Artikel-artikel dari bulan Oktober 2011

Bekerja Sambil Berlibur di Australia

Perjalanan Darat di
Perjalanan Darat di “Outback” Australia. Foto oleh Tourism Northern Territory.

Beberapa waktu lalu kami mengulas tentang bekerja sambil berlibur dengan Work & Holiday visa, atau biasa disebut juga Working Holiday visa. Konsep bekerja sambil berlibur tidaklah baru dan tidak mesti memiliki visa tersebut. Artinya bekerja sambil berlibur (atau jika Anda lebih suka: berlibur sambil bekerja) adalah mendapatkan penghasilan di daerah tujuan dengan bekerja kasual (santai) dengan tujuan mendapatkan uang secukupnya untuk melanjutkan perjalanan/liburan. Konsep ini berbeda dengan berlibur biasa yang menuntut adanya jumlah uang/anggaran tertentu yang bisa dihabiskan selama durasi perjalanan, tetapi tidak ada tujuan menambahnya dan langsung pulang ke daerah domisili ketika selesai.

Biasanya, jenis pekerjaan yang dilakukan bukanlah pekerjaan yang menimbulkan pajak (sektor informal), berbasis kontrak dan jangka pendek. Kemampuan/keterampilan yang dibutuhkan juga cukup sederhana, seperti memetik buah-buahan, menggarap lahan, mengupas buah, bertukang, menjadi pelayan restoran, memasak, dan mengajar. Namun tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk jenis-jenis pekerjaan lain yang lebih membutuhkan keterampilan tinggi seperti fotografi, menulis, desain web, dan lain sebagainya.

Seperti ketentuan visa lainnya, kita tidak bisa menyeragamkan regulasi visa bekerja sambil belajar di seluruh negara di dunia. Bahkan, hanya segelintir saja negara yang menyediakan visa ini. Jadi, jangan menganggap kalau semua negara di dunia memiliki visa bekerja sambil belajar, apalagi menganggap ketentuan-ketentuannya sama!

Berikut beberapa negara yang sampai saat ini tercatat menyelenggarakan visa Work and Holiday:

  • Australia
  • Selandia Baru
  • Kanada
  • Inggris
  • Jepang
  • Argentina
  • Amerika Serikat

Banyak alasan mengapa Work and Holiday ini diminati banyak orang, antara lain kesempatan bepergian dalam jangka waktu yang lama (enam bulan sampai satu tahun, bahkan lebih). Ada yang bepergian sebagai atau jeda karir setelah bertahun-tahun bekerja dan mencari pengalaman baru. Ada juga yang lulus kuliah dan melaksanakan gap year atau satu tahun berkelana di luar negeri sebelum kembali ke tanah air dan bekerja. Ada juga yang mungkin ingin menjajaki peluang pekerjaan sebenarnya di luar negeri.

Untuk lebih jelasnya tentang Work and Holiday visa ini, kami mewawancarai Anida Dyah Pratiwi, seorang pecinta perjalanan yang akan menjalankan bekerja sambil belajar di Australia selama satu tahun mulai bulan Oktober.

Apa yang dimaksud dengan “working holiday visa“, khususnya yang ditawarkan pemerintah Australia?

Sebenarnya ada dua istilah yang serupa tapi tak sama. Ada Working Holiday Visa (Subclass 417 – untuk warganegara Eropa) dan Work and Holiday Visa (Subclass 462 – untuk negara-negara Asia termasuk Indonesia & Amerika Serikat). Bedanya, kalau Working Holiday Visa bisa diperpanjang ke tahun kedua, kalau Work and Holiday Visa maksimum satu tahun saja.

Visa ini merupakan jenis kerjasama antar pemerintah yang diberikan kepada pemuda usia 18-30 tahun agar bisa traveling sambil bekerja secara legal di negara tersebut selama satu tahun lamanya.

Kenapa Anid ingin mendaftar program ini?

Career break. Istilah ini sudah terkenal digunakan di negara barat tapi tidak di Indonesia. Setelah mengalami beberapa titik emosional beberapa waktu terakhir dan empat tahun mengerjakan hal yang sama membuat saya berada pada titik jenuh dan memutuskan untuk membuat suatu perubahan besar pada hidup saya yang memang mencintai dunia perjalanan. Sometimes you have to get lost to find yourself.

Saya bukan orang yang kaya secara materi sehingga saya harus mencari cara agar bisa bertahan hidup selama perjalanan. Work and Holiday ini solusi yang tepat untuk saya.

Kenapa Australia?

Sejauh ini, hanya Australia yang memberikan keistimewaan Work and Holiday Visa pada Indonesia. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa tidak? Australia punya paket lengkap keindahan alam yang unik dari pedesaan, pantai, hingga gurun liar yang mengagumkan.

Apa sudah ada rencana perjalanan yang akan Anid lalui? Misalnya dari mana ke mana?

Karena saya akan pergi dalam waktu lama, saya hanya membuat gambaran umum saja.

Kemungkinan: Jakarta – Kuala Lumpur – Perth – kota-kota kecil di Western Australia – road trip ke Broome – Darwin – Alice Springs – Cairns – Great Barrier Reefs – Brisbane – Sydney – Selandia Baru – kembali ke Australia lagi – Melbourne – Tasmania dan sekitarnya. Sewaktu-waktu sangat mungkin berubah.

Apa yang akan Anid lakukan selama mengemban Working Holiday Visa?

Bekerja full-time selama beberapa bulan di satu kota, menabung. Mencari travel buddy kemudian pindah kota lain dengan cara road trip sambil eksplorasi beberapa taman nasional di Australia yang terkenal itu. Berdiam di kota lain untuk mengisi tabungan sebelum akhirnya jalan lagi. Hidup nomaden. Ada rencana untuk mengembangkan hobi seperti fotografi atau penata bunga karena visa ini memungkinkan kita untuk mengambil short course selama maksimum empat bulan.

Rencana setelah Working Holiday berakhir?

Banyak sekali yang bisa dilakukan. Terpikir untuk melanjutkan perjalanan setengah keliling dunia, membuat buku tentang perjalanan saya, mengembangkan semua hobi-hobi saya, atau mungkin saja kembali ke rutinitas lama. Semua hal mungkin terjadi, saya serahkan ke mana nasib akan membawa saya.

Kenapa belum banyak warga negara Indonesia (WNI) yang tahu dan ikut program ini?

Program ini baru ada sejak tahun 2009 jadi mungkin WNI belum familiar dengan konsep ini. Saya adalah angkatan ketiga. Sekarang sudah mulai banyak orang tahu sehingga semakin susah mendapatkannya karena pemerintah memberlakukan kuota hanya 100 orang/tahun.

Kalau boleh tahu, modal awalnya berapa?

Harga visa Rp. 2,7 juta, medical check-up sekitar Rp. 300 ribu, tiket AirAsia promo yang sudah saya beli dari tahun lalu Kuala Lumpur-Perth seharga Rp. 570 ribu. Silahkan hitung sendiri.

Tanggapan keluarga?

Mendukung dan ikut excited. Kecemasan pasti ada, namanya juga perempuan jalan sendirian untuk waktu yang lama. Tapi mereka sangat percaya bahwa ini mimpi yang harus saya wujudkan dan saya tahu apa yang saya lakukan.

Siapa pelaku perjalanan idola?

Evelyn Hannon dari @JourneyWoman yang tulisan-tulisan dan pengalamannya sangat bersahaja.

Saya juga mengidolakan sahabat-sahabat backpacker saya dari berbagai penjuru dunia yang telah singgah ke rumah saya melalui Couchsurfing.org. Cerita dan semangat perjalanan mereka sangat luar biasa dan nyata. Hal ini membuat saya yakin mimpi saya pun bisa menjadi nyata.

  • Disunting oleh SA 15/10/2011
  • Foto diizinkan untuk digunakan asal mencantumkan pemilik dan pranala.

“Low-Cost Terminal”, Terminal Tepat Sasaran

Tersedianya layanan dari maskapai penerbangan berbiaya rendah (“low-cost airlines”) memudahkan kita untuk merealisasikan rencana perjalanan lintas kota dan negara. Maskapai ini menerapkan beberapa strategi yang memungkinkan untuk menjual tiket dengan harga sangat murah kepada calon penumpang.

(Sekarang kita bisa melakukan perjalanan pulang pergi hanya dengan Rp. 500.000 untuk rute Jakarta-Bangkok dengan AirAsia. Di Eropa, tiket pulang pergi Barcelona-London dengan easyJet hanya berkisar €200. Lalu di Amerika, kita bisa terbang Seattle-San Francisco dengan Southwest Airlines dengan membayar $90 saja.)

Strategi yang paling terlihat jelas adalah tidak adanya layanan gratis dalam pesawat, seperti makanan ataupun surat kabar. Strategi lainnya bisa berupa utilisasi satu jenis pesawat (umumnya Boeing seri 737 atau Airbus 320) sehingga biaya perawatan bisa diminimalisir; maskapai juga memiliki jadwal terbang yang padat dan mengurangi waktu tidak produktif di bandara.

Menurut Center of Asia Pacific Aviation, pada tahun 2001, kapasitas yang ditawarkan maskapai berbiaya rendah ini sekitar 8% dari total trafik dunia. Tahun 2011, meningkat menjadi 24.4%.

Meningkatnya jumlah layanan maskapai berbiaya rendah ini mendorong bandara untuk melakukan ‘penyesuaian’. Beberapa bandara di dunia telah menyediakan terminal khusus untuk melayani maskapai jenis ini. Terminal ini memiliki terminologi yang seirama: terminal berbiaya rendah (“low-cost terminal”).

Terminal didesain sesuai kebutuhan, yaitu menitikberatkan pada efisiensi, bukan pada keindahan atau kemewahan. Terminal dibangun dengan investasi minimum, namun diharapkan bisa menunjang proses keberangkatan dan kedatangan penumpang dengan lebih efisien dari segi biaya dan waktu. Di antaranya:

  • Menyediakan layanan self check-in, sehingga maskapai bisa mengurangi jumlah staf; lebih banyak kaunter tersedia dengan waktu proses lebih cepat
  • Menggunakan satu ruang tunggu (common room) untuk seluruh keberangkatan, sehingga mengurangi kebutuhan ruang
  • Letak apron pesawat dan bangunan terminal berdekatan, sehingga tidak diperlukan fasilitas air bridge atau jembatan penghubung (yang tidak disukai oleh maskapai karena biaya sewanya yang cukup mahal)

Terkadang maskapai juga menuntut operator bandara untuk memberikan tarif yang lebih murah. Tahun 2001-2004, Ryanair memperoleh diskon 50% untuk landing charges di bandara Charleroi, London. Alasannya, maskapai ini membantu meningkatkan trafik bagi bandara tersebut.

Terminal ini akan mengurangi fasilitas yang tidak esensial. Tidak ada taman zen seperti di bandara Dubai, ataupun kolam renang seperti di bandara Changi. Karena kesederhanaannya ini, seorang arsitek berkomentar (dan dikutip oleh Richard de Neuvfille, pakar penerbangan di MIT), “low-cost terminal has the charm of a high school gymnasium”.

Hingga saat ini ada 12 terminal berbiaya rendah di dunia, tujuh di Eropa, tiga di Asia, dan dua di Amerika:

  • Terminal 2 di bandara Tampere Pirkkala, Finlandia (beroperasi sejak 2003)
  • Terminal 1 di bandara Budapest, Hungaria (2005)
  • Pier H dan M di bandara Schiphol, Belanda (2005)
  • Concourse A/B di bandara Baltimore, Amerika Serikat (2005)
  • Terminal 2 di bandara Marseille, Perancis (2006)
  • Low-Cost Carrier Terminal (LCCT) di bandara Kuala Lumpur, Malaysia (2006)
  • Budget Terminal di bandara Changi, Singapura (2006)
  • Terminal 3 di bandara Lyon, Perancis (2008)
  • Terminal 5 di bandara John F. Kennedy, Amerika Serikat (2008)
  • Budget terminal di bandara Zhengzhou, Cina (2008)
  • Terminal Bordeux Illico di bandara Bordeaux, Perancis (2010)

Kebanyakan terminal ini merupakan terminal penumpang maupun barang yang didesain dan dibangun ulang. (Bahkan, budget terminal di bandara Zhengzhou hanya berasal dari international hall terminal lama yang direnovasi!).

Bagaimana jika dilihat dari sisi fasilitas restoran? Apakah juga bersifat ‘berbiaya rendah’? Tidak juga. Beberapa terminal memiliki pilihan makanan dan minuman yang cukup bervariasi dan memuaskan. Alasannya, karena penumpang tidak memperoleh makanan gratis di pesawat, maka penumpang cenderung untuk menggunakan fasilitas makan dan minum di terminal.

Variasi restoran tersedia mulai dari restoran cepat saji, kaunter “grab-and-go“, juga restoran bertempat duduk. Terminal 5 JFK bahkan selangkah lebih maju dengan menyediakan lebih dari 200 monitor sentuh di seluruh bagian terminal di mana penumpang bisa memesan makanan minuman dan membayarnya dengan kartu kredit.

Menggunakan terminal ini sebagai titik keberangkatan atau kedatangan tidak akan mengurangi nilai perjalanan kita. Walau kemewahan merupakan satu nilai tambahan dari bandara (yang jelas tidak didapat di terminal ini), namun yang terpenting adalah mendapati fasilitas yang esensial. Tepat sasaran.

  • Disunting oleh SA 15/10/2011

Membenamkan Diri dalam Budaya di George Town

Suasana Jalan di George Town, Penang
Suasana Jalan di George Town, Penang

Mungkin jika Anda mendengar “George Town”, maka yang terbesit dalam pikiran Anda adalah sebuah universitas di Amerika Serikat atau suatu kawasan di Washington D.C. Padahal tidak hanya itu, negara bagian Penang, Malaysia, memiliki ibukota dengan nama yang sama. Berada di timur laut pulau Penang, George Town memiliki keunikan tersendiri sebagai sebuah kota budaya yang sudah diakui oleh UNESCO. Menapaki jalan-jalan di George Town memang rasanya kental sekali dengan campuran budaya Inggris, India, Cina dan Melayu.

Balai Kota George Town, Penang
Balai Kota George Town, Penang

Wilayah eks-jajahan Inggris ini memiliki berbagai peninggalan sejarah, terutama dalam hal arsitektur bangunan. Balai Kota di kawasan Esplanade, The Whiteaways Arcade yang kini dijadikan tempat pameran, teater terbuka, dan kafe, Penang State Museum yang tadinya merupakan bangunan sekolah kolonial merupakan beberapa bangunan di George Town yang memiliki gaya arsitektur Inggris. Yang menjadi bangunan kolonial favorit saya adalah bangunan Eastern & Oriental Hotel di dekat Upper Penang Road pada malam hari. Saya bisa berlama-lama memandangi dan hanya mengagumi bangunan ini di plaza yang berada tepat di depan hotel. Dengan tata cahaya yang enak dipandang mata, bangunan hotel ini tampak begitu megah dan jauh dari kesan menyeramkan.

Little India
Little India

George Town juga memiliki Little India yang tentu menawarkan hal yang berhubungan dengan etnis India. Di kawasan ini terdapat banyak toko pernak-pernik, bumbu, dan kain India, restoran hidangan India, dan yang untuk saya paling menarik adalah kuil. Ketika saya menyambangi Sri Mahamariamman Temple, yang merupakan kuil Hindu tertua di George Town, ternyata sedang ada upacara keagamaan di sana. Dupa-dupa setinggi manusia dibakar di depan kuil, meninggalkan serpihan abu pada baju para pendoa yang berdiri di depannya. Perempuan-perempuan mengenakan kain sari dengan manik-manik yang menyilaukan, lampion-lampion warna-warni bergelantungan di jalanan, dan hingar-bingar musik India dari corong di toko-toko merupakan suasana biasa di Little India. Terasa begitu meriah meskipun tidak ada yang sedang dirayakan. Bayangkan bagaimana ramainya kawasan ini saat Deepavali!

Peranakan Mansion
Peranakan Mansion

Jika ada tempat yang dapat menggambarkan bagaimana kaum Cina Peranakan hidup di George Town maka tempat itu adalah Pinang Peranakan Mansion. Sesuai namanya, tempat ini sebelumnya merupakan rumah dari Baba dan Nyonya keturunan Cina yang sekarang dijadikan museum. Museum ini menggambarkan tradisi, gaya hidup, dan kebiasaan kaum berada Cina melalui arsitektur dan benda-benda yang mereka gunakan dikala hidup. Ruangan-ruangan yang ada di museum ini dipertahankan penataannya seperti aslinya, sehingga kita dapat membayangkan bagaimana mereka hidup. Di sebelah museum terdapat kuil yang cukup besar, tempat Baba dan Nyonya berdoa. Selain kuil pribadi ini, George Town memiliki banyak kuil Cina kuno yang menjadi daya tarik, misalnya Goddess of Mercy Temple yang didirikan tahun 1700an. Nuansa warna merah begitu kuat terlihat pada bangunan kuil ini. Meski sudah tua dan terlihat tidak terlalu terawat, kuil ini masih digunakan hingga sekarang. Mengenai makanan, restoran-restoran sederhana di pinggir-pinggir jalan George Town banyak yang menawarkan masakan khas Cina otentik.

Kuil Peranakan Mansion
Kuil Peranakan Mansion

Budaya Melayu dibawa oleh para pendatang dari Aceh yang berdagang di Pulau Penang. Islamic Museum, yang dahulu merupakan kediaman seorang pedagang kaya dari Aceh, dan Masjid Melayu Lebuh Acheh merupakan peninggalan budaya ini. Meski tidak banyak peninggalan fisiknya, namun komunitas Islam di George Town begitu hidup. Kabarnya pada bulan suci Ramadhan jalanan George Town dan sekitar Menara Komtar dipenuhi oleh para pedagang makanan sepanjang malam. Mereka menyebutnya Bazar Ramadhan.

Saya tidak merasa cukup membenamkan diri dalam budaya Inggris, India, Cina, dan Melayu di George Town hanya dalam beberapa hari. Budaya-budaya tersebut seakan-akan sudah bercampur menjadi satu dan menjadi keunikan tersendiri untuk kota ini. Jika ditanya apa yang saya lihat ketika mengunjungi George Town, maka jawaban saya adalah nuansa penuh budaya di George Town.

  • Disunting oleh SA 10/10/2011

© 2017 Ransel Kecil