di luarnya tampak dua buah kayu penyangga karena bangunan nyaris roboh. Di sebelah kanan sekolah ada sumur dan di dekatnya ada balai kecil. Dibangun di atas bukit bekas penambangan timah, sekolah ini menjadi replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk keperluan film Laskar Pelangi. Semua ditata sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi aslinya.
Berada di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur, sekolah Laskar Pelangi adalah simbol dan gambaran sekolah dengan fasilitas minim dan serba kurang ideal. Meski demikian, banyak sekali pesan moral dan semangat hidup pantang menyerah yang kita saksikan dari film ini. Laskar Pelangi bukan hanya menginspirasi semua orang, tetapi telah menunjukkan kepada kita bahwa fasilitas sekolah yang apa adanya atau biasa-biasa saja telah mampu melahirkan peserta didik yang luar biasa.
Sekolah "Laskar Pelangi"
Sekolah “Laskar Pelangi”.
Papan sekolah bertuliskan "Laskar Pelangi"
Papan sekolah bertuliskan “Laskar Pelangi”.
Bangku dan meja belajar
Bangku dan meja belajar.
Turis berkunjung
Turis berkunjung.
Papan penyangga bangunan sekolah
Tiang-tiang penyangga bangunan sekolah.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012

Menikmati Pagi di Krabi

Hujan pagi ini di Jakarta mengingatkan saya pada suatu pagi di Krabi, kota kecil di Thailand selatan. Suara gemeritik hujan di luar, suara fan kipas yang terus menyala sepanjang malam di kamar, dan pemandangan penghuni kamar hostel lainnya yang masih tertidur dengan bertelanjang dada.
Krabi, kota favorit saya selama perjalanan enam hari kemarin di antara kota-kota lain yang saya kunjungi dari Kuala Lumpur, Melaka, dan Phuket. Kota kecil di Thailand Selatan ini mayoritas penduduknya beragama muslim. Walaupun tergolong kota kecil, Krabi menjadi tujuan wisata utama para pejalan di Thailand. Ia punya daya tarik sendiri.
Setelah hampir 12 jam perjalanan menggunakan kereta dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, dilanjutkan empat jam perjalanan dengan van, sampailah saya di Krabi pada sore hari. Sampai di kota, saya dipandu oleh supir van dan dititipkan ke “taxi motor” (ojek) untuk diantarkan ke hostel tempat saya menginap, Pak Up Hostel. To the hostel, we go!
Where are you from?“, cetus bapak ojek itu. “Jakarta, Indonesia!”, jawab saya. “Oh, Indonesia, so you are muslim?” “Yes, I am muslim“, “Me too,” dengan nada yang lebih ceria dia menutup pembicaraan singkat kami. Kurang dari lima menit saya diantarkan dengan baik ke hostel, beliau tidak keberatan saya bayar 20 baht dari yang tadinya dia minta 30 baht.
Pak Up Hostel
Pak Up Hostel.
Keramahan penduduk lokal ini memang sudah saya rasakan sejak pertama menginjakkan kaki di Krabi. Beberapa kali berinteraksi dengan penduduk lokal di sini, mereka memang sangat ramah dengan wisatawan. Staf hostel yang ramah, supir tuk-tuk, petugas binatu, penjaga toko souvenir, sampai pramuniaga kafe tempat saya makan pad thai terenak selama saya di Krabi, mereka semua ramah. Meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, mereka berusaha mengerti apa yang kita bicarakan dan menjawab semampunya. Mungkin mereka sadar kota ini ramai dikunjungi wisatawan, jadi mereka sebisa mungkin berlaku ramah terhadap mereka. Kesan awal yang bagus sebelum akhirnya menutup mata hari itu.
Pagi pertama di Krabi, rintik hujan terdengar dari dalam kamar. Melihat jam menunjukkan pukul 06:00, saya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri. Hujan bertambah deras ketika saya mandi. Oh tidak, jangan kau hambat rencana saya hari ini wahai hujan, gumam saya di kamar mandi. Dan persis ketika saya selesai mandi, hujan ternyata juga berhenti. Mungkin dia tahu saya ingin pergi, menikmati hari, ke Laut Andaman.
Rencananya pagi ini saya akan ikut tur sehari ke Pulau Phi Phi dan pulau-pulau di sekitar Laut Andaman. Tidak sabar, meski cuaca agak mendung. Jam tujuh saya sudah siap untuk pergi. Setelan kaos-celana pendek-sendal jepit dan dry bag saya rasa pas untuk hari ini. Masih ada waktu, pikir saya pagi itu melihat jam dan mengetahui bahwa masih ada satu jam lagi sebelum saya dijemput di hostel oleh staf tur. Penyedia paket tur ini memang menyediakan antar jemput dari hotel/hostel ke pelabuhan di Pantai Au Nang sebelum bertolak menggunakan perahu cepat.
Lalu, jalan-jalanlah saya di sekitar hostel sambil mencari cemilan untuk sarapan. Di Krabi, terdapat hutan bakau yang cukup luas. Ada pula tur mengelilingi hutan bakau dengan sampan atau kano.
Suasana kota Krabi
Suasana kota Krabi di pagi hari.
Hutan bakau
Hutan bakau.
Selesai berjalan-jalan singkat, berangkatlah saya untuk tur sehari ke Pulau Phi Phi dan Laut Andaman. Saya tidak akan bercerita tentang Laut Andaman di tulisan ini. Mungkin akan ada tulisan sendiri mengenai keindahan Laut Andaman. Tapi percayalah, ia indah sekali.
Menginap dua malam di Krabi bukanlah rencana awal saya. Rencana awal saya adalah tinggal di sini semalam untuk kemudian menghabiskan waktu lebih lama di Phuket. Namun, suasana pagi di Krabi ingin saya nikmati sekali lagi. Saya putuskan untuk menginap sehari lagi.
Pagi berikutnya saya bangun dan memutuskan untuk berkunjung ke Tiger Cave (Gua Harimau), sebelum berangkat ke Phuket. Tiger Cave direkomendasikan teman baik saya Willy Irawan, yang juga salah kontributor Ransel Kecil. Setelah saya cek ke staf hostel, ternyata Tiger Cave hanya berjarak sekitar 20 menit menggunakan tuk-tuk dari hostel. Tiger Cave merupakan kawasan kuil di mana para murid belajar untuk menjadi biksu. Konon di sini dulu juga menjadi tempat persembunyian harimau di sebuah gua di lokasi ini, oleh karenanya ia disebut sebagai Tiger Cave.
Selain melihat situs tempat persembunyian harimau tersebut, saya juga tertarik dengan keberadaan patung Buddha di atas bukit di lokasi ini. Patung Buddha tersebut bisa kita temui dengan menaiki 1.237 anak tangga! Bukan anak tangga normal menurut saya, karena di beberapa titik, anak tangga tersebut memiliki kemiringan yang cukup curam.
Saya ke Tiger Cave bersama Irham, seorang pejalan dari Yogyakarta yang kebetulan saya temui di hostel tempat saya menginap. Dia berencana backpacking 10 hari, mulai dari Singapiura dan berakhir di Bangkok, kalau saya tidak salah ingat. Karena dia juga belum ada rencana pagi ini, maka saya ajaklah dia. Kami membayar 50 baht per orang ke pak supir tuk-tuk pagi itu.
1.237 anak tangga ke puncak!
1.237 anak tangga ke puncak!
Patung-patung Buddha
Patung-patung Buddha.
Sejumlah 1.237 anak tangga untuk mencapai puncak adalah perjalanan mendaki yang cukup melelahkan, namun akhirnya kita berhasil menyelesaikannya setelah beberapa kali sempat berpikir untuk menyerah dan turun. Kami menghabiskan waktu setengah jam di atas. Tempatnya memang agak kurang terawat. Mungkin karena saat itu sedang sepi atau kami yang terlalu dini berkunjung.
Setelah sampai di atas juga saya menyesal tidak bangun lebih pagi lagi dan melihat matahari terbit. Sepertinya akan cantik sekali melihat matahari terbit dari sini, karena ini merupakan titik tertinggi di Krabi. Mungkin lain kali.
Puncak Tiger Cave
Puncak Tiger Cave.
Terima kasih Krabi untuk pagi-pagi yang berkesan, meski hanya sempat berjumpa dua kali.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil