Bulan: July 2012 (halaman 1 dari 2)

Roti Isi Ikan Khas Eminonu

Susunan meja kayu berukuran kecil tumpah ruah ke area publik. Tempat duduk pun penuh diduduki ramainya pengunjung yang sedang bersantap siang. Belum lagi terlihat antrian panjang di depan perahu yang terombang ambing di pinggir dermaga. Beberapa pria dengan seragam hitam dan bordiran warna kuning berlomba lomba memanggil pengunjung, “Balik Elmek… Balik Elmek… Balik Elmek…” untuk masuk ke dalam tendanya.
Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar
Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar
Penasaran dengan makanan apa yang disiapkan dan dijual di atas perahu itu, sayapun duduk di anak tangga sambil membuka helai halaman pada puku panduan yang saya bawa. Di halaman itu tertulis:
“The cheapest way to enjoy fresh fish from the waters around Istanbul is to buy a ‘balik ekmek’ (fish sandwich) from a boatman.”
Rupanya secara tidak sengaja saya menemukan penjual roti isi ikan khas Eminonu yang sangat populer di kalangan masyarakat lokal Istanbul. Di sepanjang bibir dermaga Eminonu terdapat beberapa penjual roti isi ikan yang merapatkan perahunya di Teluk Golden Horn. Siang itu saya memilih penjual dengan pengunjung paling banyak, biasanya banyaknya pembeli mencerminkan kualitas dari makanan yang dijual.
Papan harga
Papan harga
Roti isi ikan siap disantap!
Roti isi ikan siap disantap!
Empat orang pembuat roti isi di dalam perahu bekerja dengan cekatan, dua orang memanggang ikan segar, biasanya sejenis ikan kembung yang banyak ditemui di perairan Turki, dan duanya lagi memasukan ikan panggang, irisan selada dan bawang bombai ke dalam roti berukuran setengah kaki. Bergabung dengan antrian di depan perahu, kami pun bergerak sangat cepat. Mungkin karena tidak ada menu lain yang dijual selain roti isi ikan. Memesannya pun sangat sederhana, hanya dengan menyebutkan jumlah roti isi yang mau dibeli dan dengan lincah petugas di depan perahu akan memberikan roti isi yang terbungkus kertas dan menarik bayaran sebesar lima lira per roti isi.
Menikmati roti sambil bersantai
Menikmati roti sambil bersantai
Sultan Ahmed Square
Sultan Ahmed Square
Melihat tempat duduk kosong yang baru saja ditinggalkan pengunjung sebelumnya, saya duduk di kursi rendah di bawah bangunan berstruktur besi yang ditutupi tenda berwarna merah. Tempat yang sangat pas untuk berisitirahat dan bersantap siang dengan pemandangan minaret menghiasi garis cakrawala kota tua Sultan Ahmed. Suasana masih diramaikan dengan kicauan burung camar yang berterbangan.
Roti isi ikan disantap dengan taburan garam dan perasan air jeruk nipis yang sudah tersedia di atas meja. Sesekali penjual minuman datang menawarkan minuman pickle juice, minuman yang terdiri dari irisan beberapa jenis acar sayuran. Terus terang, untuk urusan rasa, saya lebih memilih kebab, tapi roti isi ini patut dicoba apabila anda berkunjung ke Istanbul.

  • Disunting oleh SA 27/072012

Dari Singapura ke Phuket?

Kami mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar perjalanan dari Singapura menuju Phuket, dari seorang pembaca yang terinspirasi perjalanan lintas Asia Tenggara di salah satu artikel kami.
Mudah-mudahan jawaban berikut bisa membantu, tidak hanya yang menanyakan tapi buat semua. Selamat menikmati!

Dari Singapura ke Genting Highlands bagaimana caranya?

Dari Singapura banyak opsi ke Genting Highlands. Pertama, kita harus ke Kuala Lumpur dahulu. Banyak opsi di sini: kereta api, bis atau pesawat. Asumsi ingin menikmati perjalanan, maka kereta api atau bis adalah paling cocok. Namun, ada triknya. Baru-baru ini Singapura memindahkan stasiun kereta api dari Tanjong Pagar ke Woodlands, dekat perbatasan dengan Johor Bahru, Malaysia. Semua kereta api lintas negara berangkat dari sana. Yang kedua, opsi dengan bis antar negara. Namun, kami tak sarankan berangkat langsung dari Singapura karena harganya bisa dua kali lipat. Lebih baik naik bis kota ke Johor Bahru. Ada layanan SBS Transit (bis kota di Singapura) ke Johor Bahru dengan total biaya tak mencapai S$5 per orang. Tujuan akhirnya adalah terminal bis Larkin di Johor Bahru. Dari sini, kita bisa beli tiket bis apa saja ke Kuala Lumpur yang rata-rata bertarif RM35 sampai RM40 (sekitar Rp100.000 – Rp120.000).
Jika waktu menjadi prioritas maka bisa naik pesawat. Tarifnya bervariasi. Terakhir kami cek di AirAsia, sekitar S$43 (sekitar Rp350.000) sekali jalan.
Dari Kuala Lumpur, ada bis resmi Genting Highlands dari Kuala Lumpur Sentral, bertarif RM10.30 sekali jalan. Ada juga opsi paket dengan tiket masuk atraksi-atraksi Genting Highlands.
Bagaimana mencapai Kuala Lumpur Sentral? Dengan kereta api, kita langsung dibawa ke terminal ini. Dengan bis, tanyakan apakah bisa berhenti di terminal ini atau terminal lain (biasanya, Terminal Puduraya). Dari terminal Puduraya akses ke Kuala Lumpur Sentral cukup mudah. Naik LRT (light rail transit) di stasiun Plaza Rakyat, ke arah stasiun Masjid Jamek, turun, lalu sambung ke stasiun KL Sentral.
Dari bandara, asumsi dengan penerbangan AirAsia, cari bis yang mengarah ke KL Sentral. Biayanya sekitar RM10, memakan waktu satu jam.

Bagaimana menuju Phuket dari Genting?

Kembali dulu ke Kuala Lumpur dengan bis yang sama di atas.
Setelah itu, anda bisa naik kereta api ke Hat Yai. Cek biayanya di situs web resmi Keretapi Tanah Melayu. Nama keretanya “Senandung Langkawi”. Ada berbagai kelas dengan tarif berbeda-beda, mulai dari RM26 (sekitar Rp75.000) sampai RM117 (sekitar Rp360.000).
Dari Hat Yai, silakan naik bis ke Phuket.
Jika waktu menjadi prioritas, terbang langsung dari Kuala Lumpur, dan beli tiket pulang pergi.
Estimasi waktu kereta api dari Kuala Lumpur ke Hat Yai adalah 12 jam. Ditambah waktu tempuh bis (dari Genting, dan ke Phuket) kemungkinan bisa menambah waktu menjadi 20 jam.
Kami pernah mengulas perjalanan ke perbatasan Malaysia-Thailand di sini.

Kalau dari Phuket ke Singapura naik apa dan berapa lama?

Ulangi rute di atas.

Ada rekomendasi penginapan murah dan kuliner halal?

Kami belum pernah mengulas penginapan di Phuket, kami sarankan mencari di hostelbookers.com, hostelworld.com atau jika ingin mencoba sesuatu yang berbeda, yaitu menginap di rumah/tempat tinggal orang ala homestay, silakan buka airbnb.com. Ingin penginapan gratis? Coba komunitas CouchSurfing.
Di semua situs itu kita bisa menyaring per lokasi dan per anggaran.
Soal kuliner halal, di Singapura tidak perlu terlalu khawatir. Jika ingin pasti halal, makan di restoran Melayu. Di Malaysia, hampir terjamin halal karena negara muslim. Di Hat Yai, ini ada ulasannya. Untuk Phuket juga ada.
Di internet banyak informasi bertebaran. Google adalah teman terbaik kita.

24 Jam di Melaka

Hari mulai gelap ketika saya dan tiga orang teman tiba di terminal bis Melaka Sentral. Bergegas kami menuju pangkalan taksi di satu sudut, mencari taksi untuk mengantar kami menuju penginapan kami di Jl. Bunga Raya. Taksi di Melaka umumnya serupa, jarang menggunakan argo resmi. Karenanya, kita harus pintar-pintar menawar dan tahu estimasi jarak sehingga tidak tertipu. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet, tarif normal dari Melaka Sentral menuju pusat kota berkisar antara RM10-12 (Rp30.000 – Rp36.000). Namun, karena hari sudah malam, kami pun akhirnya menyepakati tarif sebesar RM15, sedikit lebih mahal dari tarif normalnya. Perjalanan menuju pusat kota hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Setelah meletakkan tas dan membersihkan diri sedikit di penginapan, saya dan ketiga teman bersiap untuk mengunjungi Jonker Street Night Market yang terkenal, yang kabarnya hanya diadakan saat akhir pekan. Jonker Street sendiri dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama lima menit saja dari penginapan kami di Jalan Bunga Raya.
Sebelumnya, saya banyak membaca bahwa lokasi-lokasi wisata di Melaka itu dapat dicapai dengan berjalan kaki. Awalnya saya ragu dan tidak bisa membayangkan, apa benar sekecil itu? Namun, dalam perjalanan menuju Jonker Street yang berjarak lima menit saja, saya sudah menemukan Gereja Xavier yang cantik dan Christ Church yang menjadi ciri khas kota ini.
Keramaian di Jonker Street sudah nampak dari kejauhan, sedikit kontras dengan kondisi kotanya yang sepi menurut penglihatan saya. Sepanjang jalan penuh dengan kios yang menjual berbagai macam barang, mulai dari makanan kecil, sandal, pakaian, kerajinan tangan, hingga produk kecantikan. Di mana-mana nampak pengunjung berbelanja atau sekedar melihat-lihat, baik turis maupun orang lokal. Hiasan khas Cina digantung sepanjang jalan, meskipun pada waktu kami berkunjung bulan Februari tahun 2012, Imlek sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya.
Suasana Jonker Street ketika malam
Suasana Jonker Street ketika malam
Satu hal yang sangat saya sukai dari pasar malam, termasuk di Jonker Street, adalah banyaknya jajanan khas yang jarang ditemui di tempat lainnya. Khusus di sini, jajanan favorit saya adalah sate buah-buahan yang disiram dengan karamel buatan rumahan yang masih hangat, kemudian dikeraskan. Meskipun harganya agak mahal sekitar RM3 per tusuk, saya rela membeli jajanan yang disebut oleh penjualnya sebagai “fruit candy” ini. Makanan lain yang kami cicipi adalah “tornado potato“: irisan keripik kentang buatan rumahan yang ditusukkan ke tusuk sate ukuran raksasa. Tidak seperti keripik kentang pada umumnya, tornado potato ini teksturnya tidak terlalu renyah dan agak alot. Terakhir, kami juga mampir ke penjual gorengan yang selalu menjadi favorit saya dan teman-teman ketika berkunjung ke Singapura dan Malaysia. Gorengan memang tak pernah salah!
Jajanan pinggir jalan
Jajanan pinggir jalan
Bergerak ke salah satu sudut Jonker Street, kami berbelok dan melihat banyak orang mengunjungi suatu lokasi yang kelihatan seperti sebuah taman. Kami pun mendekat, ingin tahu ada apa di taman tersebut. Rupanya, ada sejumlah patung yang banyak dijadikan obyek foto, antara lain patung gajah dan naga yang keduanya seukuran manusia. Selain itu, ada satu patung yang menarik perhatian saya, yakni patung setengah badan seorang pria berotot yang perawakannya persis binaraga seperti Ade Rai! Menurut keterangan yang tertulis, dikatakan bahwa patung tersebut dibuat untuk menghormati Datuk Wira Dr. Gan Boon Leong, yang memiliki predikat sebagai bapak binaragawan di Malaysia. Tanpa buang waktu, kami pun segera mengabadikan foto dengan objek unik tersebut!
Berada di ujung Jonker Street, terdapat sebuah panggung yang cukup besar, dengan seorang perempuan muda menyanyikan lagu berbahasa Mandarin. Deretan kursi plastik yang dijajarkan di depan panggung pun terisi penuh, umumnya oleh kakek dan nenek keturunan Tionghoa yang mengikuti pertunjukan dengan penuh perhatian. Sambil makan es potong rasa buah-buahan yang dijual seharga RM1, saya dan teman-teman pun menonton acara tersebut selama beberapa menit, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Keesokan paginya, kami kembali bergegas menuju Jonker Street untuk mencari makanan khas Melaka, yaitu “Chicken Rice Ball“. Berbekal prinsip “yang ramai pasti enak”, kami pun bergabung dalam antrian di satu rumah makan yang menjual makanan ini. Kami sedikit kebingungan ketika akan memesan, karena rupanya rumah makan tersebut tidak menyediakan menu dan pemilik serta pelayannya hanya bisa berbahasa Mandarin, dengan sedikit Bahasa Inggris yang terbata-bata. Setelah menunjuk-nunjuk meja sebelah, kami pun memesan Hainam Chicken Rice Ball porsi dua orang untuk dimakan berempat. Total biayanya RM12 saja!
Chicken Rice Ball ala Melaka
“Chicken Rice Ball” ala Melaka
Setelah mengisi perut, kami berjalan-jalan di sekitar Jonker Street. Meskipun malamnya baru saja digunakan sebagai lokasi pasar malam, jalan-jalan di Jonker Street terlihat bersih dan rapi. Ada banyak sekali gerai-gerai menarik di sepanjang Jonker Street maupun jalan-jalan tembusannya, hingga rasanya harus sehari penuh menghabiskan waktu di sini. Selain toko-toko lucu, ada banyak sekali tempat-tempat kultural yang dapat dikunjungi di Jonker Street ini, misalnya Mesjid Kampung Keling (tidak terlalu spesial, tapi lumayan untuk dikunjungi karena jaraknya dekat), Baba Nyonya Heritage Museum (tiket masuk sekitar RM10), Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi Temple, Cheng Hoon Teng, dan Sam Po Kong Temple. Yang terakhir ini sayang untuk dilewatkan, karena suasananya tenang dan nyaman sekali. Ketika kami datang, banyak orang tengah bersembahyang.
Dari Jonker Street, kami menyeberangi Sungai Melaka untuk menuju ke Christchurch yang terkenal. Kami mampir ke St. Xavier Church. Gereja cantik ini berdiri di atas tanah yang konturnya tidak rata, sehingga pada awalnya saya dan teman-teman sempat berdebat bahwa gereja tersebut memiliki kemiringan yang tidak wajar, mirip tapi tak seekstrim Menara Pisa di Italia.
Setelah puas melihat-lihat gereja tersebut, kami melewati museum-museum berbayar atas alasan berhemat, dan memilih untuk mendaki St. Paul Hill. Pendakian tersebut cukup melelahkan bagi kami, mengingat kami baru saja mengelilingi Jonker Street sepanjang pagi. Namun, begitu sampai di atas, kami tidak menyesal sedikit pun. Di atas bukit tersebut, ada reruntuhan Gereja St. Paul yang cantik, lengkap dengan pemandangan ke arah kota Melaka. Kami pun duduk-duduk di salah satu reruntuhan jendela, mengistirahatkan kaki sekaligus menikmati sejuknya angin.
Kami sempatkan juga mampir ke bekas reruntuhan A Famosa yang juga terkenal sebagai ikon Melaka. Karena hari sudah mulai sore, kamipun lalu mengambil tas kami di hostel, kemudian kembali ke Christchurch untuk menunggu bis umum yang akan membawa kami kembali ke Melaka Sentral Bus Station dengan tarif RM1 per orang.
24 jam di Melaka yang menyenangkan buat kami!

  • Disunting oleh SA 24/07/2012
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil