Artikel-artikel dari bulan Agustus 2011

Ramadan di Bandara Dubai

Gerai-Gerai Bebas Cukai di DXB
Gerai-gerai bebas cukai tak pernah tutup di DXB.

Penumpang pesawat udara yang pertama kali transit di Dubai International Airport (kode IATA: DXB) dalam bulan Ramadan umumnya selalu mempertanyakan ketersediaan makanan dan minuman di dalam lingkungan bandara. Bandara ini beroperasi seperti biasa dan penumpang transit dapat menemukan fasilitas seperti layaknya ditemukan di bandara internasional lain pada bulan-bulan lainnya. Kafe dan restoran beroperasi 24 jam. Minuman beralkohol bisa didapat di dalam pub dan bar dalam bandara. Gerai-gerai bebas cukai tetap buka sepanjang hari seperti biasanya, dan penumpang tetap bisa membeli minuman beralkohol. Perokok bisa menggunakan ruang merokok yang tersedia di beberapa tempat di Terminal 1.

Makanan laut di salah satu restoran di DXB
Makanan laut di salah satu restoran.

Taman Zen
Taman zen.

DXB juga berusaha untuk mengakomodir kebutuhan penumpang transit yang sedang melakukan ibadah puasa. Terdapat beberapa tenda Ramadan yang menyediakan buah kurma dan minuman yoghurt gratis pada saat berbuka. Ruang sholat tersedia di beberapa tempat untuk memenuhi kebutuhan sholat lima waktu. Untuk yang ingin beristirahat bisa mengunjungi Quiet Lounges di Terminal 1 yang dilengkapi dengan kursi malas bisa digunakan secara cuma-cuma.
Gerai Good To Go.

Apabila bepergian dengan anak-anak, sudah tentu makanan cepat saji selalu menjadi makanan favorit mereka. Round Table Pizza yang menyuguhkan aneka jenis pizza dan topping-nya dan McDonald’s tersedia di pujasera Terminal 1 sedangkan outlet Burger King dan McDonald’s lainnya tersedia di Terminal 3. Jika makanan berkalori tinggi bukan pilihan anda dan tidak mempunyai banyak waktu untuk duduk bersantap di meja makan, Good To Go menjadi pilihan yang boleh dicoba dengan berbagai pilihan menu yang lebih sehat seperti roti gulung isi (wraps), roti lapis isi dan salad. Menutup makan malam tidak lengkap rasanya tanpa diakhiri dengan aneka pilihan rasa dan warna es krim sebagai pencuci mulut yang tersedia di Häagen-Dazs dan Cold Stone Creamery.

Untuk penghilang rasa kantuk sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat bisa mengunjungi Starbucks coffee atau Costa Coffee yang menyediakan berbagai pilihan kopi baik disajikan panas maupun dingin. Jika minuman beralkohol pilihan anda, bisa diperoleh di Irish Bar di Terminal 1 dengan atmosfer suasana tradisional Irish pub yang sangat populer. Emporium, pilihan lain, adalah bar butik terbaru dengan desain interior kontemporer yang menjual berbagai minuman bermerek premium dan baru saja dibuka di Terminal 3.

Tidak ada waktu untuk menikmati kota Dubai, surga belanjanya Timur Tengah selama perjalanan transit anda? Bandara Dubai menyediakan ratusan toko untuk memanjakan mata penumpang pesawat dengan menyediakan beragam produk mulai dari busana, perangkat elektronik, buku, majalah, mainan anak-anak, perhiasan dan barang berharga, makanan dan minuman, serta masih banyak lagi. Dalam melakukan perjalanan, membeli oleh-oleh atau cinderamata merupakan aktivitas yang menyenangkan. Ketika sudah dekat Hari Raya Idul Fitri, banyak barang-barang yang unik untuk dibawa pulang sebagai hadiah hari raya. Pilihan yang menarik adalah produk kerajinan Arab seperti gantungan lampu, pashmina, minyak wangi timur tengah, atau buah kurma yang diisi dengan kulit jeruk dan dilapisi nougat almond. Untuk teman anda yang penggemar filateli, terdapat kantor pos Dubai yang menjual berbagai koleksi perangko.

Cinderamata Berbentuk Unta di DXB
Cinderamata berbentuk unta di DXB.

Foto Sensual yang Disensor di Gerai Majalah
Foto sensual yang disensor di salah satu gerai majalah.

Kegiatan favorit saya sendiri selalu menyempatkan mengunjungi toko buku untuk mencari buku yang menarik atau sekedar melewatkan waktu dengan membaca buku dan majalah. Ada hal yang menarik untuk diceritakan, ternyata majalah dengan gambar yang sedikit terbuka (sebenarnya biasa saja) akan disensor dengan coretan marker hitam tebal. Sempatkan juga mempelajari negara yang akan anda kunjungi sebentar lagi dengan membaca buku panduan perjalanan yang tersedia.

Jangan lupa mendonasikan sedikit uang ke kotak amal yang tersedia di beberapa sudut bandara yang digunakan untuk kegiatan kemanusiaan terutama untuk membantu nasib anak-anak yang kurang beruntung. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja penerbangan kali ini merupakan penerbangan terakhir kita.

  • Disunting oleh SA 26/08/2011

Bugis Street Dulu dan Sekarang

Keramaian di Bugis Street
Keramaian di Bugis Street

Sudah sering saya melintasi tempat perbelanjaan Bugis Street yang bercirikan kanopi besar berwarna merah dengan layar elektronik besar di atasnya yang terletak tepat di belakang halte bis Bugis. Hampir setiap kunjungan ke Singapura atau transit dalam perjalanan pulang ke Jakarta saya selalu menginap di penginapan favorit Cozy Corner yang berada tepat di seberang pusat perbelanjaan Bugis Junction. Awalnya Bugis Street terlihat sangat biasa, tidak lebih seperti pasar tradisional yang menjual barang barang dengan harga murah mulai dari pakaian, sepatu, tas, asesoris, jajanan, dan cinderamata beratribut Singapura.

Tidak ada yang istimewa dari jajaran kios-kios kecil yang memenuhi sebuah jalan di kawasan Bugis dan hanya menyisakan ruang sirkulasi sempit di antaranya. Sampai akhirnya saya menemukan cerita mengenai urban development yang menarik di balik sejarah Bugis Street, seiring berkembangnya pembangunan infrastruktur kota Singapura yang pesat tanpa harus mengorbankan sejarah suatu tempat yang justru sebaliknya dipertahankan dan dipromosikan sebagai daya tarik pariwisata belanja kota Singapura.

Penawaran Harga Kompetitif di Bugis Junction
Penawaran Harga Kompetitif di Bugis Junction

Pasar Modern di Bugis Junction
Pasar Modern di Bugis Junction

Kawasan belanja Bugis Street sangat populer di kalangan turis asal Indonesia dan juga selalu menjadi pengunjung terbesar dari tahun ke tahun. Lokasi Bugis Street sangat strategis dicapai baik yang masuk ke Singapura dengan kapal feri melalui Marina Bay, melalui bandara Changi, maupun dengan bis dari Malaysia yang berhenti di Lavender St. Bugis Street juga didukung oleh infrastruktur transportasi yang sangat baik dan memungkinkan untuk dicapai dengan mudah dari kawasan tempat berjamurnya hotel dan pusat perbelanjaan modern di kawasan lain. Area ini bahkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari China Town, Orchard, Clark Quay, Little India maupun Kampung Glam.

Sejarah Bugis Street jauh berawal pada saat Singapura masih bernama Temasek, yang terkenal sebagai kota pelabuhan, menarik banyak imigran dari berbagai etnis untuk datang dan berdagang. Pedagang dan pelaut ulung Bugis dari Indonesia juga berkumpul di sini. Pada tahun 1829 dari Makasar mereka membawa rempah-rempah dan emas dengan menggunakan perahu pinisi menyeberangi lautan untuk mencari peruntungan baru di tanah Singapura. Kedatangan pelaut-pelaut Bugis sekaligus membentuk komunitas Bugis yang bermukim di kampung Bugis atau Bugis Village yang dikenal saat ini dan memunculkan pedagang, pahlawan dan tokoh baru yang berperan dalam sejarah negara Singapura.

Era tahun 1950-an hingga 1980-an merupakan masa keemasan Bugis Street. Sebagai pusat jajanan kaki lima dan pasar malam yang menjual makanan dengan cita rasa lokal, minuman beralkohol dengan harga murah dan cinderamata, memikat pengunjung dari tentara Australia dan Inggris yang singgah di Singapura. Bugis Street berkembang menjadi tempat prostitusi dan perjudian pada tahun 1970-an ketika tempat ini sering dijadikan tempat berlibur oleh tentara Amerika Serikat saat perang Vietnam berkecamuk.

Cinderamata Singapura ditampilkan di Bugis Street
Cinderamata Singapura ditampilkan di Bugis Street

Hiruk-pikuk dan gemerlap malam sepanjang Bugis Street pun sirna ketika Urban Redevelopment Authority (URA) memulai pembangunan stasiun mass rapid transit (MRT) pada tahun 1985. Kawasan Bugis Street dihancurkan dan pedagang direlokasi ke tempat lain untuk dapat meneruskan usaha mereka. Dunia pariwisata Singapura kehilangan salah satu atraksi wisatanya yang sangat populer hingga akhirnya pada tahun 1987 Singapore Tourism Board memulai kembali usaha untuk merevitalisasi Bugis Street yang pernah menjadi ikon dari atraksi pariwisata Singapura dengan membangun pusat perbelanjaan modern Bugis Junction. Pembangunan Bugis Junction mengintegrasikan pusat perbelanjaan, menara perkantoran dan hotel InterContinental Singapore yang berada di atas MRT Bugis dan selesai pada tahun 1995.

Suasana Bugis Street Modern
Suasana di Bugis Street Modern

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Bugis Street yang sebenarnya justru berada di dalam pusat perbelanjaan modern Bugis Junction, yaitu jalan yang kini beralaskan batu keramik, beratapkan panel kaca transparan, terapit diantara rumah toko dengan fasade berarsitektur Straits Chinese-style. Jalan yang berada di antara deretan rumah toko dua lantai di Bugis Village yang berarsitektur konservatif dan pusat perbelanjaan Iluma yang berarsitektur modern dengan permainan iluminasi crystal mesh pada fasadenya disebut New Bugis Street, hanya saja oleh Singapore Tourist Promotion Board tetap dipromosikan sebagai Bugis Street untuk mengenang masa keemasan yang sudah berlalu.

  • Disunting oleh SA 21/08/2011

New York dan Sejuta Mimpi

Times Square
Times Square

Oh, marble-spired Manhattan, I look into your thousand eyes at dusk,

And your thousand eyes look back at me, kindled with lights over the harbor.
You hold the sky set like blue wings on your mountain peaks of splendor,

And you will hold the sky until the world ends and the dream is gone, Oh Manhattan.

(Edwin Curran)

New York. Kata orang, kota ini hutan beton menantang batas langit. Kata orang, penduduknya sibuk mengurus urusan duniawi sampai hampir tak punya waktu luang dan bercermin. Kata orang, kota ini soal menikmati hidup semaksimal mungkin. Kata orang lagi, kota ini soal kerasnya kehidupan di Bronx…

Banyak sekali imaji yang diproyeksikan kota berpenduduk 8 juta orang di pesisir timur Amerika Serikat ini. Tak ubahnya seperti kiblat peradaban modern, imaji tentang New York disebarkan melalui media populer: film, televisi, panggung dan buku. Dalam setahun, mungkin ada satu film yang kita tonton berlatar kehidupan di New York.

Realitanya, New York adalah kota yang tak jauh beda dari kota metropolitan lain di dunia, sebutlah seperti Jakarta atau Bangkok. Sibuk. Pekerja, wisatawan, dan banyak orang lainnya berbondong-bondong ke pusat kota setiap hari dan kembali lagi ke daerah sekitarnya, mungkin dari dan ke negara bagian berbeda.

Manhattan
Hutan beton Manhattan

Sebagai individu yang sekarang menghabiskan sebagian besar waktu di Jakarta, saya menemukan banyak hal yang mirip antara Jakarta dan New York. Tentu, dengan nafas dan aturan yang berbeda. Keduanya sama-sama memiliki denyut yang cepat. Keduanya sama-sama padat. Keduanya sama-sama merupakan lahan rebutan pendatang.

Satu hal yang membedakan Jakarta dan New York adalah kualitas hidup. Dengan keadaan yang sama, hidup serba cepat, populasi padat dan tingkat stres yang tinggi; penduduk Jakarta tidak ditopang oleh sarana publik yang seefisien New York. New York memiliki jaringan transportasi umum yang cukup menjangkau banyak daerahnya, dengan ekspektasi layanan yang jauh lebih baik. Tidak seperti kota besar lain di Amerika Serikat seperti Los Angeles misalnya, kultur transportasi di New York adalah kultur transit, bukan kultur kendaraan roda empat atau dua.

New York memiliki ruang publik yang membuat lanskap kota menjadi wadah kegiatan massa yang meleburkan ranah-ranah privat. Di sini, ranah-ranah privat “dipaksa” untuk menghormati ranah-ranah publik. Pada akhirnya yang diuntungkan adalah publik.

Ketika saya merasa nyaman untuk berada di luar ruangan, ketika itulah saya merasa kota itu baik buat saya. Seolah seluruh penjuru kota adalah tempat tinggal yang terbuka untuk saya melakukan berbagai aktivitas.

Central Park
Central Park

Central Park, contohnya, adalah contoh nyata ruang publik yang seperti ini. Dengan luas sekitar 341 ha, atau sekitar 60 blok x 8 blok, sekitar 80% dari taman ini adalah ruang terbuka hijau, sisanya bangunan/area terbangun kecil rendah seperti toilet, restoran dan arena skating. Siapa saja bebas menggunakan taman ini untuk duduk, tidur, bersepeda, lari, bersepatu roda, makan siang dan berjemur di dalam area yang tidak dipagari.

Kehidupan di New York sama kerasnya dengan di Jakarta, dan kota-kota metropolitan lain di dunia. Di sini, beragam kalangan dari berbagai latar belakang berbaur. Menurut sensus pemerintah tahun 2006, sekitar 37% penduduk New York adalah pendatang atau keturunannya. Semua berusaha bertahan hidup.

Jangan bayangkan penduduk New York hanya kaum kulit putih mapan yang menjalani hidup mewah dan bebas seperti dalam Sex and the City. Itu hanya potret fiktif dari imajinasi pembuatnya. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali.

Gedung Empire State
Gedung Empire State

Jelas sekali mengapa New York menjadi pilihan hijrah bagi banyak orang, baik dari dalam maupun luar Amerika Serikat. Di sini segala jenis mimpi diperbolehkan. Asal usaha yang dilakukan sepadan, maka kesempatan apapun bisa kita raih.

Kota ini siap menampung inspirasi penduduknya tanpa lelah. Kota yang tak pernah tidur. Kota duniawi!


Suatu Sore di Pantai Dreamland

Kami memacu motor ke bagian selatan Pulau Dewata. Setelah kompleks Garuda Wisnu Kencana terlewati, kami tiba di gerbang Pecatu Indah Resort. Inilah pintu masuk ke Pantai Dreamland, pantai yang semakin populer sejak grup band Michael Learns to Rock menjadikannya sebagai tempat syuting video klip lagu “Someday”, terletak di dalam kompleks resor milik Tommy Soeharto ini.

Gerbang Pecatu Indah Resort. Pintu masuk Pantai Dreamland

Untuk menikmati hamparan pasir putih Dreamland, setiap pengunjung dikenai biaya Rp 10.000/orang. Tidak ada pos penjualan karcis, hanya satpam berseragam yang memungut lembaran sepuluh ribu yang keluar dari kantong pengunjung.

Deretan Kios

Dari tempat parkir, kami berempat bersama puluhan wisatawan lain berjalan menuruni jalan berbatu yang menuju ke deretan kios. Di sampingnya air menggenang dalam sebuah laguna kecil yang entah alami, entah buatan. Sesekali saya berpapasan dengan para peselancar yang dengan cuek, bertelanjang dada dengan kulit coklat karena dibakar matahari, menenteng papan kesayangan mereka.

Senja Pantai Dreamland

Pantai Dreamland

Pantai ini semakin ramai. Bukan saja oleh para peselancar yang sengaja datang untuk menjajal ombaknya atau bule yang berbaring terlentang sambil membaca buku dengan hanya dua potong-bikini sebagai pelindung tubuh. Tapi juga oleh wisatawan yang datang berombongan. Sekarang banyak juga biro perjalanan yang mengagendakan kunjungan ke Dreamland sebagai paket wisata andalan. Tidak percaya? Cobalah tengok ke parkiran dan anda pasti akan menemukan deretan bis pariwisata.

Pedagang di Pantai Dreamland

Banyaknya pengunjung tentunya juga menarik banyak pedagang untuk berjualan di sini. Perlahan semakin banyak kios-payung yang berdiri dengan makanan dan minuman ringan serta topi dan baju bernuansa pantai tertata rapi di atas lapak. Saya cuma berharap agar keasrian pantai ini lestari dan benar-benar menjadi “tanah impian” penduduk jimbaran. Sesuai dengan namanya; Dreamland.

  • Disunting oleh SA & ARW 6/08/2011

© 2017 Ransel Kecil