Artikel-artikel dari bulan Juni 2012

Memesan Kopi/Teh Ala Singlish

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lengang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.

Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.

Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.

Duduk di satu-satunya meja dengan logo rokok tak tercoret tepat di pinggir jalan, saya pun menikmati segelas es teh susu yang disebut tukang kopi “iced tea“.

Tak berapa lama, sebuah taksi menepi dan memarkirkan kendaraannya. Supir taksi itu duduk di meja yang sama dengan yang saya tempati. Dengan menggunakan bahasa Hokkien, saya mengerti supir taksi itu memesan segelas kopi. Ketika pesanannya datang, segelas kopi itu tidak terlihat seperti kopi hitam, lebih tepatnya seperti kopi susu.

Iseng-iseng saya pun bertanya, “You asked a coffee, didn’t you?”.

Yes, this is the coffee,” jawab si supir taksi.

So it’s not a coffee milk?” lanjut saya.

Sambil tersenyum si supir taksi kembali mengatakan, “No, it is a coffee!”

Supir taksi itupun menjelaskan istilah-istilah yang digunakan orang Singapura ketika memesan kopi atau teh. Di Singapura kalau memesan teh atau kopi berarti sudah otomatis dicampur dengan susu kental manis. Tidak perlu menambahkan kata susu. Berbeda dengan warung kopi di Jakarta. Kopi ya kopi saja, kalau mau ditambah susu berarti kopi susu.

Lain kali, saya pikir, jika ingin memesan kopi atau teh di kopitiam, maka saya harus mematuhi beberapa peraturan istilah berikut:

Kopi/Teh: kopi/teh dicampur dengan condensed milk/susu kental manis. Di Indonesia setara dengan kopi/teh susu.

Kopi-C/Teh-C: kopi dicampur dengan evaporated milk/susu tawar dan gula pasir

Kopi-O/Teh-O: kopi/teh dicampur dengan gula pasir. Di Indonesia setara dengan kopi/teh manis.

Kopi/Teh Kosong: kopi/teh tanpa gula dan susu. Di Indonesia setara dengan kopi/teh tawar/pahit.

Semua kopi dan teh disajikan panas, apabila mau disajikan dingin tinggal ditambahkan kata “Peng” yang berarti es, di akhir seperti Kopi-O Peng.

  • Disunting oleh SA 25/06/2012.

Merlion, Kisah Ikan Berkepala Singa

Konon datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Merlion di malam hari.
Merlion di malam hari.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa. Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Teringat ketika teman yang baru tiba dari Singapura selalu saja membawa cinderamata mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, coklat dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”. Bahkan foto wajib yang harus dimiliki adalah berfoto di depan Merlion yang sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”. Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay.

Terdapat delapan alternatif lokasi baru Merlion Park yang diusulkan saat itu. Pihak pemerintah Singapura menginginkan Merlion tetap berada di sekitar muara sungai Singapura yang memiliki makna sejarah tempat di mana Sri Tri Buana melihat penampakan seekor binatang yang dia anggap sebagai singa sekaligus menjadi cikal bakal nama Negara Singapura. Dengan pemindahan Merlion 120 meter dari tempat aslinya, terlihat semangat jiwa perubahan yang menjadi karakter terbentuknya Singapura.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Tambatan Hati di Ujung Barat Republik

Sejak kecil, saya sudah mengenal dua kota terujung di Indonesia, Sabang dan Merauke. Terima kasih kepada R. Suharjo untuk lagunya, “Dari Sabang sampai Merauke”. Melalui lagu inilah, saya menjadi tahu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jajaran pulau-pulaunya. Sabang di ujung barat republik, tepatnya di Pulau Weh, sebelah barat laut Banda Aceh dan Merauke di ujung timur Papua, bersebelahan dengan negara Papua Nugini.

Sebagai seorang pecinta negeri dan petualang, saya selalu menyimpan hasrat untuk sebisa mungkin menyambangi setiap jengkal negeri ini. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Sabang, sebuah fraktal kecil hasrat tersebut terpenuhi.

Lembayung di Pantai Iboih.
Lembayung di Pantai Iboih.

Menikmati desiran angin semilir di Iboih, mengunjungi titik nol, dan menembus gulita jalanan menuju kota Sabang memberikan pengalaman tak terlupakan. Dan tentunya, sangat menyenangkan untuk kembali diceritakan.

Kami kehabisan tiket kapal cepat di Pelabuhan Ule Lheue pagi itu. Hari itu adalah hari Jumat dan memang sedang libur. Banyak orang yang ingin menyebrang ke Pelabuhan Balohan di Kota Sabang, Pulau Weh.

Karena membludaknya penumpang, penyedia kapal feri menambah satu lagi keberangkatan kapal feri. Saya pun agak lega karena memang agenda aktifitas yang padat, setiap jam yang terbuang pasti berarti.

Kapal terjadwal berangkat jam 10 pagi. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, kapten kapal memutuskan berangkat empat jam kemudian, jam dua siang! Penumpang yang sudah masuk kapal tak bisa keluar lagi karena gerbang kapal memang sudah dinaikkan. Akhirnya kami terpaksa menunggu kapal berangkat di geladak kapal dekat parkiran kendaraan. Maklum, tiket ekonomi.

Kapal merapat di Pelabuhan Balohan sekitar jam empat. Kami langsung menaiki becak motor di depan pelabuhan untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesan di Iboih.

Sebenarnya bisa saja kami memilih taksi Toyota Avanza dengan harga yang tak jauh berbeda. Akan tetapi, menikmati perjalanan dengan becak menelusuri jalanan Pulau Weh pasti memberikan kesan tersendiri.

Putra, supir becak motor saya, sepanjang perjalanan tak lepas bercerita tentang tanah kelahirannya. Beliau mulai dari tempat-tempat yang mesti dikunjungi, oleh-oleh khas Sabang, sampai ke tragedi tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Menurut Putra, Pulau Weh tidak begitu terkena imbas tsunami. Hanya pantai sebelah barat saja yang mendapat efeknya tapi tidak ada korban jiwa di sini. Syukurlah.

Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan berkelok-kelok, naik bukit, dan turun bukit, kami sampai juga di Iboih. Hati langsung bergejolak ingin segera menikmati pantai yang sudah mahsyur di khalayak pejalan dunia.

Setelah terlebih dahulu menaruh barang bawaan di sebuah bungalow kecil yang kami sewa, kami langsung beranjak ke tepian pantai. Menikmati matahari terbenam yang biarpun tak begitu terlihat tapi kehangatannya masih tetap terasa. Sambil menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda. That was definitely the best way to greet the night.

Keesokan harinya, saya bangun pagi sekali untuk ibadah Subuh dan tentunya menunggu matahari datang kembali menyapa sang alam. Belum banyak orang di sekitar pantai Iboih, kalau tidak mau dibilang kosong. Warga sekitar belum memulai harinya pagi itu. Entah, mungkin mereka masih lelah menjamu para turis semalaman.

Matahari pun mulai menjelang. Ia mengumandangkan pagi akan tiba. Saya tak bisa diam dengan kamera dikalungkan dan ponsel di tangan kanan.

Biru air di Pantai Iboih.
Biru air di Pantai Iboih.

Saya sibuk mengabadikan lukisan paling indah Yang Kuasa dengan goresan kuas biru, pirus, kuning, dan oranye yang menyejukkan hati. Lukisan megah pada kanvas langit. Foto dari kamera untuk dokumentasi pribadi, sedang foto dengan ponsel untuk langsung dimasukkan ke Instagram.

Air laut yang jernih terus menggoda saya untuk berenang sambil menikmati pagi. Akhirnya, saya pun melompat tinggi dari jembatan kayu dan… “Byuuur!”

Rasanya ingin sekali berlama-lama mengitari setiap sudut pantai Iboih dari laut. Akan tetapi, kami harus segera bersiap-siap untuk agenda utama hari itu. Agenda yang sudah diimpikan dari jauh-jauh hari. Menyelam!

Kami dipertemukan dengan Mica, warga negara Jerman yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Mica adalah instruktur kami untuk hari itu. Menurut Iskandar, pemilik Rubiah Tirta Divers, penyedia jasa diving yang kami sewa, Mica adalah satu-satunya instruktur yang bebas tugas pagi itu mengingat banyaknya turis lain yang sudah punya jadwal menyelam.

Tak masalah. Ternyata, Mica adalah penyelam dan instruktur yang fasih. Tempat menyelam kami berada di selat antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Setelah terlebih dahulu briefing, kami sudah siap terjun belasan meter di bawah permukaan laut. Here we go!

Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.
Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.

Mica membawa kami ke sebuah bangkai kapal. Jangan bayangkan kapal besar. Ia hanya sebuah perahu nelayan yang sudah tenggelam bertahun-tahun hingga penuh ditumbuhi karang-karang.

Mica mengatakan kalau mau benar-benar menyaksikan bangkai kapal yang besar di perairan Sabang, minimal harus bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter. Wow, saya belum sampai tahap keahlian itu, saya pikir.

Nelayan menjaring tangkapannya.
Nelayan menjaring tangkapannya.

Wah, tiba-tiba ada scorpion fish berenang-renang santai di karang landai. Saya dengan sigap langsung membidikkan kamera ke makhluk cantik ini.

Mica menepuk tangan saya keras sekali ketika ingin menyentuh sekumpulan karang cantik. Saya sontak kaget. Ada apa gerangan? Lalu Mica menunjukkan ada bulu babi yang bersembunyi di balik lubang karang. Untung saja saya tidak sampai terkena jarum beracunnya!

Segerombolan besar ikan-ikan kecil berkumpul di sisi karang yang lain. Mungkin jumlahnya ribuan. Saya kurang tahu nama jenis ikan tersebut. Yang jelas warnanya oranye dengan besar tubuhnya tak lebih besar dari satu ruas jari kelingking. Mereka berputar-putar tak tentu arah tanpa takut akan kedatangan kami.

Saya dibuat kaget ketika Mica tiba-tiba diserang ikan berukuran agak besar. Ternyata, Mica menyelam terlalu mendekat ke karang hingga dianggap mengganggu sarang ikan tersebut. Ikan besar itu langsung menyerang Mica untuk mengusirnya agar menjauh dari sarang. Mica pun kewalahan menghadapi ikan yang sedang marah itu dan hanya bisa menahan serangan ikan dengan kaki kataknya.

Agak mengagetkan tapi itu pengalaman yang sangat seru. Pertama kali saya melihat ikan menyerang penyelam seperti itu. Saya sempat mengabadikan serangan ikan tersebut meski sebenarnya sedikit was-was juga saat itu.

Karena penunjuk oksigen kami sudah sampai di titik merah, Mica memberikan kode untuk berhenti. Ia memutuskan menyudahi penyelaman itu. Terhitung kurang lebih 45 menit kami berada di bawah laut. Empat puluh lima menit yang sangat-sangat mengesankan.

Sayang sekali, agenda penyelaman kami berhenti di sana. Sebenarnya saya masih ingin menyelam lebih lama. Namun apa daya, biaya dan waktu belum mengizinkan. Meskipun begitu, saya berjanji akan kembali suatu saat nanti untuk menyelami lebih banyak keindahan bawah laut di Sabang.

Hari itu, kami masih sempat menikmati sisi pantai Iboih yang lain. Terletak di depan sebuah kompleks bungalow Lisa, hamparan laut di depannya mungkin adalah spot terbaik untuk snorkeling. Kami menghabiskan sore sampai lelah menghampiri.

Meski pengalamannya tak seindah penyelaman pagi tadi, menyelam hamparan lautan Iboih tak pernah membosankan. Saya selalu lupa waktu.

Sebelum malam menjelang, kami menyempatkan diri melihat sunset di titik nol. Dengan motor sewaan, kami berkendara sejauh delapan kilometer lebih ke barat untuk sampai di sana. Banyak tikungan tajam dan berbahaya membuat kami harus sangat berhati-hati. Seorang teman tiba-tiba terjatuh setelah tak dapat mengendalikan laju motornya di kelokan tajam. Untung saja tidak terjadi luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai juga di monumen titik nol. Sebuah monumen yang membuktikan bahwa kami sudah ada di titik paling barat di republik ini. Meski agak kecewa karena kondisi monumen yang kurang terawat, lembayung tetap cantik tersaksi di ujung barat.

Keesokan paginya, kami harus kembali ke Banda Aceh. Jadwal kepal cepat di Pelabuhan Balohan tercatat jam delapan pagi. Kami tak punya banyak waktu di pagi hari namun beruntung karena masih sempat menjemput terbitnya matahari sebelum berangkat ke pelabuhan.

Memang berat meninggalkan semua yang mengesankan di Iboih ini. Tidak hanya di Iboih, keseluruhan Pulau Weh pasti akan membuat kami rindu untuk kembali. Keindahan alamnya, kehangatan masyarakatnya, legit kopinya, atau kelezatan sate guritanya. Tak habis hal-hak menarik yang bisa didapati di sini.

Karena kesemua pengalaman itulah, hati kian tertambat di ujung barat.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Cordial House Hotel, Istanbul

Resepsionis
Resepsionis.

Berbekal dari tulisan tangan di secarik kertas, dengan mudah saya tiba di penginapan Cordial House Hotel, Istanbul. Goresan tinta merah itu memandu saya setibanya di Bandara Internasional Ataturk.

“Beli dua jeton saja sekaligus karena nanti mesti pindah jalur kereta. Jeton itu koin plastik untuk naik tram, satu koin seharga dua lira, bisa beli di mesin atau di petugas yang berdiri di pintu masuk. Dari stasiun bandara ambil jalur merah, lalu pindah ke jalur biru di Zeytinburnu dan turun di stasiun Cemberlitas, satu stasiun sebelum Sultan Ahmed…”

Jalan sedikit sudah di Divanyolu Cadessi
Jalan sedikit sudah sampai di Divanyolu Cadessi.

Cordial House berada di Divanyolu Caddesi (“Jalan” Divanyolu), Peykhane Sokak, No. 19, tepat setelah stasiun Cemberlitas. Terdapat plang jalan yang bertuliskan “Divanyolu Caddesi” yang mengarah ke jalan selebar dua kendaraan yang menurun dengan permukaan jalan berupa susunan batu dan bollard di kedua bahu jalan. Cordial House hanya ditandai dengan dua buah neon sign berbentuk oval berwarna biru dengan tulisan Cordial House Hotel.

Rekomendasi penginapan dari seorang teman yang baru saja mengunjungi Istanbul ternyata tidak salah. Walaupun belum terdaftar di buku panduan Lonely Planet, penginapan ini sangat saya rekomendasikan untu pejalan ketat anggaran yang tidak terlalu suka keramaian turis seperti yang banyak terlihat di kawasan Sultan Ahmed.

Bar
Bar.

Lokasi Cordial House hanya 40 meter dari stasiun Cemberlitas dan Divanyolu Square di mana terdapat hamam terkenal, yakni Cemberlitas Hamami, dan juga tempat Column of Constantine berada. Atraksi utama kota Istanbul seperti Grand Bazaar (200m), Blue Mosque (250m), Basilica Cistern (300m), Haga Sophia (350m), Topkapi Palace (650m) sangat dekat ditempuh dengan berjalan kaki. Bahkan kawasan Eminonu tempat penyeberangan feri ke sisi benua Asia dan kawasan kota modern Beyoglu hanya berjarak beberapa menit dengan menggunakan tram.

Cordial House memiliki kamar single, double, twin, triple, dan quadruple dengan kamar mandi di dalam. Juga tersedia male dorm, female dorm dan mixed dorm yang cukup luas dan kamar mandi bersama di luar. Kekurangannya untuk dormitory hanya tersedia satu colokan listrik yang digunakan secara bergantian di kamar dengan kapasitas delapan orang. Setiap dormitory juga hanya memiliki satu kunci yang digunakan bersama penghuni kamar, orang pertama yang masuk ke kamar harus mengambil di resepsionis, demikian juga orang terakhir yang keluar kamar harus menyerahkan kembali ke resepsionis.

Restoran
Restoran.

Pernah suatu hari ketika saya meminta kunci ke resepsionis, ternyata salah satu penghuni kamar sudah mengambilnya terlebih dahulu, sedangkan pintu kamar masih dalam kondisi terkunci. Akhirnya saya harus mencari kunci tersebut ke kamar mandi sambil berteriak “Anyone has Room 33 key?”. Untungnya saya menginap di male dorm, coba kalau di mixed dorm, mungkin saya akan memasuki kamar mandi wanita juga untuk mencari kunci.

Berbagai fasilitas dan layanan tersedia mulai dari wireless internet (tidak berfungsi untuk BlackBerry), air panas, belajar mempersiapkan kopi Turki, penitipan koper, pemanas ruangan, safety box, dan potongan harga untuk paket tur, pertunjukan whirling dervish dan Turkish bath. Juga tersedia sarapan pagi yang disajikan secara prasmanan di ruang makan yang terletak di lantai bawah tanah dengan menu seperti telur rebus, roti, buah zaitun, berbagai jenis keju dan selai, jus, teh dan kopi Turki. Sarapan disediakan dengan tambahan biaya. Namun, pada saat itu saya memesan melalui agoda.com yang memberikan fasilitas sarapan pagi gratis.

Ruang bersama
Ruang bersama atau “common room“.

Prasmanan sarapan pagi
Prasmanan sarapan pagi.

Secara keseluruhan fasilitas di Cordial House sangat terjaga kebersihan dan kerapihannya. Tatanan desain interior terlihat sederhana dan modern dengan menggunakan permainan warna pada dinding dan langit-langitnya. Codial House juga sangat peka terhadap penggunaan energi listrik. Koridor utama menuju kamar menggunakan sensor gerak yang secara otomatis memadamkan lampu ketika tidak ada orang yang lewat. Menempati bangunan empat lantai, Cordial House dilengkapi dengan lif kecil yang sudah usang, mirip seperti lif barang.

Alamat

Binbirdirek Mh.
Peykhane Caddesi 19
34400 Istanbúl, Turki
Tel.: +90 0212 518 0576
Situs web: www.cordialhouse.com

Peta

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Lubang Sembur Kiama, Australia

Tidak ada di dalam benak saya untuk pergi jauh-jauh keluar kota Sydney. Maklum, saya tidak punya kendaraan pribadi dan sialnya lagi SIM A sudah saya mati. Kakak sayalah yang membawa saya pergi jalan-jalan dan membuka mata saya betapa indahnya Australia ini. Maka saya dibawa ke suatu tempat yang bernama “Kiama Blow Hole“. Dalam Bahasa Indonesia, “blow hole” disebut sebagai “lubang sembur”, sebuah fenomena geologi di mana gua bawah tanah memiliki bukaan di permukaan, sehingga memancurkan air atau gas. Mendengar namanya saja sudah bikin penasaran seperti apa tempat itu.

Pemandangan pertama saat masuk ke kawasan lubang sembur. Tempat ini cukup ramai saat ujung minggu.
Pemandangan pertama saat masuk ke kawasan lubang sembur. Tempat ini cukup ramai saat ujung minggu.

Secara geografis, lokasi ini berada sekitar 110 km dari kota Sydney dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. Pada awal perjalanan, pemandangan selama perjalanan cukup menarik, saya banyak melihat pohon, melewati bukit-bukit berbatu, jembatan yang besar. Namun lama-lama saya merasa bosan karena pemandangannya monoton.

Kebosanan saya terbayarkan begitu sampai di Kiama. Cuaca cerah dengan udara yang dingin menyambut saya begitu turun dari mobil. Begitu memasuki komplek Kiama Blow Hole, anda akan disambut oleh gagahnya mercusuar Kiama. Mercusuar ini diresmikan pada tahun 1887 dan di tahun-tahun berikutnya sampai sekarang, mercusuar Kiama ini masih berfungsi dengan baik. Ini bukti pemerintah setempat sangat peduli dengan bangunan-bangunan bersejarah yang penting untuk dilestarikan.

Mercusuar Kiama
Mercusuar Kiama

Pemandangan dari area parkir sangat indah, di mana kita bisa melihat hamparan laut lepas. Saya merasa bahwa setiap pantai, teluk, atau tempat apapun yang lautnya, pasti dijadikan objek wisata oleh pemerintah setempat. Hebatnya lagi, kebanyakan dari tempat wisata pantai/laut dapat dikunjungi gratis.

Pemandangan dari lahan parkir.
Pemandangan dari lahan parkir Kiama Blow Hole.

Sebelum air menyembur terdengar suara riuhnya air laut, seakan mengumpulkan tenaga untuk keluar dari lubang tersebut. Beberapa detik kemudian, “demmmmm…”, air laut pun tersembur ke atas udara disambut tepuk tangan turis-turis. Peristiwa alam seperti ini mirip dengan “bleduk kuwu” di Desa Grobogan Jawa Tengah. Namun, letupan lumpur di sana sudah tidak tinggi lagi.

Inilah keterangan bagaimana air laut sampai bisa menyembur ke atas.
Inilah keterangan bagaimana air laut sampai bisa menyembur ke atas.

Sudah 30 menit, namun air laut tidak menyembur ke atas. Harap sabar menanti.
Sudah 30 menit, namun air laut tidak menyembur ke atas. Harap sabar menanti.

Para turis masih setia menunggu letupan air. Sudah jauh-jauh dari Sydney kan sayang kalau melewatkan kesempatan melihat fenomena alam yang unik ini.
Para turis masih setia menunggu letupan air. Sudah jauh-jauh dari Sydney, sayang kalau melewatkan kesempatan melihat fenomena alam yang unik ini.

Lega bisa melihat semburan setelah hampir 45 menit menunggu.
Lega bisa melihat semburan setelah hampir 45 menit menunggu.

Jika ditanya, puaskah saya jauh-jauh datang ke Kiama dengan melihat letupan air seperti ini? Baguskah Kiama Blow Hole? Saya akan menjawab dengan positif, puas, karena memang sangat menarik.

Semua informasi tentang Kiama ada di website www.kiama.com.au. Setiap tahunnya Kiama dikunjungi lebih dari 500.000 turis. Wow… Ini hanya Kiama, belum lagi tujuan wisata yang lain di Australia. Tampaknya Australia berhasil mempromosikan pariwisatanya.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

Penangkaran Buaya Lo Than Muk, Medan

Pernah membayangkan halaman belakang anda dijaga 2.800 ekor buaya? Tidak perlu dibayangkan, cukuplah datang ke lokasi penangkaran buaya milik Lo Than Muk di Asam Kumbang, Medan Selayang, Kota Medan.

Taman buaya Asam Kumbang, demikian biasa disebut dapat dicapai dari pusat Kota Medan dengan taksi atau kendaraan sewaan. Beberapa angkutan nampak berseliweran, tapi saya tidak tahu nomor dan jurusannya. Cobalah bertanya di terminal apabila hendak menggunakan angkutan umum.

Memberi makan buaya
Memberi makan buaya

Cukup membayar tiket masuk seharga Rp5000,-, anda sudah dapat melihat lebih dekat buaya di pekarangan belakang rumah. Tidak jinak tentu saja, karena bukan jenis hewan peliharaan biasa semacam kucing atau anjing. Konon penangkaran ini adalah yang terbesar di dunia. Saya tidak tahu apakah Steve Irwin, si penakluk buaya dari Australia itu sudah pernah mampir ke sini atau belum.

Buaya menyeringai
Buaya menyeringai

Halaman belakang rumah seluas dua hektar itu sudah disulap dengan bak-bak penampungan reptilia ganas ini. Sebuah kolam seukuran separuh lahan pun ada melengkapi wisata unik yang ditawarkan. Sayangnya, anda tidak dapat bersampan-ria sembari melemparkan sarapan. Salah-salah malah anda yang jadi sarapan!

Berbagai macam buaya ada di sini, kebanyakan dari jenis buaya muara. Dari buaya yang hitam legam hingga buaya albino alias buaya putih. Dari yang lengkap anggota tubuhnya sampai yang buntung alias tidak berekor pun ada.

Tanda bahaya
Tanda bahaya

Usianya beragam, mulai dari balita hingga diatas 50 tahun. Saat saya datang berkunjung, dua ekor buaya berukuran jumbo berumur 38 tahun tampak tertidur pulas sementara seorang pawang tampak membersihkan kandangnya.

Jika cukup tega, cukup membayar Rp30.000,- untuk seekor itik atau ayam yang dapat anda lemparkan ke kolam tempat buaya-buaya berenang. Ini tentunya lebih menarik daripada hanya melihat buaya yang hilir-mudik, sesekali menguap, dan tertidur atau berenang perlahan. Di atas kolam, dua buah pohon rindang nampak dipenuhi kuntul berjubah putih.

Buaya-buaya bertumpuk
Buaya-buaya bertumpuk

Membeli itik untuk memberi makan buaya
Membeli itik untuk memberi makan buaya

Meski ada banyak buaya di sini, tidak ada satupun yang nasibnya berakhir buruk menjadi tas kulit bermerek. Sang pemilik penangkaran tidak mengizinkan buaya-buaya peliharaannya diperlakukan demikian.

Jika ingin membawa cinderamata, anda bisa berfoto dengan buaya-buaya mini berusia muda atau membeli kerajinan kayu berbentuk buaya yang dijual di kios depan pintu masuk penangkaran.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

Guildford, Surrey, Britania Raya

Inilah kota pertama yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Britania Raya. Guildford terletak 43 km barat daya London. Kota kecil ini sangat mudah dikunjungi baik dari pusat kota London maupun dari Bandara Internasional Heathrow. Berbekal tiket terusan seharga ₤10.50 (dimulai dengan bis bandara menuju stasiun Woking kemudian dari stasiun Woking perjalanan dilanjutkan dengan kereta ke Guildford). Apabila ingin berkunjung dari pusat kota London (stasiun London Waterloo), Guilford bisa dicapai hanya dengan 35 menit perjalanan dan enaknya lagi kita tidak usah takut ketinggalan kereta, karena setiap 15-20 menit pasti ada rangkaian gerbong yang ke sana. Dengan segala kemudahan itu tidak heran Guildford menjadi destinasi favorit untuk liburan singkat para “Londoners” (sebutan untuk penduduk kota London) untuk menghindari hiruk-pikuk kota London terutama saat penghujung minggu.

Bus Bandara ke Woking
Bus Bandara ke Woking

Nama kota Guildford mulai mendunia semenjak tragedi pemboman oleh Gerilyawan Irlandia Utara pada dua pub lokal yang dipenuhi prajurit Ingggris pada tanggal 5 Oktober 1974.

Atraksi utama di Guildford adalah kastil Guildford, High Street dan North Street yang letaknya hanya berjarak satu blok. Yuk, kita kunjungi mulai dari kastil Guidford yang diyakini dibangun sekitar tahun 1086 (926 tahun yang lalu) oleh Raja William Sang Penakluk. Pada abad ke-12 Raja Henry III mengubah kastil ini menjadi istana yang paling megah si seluruh Inggris dan dilengkapi dengan taman-taman yang indah dan masih bisa kita nikmati hingga hari ini.

Kastil Guildford
Kastil Guildford

Puas mengunjungi kastil ini, saya melangkahkan kaki ke High Street yang dipenuhi oleh bangunan yang dibangun pada abad ke-16 dan ke-17. Apabila anda pernah menonton film “A Christmas Carol” yang diperankan oleh Jim Carrey, cobalah berjalan di High Street (terutama malam hari) yang dilapisi batu kerikil dan kiri-kanan diapit oleh bangunan kuno, niscaya kita akan merasa sedang berada dalam film tersebut. Hal tersebut tidak mengherankan, karena cerita A Christmas Carol dikarang oleh penulis Inggris Charles Dickens pada abad ke-18. Bangunan kuno di sini sekarang telah beralih fungsi menjadi toko, pub atau restoran.

High Street
High Street

High Street di malam hari
High Street di malam hari

North Street
North Street

Apabila anda ke Guildford saat penghujung minggu, cobalah berkunjung ke North Street yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima setiap Sabtu dan Minggu pagi. Di sini kita bisa membeli aneka buah dan sayur segar yang di jual langsung oleh para petani maupun makanan/jajanan yang mengugah selera. Hm… lezat! Tidak heran para Londoners menjadikan kota ini sebagai kota peristirahatan favorit mereka.

  • Disunting oleh SA 08/05/2012

© 2017 Ransel Kecil