Artikel-artikel dari bulan April 2012

Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna

Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai.

Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.

Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.

Secara geografis, Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta. Untuk mencapai ke desa tersebut, perjalanan dengan mobil atau bus memakan waktu 7-8 jam.

Waktu terbaik untuk mengunjunginya memang di bulan-bulan pertengahan, April-September saat musim kemarau tiba. Jalanan menjadi terjal dan becek kala musim hujan. Arus air sungai yang deras pun bisa menjadi penghambat untuk menikmati kearifan alam di sana.

Oleh karena itu, sebenarnya pemilihan waktu awal Februari untuk berkunjung amat beresiko. Hujan masih dengan senang hati mengguyur setiap tempat sesuai jatahnya masing-masing.

Potensi hujan mengacaukan liburan saya semakin besar ketika di Terminal Kampung Rambutan, turun hujan deras saat kami akan berangkat ke Desa Sawarna. Namun, di sini bukan waktunya untuk mundur!

Cuaca masih mendung saat bis kami sudah mendekati lokasi. Karena tak punya kemampuan menari tarian tolak hujan, saya hanya bisa meminta pada Yang Maha Baik untuk tidak mengijinkan hujan turun dua hari ini. Perjalanan ini akan amat sayang jika tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya karena hujan turun. Saya tak ingin pulang hanya dengan kelelahan tanpa sempat menikmati sepercik kemegahan alam di sini.

Sampai juga kami di lokasi. Cuaca tiba-tiba berubah cerah. Seperti ada yang mendengar pinta saya pagi tadi. Alhamdulillah.

Kesan awal, seperti hampir semua destinasi wisata, desa ini menarik. Hanya saja, sisi menariknya pasti berbeda dan saya akan segera mengetahuinya dalam dua hari ke depan.

Ada jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan Desa Sawarna. Kurang lebih panjangnya 20 meter dan hanya cukup untuk dilewati motor. Sungai di bawah jembatan agak dangkal. Arusnya tak begitu deras. Terlihat banyak juga anak-anak kecil mandi atau sekedar bermain di sana.

Masuk ke lingkungan desa, sudah ada kepala desa (setidaknya, begitulah pengamatan saya, atau mungkin beliau hanya petugas yang diminta untuk mengumpulkan “tarif masuk”). Beliau menunggu di sebuah rumah-rumahan kayu, dan meminta tarif masuk Rp. 2000 per tamu untuk sekali kunjungan. Murah sekali.

Kami berjalan menuju homestay yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, sisi-sisi modernitas tercermin dibalik tembok-tembok rumah warga di sini.

Jalanan setapak desa ini sudah disemen. Walaupun beberapa sisi jalan desa masih tanah, tetapi kemajuan kental terlihat. Hampir semua rumah dibuat permanen, listrik juga sudah masuk ke desa, dan beberapa penduduk sudah memiliki motor sendiri.

Sampai di homestay, saya cukup terkejut dengan kondisi homestay yang akan kami inapi semalam ini. Rumahnya cukup besar, bahkan sangat besar, untuk ukuran desa. Fasilitasnya pun lengkap dengan meja pingpong dan lapangan voli. Awalnya, saya berpikir hanya akan menginap di rumah warga yang sederhana. Bagaimanapun juga, homestay yang nyaman ini adalah kejutan yang amat mudah dinikmati.

Desa ini masih seperti desa kebanyakan, di tengah sawah dan terlintasi sungai. Meski begitu, masyarakatnya sama sekali tidak konservatif. Mereka sudah berpikiran maju untuk menjadikan potensi pariwisata desanya menjadi penghidupan. Banyak sekali rumah-rumah penduduk dijadikan homestay. Beberapa masyarakat bahkan memiliki profesi sampingan menjadi pemandu wisata.

Pak Saep, pemandu wisata kami, berpendapat senada, “Ini semua bukan bantuan pemerintah. Masyarakat sendiri yang punya inisiatif menjadikan desa jadi kampung wisata.”

Agenda kami padat. Maklum, hanya dua hari dan cukup banyak tempat yang mesti dikunjungi. Alhasil, setelah beristirahat sebentar, kami memulai trekking ke Goa Lalay.

Sawah menghijau di Desa Sawarna
Sawah menghijau di Desa Sawarna

Di siang yang cukup terik, kami menelusuri sawah-sawah membujur. Seperti bunga yang akan merekah, sawah yang kami lewati masih hijau. Sejauh mata memandang, hanya hijau menentramkan yang kami lihat. Beberapa kali bertemu petani ramah yang menyambut kami dengan dialek Sunda mereka yang kental.

Mudah tak selamanya kami lewati. Dua kali kami harus berusaha melawan arus deras sungai. Untung saja sungainya tak dalam. Meski begitu, harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Bawaan kamera dan ponsel bisa dalam bahaya.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di destinasi pertama, Goa Lalay. Lalay menurut bahasa Sunda artinya kelelawar. Pak Saep mengatakan goa ini penuh kelelawar kala malam menjelang. Saat Maghrib menjelang Isya, biasanya gerombolan kelelawar ini keluar dari sarangnya.

Ada sungai kecil yang mengalir dari dalam goa ini. Sayangnya, berhubung musim hujan, aliran air pun lebih deras dari biasanya. Kalau dilihat dari luar, memang sepertinya tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Saya pikir sayang sekali sudah jauh-jauh, tapi tidak melihat stalaktit Goa Lalay yang konon memang terkenal. Akhirnya, saya dan beberapa teman memaksakan diri masuk. Walau awalnya agak sulit karena bebatuan licin ditambah arus yang deras, justru air menjadi agak tenang ketika sampai di dalam.

Di dalam, tak terlihat ada kelelawar satu pun. Menurut Pak Saep, mereka bersarang terlalu ke dalam. Kondisi di dalam goa tidak memungkinkan kita untuk menelusuri lebih ke dalam. Tak berjodoh dengan para lalay rupanya.

Setidaknya, stalaktit-stalaktit tadi sudah mau bercengkerama dengan kami.

Selepas dari Goa Lalay, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati pematang-pematang sawah, bukit-bukit kecil, dan tak ketinggalan jalanan penuh lumpur. Beberapa teman sangat kelelahan, apalagi yang perempuan. Banyak juga tragedi-tragedi kecil, seperti ada yang tercemplung ke sawah, terpeleset ketika jalan turun, atau sekedar terkilir saat menapak.

Tapi saya yakin, semua kelelahan dan kesialan itu terbayar ketika telapak sudah bersentuhan dengan pasir pantai.

Kembali mendengar deru ombak dan menikmati aliran air laut di sela-sela kaki memberi kenikmatan tersendiri. Untuk saya, pantai tak pernah gagal memberi kesan menawan.

Dari sana, Karang Taraje sudah terlihat amat dekat. Namun sayang, sepertinya saya belum diizinkan mampir di sana. Jalanan menuju ke sana dijaga segerombolan anjing penjaga ternak yang terkenal ganas. Daripada mencari masalah, lebih baik mengurungkan niat pergi untuk mendekat.

“Taraje” dalam bahasa setempat artinya tangga. Mudah ditebak kenapa dinamakan demikian: bentuk karangnya memang menyerupai tangga. Kalau memandang dari arah pantai, sisa air di karang dari tabrakan ombak seakan bergerak, bertahap, menuruni anak tangga.

Beberapa penduduk terlihat sedang memancing dengan cara yang unik. Dengan seutas bambu, mereka memancing agak ke tengah laut sambil mendera ombak. Ikan yang didapat pun cuma ikan-ikan kecil. Memang bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri.

Kami harus menaiki bukit yang cukup terjal untuk sampai ke agenda terakhir sekaligus puncak, hari itu. Menunggu sang surya terbenam di Tanjung Kelayar. Sebenarnya kalau enggan menaiki bukit, melewati jalan memutar juga bisa dilakukan. Tinggal memilih, lebih senang jalan berbatu dan licin atau jalanan menanjak yang juga licin.

Akhir hari itu menjadi sempurna ketika matahari akan mengucap salam pamit pada semesta. Indahnya tak terucap, cantiknya tak terungkap. Benar-benar pemandangan luar biasa sebagai hadiah bagi kami yang sudah rela berpeluh demi sampai di sini. Terasa tenang sekali perasaan. Seakan kami tak mau mengijinkan matahari pergi begitu cepat.

Cuaca cerah sehari tadi membuat sempurna spektrum peninggalan sang surya. Lukisan paling cantik satu semesta dari Yang Kuasa. Membuat insan-insan lebih merasakan makna mendalam akan malam. Terang tak selamanya jaya, ada waktu masing-masing seperti juga manusia yang tak selamanya merasakan kenikmatan.

Senja di Karang Taraje
Senja di Karang Taraje

Sambil menikmati semangkuk mi rebus dan segelas es kelapa, saya terduduk santai di pasir putih. Bercengkerama dengan teman seperjalan. Tak lupa mendirikan tripod sebagai penyangga kamera. Kami banyak mengambil gambar sampai lupa waktu. Cahaya senja semakin menghilang. Kami mesti segera beranjak pulang.

Esok paginya kami menuntaskan agenda perjalanan ini dengan mengunjungi Pantai Ciantir. Dari perkampungan warga tempat lokasi homestay, bisa dicapai dengan berjalan kaki 10 menit. Pasir putih sejauh mata memandang membuat pantai ini cantik penuh pesona. Tak kalah dibanding banyak pantai-pantai cantik lain di Pulau Jawa, bahkan Bali ataupun Lombok.

Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir
Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir

Kami ingin memanfaatkan waktu langka ini sebaik-baiknya. Ada yang bermain bola, bersantai sambil minum es kelapa, atau sekedar menghabiskan memori di kamera.
Saat hari beranjak siang, kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta.

Rasanya tak ingin cepat berpisah dengan kehangatan dan kebersahajaan desa ini. Setelah semuanya, saya merasa beruntung pernah merasakan keduanya itu. Meski cuma sebentar, tak hanya kepenatan yang hilang, pencerahan pun muncul akan cara-cara sederhana menikmati hidup.

Jiwa kembali siap menjalani rutinitas di hari hari berikutnya tanpa pernah lupa akan satu hal, menjelajahi sisi lain bumi Tuhan.

  • Disunting oleh SA 28/04/2012

Karimunjawa Bagian “Pojokan”

Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.


Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)

Di dermaga, kami dijemput Pak Solichul. Selama di Karimunjawa, kami menginap di rumah beliau. Pengalaman tinggal di rumah Pak Kul adalah yang paling berkesan dari jalan-jalan saya ke Karimunjawa. Pak Kul merupakan salah seorang tokoh di Karimunjawa, pemimpin cabang sebuah ormas keagamaan sekaligus pegawai di kecamatan. Beberapa tahun yang lalu seorang kawan pernah melakukan penelitian di Karimunjawa. Suatu sore ia kebingungan karena belum tahu akan menginap di mana malam itu. Ketika ia sedang kebingungan itulah Pak Kul menghampiri. Merasa kasihan, Pak Kul mengajaknya untuk menginap di rumah. Kebetulan di samping rumah Pak Kul juga ada sebuah paviliun yang lumayan besar. Sejak itulah kediaman Pak Kul silih berganti disambangi para pelancong, informasinya pun beredar hanya dari mulut ke mulut. “Padahal saya sama sekali nggak ada niat cari duit,” ujar Pak Kul mengenang di satu malam. Sekarang di depan paviliun itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Singgah Pantura”.

Kediaman Pak Kul berada di Desa Alang-Alang. Di belakang sebuah masjid. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit berkendara dari alun-alun. Meskipun terpencil, rumah Pak Kul istimewa. Lima meter dari pintu belakang rumah, laut sudah menghampar. Selain itu, beberapa ratus meter ke arah selatan kita akan tiba di Pantai Ujung Gelam. Setiap hari saya dan kawan-kawan menikmati senja di pantai itu; snorkeling dan skindiving di taman koral ditemani schooling ikan teri, atau sekadar duduk-duduk di pantai menikmati matahari senja yang merona.

Di sana sambungan listrik PLN belum masuk. Sumber listrik hanya berasal dari generator yang disediakan swadaya oleh warga, generator yang di atas pukul 23.00 WIB akan dimatikan oleh Pak Kul. Padahal, hanya beberapa ratus meter dari rumah beliau ada gardu listrik PLN. Pantas, di atap masjid saya melihat ada sebuah panel surya. Di negara yang pemerintahnya sibuk dagelan ini ternyata masih ada desa yang “dipaksa” untuk mandiri energi.

Tiap hari setelah makan malam, Pak Kul menyempatkan diri untuk ikut duduk-duduk mengobrol bersama kami. Beliau senang bercerita, kami senang mendengarkan. Klop sudah. Kami mendapatkan pengetahuan gratis mengenai asal-usul nama Karimunjawa, mengenai Sunan Nyamplungan dan orang-orang pertama yang mendiami Pulau Karimunjawa, bahkan sampai pada mitos mengenai kawasan bernama Karang Kapal yang kerap membuat karam kapal yang melintasi Laut Jawa.

“Para kapten kapal yang karam itu konon melihat kerlap-kerlip lampu kota di sekitar Karang Kapal,” Pak Kul berkisah. “Mereka menyangka sudah tiba di Semarang. Eh, tahu-tahu kapalnya kandas.”

Matahari terbenam di Ujung Gelam
Matahari terbenam di Ujung Gelam

Pak Kul juga menceritakan betapa masyarakat desa sudah berkali-kali memperjuangkan masuknya listrik ke kampung mereka. Perjuangan yang tampaknya tidak ditanggapi secara serius oleh instansi terkait karena sampai saat ini tiang listrik belum terpancang. “Gardunya dekat sini tapi kami sendiri nggak dapat listrik,” berapi-api Pak Kul bercerita. “Disuruh urunan untuk beli tiang pun kami mau, tapi tetap belum ditanggapi.” Ironis memang. Sementara pemerintah Jepara dan Jawa Tengah gencar mempromosikan Karimunjawa sebagai tujuan wisata, masih ada desa di sana yang belum dapat sambungan listrik.

Saya jadi berpikir. Setiap kita, setiap manusia yang suka pergi ke tempat-tempat yang jauh, sebenarnya bisa menjadi “penyambung lidah rakyat”. Asal si pejalan itu mampu menyeret dirinya dari pusat semesta karena ketika sedang berkelana ke suatu tempat, yang asing bukanlah tempat itu. Merekalah, sang pejalan, sebenarnya yang asing. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo sang pengembara, “Di awal perjalanan, kita belajar menghilangkan diri. Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri.” Jika sudah begitu, niscaya dengan serta merta seorang pejalan mampu menjadi pembawa kabar dari tempat-tempat yang luput dari perhatian pemerintah, pembawa kabar dari “Indonesia Bagian Pojokan”.

  • Disunting oleh SA 26/04/2012

Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja

Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.

Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. “Hotel kuda laut” kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.

Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar sleeping bag tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.

Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.

Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.

  • Disunting oleh SA 17/04/2012

Menonton Konser di Negeri Tetangga

Seperti yang telah kita ketahui, demam Korea saat ini sedang melanda Indonesia. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dimana drama-drama Korea seperti Winter Sonata dan Fullhouse menjadi tayangan favorit pemirsa Indonesia, lalu disusul dengan begitu populernya boyband dan girlband asal negeri ginseng tersebut di tengah kalangan pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Pada akhirnya, “invasi” Korea ini pun menyebar ke sektor-sektor lain, seperti fashion dan bahkan consumer goods.

Saya pun termasuk korban Hallyu atau Korean Wave—sebuah istilah untuk menyebut tersebarnya budaya Korea ini di seluruh penjuru dunia. Dimulai sejak masa kuliah di mana saat itu boyband Super Junior, sebuah boyband beranggotakan 13 personil dengan ketampanan khas Asia, sedang sangat terkenal dengan single “Sorry Sorry” yang memiliki lagu dan dance yang unik. Atas pengaruh seorang teman, akhirnya saya pun jatuh hati kepada boyband yang satu ini hingga akhirnya kecintaan saya ini mengantarkan saya terbang untuk pertamakalinya ke negeri tetangga, Singapura. Lho, memang apa hubungannya? Ya, saya sengaja bela-belain pergi ke negeri Merlion itu untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk “Super Show 3”.

Panggung di Singapore Indoor Stadium

Konser tersebut berlangsung di Singapore Indoor Stadium (SIS), sebuah venue di daerah Kallang di sisi Timur Singapura yang memang sering digunakan sebagai tempat konser artis-artis kelas dunia seperti Coldplay, Muse, hingga Justin Bieber. Untuk mencapai SIS, dapat menggunakan MRT jalur warna kuning yang akan melalui stasiun Stadium. Kalau diukur dari Orchard Road, kira-kira hanya memakan waktu 20 menit untuk sampai di sana. Kemudian, kita hanya perlu berjalan beberapa puluh meter untuk mencapai bangunan SIS yang megah itu.

Waktu itu, konser dijadwalkan mulai pada pulul 16.00 dan ketika saya tiba di sana sekitar pukul 14.00, sudah tampak antrian mengular para “ELF”—sebutan fans Super Junior—yang memiliki tiket standing. Tiket saya sendiri adalah tiket seating dengan nomor seat yang sudah ditentukan sehingga saya tidak perlu mengantri lagi. Namun keuntungan pemegang tiket standing, posisi mereka akan lebih dekat ke panggung daripada mereka yang duduk di kursi. Harga kedua jenis tiket tersebut pun sama.

Saya dan teman-teman saya (kami semua total berlima), mendapatkan posisi kursi tepat di tribun tengah. Panggung konser Super Junior ini bisa dibilang cukup extravagant di mana mereka menggunakan konsep “dekat dengan penonton” sehingga hampir setengah area konser habis untuk tata panggung saja. Selain dua panggung utama, mereka juga menggunakan panggung runway yang disusun sedemkian rupa sehingga dapat melewati para penonton di hampir seluruh penjuru area. Oleh karena itu, stadion yang sanggup menampung hingga 8,000 penonton itu kali ini hanya digunakan untuk kapasitas 5,000 orang. Karena itulah, meski di depan tribun kami ada kursi-kursi VVIP yang memisahkan tempat kami dari panggung utama, kalau dihitung-hitung, jarak dengan panggung utama juga akhirnya tidak sampai 10 meter.

Karena selama konser dilarang untuk mengambil gambar, para penonton dapat menitipkan kamera di loker-loker yang disediakan di SIS dengan membayar sebesar S$1. Kenyataannya sih banyak juga yang bisa memotret dengan leluasa, termasuk saya. Hanya saja, para petugas keamanan memang lebih ketat mengawasi area berdiri. Mereka berhak meminta penonton keluar dari area panggung jika mereka ketahuan mengambil gambar. Mungkin karena area berdiri sangat dekat dengan panggung sehingga dikhawatirkan flash dari kamera akan mengganggu pertunjukan.

Secara keseluruhan, menonton konser di Singapore Indoor Stadium merupakan pengalaman yang sangat memuaskan. Sound system-nya sempurna, sungguh tidak tampak adanya kecacatan di masalah suara selama konser. Jelas dan memuaskan. Lighting effect-nya juga sangat keren dengan menggunakan efek-efek cahaya sorot warna-warni sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan karena kita sedang membicarakan Singapore yang terkenal sebagai negeri yang teratur, tentu saja para penonton di sini pun sangat tertib dari sejak mengantri di luar hingga konser berakhir dengan sukses. Dua jempol untuk tempat konser yang satu ini.

Namun, satu peringatan untuk para penonton konser di SIS yang menggunakan MRT sebagai sarana transportasi: jika Anda tidak memiliki EZ Link Card, lebih baik Anda membeli tiket pulang sejak sebelum menonton konser karena jika Anda membelinya saat pulang, akan ada ratusan orang mengantri tiket di mesin penjual otomatis yang jumlahnya terbatas itu.

  • Disunting oleh SA 09/04/2012

Kenapa Dunia Desain Swedia Begitu Terkenal?

Ada kalanya, kita perlu menilik lebih dalam tentang budaya dan ekonomi sebuah negara. Ada kalanya pula, kita bisa melihat sebuah destinasi dari kacamata profesi kita sendiri. Sebagai seorang desainer grafis, saya mau tidak mau mengamati industri dan kebijakan desain sebuah negara, salah satunya adalah Swedia. Beruntung, saya sempat mengunjungi negara ini dua tahun silam. Untuk memenuhi rasa ingin tahu saya, saya lakukan sedikit riset dan merangkum soal kebijakan desain Swedia hingga produk-produknya terkenal di mancanegara sebagai pelopor desain yang baik dan apik.

Swedia adalah salah satu negara di Eropa utara yang berbatasan langsung dengan Norwegia di sisi barat, Denmark di selatan dan Finlandia di timur. Sistem pemerintahannya adalah monarki konstitusional. Luas daerahnya adalah 450.000 km persegi, ibukotanya Stockholm dan populasinya berjumlah 9,4 juta jiwa. Bahasa resminya adalah Bahasa Swedia. Pendapatan bruto per kapitanya adalah salah satu yang tertinggi di dunia dalam kisaran $47.934 (2010). Mata uangnya adalah Krona Swedia, karena negara ini belum meratifikasi perjanjian zona mata uang tunggal Euro.

Usia negara Swedia sangat panjang, merdeka sejak abad ke-13, dan pernah menjadi kekuatan besar di Eropa pada abad ke-17. Seperti negara-negara Eropa pada saat itu, Swedia juga mempraktekkan kolonialisme dan mendirikan koloni di benua lain, seperti di Afrika.

Sebagai bagian dari negara-negara Skandinavia, Swedia memiliki hubungan erat dengan Norwegia dan Denmark, khususnya. Sejarah menunjukkan bahwa batas-batas antar negara ini dulu berubah-ubah, dan satu negara pernah menjadi bagian dari negara lainnya. Secara kultural, ketiga negara ini satu rumpun. Bahasanya pun tak jauh berbeda, mata uangnya bernama sama walau bernilai berbeda, memiliki perjanjian keimigrasian sendiri yang dinamakan Nordic Passport Union, di mana setiap warganegara Swedia, Denmark, Norwegia dan Finlandia dapat berdomisili di masing-masing negara ini tanpa residence permit atau izin tinggal. Oleh karenanya, ketika berbicara soal produk budaya dari Swedia, misalnya desain, kita tak bisa memungkiri peran besar sejarah kebudayaan Skandinavia (atau Nordik, jika dilihat lebih luas) secara utuh.

Swedia di masa modern ini adalah sebuah negara yang sangat damai dan makmur. Ia menjadi salah satu tujuan pencari suaka, terutama dari timur tengah. Kemakmuran ini menjadi daya tarik bagi siapapun untuk mencari penghidupan yang tenang. Tingkat kemiskinannya termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasinya. Masyarakat Swedia juga dekat dengan alam, karena dianugerahi alam yang indah dan produktif. Semua ini menyumbang pada kualitas hidup yang tinggi. Tentu, ada konsekuensinya, masyarakat Swedia harus membayar pajak yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Dunia desain Swedia terkait dengan dunia desain Skandinavia secara umum, yang juga berawal dari konteks sejarah seni rupa. Modernisme, realisme, Arts & Crafts movement, dan Art Nouveau/”Jugendstil” banyak mempengaruhi desain dari daerah ini. Revolusi Industri, Perang Dunia ke-1 dan ke-2 sangat berpengaruh terhadap gaya desain, menuju ke desain yang lebih praktis, realistis, tegas dan bisa diproduksi massal. Moralitas juga menjadi isu utama mengingat peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi dalam rangka Perang Dunia ke-1 dan ke-2 tersebut.

Desain-desain Swedia hari ini lekat dengan gaya desain industrial dan minimal atau “bersih” dan “efektif”. Ini dapat dilihat dari berbagai merek atau brand ternama yang berasal dari negara ini seperti Ericsson, IKEA, H&M, Hasselblad, Koenigsegg, Filippa K., WESC, Absolut Vodka, Husqvarna, Tetra Pak, dan lain sebagainya.

Sama seperti negara-negara Skandinavia lain, pemerintah Swedia mempromosikan desain sebagai salah satu industri yang mendatangkan devisa. Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah mendirikan institusi atau organisasi yang mempromosikan desain dengan cara mendokumentasikan dan memberikan insentif pada desainer untuk selalu berkarya.

Dengan kekayaan alam yang melimpah dan tradisi budaya folklor yang kuat, negara-negara Skandinavia memiliki sejarah kerajinan dan buah tangan yang panjang dan kaya. Pekerjaan kerajinan sudah ada sejak zaman Viking, berupa karya tekstil, lukisan cadas, sampai zaman pertengahan yang dapat dilihat dari dekorasi interior, perabotan, perhiasan, benda-benda dekorasi dan seremonial.

Masyarakat kerajinan Swedia sendiri memiliki konsep “beautifying everyday objects in a simple modern way for a substantial market”, atau menciptakan benda-benda estetis namun tetap sesuai dengan zaman modern dan menurut permintaan pasar. Dengan fokus pada konsep ini, setiap barang kerajinan mestilah memiliki nilai guna dan jual untuk kebutuhan sehari-hari. Pelopornya adalah pengrajin bernama Wilhelm Kåge tahun 1917, yang banyak merancang barang-barang rumah tangga seperti cangkir, pot, vas dan lain-lain. Konsep ini dipandang sebagai seni non-elitis, atau seni untuk rakyat. Pergerakan ini kemudian membawa Swedia ke revolusi industri dan berusaha menembus pasar internasional. Beberapa perusahaan besar terkenal seperti Volvo, Saab, Electrolux, Lego, Ericofon, Luxo dan Poulsen mulai bermunculan.

Desain-desain dari Swedia tidak memerlukan elemen-elemen berlebihan. Banyak produk dari Swedia juga menggunakan bahan alam tanpa pemrosesan yang terlalu banyak, dibiarkan “bare” atau “seadanya”. Hal ini disebabkan oleh kekayaan alam dan keselarasan kehidupan manusianya dengan alam. Desain minimalis juga disebabkan oleh kebutuhan objek-objek untuk memiliki nilai fungsional yang tinggi, karena terkait dengan premis “survivalism”. Dalam arti kata lain, masyarakat Swedia, terutama di bagian utara, hidup di iklim yang tidak begitu bersahabat, oleh karena itu pemanfaatan maksimal bahan, materi dan desain diarahkan ke nilai fungsional dan praktikal. Barang-barang ini harus mudah diimplementasikan dan mudah digunakan, berdaya tahan tinggi dan sekaligus memiliki nilai estetis. Kalaupun ada dekorasi, itu adalah vestige atau “peninggalan” dari sejarah seni rupa abad ke-20 awal. Desain-desain Skandinavia sering disebut sebagai desain yang “demokratis”, dalam arti ia harus dapat diproduksi massal dan dinikmati oleh seluas mungkin khalayak.

Desain juga berkembang menjadi industri. Beberapa tahun terakhir jumlah biro desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini di Skandinavia meningkat secara signifikan. Di Swedia saja, jumlah biro desain adalah sejumlah 8.459 perusahaan, jika termasuk biro arsitektur maka jumlahnya meningkat menjadi 11.199 perusahaan. Jumlah pegawai yang bekerja di industri ini adalah 4.238 jiwa dan 9.177 jiwa jika termasuk biro arsitektur, dan kebanyakan adalah small to medium enterprises (SME) yang terdiri dari hanya tiga sampai empat pegawai (Nordic Innovation Center, 2005). Swedia menempati urutan tertinggi dalam jumlah-jumlah ini dibandingkan negara-negara lain di Skandinavia, kecuali bagian jumlah pegawai (termasuk biro arsitektur), yang dipegang Denmark dengan 10.369 jiwa.

Peningkatan jumlah perusahaan desain dan tenaga kerja yang bekerja di bidang ini sejak tahun 1993 sampai 2002 adalah 272%, atau hampir tiga kali lipat, terutama desain grafis yang meningkat 410%. Sebanyak 78% perusahaan desain terletak di Stockholm, Goteborg dan Malmo, dan 50% dari jumlah ini ada di daerah metropolitan Stockholm (Manchester Business School, 2006). Peningkatan jumlah ini juga berdasarkan permintaan jasa desain oleh industri lain, dengan sejumlah 72% dari 1.000 perusahaan non-desain yang disurvei mengatakan ada peningkatan permintaan jasa desain (SVID, 2004). Jumlah perputaran uang yang terjadi di industri desain Swedia tahun 2003 adalah Rp10 triliun (Nordic Innovation Center, 2005). Dari sisi pendidikan desain, jumlah mahasiswa yang terdaftar pada pendidikan desain formal meningkat tiga kali lipat dari 1993 ke 2003 (330%). Dengan angka ini, profesi desainer di Swedia cenderung berlatarbelakang pendidikan formal.

Pemerintah Swedia sudah melakukan beberapa insentif untuk mendorong perkembangan industri desain, karena mereka memandang industri ini cukup memberi banyak keuntungan bagi negara, baik secara finansial, sosial maupun kultural. Beberapa insiatif itu, seperti diuraikan oleh Nordic Innovation Center (2005), antara lain adalah:

  • Tahun 1996: Working Group on Architecture, Form and Design didirikan, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan.
  • Tahun 1998: Agenda for Design in the Future (Handlingsprogrammet framtidsformer) dirancang oleh parlemen Swedia, berisi enam tujuan utama negara dalam arsitektur dan desain.
  • Tahun 2003, Januari: Swedish Industrial Design Foundation (SVID) dan Svensk Form (Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia) menerbitkan proposal “Design as Development Power in Industry and Public Affairs” kepada pemerintah, dan pemerintah mengucurkan dana Rp27 milyar untuk mendeklarasikan tahun 2005 sebagai “Design Year”. Dana ini juga digunakan untuk mendanai proyek-proyek lain yang meningkatkan daya saing & potensi Usaha Kecil-Menengah (UKM) dalam bidang desain.
  • Tahun 2004, Februari: The Council for Architecture, Form and Design didirikan oleh pemerintah berdasarkan Agenda for Design in the Future tahun 1998. Dewan ini beranggotakan beberapa profesional desain. Tujuan dewan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, minat dan pengetahuan tentang arsitektur dan desain. Salah satu program kerjanya adalah memperjuangkan kepentingan desain dalam kebijakan sektor publik.
  • Tahun 2005: “Design Year” atau “Tahun Desain” untuk seluruh Swedia yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Svensk Form menjadi panitianya. Tujuan dari “Design Year” ini adalah membangun peningkatan pemahaman desain jangka panjang di Swedia. Sekitar 150 badan pemerintah berpartisipasi, dengan cara mempertimbangkan desain pada setiap kebijakan dan pembelian (procurement) yang mereka laksanakan. Lebih dari 500 organisasi, negeri dan swasta, turut diundang untuk berpartisipasi.
  • Tahun 2005: The Design-Year Group for Growth and Innovation didirikan sebagai hasil dari “Design Year” 2005, membantu mendukung pemerintah dan organisasi yang menjalankannya. Tugas utamanya adalah untuk mengevaluasi proyek-proyek berkaitan dengan desain dan hubungan antar organisasi, industri dan pemerintah. Pesertanya juga bagian dari The Council for Architecture, Form and Design.

Dunia pendidikan desain di Swedia cukup terbangun dengan baik dengan hadirnya beragam institusi dan universitas yang terkait dengan dunia desain, seperti desain grafis, desain produk, busana, fotografi dan lainnya, terutama untuk tahap sarjana. Pada tahun ajaran 2002/2003 ada 7.072 mahasiswa yang mengambil jurusan terkait desain (Nordic Innovation Center, 2005). Hanya desain interior yang kurang diminati. Beberapa perguruan tinggi ternama untuk program desain adalah Beckman’s School of Design, Stockholm, Carl Malmsten’s Centre of Wood Technology and Design, Goteborg University, School of Design and Crafts, Kalmar-Nybro, School of Design, Konstfack, Stockholm; Lund University; Umeå Institute of Design, dan lainnya.

Swedish Design Award

Swedish Design Award (SDA) adalah penghargaan desain terkemuka di Swedia, yang diorganisir oleh Svensk Form. Diadakan dua tahun sekali sejak 2006, dahulunya penghargaan ini dinamakan “Excellent Swedish Design Award” dari tahun 1983 ke 2002. Disingkat menjadi “Design S”, penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berkarya di bidang desain produk, jasa atau lingkungan tertentu. SDA menghargai individu desainer maupun perusahaan. Berbeda dengan tradisi penghargaan lain yang membaginya dalam kategori, penghargaan ini diberikan berdasarkan studi kasus setiap proyek atau perusahaan. Untuk memenangkan penghargaan ini, sebuah produk atau jasa desain mestilah:

  • meningkatkan penjualan
  • menentukan brand positioning yang sukses
  • menyumbang secara signifikan pada pembangunan masyarakat
  • menyelamatkan kehidupan
  • menyederhanakan proses kerja tertentu
  • membuka kemudahan akses
  • membantu masyarakat mencapai masyarakat yang berkelanjutan
  • membuat hidup menjadi mudah

Hadiah yang diberikan tidak berupa uang tunai, tetapi exposure atau perhatian dari media massa, industri dna pemerintah-pemerintah negara lain dengan diadakannya bengkel, seminar, materi promosi, publikasi online dan rilis media. BrandDesign S” pun melekat pada produk-produk yang mereka hasilkan, yang dengan bangga bisa mereka tempelkan sebagai “label tanda kemenangan”.

Svensk Form

Seperti telah disebutkan pada uraian sebelumnya, Svensk Form adalah Masyarakat Desain dan Kerajinan Swedia, sebuah organisasi nirlaba yang berdasarkan keanggotaan, diberikan mandat oleh pemerintah Swedia untuk mempromosikan desain Swedia di dalam maupun luar negeri. Organisasi ini didirikan tahun 1845. Ketika itu ia didirikan untuk melindungi kualitas karya kerajinan Swedia yang mengalami “serangan” dari proses massal manufaktur industri yang menurunkan kualitas barang-barang karya kerajinan.

Beberapa tujuan organisasi ini adalah:

  • mendemonstrasikan manfaat-manfaat desain yang baik untuk pembangunan sosial;
  • menstimulasi pembangunan desain di Swedia;
  • meningkatkan respek atau penghargaan pada karya-karya desain; dan
  • mengembangkan dan mendalamkan sikap/pemahaman terhadap masalah-masalah bentuk dan desain.

Lingkup kerja Svensk Form meliputi beragam spektrum ilmu dan terapan desain, seperti produk, servis/jasa, lingkungan, sampai bidang dari kerajinan sampai desain produk/industri. Svensk Form adalah penengah antara industri dan desainer, dan ia bekerja bersama desainer untuk melobi pemerintah soal kesadaran desain.

Publikasi yang dimilikinya antara lain majalah desain “FORM”, buletin yang diterbitkan teratur, situs web dan beberapa kegiatan periodikal di Stockholm serta secara nasional.

Selain memajukan pemahaman dan industri desain di Swedia, Svensk Form juga mempromosikan desain “hijau” atau berkelanjutan, yang mengajak desainer untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan, ramah aspek sosial dan ramah ekonomi. Pertimbangan-pertimbangan ini terintegrasi dalam tahapan kehidupan sebuah produk mulai dari rancangan, manufaktur, pemasaran sampai komunikasi publik.

Organisasi ini memiliki 13 perwakilan regional di negara-negara bagian Swedia. Seluruh perwakilan ini melaksanakan program kerja terpusat dan daerah, yang temanya kultural dan industrial. Program-program kerjanya juga merambah dunia internasional, dengan publikasi majalah FORM secara internasional, mengikuti pameran, konferensi, trade fair, dan kunjungan kerja atau studi banding baik dari dalam ke luar negeri maupun sebaliknya. Svensk Form juga mengadakan kegiatan Pecha Kucha-nya sendiri, yaitu sharing session antara praktisi desain dan industri dalam format presentasi singkat. Terkait dengan dunia pendidikan, Svensk Form juga mengadakan pameran-pameran karya universitas, beasiswa dan hadiah atau penghargaan khusus.

Studi Kasus: IKEA

IKEA adalah perusahaan swasta yang didaftarkan di Belanda, namun berasal dari selatan Swedia. Didirikan oleh Ingvar Kamprad ketika berumur 17 tahun, pada tahun 1943. Bisnis utamanya adalah menjual perabotan yang dikemas flat beserta aksesorisnya. Barang-barang IKEA biasanya dibawa pulang dalam kemasan rata/ringkas dan dirakit sendiri oleh pemiliknya. Konsep utama bisnis ini serupa dengan konsep desain Swedia dari dahulu, yakni menciptakan barang-barang bernilai desain tinggi, namun tetap menjawab kebutuhan masyarakat luas (non-elitis). Harga-harganya ditekan semurah mungkin. Saat ini, IKEA memiliki lebih dari 300 cabang di 37 negara di berbagai benua dan negara di dunia (Eropa, Amerika Utara, Asia dan Australia). Visi IKEA adalah untuk “Menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk banyak orang.” Berdasarkan visi ini, IKEA menyediakan berbagai produk fungsional yang didesain baik untuk rumah tangga. Harganya ditekan semurah mungkin tanpa kompromi terlalu besar pada kualitas dan dampaknya pada lingkungan.

Produk-produk IKEA kebanyakan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kantor, seperti keperluan makan, perabotan untuk kamar tidur, barang-barang yang bisa merorganisir (storing items), perabotan kantor sampai pernak-pernik aksesoris yang bisa membuat tempat tinggal atau kerja lebih hidup dengan desain yang apik. Setidaknya ada tiga prinsip perancangan produk IKEA, antara lain:

  • Desain: Desainer IKEA memulai rancangan dari anggaran atau harga jual, bukan sebaliknya. Dengan pengetahuan manufaktur yang memadai, desainer-desainer ini dapat mengetahui bagaimana rancangan yang baik diproduksi semurah mungkin.
  • Fungsi: Produk-produk IKEA berfokus pada fungsi, yaitu pemenuhan kebutuhan. Setiap sudut, setiap warna, setiap bentuk dan setiap eksekusi memiliki maksud dan tujuan yang jelas.
  • Harga rendah: Berbagai metode manufaktur/produksi ditelaah untuk mencapai harga serendah mungkin. Contohnya, memindahkan produksi ke negara-negara berkembang, menggunakan bahan dan metode produksi yang murah, dan menyerahkan pemasangan atau perakitan ke konsumer akhir (end consumer). Barang-barangnya dikirim flat-packed dalam kemasan ramping sehingga menghemat biaya.

Antara produk-produknya adalah karpet, kursi, tempat tidur, peralatan makan, meja kerja, meja makan, lemari, dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Swedia telah lama menjadi pelopor dunia desain di dunia, bersama-sama dengan negara-negara Skandinavia lain. Ia bahkan menjadi pemimpin desain di daerah Skandinavia. Ciri-ciri utama desain Swedia adalah minimal, fungsional, ramah lingkungan dan non-elitis (mudah dipasarkan dan massal), yang juga berasal dari latar belakang geografi, sosial dan kultural negaranya. Strategi desain modern zaman ini pun mengikuti konsep ini, dan pemerintahnya menyadari betul bagaimana industri desain berkontribusi tidak hanya untuk industri desain itu sendiri, tetapi untuk industri lain dan kesehatan ekonomi nasional secara umum. Pemerintahnya banyak memberikan insentif pada industri desain melalui mandat organisasi dan pengembangan pendidikan desain.

Indonesia harus mempelajari bagaimana Swedia membuat konsensus tentang perkembangan desainnya, kemudian merumuskan apa yang harus mereka lakukan terhadap khazanah seni rupa, kerajinan dan desain tersebut, untuk kemudian dijadikan komoditas yang dapat membantu perekonomian nasional.


Tiga Jam Bernostalgia dengan Queen

Siapa yang tidak kenal kelompok musik rock Queen dengan vokalisnya Freddie Mercury. Menonton “We Will Rock You, the Musical by Queen” sudah masuk daftar wajib saya saat berkesempatan mengunjungi negara Ratu Elizabeth.

Bertempat di Dominion Theatre London, pertunjukan ini dilaksanakan setiap malam pukul 19:30, kecuali Sabtu siang, di mana ada pertunjukan tambahan pukul 14:30. Ternyata, tahun ini sudah memasuki tahun ke-10 pertunjukan dan seluruh bangku selalu hampir terisi penuh di setiap pertunjukannya.

Dominion Theatre, London
Dominion Theatre, London

Total ada 19 lagu Queen yang bisa dinikmati selama drama musikal ini yang diselingi oleh candaan-candaan segar. Antara lagu yang dibawakan adalah “I Want To Break Free“, “Somebody To Love“, “Under Pressure“, “Bohemian Rhapsody“, “We Are The Champions” dan tentu saja “We Will Rock You“.

Konser "We Will Rock You, the Musical by Queen"
Konser “We Will Rock You, the Musical by Queen

Perlu diperhatikan agar tidak terlambat, sebaiknya kita datang 15 menit sebelum pertunjukan. Jika terlambat, maka akan diminta menunggu di samping gang sampai selesai satu lagu, baru dituntun ke kursi masing-masing. Khusus untuk yang tidak bisa menahan “panggilan alam” lewat dari 90 menit, jangan khawatir, karena pertunjukan akan diistirahatkan selama 15 menit di tengah-tengah untuk memberi kesempatan mengisi perut atau ke belakang. Saat istirahat, akan masuk pedagang asongan yg menjual air minum maupun es krim. Di lobi teater juga tersedia kantin dan semua makanan bisa dibawa masuk ke dalam.

Suasana Keramaian di Dominion Theatre
Suasana Keramaian di Dominion Theatre

Untuk yang bawa anak kecil, tidak usah khawatir karena pertunjukan ini pada dasarnya untuk segala umur, tapi yang perlu di khawatirkan adalah harga tiket yang sama antara dewasa dan anak-anak.

Leicester Square
Salah Satu Sudut Leicester Square

Lokasi ini dekat dengan Leicester Square, pusat hiburan malam di London. Terkadang daerah tersebut disebut juga “Cinema Land” ataupun “Theather Land“, karena di daerah inilah berkumpul mayoritas bioskop, teater, klub, bar dan restoran. Bahkan, Chinatown pun terletak di samping Leicester Square, jadi untuk yang belum sempat makan malam sebelum menonton konser Queen, masih bisa menikmatinya di sekitar daerah asyik ini. Di Leicester Square banyak booth yang menjual tiket teater untuk pertunjukan di malam atau hari yang sama dengan harga diskon sampai dengan 50%! Saya merekomendasikan booth TKTS atau Encore Tickets.

Selain “We Will Rock You“, beberapa pertunjukan yang selalu ramai di antaranya: “Les Miserables“, “The Lion King“, “Mamma Mia“, dan “The Phantom Of The Opera“. Asyik, kan?

  • Disunting oleh SA 09/04/2012

© 2017 Ransel Kecil