Bulan Juli 2011

Stasiun Tanjung Priuk

Stasiun kereta api Tanjung Priuk pernah menjadi bangunan megah dan mewah yang pernah ada di utara Batavia pada jaman Hindia Belanda. Letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Priuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan yang penting sekaligus sebagai tempat transit, keluar masuknya orang Eropa yang datang ke tanah Jawa.

Tidak hanya memiliki delapan peron, stasiun ini juga dilengkapi dengan aula yang luas dan kamar penginapan. Gerbong restorannya pun dilayani dengan petugas berseragam dan bersarung tangan putih yang menyajikan makanan di atas piring keramik dan gelas kristal. Ditemukan juga bunker di bawah stasiun bagian utara yang masih belum diketahui fungsinya pada jaman tersebut.

Bangunan simetris dua lantai bercat putih karya arsitek Ir. C.W. Koch didesain dengan pengaruh kubisme. Didominasi bentuk geometris persegi empat dan garis garis vertikal dan horisontal pada semua bagian bangunan. Kolom struktur batu bata, jendela berukuran besar dan hiasan kaca patri seperti layaknya desain bangunan kolonial Belanda yang banyak ditemukan di bagian kota lama Jakarta.

Tenggelam di balik hiruk pikuk manusia, cuaca panas dan bisingnya terminal bis Tanjung Priuk yang tepat berada di depan stasiun, berada di dalam bangunan ini jutstru memberi kesan yang sangat berbeda. Pencahayaan alami yang masuk melalui deretan jendela kaca, langit-langit yang tinggi, batu keramik yang menutupi permukaan lantai dan sebagian dinding serta bukaan-bukaan ventilasi menciptakan suasana yang tenang dan sejuk.

Sebagai stasiun pertama yang menggunakan kereta bertenaga listrik pada masa Hindia Belanda, kini stasiun Tanjung Priuk hanya melayani tiga keberangkatan. Pukul 15.20 dengan tujuan Cirebon, Tegal, Pekalonga, Waleri, Semarang, Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya. Pukul 08.30 dan 16.20 dengan tujuan Pasar Senen, Jatinegara, Klender, Cakung, Bekasi, Cikampek dan Purwakarta.

Aneh sepertinya, stasiun yang berukuran cukup besar hanya memiliki satu keberangkatan di pagi hari dan dua di sore hari. Tapi entahlah, saya tidak begitu paham tentang sistem perkeretaapian. Saat saya di sana, stasiun terlihat kosong. Hanya ada seseorang sedang membersihkan rangkaian kereta yang menanti pada sebuah rel.

Menaiki gerbong kereta yang baru saja dibersihkan mengingatkan saya terakhir kali bepergian dengan kereta dari stasiun Senen, Jakarta menuju stasiun Tugu, Yogyakarta. Interior gerbong dan kursi tetap sama seperti lima belas tahun yang lalu. Di sisi lain gerbong kereta terlihat pekerja anak anak menjual makanan dan minuman yang sedang bermain sambil menunggu datangnya penumpang.

Di sudut lain peron tampak dua anak kecil bermain kartu bergambar. Hmmm… mudah mudahan mereka bisa menikmati sistem kereta api yang lebih maju, seperti mimpi akan monorel, ketika mereka dewasa nanti.

  • Disunting oleh SA & ARW 21/07/2011

Minaret Dua Budaya

Pintu masuk utama Alai Darwaza dibangun pada tahun 1311 oleh Alauddin Khalji dan makam Imam Zamim di depannya dengan latar belakang Qutub Minar.
Pintu masuk utama Alai Darwaza

Pintu masuk utama Alai Darwaza dibangun pada tahun 1311 oleh Alauddin Khalji dan makam Imam Zamim di depannya dengan latar belakang Qutub Minar.

Dari balik kaca jendela mobil sedan tua, terlihat puncak menara Qutub Minar yang berwarna merah menjulang tinggi dari kejauhan. Minaret lima lantai setinggi 72,5 m ini dibangun dari susunan batu sandstone merah merupakan minaret tertinggi di dunia dan masuk dalam UNESCO World heritage Site. Minaret yang terletak tidak jauh di pinggiran selatan kota Delhi dengan ciri Arsitektur Indo-Islamic yang terinspirasi dari Minaret Jam di Herat, Afghanistan.

Sesampainya di depan pintu masuk, supir memberikan kartu nama dengan tulisan nomer mobil di belakangnya. “Here is the vehicle number, buy the ticket there, the entrance is there and I will wait at the parking lot”, jelasnya sambil menunjuk lokasi parkir yang terletak di seberang jalan.

Jalanan terlihat lengang karena mobil tidak diperkenankan parkir di sepanjang jalan. Para pedagang dan tempat penjualan tiket masuk pun dipusatkan di satu tempat bersebelahan dengan lokasi parkir mobil. Di atas loket penjualan tiket tertera tiket masuk untuk orang lokal dijual seharga Rs 10 sedangkan untuk orang asing Rs 500. Sudah sangat umum, pemerintah India memberlakukan perbedaan harga tiket kepada turis lokal dan internasional hampir di semua lokasi kunjungan wisatawan.

Lokasi pintu masuk komplek Qutub tepat berada di seberang loket penjualan tiket masuk. Suasana agak ramai pada saat itu karena bertepatan dengan musim liburan awal tahun. Mayoritas pengunjung adalah wisatawan lokal yang berlibur dengan keluarga mereka. Setelah melewati pintu masuk dan berjalan melewati taman yang terawat rapih, Qutub Minar semakin terlihat secara keseluruhan hingga kepala ini harus mendongak ke atas. Ukiran Ayat ayat Qur’an berukuran besar menghiasi permukaan dinding Qutub Minar.

Qutub Minar dengan ukiran kaligrafi
Qutub Minar dengan ukiran kaligrafi

Menurut sejarah, pada 1192 penguasa perang Aybak menyerbu dan menduduki Delhi sekaligus membangun dinasti Islam pertama di India. Pembangunan Qutub Minar dipelopori oleh Qutb-ud-din Aybak penguasa Islam pertama di India pada tahun 1193 untuk merayakan kemenangan sekaligus sebagai simbol masuknya ajaran Islam untuk mendominasi di negara dengan populasi pemeluk agama Hindu. Hingga akhir hidupnya Aybak hanya mampu menyelesaikan lantai dasar Qutub Minar. Penerusnya, Iltutmish menantu dari Aybak berhasil menambah 3 lantai dan pada tahun 1368 Firuz Shah Tughlug berhasil menyelesaikan lantai ke lima dari Qutub Minar yang saat ini menjadi mahakarya arsitektur Mughal

Sebelum membangun Qutub Minar, pada tahun yang sama Aybak menginstruksikan untuk membangun masjid pertama di India yang diberi nama Quwwat-ul-Islam. Masjid seluas 1376 meter persegi ini dibangun berlantai batu dengan lorong berpilar di sekelilingnya. Dinding masjid setinggi 16 m sampai saat ini masih berdiri. Pembangunan komplek Qutub dibantu oleh tukang batu India yang kemudian menganut agama Islam.

Sisa bangunan masjid Quwwat-ul-Islam yang masih berdiri
Sisa bangunan masjid Quwwat-ul-Islam yang masih berdiri

Setelah Aybak meninggal, masjid ini terus diperluas oleh penerusnya, Iltutmish yang berasal dari Turkestan. Iltutmish dijual oleh saudara laki lakinya sebagai budak ke seorang pedagang asal Bukhara. Sebagai budak Iltutmish dibawa ke Ghazni, Afghanistan hingga akhirnya dibeli oleh Aybak dan dibawa ke Delhi. Sepak terjangnya dalam menaklukan Delhi menarik perhatian Aybak hingga akhirnya Iltutmish menikahi putri Aybak dan setelah Aybak meninggal Iltutmish menjadi penerus kekuasaan mertuanya.

Iltutmish meninggal pada 1236 dan dimakamkan di dalam komplek Qutub. Makam berukuran 9 meter persegi dari luar terlihat seperti dinding batu yang sederhana. Interior dalamnya terlihat sangat indah dengan dekorasi pola geometris dan ukiran kaligrafi memenuhi semua permukaan dinding. Makam Iltutmish terletak ditengah tengah ruangan dan dipercaya dulunya memiliki atap kubah yang akhirnya runtuh karena terlalu berat. Terdapat juga mihrab pada dinding bagian barat yang terbuat dari batu marmer putih.

Iltutmish membangun makamnya sendiri sebelum ia meninggal pada tahun 1235
Iltutmish membangun makamnya sendiri sebelum ia meninggal pada tahun 1235

Alauddin Khalji seorang Pashtuns, suku yang banyak ditemui di Afghanistan, mewarisi kekuasaan semeninggalnya Iltutmish. Alauddin Khalji juga memperluas batas komplek Qutub dan membangun Alai Darwaja pada 1311 sebagai pintu masuk utama yang berada di sisi selatan menuju masjid Quwwat-ul-Islam.

Ukiran batu sandstone dan marmer pada dinding Alai Darwaja
Ukiran batu sandstone dan marmer pada dinding Alai Darwaja

Alauddin Khalji yang sangat ambisius membangun Minaret kedua, Alai Minar disebelah utara yang rencananya akan berukuran dua kali lebih tinggi dari Qutub Minar. Tapi sayangnya ia meninggal tanpa menyelesaikan minaretnya yang baru berdiri setinggi 25 meter. Alauddin Khalji dimakamkan di komplek Qutub bersebelahan dengan madrasah yang dibangunnya dan hingga kini tidak ada yang meneruskan proyek minaretnya.

Alai Minar yang tidak terselesaikan
Alai Minar yang tidak terselesaikan.

Apabila diperhatikan lebih detil, terdapat banyak kejanggalan pada bangunan di komplek Qutub. Detil desain bangunan yang bertentangan dengan desain bangunan Islam pada umumnya. Contohnya deretan pillar yang berada di sekeliling masjid Quwwat-ul-Islam dengan bentuk dan desain yang berbeda, tidak ada satupun kesamaan dengan pilar lainnya. ini menunjukan tidak adanya konsep kesatuan yang pada umumnya ditemukan banyak pengulangan desain yang sama pada bangunan Islam. Selain itu juga ditemukan relief pola bunga teratai yang biasanya ditemui di candi candi Hindu.

Pilar yang disusun dari reruntuhan batu candi Hindu
Pilar yang disusun dari reruntuhan batu candi Hindu

Relief yang biasanya ditemukan di candi Hindu
Relief yang biasanya ditemukan di candi Hindu

Yang paling aneh ditemukan detil ukiran berupa figur manusia. Tidak pernah ditemukan detil berupa figure manusia pada bangunan berarsitektur Islam dimanapun dan penggunaan figur seperti manusia dan hewan bertentangan dengan ajaran Islam.

Relief berfigur manusia di komplek Qutub
Relief berfigur manusia di komplek Qutub

Lalu pertanyaannya kenapa penguasa saat itu membenarkan penggunaan detil desain yang tidak biasa pada bangunan berarsitektur Islam?

Ditemukan prasasti yang menarik yang menjelaskan awal berdirinya komplek ini. Qutub Minar dibangun diatas pondasi candi Hindu dan material yang digunakan berasal dari reruntuhan 27 candi yang dihancurkan pada masa masuknya Islam ke India. Dengan waktu yang sangat terbatas dan mempercepat terciptanya kerajaan Islam di kawasan tersebut, Aybak menggunakan pasukan gajah perang untuk meruntuhkan candi candi yang dianggap musrik dan membangun masjid dan minaret dengan bongkahan batu candi.

Sangat ironis memang. Masjid pertama di India yang dibangun sebagai bukti masuknya Islam ke India, secara estetika menunjukan bangunan yang tidak Islami. Qutub Minar tidak hanya menunjukan elemen budaya pemenang, tapi juga sekaligus mewariskan budaya yang mereka kalahkan.

  • Disunting oleh ARW 12/07/2011

Delapan Jam di Dubai

Transit di Dubai lebih dari delapan jam? Pemegang paspor Indonesia bisa membeli Transit Visa maksimal untuk 36 jam di agen perjalanan yang terletak di terminal kedatangan dengan syarat transit di Dubai lebih dari delapan jam dan memiliki tiket penerbangan selanjutnya. Berikut beberapa rekomendasi tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam waktu delapan jam:

Dubai Creek

Tempat berlabuhnya kapal dagang pada jalur perdagangan tua dari India sampai pantai timur Afrika. Tradisi dagang sejak berabad abad tahun yang lalu masih tetap dipertahankan di sungai dengan panjang 14 km hingga saat ini. Di sepanjang sungai terlihat Dhow atau kapal dagang yang terbuat dari kayu dan aktivitas pekerja bongkar muat kapal.

Dubai Creek membelah jantung kota Dubai menjadi dua, kota tua Diera Dubai sebagai cikal bakal Dubai saat ini dan Bur Dubai dengan pembangunannya yang sangat pesat. Di ujung dari Dubai Creek terdapat cagar alam tempat bermigrasinya berbagai jenis unggas, salah satunya burung flamingo yang ramai berdatangan pada akhir musim panas.

Arba, Taksi Air di Dubai

Menyusuri Dubai Creek dengan abra atau taksi air adalah yang terbaik untuk menikmati pemandangan perpaduan antara kota tua dan modern.

Dubai Museum

Dubai Museum

Tempat yang tepat untuk melihat budaya dan tradisi tua kota Dubai di masa sebelum ditemukannya minyak bumi. Terletak di kawasan kota tua dan merupakan bangunan tertua di Dubai yang dibangun pada tahun. Bangunan tua yang terbuat dari batu dan tanah liat yang dulunya berfungsi sebagai benteng dikembangkan dengan struktur moderen dengan membangun ruang bawah tanah untuk mengakomodir koleksi museum.

Memasuki bangunan benteng tua dapat dilihat perahu kayu tradisional dan senjata pertahanan masa lalu. Menuruni ramp melingkar ke ruang bawah tanah yang terletak di bawah menara seolah melihat Dubai Creek yang membelah gurun pasir kota Dubai yang belum ditumbuhi bangunan pencakar langit lengkap dengan burung burung berterbangan diatasnya. Setibanya di ruang bawah tanah terdapat diorama dengan ukuran yang sebenarnya kehidupan sehari hari dan aktivitas perdangangan lau waktu itu. Dimulai dari suasana tempat pembuatan kapal, keledai pengangkut barang, kapal dagang yang penuh muatan siap berlayar dan aktivitas pekerja kapal.

Di seberang jembatan kayu terdapat lorong sempit yang dipenuhi toko rempah, gerabah, tekstil, pengerajin kayu, pandai besi di kiri dan kanannya menggambarkan suasana pasar masa lalu. Di ujung jalan terlihat langgar dan ana kanak kecil sedang belajar mengaji.

Diorama terakhir membawa kita ke kehidupan bawah air. Ikan-ikan yang sedang berenang di sekitar pencari mutiara dan terlihat lambung kapal di atasnya dan dilengkapi dengan permainan cahaya dan suara deru ombak. Sebelum keluar terlihat suasana kehidupan tepi pantai, nelayan yang sedang membuat perahu, penjual ikan menunggu pelanggan dan pengerajin sedang merajut jala ikan.

Bastakia Quarter

Bastakia Quarter

Satu satunya kawasan tua yang masih bertahan hingga saat ini. Terletak tidak jauh dan dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Dubai Museum, Bastakia menawarkan suasana pemukiman masa lalu yang berawal dari pedagang Bastak asal Persia yang membangun rumah mereka pada abad ke-19. Kini pemukiman tua itu difungsikan sebagai galeri, toko cindera mata, rumah makan dan pusat kebudayaan. Apabila anda suka dengan fotografi, jangan lewatkan lorong labirin yang sempit di antara rumah-rumah dengan menara angin atau badgir yang menjulang tinggi.

Sheikh Saeed Al-Maktoum House

Rumah Sheikh Saeed Al-Maktoum

Dibangun di tepi Dubai Creek pada tahun 1896 sebagai rumah tinggal dari Sheikh Saeed Al-Maktoum. Rumah berdinding tebal dua tingkat dengan 4 buah menara angin yang berfungsi sebagai alat ventilasi udara memiliki taman yang luas. Saat ini rumah milik bekas penguasa saat itu difungsikan sebagai museum yang masih menyimpan foto-foto dan dokumen bersejarah. Rumah Sheikh Saeed Al-Maktoum wajib dikunjungi oleh kolektor uang logam dan penggemar/kolektor perangko.

Wafi

Wafi

Terletak di tengah hiruk-pikuknya Burj Dubai yang dikenal sebagai “kota dalam kota” menawarkan pengalaman berbelanja ekslusif dari berbagai merk terkenal di dunia seperti Chanel, Versace, Robert Cavalla, Iceberg, Jeagar, Kitson, Graff, Chopard, Links of London, Mont Blanc, dan masih banyak lagi. Mal dengan desain berkonsep arsitektur Mesir dengan bangunan berbentuk piramida juga dilengkapi dengan spa, club, restoran, kafe dan bar, klub malam dan hotel berbintang lima. Di sini juga dijadikan starting point jasa transportasi Big Bus Tour dengan armada bisnya yang berangkat setiap 30 menit mengunjungi tempat tempat menarik di Dubai.

Jumeirah Public Beach

Hotel Burj Dubai

Tidak sanggup menginap di hotel pinggir pantai? Jangan khawatir, Jumeirah Public Beach terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya sama sekali. Pantai dengan pasir putih dan air jernih berwarna biru kehijau terletak tepat di sebelah hotel Jumeirah dan titik yang tepat untuk berfoto dengan latar belakang Burj Dubai, satu satunya hotel berbintang 7 di dunia. Berada di kawasan tempat tinggal pinggir pantai yang umumnya dihuni para ekspatriat, berpakaian renang dua potong diperbolehkan.

Atlantis on the Palm

Atlantis at the Palm Hotel

Terletak di ujung dari pulau buatan di reklamasi pantai Dubai yang berbentuk pohon palem tempat kawasan hunian mewah tepi pantai. Resor tematik aquaventure berbintang enam dilengkapi dengan taman hiburan air dan anda bisa memiliki kesempatan berenang dengan lumba-lumba. Dikarenakan waktu yang sangat terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk masuk dan mencoba wahana permainan air di Atlantis, tapi menyusuri jalan di pulau buatan manusia merupakan pengalaman yang menarik.

Dubai Mall

Menyandang predikat sebagai mal terbesar di dunia. Semua yang anda cari hampir bisa dipastikan dapat ditemui di Dubai Mall yang memiliki 1.200 toko. Sebagai surga belanja dan pusat hiburan keluarga terbesar, Dubai Mall dilengkapi dengan kolam ikan indoor terbesar di dunia sebagai rumah dari 33.000 ikan air laut yang terdiri dari 85 spesies ikan yang hidup berdampingan dengan ikan hiu dan pari. Untuk si kecil, terdapat taman tematik indoor SEGA Republic Park yang menyediakan berbagai sarana permainan berteknologi canggih. Selain itu Dubai Mall juga dilengkapi dengan ice ring berukuran Olimpiade yang dapat digunakan untuk umum maupun untuk acara khusus seperti kompetisi ice skating, konser musik dan pertandingan hoki.

Air Mancur Terbesar

Burj Khalifa

Jangan lupa menyaksikan atraksi air mancur terbesar di dunia, menari diiringi dengan permainan musik dan pencahayaan di sore hari dengan latar belakang gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa. Anda juga bisa menikmati kota Dubai dari Burj Khalifa observation deck dengan membeli tiket di kaunter “On The Top”.

  • Disunting oleh SA 04/07/2011