Bulan Februari 2012 (halaman 1 dari 2)

Sepotong Kisah di Daerah Perbatasan

Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. Tapi yang membuat kabupaten Nunukan menarik adalah letak geografisnya. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Kalimantan namun masuk dalam provinsi Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana, saya naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta sampai Balikpapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Susi Air dari Balikpapan sampai Tarakan, kemudian Tarakan sampai Nunukan—semuanya di hari yang sama.

Pelabuhan
Pelabuhan

Tidak banyak yang bisa dilihat di kota Nunukan sendiri (sebagai informasi, nama ibukota kabupaten dan kabupatennya sama). Kebanyakan hanya toko-toko kecil sepi dan rumah penduduk. Namun, ketika menuju komplek gedung-gedung pemerintahannya, mereka boleh bangga. Semua gedung pemerintahan di Nunukan, seperti kantor dinas atau bupati, rata-rata seperti “istana”. Gedungnya besar dan megah dengan taman luas. Buat saya, rasanya aneh melihat pemandangan komplek gedung mewah ini di atas bukit yang sepi dengan kota berpenduduk jarang (sekitar hanya sepuluh jiwa per kilometer persegi).

Menuju Sebuku
Menuju Sebuku

Saat itu, tujuan saya ke Nunukan adalah untuk melakukan assessment sosial di wilayah hutan alam. Jadi, esok harinya perjalanan saya lanjutkan dengan perahu motor cepat selama 1,5 jam menuju Desa Sebuku. Paginya saya sempatkan mampir ke mini market samping hotel. Cemilan kemasan buatan Malaysia memenuhi rak. Semua tampak menggiurkan dan enak. Makanan-makanan ini pun dijual di warung-warung kecil pelabuhan Nunukan. Pelabuhan boleh jadi tempat paling trendi di Nunukan. Malam minggu pelabuhan penuh orang jualan, duduk-duduk melihat kapal antar propinsi dan antar negara berlabuh.

Desa Sebuku
Kampung di Dekat Pelabuhan

Oke, kembali ke tujuan saya ke Nunukan. Kenapa daerah itu yang dipilih? Sederhana. Alasannya adalah Gajah Nunukan atau pygmy elephant menetap di wilayah hutan alam yang saya datangi. Dilihat dari DNA, Gajah Nunukan berbeda dengan Gajah Sumatera, Afrika maupun Thailand. Belum ada teori pasti kenapa ada gajah di Kalimantan. Menurut catatan sejarah, gajah-gajah ini bisa jadi didatangkan sebagai upeti atau hadiah untuk raja pada zaman dahulu. Secara fisik, Gajah Nunukan lebih kecil dari Gajah Sumatera, berambut dan bertelinga kurang lebar.

Perjalanan perahu motor cepat ke Desa Sebuku terasa cepat, melewati perkebunan sawit di kanan dan kiri, hutan sekunder dan hutan bakau. Seorang kolega saya melihat pesut (mamalia air), sayangnya saya terlalu sibuk memotret hutan waktu itu. Sampai di Desa Sebuku, saya kaget mendapati perkebunan sawit sangat luas (sampai lima hektar ke dalam hutan). Saya deg-degan. Isu inilah yang akan saya tanyakan pada saat wawancara dengan masyarakat lokal di sana.

Saya menginap di kamp perusahaan pengelola hutan alam. Tempatnya bersih dan rapi. Esok pagi seusai sarapan saya menuju Desa Tabuh Lestari dan Samaenre. Mulai dengan naik perahu motor cepat selama 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan ojek. Ini mungkin ojek termahal yang pernah saya gunakan. Rp70.000 sekali jalan. Bukan karena jauh, tapi bensin langka. Di Nunukan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) buka hanya beberapa kali sebulan, kadang tidak buka sama sekali. Akhirnya, bensin dijual ilegal oleh masyarakat dengan harga Rp18.000 per botol minuman ukuran sedang, sekitar 600cc.

Hutan yang Digarap
Hutan yang Digarap

Sampai di desa, saya melakukan wawancara dengan beberapa tokoh desa dan mendapati fakta bahwa beberapa perusahaan sawit dan batu bara beroperasi di sekitar desa mereka. Pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan cetak biru kota mandiri di dekat situ lengkap dengan SPBU, pusat perbelanjaan kecil, komplek perumahan, sekolah, dan sebagainya. Sungguh saya tak habis pikir. Selama ini bensin dijual ilegal di Nunukan karena langka, dan pemerintah mau buka lahan untuk kota mandiri dengan SPBU? Belum lagi bahan bakar perahu motor cepat yang harus dikeluarkan dari tengah kota ke daerah Desa Sebuku.

Sedih melihat hal-hal seperti ini harus terjadi di Indonesia, terutama di daerah perbatasan. Banyak kebun sawit milik masyarakat kita yang kemudian dijual ke Malaysia. Kesadaran mereka untuk menjaga hutan dan wilayah sekitar bisa dibilang kecil. Salah siapa?

  • Disunting oleh SA 24/02/2012

Menyesapi Panorama Wat Arun

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.

Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja

Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun

Menara Wat Arun
Menara Wat Arun

Detil Bangunan Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun

Biksu-Biksu Berjalan
Biksu-Biksu Berjalan

Kota Bangkok dari Wat Arun
Kota Bangkok dari Wat Arun

  • Disunting oleh SA 16/02/2012

Mengunjungi Museum Batik Pekalongan

Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri “kota batik”, Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.

Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.

Fasad Museum Batik Pekalongan
Fasad Museum Batik Pekalongan

Pengunjung museum yang terletak di Jl. Jatayu ini menempati gedung peninggalan kolonial. Dahulu, gedung dipakai sebagai kantor walikota, dan kantor pabrik gula. Bangunan berlanggam art deco ini disulap menjadi museum dengan tiga ruang pamer.

Saya didampingi pemandu museum berparas ayu memasuki ketiga ruang pamer. Kain-kain batik khas pesisir Jawa di pamerkan di ruangan utama. Dari motif batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem (Rembang) dapat dijumpai di sini. Canting, dan bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatannya turut pula dipamerkan.

Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan
Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan

Pemandu memang melarang saya memotret dan menyentuh koleksi. Saya mengabaikan larangan pertama. Sambil berkeliling, kamera yang menempel di pinggang saya jepretkan tanpa lampu kilat. Sekedar koleksi, pikir saya singkat!

Saya kurang berminat di ruang pamer kedua, yang memamerkan koleksi batik istri presiden dan wakilnya. Koleksi-koleksi di ruangan ini disumbangkan pertengahan Juli tahun ini, dan saat ini masih dipamerkan. Formalitas dan pencitraan agaknya tidak terpisahkan juga di museum yang buka setiap hari pukul 9.00-15.00 WIB ini.

Ruang pamer terakhir menyuguhkan koleksi kain batik dengan motif-motif khas Yogyakarta dan Solo. Beberapa peristiwa lampau yang turut menyertakan batik pun ditampilkan dalam foto-foto.

Ruang pamer agaknya tidak dapat mengambil hati saya, keingintahuan lebih terpuaskan di selasar workshop. Setelah kompor dinyalakan, lilin-lilin mulai cair, canting-canting mungil pun mulai menari di atas kain mori.

Saya beruntung, bersama beberapa rekan seperjalanan, kami tidak dimintai biaya tambahan. Biasanya, pengunjung yang akan mencoba membatik harus membayar ekstra untuk workshop semacam ini.

Tidak mudah, itu yang saya rasakan ketika mulai menulisi kain, walaupun dengan nama saya sendiri, bukan menggambar bunga, atau motif lainnya. Lilin yang saya goreskan tidak merata, seringkali terlalu banyak di awal, menembus kain menyentuh kulit. Panas.

Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan
Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan

Blok-blok motif untuk batik cetak juga tersedia, beragam motifnya. Pembilasan dan pewarnaan kain ditampilkan di museum ini dengan sederhana, mungkin sesederhana yang dilakukan para perajin batik. Museum dengan koleksi kurang lebih 1.700-an motif batik ini jelas sayang dilewatkan jika Anda punya waktu mampir disela perjalanan Anda melintasi pantura.

Canting dan Malam
Canting dan Malam

Bagi pecinta batik, berkunjunglah secara rutin. Setiap empat bulan koleksi akan diganti. Mengingat keterbatasan ruang pamer, tidak semua koleksi ditampilkan sekaligus, tapi bergiliran. Sayang, koleksi motif batik Semarang dan Maluku yang saya harap dapat dijumpai di sini belum ada. Mungkin lain waktu ketika saya kembali, koleksi yang saya harapkan sudah bisa dinikmati.

Sebelum menempuh kembali perjalanan, sempatkanlah menyeberang jalan, dan mengabadikan foto di tugu-tugu aksara bermotif batik yang membentuk kata “BATIK”.

  • Disunting oleh SA 09/02/2012

Praha, Si Tua yang Eksotis

The city is like fairy tale“, demikian kata kolega saya yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko. Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja, selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria, tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda. Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar dibuatnya.

Tiba di stasiun bus Florence, berbekal single ticket seharga 24 koruna (sekitar 12.000 rupiah) saya yang dijemput kawan CouchSurfing lantas menjajal transportasi publik di Ceko. Seperti tempat-tempat lain di Eropa pada umumnya, jalur metro, tram, dan bus di Ceko sangat terpadu. Tiket saya berlaku satu jam dan dapat digunakan untuk semua jenis transportasi. Langit yang semakin gelap membuat saya semakin terdorong untuk sesegera mungkin sampai di ‘centrum‘ atau pusat kota.

Old Town Square
Old Town Square

Old Town Square! Saya masih ternganga betapa indahnya bangunan-bangunan asli warisan Bohemia di sekitarnya. Powder Gate, sebuah gerbang kuno mistik dari abad ke-13 akan menyambut Anda begitu melangkahkan kaki menuju Old Town. Tak jauh dari situ terdapat Municipal House, yakni bangunan cantik khas Art Nouveau yang dalam masa Revolusi Velvet digunakan sebagai tempat pertama bertemunya pemerintah komunis Cekoslowakia dan pemerintahan sipil yang baru. Tibalah saatnya berkunjung ke Old Town Hall, tempat hampir seluruh turis internasional berkumpul. Jangan lupakan pengalaman seumur hidup melihat jam astronomikal atau Old Town Orloj yang tersohor! Setiap satu jam sekali, jam ini berbunyi dan uniknya, terdapat boneka-boneka yang bergerak, lengkap dengan suasana mistis seperti keberadaan tengkorak ataupun hantu-hantu (masih dalam boneka).

Charles Bridge
Charles Bridge

Malam itu pula saya berjalan melewati Charles Bridge, yang juga menjadi salah satu ikon Praha. Jembatan tertua di Praha ini secara strategis menghubungkan Old Town dan Lesser Town. Di jembatan ini juga mengalir Sungai Vltava. Saya tidak tahu alasannya, tetapi jelas sekali kesan yang saya dapat tentang senja di Praha adalah tua, mistis, dan senyap. Berbeda sekali dengan kegemerlapan kota Budapest, misalnya. Mungkin ini yang memang ditonjolkan oleh pariwisata di Praha, bahwa untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan adalah dengan memiliki keunggulan kompetitif. Ah, andai saja pariwisata Indonesia memiliki pemahaman yang sama, pikirku.

Astronomical Clock
Astronomical Clock

Keesokan harinya saya bepergian ke salah satu daerah wajib-kunjung di Praha, yakni Prague Castle. Inilah kompleks kastil terluas di seluruh Praha. Di dalamnya terdapat St. Vitus Cathedral yang bernuansa gothic. Sulit mendeskripsikannya, karena selain saya bukan ahlinya, katedral ini menyimpan pesona tersendiri. Sisi-sisi yang runcing menjulang, hitam, ditambah patung-patung iblis semakin menambah kesan menyeramkan. Tepat di belakang katedral ini terdapat area yang dinamakan Hradcany. Bangunan-bangunan di sekitarnya tidak kalah cantik, semisal Schwarzenberg Palace yang mudah dikenali keberadaannya berupa arsitektur kaya khas Sgraffito yang dibangun pada abad ke-16. Pemandangan Golden Lane tidak boleh terlewatkan, yakni jalanan tersempit di kawasan Prague Castle bahkan Praha sekalipun. Di dalamnya terdapat miniatur-miniatur rumah di masa lalu lengkap dengan aksesorisnya.

Di sisi baratdaya Hradcany ini, terdapat tempat wisata yang tidak kalah menarik. Kompleks gereja Strahov Monastery, adalah salah satu yang tertua di Republik Ceko. Kompleks ini bergaya Baroque dan ditemukan pada tahun 1140. Di tempat lain, Lesser Town menawarkan gereja St. Nicholas, masih bergaya sama (Baroque) dengan arsitektur yang juga indah. Atau Josefov, tempat bermukimnya orang-orang Yahudi di Praha. Lokasi yang sangat dekat dari Old Town ini terkenal berkat Parizska Street-nya (baca: Paris), kawasan super elit dimana puluhan bahkan ratusan rumah mode terkenal dunia berkumpul. Old New Synagogue, sinagog tertua di seluruh daratan Eropa berada di sini. Terdapat pula Old Jewish Cemetery, tempat dimana orang-orang Yahudi dikebumikan maupun sinagog lain yang tidak kalah tuanya, Pinkas Synagogue. Saya sendiri sempat mengunjungi beberapa bangunan berarsitektur megah lain seperti National Museum (Wenceslas Square) dan National Theatre yang keduanya bergaya Neo-Renaissance atau The Dancing House yang terkenal berkat gedungnya yang tak lazim (baca: miring). Kesemuanya semakin meyakinkan saya bahwa Praha adalah kota tua yang budaya Eropa-nya amat kental sekaligus beragam.

St. Vitus Cathedral
St. Vitus Cathedral

Seperti biasa, setiap awal minggu perkuliahan dosen saya selalu menanyakan ke manakah kami selama liburan. Ketika tiba giliran saya, saya menjawab dengan mantap: Ceko! Ia, yang orang Hongaria, bertanya kembali (masih dalam bahasa Hongaria) yang kurang lebih artinya “Which one is the best, Budapest or Prague?” Karena memang bingung, awalnya saya jawab keduanya sama-sama kota yang cantik. Tetapi karena dipaksa memilih, saya katakan “Prague, because the city seems older than Budapest”. Dosen saya langsung berujar, “Yes, exactly, because Prague was safer during World War I and II. But here in Budapest, bombs were everywhere at that time”.

  • Disunting oleh SA 08/02/2012

Berbincang Bersama Jejak Petjinan

Logo Komunitas Jejak Petjinan

Tidak banyak yang bergerak sendiri untuk memajukan pemahaman budaya di Indonesia, sekaligus mempromosikan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Salah satunya adalah Jejak Petjinan, sebuah inisiatif seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa untuk mengangkat warisan budaya Tionghoa yang ternyata usianya lebih panjang dari negara Indonesia itu sendiri. Kami berkesempatan mewawancarai Paulina Mayasari, penggagas program ini beberapa waktu lalu. Program ini mendapat penghargaan The Intercultural Innovation Award yang diselenggarakan bersama oleh United Nations Alliance of Civilizations dan BMW Group. Berkat usahanya ini, Paulina Mayasari diundang ke Rio de Janeiro tahun 2010 untuk menghadiri acara bertajuk 2010 Marketplace of Ideas.

Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno
Paulina Mayasari dan Franz Magnis-Suseno. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Riyanto Dedek Lesmana.

Berikut cuplikan wawancaranya.

Apa itu Jejak Petjinan?

Jejak Petjinan adalah komunitas yang ingin menelusuri jejak Tionghoa di Indonesia, dan kami menceritakan hasil penelusuran itu melalui acara wisata budaya bernama “Melantjong Petjinan Soerabaia”.

Apa yang mengawali atau menginspirasi lahirnya Jejak Petjinan?

Sebagai orang Tionghoa, saya merasa tradisi masyarakat Tionghoa sudah mulai terkikis. Saya suka bingung bertanya kepada orang yang lebih tua dan tidak ada yang tahu, itu juga yang membuat saya mulai mencari tahu makna-makna di balik tradisi yang masih dijalankan sampai sekarang.

Waktu peristiwa Mei 1998, saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Sempat shock dan tidak paham dengan peristiwa itu, kenapa kami, Tionghoa, masih diperlakukan seperti itu. Sempat baca berita juga tentang Teguh Karya yang juga shock atas peristiwa itu, lantas kesehatannya menurun dan akhirnya beliau meninggal. Saya jadi berpikir, bahkan seorang yang besar seperti dia, sudah berkarya begitu banyak untuk Indonesia pun bisa shock dan kurang bisa menerima kenyataan itu, apalagi saya. Saya bahkan sempet ingin jadi warga negara lain. Saya jadi rajin mencari informasi tentang program permanent residence, green card, dan sejenisnya.

Lalu lama kelamaan, saya melihat di negara lain pun sedikit banyak para pendatang juga selalu mengalami hal-hal seperti diskriminasi dan ketidakadilan lainnya. Saya juga mendengar banyak cerita dari teman2 saya yang pernah sekolah dan tinggal di luar negeri. Semuanya tergantung pada dirinya sendiri, apakah mau diam saja atau melakukan sesuatu untuk merubah keadaan. Saya putuskan untuk melakukan sesuatu dan Jejak Petjinan ini awalnya.

Kegiatan apa sajakah yang sudah dilaksanakan? Apa bentuknya?

Melancong Petjinan Batavia (1)
Melancong Petjinan Batavia (1). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Kegiatan yang sudah pernah dilakukan Jejak Petjinan antara lain pameran foto bersama, kumpul-kumpul (“kumkum”/”kopdar”) Jejak Petjinan, “cangkrukan” bareng Jejak Petjinan, “ik’ol’san” (“Ikutan Ngobrol Santai”), juga SKETSA (Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara). Ke depan, saya ingin sekali di Indonesia ada Chinese Indonesian Cultural Centre, semacam pusat kebudayaan Tionghoa. Kenapa dari Jepang ada, Belanda juga, tapi dari suku-suku atau etnis-etnis di Indonesia sendiri tidak ada? Padahal, suku/etnis di Indonesia banyak sekali!

Nah, di pusat kebudayaan ini, kita bisa mencari data tentang jejak Tionghoa di Indonesia, bisa belajar budaya, makanan, tradisi, semuanya. Sekarang ini kami sedang mengumpulkan data dengan membuat gerakan bernama SKETSA, Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara. Kenapa Nusantara? karena Tionghoa di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia ada!

Langkah pertama gerakan ini kami wujudkan dalam bentuk situs web, yang berbentuk wiki. Situ ini bisa dikerjakan ramai-ramai, siapapun yang berminat untuk membantu mengumpulkan, silakan daftar dan login, lalu bisa ikut mengerjakan. Rencana ke depannya akan ada pameran kelilingnya juga, tapi ini tunggu tanggal mainnya, ya!

Bagaimana hasil atau dampak dari kegiatan-kegiatan tersebut? Apa respon masyarakat?

Melancong Petjinan Batavia (2)
Melancong Petjinan Batavia (2). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Mereka menyambut hangat ide-ide acara yang diadakan ini. Dari hasil kuesioner yang kami adakan, hampir semua menganggap acara ini bagus, menambah wawasan dan pengetahuan serta bersemangat untuk mengikuti acara-acara berikutnya.

Menurut Jejak Petjinan, apakah bentuk promosi pariwisata yang paling baik untuk Indonesia? Apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara independen selama ini dianggap lebih efektif dari program pemerintah?

Jejak Petjinan tidak punya kapasitas untuk menjawab problematika pariwisata Indonesia. Namun, kalau kami diperkenankan untuk memberikan pendapat, kadang-kadang birokrasi dan peraturan pemerintah memang cenderung mengekang kreativitas dan hanya mengakomodir kepentingan dari sudut pandang pemerintah saja. Jadinya program pemerintah sering terkesan tidak sampai sasaran atau tidak efektif.

Kendala-kendala seperti apa yang dihadapi di lapangan ketika melaksanakan kegiatan?

Melancong Petjinan Batavia (3)
Melancong Petjinan Batavia (3). Foto hak cipta Jejak Petjinan/Dedy Rabel.

Banyak, pertama tidak banyak orang Tionghoa terutama dari kalangan muda, yang tertarik untuk menyediakan waktu untuk membantu mengembangkan komunitas ini. Selain itu, minat masyarakat untuk pelestarian juga kurang, apalagi dananya.

Selain itu, untuk membuat konsep tema acara seperti ini tidak mudah, karena tempat yang kami datangi mungkin belum diketahui orang banyak, hampir tidak ada data tentang tempat tersebut. Kami perlu wawancara, survei, baca buku, dan menghabiskan waktu untuk mencari data.

Apa rencana ke depan?

Kartu Pos Jejak Petjinan
Kartu Pos Jejak Petjinan. Foto hak cipta Jejak Petjinan/Paulina Mayasari.

Yang ingin dicapai adalah adanya sebuah sumber atau pusat informasi yang selalu mutakhir dan akurat tentang Tionghoa di Indonesia, di mana pengunjung bisa mencari tahu apa saja tentang jejak Tionghoa di Indonesia. Ini kami mulai dengan gerakan SKETSA, gerakan pengumpulan data Sejarah dan Kebudayaan Tionghoa Nusantara.

Melalui Melantjong Petjinan Soerabaia, Jejak Petjinan ingin mengumpulkan orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang sama mengenai jejak Tionghoa di Indonesia dalam situasi dan kondisi rileks sehingga hilang rasa enggan untuk tersenyum dan menyapa dengan sekitarnya. Harapannya, lama-kelamaan tidak ada pagar antar etnis Tionghoa dengan etnis lain di Indonesia, sehingga hilanglah stereotipe-stereotipe yang buruk, akhirnya dapat melihat apa adanya. Terkadang, ada laporan dari narasumber bahwa para peserta datang lagi sendiri ataupun beramai-ramai dan berinteraksi dengan penduduk lagi sampai puas.

Terima kasih kami ucapkan kepada Paulina Mayasari yang bersedia diwawancara.