Artikel-artikel dari bulan November 2011

Rekomendasi Situs Web Perjalanan

Penghujung akhir tahun sudah dekat. Ada rencana ke mana untuk liburan akhir tahun ini? Berikut beberapa situs web yang kiranya bermanfaat dalam merencanakan perjalanan Anda:

Visa

Memenuhi dokumen yang diperlukan untuk memperoleh visa terkadang dirasakan merepotkan, surat undangan, bukti pemesanan hotel atau paket wisata, bukti pemesanan tiket pulang pergi, surat sponsor, jaminan keuangan, hingga entry permit khusus untuk daerah-daerah tertentu walaupun visa negara bersangkutan sudah di tangan. Tidak dipungkiri akhirnya pejalan akan memilih negara yang dapat dikunjungi dengan syarat yang lebih mudah seperti negara bebas visa atau dengan fasilitas visa on arrival. Cek situs Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk daftar negara yang dapat dikunjung bebas visa atau halaman Wikipedia ini untuk negara dengan fasilitas visa on arrival. Untuk informasi yang lebih akurat mengenai jenis paspor yang anda gunakan, visa, peraturan kesehatan, kepabeanan dan informasi bandara, cek situs web IATA Travel Centre.

Walaupun sudah dipastikan pemegang paspor biasa Indonesia bisa mendapatkan visa on arrival atau bebas visa, ada baiknya mengecek ulang ke kantor perwakilan negara bersangkutan atau lihat situs Kementerian Luar Negeri Indonesia, terutama untuk negara-negara yang tidak populer di kalangan pejalan Indonesia. Di situs tersebut juga bisa didapatkan kantor perwakilan Indonesia di negara lain, catat alamat kantor perwakilan Indonesia di negara yang akan Anda kunjungi, bermanfaat apabila warga negara Indonesia mengalami masalah selama dalam perjalanannya, kehilangan paspor misalnya.

Travel Warning

Situs pemerintah AS ini memiliki informasi travel warning terkini seperti bencana alam, keamanan di negara-negara yang sedang bergejolak atau memiliki hubungan bilateral yang tidak baik. Meskipun travel warning ini lebih diperuntukkan bagi warga negara Amerika Serikat, tidak ada salahnya mencari tahu situasi keamanan negara yang akan Anda kunjungi. Kementerian Luar Negeri Indonesia juga memiliki informasi serupa untuk warga negara nya yang akan melakukan perjalanan atau yang sedang berada di negara lain. Walaupun demikian, bukan berarti Anda tidak boleh melanjutkan rencana perjalanan Anda, waspada itu penting.

Maskapai Penerbangan

Sudah memastikan negara tujuan berlibur? Kini saatnya memburu tiket pesawat. Expedia, Kayak dan Cheap-o-Air merupakan beberapa mesin pencari yang cukup populer di kalangan pejalan untuk mendapatkan informasi atau membandingkan harga tiket pesawat. Cek juga mesin pencari penerbangan ini yang baru saja dimiliki Google. Untuk mendapatkan harga yang terbaik, cek silang ke situs maskapai bersangkutan.

Perlu diketahui, umumnya mesin pencari penerbangan yang melayani pemesanan melalui mereka atau mengarahkan ke situs web maskapai penerbangan tertentu hanya akan menampilkan pilihan maskapai yang memiliki kerjasama, dalam arti mendapatkan komisi penjualan dari maskapai tertentu. Itu sebabnya Anda tidak akan menemui maskapai penerbangan murah seperti Air Asia, Value/Jetstar Airways, Tiger Airways dan sebagainya di mesin-mesin pencari tersebut.

Apabila sudah memastikan memesan tiket, kini saatnya memilih tempat duduk. SeatGuru akan memberikan informasi di mana tempat duduk terbaik.

Penginapan

Agoda dan Hostelbookers hanya beberapa situs web pemesanan hotel dan hostel yang menyediakan berbagai pilihan penginapan di berbagai negara. Coba juga cari situs web pemesanan lokal negara tujuan Anda. Sama seperti prinsip memilih maskapai penerbangan, cek ulang dengan situs web penginapan yang bersangkutan untuk mendapatkan harga yang terbaik.

CouchSurfing menyediakan tempat gratis untuk menginap di rumah orang lokal yang bersedia menampung Anda untuk beberapa hari di kota yang akan Anda kunjungi. Sekarang jasa ini tidak sepenuhnya gratis, untuk bisa memanfaatkan fasilitas ini diperlukan biaya verifikasi sebesar US$5 (sekitar Rp50.000).

Pertukaran rumah, menggantikan atau menjaga rumah orang lain ketika yang punya rumah sedang bepergian atau sambil menyelam minum air bekerja sampingan menjaga rumah orang lain sepertinya juga menarik. Tapi ini semua tidak gratis, dikenakan biaya tahunan.

Rencana Aktivitas

Ini yang paling menarik, mempelajari ulasan negara yang akan dikunjungi, informasi dasar negara bersangkutan mulai dari informasi pengunjung, waktu kunjungan, jadwal festival atau agenda acara, mata uang, tips pengunjung, makanan dan minuman lokal, sejarah, seni dan kebudayaan, ulasan objek wisata, dan masih banyak lagi. Infomasi ini sangat mudah didapat di situs web pemandu perjalanan seperti Lonely Planet! Jangan lupa mampir di Thorn Tree, forum yang membahas berbagai pertanyaan dan rekomendasi oleh sesama pejalan. Ada pula Frommers yang di samping memiliki forum serupa, juga menyediakan rekomendasi rencana perjalanan. Beberapa situs lain seperti MyDestination dan National Geographic City Guides juga menarik untuk dibaca dengan beragamnya artikel perjalanan yang membahas lebih detil untuk topik tertentu.

Anggaran

Bisa dilakukan sendiri secara manual dengan menggunakan program spreadsheet dan memasukan data kebutuhan pengeluaran. Tapi coba mampir ke kalkulator perjalanan bujet ini, barangkali saja ada beberapa elemen pengeluaran yang terlupakan.

Cuaca

Semuanya sudah dipersiapkan secara detil, kini saatnya membuat daftar apa saja yang harus dibawa. Jangan lupa mengecek cuaca tempat tujuan Anda di WeatherBase, jangan sampai salah kostum. 

Selamat berlibur.

  • Disunting oleh SA 29/11/11

Ransel Baru, Namun Masih Kecil

Selamat datang di Ransel Kecil yang baru. Sudah hampir dua tahun blog ini ada, selama itu pulalah kami mencoba untuk mengumpulkan cerita-cerita. Cerita-cerita mereka yang tidak hanya melakukan perjalanan, tetapi juga sudi mengabadikan dalam kata dan gambar.

Terima kasih kami ucapkan kepada semua kontributor yang sudah menulis dan mengirimkan foto. Tanpa Anda semua, Ransel Kecil tidak mungkin seperti sekarang.

Terima kasih juga kepada pembaca kami, follower di Twitter, “penyuka” di Facebook, dan mereka yang menyampaikan pujiannya secara pribadi kepada kami. Tidak hanya soal puja-puji, kami juga menghargai kritik dan saran pembaca selama ini.

Kami sadar blog ini masih jauh dari sempurna, banyak sekali rencana di hati dan kepala yang mungkin tidak selaras dengan tindakan. Kami, Sigit Adinugroho dan Arif Widianto menjalankan blog ini sebagai proyek pribadi, hobi, sesuatu yang mengisi kesenjangan, karena kecintaan kami pada perjalanan. Arif Widianto berencana tidak lagi membantu mengelola blog ini ke depan, sehingga pengelolanya praktis tinggal satu orang. Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Arif yang sudah membantu hal teknis dan berbagi tulisan di blog ini selama hampir dua tahun.

Apa yang Baru?

Untuk saat ini, inilah yang bisa kami tawarkan:

Pemutakhiran tampilan. Tak sekedar itu, kami juga menambahkan rubrik baru, yakni Esai Foto, bagi Anda yang ingin menampilkan foto-foto perjalanan dalam bentuk narasi bertema tertentu. Atas dasar itu jugalah, ruang baca setiap entri diperlebar.

Situs mobile. Bagi pengguna telepon atau alat pintar, khususnya yang menjalankan iOS, seperti iPhone dan iPod Touch, silakan nikmati situs kami dalam layar kecil Anda.

Migrasi ke WordPress. Setelah hampir dua tahun kami menggunakan TextPattern, kami berpikir sudah saatnya berpindah ke sistem manajemen konten yang lebih komprehensif untuk mendukung beberapa fitur yang kami inginkan dengan lebih mudah. Proses migrasi ini memakan waktu berbulan-bulan, terutama karena sistem template yang berbeda.

Rencana ke Depan

Proses redesain ini tidak lepas dari keinginan kami untuk terus mengembangkan diri, perlahan tapi pasti. Jika ditanya apa rencana ke depan, kami tidak tahu pasti. Tapi begini kira-kira:

Aplikasi mobile. Ingin sekali mengembangkan semacam aplikasi mobile tentang perjalanan, atau sekedar feed dari blog ini. Tapi semuanya masih konseptual. Jika ada yang ingin berkolaborasi, silakan hubungi kami dan kami akan senang hati berdiskusi.

Rubrik baru/situs Tumblr. Kami ingin terus menambahkan variasi konten di blog ini. Format yang sekarang cenderung mengutamakan artikel yang diolah lebih matang, sehingga jarang diperbaharui. Kami ingin ada rubrik khusus atau mikroblog di mana kami bisa memperbaharui secara lebih sering dengan materi-materi “daur ulang” dari ranah web, misalnya pranala atau berita-berita khusus perjalanan.

Kontributor mandiri. Selama ini, kontributor menyerahkan artikel melalui email, lalu kami sunting. Ke depan, kami ingin mengimplementasikan sistem di mana kontributor dapat menuliskan artikel langsung di dalam sistem. Tentunya, setiap artikel akan tetap kami sunting terlebih dahulu.

Memperbaiki format beberapa artikel. Karena migrasi dari TextPattern ke WordPress, beberapa format artikel menjadi berubah. Karena jumlah artikel kami ratusan, maka butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.

Selain itu, ada hal yang kami tetap lanjutkan, seperti tidak adanya komentar. Banyak yang bertanya, kenapa Ransel Kecil tidak memiliki komentar? Alasannya sederhana: Kami ingin menjaga kualitas konten di sini. Banyak komentar dalam blog di dunia maya yang tidak berkualitas, tidak mendukung konten entri, sampai menjadi perdebatan yang tidak sehat. Sebagai gantinya, kami memiliki akun Twitter untuk berkomunikasi dengan komunitas kami. Jika Anda ingin berkomentar, simpan komentar tersebut dan tuliskan dalam sebuah artikel tanggapan, itu akan jauh lebih baik.

Jika Anda punya ide atau bersedia berkolaborasi, silakan kontak kami.

Sekali lagi, terima kasih atas waktu dan perhatiannya, semoga pembaharuan Ransel Kecil yang sedikit ini punya arti bagi Anda.


Senandung Gedser

Deru kapal feri itu membuat saya tersenyum lebar, girang mengantisipasi petualangan selanjutnya. Inilah kali pertama saya melintas batas negara Schengen, dari Jerman ke Denmark. Setelah melalui empat jam di darat dari Berlin ke Rostock, petualangan Skandinavia saya baru dimulai. Kapal yang saya tumpangi perlahan mulai ramai. Tak pikir panjang, saya langsung berkeliling kapal merekam memori.

Kapal bertolak sekitar pukul dua siang, melintasi bagian kecil dari Laut Baltik.

Sepanjang perjalanan, langit biru dengan suhu yang sangat bersahabat. Angin kencang tidak membuat saya tetap di dalam.

Kebebasan sebenarnya ada di sini. Di dek kapal yang sepi, tidak ada orang lain. Hanya saya dan matahari.

Apa yang akan saya bicarakan bersama mitra perjalanan saya di sini, jika ada? Makna hidup? Atau, mungkin kami hanya akan melihat ke belakang, ke daratan yang kami tinggalkan demi daratan baru…

…di ujung sana, di Gedser, Denmark. Ditemani olehnya, oleh senandung air laut yang terpecah oleh tubuh kapal yang melaju…


Suatu Hari Ketika Kami (Tidak Jadi) Berangkat ke Karimunjawa

Homestay
Homestay di Pantai Kartini

Tampaknya Tuhan memang sudah menakdirkan kami untuk bertemu dengan Mas Rohim waktu itu, hanya sekian menit sebelum kapal merapat. Sepersekian detik sebelum kami masuk ke dalam kamar hotel untuk mengambil tas dan berangkat ke dermaga.

Pagi itu pantai Kartini mendung. Di halaman depan homestay Kota Baru yang bernuansa Bali itu Mas Rohim menyapa saya dan istri.

“Dari Surabaya?” tebaknya, mengundang kami berbincang sebentar.

“Malang,” jawab saya cepat-cepat. Dalam hati saya terpikir-pikir dua hal.

Pertama, saya tersadar alangkah mencoloknya logat Jawa Timur kami di sana, mudah dikenali. Dan kedua, saya terkejut sendiri menyadari betapa cepat saya menjawab, sedemikian tidak inginnya diidentifikasi sebagai orang Surabaya. Rivalitas sepakbola ternyata saya bawa juga sampai Jepara.

“Bukannya saya bermaksud apa-apa,” Mas Rohim memulai, “tapi begini deh, saya ceritakan saja apa adanya.”

Kemarin, kisah Mas Rohim, Kapal Cepat Kartini mogok mendadak. Di tengah lautan. Ketika membawa wisatawan dari Kepulauan Karimunjawa kembali ke Jepara. Enam jam, kapal kecil itu terombang-ambing di tengah ayunan ombak laut lepas, sampai akhirnya datang kapal lain yang menariknya hingga Jepara.

“Dia kan dindingnya itu fiberglass, tipis,” tambah Mas Rohim. “Beda dengan kapal feri. Besi. Kena ombak besar dia tenang-tenang saja.”

Saya sendiri bersama istri bermaksud menyeberang ke Karimunjawa hari itu juga, dengan menumpang Kapal Cepat Kartini. Kapal itu sejatinya sudah harus menjalani perbaikan rutin tahunan, namun tetap dipaksa beroperasi demi mengisi jadwal Kapal Feri Muria yang hari itu juga mulai docking, perbaikan rutin, untuk satu bulan ke depan.

Dengan hanya tersisa satu kapal penghubung Jepara-Karimunjawa, terlebih kapal itu baru saja mengalami kerusakan sehari sebelumnya, Mas Rohim menilai terlalu riskan jika ingin berangkat ke Karimunjawa sekarang.

Lagipula musimnya tidak tepat. Ini pelajaran penting yang saya dapat: kalau ingin berwisata ke wilayah kepulauan, tunggu musim kemarau! Karena jika di musim hujan seperti sekarang, selain ombaknya yang besar sehingga menyusahkan transportasi, tidak mungkin juga bermain di pantai atau menyelam jika turun hujan.

Suasana Pantai Kartini
Suasana Pantai Kartini

Lebih baik kembali sekitar Mei, Juni, Juli, saran Mas Rohim. November sampai Januari adalah bulan-bulan yang kurang tepat. Januari tahun ini, ceritanya, serombongan wisatawan malah harus tertahan di pulau seminggu lebih. Kapal-kapal tidak berani menyeberang karena ombak yang mengganas. Dan selama di sana mereka harus terus keluar uang untuk penginapan dan makan, sementara tidak ada ATM. Beberapa sampai harus menjual perhiasan karena keterbatasan dana yang dibawa.

Akhirnya hari itu juga, 7 November 2011, kami kembali pulang.

Pendapat penduduk yang lebih mengerti situasi, menurut kami, pantas untuk diikuti. Terlebih kami tahu betul bahwa, secara finansial, saran itu malah merugikan penginapannya sendiri. Maka kekecewaan kami di perjalanan pulang sebenarnya terhapus juga, tertutupi rasa kagum akan kearifan lokal yang begitu mengutamakan kenyamanan kami sebagai pengunjung. Kejujuran dijunjung tinggi.

“Saya ini tidak tega hati,” ujar Mas Rohim waktu itu. “Meski bos saya dan orang-orang travel tidak akan suka saya bercerita seperti ini. Tetapi kalau tamu penginapan nanti mengalami sesuatu di perjalanan, hati saya juga tidak akan tenang.”

  • Disunting oleh SA 18/11/2011

Dari “Ngetwit” ke Tulisan

Banyak dari kita yang bepergian dengan membawa perangkat komunikasi seperti telepon seluler yang memiliki kemampuan koneksi data, sehingga bisa mengakses internet ketika di perjalanan. Bagi yang aktif di Twitter, pasti tidak ketinggalan untuk melakukan kegiatan “tweeting” atau “ngetwit”. Kapan lagi bisa ngetwit, “Saya lagi di Tembok Cina! Cuacanya cerah dan langitnya biru!”, atau “Okonomiyaki yang asli ternyata enak, ya! [Masukkan TwitPic di sini]”. Dengan begini, tujuannya biasanya memberitahu follower tentang kegiatan kita selama di perjalanan. Lebih cepat dari email dan blog.

Tapi sayangnya, semua itu akan hilang dalam beberapa waktu. Twitter tidak punya kemampuan mengarsipkan pikiran-pikiran secuil kita itu dalam waktu yang lama. Kalaupun ya, mungkin kita harus memasukkan hashtag tertentu agar bisa dilihat secara rapi dan tersaring.

Alangkah baiknya jika kita dapat kemudian mendayagunakan kemampuan Twitter yang real-time ini untuk melakukan pencatatan observasi secara langsung, namun tetap kita rekapitulasi di akhir hari sebagai catatan harian (tentu saja, dengan catatan, Anda tidak lelah melakukannya).

Hal ini dapat berguna bagi kita yang tidak suka menulis atau merekam perjalanannya untuk kemudian dibagikan ke orang lain di kemudian hari, misalnya dalam sebuah blog atau dokumen. Salah satu tujuan blog ini adalah untuk merekam perjalanan dan pernak-perniknya untuk kemudian dibagikan ke orang lain.

Tidak perlu perangkat yang heboh untuk proses pencatatan ini, Anda hanya perlu sebuah ponsel pintar dan buku catatan (jika perlu). Saya rasa, jika rata-rata satu orang memperbaharui linimasa Twitternya 20 – 30 kali sehari ketika perjalanan, jejaknya masih bisa dilihat di akhir hari. Dari semua catatan Anda hari itu, coba tuliskan intisari singkat, jika perlu dianotasi dengan foto-foto yang sudah diambil.

Cara gampang lain, gunakan jasa-jasa pengarsipan Twitter, atau lakukan sendiri dengan copy dan paste ke dokumen atau blog Anda. Tapi jangan sampai di situ saja, lakukan penulisan ulang agar lebih menarik dan informatif. Jika Anda paham mengutak-atik sistem blog, twit-twit Anda bisa langsung di-crosspost ke bagian blog pribadi Anda.

Lakukan ini secara rutin setiap hari dalam perjalanan Anda. Jika perjalanan itu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, coba lakukan ikhtisar mingguan atau bulanan. Alhasil, ketika Anda pulang, pengalaman Anda tercatat rapi dan detilnya masih tersimpan, siap untuk dibagikan dalam sebuah tulisan.


© 2017 Ransel Kecil