Bulan: June 2012 (halaman 1 dari 3)

Memesan Kopi/Teh Ala Singlish

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lengang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.
Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.
Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.
Duduk di satu-satunya meja dengan logo rokok tak tercoret tepat di pinggir jalan, saya pun menikmati segelas es teh susu yang disebut tukang kopi “iced tea“.
Tak berapa lama, sebuah taksi menepi dan memarkirkan kendaraannya. Supir taksi itu duduk di meja yang sama dengan yang saya tempati. Dengan menggunakan bahasa Hokkien, saya mengerti supir taksi itu memesan segelas kopi. Ketika pesanannya datang, segelas kopi itu tidak terlihat seperti kopi hitam, lebih tepatnya seperti kopi susu.
Iseng-iseng saya pun bertanya, “You asked a coffee, didn’t you?”.
Yes, this is the coffee,” jawab si supir taksi.
So it’s not a coffee milk?” lanjut saya.
Sambil tersenyum si supir taksi kembali mengatakan, “No, it is a coffee!”
Supir taksi itupun menjelaskan istilah-istilah yang digunakan orang Singapura ketika memesan kopi atau teh. Di Singapura kalau memesan teh atau kopi berarti sudah otomatis dicampur dengan susu kental manis. Tidak perlu menambahkan kata susu. Berbeda dengan warung kopi di Jakarta. Kopi ya kopi saja, kalau mau ditambah susu berarti kopi susu.
Lain kali, saya pikir, jika ingin memesan kopi atau teh di kopitiam, maka saya harus mematuhi beberapa peraturan istilah berikut:
Kopi/Teh: kopi/teh dicampur dengan condensed milk/susu kental manis. Di Indonesia setara dengan kopi/teh susu.
Kopi-C/Teh-C: kopi dicampur dengan evaporated milk/susu tawar dan gula pasir
Kopi-O/Teh-O: kopi/teh dicampur dengan gula pasir. Di Indonesia setara dengan kopi/teh manis.
Kopi/Teh Kosong: kopi/teh tanpa gula dan susu. Di Indonesia setara dengan kopi/teh tawar/pahit.
Semua kopi dan teh disajikan panas, apabila mau disajikan dingin tinggal ditambahkan kata “Peng” yang berarti es, di akhir seperti Kopi-O Peng.

  • Disunting oleh SA 25/06/2012.

Merlion, Kisah Ikan Berkepala Singa

Konon datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.
Merlion di malam hari.
Merlion di malam hari.
Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.
Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.
Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa. Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.
Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Teringat ketika teman yang baru tiba dari Singapura selalu saja membawa cinderamata mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, coklat dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”. Bahkan foto wajib yang harus dimiliki adalah berfoto di depan Merlion yang sedang menyemburkan air.
Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”. Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.
Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.
Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay.
Terdapat delapan alternatif lokasi baru Merlion Park yang diusulkan saat itu. Pihak pemerintah Singapura menginginkan Merlion tetap berada di sekitar muara sungai Singapura yang memiliki makna sejarah tempat di mana Sri Tri Buana melihat penampakan seekor binatang yang dia anggap sebagai singa sekaligus menjadi cikal bakal nama Negara Singapura. Dengan pemindahan Merlion 120 meter dari tempat aslinya, terlihat semangat jiwa perubahan yang menjadi karakter terbentuknya Singapura.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Tambatan Hati di Ujung Barat Republik

Sejak kecil, saya sudah mengenal dua kota terujung di Indonesia, Sabang dan Merauke. Terima kasih kepada R. Suharjo untuk lagunya, “Dari Sabang sampai Merauke”. Melalui lagu inilah, saya menjadi tahu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jajaran pulau-pulaunya. Sabang di ujung barat republik, tepatnya di Pulau Weh, sebelah barat laut Banda Aceh dan Merauke di ujung timur Papua, bersebelahan dengan negara Papua Nugini.
Sebagai seorang pecinta negeri dan petualang, saya selalu menyimpan hasrat untuk sebisa mungkin menyambangi setiap jengkal negeri ini. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di Sabang, sebuah fraktal kecil hasrat tersebut terpenuhi.
Lembayung di Pantai Iboih.
Lembayung di Pantai Iboih.
Menikmati desiran angin semilir di Iboih, mengunjungi titik nol, dan menembus gulita jalanan menuju kota Sabang memberikan pengalaman tak terlupakan. Dan tentunya, sangat menyenangkan untuk kembali diceritakan.
Kami kehabisan tiket kapal cepat di Pelabuhan Ule Lheue pagi itu. Hari itu adalah hari Jumat dan memang sedang libur. Banyak orang yang ingin menyebrang ke Pelabuhan Balohan di Kota Sabang, Pulau Weh.
Karena membludaknya penumpang, penyedia kapal feri menambah satu lagi keberangkatan kapal feri. Saya pun agak lega karena memang agenda aktifitas yang padat, setiap jam yang terbuang pasti berarti.
Kapal terjadwal berangkat jam 10 pagi. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, kapten kapal memutuskan berangkat empat jam kemudian, jam dua siang! Penumpang yang sudah masuk kapal tak bisa keluar lagi karena gerbang kapal memang sudah dinaikkan. Akhirnya kami terpaksa menunggu kapal berangkat di geladak kapal dekat parkiran kendaraan. Maklum, tiket ekonomi.
Kapal merapat di Pelabuhan Balohan sekitar jam empat. Kami langsung menaiki becak motor di depan pelabuhan untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sudah dipesan di Iboih.
Sebenarnya bisa saja kami memilih taksi Toyota Avanza dengan harga yang tak jauh berbeda. Akan tetapi, menikmati perjalanan dengan becak menelusuri jalanan Pulau Weh pasti memberikan kesan tersendiri.
Putra, supir becak motor saya, sepanjang perjalanan tak lepas bercerita tentang tanah kelahirannya. Beliau mulai dari tempat-tempat yang mesti dikunjungi, oleh-oleh khas Sabang, sampai ke tragedi tsunami Aceh di penghujung tahun 2004. Menurut Putra, Pulau Weh tidak begitu terkena imbas tsunami. Hanya pantai sebelah barat saja yang mendapat efeknya tapi tidak ada korban jiwa di sini. Syukurlah.
Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan berkelok-kelok, naik bukit, dan turun bukit, kami sampai juga di Iboih. Hati langsung bergejolak ingin segera menikmati pantai yang sudah mahsyur di khalayak pejalan dunia.
Setelah terlebih dahulu menaruh barang bawaan di sebuah bungalow kecil yang kami sewa, kami langsung beranjak ke tepian pantai. Menikmati matahari terbenam yang biarpun tak begitu terlihat tapi kehangatannya masih tetap terasa. Sambil menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda. That was definitely the best way to greet the night.
Keesokan harinya, saya bangun pagi sekali untuk ibadah Subuh dan tentunya menunggu matahari datang kembali menyapa sang alam. Belum banyak orang di sekitar pantai Iboih, kalau tidak mau dibilang kosong. Warga sekitar belum memulai harinya pagi itu. Entah, mungkin mereka masih lelah menjamu para turis semalaman.
Matahari pun mulai menjelang. Ia mengumandangkan pagi akan tiba. Saya tak bisa diam dengan kamera dikalungkan dan ponsel di tangan kanan.
Biru air di Pantai Iboih.
Biru air di Pantai Iboih.
Saya sibuk mengabadikan lukisan paling indah Yang Kuasa dengan goresan kuas biru, pirus, kuning, dan oranye yang menyejukkan hati. Lukisan megah pada kanvas langit. Foto dari kamera untuk dokumentasi pribadi, sedang foto dengan ponsel untuk langsung dimasukkan ke Instagram.
Air laut yang jernih terus menggoda saya untuk berenang sambil menikmati pagi. Akhirnya, saya pun melompat tinggi dari jembatan kayu dan… “Byuuur!”
Rasanya ingin sekali berlama-lama mengitari setiap sudut pantai Iboih dari laut. Akan tetapi, kami harus segera bersiap-siap untuk agenda utama hari itu. Agenda yang sudah diimpikan dari jauh-jauh hari. Menyelam!
Kami dipertemukan dengan Mica, warga negara Jerman yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia sudah fasih sekali berbahasa Indonesia. Mica adalah instruktur kami untuk hari itu. Menurut Iskandar, pemilik Rubiah Tirta Divers, penyedia jasa diving yang kami sewa, Mica adalah satu-satunya instruktur yang bebas tugas pagi itu mengingat banyaknya turis lain yang sudah punya jadwal menyelam.
Tak masalah. Ternyata, Mica adalah penyelam dan instruktur yang fasih. Tempat menyelam kami berada di selat antara Pulau Weh dan Pulau Rubiah. Setelah terlebih dahulu briefing, kami sudah siap terjun belasan meter di bawah permukaan laut. Here we go!
Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.
Kehidupan laut di lepas pantai Iboih.
Mica membawa kami ke sebuah bangkai kapal. Jangan bayangkan kapal besar. Ia hanya sebuah perahu nelayan yang sudah tenggelam bertahun-tahun hingga penuh ditumbuhi karang-karang.
Mica mengatakan kalau mau benar-benar menyaksikan bangkai kapal yang besar di perairan Sabang, minimal harus bisa menyelam sampai kedalaman 30 meter. Wow, saya belum sampai tahap keahlian itu, saya pikir.
Nelayan menjaring tangkapannya.
Nelayan menjaring tangkapannya.
Wah, tiba-tiba ada scorpion fish berenang-renang santai di karang landai. Saya dengan sigap langsung membidikkan kamera ke makhluk cantik ini.
Mica menepuk tangan saya keras sekali ketika ingin menyentuh sekumpulan karang cantik. Saya sontak kaget. Ada apa gerangan? Lalu Mica menunjukkan ada bulu babi yang bersembunyi di balik lubang karang. Untung saja saya tidak sampai terkena jarum beracunnya!
Segerombolan besar ikan-ikan kecil berkumpul di sisi karang yang lain. Mungkin jumlahnya ribuan. Saya kurang tahu nama jenis ikan tersebut. Yang jelas warnanya oranye dengan besar tubuhnya tak lebih besar dari satu ruas jari kelingking. Mereka berputar-putar tak tentu arah tanpa takut akan kedatangan kami.
Saya dibuat kaget ketika Mica tiba-tiba diserang ikan berukuran agak besar. Ternyata, Mica menyelam terlalu mendekat ke karang hingga dianggap mengganggu sarang ikan tersebut. Ikan besar itu langsung menyerang Mica untuk mengusirnya agar menjauh dari sarang. Mica pun kewalahan menghadapi ikan yang sedang marah itu dan hanya bisa menahan serangan ikan dengan kaki kataknya.
Agak mengagetkan tapi itu pengalaman yang sangat seru. Pertama kali saya melihat ikan menyerang penyelam seperti itu. Saya sempat mengabadikan serangan ikan tersebut meski sebenarnya sedikit was-was juga saat itu.
Karena penunjuk oksigen kami sudah sampai di titik merah, Mica memberikan kode untuk berhenti. Ia memutuskan menyudahi penyelaman itu. Terhitung kurang lebih 45 menit kami berada di bawah laut. Empat puluh lima menit yang sangat-sangat mengesankan.
Sayang sekali, agenda penyelaman kami berhenti di sana. Sebenarnya saya masih ingin menyelam lebih lama. Namun apa daya, biaya dan waktu belum mengizinkan. Meskipun begitu, saya berjanji akan kembali suatu saat nanti untuk menyelami lebih banyak keindahan bawah laut di Sabang.
Hari itu, kami masih sempat menikmati sisi pantai Iboih yang lain. Terletak di depan sebuah kompleks bungalow Lisa, hamparan laut di depannya mungkin adalah spot terbaik untuk snorkeling. Kami menghabiskan sore sampai lelah menghampiri.
Meski pengalamannya tak seindah penyelaman pagi tadi, menyelam hamparan lautan Iboih tak pernah membosankan. Saya selalu lupa waktu.
Sebelum malam menjelang, kami menyempatkan diri melihat sunset di titik nol. Dengan motor sewaan, kami berkendara sejauh delapan kilometer lebih ke barat untuk sampai di sana. Banyak tikungan tajam dan berbahaya membuat kami harus sangat berhati-hati. Seorang teman tiba-tiba terjatuh setelah tak dapat mengendalikan laju motornya di kelokan tajam. Untung saja tidak terjadi luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.
Akhirnya kami sampai juga di monumen titik nol. Sebuah monumen yang membuktikan bahwa kami sudah ada di titik paling barat di republik ini. Meski agak kecewa karena kondisi monumen yang kurang terawat, lembayung tetap cantik tersaksi di ujung barat.
Keesokan paginya, kami harus kembali ke Banda Aceh. Jadwal kepal cepat di Pelabuhan Balohan tercatat jam delapan pagi. Kami tak punya banyak waktu di pagi hari namun beruntung karena masih sempat menjemput terbitnya matahari sebelum berangkat ke pelabuhan.
Memang berat meninggalkan semua yang mengesankan di Iboih ini. Tidak hanya di Iboih, keseluruhan Pulau Weh pasti akan membuat kami rindu untuk kembali. Keindahan alamnya, kehangatan masyarakatnya, legit kopinya, atau kelezatan sate guritanya. Tak habis hal-hak menarik yang bisa didapati di sini.
Karena kesemua pengalaman itulah, hati kian tertambat di ujung barat.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil