Artikel-artikel dari bulan Mei 2012

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 2)

Pagi pertama, setelah sarapan di sebuah restoran di Tsim Sha Tsui (daging asap, telur, roti bakar dan kopi) saya langsung naik MTR menuju Ngong Ping 360 di Tung Chung untuk naik kereta kabel. Ada dua jenis kereta kabel yang tersedia, yaitu yang standar dan yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya. Meski lebih mahal, tentu saja saya memilih yang memiliki kaca pemandangan di bawahnya (HK$188). Kapan lagi?

Cukup deg-degan juga ketika kereta gantung itu bergerak meninggalkan platform, karena kaki kita hanya menapak pada kaca transparan dan bisa melihat dengan jelas apa yang ada di bawahnya baik itu laut, hutan, bukit, ataupun jalan setapak alami yang sangat panjang dan yang juga berakhir di Ngong Ping Village. Pemandangan di jendela pun cukup menyita nafas. Sebetulnya pengalaman naik kereta kabel saya yang paling berkesan adalah di Genting, Malaysia, karena kereta kabel yang kita naiki masuk ke dalam kabut dan semua menjadi putih dan siapa yang tahu jika ada monster di luar sana seperti dalam film “The Mist“…

Saya pun sampai di Ngong Ping Village dan atraksi utama di sana adalah Giant Buddha, yang memang sangat… besar. Menurut saya sebetulnya tidak terlalu istimewa. Untuk naik ke Giant Buddha tidak dikenakan tarif. Namun jika ingin masuk ke dalamnya, kita harus membayar HK$25. Saran saya tidak perlu sampai masuk karena sepertinya tidak ada apa-apa.

Tangga menuju Giant Buddha
Tangga menuju Giant Buddha

Di sekitar Giant Buddha ada beberapa kelenteng dan lagi-lagi menurut saya tidak terlalu menarik karena mirip-mirip saja dengan kelenteng yang sering saya lihat di Indonesia. Namun, itulah bedanya Indonesia dengan Hong Kong ataupun Singapura. Dinas pariwisata mereka sangat pandai mengemas objek-objek wisatanya sehingga yang biasa-biasa pun menjadi sangat menarik dan ramai dikunjungi. Coba saja kita bayangkan bila ada kereta kabel ada di… Dieng misalnya, pasti lebih spektakuler!

Saya pun tidak berlama-lama dan harus merelakan untuk tidak berbelanja di Tung Chung Mall yang sangat terkenal sebagai surga belanja karena adalah pusat outlet di Hong Kong di mana kita dapat membeli banyak pakaian, sepatu, atau tas bermerek dengan harga miring. Padahal harga barang di pusat kotanya pun sudah lebih murah jika dibandingkan dengan Singapura atau Jakarta.

Causeway Bay
Causeway Bay

Kami singgah di Food Republic untuk memesan nasi panggang dengan potongan babi dan ikan yang ternyata adalah makanan khas Macau, saya meninggalkan Tung Chung di Lantau Island menuju Stanley Market di ujung selatan pulau Hong Kong dengan menggunakan bus nomor 6X dari sekitar Causeway Bay (karena tidak ada MTR menuju Stanley Market). Bus ternyata melewati Ocean Park dan kita dapat melihat roller coaster-nya yang terletak di atas bukit. Sebelum sampai di Stanley Plaza, bus juga bergerak menyusuri pantai dan banyak turis dan penduduk yang berjemur dan berenang di pantai yang tenang tanpa ombak.

Keramaian di Stanley Market
Keramaian di Stanley Market

Kawasan Stanley Market awalnya hanyalah sebuah pasar di mana kita dapat membeli segala macam barang mulai dari pakaian, barang antik, lukisan, aksesoris, dan lainnya. Tentu saja dengan sistem tawar-menawar. Namun karena letaknya yang di pinggir pantai, akhirnya bermunculan pub dan bar di kawasan itu dan juga Stanley Plaza yang terbuka dan mempunyai banyak restoran dan tempat jajanan ringan seperti es krim. Suasananya begitu hidup, santai dan menjadi tujuan favorit warga Hong Kong untuk berlibur. Sayangnya, saya tidak sempat untuk masuk ke dalam Murray House, sebuah gedung bersejarah bergaya Victoria, yang direlokasi dari wilayah Central Hong Kong.

Menjelang malam, saya pun kembali ke pusat kota Hong Kong dan menjelajah daerah Mid-Level. Daerah Mid-Level adalah daerah yang berkontur menanjak di antara pusat kota dan Victoria Peak. Yang paling menarik dari daerah ini adalah adanya moda transportasi berupa eskalator sambung menyambung (baik mendatar atapun menanjak) yang adalah rangkaian eskalator terpanjang di dunia. Kita dapat keluar di tengah-tengah dan menyusuri jalan yang bersilangan dengan eskalator, dan di kiri dan kanan terdapat banyak pub dan restoran berkelas yang menyajikan haute cuisine dan dipenuhi para bule. Jika saja tidak ada huruf-huruf Cina di mana-mana, rasanya seperti tidak berada di Hong Kong lagi namun di sebuah kota di Eropa.

Eskalator di Mid-Levels
Eskalator di Mid-Level

Jalan yang terkenal yang dilewati Mid-Level Escalator adalah Hollywood Road dan SoHo (“south of Hollywood“) di mana seorang teman saya menunjukkan sebuah restoran mi Hong Kong terkenal yang mendapat Michelin Star. Saya pun makan di sana dan memesan mi kuning dengan daging sapi dan bakso ikan yang memang sangat enak dan harganya pun hanya HK$26.

Menjelang tengah malam saya pun kembali ke daerah Tsim Sha Tsui, dan kembali minum teh susu dari Gong Cha, serta mencoba sebuah penganan khas Hong Kong, yaitu waffle yang bulat-bulat dan tergulung, disebut egg balls, ditutup dengan sebuah kue tar mangga dari Maxim’s Cake (yang selalu ada di semua stasiun MTR). Hong Kong adalah surga bagi pencinta mangga karena mangga tersedia sepanjang tahun dan kualitasnya pun sangat baik. Saya ingin sekali mencoba kue mangga bundar seloyang dan sepenuhnya tertutup oleh lembaran-lembaran mangga. Hm…

Keesokannya, saya harus berpegian sendirian karena teman saya harus bekerja. Saya pun memutuskan untuk pergi ke Macau setelah menyantap kue tar susu di jalan sebagai sarapan. Untuk ke Macau, kita dapat mengambil feri dari Sheung Wan. Terminal ferinya pun menyatu dengan MTR station, sesuatu yang muskil terjadi di Indonesia, di mana tidak ada integrasi apapun antar moda transportasi.

Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong
Naik feri menyeberangi Selat Hong Kong

Saya pun memesan tiket return (HK$291) dan memilih tiket pulang jam tiga sore dari Macau. Sebuah keputusan yang saya sesali kemudian karena saya tidak menyangka Macau semenarik itu. Macau adalah sebuah kota yang sangat aneh menurut saya dan sangat berbeda dengan kota metropolis biasa dan banyak sekali yang dapat dilihat. Selalu terdapat marka dalam bahasa Portugis meskipun saya tidak pernah mendengar sekalipun ada orang yang berbahasa Portugis di sana.

Perjalanan laut ke Macau hanya memakan waktu satu jam. Di terminal feri di Macau kita dapat mengambil peta di pusat pengunjung dan bertanya-tanya ke petugasnya yang dapat berbahasa Inggris. Mayoritas pengunjung akan mengambil bus nomor 3 (MOP$3.10) lalu menuju Ruins of St. Paul dan sekitarnya, termasuk saya. Kita dapat menggunakan HK$ di Macau (yang nilainya sedikit lebih tinggi dari MOP, kira-kira kursnya untuk setiap HK$100 akan mendapatkan MOP$109). Namun jika kita membeli sesuatu yang mahal, ada baiknya menukar HK$ dengan MOP$ karena selisihnya terasa.

Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul

Sesampainya di Rua de Sao Paulo, semua turis pun turun dari bus. Mulailah saya menyusuri jalan yang tidak boleh dilalui mobil itu sampai ke Ruines of St. Paul, sisa reruntuhan gereja St. Paul yang terbakar pada tahun 1835 dan hanya menyisakan sebuah tembok di bagian selatan. Sialnya, hari itu mendung dan hujan pun turun. Turis-turis lari berteduh dan membeli payung. Saya tidak memotret terlalu banyak karena takut terkena air dan akhirnya saya menyusuri pinggir-pinggir dari koridor-koridor di dekat kompleks itu yang terlindung dari air. Terdapat sebuah kafe Portuguese kecil di mana saya memesan caldo verde (sup kentang) dan latte sambil menunggu hujan. Sebelumnya, saya juga sempat membeli dendeng pesanan teman di Pasteleria Kei Koi yang banyak terdapat di jalan kecil menuju St. Paul. Ternyata memang dendeng adalah oleh-oleh Macau yang paling terkenal. Tidak lupa saya menyantap burger babi dan tentunya, Portuguese egg tart.

Beberapa gereja yang ada di Macau juga sangat menarik dan terbuka untuk umum meskipun ada bagian-bagian yang tidak boleh kita masuki, kecuali jika memang ingin berdoa. Ternyata memang ada orang keturunan Portugis (atau campuran Cina-Portugis) di Macau yang dinamakan ras Macanese, dan mereka berbahasa Portugis serta beragama Katolik atau Protestan.

Satu hal yang juga mejadi perhatian saya adalah di pusat kota Macau itu terdapat banyak sekali bunga segar yang sepertinya diganti secara rutin oleh petugas pertamanan kota. Lanskap kota pun menjadi penuh bunga berwarna-warni dan lampu-lampu taman yang digunakan untuk menerangi jalan.

Tidak terasa, waktu saya pun hampir habis dan saya berjalan menyusuri jalan utama menuju halte bus yang ada di tengah-tengah persimpangan besar yang terdapat banyak kasino dan kembali ke terminal feri untuk pulang ke Hong Kong. Lain waktu, saya akan mengunjungi Macau lagi untuk melihat pertunjukan Cirque du Soleil, di samping mungkin mengunjungi kasino-kasino di sana yang pastinya sangat menarik di malam hari.

  • Disunting oleh SA 26/05/2012

Sang Pengelana Bersepeda

Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja.

Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek.

Saya mewawancarai Reza Prabowo, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!

Reza Prabowo

Apakah Reza pernah melakukan perjalanan jauh dengan sepeda? Di mana dan sejauh apa?

Pernah beberapa kali, pertama kali dekat, Jakarta – Bogor – Jakarta, sekitar 120km dalam satu hari tapi banyak berhentinya. Lalu, yang kedua Bandung – Jakarta via Purwakarta, sekitar 180km dalam delapan jam. Pernah juga Jakarta – Anyer – Jakarta, sekitar 250km tapi dua hari, kita menginap di Cilegon. Kalau di luar negeri sempat mencoba bersepeda keliling Amsterdam dan Kopenhagen. Waktu di Helsinki sempat ingin bersepeda tetapi kesulitan mencari pinjaman sepeda! Terakhir sih di Singapura, dapat sekitar 100km keliling-keliling dua hari, dan ternyata negara ini punya jalan pesepeda yang nyaris sempurna menurut saya.

Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan dengan sepeda?

Lebih banyak persiapan mental dibanding fisik. Sebelum perjalanan, usahakan latihan lagi bersepedanya, jadi tidak kaget ketika diajak jarak lumayan jauh. Menurut saya sepeda itu lebih menantang mental pesepedanya dibanding fisiknya. Siap dengan kondisi jalan dan cuaca yang tidak menentu, situasi darurat (bocor ban, kecelakaan) juga penting. Lalu soal logistik, persiapkan sepeda dalam kondisi prima sebelum digunakan, kalau sempat, bawa ke bengkel untuk servis, dan lengkapilah dengan baik sepeda untuk perjalanan dengan tas sepeda atau kardus sepeda karena sering sekali sepeda rusak di perjalanan karena perlengkapan kurang baik. Jangan lupa bawa P3K, mini-tool, tire lever, spare tubes, helm, windbreaker dan lampu sepeda. GPS atau telepon pintar ber-GPS juga sangat membantu di perjalanan.

Idealnya, berapa minimum jarak perjalanan jauh dengan sepeda?

Tergantung sudah biasa seberapa jauh setiap hari. Kalau biasanya bersepeda baru bisa 20km, jangan coba lebih dari dua kali jarak tersebut. Lebih baik sedikit-sedikit naik tapi rutin. Naikkan porsi latihan, minggu pertama 20km, kedua 40km, lalu coba 80km, baru ikut perjalanan sepeda jarak jauh. Kalau sudah percaya diri bisa ikut “Century ride“, bersepeda 160km dalam waktu kurang dari 12 jam or even “randonneuring“, bersepeda 200km lebih. Saya pribadi biasanya sekitar 120km itu masih dapat dinikmati, di atas 150km sudah mulai menyiksa, dan mendekati 200km itu rasanya sudah seperti mau menyerah di jalan. Tetapi setelah sampai tujuan, rasa puas selalu ada dan jangan lupa katakan, “it is always worth the trip!“.

Sepeda apa yang cocok dibeli untuk perjalanan jarak menengah dan jauh?

Idealnya, menurut saya, adalah road bikes, touring bikes atau cyclo-cross. Alasannya sepeda tipe-tipe seperti ini memang dirancang untuk melahap jarak yang jauh dengan efisiensi tinggi, namun memang konsekuensinya permukaan yang dilalui agak terbatas. Bagi yang lebih doyan offroad lebih baik menggunakan mountain bike.

Apa kekurangan dan kelebihan bersepeda sebagai sarana perjalanan dibanding dengan kendaraan bermotor atau dengan kegiatan seperti jalan kaki/trekking, misalnya?

Dengan menggunakan sepeda, kita bisa belajar dan melihat kontur daerah non-urban seperti desa dengan lebih intens, karena kita harus bergelut dengan konturnya itu sendiri. Detilnya menjadi lebih diingat. Berjalan-jalan dengan kendaraan bermotor kurang memberikan detil dan interaksi yang sepadan.

Kalau kata Ernest Hemingway, “It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them. Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle.”

Perjalanan dengan sepeda apa yang menurut Reza menantang di dunia?

Saya bermimpi untuk mencoba rute-rute yang dilewati pada grand tour, seperti Perancis dengan Le Tour de France, salah satu lokasi legendarisnya L’Alpe d’Huez dan mungkin Italia dengan Giro d’Italia.

Sudah berapa lama Reza bersepeda dan apa alasannya? Berapa total jarak ditempuh?

Saya waktu masih SMP tiap hari Minggu diajak ayah keliling kota Medan sekitar 10km tiap perjalanan. Saya baru mulai lagi bersepeda tahun 2010, seketika jatuh cinta dengan sepeda sebagai moda transportasi, olahraga dan rekreasi. Kemudian, saya telah melihat beberapa negara di Eropa membudayakan sepeda sebagai salah satu solusi pemecah masalah transportasi, saya jadi lebih giat lagi, melihat keadaan transportasi di Indonesia yang didominasi kendaraan bermotor. Tahun 2011 saya mencatat 5.400km dalam satu tahun dari aplikasi Endomondo saya.

Pernah bersepeda di luar negeri? Bagaimana rasanya?

Pernah, and sangat fantastis! Kita bisa melihat lebih banyak dengan sepeda. Jalan dan infrastruktur di tempat-tempat yang saya kunjungi lebih berpihak kepada pesepeda dan pejalan kaki, jadi saya merasa sangat nyaman bersepeda, apalagi di Kopenhagen, ibukota pesepeda dunia. Masyarakatnya pun sudah terbiasa melihat sepeda di jalan dan menghargainya. Terlihat ada sinergi yang baik antar berbagai tipe pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pesepeda dan pejalan kaki. Sesuatu yang pastinya bisa kita pelajari untuk Indonesia.

Terima kasih atas waktunya, Reza!


London, Britania Raya

Situs Trip Advisor baru baru ini menobatkan London sebagai “The Best Destination of 2012” pilihan para wisatawan. Bisa dibayangkan, dengan adanya penghargaan tersebut ditambah dengan penyelenggaraan Olimpiade musim panas di bulan Juli & Agustus 2012, kota ini semakin menjadi tujuan utama turis-turis dari seluruh dunia.

Sesuai hukum ekonomi, dengan semakin banyaknya pengunjung akan berimbas ke semakin mahal biaya hidup di sana terutama untuk para wisatawan. Apalagi pemerintah kota London mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 20% yang akan semakin menipiskan dompet dan kartu kredit terutama untuk akomodasi dan makan minum.

Taksi London yang khas itu!
Taksi London yang khas itu!

Namun jangan takut, dengan perencanaan yang matang terutama yang membawa keluarga, kita masih bisa ikut menikmati kota kosmopolitan dengan biaya rendah tetapi menuai hasil semaksimal mungkin karena masih banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati dengan gratis.

Perlu diketahui mayoritas atraksi terkenal berada di area tengah kota terutama di sekitar Sungai Thames yang juga merupakan sungai terpanjang di Inggris. Meskipun semua atraksi di tengah kota, namun jangan membayangkan kita bisa ke mana-mana dengan jalan kaki, maklum pusat kota London itu sangat besar, sekitar 624 km persegi. Sekedar pembanding, luas Singapura sekarang saja sekitar 704 km persegi (sudah termasuk wilayah reklamasi). Cara paling mudah dan efektif untuk mengunjungi semua tempat adalah dengan membeli tiket bis wisata keliling (sightseeing bus) yang berlaku selama 24 jam dari saat kita membeli tiket.

Bis tingkat yang juga ikon London
Bis tingkat yang juga ikon London

Beberapa lokasi menarik dapat dikunjungi di London, terlepas anda membeli tiket bis wisata keliling atau berkelana sendiri, antara lain:

Buckingham Palace

Selain melihat dari dekat tempat tinggal Ratu Elizabeth II, kita juga bisa melihat upacara penggantian pasukan pengawal ratu yang dilaksanakan pukul 11:30 (setiap hari saat musim panas atau setiap dua hari sekali saat musim dingin). Tips untuk melihat upacara penggantian pengawal adalah datang sebelum pukul 11:00 dan berdirilah di depan pagar istana, karena upacaranya dilakukan di dalam halaman istana. Oh ya, apabila kita berkunjung saat musim panas, maka biasanya Buckingham Palace juga membuka diri untuk dikunjungi oleh para wisatawan, tentu dengan catatan apabila sedang tidak ada acara kenegaraan.

Pintu gerbang di Buckingham Palace
Pintu gerbang di Buckingham Palace

St. James’s Park

Taman kerajaan paling tua dan paling terkenal di London sekaligus mungkin juga yang paling indah seluas 23 hektar. Berjarak sangat dekat dari Buckingham Palace, taman ini menjadi destinasi berikutnya setelah upacara penggantian pengawal. Jangan lupa membawa cemilan apabila mengunjungi taman ini, apalagi bila membawa anak kecil, karena di taman yang indah ini anak-anak bisa bermain dengan aneka satwa seperti bebek, angsa, burung dara, bangau bahkan tupai. Untuk para orang tua, kegiatan paling nikmat adalah duduk berselonjor di kursi taman dan mengawasi anak-anak yang bermain dengan satwa yang ada sambil mengistirahatkan kaki yang pegal setelah berdiri sekian lama melihat upacara pergantian pengawal.

Untuk para remaja, jangan lupa mengunjungi Hard Rock Café yang pertama di dunia. Berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari St James’s Park. Di sini, toko merchandise dan kafe tidak berada di gedung yang sama, tetapi dipisahkan oleh satu jalan kecil. Hendak ke toko atau kafe? Siap-siap antri panjang, ya!

Big Ben, The Clock Tower

Big Ben atau The Clock Tower yang selesai dibangun tahun 1859 dan menyatu dengan The Palace of Westminster (House of Parliament) adalah menara jam yang paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di samping Sungai Thames membuat menara ini terlihat sangat ikonik dan bisa dilihat dari jauh.

Big Ben di Palace of Westminster
Big Ben di Palace of Westminster

Westminster Abbey

Gereja tempat pernikahan pangeran William dan Kate. Dengan membeli tiket masuk, pengunjung bisa memasuki gereja tersebut dan membayangkan dirinya menjadi saksi upacara pernikahan terakbar di tahun 2011.

Westminster Abbey
Westminster Abbey

Tower of London

Dibangun tahun 1078 oleh William “Sang Penakluk” sebagai benteng pertahanan. Benteng tersebut sempat beralih fungsi menjadi penjara pada abad ke-11 sebelum dikembalikan menjadi tempat tinggal raja pada abad ke-12. Saat ini, Tower of London menjadi salah satu tujuan favorit apabila mengunjungi London.

Tower Bridge

Terletak di depan Tower of London, merupakan jembatan kebanggaan warga London yang menunjukkan kemajuan teknologi bangsa Inggris. Dibangun selama delapan tahun (1886-1894), pada bagian tengah jembatan bisa diangkat naik turun saat kapal melewatinya dan hebatnya lagi masih berfungsi dengan baik sampai hari ini. Di bagian atas jembatan saat ini difungsikan sebagai ruang pameran Tower Bridge. Dengan harga tiket £8 untuk dewasa dan £3.40 untuk anak-anak, kita bisa masuk ke ruang pameran yang menceritakan proses pembangunan saat itu, termasuk kebanggaan mereka bahwa untuk pembangunan proyek sebesar itu dengan peralatan kerja yang sederhana. Tercatat hanya ada sepuluh korban jiwa yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja. Hm, saya jadi membandingkan kalau dibangun di Indonesia kira-kira bagaimana ya? Sekedar informasi, saat Perang Dunia ke-II, Tower Bridge ini tidak dibom pihak Nazi via udara karena pasukan angkatan udara Nazi menjadikan jembatan ini sebagai penanda mereka terbang di atas wilayah London.

Tower Bridge
Tower Bridge

Trafalgar Square

Lapangan paling besar dan paling terkenal di London. Selain turis, para demonstran juga menjadikan lapangan ini sebagai tempat mereka menyuarakan aspirasi mereka. Di sini terletak National Gallery yang akan memuaskan para pecinta seni dengan koleksi lebih dari 2.300 lukisan, termasuk karya Van Gogh, Renoir, Claude Monet dan Leonardo da Vinci.

Leicester Square

Pusat hiburan malam di London, di sinilah berkumpulnya semua teater, bioskop, klub malam, kafe dan restoran.

London Eye, City Hall dan St. Mary Axe

Didominasi oleh besi baja dan kaca, ketiga bangunan tersebut menunjukan sisi lain dari wajah London yang terus berbenah menjadi kota modern. Apalagi dengan semakin dekatnya Olimpiade 2012, London juga membangun kereta kabel dari pusat kota ke stadion. Dengan demikian, pengunjung bisa mengunjungi stadion tanpa khawatir terkena macet sambil menyaksikan keindahan kota London dari ketinggian.

London Eye
London Eye dari seberang Sungai Thames

Oxford Street

Kalau di Singapura ada Orchard Road, di Hong Kong ada Ladies Market, maka di London ada Oxford Street yang merupakan pusat perbelanjaan yang sangat ramai tidak hanya di Oxford Street, tapi juga jalan-jalan di sekitarnya. Di sini juga terdapat toko Marks & Spencer yang terbesar.

Borough Market

Pusat jajanan serba ada yang buka hanya hari Kamis sampai Sabtu. Untuk penggemar kuliner, pastikan kunjungan anda ke pasar ini. Berhubung pasar ini di kunjungi banyak wisatawan, harap maklum kalau harga yang ditawarkan merupakan harga turis alias mahal…

Borough Market
Borough Market

Harrods

Siapa yang tidak kenal toserba elit ini? Siapa sangka toserba terkenal ini awalnya adalah toko penjual daun teh yang kemudian lambat laun menjelma menjadi toserba yang sangat luas. Untuk pengunjung yang baru pertama kali ke sini dijamin tersasar, yang kemungkinan akan sangat menyenangkan buat kaum hawa. Untuk kaum adam, ada baiknya anda membawa GPS (global positioning system) agar bisa mengungsikan pasangan anda keluar toko sebelum mereka menjadi kalap dan menjebol dompet anda!

Setelah membaca daftar kunjungan di atas yang lumayan panjang, pertanyaan selanjutnya adalah berapa hari yang diperlukan untuk mengunjungi ini semua? Saya sarankan agar tinggal minimal dua sampai tiga malam dengan catatan menginap di tengah kota sehingga efisien dalam hal pengaturan waktu dan mengatur tenaga. Badan dan pikiran pun tetap segar dari pagi hingga malam tiba.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera masukkan Britania Raya sebagai tujuan anda berikutnya, apalagi persyaratan pendaftaran visa Britania Raya bagi warga negara Indonesia saat ini relatif lebih mudah dari sebelumnya.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 1)

Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu Special Administrative Region (SAR, sering disebut “Hong Kong SAR”) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.

Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.

Puncak Hong Kong
Puncak Hong Kong

Saya pun mulai mencari-cari tiket untuk berlibur di bulan ini, karena mulai bulan depan sepertinya akan susah untuk mendapat persetujuan cuti. Awalnya saya memilih tujuan wisata lokal yang lebih hemat atau mungkin Bangkok, yang lebih dekat. Namun saya pikir, kapan lagi saya ke Hong Kong dan mendapatkan akomodasi gratis? Walau, pada akhirnya nanti, saya ternyata menyewa kasur ekstra seharga HK$100 per malam, saya anggap itu sangatlah murah.

Akhirnya, saya mendapatkan tiket Jetstar seharga US$320 dari Jakarta ke Hong Kong dengan persinggahan di Singapura. Setelah dikurs, sekitar dua juta sembilan ratus rupiah. Lumayanlah! Namun, yang baru saya betul-betul sadari kemudian adalah, ternyata saya berangkat pagi hari tanggal 21 April dan baru tiba jam 19:45. Ketika di Singapura pun akan susah untuk keluar dari Changi karena hanya transit selama tiga jam.

Tapi, mau bagaimana lagi?

Pada hari H, saya pun berangkat dengan sebuah ranselk (yang saya check-in-kan, karena takut menjadi beban saat transit, dan lagipula saya membawa beberapa bahan cair). Persinggahan di Changi selama tiga jam tidaklah terasa lama. Waktu itu tepat waktu makan siang dan sayapun memesan sebuah roti lapis tuna di restoran cepat saji Subway dan juga segelas smoothies mangga dari Boost Juice. Selepas makan, saya memutuskan untuk melihat Cactus Garden di Terminal 1 yang ternyata cukup menarik dengan berbagai jenis spesies kaktus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Penerbangan ke Hong Kong dari Singapura berlangsung selama tiga setengah jam dan tanpa makanan! Saya cukup kecewa dan menyumpahi diri sendiri karena membuang roti cokelat dari penerbangan sebelumnya (yang ternyata dioperasikan oleh ValuAir). Hasilnya, saya mendarat di Hong Kong dengan kondisi sangat lapar. Suhu di Hong Kong saat itu tidak berbeda jauh dengan Jakarta atau Singapura, tapi memang lebih sejuk.

Saya pun langsung mengisi ulang Octopus Card saya (yang saya pinjam dari seorang teman) sebanyak HK$200, dan diberitahu bahwa tarif naik Airport Express (kereta cepat) ke Central Station adalah HK$100 dengan menggunakan Octopus Card tersebut. Cukup mahal. Namun ternyata yang dinamakan Airport Express bukanlah MTR (kereta rapid) biasa, namun sebuah kereta super cepat yang bertempat duduk seperti kabin pesawat dan hanya berhenti di tiga stasiun, yaitu Tsing Yi (di Lantau Island), Kowloon, dan Hong Kong. Saya harus turun di Hong Kong Station. Aneh juga, saya baru saja mendarat di Hong Kong, dan sekarang saya naik kereta ke Hong Kong. Ternyata sebelumnya saya belum sampai di Hong Kong?

Saya pun bertemu dengan teman saya yang sedang ditugaskan di Hong Kong itu di Central Station (hanya berbeda lantai dengan Hong Kong Station). Target malam itu adalah naik Peak Tram dan tentunya ke The Peak. Namun karena saya sangat lapar, saya pun makan sejenak di McDonald’s di mal yang terhubung dengan Central Station tersebut.

Sehabis makan, karena terburu-buru (The Peak tutup jam 11 malam), kamipun naik taksi ke Peak Tram, yang sebetulnya cukup dekat dengan Central Station, dengan ongkos HK$20 (tarif minimal) dan langsung membeli tiket tram pulang pergi dan tiket ke viewing terrace seharga HK$65. Peak Tram adalah tram yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1888 dan tram-nya pun masih asli (meski sudah tidak terbuat dari kayu lagi) dan berfungsi dengan baik dan terkomputerisasi. Naik Peak Tram adalah pengalaman yang sangat unik karena tram menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat dan seolah-olah gedung-gedung di sekitarnyalah yang miring 45 derajat.

Taksi di Hong Kong
Taksi di Hong Kong

Saya dan teman saya pun langsung bergegas menuju viewing terrace dimana kita dapat melihat pulau Hong Kong dari atas bukit (aslinya bernama Victoria Peak). Dan di atas sana udara cukup dingin (dan sedikit berkabut). Indah sekali gedung-gedung berwarna-warni di wilayah Hong Kong dan Kowloon yang dipisahkan oleh sebuah selat dan juga pemandangan di sekitarnya yang dapat kita lihat 360 derajat. Mungkin lain kali saya akan kembali kesini untuk menikmati matahari terbenam dan sinarnya yang keemasan menerpa gedung-gedung tinggi itu, yang satu-per-satu menyalakan lampunya.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun diusir dari teras karena akan segera tutup, meski masih sempat menikmati plaza yang berada di bawahnya. Kami memutuskan untuk menuju ke hotel (sebetulnya adalah serviced apartment) yang terletak di wilayah Tsim Sha Tsui (baca: Chim Sa Choy) di Kowloon dengan taksi karena tidak yakin MTR masih beroperasi. Kami pun naik taksi dan menyeberangi selat di antara Hong Kong dan Kowloon dengan melewati terowongan yang cukup panjang. Saya pun terkesima karena belum pernah melewati terowongan bawah laut sebelumnya.

Saat turun di Tsim Sha Tsui, betapa kagetnya kami ketika sang supir meminta ongkos sebesar HK$180! Kami pun protes meski sia-sia karena supir taksi kami tidak berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengerti bahwa taksi tersebut adalah taksi dari Hong Kong Island, dan untuk melewati terowongan, dikenakan tarif ekstra sebesar HK$45, dan dia pun harus kembali lagi dari Kowloon melewati terowongan tersebut, sehingga total tarif ekstra sebesar HK$90. Sungguh mahal, mengingat secara jarak, Peak Tram dan Tsim Sha Tsui sangatlah dekat meski terpisah oleh selat Hong Kong. Akhirnya sopir taksi kami pun memberi keringanan sedikit dan kami boleh membayar 160HKD. Kami belajar. Jangan pernah naik taksi jika harus menyeberangi selat Hong Kong. Lebih baik naik kapal feri atau MTR (dan ternyata MTR beroperasi sampai jam satu pagi!). Namun dengan MTR pun, jika kita melewati terowongan itu, akan dikenakan tarif ekstra sebesar kira-kira HK$6.

Sebelum ke hotel, saya dan teman saya sempat mencari makanan pencuci mulut di wilayah Tsim Sha Tsui dan akhirnya menemukan sebuah tempat dan saya memesan mango with sago balls in coconut milk, squid balls, dan Portuguese egg tart, ditutup dengan bubble tea dari tempat favorit kami, Gong Cha.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012

Perayaan Hidup Kedua

Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.

Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.

Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Babi yang Dikurbankan
Babi yang dikurbankan

Saya sampai di terminal bis Lita di kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bis yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bis apa saja tapi ketika kemudian bis yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah, Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bis antar provinsi di Jawa.

Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bis sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan jam lima pagi.

Bis berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernek membangunkan. Dari awal, saya memang meminta sopir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor.

Kernek bis mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, Rp150.000,-, ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari minus bahan bakar.

Alam Toraja yang Asri
Alam Toraja yang asri

Saya tak punya kemewahan akan waktu hari itu. Mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar jam tujuh pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel.

Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.

Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding trademark upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani.

Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor tedong (kerbau) dan tiga ekor bai (babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski ‘cuma’ sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.

Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka, sambil menguyah sesuatu, entah apa, meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong.

Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko.

Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. Puya, nama ‘dunia’ setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.

Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu? Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya.

Kuburan Batu di Desa Lemo
Kuburan batu di Desa Lemo

Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.

“Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,” jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.

Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah.

Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas atoraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu tergantung ukuran.

Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau Baby’s grave di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan.

Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore.

Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau.

“Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,” kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.

Kompleks Rumah Adat Tongkonan
Kompleks rumah adat Tongkonan

Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu.

Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana, hanya terdiri dari 3 ruangan. Kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya.

Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, “Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua?” Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.

Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset.

Lokasi Kuburan Goa di Londa
Lokasi kuburan goa di Londa

Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Walaupun yang terjadi sesajinya kian hari kian menumpuk, tak ada satu pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise, atau tidak, karena takut dihantui sepanjang hidup.

Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. “Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Ke atas hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.”

Luar biasa.

Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.

Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru, mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.

Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.

Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak, dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.

Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, “1000 Places to See Before You Die”. Well, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian.

Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012

Hari Minggu di Tanjung Papuma

Kesibukan kami yang cukup padat setiap minggunya seakan harus ditebus dengan kegiatan melarikan diri dari kejenuhan rutinitas dengan sekedar berkumpul atau mengunjungi tempat-tempat wisata atau hiburan di akhir pekan. Pagi itu saya dan dua sahabat saya memutuskan untuk mengunjungi pantai Tanjung Papuma sebagai kegiatan melepas penat di akhir pekan.
Pantai dengan pasir putih alami dan tidak terlalu jauh dari pusat kota membuat saya tidak pernah bosan ketika berkunjung ke pantai ini. Apalagi hanya bermodalkan tidak lebih dari Rp7.000,- kita bisa memasuki lokasi wisata pantai yang dikelola oleh Perhutani ini. Bahkan jika berkunjung tidak pada akhir pekan atau hari libur, para pengunjung cukup membayar Rp5.000,- saja.

Pantai lengang di Tanjung Papuma
Pantai lengang di Tanjung Papuma

Secara geografis, Tanjung Papuma adalah tempat wisata pantai yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kabupaten Jember sendiri berjarak sekitar 197 km dari ibukota propinsi, Surabaya. Sedangkan jarak Tanjung Papuma dengan pusat Jember sekitar 37 km. Jarak yang relatif dekat ini yang membuat saya yang arek Jember, cukup sering berkunjung ke Tanjung Papuma. Tanjung Papuma sendiri berarti dataran yang menjorok ke laut yang bernama Papuma. Papuma sendiri merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Malikan adalah nama dari pantai ini yang diberikan oleh Perhutani selaku pengelola.

Minggu, 15 April 2012. Pukul 7.30, kami bertiga berangkat dengan menaiki sepeda motor hingga sekitar pukul 8 pagi kami bertiga sampai di persimpangan jalan menuju pantai Tanjung Papuma. “Selamat Datang di Tanjung Papuma”. Baliho berukuran sedang menyambut kedatangan kami pagi ini.

<em>Snorkeling</em> di Tanjung Papuma
Snorkeling di Tanjung Papuma

Dalam perjalanan kali ini, ransel kecil yang saya bawa cukup diisi dengan jas hujan dan peralatan mandi seadanya. Walaupun udara cukup cerah saya tetap membawa jas hujan. Mengingat akhir-akhir ini Jember memang sering diguyur hujan ketika senja dimulai.

Perjalanan menuju Tanjung Papuma belum selesai namun aroma pantai sudah mulai terasa disini. Kami masih harus menempuh perjalanan lagi dari baliho hingga sampai ke Tanjung Papuma. Mulai dari baliho hingga sampai ke loket pantai Tanjung Papuma, setiap pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan jati, perbukitan dan persawahan yang cukup asri. Pemandangan yang cukup menyegarkan mata.

Setelah membeli tiket di loket kami harus melalui jalanan yang menanjak dan menurun mulai dari loket hingga sampai ke pantai Tanjung Papuma. Tidak heran jika hampir di setiap sudut jalan terdapat peringatan pada semua pengendara agar selalu berhati-hati. Hingga akhirnya kami sampai di salah satu pantai kebanggaan masyarakat Jember.

Suasana pantai sangatlah lengang. Pengunjung yang datang pagi itu cukup sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari, hingga salah satu sahabat saya berkata, “Serasa di pantai yang masih terisolasi ya…”.

Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya yang ramai akan pengunjung. Suasana pantai cukup sepi dan hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Saya sempat bingung dengan kondisi pantai pagi itu hingga akhirnya sahabat saya lainnya berkata, “Mungkin karena besok Ujian Nasional dan sekarang masih pagi juga kan”.

Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung berjalan-jalan di pinggir pantai sambil berfoto dengan kamera saku yang saya bawa. Kami menyusuri tiap sudut tempat yang ada di pantai ini. Mulai dari menyusuri bebatuan kokoh di sekitar pantai hingga melihat-lihat penginapan-penginapan yang ada di Tanjung Papuma.

Selain menyuguhkan pasir putih alami, Tanjung Papuma juga memiliki beberapa bukit kecil berupa bebatuan kokoh, sehingga setiap pengunjung yang datang bisa melihat keindahan Tanjung Papuma dari ketinggian sekitar 20 meter ketika mendaki ke atas bukit tersebut.

Setelah merasa cukup puas berjalan-jalan, rugi rasanya jika berkunjung ke pantai tanpa berenang. Berkunjung ke pantai tanpa berenang ibarat sayur tanpa garam. Ada yang kurang rasanya. Apalagi matahari yang semakin terik semakin mendorong kami untuk segera berenang. Pantai Tanjung Papuma yang mempunyai ombak yang cukup besar dan merupakan pantai selatan dengan berbagai mitosnya membuat kami hanya berenang di pinggiran pantai saja. Berenang bersama teman seperjalan dengan didera ombak cukup menyenangkan dan berhasil membantu melepaskan segala kepenatan saya.

Setelah puas berenang, menikmati es kelapa muda di bawah pohon sambil memandangi indahnya pantai yang mulai ramai pengunjung sepertinya juga sangat menyenangkan. Dengan bermodalkan Rp 18.000,00 kami mendapatkan bisa mendapatkan 3 es kelapa muda yang banyak dijual di warung-warung makan sederhana yang menjamur di sekitar pantai Tanjung Papuma. Para pengunjung juga bisa menikmati ikan bakar yang merupakan hasil tangkapan nelayan yang tinggal di sekitar Tanjung Papuma dan diolah di warung-warung makan tersebut.

Tak terasa hari sudah hampir sore, kami memutuskan untuk segera membersihkan diri di kamar mandi umum yang ada di Tanjung Papuma. Terdapat banyak lokasi pemandian umum dan toilet di sekitar pantai, cukup dengan Rp 2.000,00 pengunjung bisa menggunakan air sebanyak mungkin untuk sekali mandi. Setelah membersihkan diri, kami memutuskan untuk segera pulang mengingat sisa waktu pada hari itu akan kami gunakan untuk mempersiapkan rutinitas kami berikutnya.

Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma
Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma

Berat memang untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum menikmati proses tenggelamnya matahari di Tanjung Papuma, namun masing-masing dari kami memiliki urusan masing-masing yang harus dipersiapkan. Meskipun pantai Tanjung Papuma merupakan pantai selatan, namun kondisi geografis yang berupa tanjung memungkinkan pengunjung untuk bisa menikmati proses terbenamnya matahari di Tanjung Papuma.

Setiap perjalanan selalu memiliki arti bagi setiap individu yang melakukannya. Bagi saya perjalanan kali ini semakin membuat saya bersyukur masih bisa menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa indah dan di sisi lain perjalanan ini semakin memperkokoh persahabatan kami.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012

© 2017 Ransel Kecil