Bulan Desember 2011

Luar Negeri vs. Dalam Negeri

Ketika merencanakan perjalanan, pasti ada perdebatan, apakah itu dari dalam diri atau dengan sesama individu yang ikut melakukan perjalanan tentang destinasi manakah yang harus dikunjungi. Salah satu topik yang paling penting biasanya adalah apakah harus berkunjung ke destinasi luar negeri atau ke dalam negeri?

Menurut saya, penentuan destinasi sebaiknya tidak berawal dari keinginan pihak lain, baik itu negara sekali pun. Perjalanan tentunya adalah pengalaman individu yang berawal dari minat dan keinginan sendiri. Kita sendiri yang harus memastikan apa yang ingin kita dapatkan dari perjalanan ini. Jika memang ingin berkunjung ke sebuah destinasi domestik, maka lakukanlah. Sebaliknya, jika memang niat awal sudah ingin ke luar negeri, yang jauh sekali pun, silakan pergi saja. Tidak ada yang menghalangi.

Setidaknya, menurut saya, ada beberapa hal yang menjadi penentu pemilihan destinasi antara dalam negeri dan luar negeri.

Hal pertama adalah anggaran. Bisa jadi anggaran kita menjadi sangat terbatas secara tiba-tiba dan harus memutuskan mengalihkan destinasi ke daerah di dalam negeri yang jauh lebih murah. Namun, bahkan di luar negeri, misalnya seperti Vietnam, biayanya bisa lebih murah dari berkunjung ke beberapa tempat di Indonesia. Sama pula jika kita malah lebih boros dalam hal pengeluaran sehari-hari di dalam negeri. Tujuan tidak selalu menentukan anggaran.

Hal kedua adalah regulasi. Mungkin teman seperjalanan tidak punya atau tidak sempat membuat paspor. Mungkin juga visa negara yang akan dikunjungi sulit atau tidak sempat diraih. Tiket pesawat atau transportasi tidak tersedia.

Hal ketiga adalah keterbatasan fisik/psikologis. Jika mengajak individu yang lebih senior untuk berjalan jauh di dalam pesawat, apalagi sampai melewati batas waktu, maka kita harus memperhatikan kesehatan atau kemampuan fisiknya. Mungkin ada juga yang trauma jika harus ke suatu destinasi. Alternatifnya bisa kita berikan destinasi yang lebih ramah untuk golongan ini.

Selebihnya saya pikir tidak ada alasan kita untuk memberikan kotak-kotak pada destinasi pilihan. Jika alasannya adalah nasionalisme, membantu ekonomi domestik, atau membantu pariwisata nasional… kita harus yakin bahwa perjalanan tersebut dapat kita nikmati. Jika terpaksa, buat apa? Lagipula, berkunjung ke daerah asing di luar negeri dapat memperluas pengetahuan dan wawasan yang dapat digunakan sebagai kacamata untuk melihat situasi dalam negeri. Syukur-syukur dapat membantu Indonesia.

Sebenarnya, ada perspektif yang lebih baik dalam memandang sebuah destinasi: responsible travel. Perjalanan yang bertanggungjawab artinya kita tidak sekedar melakukan kegiatan konsumsi di suatu destinasi, tapi juga memberikan kontribusi. Tidak perlu membantu membersihkan selokan atau memberikan uang, tapi misalnya, lebih memilih untuk menggunakan transportasi minim polusi seperti sepeda, tidak memberikan tip/uang terlebih pada anak-anak, konsumsi produk lokal, tinggal di rumah penduduk, berinteraksi dengan penduduk setempat layaknya orang lokal, mengunjungi situs-situs bersejarah, dan masih banyak lagi. Kalau kita masih belum bisa berbuat baik dalam kunjungan kita ke destinasi domestik, buat apa?

68 Derajat Lintang Utara

Dua puluh jam perjalanan dari Stockholm melintasi pedesaan Swedia membawa saya ke impian yang jadi nyata: melintasi Lingkar Arktik, di mana kita semakin dekat dengan kutub Utara. Suhu di sini bisa tak bersahabat ketika musim dingin. Kontras antara dataran Swedia yang landai dan Norwegia yang curam menyambut saya di perbatasan.

Gerbong kereta sudah semakin sepi ditinggal penumpang di pos-pos perhentian sebelumnya. Saya menghabiskan kopi yang saya beli satu jam yang lalu, mempersiapkan tas dan membereskan selimut dan bantal yang saya gunakan di gerbong tidur. Lalu saya melihat keluar…

Pos penjagaan mungil di atas fjord, seolah mengasingkan diri dari dunia. Salju tidak turun, tetapi menutupi bukit-bukit fjord secara tidak merata.

Satu jam kemudian, siang yang suram menyelimuti kedatangan saya di stasiun kereta api Narvik, Norwegia. Inilah kali pertama saya melihat salju!

Sejauh mata memandang, semua salju…

Bis yang akan membawa saya ke bandara sudah menunggu di ujung jalan. Saya tidak akan menginap di sini malam ini.

Sedikit terkantuk-kantuk, saya mengintip sebuah jembatan yang akan kami lalui…

Hujan masih turun sedikit-sedikit ketika itu.

Namun, ada harapan. Sinar matahari menyinari fjord.

Rumah mungil di ujung dermaga ini menarik perhatian saya. Sungguh membuat ingin dikunjungi, tapi apa daya!

Enam puluh menit kemudian, saya sampai di bandara Narvik. Bandara mungil yang turut melayani kota-kota kecil di sekitarnya.

Saya termenung sekali lagi, melihat warna biru terbasuh hangatnya matahari, menunggu tumpangan saya selanjutnya.