Artikel-artikel dari bulan Januari 2012

Nikmatnya Kuliner Cirebon

Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu? Mari kita simak!

Empal Gentong

Empal Gentong
Empal Gentong

Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.

Nasi Jamlang

Nasi Jamlang
Nasi Jamlang

Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.

Nasi Lengko

Nasi Lengko
Nasi Lengko

Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot

Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil.

Itu hanya segelintir daftar makanan yang dapat dijadikan referensi jika Anda berkunjung ke kota ini. Di luar menu itu, kota udang ini masih menyimpan segudang khazanah kuliner yang dijamin membuat lidah bergoyang.

Tertarik mengecap sedapnya kuliner kota Cirebon? Segera langkahkan kaki menuju Cirebon.

  • Disunting oleh SA 23/01/12

Menjelajah Cepat Asia Tenggara dengan Bus

Catatan Editor: Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar Visa on Arrival di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.

Cerita ini adalah pengalaman backpacking pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.

Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.

Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand
Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand

Ketika hari mulai terang, saya datangi terminal bus Puduraya yang terdapat di seberang jalan untuk membeli tiket tujuan Hat Yai, Thailand. Akhirnya tiket bus tujuan Kuala Lumpur, Malaysia – Hat Yai, Thailand saya dapatkan dengan harga RM50. Bus ini akan berangkat pukul sembilan pagi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Saya manfaatkan sisa waktu ini dengan menjelajahi sebagian kecil dari kota Kuala Lumpur dengan berjalan kaki.

Tepat pukul sembilan pagi bus berangkat meninggalkan Kuala Lumpur. Pemandangan di kiri dan kanan sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai, Thailand terlihat monoton karena didominasi oleh deretan pepohonan kelapa sawit.

Bus tiba di kantor imigrasi Malaysia di perbatasan. Semua penumpang turun dari bus untuk melakukan prosedur imigrasi. Selesai proses ini semua penumpang masuk kembali ke dalam bus untuk menuju kantor imigrasi Thailand yang waktu tempuhnya sekitar tiga menit.

Tak lama kemudian bus tiba di Hat Yai, Thailand sekitar pukul tujuh malam. Tanpa menunggu lama, saya mencari tiket tujuan Phuket. Tiket Hat Yai ke Phuket ini tarifnya ฿400.

Tepat pukul 20.30 bus berangkat meninggalkan Hat Yai menuju Phuket. Kali ini bus terlihat sedikit lusuh. Sekitar pukul empat pagi bus tiba di Terminal Bus Phuket. Suasana di terminal tampak sepi dan hanya ada beberapa penumpang yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Terminal bus Phuket ini terbuka dan tidak dibatasi oleh tembok, sehingga dapat didatangi siapa saja termasuk penyedia jasa ojek yang akan mencari penumpang.

Hari masih tampak gelap. Namun beberapa loket penjualan tiket sudah mulai buka. Saya tak akan lama di sini, karena tujuan berikutnya sudah di depan mata: Bangkok. Setelah terjadi tawar-menawar dengan petugas loket di sini, akhirnya tiket Phuket – Bangkok seharga ฿470 saya dapatkan. Seperti biasa, jadwal terakhir pukul 19.30 malam nanti menjadi pilihan. Hasilnya, saya memiliki waktu seharian untuk berkeliling Phuket.

Matahari masih bersembunyi di ufuk timur. Waktu Subuh masih tersisa. Saya mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar terminal mengenai keberadaan mesjid terdekat. Sempat ragu tentang adanya mesjid, namun terpatahkan oleh tawaran penyedia jasa ojek yang bersedia mengantarkan ke mesjid terdekat dengan tarif ฿40.

Mesjid yang diberi nama Yameay ini bentuknya cukup besar, bersih, dan nyaman. Saat memasuki mesjid, saya berpapasan dengan seorang pria paruh baya menggunakan sorban putih yang ternyata bisa berbahasa Melayu.

Saya menuju pelabuhan Phuket, tempat berlabuhnya kapal wisata, lalu memutuskan membeli paket tur ke teluk Phang Nga. Rata-rata penumpang di kapal ini didominasi oleh turis berambut pirang, hanya beberapa saja yang berwajah Asia. Dari kejauhan tampak beberapa deretan pulau berbentuk bukit besar yang ditutupi oleh tumbuhan hijau. Semakin kapal mendekat semakin jelas terlihat keindahan dan eksotisme Pulau Phi-Phi, salah satu pulau di teluk ini. Subhanallah. Selama lebih kurang 20 menit para penumpang dimanjakan untuk menyaksikan keindahan pulau yang pernah menjadi lokasi syuting film “The Beach“-nya Leonardo Di Caprio ini.

Setelah puas menikmati keindahan Pulau Phi-Phi, melakukan snorkeling dan makan siang, kapal beranjak pulang menuju Phuket. Semua penumpang tampak kelelahan dan memilih beristirahat di kursi masing-masing. Ketika sampai di pelabuhan, satu per satu penumpang turun dari kapal dan menuju bus masing-masing. Saya menaiki bus yang khusus mengantarkan langsung ke terminal bus Phuket bersama beberapa penumpang lainnya.

Saatnya tiba untuk menaiki bus yang akan membawa saya ke Bangkok. Perjalanan ini memakan waktu lebih kurang 14 jam. Di akhir perjalanan, sinar matahari mulai benderang. Mentari perlahan beranjak naik. Tampak dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit kota Bangkok. Sepintas wujud Bangkok mirip dengan Jakarta.

Sekitar pukul delapan pagi bus tiba di Terminal Chatuchak Bangkok. Selama sehari saya menghabiskan waktu di Bangkok untuk berkeliling. Puas menikmati pemandangan kota Bangkok yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta ini, saya kembali ke terminal bus untuk menuju kota selanjutnya, yakni Nong Khai, masih di negara yang sama.

Bus akan berangkat sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Lama perjalanan dari Bangkok menuju Nong Khai adalah sekitar delapan jam.

Bus tiba di Nong Khai, Thailand, sekitar pukul empat pagi. Hari masih gelap. Suasana di terminal tampak sepi. Hanya terlihat beberapa penumpang saja yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu dan beberapa pekerja sekitar terminal.

Nong Khai adalah kota yang terletak di timur laut Thailand, tepat berbatasan dengan Laos. Saya menuju kantor imigrasi Thailand dengan menggunakan tuk-tuk seharga ฿60. Saya melewati jembatan persahabatan Thailand – Laos dengan bus khusus perbatasan bertarif ฿20. Lama perjalanan melintasi perbatasan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa Visa on Arrival, hanya menunjukkan paspor.

Roti Baguette Khas Laos
Roti Baguette Khas Laos

Kota Vientiane sangat berdebu, sehingga kurang nyaman. Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Jumat di Mesjid Jamia.

Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos
Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos

Setelah puas menikmati Vientiane, terminal bus lokal saya sambangi untuk mencari tiket tujuan Hanoi, Vietnam. Bus Vientiane, Laos – Hanoi, Vietnam dapat merupakan Sleeper Bus yang kursinya berbentuk tempat tidur sehingga posisi kaki hanya bisa lurus ke depan. Sekitar pukul dua dini hari bus tiba di perbatasan Laos – Vietnam, tepatnya di kota kecil Nam Phao, Laos. Di perbatasan ini bus berhenti menunggu hingga kantor imigrasi Laos buka di pagi hari. Banyak juga bus lainnya yang berhenti dan menunggu di sini.

Ketika hari mulai terang, saya dan beberapa penumpang lainnya turun sebentar membersihkan diri di sebuah toilet umum yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus. Udara sangat dingin. Seluas mata memandang saya hanya melihat perbukitan berkabut. Kantor imigrasi mulai buka dan petugas bus mengurus inspeksi paspor para penumpangnya. Selain warga negara Laos atau Vietnam penumpang diharuskan untuk datang sendiri ke imigrasi.

Selesai melakukan inspeksi paspor, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan menuju imigrasi Vietnam. Jarak dari imigrasi Laos ke imigrasi Vietnam sangat dekat. Tidak sampai lima menit bus sudah sampai di kantor imigrasi Vietnam, tepatnya di kkota Cau Treo. Semua penumpang turun kembali untuk melakukan inspeksi paspor. Suasana di sini tampak berkabut. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter. Warga negara Indonesia tidak perlu visa kunjungan ke Vietnam.

Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo
Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo

Perjalanan dilanjutkan ke Hanoi. Hujan turun tidak begitu deras menemani perjalanan pagi ini. Bus berhenti di tempat peristirahatan untuk makan siang. Semua penumpang diharuskan turun walau tidak ikut makan siang. Hal ini dilakukan oleh petugas bus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang. Di tempat peristirahatan ini Saya tidak ikut makan karena takut tidak terjamin kehalalannya.

Selama perjalanan menuju Hanoi, pemandangan menyuguhkan deretan perbukitan, hutan, sungai, hamparan sawah dan kehidupan warga di sekitar perbatasan Vietnam yang masih banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.

Sekitar pukul tujuh malam bus tiba di terminal bus Hanoi. Menggunakan taksi, saya menuju Old Quarter untuk mencari penginapan. Penginapan hostel bertarif lima dolar AS per malam saya dapatkan. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat.

Hari kedua di Vietnam. Saya mulai bersiap-siap untuk mengunjungi Halong Bay yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Tepat pukul delapan pagi seorang pemandu wisata tur ke Halong Bay mendatangi hostel untuk menjemput. Bus yang saya tumpangi berkeliling Old Quarter untuk menjemput turis lainnya.

Perjalanan dari Hanoi ke Halong Bay memakan waktu sekitar tiga jam. Setibanya di Halong Bay peserta tur memasuki pelabuhan dan diajak menikmati keindahan lokasi ini dengan kapal wisata yang bercorak tradisional, menyusuri perbukitan karst. Peserta tur puas menikmati Halong Bay yang eksotis dan menyaksikan gua stalaktit dan stalagmit.

Eksotisme Halong Bay
Eksotisme Halong Bay

Setelah kapal merapat di pelabuhan, peserta tur turun dari kapal dan menuju bus untuk selanjutnya diantar ke tujuan masing-masing. Bus berjalan membawa seluruh peserta tur untuk menikmati perjalanan tiga jam menuju Hanoi.

Hari ketiga di Hanoi, saya tak memiliki agenda khusus. Pilihan jatuh pada mengelilingi Old Quarter. Tempat-tempat menarik di sekitar wilayah ini adalah Danau Hoan Kiem dan Mesjid Hanoi. Karena kelelahan, saya pulang ke hostel dan tertidur pulas hingga pukul 10 malam.

Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam
Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam

Memasuki hari terakhir di Hanoi. Selasa, 29 November 2011, saya mulai berkemas mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Tertera di tiket bahwa pesawat yang akan saya naiki akan berangkat pukul 10.45 waktu setempat. Bis dari kota Hanoi ke bandara memakan waktu 45 menit. Perjalanan Hanoi – Singapura ini membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Sesampainya di Singapura, saya langsung menaiki MRT (Mass Rapid Transit) ke stasiun HarbourFront, lalu menuju pelabuhan feri yang akan membawa saya kembali ke Batam.

Tepat pukul 20.00 kapal feri berangkat meninggalkan Singapura. Perjalanan dengan kapal feri ke Batam ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Persediaan Rupiah sudah mulai menipis. Saat sudah terasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah tiba-tiba seorang tukang ojek menawarkan ojeknya sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”

  • Disunting oleh SA 18/01/12, 17/01/12
  • ฿ = Baht Thailand, silakan cek kurs terkini di Google
  • RM = Ringgit Malaysia, silakan cek kurs terkini di Google

Atraksi Wajib-Kunjung Istanbul

Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini.

Selat Bosphorus

Selat Bosphorus
Selat Bosphorus

Selat Bosphorus terletak di antara benua Asia dan Eropa dan menghubungi Laut Marmara dan Laut Hitam. Bosphorus terkenal akan wisata pesiar dengan pemandangan dan beberapa peninggalan sejarah tepi benua Asia dan Eropa. Untuk menikmati wisata pesiar Bosphorus bisa menggunakan jasa penyeberangan kapal feri Sehir Hatlari, jasa kapal pesiar Turyol atau jasa kapal pesiar swasta yang banyak bertebaran di Eminonu. Alternatif lain bagi yang tidak punya banyak waktu, coba penyeberangan kapal feri dari Eminonu ke Kadikoy, berbaur dengan masyarakat lokal, yang juga merupakan tempat pas untuk menikmati pemandangan kota Sultan Ahmed dengan pemandangan Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace. Sedangkan di sisi Asia akan terlihat barak militer Selimiye. Harga tiket penyeberangan dua lira dan pesiar mulai dari 12-25 lira.

Hagia Sophia

Hagia Sophia
Hagia Sophia

Hagia Sophia, gereja yang dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada saat itu, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet ketika berhasil mengalahkan Constantinople. Tokoh sekuler Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. Hagia Sophia buka setiap hari, kecuali hari Senin dengan tiket masuk 20 lira.

Basilica Cistern

Basilica Cistern
Basilica Cistern

Terletak di bawah tanah, bangunan kecil sekaligus loket tiket masuk di seberang Hagia Sophia, Basilica Cistern membawa pengunjung ke suasana tenang dari keramaian kota Istanbul. Dikenal juga sebagai “istana tenggelam”, waduk tertutup yang memiliki 336 kolom marmer dan granit ini dibangun pada tahun 532 Masehi untuk memenuhi kebutuhan air istana agung Constatinople dan Topkapi. Basilica Cistern berkapasitas 100.000 ton, mendatangkan air dari hutan Belgrade yang mengalir melalui jembatan air sepanjang 19 kilometer. Ada dua kolom yang paling menarik perhatian di dalam Basilica Cistern, kolom dengan alas kepala Medusa yang dalam mitologi Yunani dipercaya sebagai jelmaan perempuan berambut ular. Basilica Cistern buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

Topkapı Palace

Maket Topkapı Palace
Maket Topkapı Palace

Terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan atraksi wisata yang paling banyak dikunjungi di Istanbul. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. Istana ini menyimpan koleksi harta sultan mulai dari perhiasan berharga, kereta, pakaian, senjata dan artefak suci. Salah satu tempat yang paling menarik adalah Harem, dulunya hanya boleh dimasuki oleh orang terdekat Sultan termasuk keluarga, istri, selir dan pembantu pribadinya. Semua kehidupan di dalam Harem diatur oleh ibu sultan. Topkapi Palace tutup pada hari Selasa dan buka dari hari Rabu hingga Senin dengan tiket masuk 20 lira, tiket tambahan masuk Harem 15 lira. Tersedia pula pemandu grup dengan biaya 10 lira dan sistem audio pemandu bertarif lima lira.

Çemberlitaş Hamamı

Çemberlitaş Hamamı
Çemberlitaş Hamamı

Berkunjung ke Turki tidak lengkap tanpa mencoba Hamam atau pemandian ala Turki yang menyegarkan. Walaupun terasa sedikit risih dimandikan orang lain, pemandian tradisional Turki yang berawal dari tahun 600 Masehi memberikan pengalaman yang berakar dari kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Cemberlitas Hamami di Istanbul dibangun pada tahun 1584 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bangunan tua berkubah dengan interior berbatu marmer dan dihiasi ornamen yang indah, pencahayaan dan temperatur suhu udara yang terkontrol dengan ritual pemandian masa lalu menciptakan suasana yang santai. Untuk mengalami pengalaman yang unik ini pengunjung dikenakan biaya 70 lira dan terbuka untuk pria dan wanita dengan ruang yang terpisah.

Whirling Dervishes

Whirling Dervishes
Whirling Dervishes

Nikmati pertunjukan whirling dervishes Sufi yang sangat magis. Dimulai dengan pembacaan doa dan dialuni suara gendering dan seruling, penari bertopi coklat dengan jubah putih yang terkembang berputar-putar sebagai simbol dari bulan yang mengelilingi matahari, sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah, simbol dari “tuhan” dan bumi. Kebudayaan yang dimulai sejak abad ke-13 dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Dede Efendi House dekat Blue Mosque sekaligus menjadi museum dengan koleksi peralatan musik tradisional Sufi. Tiket masuk 50 lira setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu.

Istanbul Museum of Modern Art

Istanbul Museum of Modern Art
Istanbul Museum of Modern Art

Sebagai alternatif bagi yang ingin melihat Istanbul masa kini, kunjungilah tempat ini. Dibangun pada tahun 2004, galeri seni ini memamerkan karya-karya seni abad ke-20 karya seniman lokal maupun internasional. Terdapat juga perpustakaan seni, toko cinderamata, kafe dan restoran dimana pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Turki sambil melihat perahu hilir mudik atau matahari terbenam. Istanbul Museum of Modern Art buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur keagamaan. Dikenakan tarif tiket masuk seharga 7 lira dan jika ingin tiket gratis, datanglah pada hari Kamis. Mengambil foto tidak diperkenankan sama sekali.

Galata Tower

Galata Tower
Galata Tower

Salah satu ikon kota Istanbul, menara yang memiliki sembilan lantai dan tinggi 70 meter ini dibangun pada abad pertengahan. Pada zaman Byzantine, menara ini terbuat dari kayu, kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu pada tahun 1384. saat ini menara dilengkapi dengan dua lif. Sesuai fungsinya sebagai menara pemantau, lantai teratas menara merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangaqn kota, sambil minum teh atau kopi di kafe yang tersedia di lantai yang sama menunggu matahari terbenam. Galata Tower buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

  • Disunting oleh SA 17/01/12

Bertandang ke Buddha Tooth Relic Temple and Museum

Singapura seolah tak pernah habis dikupas. Terlepas dari objek-objek wisata populer dan identik sebagai tempat wisata belanja, masih banyak sudut lainnya yang bisa dijelajahi. Salah satunya yang sayang jika tidak disinggahi yaitu Buddha Tooth Relic Temple and Museum atau Museum dan Kuil Relik Gigi Sang Buddha. Sebuah monumen budaya hidup yang terletak di South Bridge Road yang merupakan jantung Pecinan (Chinatown). Tidaklah sulit menemukan kuil ini, karena bisa dijangkau dengan Mass Rapid Transit (MRT).

Buddha Tooth Relic Temple and Museum berdiri megah, terdiri dari empat lantai. Umumnya ciri khas vihara atau kuil, dominasi warna merah dan emas kentara sekali. Bangunan ini sendiri dikonsep dan dirancang oleh Shi Fa Zhao. Secara garis besar rancangan kuil ini dilandasi unsur-unsur dan sejarah Dinasti Tang dan Mandala Buddhis, yaitu representasi dari alam semesta Buddhis seperti yang terungkap dalam situs resmi kuil ini.

Buddha Tooth Relic Temple
Buddha Tooth Relic Temple

Begitu memasuki lantai satu, mata kita langsung tertuju kepada Patung Bodhisattva Avalokitesvara yang tengah duduk indah di atas tahta teratai, dan dikelilingi oleh patung-patung kecil sepanjang sisinya. Tata cahaya yang indah semakin menambah kesan menggagumkan bagi siapapun yang mengunjunginya. Saat saya tiba, suasana kuil cukup ramai karena sedang ada aktivitas ibadah. Beruntung saya bertemu dengan biksu dari Indonesia. Saya diajaknya melihat relik yang dipercaya para pemimpin umat Buddha sebagai relik suci Gigi Sang Buddha, terdapat di dalam sebuah stupa yang terbuat dari 320 kilogram emas hasil sumbangan umat. Peninggalan suci ini disimpan di lantai empat. Sayang tidak diperkenankan mengambil gambar, bahkan karena sucinya tempat ini, untuk masuk ke dalam pun harus melepas alas kaki.

Patung Bodhisattva Avalokitesvara
Patung Bodhisattva Avalokitesvara

Selain menyimpan relik suci Gigi Sang Buddha, di lantai empat ini kita dapat menemukan beribu-ribu patung kecil Buddha yang disusun teratur dalam wadah kotak kaca. Ada pula bangunan dengan atap berbentuk pagoda yang di dalamnya terdapat lonceng besar dan dapat diputar-putar. Bagian depannya, ditumbuhi berbagai tanaman hias membuat suasana tampak asri.

Atap Berbentuk Pagoda
Atap Berbentuk Pagoda

Bagian menarik lain dari kuil ini adalah Buddhist Culture Museum yang terletak di lantai tiga. Di sini kita dapat menemui berbagai jenis patung Buddha dari penjuru negeri lengkap dengan penjelasan sejarahnya. Perasaan takjub menghampiri hati saya karena bangga secara langsung dapat melihat koleksi benda-benda bersejarah yang bernilai seni tinggi. Saya juga sempat melihat relik yang dijual dengan harga yang sungguh fantastik. Puas berkeliling museum, saya menurun ke lantai dua, yang adalah ruang perpustakaan. Di tempat ini semua dokumen baik asli maupun replika tentang sejarah Buddha tersimpan rapi.

Buddhist Culture Museum
Buddhist Culture Museum

Buddha Tooth Relic Temple and Museum sendiri merupakan salah satu kuil Buddha dengan bangunan yang masih terjaga dan terawat, di tengah-tengah modernitas masyarakat Singapura. Penasaran? Sediakan waktu luang untuk mengunjunginya, karena kita butuh waktu lama jika ingin detail melihat kuil ini. Ah, Singapura memang tak henti menggoda.

  • Disunting oleh SA 11/01/12

Satu Hari Atraksi Gratis Istanbul

Untuk ukuran pejalan dari Asia Tenggara, berwisata di Istanbul tidak bisa dikatakan murah. Setibanya di bandara saja kita harus mengeluarkan uang sebesar US$25 untuk Visa on Arrival, membeli koin (disebut “jeton“) tram sekali jalan senilai 2 lira dan setiap ganti/transfer tram harus membeli koin lagi. Biaya penginapan berupa asrama paling murah sekitar US$9/malam, sekali makan untuk makanan sederhana seperti kabab atau falafel dan sebotol air mineral adalah 5 lira. Belum lagi harga tiket masuk museum atau atraksi wisata yang terkenal rata-rata seharga 20 lira atau museum yang kurang popular seharga 10 lira. Hitung semua itu sesuai kurs 1 lira = Rp5.000 (dibulatkan).

Untuk yang anggarannya pas-pasan atau ingin berhemat, jangan khawatir. Istanbul menyediakan banyak pilihan atraksi wisata yang tidak dikenakan bayaran. Berikut beberapa atraksi wisata gratis yang bisa dijadikan prioritas, terangkum dalam sehari perjalanan. Jangan lupa ambil peta wisata gratis yang tersedia di bandara atau penginapan!

08.00 – 09.00: Hippodrome

Hippodrome
Hippodrome

Dulunya pernah menjadi Hippodrome atau lapangan pacuan kuda terbesar di dunia. Pembangunan Hippodrome dimulai pada abad 203 Masehi oleh kaisar Roma Septimius Severus dan diselesaikan oleh Constantine Agung pada abad 330 Masehi. Hippodrome yang pada saat itu bertempat duduk sejumlah 100.000 juga digunakan sebagai tempat upacara, kegiatan olah raga, kegiatan sosial dan bahkan tempat eksekusi mati.

Hingga kini tidak banyak yang tersisa, hanya tiga buah monumen kuno yang masih berdiri. Salah satu monumennya adalah obelisk Mesir yang berasal dari 1490 SM, dibawa oleh kaisar Roma ke Istanbul pada abad ke-4 Masehi. Obelisk setinggi 25,6 meter terbuat dari batu granit langka berwarna merah muda yang berdiri di atas balok perunggu dengan ukiran penonton yang sedang menyaksikan lomba pacuan kereta. Di sisi yang lain dari Sultan Ahmed Square juga terdapat air mancur sebagai hadiah untuk Sultan Abdulhamit dan rakyatnya yang diberikan oleh kaisar Jerman Wilhelm II pada tahun 1898 sekaligus untuk memperingati bersekutunya Jerman dan Ottoman.

09.00 – 10.00: Blue Mosque

Blue Mosque
Blue Mosque

Bila minaret yang tersebar di kota Istanbul tidak menarik perhatian Anda, mungkin hanya Blue Mosque dengan enam minaretnya yang menjulang tinggi dan terletak di seberang Hippodrome akan mengubah pikiran Anda. Dibangun oleh kaisar ke-14 kekaisaran Ottoman antara tahun 1609 – 1616 sebagai tandingan dari Museum Hagia Sophia yang berada di seberangnya. Konon kondisi Blue Mosque saat ini berawal dari kesalahpahaman antara keinginan Sultan dan arsiteknya. Awalnya sultan menginginkan mesjid berminaret terbuat dari emas (“altin” jika dalam bahasa Turki), tetapi sang arsitek mengartikan masjid dengan 6 (“alti”) minaret.

Nama Blue Mosque berasal dari 20.000 keping keramik Iznik berwarna biru berbentuk pola tradisional Ottoman dengan bentuk bunga lili, carnation dan tulip yang menghiasi langit-langit mesjid. Interior mesjid menjadi lebih indah dengan masuknya sinar matahari melalui 260 jendela berkaca patri yang berada di sekeliling dinding mesjid. Blue Mosque ditutup selama 30 menit pada waktu sholat dan selama sholat Jumat.

10.00 – 11.30: Gulhane Park

Gulhane Park
Gulhane Park

Dengan berjalan kaki dari Blue Mosque Anda akan melewati Museum Hagia Sophia dan menikmati atau mengambil foto arsitektur bangunan yang pernah menjadi gereja di masa kekaisaran Roma dan dialihfungsikan menjadi mesjid pada masa kekuasaan Ottoman.

Gulhane Park merupakan taman bersejarah dan tertua di kota Istanbul yang ramai dilewati pengunjung dari Blue Mosque dan Museum Hagia Sophia yang menuju Topkapi Palace. Berjalan di jalan setapak yang lebar dengan rindangnya pohon di kiri dan kanannya disertai pemandangan Selat Bosphorus dan Laut Marmara tentu akan menjadi pengalaman tersendiri.

11.30-14.00: Grand Bazaar

Grand Bazaar
Grand Bazaar

Untuk menuju Grand Bazaar dari Gulhane Park bisa menaiki tram dari stasiun Gulhane ke arah Zeytinburnu dan turun di stasiun Cemberlitas dengan menggunakan satu koin seharta 2 lira. Setibanya di Cemberlitas terlihat Column of Constantine setinggi 35 meter yang juga dikenal sebagai Burnt Column setelah terbakar pada tahun 1779. Column of Constantine didirikan pada tahun 330 Masehi untuk memperingati berdirinya Byzantium sebagai ibukota baru kekaisaran Roma. Makan siang di restoran yang menjual Turkish kabab dan jus buah delima segar di seberang jalan dan selang beberapa toko terdapat pemandian Turki yang bersejarah, Cemberlitas Hamami.

Dengan mengikuti jalan setapak dan banyak bertanya Anda akan tiba di Grand Bazaar yang didirikan sejak tahun 1461. Terdapat 4.000 kios yang tersebar di 64 jalan. Anda kemungkinan besar akan tersesat di pasar yang dikunjungi hampir 400.000 orang per harinya. Memiliki peta Grand Bazaar walking tour tentu akan sangat membantu untuk menghemat waktu. Grand Bazaar tutup pada hari Minggu, selama bulan Ramadhan, dan beberapa hari besar. Setelah puas berkeliling, carilah pintu keluar yang mengarah ke stasiun Beyazit.

14.00 – 17.00: Taksim Square & Istiklal Caddesi

Istiklal Caddesi
Istiklal Cadessi

Dari Stasiun Beyazit di seberang Grand Bazaar, naiklah tram dengan tujuan Kabatas, lalu ganti tram menuju Taksim. Tarifnya 4 lira. Perjalanan dari Beyazit menuju Taksim memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tram akan berhenti tepat di Taksim Square, sebuah ruang terbuka. Berjalanlah ke arah Monument of Republic yang tidak jauh dari Taksim Square, lalu ikuti jalur kereta berserjarah yang melintasi jalan sepanjang 3 kilometer dari Monument of Republic hingga ke ujung jalan (“cadessi”) Istiklal.

Jalan yang berada di kawasan Beyoglu ini juga disebut Grand Avenue dan dilintasi jutaan manusia setiap harinya. Terdapat pertokoan, kafe, bar, galeri seni, museum, restoran, bioskop, bangunan religius dan kedutaan besar di kedua sisi jalan dengan beragamnya bangunan dari yang berarsitektur klasik hingga modern. Di penghujung jalan Istiklal, tempat di mana jalur kereta berakhir, ikutilah jalan berbatu yang menurun, melintasi Galata Tower di sebelah kanan dan terus berjalan hingga menemukan jalan utama dan diteruskan ke arah Galata Bridge.

17.00 – 18.00: Galata Bridge

Pemandangan dari Galata Bridge
Galata Bridge

Jembatan sepanjang 500 meter yang baru dibangun pada tahun 1992 ini menghubungkan kota tua Istanbul dan kota modernnya. Selain dapat dilalui kendaraan beroda empat, jembatan ini juga menyediakan jalur tram dan pejalan kaki. Galata Bridge ramai dikunjungi pemancing ikan dari pagi hingga malam dan masyarakat lokal untuk mencari jajanan. Di bawah Galata Bridge terdapat deretan rumah makan dan kafe yang menjajakan teh dan kopi, serta berbagai makanan laut.

Dari Galata Bridge terlihat pemandangan kota tua Istanbul dengan bangunan masjid Ottoman dan minaretnya yang menjulang, Galata Tower dan burung camar berterbangan. Jangan lupa mencoba balik ekmek, roti yang diisi irisan sayuran dan ikan goreng seharga 5 lira.

18.00 – 18.30: Spice Bazaar

Spice Bazaar
Spice Bazaar

Spice Bazaar dibangun pada tahun 1664 yang biaya sewa kiosnya digunakan untuk membiayai perawatan Masjid Yeni Cami (New Mosque) yang terletak tidak jauh dari situ. Di sini terdapat 86 kios yang menjual aneka rempah, obat obatan tradisional, aneka jenis cemilan dan cinderamata.

18.30 – 19.00: Yeni Camii Mosque

Mesjid Yeni Camii
Yeni Camii Mosque

Terletak di seberang Spice Bazaar, Yeni Cami, meskipun dikenal dengan nama New Mosque, dibangun sebelum Blue Mosque pada tahun 1597. Yeni Cami memiliki halaman yang megah dengan air mancur tempat mengambil air wudhu yang terletak di tengahnya. Terdapat dua minaret dan beberapa kubah yang bertingkat. Interior mesjid dipenuhi oleh dekorasi batu marmer dan keramik Iznik berwarna emas, putih, biru dan hijau.

Untuk kembali ke penginapan, stasiun tram terdekat adalah Eminonu, tapi lebih baik berjalan kaki sambil melihat Hagia Sophia dan Blue Mosque dengan pencahayaan lampu di malam hari.

  • Disunting oleh SA 08/01/12

Mengintip Korea Utara

Pada suatu Sabtu di musim gugur, saya bangun dini hari dan bersiap-siap untuk mengejar tur ke perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu biasa disebut Demilitarized Zone (DMZ). Ada tiga gerbang masuk menuju DMZ di Korea Selatan: Yanggu (bagian Timur), Cheorwon (bagian Tengah) dan Paju (bagian Barat). Yang paling populer adalah Paju karena terletak paling dekat dengan ibukota negara Seoul, dan bisa ditempuh sekitar satu-dua jam dari Seoul.

Di sepanjang perjalanan bus dari Seoul, kami menyusuri sisi Hangang (baca: Han-gang, Sungai Han) yang ditutupi dengan kawat pembatas listrik. Beberapa tentara Korea Selatan tampak berjaga di pos di setiap kilometernya, mengawasi Hangang dari penyelundup. Di seberang sungai itu adalah pegunungan daerah Korea Utara, dan di sebelah kanan kami adalah persawahan dan pegunungan Korea Selatan. Perbandingan kedua pegunungan sangat berkebalikan. Pegunungan Korea Selatan tampak hijau dan dipenuhi tumbuhan, sedangkan pegunungan Korea Utara tampak merah dan gundul. Kata pemandu tur kami, Korea Utara membakar dan menggunduli pegunungan di perbatasan mereka untuk memudahkan mereka mengawasi siapa saja yang kabur dan masuk.

Pos Penjaga di Sisi Hangang
Pos penjaga di sisi Hangang

Pemandangan itu perlahan memudar seiring dengan berjalannya bus memasuki perhentian kami yang pertama, yaitu Taman Imjingak (baca: Imjin-gak). Imjingak dipenuhi dengan monumen, patung, jembatan dan bangunan bersejarah yang berhubungan dengan perang Korea. Acara-acara yang berupaya untuk menyatukan kembali atau memperbaiki hubungan kedua Korea biasanya diadakan di Imjingak. Setiap Chuseok (perayaan Thanksgiving ala Korea) dan Seollal (perayaan Tahun Baru Korea), pendatang dari Korea Utara, yang sekarang menetap di Korea Selatan, mengunjungi Mangbaedan di Imjingak untuk melakukan ritual penyembahan leluhur dengan membungkuk ke arah Korea Utara. Di Imjingak juga terdapat Freedom Bridge, jembatan yang dilalui oleh tahanan atau tentara Korea Selatan saat pulang kembali ke kampung halamannya dari Korea Utara.

Mangbaedan, Tempat Pendatang Korea Utara Melakukan Ritual Penyembahan Leluhur
Mangbaedan, Tempat Pendatang Korea Utara Melakukan Ritual Penyembahan Leluhur

'Freedom Bridge' Melintasi Sungai Imjin
Freedom Bridge Melintasi Sungai Imjin

Pita-pita di Imjingak yang ditulisi harapan dan doa untuk perdamaian kedua Korea Imjingak terletak tujuh kilometer dari Military Demarcation Line (MDL), garis yang membatasi Korea Selatan dan Korea Utara. Imjingak adalah tempat terjauh yang dapat didatangi pengunjung tanpa pemandu. Jika pengunjung tidak ingin mengambil paket tur dari agen perjalanan di Seoul, mereka dapat menggunakan transportasi umum ke Imjingak, lalu membeli tiket tur di sana. Saya dengar, tur-tur yang disediakan langsung di Imjingak dipandu oleh tentara Korea Selatan sendiri, dalam bahasa Korea. Jadi pengunjung dari luar negeri lebih disarankan untuk menggunakan jasa agen perjalanan dari Seoul yang menyediakan tur dalam berbagai bahasa.

Dari Imjingak, tujuan kami selanjutnya adalah Third Infiltration Tunnel. Di jalan menuju kesana, bus kami melewati pos penjaga, dimana paspor setiap pengunjung dicek oleh tentara Korea Selatan. Third Infiltration Tunnel adalah terowongan yang dibangun oleh Korea Utara untuk menyerang Korea Selatan. Sampai saat ini sudah 4 terowongan Korea Utara yang ditemukan, dari sekitar 20 terowongan yang diperkirakan. Terowongan kedua (ditemukan tahun 1975 di bagian Tengah DMZ), ketiga (ditemukan tahun 1978 di bagian Barat DMZ, paling dekat dengan Seoul) dan keempat (ditemukan tahun 1990 di bagian Timur DMZ) dapat dikunjungi oleh turis. Perjalanan kami kali ini adalah menuju terowongan ketiga.

Setelah menggunakan helm pengaman, kami menuruni terowongan itu dengan perlahan. Terowongan yang panjangnya sekitar 1.7 kilometer, tinggi dan lebar masing-masing dua meter ini dapat menampung sekitar 60.000 tentara Korea Utara untuk menyusup ke Korea Selatan dalam waktu 1 jam saja. Saat ditemukan, pihak Korea Utara membantah terowongan ini milik mereka. Namun tanda pengeboran di dinding terowongan menunjukkan arah ke Korea Selatan, yang menandakan bahwa terowongan ini dibangun dari arah Korea Utara. Setelah itu pihak Korea Utara melaporkan secara resmi bahwa itu adalah terowongan penambangan batu bara dan melumuri dinding terowongan dengan batu bara sebagai bukti. Akan tetapi, riset geologi menunjukkan tanah di daerah itu tidak mengandung batu bara.

Walaupun panjang asli terowongan adalah 1.7 kilometer, namun hanya 400 meter yang bisa dilewati pengunjung, yaitu sampai batas MDL. Sedangkan, sisa terowongan sudah masuk ke bagian Korea Utara, dan diberi dua dinding pembatas. Setengah perjalanan menuju dinding pembatas itu menurun, dan setengahnya lagi mendatar. Di dinding pembatas pertama, terdapat jendela kecil untuk melihat ke dinding pembatas kedua dan ruangan yang suram.

Pintu Masuk Terowongan
Pintu Masuk Terowongan, Dilarang Mengambil Foto

Kembali ke atas, kami diberi waktu sebentar untuk melihat video dokumenter pendek dan museum DMZ sebelum menuju tempat selanjutnya yaitu Dora Observatory. Di Dora Observatory inilah kami bisa mengintip sedikit pemandangan Korea Utara. Di paling bagian selatan Korea Utara itu, mereka membangun sebuah kota palsu dengan bangunan-bangunan mewah tinggi dan lampu yang diatur untuk menyala dan mati, untuk menunjukkan ke dunia bahwa mereka hidup bahagia dan makmur di Korea Utara. Daerah ini bernama Kijong-dong, dan disebut juga Propaganda Village.

Dari sini, kami juga bisa melihat garis perbatasan dan dua buah tiang bendera. Pada tahun 1980, Korea Selatan membangun tiang bendera setinggi 100 m di dekat perbatasan ini dan mengibarkan benderanya di sana. Pihak Korea Utara kemudian membalasnya dengan membangun tiang yang lebih tinggi, mungkin bukan tiang lagi namanya tapi menara dengan tinggi 160 meter, atau disebut juga Flagpole War.

Mengintip Korea Utara di Dora Observatory
Mengintip Korea Utara di Dora Observatory

Perhentian kami selanjutnya dan yang terakhir di DMZ adalah Dorasan Station. Ini adalah stasiun kereta paling utara di Korea Selatan. Sebelumnya jalur ini digunakan untuk pengiriman barang antara Korea Selatan dan Korea Utara, namun Korea Utara menutup perbatasannya sejak Desember 2008. Sejak itu, tidak ada lagi kereta yang melalui Dorasan Station, dan hanya dibuka untuk turis. Di sini pengunjung bisa meminta foto bersama tentara Korea Selatan dan meminta stempel DMZ. Tapi hati-hati untuk tidak meletakkan stempel itu di paspor. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Jepang, kabarnya menolak orang-orang masuk negaranya jika menemukan cap ini di paspor.

Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon
Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon (Interior)

Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon
Dorasan Station, Rancangan Arsitek Bandara Internasional Incheon (Eksterior)

Itulah cerita perjalanan saya mengintip Korea Utara. Ada perasaan aneh yang menghinggap sepanjang tur berlangsung. Saat melihat pengharapan dan doa-doa yang diletakkan di Imjingak, saat melihat tentara-tentara Korea Selatan yang ‘sialnya’ mendapat tugas berjaga di DMZ yang katanya masih dipenuhi bom dan ranjau darat, saat menuruni terowongan suram dengan membayangkannya dirancang dan dibangun oleh orang-orang Korea Utara untuk berperang, saat memandang jauh ke pegunungan gersang dan kota palsu Korea Utara dan bertanya-tanya bagaimana kehidupan orang-orang di dalam sana, saat melihat stasiun kereta megah yang tidak lagi beroperasi karena pemutusan perjanjian sebelah pihak, ditambah lagi pemandu tur yang selalu menceritakan kelakuan buruk pemerintah Korea Utara terhadap penduduknya dan terhadap Korea Selatan yang membuat seluruh peserta semakin benci dengan Korea Utara.

Semua hanya bisa berharap, semoga perdamaian di antara kedua Korea cepat terjadi.

  • Disunting oleh SA 07/01/12

Tentang Bebas Visa Kunjungan ke Negara-Negara Schengen

Beberapa hari yang lalu berkembang berita mengenai kemungkinan warga negara Indonesia (WNI) dibebaskan dari keperluan mengurus visa untuk bepergian ke negara-negara Schengen di Eropa. Perlu ditekankan bahwa negara-negara Schengen ini tetap terbatas, dan tidak menjadi keseluruhan benua Eropa. Oleh karena itu, menyebut kasus ini sebagai “bebas visa ke Eropa” sebenarnya salah kaprah. Negara-negara yang termasuk perjanjian Schengen adalah Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Switzerland.

Berita ini mulai ada di harian Tribun News, yang mengutip perkataan Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Rochadi Iman Santoso, yang menyimpulkan bahwa Indonesia tinggal mencapai status “Aneks 1”. Tidak jelas apa yang dimaksud Aneks 1, dan siapa yang memiliki regulasi ini (Indonesia? Negara-Negara Perjanjian Schengen?).

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja,” kata Rochadi lagi.

Terakhir kali saya melakukan aplikasi visa Schengen, butuh setidaknya 10 hari. Saya tidak tahu apakah baru-baru ini prosedur ini dipersingkat sampai jadi 3-5 hari saja. Tidak ada keterangan yang memastikan informasi ini baik di halaman Kedutaan Jerman atau Kedutaan Belanda di Jakarta, misalnya. Yang ada, pemohon diminta untuk mengajukan aplikasi paling tidak 15 hari sebelum keberangkatan.

“Saat ini, dalam lingkup keimigrasian dunia, Indonesia baru mencapai status Aneks 2. Salah satu hasilnya adalah pengurusan visa untuk negara Schengen tidak lagi memakan waktu berminggu-minggu, melainkan hanya 3-5 hari saja.” Rochadi Iman Santoso

Isu lain adalah untuk memenuhi status “Aneks 1”, salah satu usaha yang diperlukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan mengimplementasikan secara penuh program paspor elektronik. Paspor elektronik memang sudah ditawarkan di beberapa Kantor Imigrasi, misalnya Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Biayanya juga lebih mahal, per tulisan ini dibuat, tarifnya Rp600.000. Bandingkan dengan paspor biasa yang bertarif Rp200.000. Tentu saja, tarif ini tidak termasuk biaya-biaya administrasi lain dan agen atau calo, misalnya.

Apa beda paspor biasa dan elektronik, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, paspor elektronik dikatakan memiliki chip yang ditanamkan di salah satu bagian paspor, entah itu kulit/cover atau halaman tertentu. Chip ini memiliki informasi biometrik seperti sidik jari, kemungkinan juga iris (seperti pada layanan Kartu Tanda Penduduk elektronik/e-KTP) dan informasi biodata seperti nama, tempat & tanggal lahir, alamat rumah, pekerjaan dan lain-lain. Dengan informasi yang sudah dipindai secara elektronik ini, pengguna paspor dapat mengalami proses yang lebih cepat di gerbang imigrasi, baik itu di Indonesia maupun di salah satu negara Schengen di Eropa. Menurut artikel itu lagi, bahkan pemegang paspor bisa menggunakan salah satu gerbang otomatis (bayangkan langsung melewati imigrasi tanpa harus bertatap muka dan ditanya-tanya oleh petugas, namun langsung melakukan pemindaian cepat di mesin).

Hal ini berarti, untuk menikmati fasilitas bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen di Eropa, kemungkinan besar kita harus memiliki paspor elektronik terlebih dahulu. Bisa saja hal ini berarti kita harus mengurus paspor baru lagi.

Tampaknya masih butuh beberapa tahun lagi (lima tahun?) agar WNI dapat menikmati keuntungan bebas visa kunjungan ke negara-negara Schengen. Saya juga agak bingung, kenapa berita ini hanya muncul di Tribun News, atau setidaknya begitulah yang saya lihat. Semua hasil pencarian di Google menampilkan hasil salinan berita ini, yang berjudul “Selangkah Lagi WNI Tak Perlu Visa Untuk ke Eropa”. Tampaknya, Tribun News perlu mencari klarifikasi lagi pada kedutaan-kedutaan yang bersangkutan, tidak hanya klaim dari pegawai imigrasi.

Mungkin kita memang tak perlu senang dulu.


© 2017 Ransel Kecil