Bulan: September 2011 (halaman 1 dari 3)

Museum Taman Prasasti

Batu Nisan Soe Hok Gie
Batu Nisan Soe Hok Gie
Patung anak kecil berwarna putih yang ditumbuhi lumut itu terlihat miring. Seorang anak perempuan berwajah murung, berdiri dengan kedua telapak tangan terkatup di depan dadanya, sepasang sayap menempel di punggungnya terdiam dan enggan terbang, bertelanjang kaki dia berdiri di atas sebuah batu nisan, dan di bawah kakinya terukir sebuah kalimat:
Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow.
Mungkin untaian kata yang terukir di batu nisan makam aktivis pergerakan mahasiswa di tahun 1960-an, Soe Hok Gie tepat menggambarkan nasib Taman Makam Belanda yang kini terlupakan.
Salah Satu Makam di Museum
Salah Satu Makam di Museum
Taman Makam Belanda yang dibangun pada tahun 1795 dengan nama Kebon Jahe Kober dan berganti nama menjadi Museum Taman Prasasti setelah diresmikan oleh Ali Sadikin pada tahun 1977, terletak di Jalan Tanah Abang 1, tidak jauh dari Kali Krukut, tersembunyi di balik menjulangnya gedung pencakar langit di kawasan Thamrin.
Tulisan di Batu Nisan
Tulisan di Batu Nisan
Makam yang kaya akan sejarah kota Jakarta sejak jaman Belanda sempat ditutup pada tahun 1975 untuk kepentingan pembangunan kantor walikota Jakarta Pusat dan atas permintaan pemerintah daerah saat itu jenazah yang sedang tertidur tenang pun “mengalah” dan “terbangun” sejenak untuk dipindahkan ke pemakaman Tanah Kusir. Makam seluas 5,9 hektar dengan sekitar 4.200 batu nisan, akibat pembangunan kota Jakarta kini menyusut menjadi 1,3 hektar dengan 1.372 batu nisan yang tersisa, dan hanya 32 batu nisan tetap berada di tempat aslinya.
Salah Satu Makam di Taman Makam Prasasti
Salah Satu Makam di Taman Makam Prasasti
Siang itu, halaman depan yang kecil pun terlihat lapang karena tidak ada satupun kendaraan yang parkir. Sebuah bangunan putih dengan desain arsitektur klasik menjadi gerbang memasuki Taman Prasasti. Seorang bapak tua duduk bertopang dagu dibalik kaca penjualan tiket terlihat bosan menunggu pengunjung. Kedatangan saya di depan loket pun sempat membuyarkan sesaat lamunannya. Membayar Rp. 2000 penjaga loket menyodorkan secarik tiket, sobekan kertas tipis dan kecil berwarna merah serupa tiket museum yang saya kunjungi 16 tahun yang lalu. sempat bertanya-tanya, seberapa banyak pengunjung yang datang dalam sebulan? Apakah cukup uang yang dihasilkan dari penjualan tiket untuk membayar gaji karyawan sekaligus untuk memelihara museum?
Memasuki bagian dalam Taman Prasasti, saya disambut patung malaikat dan anak kecil yang tertidur di bawah rindangnya pepohonan. Taman yang tidak begitu luas tersembunyi di tengah kota metropolitan itu terasa sangat sunyi dan terasa sejuk. Tidak ada pengunjung lain keucali saya saat itu, hanya terlihat dua orang pekerja, pekerja taman yang sedang menyapu dedaunan kering dan pekerja bangunan yang sedang mengerok cat dinding yang mulai mengelupas.
Peti yang Digunakan oleh Soekarno dan Hatta
Peti yang Digunakan oleh Soekarno dan Hatta
Terdapat batu nisan dari F.H. Roll, pendiri sekolah kedokteran STOVIA yang kini bernama Universitas Indonesia, Olivie Mariamne Raffles, istri dari penemu negara Singapura, Thomas Stanford Raffles, dan tokoh-tokoh penting pada masa Hindia Belanda. Museum ini juga menyimpan peti jenazah dari presiden pertama Republik Indonesia Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta berikut dengan kereta kuda pengangkut jenazah.
Kereta Makam
Kereta Makam
Sayangnya terlihat coretan cat semprot pada salah satu dinding batu nisan, ulah vandalisme yang tidak menghargai nilai peninggalan sejarah.

  • Disunting oleh SA 29/09/2011

Upacara Penurunan Bendera Perbatasan Wagah

Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.
Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.
“Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind…”
Seruan bermakna “Long live (jaya) Pakistan/India” yang bertalu-talu dan menggema itulah yang terdengar dari kejauhan. Dengan menumpangi motor bebek yang dikendarai Amjad, karyawan penginapan Regale Internet Inn tempat saya bermalam di Lahore, di sela-sela hari liburnya kami menuju ke desa Wagah, desa di perbatasan Pakistan–India. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit melintasi jalan yang lenggang untuk menyaksikan upacara penurunan bendera sekaligus menandakan penutupan perbatasan. Upacara penurunan bendera dilakukan setiap sore sekitar pukul 17.00 atau lebih awal selama musim dingin, sebelum matahari terbenam.
Pasukan perbatasan Pakistan sedang beraksi.
Pasukan perbatasan Pakistan sedang beraksi.
Pengibaran bendera Pakistan.
Pengibaran bendera Pakistan oleh petugas lain.
Setelah membeli tiket seharga 10 Rs, kami jalan menuju pintu gerbang perbatasan Pakistan–India melewati jalan lebar beraspal yang diapit podium tempat duduk yang hampir terisi penuh. Pengunjung wanita duduk di podium sisi kiri jalan dan podium tembat duduk pria di sisi kanan nya. Tapi pada saat itu, deretan kursi paling depan masih tersisa beberapa kursi yang kosong. Menurut penuturan Amjad, meskipun tidak ada peraturan tertulis, deretan kursi paling depan biasanya sengaja dikosongkan dan diperuntukkan untuk orang asing.
Sambil menunggu pengunjung berdatangan dan dimulainya upacara penurunan bendera, terlihat beberapa pria tua menggunakan shalwar putih dan ber-kameez hijau memandu sorak pengunjung, menari sambil mengibarkan bendera Pakistan yang berwarna hijau putih dengan bulan sabit dan bintang. Dengan lantang pengunjung di kedua negara saling bersahutan berseru membanggakan negaranya masing masing seolah-olah tidak satupun yang mau mengalah. Walaupun seruan yang di sisi Pakistan terdengar sangat keras, terlihat lebih ramai pengunjung di sisi India. Mungkin karena berbanding lurus dengan jumlah populasinya, atau mungkin juga karena pengunjung di sisi India tidak dipungut biaya untuk menyaksikan upacara penurunan bendera yang dimulai sejak tahun 1959.
Pada tahun 1947, setelah Pakistan memperoleh kemerdekaan dari Hindustan yang kini dikenal sebagai India, desa Wagah terbelah menjadi dua, menjadi saksi dari eksodus besar-besaran jutaan manusia yang berpindah dari Pakistan ke India atau sebaliknya. Sisi timur desa Wagah masih berada di India dan sisi baratnya berada di Pakistan. Dikenal sebagai “Tembok Berlin Asia”, desa Wagah yang terletak di tengah-tengah, 27 km dari kota Amritsar di India dan 29 km dari kota Lahore di Pakistan, merupakan satu satunya perbatasan darat yang bisa diseberangi antar kedua negara, baik dari India ke Pakistan maupun sebaliknya. Perbatasan Wagah terbuka untuk orang asing, dibuka pukul 08.30 dan ditutup pukul 15.30. Sebaiknya menyeberang sepagi mungkin, proses melewati imigrasi bisa memakan waktu 30 menit sampai dua jam.
Pasukan berkuda Pakistan.
Pasukan berkuda Pakistan.
Upacara yang berlangsung sekitar 45 menit dimulai dengan semangat derap langkah pasukan India “Border Security Force” dengan seragam berwarna coklat dan pasukan Pakistan “Sutlej Rangers” dengan seragam berwarna hitam. Kedua pasukan memakai turban dengan lipatan berbentuk kipas di atasnya. Dengan langkah tegap kedua pasukan berjalan mendekati perbatasan, sesekali diselingi dengan ayunan kaki yang diangkat setinggi kepala mereka. Ketika kedua pasukan tiba di perbatasan, kedua pintu gerbang dibuka. Terdapat tiang bendera di masing-masing sisi kedua negara dengan ketinggian yang sama. Ketika menjelang matahari terbenam, kedua bendera diturunkan bersamaan dengan koordinasi yang sangat menarik. Formasi tali saling melintang, pada pertemuan persilangan tali kedua bendera akan bertemu di titik yang sama, meggambarkan kesetaraan kedua negara hingga akhirnya bendera dilipat. Yang paling mengejutkan ketika kedua pintu gerbang kembali ditutup dengan bantingan sangat keras, terlihat kesan marah di wajah kedua belah pasukan tersebut dan diikuti sorakan pengunjung.
Suasana upacara penutupan perbatasan antar kedua tentara.
Suasana upacara penutupan perbatasan antar kedua negara dengan tentaranya masing-masing.
Meskipun kedua pasukan penurunan bendera Pakistan dan India saling memberikan sikap hormat dan bersalaman, diakhiri dengan suara terompet di kedua sisi perbatasan yang mengingatkan masa lalu ketika mereka masih bersatu, secara keseluruhan proses dari awal hingga akhir terkesan sangat agresif. Apalagi dengan sorakan pengunjung yang terkesan memanas-manasi pasukannya masing-masing. Hanya pada saat penurunan kedua bendera, penonton terdiam untuk beberapa saat. Saya sendiri agak khawatir kalau saja terjadi kekacauan, karena ribuan pengunjung dengan kebanggaan nasionalismenya masing-masing sebenarnya bisa saja sangat mudah sekali tersulut emosinya. Saya sempat bertanya ke Amjad, apakah di luar dari upacara ini mereka tetap menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. “Hanya di upacara ini saja mereka terlihat bermusuhan karena tradisi ini sudah berlangsung sejak lama berawal dari sejarah yang menyakitkan. Di luar itu mereka tetap berteman, mereka bercanda dari balik pintu gerbang dan kadang mereka saling mengunjungi.”
Pintu perbatasan India-Pakistan.
Pintu perbatasan India-Pakistan.
Ketika bendera disimpan di tempat masing-masing, upacara pun usai. Kini giliran pasukan berkuda dan pintu gerbang yang diserbu pengunjung untuk berfoto bareng.

  • Disunting oleh SA 19/09/2011

Berhemat Makan dan Minum di Perjalanan

Sayur-sayuran dapat menghemat biaya makan Anda.
Sayur-sayuran dapat menghemat biaya makan Anda.
Pesan tiket pesawat hemat biaya sudah, pesan kamar asrama di hostel sudah, lalu apa lagi yang bisa dihemat? Melakukan perjalanan ala backpacker, bisa jadi pengeluaran untuk makan selama di perjalanan menjadi pengeluaran terbesar. Berapa yang Anda keluarkan untuk sekali makan dalam perjalanan? Belum lagi kalau harus makan pagi, siang, malam, jajan cemilan yang bisa berkali-kali dalam sehari.
Mungkin sampai di sini banyak yang bertanya, mengapa menyiksa diri selama liburan? Ingat tujuan Anda melakukan perjalanan, menguras isi dompet untuk makanan mewah? Mengenal budaya baru? Bosan dengan rutinitas sehari-hari? Menikmati liburan? Tentunya ini bukan buat mereka yang mempunyai anggaran super fleksibel dan hanya melakukan perjalanan beberapa hari. Bagaimana dengan mereka yang bepergian dalam jangka waktu yang lama? Atau mereka yang tidak seberuntung Anda secara finansial?
Kelihatannya tidak banyak yang bisa dihemat dalam rangka pengeluaran terhadap
makanan, tapi kalau diakumulasikan akan cukup memperpanjang masa liburan Anda, atau membeli cinderamata untuk dibawa pulang, apalagi untuk mereka yang bepergian membawa keluarga atau dalam waktu yang sangat lama.
Utamakan makan besar yang bergizi dan sehat.
Utamakan makan besar yang bergizi dan sehat.
Berikut beberapa kita menghemat biaya makan dan minum di perjalanan:

  • Aturan yang paling penting, wajib mengasup makanan yang bergizi secukup yang
    tubuh Anda butuhkan. Ingat, makanan baik tidak tidak harus mahal. Anda tetap akan
    mendapatkan kesenangan yang sama walaupun tanpa mengkonsumsi makanan
    yang harganya menguras isi dompet.
  • Tetap siapkan anggaran yang masuk akal, berapa banyak yang bisa digunakan
    untuk makan dalam sehari dan selalu patuhi untuk tidak melebihi angka yang
    sudah dianggarkan. Selisih yang Anda hemat setiap harinya akan terakumulasi
    hingga hari terakhir perjalanan Anda.
  • Makan sebelum melakukan perjalanan. Apabila waktu keberangkatan berdekatan
    dengan jam makan lebih baik membawa bekal untuk dimakan dalam perjalanan.
    Sudah menjadi rahasia umum makanan yang dijual di dalam lingkungan bAndara
    tidaklah murah. Cek terlebih dahulu apakah maskapai yang Anda gunakan
    memperbolehkan penumpang membawa makanan ke dalam kabin pesawat.
  • Untuk yang menggunakan pesawat hemat biaya, tidak perlu membeli makanan yang
    dijual di dalam kabin pesawat. Dengan harga yang sama Anda akan mendapatkan
    makanan yang jauh lebih baik pada saat tiba di tujuan. Sebaliknya, apabila
    disediakan makanan di dalam kabin pesawat, jangan tinggalkan cemilan yang
    tidak termakan.
  • Menginaplah di penginapan yang menyediakan sarapan pagi gratis, ada beberapa
    penginapan hemat yang menyediakan roti dan selai atau kopi dan teh yang harus kita
    siapkan sendiri. Tidak ada salahnya menyiapkan lebih roti atau air teh manis yang
    disisihkan untuk dibawa selama perjalanan atau untuk makan siang. Pintar-pintar memanfaatkan kesempatan, jangan sekaligus menyiapkan semuanya sekaligus, agar
    tidak terlalu mencolok.
  • Di negara dengan biaya hidup tinggi, bisa jadi makanan cepat saji menjadi pilihan
    yang ekonomis. Namun, hati-hati dengan penjual makanan cepat saji, untuk meraup keuntungan, seringkali mereka menawarkan makanan tambahan dengan bahasa yang manis seolah-olah diberikan secara gratis, misalnya, “Bisakah saya memberikan Anda paket komplit? Anda mau besarkan ukurannya? Anda mau keju? Bisakah saya memberikan ini dan itu?”. Jangan kaget harga yang tertera di struk pembelian melebihi dari harga sebenarnya. Tidak membutuhkan kentang goreng dan minuman ringan bersoda? Jangan ragu memesan burgernya saja atau paket anak-anak apabila itu sudah cukup untuk porsi Anda.
  • Lewatkan makan siang dan sebaiknya mengkonsumsi makanan yang disiapkan
    dari penginapan. Berpuasa selama 30 hari saja tidak akan membuat Anda mal-
    nutrisi. Apabila tidak memungkinkan bawalah cemilan di dalam ransel atau
    makanlah di rumah makan yang biasa didatangi orang lokal. Tanya harganya
    terlebih dahulu sebelum terlanjur memesan. Apabila pergi berkelompok, makan
    di meja, memesan nasi putih dan beberapa lauk dimakan bersama lebih baik.
  • “Haram” hukumnya untuk backpacker menyentuh makanan yang disediakan di dalam mini bar kecuali isi dari keranjang buah yang biasanya gratis. Lagi pula, penginapan hemat biaya jarang yang menyediakan mini bar dan keranjang buah gratis.
  • Selalu bawa botol minum yang bisa diisi ulang. Air keran di Singapura, misalnya, cukup aman untuk diminum langsung, terkadang bahkan rumah makan lokal
    menyediakan teko air/teh yang bisa Anda isi ulang ke botol minum Anda. Hindari
    minuman ringan bersoda atau minuman beralkohol yang tidak diperlukan.
  • Makan hanya jika Anda merasa lapar. Lapar mata melihat jajanan di luar jam
    makan boleh saja apabila Anda tidak pernah menemukan jenis makanan yang
    sama di kota asal Anda. Apabila Anda pergi tidak sendiri, patungan dengan teman
    dan nikmati berdua. Ingat Anda tidak lapar, Anda hanya lapar mata dan penasaran
    ingin mencoba.
  • Selektif memilih menu, daging, ikan dan ayam yang sudah pasti lebih mahal
    dibandingkan dengan sayur-sayuran. Kalau bisa hindari makan dengan menu
    utama daging seperti steak, jadilah vegetarian sesaat selama perjalanan
    Anda. Uang yang Anda hemat cukup lumayan dengan hanya selektif memilih menu
    makanan.
  • Ada beberapa toko swalayan yang menjual murah makanan segar pada malam
    hari, sesaat menjelang tutup. Gunakan kesempatan ini, roti atau kue yang diobral
    masih bisa bertahan hingga jam makan siang hari berikutnya.

Berapa banyak uang yang berhasil Anda hemat selama liburan? Kini saatnya Anda
menghadiahi diri Anda sendiri atas disiplin menghemat jajan selama perjalanan dengan sesuatu yang Anda inginkan. Bagaimana jika dijadikan sebagai tabungan awal untuk liburan berikutnya?

  • Disunting oleh SA 12/09/2011
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil