Artikel-artikel dari bulan Maret 2012

“Airline Mileage”, Pentingkah?

Sering bepergian dengan pesawat terbang? Pasti anda menyadari banyak maskapai yang menawarkan program kesetiaan pelanggan (loyalty) yang bertujuan memberikan insentif untuk anda terbang bersama mereka lagi, dengan bentuk “poin” yang diakumulasikan dalam waktu tertentu. “Poin” ini lazim disebut mileage. Saya tidak tahu padanan Bahasa Indonesia-nya apa. Yang jelas, mulai dari maskapai besar sampai kecil, full-service sampai budget, kiatnya mirip.

Mekanismenya sederhana. Ketika anda terbang bersama sebuah maskapai, anda memiliki opsi untuk mendaftar pada program kesetiaan pelanggan ini, dengan mengisi formulir tertentu, lalu mengakumulasikan mileage dalam jumlah tertentu untuk penerbangan yang anda tumpangi pada hari itu. Jumlah mileage ini dihitung progresif sesuai elemen-elemen penerbangan, seperti jarak atau tarif tertentu. Biasanya, yang bisa dihitung adalah penerbangan dengan tarif normal, bukan tarif promo, dan dengan jarak minimal tertentu. Tentu, parameter ini berbeda bagi setiap maskapai. Semakin sering anda bepergian, semakin seringlah akumulasi mileage-nya, dan semakin “kaya”-lah anda dari sisi mileage.

Lantas, apa keuntungan mendapatkan mileage? Banyak. Antara lain, anda bisa menikmati penaikan taraf atau kelas, misalnya dari ekonomi ke bisnis, atau bisnis ke kelas pertama. Lalu, anda bisa membeli tiket dengan mileage yang terkumpul, dengan harga tertentu sesuai kalkulator mileage. Keuntungan lain adalah seputar akomodasi hotel gratis atau diskon tertentu pada jasa dan barang yang disediakan mitra maskapai, misalnya executive lounge.

Ada pelaku perjalanan yang memang getol sekali memanfaatkan mileage ini, apalagi jika perjalanannya dibiayai oleh orang lain, misalnya perusahaan. Tak disadari, ia bisa membeli tiket gratis dari Jakarta ke Tokyo pulang pergi. Enak, bukan?

Lalu, apakah mileage itu hanya berlaku untuk satu maskapai? Hari ini, banyak maskapai yang mendirikan aliansi dengan maskapai-maskapai lain, yang kemudian berbagi manfaat mileage satu sama lain. Contohnya adalah SkyTeam, Star Alliance dan OneWorld. Sehingga, pelanggan maskapai tertentu bisa “menukarkan” atau menggunakan mileage-nya untuk mendapatkan manfaat di maskapai lain. Mileage yang diakumulasikan di suatu maskapai dapat dikonversikan ke sistem mileage maskapai lain. Ini sangat bermanfaat jika kita sering bepergian dan ada rute-rute tertentu yang tidak dilayani maskapai kesayangan, tapi dilayani maskapai lain dalam aliansi yang sama.

Bagaimana dengan penerbangan yang sudah berlalu? Apakah masih bisa dihitung akumulasi mileage-nya? Silakan cek maskapai yang dimaksud. Terkadang, kita bisa mengklaim kembali penerbangan yang lalu walaupun kita lupa menaruh nomor keanggotaan pada saat terbang. Prosedur ini disebut mileage accrual.

Nah, seberapa pentingkah mengumpulkan “mata uang angkasa” ini? Menurut saya, kita perlu memperhatikan poin-poin berikut. Jika sering bepergian, misalnya minimal lima sampai sepuluh kali setahun, anda bisa mempertimbangkan untuk mendaftar kepada program kesetiaan pelanggan sebuah maskapai. Tentu, pilih satu maskapai yang sering anda tumpangi, dan jika bisa memilih lebih lanjut, pilih maskapai yang terjalin dalam aliansi yang kokoh dan jaringannya luas. Dengan begini, anda tak perlu mendaftar untuk banyak sekali program serupa. Jangan lupa manfaatkan mileage dari waktu ke waktu sebelum habis masa berlakunya (biasanya setahun atau dua tahun). Tentunya, jangan sampai terlalu terobsesi sehingga menjadi tidak realistis dalam melakukan perjalanan, misalnya belanja tiket berlebihan, batal melakukan perjalanan karena tidak ada layanan ke sebuah destinasi, atau menjadi pelit dengan teman atau pasangan seperjalanan dengan memisahkan diri karena ingin menikmati tiket gratis.


Menghindari Penipuan di Istanbul

Istanbul secara umum bisa dikatakan sebagai kota destinasi pariwisata yang aman dan nyaman. Tetapi, seperti di kota-kota metropolis mana pun di dunia, tetap saja tidak jarang ditemui kasus penipuan atau kejahatan yang terkadang menyulut emosi, dan pada akhirnya membuat kualitas liburan kita pun jadi berantakan. Berencana mengunjungi Istanbul dalam waktu dekat? Berikut tips-tips yang sangat perlu dibaca untuk menghindari aksi penipuan atau kejahatan yang umum dialami para pejalan. Di manapun anda berada, tetap gunakan akal sehat. Tips-tips di bawah juga berlaku untuk destinasi lain di dunia.

Salah Satu Pub di Istanbul

  • Hindari menukar uang ke lira Turki (TL) di tempat penukaran uang di dalam Bandara Internasional Ataturk. Banyak kejadian nilai uang yang diterima tidak sesuai/lebih kecil dari kurs penukaran yang tertera di papan tabel penukaran mata uang asing dengan alasan dipotong komisi. Apabila terpaksa harus menukarkan di tempat penukaran uang asing di dalam bandara, tanyalah terlebih dahulu berapa nilai yang akan anda terima dan sebaiknya tukar sejumlah yang dibutuhkan. Untuk transportasi menuju ke kawasan Sultan Ahmed misalnya, dibutuhkan dua token seharga dua lira masing-masing (koin plastik yang digunakan untuk menaiki tram).
  • Waspada di keramaian seperti bazar, bus dan tram, dan jalanan atau tempat-tempat umum seperti İstiklâl Caddesi untuk menghindari menjadi korban pencopetan. Selalu pegang dan posisikan ransel atau tas anda di bagian yang mudah terlihat seperti di depan dada, tidak dibiarkan menggantung di samping yang sangat mudah terlepas atau di belakang punggung yang memudahkan pencopet melubangi tas dengan silet. Meskipun tidak menjamin anda tidak menjadi korban pencopetan, tetapi pencopet akan selalu mencari korban yang lebih mudah dijambret.
  • Gunakan sabuk uang untuk menyimpan barang-barang berharga seperti uang dan paspor. Lebih aman kalungkan di depan dada dengan mengitari atas bahu dan bawah ketiak. Sekalipun menggunakan sabuk uang di pinggang dan diletakkan di dalam lapisan celana, terkadang secara tidak sadar, akibat banyak bergerak, sabuk uang tersebut keluar dan terlihat sehingga menarik pelaku kejahatan. Pisahkan uang yang digunakan sehari-hari dari sabuk uang dan simpan di tempat yang mudah terjangkau. Juga, jangan sesekali membuka dompet di sembarang tempat.
  • Ketika bepergian dengan anak kecil, waspadalah apabila ada sekelompok orang yang mengaggumi anak anda dengan berkerumun di sekitar anda dan anak anda. Ini hanyalah usaha untuk mengalihkan perhatian anda untuk memudahkan aksi pencopetan mereka.
  • Hindari ajakan minum, khususnya untuk para pria. Dilakukan oleh anak muda yang berpenampilan trendi terutama di kawasan Beyoglu, İstiklâl Caddesi. Dimulai dengan sapaan yang sangat bersahabat, atau pura-pura meminjam korek api, selanjutnya penipu tersebut mengenalkan diri, asal dan pekerjaannya untuk mengawali perbincangan dan pada akhirnya anda akan diajak untuk minum di salah satu pub/kafe pilihan mereka. Ketika mereka berhasil menggiring anda ke tempat yang mereka maksud, anda akan dikenalkan dengan teman-teman perempuan mereka sembari memesan minuman di meja yang sama. Kemudian, anda bertanggung jawab untuk membayar paksa semua pesanan minuman tersebut dengan harga yang tidak wajar.
  • Jangan memungut semir sepatu yang terjatuh. Semir sepatu sengaja dijatuhkan dengan harapan ada orang yang melihatnya dan mengembalikan ke tukang semir sepatu tersebut. Sebagai rasa terima kasih maka tukang semir sepatu akan menawarkan menyemir sepatu anda dengan secara cuma-cuma sambil menceritakan kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya dengan harapan anda memberikan sedikit uang sebagai rasa iba.
  • Apabila ingin berfoto dengan topi khas Turki yang dijajakan pedagang, minta izin terlebih dahulu. Kadang-kadang si penjual akan menggertak dan memaksa anda membeli topi yang dipakai. Hindari ajakan mengikuti mereka dengan orang yang mencurigakan, walaupun tampak bersahabat. Ujung-ujungnya bisa berupa ajakan untuk berjalan kaki entah ke mana sambil menceritakan sejarah objek wisata tertentu, atau mengajak masuk melihat-lihat ke toko mereka yang entah di mana dengan alasan mengambil kartu nama. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika masuk ke perangkap mereka.
  • Disunting oleh SA 11/03/2012

Perjalanan Singkat di Richmond, Tasmania

Richmond, kota antik nan cantik yang kami temukan secara tidak sengaja. Berawal dari ketibaan kami di Hobart, ibukota negara bagian Tasmania, Australia, pada pagi menjelang siang di penghujung musim dingin. Untuk mengikuti tur kota sudah terlambat, dan pada musim dingin, tur ini tidak beroperasi setiap hari. Berbekal informasi dari petugas hotel untuk acara perjalanan yang ramah terhadap anak-anak, kami memutuskan naik taksi untuk mengunjungi Richmond, sekitar 30 menit berkendara ke arah timur Hobart. Setelah melewati beberapa perkebunan anggur, akhirnya kota Richmond terlihat di depan mata.

Jembatan Richmond
Jembatan Richmond

Sesampainya di Richmond, kami serasa melakukan napak tilas ke zaman saat Australia masih menjadi tempat pengasingan para narapidana dari Inggris. Tidak mengherankan, karena Richmond dibangun oleh para narapidana tersebut pada abad ke-19 yang ditandai dengan jembatan batu yang bertuliskan tahun 1823. Diperlukan dua tahun untuk membangun jembatan tersebut yang ternyata merupakan jembatan tertua di Australia sekaligus merupakan ikon dari kota Richmond.

Di jembatan inilah taksi kami berhenti, memberikan kesempatan kepada kami menyusuri kota mungil ini. Setelah mendapatkan nomor ponsel supir taksi dan berjanji untuk bertemu kembali di sebuah lokasi penjemputan, taksi tersebut melesat meninggalkan kami. Tidak jauh dari jembatan tersebut, terdapat St. Luke’s Anglican Church yang merupakan gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1836. Kebetulan hari itu tidak ada kebaktian, sehingga kami berkesempatan menjelajah setiap sudut dari gereja mungil yang dibangun dengan tangan manusia tersebut.

Gereja St. Luke's
Gereja St. Luke's

Puas berfoto-foto, perjalanan kami lanjutkan ke taman yang terletak di seberang jembatan. Hari yang sangat indah! Matahari bersinar cerah mengusir dingin ditemani bunga-bunga yang mulai bermekaran dengan udara yang sangat segar. Beberapa anak dengan ceria mengejar bebek-bebek yang banyak berkeliaran di sekitar.

Tanpa terasa, hari sudah beranjak siang. Mata dan pikiran puas menikmati pemandangan, giliran perut yang harus dipuaskan. Kami menyusuri sepanjang jalan utama di Richmond, mayoritas rumah tua di sini difungsikan sebagai kafe, restoran, galeri maupun toko antik. Pilihan akhirnya kami jatuhkan pada salah satu restoran yang menyajikan masakan buatan rumah. Untuk yang membawa anak, tidak perlu khawatir karena rata-rata restoran di sini ramah anak-anak dan menyediakan menu khusus anak-anak. Ternyata, pilihan kami tidak keliru. Setelah menikmati makanan di sana yang nikmat dengan pelayanan yang ramah, saya melihat ternyata restoran tersebut juga merangkap rumah tinggal dari pemiliknya. Mulailah timbul rasa penasaran, seperti apa bagian interior dari rumah abad ke-19 tersebut? Apalagi, sebelumnya, kami hanya bisa melihat lihat bentuk luar rumah di sana tanpa bisa masuk. Ide paling cemerlang adalah memohon izin ke kamar mandi yang letaknya pasti di belakang. Saya mulai menjelajah rumah tersebut dari ruang keluarga, kamar tidur yang ternyata pintunya dibiarkan terbuka, dapur, sampai taman kecil di belakang rumah yang ternyata semuanya ditata dengan sangat indah dan di luar ekspektasi saya. Tidak menyangka, dimulai dengan makan siang, saya berkesempatan melihat lihat interior rumah abad ke-19, sekali mendayung dua pulau terlampaui!

Hari harus kami akhiri pada sore hari. Taksi kami panggil untuk menjemput karena keesokan paginya petualangan dilanjutkan ke Pulau Bruny…

  • Disunting oleh SA 06/03/2012

Singapore Art Museum

Ini untuk pertama kalinya saya ke luar negeri dan tujuan pertama jatuh ke Singapura, dalam sebuah ekskursi kampus. Singapura sangat berbeda dari tanah air. Udaranya bersih, orang-orangnya sigap dan berjalan dengan cepat, lalu lintasnya teratur. Banyak tempat-tempat menarik di sini yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Singapore Art Museum.

Tampak Depan Museum
Tampak Depan Museum

Singapore Art Museum atau yang disingkat sebagai SAM ini berada di Bras Basah Rd., sepuluh menit dari stasiun MRT Bugis. Tiket masuk hanya lima dolar Singapura bagi pelajar dan sepuluh dolar untuk masyarakat umum. Sebagai tanda masuk, kita akan mendapat stiker bulat berwarna hijau yang harus ditempel di pakaian kita.

Bentuk museum dari fasad depan cukup megah dan serba berwarna putih, khas sekali zaman kolonial. Kontras dengan eksteriornya, interiornya beraura modern. Ditilik dari sejarahnya, sebelum digunakan sebagai museum, bangunan ini memang beberapa kali dipugar dan digunakan untuk kepentingan yang berbeda. Bangunan tiga lantai ini dibagi menjadi dua bagian, plaza dan galeri. Plaza adalah ruang publik di mana kita diperbolehkan minum dan makan. Galeri adalah ruang pameran yang peraturannya lebih ketat, antara lain tidak diperbolehkan membawa alat perekam video, mengambil foto tanpa blitz, dan tidak menyentuh karya.

Sayang, saya tidak melihat sosok pemandu museum di sana. Saat ditanya, rupanya mereka mempunyai jadwal tersendiri. Untuk hari Senin, waktu saya berkunjung ke sana, pemandu museum baru ada pukul dua siang. Tak ingin menunggu, saya langsung saja menikmati koleksi museum tanpa dipandu. Pemandu museum ada yang berbahasa Inggris, Mandarin dan Jepang. Untuk yang berbahasa Jepang ada di hari Selasa hingga Jumat pukul 10.30, sedangkan Mandarin ada pada hari Jumat pukul 7.45 malam.

Beruntung sekali saya karena bisa menunjungi SAM saat itu karena di sana sedang berlangsung dua pameran besar berisi karya-karya seni visual yang berasal dari seluruh dunia. Dua acara itu adalah “Asia Pacific Breweries Foundation Signature Art Prize 2011 Finalists Exhibition” dan “The Collectors Show: Chimera, Asian Contemporary Art from Private Collections”. Acara yang pertama diselenggarakan pada 11 November 2011 hingga 4 Maret 2012 merupakan pameran karya finalis dari 130 nominasi karya seni yang berasal dari 24 negara di area Asia Pasifik. Hanya 15 karya finalis yang dipamerkan, dan karya seniman Indonesia termasuk di dalamnya!

Instalasi 'V' oleh Li Hui
Instalasi karya Li Hui, berjudul “V” (2011)

Kompetisi ini diisi oleh karya-karya yang beragam entah itu media, tema atau ukuran, rasanya tidak ada yang tidak bagus. Ada beberapa karya finalis yang menarik hati saya, salah satunya adalah karya intalasi dengan video milik Sheba Chhachhi dari India. Berada di satu ruang di mana di sisi kanan dan kirinya penuh dengan banyak tumpukan buku yang sengaja ditata berantakan, lalu ada proyektor LCD besar ditaruh di dinding tengah dan proyektor-proyektor LCD lebih kecil yang ditidurkan, dengan ditata memanjang seolah menjadi “penengah” buku-buku tersebut. Jika lampu sekitar dimatikan, alangkah indahnya suasana yang tercipta. Karya yang berjudul “The Water Diviner” ini membuat saya merasa berada di laut sebenarnya. Pemenang kompetisi adalah lukisan akrilik di atas kanvas milik Rodel Tapaya dari Filipina.

Instalasi karya Sehba Chhacchi, berjudul The Water Diviner (2008)
Instalasi karya Sheba Chhachhi, berjudul “The Water Diviner” (2008)

Karya Aida Makoto, berjudul Ash Color Mountains (2009-2010)
Karya Aida Makoto, berjudul “Ash Color Mountains” (2009-2010)

Karya Rodel Tapaya, berjudul Baston ni Kabunian, Bilang Pero di Mabilang (Cane of Kabunian, numbered but cannot be counted) (2010)
Karya Rodel Tapaya, berjudul “Baston ni Kabunian, Bilang Pero di Mabilang (Cane of Kabunian, numbered but cannot be counted)” (2010)

Pameran yang kedua menyatukan karya-karya besar dari seni kontemporer Asia yang berasal dari seluruh dunia. Pameran ini menyuguhkan karya kontemporer dalam bentuk yang beragam dan ukuran yang besar serta berasal dari lukisan ke patung, media baru dan multimedia interaktif. Pameran ini dilaksanakan pada tanggal 14 Januari hingga 25 Maret 2012 dan merupakan acara paralel dari Art Stage Singapore 2012 yang diadakan oleh Singapore Art Museum. Salah satu hasil karya grup seniman Tromarama dari Indonesia, koleksi Arif Suherman, juga dipamerkan di sini. Karyanya menampilkan komposisi kode binari, rentetan angka “1” dan “0” yang membentuk gambar mata berkedip.

Karya Binari oleh Arif Suherman dari Indonesia
Instalasi karya Tromarama, berjudul “Extraneous” (2010), koleksi Arif Suherman

Singapore Art Museum buka setiap hari, Senin sampai Minggu dibuka pukul 10.00 hingga 19.00, kecuali Jumat, ditutup pada pukul 21.00. SAM juga dilengkapi dengan toko aksesoris dan restoran. Cocok untuk bersantai malam-malam. Saya merekomendasikan tempat ini kepada siapapun yang cinta pada seni dan berharap ada orang-orang hebat yang akan mewujudkan museum seni di Indonesia. Semoga!

  • Disunting oleh SA 01/03/2012

© 2017 Ransel Kecil