Month: Februari 2012 (halaman 1 dari 3)

Sepotong Kisah di Daerah Perbatasan

oleh

Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. Tapi yang membuat kabupaten Nunukan menarik adalah letak geografisnya. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Kalimantan namun masuk dalam provinsi Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana, saya naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta sampai Balikpapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Susi Air dari Balikpapan sampai Tarakan, kemudian Tarakan sampai Nunukan—semuanya di hari yang sama.

Pelabuhan
Pelabuhan

Tidak banyak yang bisa dilihat di kota Nunukan sendiri (sebagai informasi, nama ibukota kabupaten dan kabupatennya sama). Kebanyakan hanya toko-toko kecil sepi dan rumah penduduk. Namun, ketika menuju komplek gedung-gedung pemerintahannya, mereka boleh bangga. Semua gedung pemerintahan di Nunukan, seperti kantor dinas atau bupati, rata-rata seperti “istana”. Gedungnya besar dan megah dengan taman luas. Buat saya, rasanya aneh melihat pemandangan komplek gedung mewah ini di atas bukit yang sepi dengan kota berpenduduk jarang (sekitar hanya sepuluh jiwa per kilometer persegi).

Menuju Sebuku
Menuju Sebuku

Saat itu, tujuan saya ke Nunukan adalah untuk melakukan assessment sosial di wilayah hutan alam. Jadi, esok harinya perjalanan saya lanjutkan dengan perahu motor cepat selama 1,5 jam menuju Desa Sebuku. Paginya saya sempatkan mampir ke mini market samping hotel. Cemilan kemasan buatan Malaysia memenuhi rak. Semua tampak menggiurkan dan enak. Makanan-makanan ini pun dijual di warung-warung kecil pelabuhan Nunukan. Pelabuhan boleh jadi tempat paling trendi di Nunukan. Malam minggu pelabuhan penuh orang jualan, duduk-duduk melihat kapal antar propinsi dan antar negara berlabuh.

Desa Sebuku
Kampung di Dekat Pelabuhan

Oke, kembali ke tujuan saya ke Nunukan. Kenapa daerah itu yang dipilih? Sederhana. Alasannya adalah Gajah Nunukan atau pygmy elephant menetap di wilayah hutan alam yang saya datangi. Dilihat dari DNA, Gajah Nunukan berbeda dengan Gajah Sumatera, Afrika maupun Thailand. Belum ada teori pasti kenapa ada gajah di Kalimantan. Menurut catatan sejarah, gajah-gajah ini bisa jadi didatangkan sebagai upeti atau hadiah untuk raja pada zaman dahulu. Secara fisik, Gajah Nunukan lebih kecil dari Gajah Sumatera, berambut dan bertelinga kurang lebar.

Perjalanan perahu motor cepat ke Desa Sebuku terasa cepat, melewati perkebunan sawit di kanan dan kiri, hutan sekunder dan hutan bakau. Seorang kolega saya melihat pesut (mamalia air), sayangnya saya terlalu sibuk memotret hutan waktu itu. Sampai di Desa Sebuku, saya kaget mendapati perkebunan sawit sangat luas (sampai lima hektar ke dalam hutan). Saya deg-degan. Isu inilah yang akan saya tanyakan pada saat wawancara dengan masyarakat lokal di sana.

Saya menginap di kamp perusahaan pengelola hutan alam. Tempatnya bersih dan rapi. Esok pagi seusai sarapan saya menuju Desa Tabuh Lestari dan Samaenre. Mulai dengan naik perahu motor cepat selama 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan ojek. Ini mungkin ojek termahal yang pernah saya gunakan. Rp70.000 sekali jalan. Bukan karena jauh, tapi bensin langka. Di Nunukan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) buka hanya beberapa kali sebulan, kadang tidak buka sama sekali. Akhirnya, bensin dijual ilegal oleh masyarakat dengan harga Rp18.000 per botol minuman ukuran sedang, sekitar 600cc.

Hutan yang Digarap
Hutan yang Digarap

Sampai di desa, saya melakukan wawancara dengan beberapa tokoh desa dan mendapati fakta bahwa beberapa perusahaan sawit dan batu bara beroperasi di sekitar desa mereka. Pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan cetak biru kota mandiri di dekat situ lengkap dengan SPBU, pusat perbelanjaan kecil, komplek perumahan, sekolah, dan sebagainya. Sungguh saya tak habis pikir. Selama ini bensin dijual ilegal di Nunukan karena langka, dan pemerintah mau buka lahan untuk kota mandiri dengan SPBU? Belum lagi bahan bakar perahu motor cepat yang harus dikeluarkan dari tengah kota ke daerah Desa Sebuku.

Sedih melihat hal-hal seperti ini harus terjadi di Indonesia, terutama di daerah perbatasan. Banyak kebun sawit milik masyarakat kita yang kemudian dijual ke Malaysia. Kesadaran mereka untuk menjaga hutan dan wilayah sekitar bisa dibilang kecil. Salah siapa?

  • Disunting oleh SA 24/02/2012

Menyesapi Panorama Wat Arun

oleh

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.

Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.

Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja

Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun

Menara Wat Arun
Menara Wat Arun

Detil Bangunan Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun

Biksu-Biksu Berjalan
Biksu-Biksu Berjalan

Kota Bangkok dari Wat Arun
Kota Bangkok dari Wat Arun

  • Disunting oleh SA 16/02/2012

Mengunjungi Museum Batik Pekalongan

oleh

Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri “kota batik”, Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.

Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.

Fasad Museum Batik Pekalongan
Fasad Museum Batik Pekalongan

Pengunjung museum yang terletak di Jl. Jatayu ini menempati gedung peninggalan kolonial. Dahulu, gedung dipakai sebagai kantor walikota, dan kantor pabrik gula. Bangunan berlanggam art deco ini disulap menjadi museum dengan tiga ruang pamer.

Saya didampingi pemandu museum berparas ayu memasuki ketiga ruang pamer. Kain-kain batik khas pesisir Jawa di pamerkan di ruangan utama. Dari motif batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem (Rembang) dapat dijumpai di sini. Canting, dan bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatannya turut pula dipamerkan.

Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan
Beberapa Koleksi Museum Batik Pekalongan

Pemandu memang melarang saya memotret dan menyentuh koleksi. Saya mengabaikan larangan pertama. Sambil berkeliling, kamera yang menempel di pinggang saya jepretkan tanpa lampu kilat. Sekedar koleksi, pikir saya singkat!

Saya kurang berminat di ruang pamer kedua, yang memamerkan koleksi batik istri presiden dan wakilnya. Koleksi-koleksi di ruangan ini disumbangkan pertengahan Juli tahun ini, dan saat ini masih dipamerkan. Formalitas dan pencitraan agaknya tidak terpisahkan juga di museum yang buka setiap hari pukul 9.00-15.00 WIB ini.

Ruang pamer terakhir menyuguhkan koleksi kain batik dengan motif-motif khas Yogyakarta dan Solo. Beberapa peristiwa lampau yang turut menyertakan batik pun ditampilkan dalam foto-foto.

Ruang pamer agaknya tidak dapat mengambil hati saya, keingintahuan lebih terpuaskan di selasar workshop. Setelah kompor dinyalakan, lilin-lilin mulai cair, canting-canting mungil pun mulai menari di atas kain mori.

Saya beruntung, bersama beberapa rekan seperjalanan, kami tidak dimintai biaya tambahan. Biasanya, pengunjung yang akan mencoba membatik harus membayar ekstra untuk workshop semacam ini.

Tidak mudah, itu yang saya rasakan ketika mulai menulisi kain, walaupun dengan nama saya sendiri, bukan menggambar bunga, atau motif lainnya. Lilin yang saya goreskan tidak merata, seringkali terlalu banyak di awal, menembus kain menyentuh kulit. Panas.

Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan
Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan

Blok-blok motif untuk batik cetak juga tersedia, beragam motifnya. Pembilasan dan pewarnaan kain ditampilkan di museum ini dengan sederhana, mungkin sesederhana yang dilakukan para perajin batik. Museum dengan koleksi kurang lebih 1.700-an motif batik ini jelas sayang dilewatkan jika Anda punya waktu mampir disela perjalanan Anda melintasi pantura.

Canting dan Malam
Canting dan Malam

Bagi pecinta batik, berkunjunglah secara rutin. Setiap empat bulan koleksi akan diganti. Mengingat keterbatasan ruang pamer, tidak semua koleksi ditampilkan sekaligus, tapi bergiliran. Sayang, koleksi motif batik Semarang dan Maluku yang saya harap dapat dijumpai di sini belum ada. Mungkin lain waktu ketika saya kembali, koleksi yang saya harapkan sudah bisa dinikmati.

Sebelum menempuh kembali perjalanan, sempatkanlah menyeberang jalan, dan mengabadikan foto di tugu-tugu aksara bermotif batik yang membentuk kata “BATIK”.

  • Disunting oleh SA 09/02/2012