Bulan: April 2012 (halaman 1 dari 2)

Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna

Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai.
Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.
Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.
Secara geografis, Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, di sebelah barat Provinsi DKI Jakarta. Untuk mencapai ke desa tersebut, perjalanan dengan mobil atau bus memakan waktu 7-8 jam.
Waktu terbaik untuk mengunjunginya memang di bulan-bulan pertengahan, April-September saat musim kemarau tiba. Jalanan menjadi terjal dan becek kala musim hujan. Arus air sungai yang deras pun bisa menjadi penghambat untuk menikmati kearifan alam di sana.
Oleh karena itu, sebenarnya pemilihan waktu awal Februari untuk berkunjung amat beresiko. Hujan masih dengan senang hati mengguyur setiap tempat sesuai jatahnya masing-masing.
Potensi hujan mengacaukan liburan saya semakin besar ketika di Terminal Kampung Rambutan, turun hujan deras saat kami akan berangkat ke Desa Sawarna. Namun, di sini bukan waktunya untuk mundur!
Cuaca masih mendung saat bis kami sudah mendekati lokasi. Karena tak punya kemampuan menari tarian tolak hujan, saya hanya bisa meminta pada Yang Maha Baik untuk tidak mengijinkan hujan turun dua hari ini. Perjalanan ini akan amat sayang jika tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya karena hujan turun. Saya tak ingin pulang hanya dengan kelelahan tanpa sempat menikmati sepercik kemegahan alam di sini.
Sampai juga kami di lokasi. Cuaca tiba-tiba berubah cerah. Seperti ada yang mendengar pinta saya pagi tadi. Alhamdulillah.
Kesan awal, seperti hampir semua destinasi wisata, desa ini menarik. Hanya saja, sisi menariknya pasti berbeda dan saya akan segera mengetahuinya dalam dua hari ke depan.
Ada jembatan kayu yang menghubungkan kami dengan Desa Sawarna. Kurang lebih panjangnya 20 meter dan hanya cukup untuk dilewati motor. Sungai di bawah jembatan agak dangkal. Arusnya tak begitu deras. Terlihat banyak juga anak-anak kecil mandi atau sekedar bermain di sana.
Masuk ke lingkungan desa, sudah ada kepala desa (setidaknya, begitulah pengamatan saya, atau mungkin beliau hanya petugas yang diminta untuk mengumpulkan “tarif masuk”). Beliau menunggu di sebuah rumah-rumahan kayu, dan meminta tarif masuk Rp. 2000 per tamu untuk sekali kunjungan. Murah sekali.
Kami berjalan menuju homestay yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, sisi-sisi modernitas tercermin dibalik tembok-tembok rumah warga di sini.
Jalanan setapak desa ini sudah disemen. Walaupun beberapa sisi jalan desa masih tanah, tetapi kemajuan kental terlihat. Hampir semua rumah dibuat permanen, listrik juga sudah masuk ke desa, dan beberapa penduduk sudah memiliki motor sendiri.
Sampai di homestay, saya cukup terkejut dengan kondisi homestay yang akan kami inapi semalam ini. Rumahnya cukup besar, bahkan sangat besar, untuk ukuran desa. Fasilitasnya pun lengkap dengan meja pingpong dan lapangan voli. Awalnya, saya berpikir hanya akan menginap di rumah warga yang sederhana. Bagaimanapun juga, homestay yang nyaman ini adalah kejutan yang amat mudah dinikmati.
Desa ini masih seperti desa kebanyakan, di tengah sawah dan terlintasi sungai. Meski begitu, masyarakatnya sama sekali tidak konservatif. Mereka sudah berpikiran maju untuk menjadikan potensi pariwisata desanya menjadi penghidupan. Banyak sekali rumah-rumah penduduk dijadikan homestay. Beberapa masyarakat bahkan memiliki profesi sampingan menjadi pemandu wisata.
Pak Saep, pemandu wisata kami, berpendapat senada, “Ini semua bukan bantuan pemerintah. Masyarakat sendiri yang punya inisiatif menjadikan desa jadi kampung wisata.”
Agenda kami padat. Maklum, hanya dua hari dan cukup banyak tempat yang mesti dikunjungi. Alhasil, setelah beristirahat sebentar, kami memulai trekking ke Goa Lalay.
Sawah menghijau di Desa Sawarna
Sawah menghijau di Desa Sawarna
Di siang yang cukup terik, kami menelusuri sawah-sawah membujur. Seperti bunga yang akan merekah, sawah yang kami lewati masih hijau. Sejauh mata memandang, hanya hijau menentramkan yang kami lihat. Beberapa kali bertemu petani ramah yang menyambut kami dengan dialek Sunda mereka yang kental.
Mudah tak selamanya kami lewati. Dua kali kami harus berusaha melawan arus deras sungai. Untung saja sungainya tak dalam. Meski begitu, harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Bawaan kamera dan ponsel bisa dalam bahaya.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di destinasi pertama, Goa Lalay. Lalay menurut bahasa Sunda artinya kelelawar. Pak Saep mengatakan goa ini penuh kelelawar kala malam menjelang. Saat Maghrib menjelang Isya, biasanya gerombolan kelelawar ini keluar dari sarangnya.
Ada sungai kecil yang mengalir dari dalam goa ini. Sayangnya, berhubung musim hujan, aliran air pun lebih deras dari biasanya. Kalau dilihat dari luar, memang sepertinya tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam. Saya pikir sayang sekali sudah jauh-jauh, tapi tidak melihat stalaktit Goa Lalay yang konon memang terkenal. Akhirnya, saya dan beberapa teman memaksakan diri masuk. Walau awalnya agak sulit karena bebatuan licin ditambah arus yang deras, justru air menjadi agak tenang ketika sampai di dalam.
Di dalam, tak terlihat ada kelelawar satu pun. Menurut Pak Saep, mereka bersarang terlalu ke dalam. Kondisi di dalam goa tidak memungkinkan kita untuk menelusuri lebih ke dalam. Tak berjodoh dengan para lalay rupanya.
Setidaknya, stalaktit-stalaktit tadi sudah mau bercengkerama dengan kami.
Selepas dari Goa Lalay, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati pematang-pematang sawah, bukit-bukit kecil, dan tak ketinggalan jalanan penuh lumpur. Beberapa teman sangat kelelahan, apalagi yang perempuan. Banyak juga tragedi-tragedi kecil, seperti ada yang tercemplung ke sawah, terpeleset ketika jalan turun, atau sekedar terkilir saat menapak.
Tapi saya yakin, semua kelelahan dan kesialan itu terbayar ketika telapak sudah bersentuhan dengan pasir pantai.
Kembali mendengar deru ombak dan menikmati aliran air laut di sela-sela kaki memberi kenikmatan tersendiri. Untuk saya, pantai tak pernah gagal memberi kesan menawan.
Dari sana, Karang Taraje sudah terlihat amat dekat. Namun sayang, sepertinya saya belum diizinkan mampir di sana. Jalanan menuju ke sana dijaga segerombolan anjing penjaga ternak yang terkenal ganas. Daripada mencari masalah, lebih baik mengurungkan niat pergi untuk mendekat.
“Taraje” dalam bahasa setempat artinya tangga. Mudah ditebak kenapa dinamakan demikian: bentuk karangnya memang menyerupai tangga. Kalau memandang dari arah pantai, sisa air di karang dari tabrakan ombak seakan bergerak, bertahap, menuruni anak tangga.
Beberapa penduduk terlihat sedang memancing dengan cara yang unik. Dengan seutas bambu, mereka memancing agak ke tengah laut sambil mendera ombak. Ikan yang didapat pun cuma ikan-ikan kecil. Memang bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri.
Kami harus menaiki bukit yang cukup terjal untuk sampai ke agenda terakhir sekaligus puncak, hari itu. Menunggu sang surya terbenam di Tanjung Kelayar. Sebenarnya kalau enggan menaiki bukit, melewati jalan memutar juga bisa dilakukan. Tinggal memilih, lebih senang jalan berbatu dan licin atau jalanan menanjak yang juga licin.
Akhir hari itu menjadi sempurna ketika matahari akan mengucap salam pamit pada semesta. Indahnya tak terucap, cantiknya tak terungkap. Benar-benar pemandangan luar biasa sebagai hadiah bagi kami yang sudah rela berpeluh demi sampai di sini. Terasa tenang sekali perasaan. Seakan kami tak mau mengijinkan matahari pergi begitu cepat.
Cuaca cerah sehari tadi membuat sempurna spektrum peninggalan sang surya. Lukisan paling cantik satu semesta dari Yang Kuasa. Membuat insan-insan lebih merasakan makna mendalam akan malam. Terang tak selamanya jaya, ada waktu masing-masing seperti juga manusia yang tak selamanya merasakan kenikmatan.
Senja di Karang Taraje
Senja di Karang Taraje
Sambil menikmati semangkuk mi rebus dan segelas es kelapa, saya terduduk santai di pasir putih. Bercengkerama dengan teman seperjalan. Tak lupa mendirikan tripod sebagai penyangga kamera. Kami banyak mengambil gambar sampai lupa waktu. Cahaya senja semakin menghilang. Kami mesti segera beranjak pulang.
Esok paginya kami menuntaskan agenda perjalanan ini dengan mengunjungi Pantai Ciantir. Dari perkampungan warga tempat lokasi homestay, bisa dicapai dengan berjalan kaki 10 menit. Pasir putih sejauh mata memandang membuat pantai ini cantik penuh pesona. Tak kalah dibanding banyak pantai-pantai cantik lain di Pulau Jawa, bahkan Bali ataupun Lombok.
Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir
Pasir dan biru langit di Pantai Ciantir
Kami ingin memanfaatkan waktu langka ini sebaik-baiknya. Ada yang bermain bola, bersantai sambil minum es kelapa, atau sekedar menghabiskan memori di kamera.
Saat hari beranjak siang, kami mesti kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta.
Rasanya tak ingin cepat berpisah dengan kehangatan dan kebersahajaan desa ini. Setelah semuanya, saya merasa beruntung pernah merasakan keduanya itu. Meski cuma sebentar, tak hanya kepenatan yang hilang, pencerahan pun muncul akan cara-cara sederhana menikmati hidup.
Jiwa kembali siap menjalani rutinitas di hari hari berikutnya tanpa pernah lupa akan satu hal, menjelajahi sisi lain bumi Tuhan.

  • Disunting oleh SA 28/04/2012

Karimunjawa Bagian "Pojokan"

Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.
Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.

Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)
Di dermaga, kami dijemput Pak Solichul. Selama di Karimunjawa, kami menginap di rumah beliau. Pengalaman tinggal di rumah Pak Kul adalah yang paling berkesan dari jalan-jalan saya ke Karimunjawa. Pak Kul merupakan salah seorang tokoh di Karimunjawa, pemimpin cabang sebuah ormas keagamaan sekaligus pegawai di kecamatan. Beberapa tahun yang lalu seorang kawan pernah melakukan penelitian di Karimunjawa. Suatu sore ia kebingungan karena belum tahu akan menginap di mana malam itu. Ketika ia sedang kebingungan itulah Pak Kul menghampiri. Merasa kasihan, Pak Kul mengajaknya untuk menginap di rumah. Kebetulan di samping rumah Pak Kul juga ada sebuah paviliun yang lumayan besar. Sejak itulah kediaman Pak Kul silih berganti disambangi para pelancong, informasinya pun beredar hanya dari mulut ke mulut. “Padahal saya sama sekali nggak ada niat cari duit,” ujar Pak Kul mengenang di satu malam. Sekarang di depan paviliun itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Singgah Pantura”.
Kediaman Pak Kul berada di Desa Alang-Alang. Di belakang sebuah masjid. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit berkendara dari alun-alun. Meskipun terpencil, rumah Pak Kul istimewa. Lima meter dari pintu belakang rumah, laut sudah menghampar. Selain itu, beberapa ratus meter ke arah selatan kita akan tiba di Pantai Ujung Gelam. Setiap hari saya dan kawan-kawan menikmati senja di pantai itu; snorkeling dan skindiving di taman koral ditemani schooling ikan teri, atau sekadar duduk-duduk di pantai menikmati matahari senja yang merona.
Di sana sambungan listrik PLN belum masuk. Sumber listrik hanya berasal dari generator yang disediakan swadaya oleh warga, generator yang di atas pukul 23.00 WIB akan dimatikan oleh Pak Kul. Padahal, hanya beberapa ratus meter dari rumah beliau ada gardu listrik PLN. Pantas, di atap masjid saya melihat ada sebuah panel surya. Di negara yang pemerintahnya sibuk dagelan ini ternyata masih ada desa yang “dipaksa” untuk mandiri energi.
Tiap hari setelah makan malam, Pak Kul menyempatkan diri untuk ikut duduk-duduk mengobrol bersama kami. Beliau senang bercerita, kami senang mendengarkan. Klop sudah. Kami mendapatkan pengetahuan gratis mengenai asal-usul nama Karimunjawa, mengenai Sunan Nyamplungan dan orang-orang pertama yang mendiami Pulau Karimunjawa, bahkan sampai pada mitos mengenai kawasan bernama Karang Kapal yang kerap membuat karam kapal yang melintasi Laut Jawa.
“Para kapten kapal yang karam itu konon melihat kerlap-kerlip lampu kota di sekitar Karang Kapal,” Pak Kul berkisah. “Mereka menyangka sudah tiba di Semarang. Eh, tahu-tahu kapalnya kandas.”
Matahari terbenam di Ujung Gelam
Matahari terbenam di Ujung Gelam
Pak Kul juga menceritakan betapa masyarakat desa sudah berkali-kali memperjuangkan masuknya listrik ke kampung mereka. Perjuangan yang tampaknya tidak ditanggapi secara serius oleh instansi terkait karena sampai saat ini tiang listrik belum terpancang. “Gardunya dekat sini tapi kami sendiri nggak dapat listrik,” berapi-api Pak Kul bercerita. “Disuruh urunan untuk beli tiang pun kami mau, tapi tetap belum ditanggapi.” Ironis memang. Sementara pemerintah Jepara dan Jawa Tengah gencar mempromosikan Karimunjawa sebagai tujuan wisata, masih ada desa di sana yang belum dapat sambungan listrik.
Saya jadi berpikir. Setiap kita, setiap manusia yang suka pergi ke tempat-tempat yang jauh, sebenarnya bisa menjadi “penyambung lidah rakyat”. Asal si pejalan itu mampu menyeret dirinya dari pusat semesta karena ketika sedang berkelana ke suatu tempat, yang asing bukanlah tempat itu. Merekalah, sang pejalan, sebenarnya yang asing. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo sang pengembara, “Di awal perjalanan, kita belajar menghilangkan diri. Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri.” Jika sudah begitu, niscaya dengan serta merta seorang pejalan mampu menjadi pembawa kabar dari tempat-tempat yang luput dari perhatian pemerintah, pembawa kabar dari “Indonesia Bagian Pojokan”.

  • Disunting oleh SA 26/04/2012

Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja

Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.
Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.
Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.
Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. “Hotel kuda laut” kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.
Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar sleeping bag tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.
Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.
Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.

  • Disunting oleh SA 17/04/2012
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil