Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lenggang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.
Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.
Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.




