Bulan: January 2012 (halaman 1 dari 3)

Nikmatnya Kuliner Cirebon

Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu? Mari kita simak!

Empal Gentong

Empal Gentong
Empal Gentong
Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.

Nasi Jamlang

Nasi Jamlang
Nasi Jamlang
Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.

Nasi Lengko

Nasi Lengko
Nasi Lengko
Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot
Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil.
Itu hanya segelintir daftar makanan yang dapat dijadikan referensi jika Anda berkunjung ke kota ini. Di luar menu itu, kota udang ini masih menyimpan segudang khazanah kuliner yang dijamin membuat lidah bergoyang.
Tertarik mengecap sedapnya kuliner kota Cirebon? Segera langkahkan kaki menuju Cirebon.

  • Disunting oleh SA 23/01/12

Menjelajah Cepat Asia Tenggara dengan Bus

Catatan Editor: Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar Visa on Arrival di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.
Cerita ini adalah pengalaman backpacking pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.
Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.
Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand
Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand
Ketika hari mulai terang, saya datangi terminal bus Puduraya yang terdapat di seberang jalan untuk membeli tiket tujuan Hat Yai, Thailand. Akhirnya tiket bus tujuan Kuala Lumpur, Malaysia – Hat Yai, Thailand saya dapatkan dengan harga RM50. Bus ini akan berangkat pukul sembilan pagi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Saya manfaatkan sisa waktu ini dengan menjelajahi sebagian kecil dari kota Kuala Lumpur dengan berjalan kaki.
Tepat pukul sembilan pagi bus berangkat meninggalkan Kuala Lumpur. Pemandangan di kiri dan kanan sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai, Thailand terlihat monoton karena didominasi oleh deretan pepohonan kelapa sawit.
Bus tiba di kantor imigrasi Malaysia di perbatasan. Semua penumpang turun dari bus untuk melakukan prosedur imigrasi. Selesai proses ini semua penumpang masuk kembali ke dalam bus untuk menuju kantor imigrasi Thailand yang waktu tempuhnya sekitar tiga menit.
Tak lama kemudian bus tiba di Hat Yai, Thailand sekitar pukul tujuh malam. Tanpa menunggu lama, saya mencari tiket tujuan Phuket. Tiket Hat Yai ke Phuket ini tarifnya ฿400.
Tepat pukul 20.30 bus berangkat meninggalkan Hat Yai menuju Phuket. Kali ini bus terlihat sedikit lusuh. Sekitar pukul empat pagi bus tiba di Terminal Bus Phuket. Suasana di terminal tampak sepi dan hanya ada beberapa penumpang yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Terminal bus Phuket ini terbuka dan tidak dibatasi oleh tembok, sehingga dapat didatangi siapa saja termasuk penyedia jasa ojek yang akan mencari penumpang.
Hari masih tampak gelap. Namun beberapa loket penjualan tiket sudah mulai buka. Saya tak akan lama di sini, karena tujuan berikutnya sudah di depan mata: Bangkok. Setelah terjadi tawar-menawar dengan petugas loket di sini, akhirnya tiket Phuket – Bangkok seharga ฿470 saya dapatkan. Seperti biasa, jadwal terakhir pukul 19.30 malam nanti menjadi pilihan. Hasilnya, saya memiliki waktu seharian untuk berkeliling Phuket.
Matahari masih bersembunyi di ufuk timur. Waktu Subuh masih tersisa. Saya mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar terminal mengenai keberadaan mesjid terdekat. Sempat ragu tentang adanya mesjid, namun terpatahkan oleh tawaran penyedia jasa ojek yang bersedia mengantarkan ke mesjid terdekat dengan tarif ฿40.
Mesjid yang diberi nama Yameay ini bentuknya cukup besar, bersih, dan nyaman. Saat memasuki mesjid, saya berpapasan dengan seorang pria paruh baya menggunakan sorban putih yang ternyata bisa berbahasa Melayu.
Saya menuju pelabuhan Phuket, tempat berlabuhnya kapal wisata, lalu memutuskan membeli paket tur ke teluk Phang Nga. Rata-rata penumpang di kapal ini didominasi oleh turis berambut pirang, hanya beberapa saja yang berwajah Asia. Dari kejauhan tampak beberapa deretan pulau berbentuk bukit besar yang ditutupi oleh tumbuhan hijau. Semakin kapal mendekat semakin jelas terlihat keindahan dan eksotisme Pulau Phi-Phi, salah satu pulau di teluk ini. Subhanallah. Selama lebih kurang 20 menit para penumpang dimanjakan untuk menyaksikan keindahan pulau yang pernah menjadi lokasi syuting film “The Beach“-nya Leonardo Di Caprio ini.
Setelah puas menikmati keindahan Pulau Phi-Phi, melakukan snorkeling dan makan siang, kapal beranjak pulang menuju Phuket. Semua penumpang tampak kelelahan dan memilih beristirahat di kursi masing-masing. Ketika sampai di pelabuhan, satu per satu penumpang turun dari kapal dan menuju bus masing-masing. Saya menaiki bus yang khusus mengantarkan langsung ke terminal bus Phuket bersama beberapa penumpang lainnya.
Saatnya tiba untuk menaiki bus yang akan membawa saya ke Bangkok. Perjalanan ini memakan waktu lebih kurang 14 jam. Di akhir perjalanan, sinar matahari mulai benderang. Mentari perlahan beranjak naik. Tampak dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit kota Bangkok. Sepintas wujud Bangkok mirip dengan Jakarta.
Sekitar pukul delapan pagi bus tiba di Terminal Chatuchak Bangkok. Selama sehari saya menghabiskan waktu di Bangkok untuk berkeliling. Puas menikmati pemandangan kota Bangkok yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta ini, saya kembali ke terminal bus untuk menuju kota selanjutnya, yakni Nong Khai, masih di negara yang sama.
Bus akan berangkat sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Lama perjalanan dari Bangkok menuju Nong Khai adalah sekitar delapan jam.
Bus tiba di Nong Khai, Thailand, sekitar pukul empat pagi. Hari masih gelap. Suasana di terminal tampak sepi. Hanya terlihat beberapa penumpang saja yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu dan beberapa pekerja sekitar terminal.
Nong Khai adalah kota yang terletak di timur laut Thailand, tepat berbatasan dengan Laos. Saya menuju kantor imigrasi Thailand dengan menggunakan tuk-tuk seharga ฿60. Saya melewati jembatan persahabatan Thailand – Laos dengan bus khusus perbatasan bertarif ฿20. Lama perjalanan melintasi perbatasan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa Visa on Arrival, hanya menunjukkan paspor.
Roti Baguette Khas Laos
Roti Baguette Khas Laos
Kota Vientiane sangat berdebu, sehingga kurang nyaman. Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Jumat di Mesjid Jamia.
Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos
Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos
Setelah puas menikmati Vientiane, terminal bus lokal saya sambangi untuk mencari tiket tujuan Hanoi, Vietnam. Bus Vientiane, Laos – Hanoi, Vietnam dapat merupakan Sleeper Bus yang kursinya berbentuk tempat tidur sehingga posisi kaki hanya bisa lurus ke depan. Sekitar pukul dua dini hari bus tiba di perbatasan Laos – Vietnam, tepatnya di kota kecil Nam Phao, Laos. Di perbatasan ini bus berhenti menunggu hingga kantor imigrasi Laos buka di pagi hari. Banyak juga bus lainnya yang berhenti dan menunggu di sini.
Ketika hari mulai terang, saya dan beberapa penumpang lainnya turun sebentar membersihkan diri di sebuah toilet umum yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus. Udara sangat dingin. Seluas mata memandang saya hanya melihat perbukitan berkabut. Kantor imigrasi mulai buka dan petugas bus mengurus inspeksi paspor para penumpangnya. Selain warga negara Laos atau Vietnam penumpang diharuskan untuk datang sendiri ke imigrasi.
Selesai melakukan inspeksi paspor, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan menuju imigrasi Vietnam. Jarak dari imigrasi Laos ke imigrasi Vietnam sangat dekat. Tidak sampai lima menit bus sudah sampai di kantor imigrasi Vietnam, tepatnya di kkota Cau Treo. Semua penumpang turun kembali untuk melakukan inspeksi paspor. Suasana di sini tampak berkabut. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter. Warga negara Indonesia tidak perlu visa kunjungan ke Vietnam.
Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo
Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo
Perjalanan dilanjutkan ke Hanoi. Hujan turun tidak begitu deras menemani perjalanan pagi ini. Bus berhenti di tempat peristirahatan untuk makan siang. Semua penumpang diharuskan turun walau tidak ikut makan siang. Hal ini dilakukan oleh petugas bus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang. Di tempat peristirahatan ini Saya tidak ikut makan karena takut tidak terjamin kehalalannya.
Selama perjalanan menuju Hanoi, pemandangan menyuguhkan deretan perbukitan, hutan, sungai, hamparan sawah dan kehidupan warga di sekitar perbatasan Vietnam yang masih banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.
Sekitar pukul tujuh malam bus tiba di terminal bus Hanoi. Menggunakan taksi, saya menuju Old Quarter untuk mencari penginapan. Penginapan hostel bertarif lima dolar AS per malam saya dapatkan. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat.
Hari kedua di Vietnam. Saya mulai bersiap-siap untuk mengunjungi Halong Bay yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Tepat pukul delapan pagi seorang pemandu wisata tur ke Halong Bay mendatangi hostel untuk menjemput. Bus yang saya tumpangi berkeliling Old Quarter untuk menjemput turis lainnya.
Perjalanan dari Hanoi ke Halong Bay memakan waktu sekitar tiga jam. Setibanya di Halong Bay peserta tur memasuki pelabuhan dan diajak menikmati keindahan lokasi ini dengan kapal wisata yang bercorak tradisional, menyusuri perbukitan karst. Peserta tur puas menikmati Halong Bay yang eksotis dan menyaksikan gua stalaktit dan stalagmit.
Eksotisme Halong Bay
Eksotisme Halong Bay
Setelah kapal merapat di pelabuhan, peserta tur turun dari kapal dan menuju bus untuk selanjutnya diantar ke tujuan masing-masing. Bus berjalan membawa seluruh peserta tur untuk menikmati perjalanan tiga jam menuju Hanoi.
Hari ketiga di Hanoi, saya tak memiliki agenda khusus. Pilihan jatuh pada mengelilingi Old Quarter. Tempat-tempat menarik di sekitar wilayah ini adalah Danau Hoan Kiem dan Mesjid Hanoi. Karena kelelahan, saya pulang ke hostel dan tertidur pulas hingga pukul 10 malam.
Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam
Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam
Memasuki hari terakhir di Hanoi. Selasa, 29 November 2011, saya mulai berkemas mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Tertera di tiket bahwa pesawat yang akan saya naiki akan berangkat pukul 10.45 waktu setempat. Bis dari kota Hanoi ke bandara memakan waktu 45 menit. Perjalanan Hanoi – Singapura ini membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Sesampainya di Singapura, saya langsung menaiki MRT (Mass Rapid Transit) ke stasiun HarbourFront, lalu menuju pelabuhan feri yang akan membawa saya kembali ke Batam.
Tepat pukul 20.00 kapal feri berangkat meninggalkan Singapura. Perjalanan dengan kapal feri ke Batam ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Persediaan Rupiah sudah mulai menipis. Saat sudah terasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah tiba-tiba seorang tukang ojek menawarkan ojeknya sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”

  • Disunting oleh SA 18/01/12, 17/01/12
  • ฿ = Baht Thailand, silakan cek kurs terkini di Google
  • RM = Ringgit Malaysia, silakan cek kurs terkini di Google

Atraksi Wajib-Kunjung Istanbul

Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini.

Selat Bosphorus

Selat Bosphorus
Selat Bosphorus
Selat Bosphorus terletak di antara benua Asia dan Eropa dan menghubungi Laut Marmara dan Laut Hitam. Bosphorus terkenal akan wisata pesiar dengan pemandangan dan beberapa peninggalan sejarah tepi benua Asia dan Eropa. Untuk menikmati wisata pesiar Bosphorus bisa menggunakan jasa penyeberangan kapal feri Sehir Hatlari, jasa kapal pesiar Turyol atau jasa kapal pesiar swasta yang banyak bertebaran di Eminonu. Alternatif lain bagi yang tidak punya banyak waktu, coba penyeberangan kapal feri dari Eminonu ke Kadikoy, berbaur dengan masyarakat lokal, yang juga merupakan tempat pas untuk menikmati pemandangan kota Sultan Ahmed dengan pemandangan Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace. Sedangkan di sisi Asia akan terlihat barak militer Selimiye. Harga tiket penyeberangan dua lira dan pesiar mulai dari 12-25 lira.

Hagia Sophia

Hagia Sophia
Hagia Sophia
Hagia Sophia, gereja yang dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada saat itu, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet ketika berhasil mengalahkan Constantinople. Tokoh sekuler Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. Hagia Sophia buka setiap hari, kecuali hari Senin dengan tiket masuk 20 lira.

Basilica Cistern

Basilica Cistern
Basilica Cistern
Terletak di bawah tanah, bangunan kecil sekaligus loket tiket masuk di seberang Hagia Sophia, Basilica Cistern membawa pengunjung ke suasana tenang dari keramaian kota Istanbul. Dikenal juga sebagai “istana tenggelam”, waduk tertutup yang memiliki 336 kolom marmer dan granit ini dibangun pada tahun 532 Masehi untuk memenuhi kebutuhan air istana agung Constatinople dan Topkapi. Basilica Cistern berkapasitas 100.000 ton, mendatangkan air dari hutan Belgrade yang mengalir melalui jembatan air sepanjang 19 kilometer. Ada dua kolom yang paling menarik perhatian di dalam Basilica Cistern, kolom dengan alas kepala Medusa yang dalam mitologi Yunani dipercaya sebagai jelmaan perempuan berambut ular. Basilica Cistern buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

Topkapı Palace

Maket Topkapı Palace
Maket Topkapı Palace
Terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan atraksi wisata yang paling banyak dikunjungi di Istanbul. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. Istana ini menyimpan koleksi harta sultan mulai dari perhiasan berharga, kereta, pakaian, senjata dan artefak suci. Salah satu tempat yang paling menarik adalah Harem, dulunya hanya boleh dimasuki oleh orang terdekat Sultan termasuk keluarga, istri, selir dan pembantu pribadinya. Semua kehidupan di dalam Harem diatur oleh ibu sultan. Topkapi Palace tutup pada hari Selasa dan buka dari hari Rabu hingga Senin dengan tiket masuk 20 lira, tiket tambahan masuk Harem 15 lira. Tersedia pula pemandu grup dengan biaya 10 lira dan sistem audio pemandu bertarif lima lira.

Çemberlitaş Hamamı

Çemberlitaş Hamamı
Çemberlitaş Hamamı
Berkunjung ke Turki tidak lengkap tanpa mencoba Hamam atau pemandian ala Turki yang menyegarkan. Walaupun terasa sedikit risih dimandikan orang lain, pemandian tradisional Turki yang berawal dari tahun 600 Masehi memberikan pengalaman yang berakar dari kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Cemberlitas Hamami di Istanbul dibangun pada tahun 1584 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bangunan tua berkubah dengan interior berbatu marmer dan dihiasi ornamen yang indah, pencahayaan dan temperatur suhu udara yang terkontrol dengan ritual pemandian masa lalu menciptakan suasana yang santai. Untuk mengalami pengalaman yang unik ini pengunjung dikenakan biaya 70 lira dan terbuka untuk pria dan wanita dengan ruang yang terpisah.

Whirling Dervishes

Whirling Dervishes
Whirling Dervishes
Nikmati pertunjukan whirling dervishes Sufi yang sangat magis. Dimulai dengan pembacaan doa dan dialuni suara gendering dan seruling, penari bertopi coklat dengan jubah putih yang terkembang berputar-putar sebagai simbol dari bulan yang mengelilingi matahari, sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah, simbol dari “tuhan” dan bumi. Kebudayaan yang dimulai sejak abad ke-13 dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Dede Efendi House dekat Blue Mosque sekaligus menjadi museum dengan koleksi peralatan musik tradisional Sufi. Tiket masuk 50 lira setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu.

Istanbul Museum of Modern Art

Istanbul Museum of Modern Art
Istanbul Museum of Modern Art
Sebagai alternatif bagi yang ingin melihat Istanbul masa kini, kunjungilah tempat ini. Dibangun pada tahun 2004, galeri seni ini memamerkan karya-karya seni abad ke-20 karya seniman lokal maupun internasional. Terdapat juga perpustakaan seni, toko cinderamata, kafe dan restoran dimana pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Turki sambil melihat perahu hilir mudik atau matahari terbenam. Istanbul Museum of Modern Art buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur keagamaan. Dikenakan tarif tiket masuk seharga 7 lira dan jika ingin tiket gratis, datanglah pada hari Kamis. Mengambil foto tidak diperkenankan sama sekali.

Galata Tower

Galata Tower
Galata Tower
Salah satu ikon kota Istanbul, menara yang memiliki sembilan lantai dan tinggi 70 meter ini dibangun pada abad pertengahan. Pada zaman Byzantine, menara ini terbuat dari kayu, kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu pada tahun 1384. saat ini menara dilengkapi dengan dua lif. Sesuai fungsinya sebagai menara pemantau, lantai teratas menara merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangaqn kota, sambil minum teh atau kopi di kafe yang tersedia di lantai yang sama menunggu matahari terbenam. Galata Tower buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

  • Disunting oleh SA 17/01/12
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil