Bulan: May 2012 (halaman 1 dari 2)

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 2)

Pagi pertama, setelah sarapan di sebuah restoran di Tsim Sha Tsui (daging asap, telur, roti bakar dan kopi) saya langsung naik MTR menuju Ngong Ping 360 di Tung Chung untuk naik kereta kabel. Ada dua jenis kereta kabel yang tersedia, yaitu yang standar dan yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya. Meski lebih mahal, tentu saja saya memilih yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya (HK$188). Kapan lagi?
Cukup deg-degan juga ketika kereta gantung itu bergerak meninggalkan platform, karena kaki kita hanya menapak pada kaca transparan dan bisa melihat dengan jelas apa yang ada di bawahnya baik itu laut, hutan, bukit, ataupun jalan setapak alami yang sangat panjang dan yang juga berakhir di Ngong Ping Village. Pemandangan di jendela pun cukup menyita nafas. Sebetulnya pengalaman naik kereta kabel saya yang paling berkesan adalah di Genting, Malaysia, karena kereta kabel yang kita naiki masuk ke dalam kabut dan semua menjadi putih dan siapa yang tahu jika ada monster di luar sana seperti dalam film “The Mist“…
Saya pun sampai di Ngong Ping Village dan atraksi utama di sana adalah Giant Buddha, yang memang sangat… besar. Menurut saya sebetulnya tidak terlalu istimewa. Untuk naik ke Giant Buddha tidak dikenakan tarif. Namun jika ingin masuk ke dalamnya, kita harus membayar HK$25. Saran saya tidak perlu sampai masuk karena sepertinya tidak ada apa-apa.
Tangga menuju Giant Buddha
Tangga menuju Giant Buddha
Di sekitar Giant Buddha ada beberapa kelenteng dan lagi-lagi menurut saya tidak terlalu menarik karena mirip-mirip saja dengan kelenteng yang sering saya lihat di Indonesia. Namun, itulah bedanya Indonesia dengan Hong Kong ataupun Singapura. Dinas pariwisata mereka sangat pandai mengemas objek-objek wisatanya sehingga yang biasa-biasa pun menjadi sangat menarik dan ramai dikunjungi. Coba saja kita bayangkan bila ada kereta kabel ada di… Dieng misalnya, pasti lebih spektakuler!
Saya pun tidak berlama-lama dan harus merelakan untuk tidak berbelanja di Tung Chung Mall yang sangat terkenal sebagai surga belanja karena adalah pusat outlet di Hong Kong di mana kita dapat membeli banyak pakaian, sepatu, atau tas bermerek dengan harga miring. Padahal harga barang di pusat kotanya pun sudah lebih murah jika dibandingkan dengan Singapura atau Jakarta.
Causeway Bay
Causeway Bay
Kami singgah di Food Republic untuk memesan nasi panggang dengan potongan babi dan ikan yang ternyata adalah makanan khas Macau, saya meninggalkan Tung Chung di Lantau Island menuju Stanley Market di ujung selatan pulau Hong Kong dengan menggunakan bus nomor 6X dari sekitar Causeway Bay (karena tidak ada MTR menuju Stanley Market). Bus ternyata melewati Ocean Park dan kita dapat melihat roller coaster-nya yang terletak di atas bukit. Sebelum sampai di Stanley Plaza, bus juga bergerak menyusuri pantai dan banyak turis dan penduduk yang berjemur dan berenang di pantai yang tenang tanpa ombak.
Keramaian di Stanley Market
Keramaian di Stanley Market
Kawasan Stanley Market awalnya hanyalah sebuah pasar di mana kita dapat membeli segala macam barang mulai dari pakaian, barang antik, lukisan, aksesoris, dan lainnya. Tentu saja dengan sistem tawar-menawar. Namun karena letaknya yang di pinggir pantai, akhirnya bermunculan pub dan bar di kawasan itu dan juga Stanley Plaza yang terbuka dan mempunyai banyak restoran dan tempat jajanan ringan seperti es krim. Suasananya begitu hidup, santai dan menjadi tujuan favorit warga Hong Kong untuk berlibur. Sayangnya, saya tidak sempat untuk masuk ke dalam Murray House, sebuah gedung bersejarah bergaya Victoria, yang direlokasi dari wilayah Central Hong Kong.
Menjelang malam, saya pun kembali ke pusat kota Hong Kong dan menjelajah daerah Mid-Level. Daerah Mid-Level adalah daerah yang berkontur menanjak di antara pusat kota dan Victoria Peak. Yang paling menarik dari daerah ini adalah adanya moda transportasi berupa eskalator sambung menyambung (baik mendatar atapun menanjak) yang adalah rangkaian eskalator terpanjang di dunia. Kita dapat keluar di tengah-tengah dan menyusuri jalan yang bersilangan dengan eskalator, dan di kiri dan kanan terdapat banyak pub dan restoran berkelas yang menyajikan haute cuisine dan dipenuhi para bule. Jika saja tidak ada huruf-huruf Cina di mana-mana, rasanya seperti tidak berada di Hong Kong lagi namun di sebuah kota di Eropa.
Eskalator di Mid-Levels
Eskalator di Mid-Level
Jalan yang terkenal yang dilewati Mid-Level Escalator adalah Hollywood Road dan SoHo (“south of Hollywood“) di mana seorang teman saya menunjukkan sebuah restoran mi Hong Kong terkenal yang mendapat Michelin Star. Saya pun makan di sana dan memesan mi kuning dengan daging sapi dan bakso ikan yang memang sangat enak dan harganya pun hanya HK$26.
Menjelang tengah malam saya pun kembali ke daerah Tsim Sha Tsui, dan kembali minum teh susu dari Gong Cha, serta mencoba sebuah penganan khas Hong Kong, yaitu waffle yang bulat-bulat dan tergulung, disebut egg balls, ditutup dengan sebuah kue tar mangga dari Maxim’s Cake (yang selalu ada di semua stasiun MTR). Hong Kong adalah surga bagi pencinta mangga karena mangga tersedia sepanjang tahun dan kualitasnya pun sangat baik. Saya ingin sekali mencoba kue mangga bundar seloyang dan sepenuhnya tertutup oleh lembaran-lembaran mangga. Hm…
Keesokannya, saya harus berpegian sendirian karena teman saya harus bekerja. Saya pun memutuskan untuk pergi ke Macau setelah menyantap kue tar susu di jalan sebagai sarapan. Untuk ke Macau, kita dapat mengambil feri dari Sheung Wan. Terminal ferinya pun menyatu dengan MTR station, sesuatu yang muskil terjadi di Indonesia, di mana tidak ada integrasi apapun antar moda transportasi.
Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong
Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong
Saya pun memesan tiket return (HK$291) dan memilih tiket pulang jam tiga sore dari Macau. Sebuah keputusan yang saya sesali kemudian karena saya tidak menyangka Macau semenarik itu. Macau adalah sebuah kota yang sangat aneh menurut saya dan sangat berbeda dengan kota metropolis biasa dan banyak sekali yang dapat dilihat. Selalu terdapat marka dalam bahasa Portugis meskipun saya tidak pernah mendengar sekalipun ada orang yang berbahasa Portugis di sana.
Perjalanan laut ke Macau hanya memakan waktu satu jam. Di terminal feri di Macau kita dapat mengambil peta di pusat pengunjung dan bertanya-tanya ke petugasnya yang dapat berbahasa Inggris. Mayoritas pengunjung akan mengambil bus nomor 3 (MOP$3.10) lalu menuju Ruins of St. Paul dan sekitarnya, termasuk saya. Kita dapat menggunakan HK$ di Macau (yang nilainya sedikit lebih tinggi dari MOP, kira-kira kursnya untuk setiap HK$100 akan mendapatkan MOP$109). Namun jika kita membeli sesuatu yang mahal, ada baiknya menukar HK$ dengan MOP$ karena selisihnya terasa.
Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul
Sesampainya di Rua de Sao Paulo, semua turis pun turun dari bus. Mulailah saya menyusuri jalan yang tidak boleh dilalui mobil itu sampai ke Ruines of St. Paul, sisa reruntuhan gereja St. Paul yang terbakar pada tahun 1835 dan hanya menyisakan sebuah tembok di bagian selatan. Sialnya, hari itu mendung dan hujan pun turun. Turis-turis lari berteduh dan membeli payung. Saya tidak memotret terlalu banyak karena takut terkena air dan akhirnya saya menyusuri pinggir-pinggir dari koridor-koridor di dekat kompleks itu yang terlindung dari air. Terdapat sebuah kafe Portuguese kecil di mana saya memesan caldo verde (sup kentang) dan latte sambil menunggu hujan. Sebelumnya, saya juga sempat membeli dendeng pesanan teman di Pasteleria Kei Koi yang banyak terdapat di jalan kecil menuju St. Paul. Ternyata memang dendeng adalah oleh-oleh Macau yang paling terkenal. Tidak lupa saya menyantap burger babi dan tentunya, Portuguese egg tart.
Beberapa gereja yang ada di Macau juga sangat menarik dan terbuka untuk umum meskipun ada bagian-bagian yang tidak boleh kita masuki, kecuali jika memang ingin berdoa. Ternyata memang ada orang keturunan Portugis (atau campuran Cina-Portugis) di Macau yang dinamakan ras Macanese, dan mereka berbahasa Portugis serta beragama Katolik atau Protestan.
Satu hal yang juga mejadi perhatian saya adalah di pusat kota Macau itu terdapat banyak sekali bunga segar yang sepertinya diganti secara rutin oleh petugas pertamanan kota. Lanskap kota pun menjadi penuh bunga berwarna-warni dan lampu-lampu taman yang digunakan untuk menerangi jalan.
Tidak terasa, waktu saya pun hampir habis dan saya berjalan menyusuri jalan utama menuju halte bus yang ada di tengah-tengah persimpangan besar yang terdapat banyak kasino dan kembali ke terminal feri untuk pulang ke Hong Kong. Lain waktu, saya akan mengunjungi Macau lagi untuk melihat pertunjukan Cirque du Soleil, di samping mungkin mengunjungi kasino-kasino di sana yang pastinya sangat menarik di malam hari.

  • Disunting oleh SA 26/05/2012

Sang Pengelana Bersepeda

Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja.
Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek.
Saya mewawancarai Reza Prabowo, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!
Reza Prabowo

Apakah Reza pernah melakukan perjalanan jauh dengan sepeda? Di mana dan sejauh apa?

Pernah beberapa kali, pertama kali dekat, Jakarta – Bogor – Jakarta, sekitar 120km dalam satu hari tapi banyak berhentinya. Lalu, yang kedua Bandung – Jakarta via Purwakarta, sekitar 180km dalam delapan jam. Pernah juga Jakarta – Anyer – Jakarta, sekitar 250km tapi dua hari, kita menginap di Cilegon. Kalau di luar negeri sempat mencoba bersepeda keliling Amsterdam dan Kopenhagen. Waktu di Helsinki sempat ingin bersepeda tetapi kesulitan mencari pinjaman sepeda! Terakhir sih di Singapura, dapat sekitar 100km keliling-keliling dua hari, dan ternyata negara ini punya jalan pesepeda yang nyaris sempurna menurut saya.

Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan dengan sepeda?

Lebih banyak persiapan mental dibanding fisik. Sebelum perjalanan, usahakan latihan lagi bersepedanya, jadi tidak kaget ketika diajak jarak lumayan jauh. Menurut saya sepeda itu lebih menantang mental pesepedanya dibanding fisiknya. Siap dengan kondisi jalan dan cuaca yang tidak menentu, situasi darurat (bocor ban, kecelakaan) juga penting. Lalu soal logistik, persiapkan sepeda dalam kondisi prima sebelum digunakan, kalau sempat, bawa ke bengkel untuk servis, dan lengkapilah dengan baik sepeda untuk perjalanan dengan tas sepeda atau kardus sepeda karena sering sekali sepeda rusak di perjalanan karena perlengkapan kurang baik. Jangan lupa bawa P3K, mini-tool, tire lever, spare tubes, helm, windbreaker dan lampu sepeda. GPS atau telepon pintar ber-GPS juga sangat membantu di perjalanan.

Idealnya, berapa minimum jarak perjalanan jauh dengan sepeda?

Tergantung sudah biasa seberapa jauh setiap hari. Kalau biasanya bersepeda baru bisa 20km, jangan coba lebih dari dua kali jarak tersebut. Lebih baik sedikit-sedikit naik tapi rutin. Naikkan porsi latihan, minggu pertama 20km, kedua 40km, lalu coba 80km, baru ikut perjalanan sepeda jarak jauh. Kalau sudah percaya diri bisa ikut “Century ride“, bersepeda 160km dalam waktu kurang dari 12 jam or even “randonneuring“, bersepeda 200km lebih. Saya pribadi biasanya sekitar 120km itu masih dapat dinikmati, di atas 150km sudah mulai menyiksa, dan mendekati 200km itu rasanya sudah seperti mau menyerah di jalan. Tetapi setelah sampai tujuan, rasa puas selalu ada dan jangan lupa katakan, “it is always worth the trip!“.

Sepeda apa yang cocok dibeli untuk perjalanan jarak menengah dan jauh?

Idealnya, menurut saya, adalah road bikes, touring bikes atau cyclo-cross. Alasannya sepeda tipe-tipe seperti ini memang dirancang untuk melahap jarak yang jauh dengan efisiensi tinggi, namun memang konsekuensinya permukaan yang dilalui agak terbatas. Bagi yang lebih doyan offroad lebih baik menggunakan mountain bike.

Apa kekurangan dan kelebihan bersepeda sebagai sarana perjalanan dibanding dengan kendaraan bermotor atau dengan kegiatan seperti jalan kaki/trekking, misalnya?

Dengan menggunakan sepeda, kita bisa belajar dan melihat kontur daerah non-urban seperti desa dengan lebih intens, karena kita harus bergelut dengan konturnya itu sendiri. Detilnya menjadi lebih diingat. Berjalan-jalan dengan kendaraan bermotor kurang memberikan detil dan interaksi yang sepadan.
Kalau kata Ernest Hemingway, “It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them. Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle.”

Perjalanan dengan sepeda apa yang menurut Reza menantang di dunia?

Saya bermimpi untuk mencoba rute-rute yang dilewati pada grand tour, seperti Perancis dengan Le Tour de France, salah satu lokasi legendarisnya L’Alpe d’Huez dan mungkin Italia dengan Giro d’Italia.

Sudah berapa lama Reza bersepeda dan apa alasannya? Berapa total jarak ditempuh?

Saya waktu masih SMP tiap hari Minggu diajak ayah keliling kota Medan sekitar 10km tiap perjalanan. Saya baru mulai lagi bersepeda tahun 2010, seketika jatuh cinta dengan sepeda sebagai moda transportasi, olahraga dan rekreasi. Kemudian, saya telah melihat beberapa negara di Eropa membudayakan sepeda sebagai salah satu solusi pemecah masalah transportasi, saya jadi lebih giat lagi, melihat keadaan transportasi di Indonesia yang didominasi kendaraan bermotor. Tahun 2011 saya mencatat 5.400km dalam satu tahun dari aplikasi Endomondo saya.

Pernah bersepeda di luar negeri? Bagaimana rasanya?

Pernah, and sangat fantastis! Kita bisa melihat lebih banyak dengan sepeda. Jalan dan infrastruktur di tempat-tempat yang saya kunjungi lebih berpihak kepada pesepeda dan pejalan kaki, jadi saya merasa sangat nyaman bersepeda, apalagi di Kopenhagen, ibukota pesepeda dunia. Masyarakatnya pun sudah terbiasa melihat sepeda di jalan dan menghargainya. Terlihat ada sinergi yang baik antar berbagai tipe pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pesepeda dan pejalan kaki. Sesuatu yang pastinya bisa kita pelajari untuk Indonesia.
Terima kasih atas waktunya, Reza!

London, Britania Raya

Situs Trip Advisor baru baru ini menobatkan London sebagai “The Best Destination of 2012” pilihan para wisatawan. Bisa dibayangkan, dengan adanya penghargaan tersebut ditambah dengan penyelenggaraan Olimpiade musim panas di bulan Juli & Agustus 2012, kota ini semakin menjadi tujuan utama turis-turis dari seluruh dunia.
Sesuai hukum ekonomi, dengan semakin banyaknya pengunjung akan berimbas ke semakin mahal biaya hidup di sana terutama untuk para wisatawan. Apalagi pemerintah kota London mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 20% yang akan semakin menipiskan dompet dan kartu kredit terutama untuk akomodasi dan makan minum.
Taksi London yang khas itu!
Taksi London yang khas itu!
Namun jangan takut, dengan perencanaan yang matang terutama yang membawa keluarga, kita masih bisa ikut menikmati kota kosmopolitan dengan biaya rendah tetapi menuai hasil semaksimal mungkin karena masih banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati dengan gratis.
Perlu diketahui mayoritas atraksi terkenal berada di area tengah kota terutama di sekitar Sungai Thames yang juga merupakan sungai terpanjang di Inggris. Meskipun semua atraksi di tengah kota, namun jangan membayangkan kita bisa ke mana-mana dengan jalan kaki, maklum pusat kota London itu sangat besar, sekitar 624 km persegi. Sekedar pembanding, luas Singapura sekarang saja sekitar 704 km persegi (sudah termasuk wilayah reklamasi). Cara paling mudah dan efektif untuk mengunjungi semua tempat adalah dengan membeli tiket bis wisata keliling (sightseeing bus) yang berlaku selama 24 jam dari saat kita membeli tiket.
Bis tingkat yang juga ikon London
Bis tingkat yang juga ikon London
Beberapa lokasi menarik dapat dikunjungi di London, terlepas anda membeli tiket bis wisata keliling atau berkelana sendiri, antara lain:

Buckingham Palace

Selain melihat dari dekat tempat tinggal Ratu Elizabeth II, kita juga bisa melihat upacara penggantian pasukan pengawal ratu yang dilaksanakan pukul 11:30 (setiap hari saat musim panas atau setiap dua hari sekali saat musim dingin). Tips untuk melihat upacara penggantian pengawal adalah datang sebelum pukul 11:00 dan berdirilah di depan pagar istana, karena upacaranya dilakukan di dalam halaman istana. Oh ya, apabila kita berkunjung saat musim panas, maka biasanya Buckingham Palace juga membuka diri untuk dikunjungi oleh para wisatawan, tentu dengan catatan apabila sedang tidak ada acara kenegaraan.
Pintu gerbang di Buckingham Palace
Pintu gerbang di Buckingham Palace

St. James’s Park

Taman kerajaan paling tua dan paling terkenal di London sekaligus mungkin juga yang paling indah seluas 23 hektar. Berjarak sangat dekat dari Buckingham Palace, taman ini menjadi destinasi berikutnya setelah upacara penggantian pengawal. Jangan lupa membawa cemilan apabila mengunjungi taman ini, apalagi bila membawa anak kecil, karena di taman yang indah ini anak-anak bisa bermain dengan aneka satwa seperti bebek, angsa, burung dara, bangau bahkan tupai. Untuk para orang tua, kegiatan paling nikmat adalah duduk berselonjor di kursi taman dan mengawasi anak-anak yang bermain dengan satwa yang ada sambil mengistirahatkan kaki yang pegal setelah berdiri sekian lama melihat upacara pergantian pengawal.
Untuk para remaja, jangan lupa mengunjungi Hard Rock Café yang pertama di dunia. Berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari St James’s Park. Di sini, toko merchandise dan kafe tidak berada di gedung yang sama, tetapi dipisahkan oleh satu jalan kecil. Hendak ke toko atau kafe? Siap-siap antri panjang, ya!

Big Ben, The Clock Tower

Big Ben atau The Clock Tower yang selesai dibangun tahun 1859 dan menyatu dengan The Palace of Westminster (House of Parliament) adalah menara jam yang paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di samping Sungai Thames membuat menara ini terlihat sangat ikonik dan bisa dilihat dari jauh.
Big Ben di Palace of Westminster
Big Ben di Palace of Westminster

Westminster Abbey

Gereja tempat pernikahan pangeran William dan Kate. Dengan membeli tiket masuk, pengunjung bisa memasuki gereja tersebut dan membayangkan dirinya menjadi saksi upacara pernikahan terakbar di tahun 2011.
Westminster Abbey
Westminster Abbey

Tower of London

Dibangun tahun 1078 oleh William “Sang Penakluk” sebagai benteng pertahanan. Benteng tersebut sempat beralih fungsi menjadi penjara pada abad ke-11 sebelum dikembalikan menjadi tempat tinggal raja pada abad ke-12. Saat ini, Tower of London menjadi salah satu tujuan favorit apabila mengunjungi London.

Tower Bridge

Terletak di depan Tower of London, merupakan jembatan kebanggaan warga London yang menunjukkan kemajuan teknologi bangsa Inggris. Dibangun selama delapan tahun (1886-1894), pada bagian tengah jembatan bisa diangkat naik turun saat kapal melewatinya dan hebatnya lagi masih berfungsi dengan baik sampai hari ini. Di bagian atas jembatan saat ini difungsikan sebagai ruang pameran Tower Bridge. Dengan harga tiket £8 untuk dewasa dan £3.40 untuk anak-anak, kita bisa masuk ke ruang pameran yang menceritakan proses pembangunan saat itu, termasuk kebanggaan mereka bahwa untuk pembangunan proyek sebesar itu dengan peralatan kerja yang sederhana. Tercatat hanya ada sepuluh korban jiwa yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Hm, saya jadi membandingkan kalau dibangun di Indonesia kira-kira bagaimana ya? Sekedar informasi, saat Perang Dunia ke-II, Tower Bridge ini tidak dibom pihak Nazi via udara karena pasukan angkatan udara Nazi menjadikan jembatan ini sebagai penanda mereka terbang di atas wilayah London.
Tower Bridge
Tower Bridge

Trafalgar Square

Lapangan paling besar dan paling terkenal di London. Selain turis, para demonstran juga menjadikan lapangan ini sebagai tempat mereka menyuarakan aspirasi mereka. Di sini terletak National Gallery yang akan memuaskan para pecinta seni dengan koleksi lebih dari 2.300 lukisan, termasuk karya Van Gogh, Renoir, Claude Monet dan Leonardo da Vinci.

Leicester Square

Pusat hiburan malam di London, di sinilah berkumpulnya semua teater, bioskop, klub malam, kafe dan restoran.

London Eye, City Hall dan St. Mary Axe

Didominasi oleh besi baja dan kaca, ketiga bangunan tersebut menunjukan sisi lain dari wajah London yang terus berbenah menjadi kota modern. Apalagi dengan semakin dekatnya Olimpiade 2012, London juga membangun kereta kabel dari pusat kota ke stadion. Dengan demikian, pengunjung bisa mengunjungi stadion tanpa khawatir terkena macet sambil menyaksikan keindahan kota London dari ketinggian.
London Eye
London Eye dari seberang Sungai Thames

Oxford Street

Kalau di Singapura ada Orchard Road, di Hong Kong ada Ladies Market, maka di London ada Oxford Street yang merupakan pusat perbelanjaan yang sangat ramai tidak hanya di Oxford Street, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Di sini juga terdapat toko Marks & Spencer yang terbesar.

Borough Market

Pusat jajanan serba ada yang buka hanya hari Kamis sampai Sabtu. Untuk penggemar kuliner, pastikan kunjungan anda ke pasar ini. Berhubung pasar ini di kunjungi banyak wisatawan, harap maklum kalau harga yang ditawarkan merupakan harga turis alias mahal…
Borough Market
Borough Market

Harrods

Siapa yang tidak kenal toserba elit ini? Siapa sangka toserba terkenal ini awalnya adalah toko penjual daun teh yang kemudian lambat laun menjelma menjadi toserba yang sangat luas. Untuk pengunjung yang baru pertama kali ke sini dijamin tersasar, yang kemungkinan akan sangat menyenangkan buat kaum hawa. Untuk kaum adam, ada baiknya anda membawa GPS (global positioning system) agar bisa mengungsikan pasangan anda keluar toko sebelum mereka menjadi kalap dan menjebol dompet anda!
Setelah membaca daftar kunjungan di atas yang lumayan panjang, pertanyaan selanjutnya adalah berapa hari yang diperlukan untuk mengunjungi ini semua? Saya sarankan agar tinggal minimal dua sampai tiga malam dengan catatan menginap di tengah kota sehingga efisien dalam hal pengaturan waktu dan mengatur tenaga. Badan dan pikiran pun tetap segar dari pagi hingga malam tiba.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera masukkan Britania Raya sebagai tujuan anda berikutnya, apalagi persyaratan pendaftaran visa Britania Raya bagi warga negara Indonesia saat ini relatif lebih mudah dari sebelumnya.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil