Artikel-artikel dari bulan Juni 2011

Berlin, Sebuah Dialog dengan Dua Masa

Berlin Hauptbahnhof

Hari masih pagi ketika saya menjejakkan kaki di Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin, ibukota Jerman. Bayangan saya pada stasiun kereta api tua berarsitektur Baroque atau Roman sirna, karena stasiun ini berstruktur modern dengan kaca dan besi berpadu jadi satu, mempersilakan sinar matahari masuk dengan bebasnya sehingga tidak diperlukan banyak penerangan. Tetap cantik.

Saya sempat termenung sebentar di peron, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Barangkali mereka akan bertemu dengan keluarganya di kota lain. Ada anak kecil yang berlarian, lalu kembali ke orang tuanya, menunggu kereta ke ujung Berlin. Apapun tujuan mereka, peron kereta ini menjadi persinggahan.

Wilayah Berlin sangat masif ukurannya. Sebagai perbandingan, daerah khusus ibukota Jakarta bahkan hanya 80% dari total luas wilayah Berlin. Untungnya, kota ini dihubungkan oleh sistem transportasi massal yang memadai, terutama sistem rel dan bis.

Senefelderplatz di utara distrik (bezirke) Mitte adalah stasiun tujuan saya.

Secangkir Susu dan Setangkap Roti Isi

Transit di Alexanderplatz, saya minum segelas susu hangat dan makan siang roti isi. Tidak lebih dari €5. “Warung” ini mungil, dengan kursi tinggi tanpa sandaran, meja kecil kota terselimuti taplak kotak-kotak hijau dan putih. Semua pesanan dilakukan di etalase, pembayaran di kasir dan makanan akan diantarkan. Saya duduk di dekat jendela. Matahari sangat bersahabat. Beberapa orang duduk di luar. Tram yang turun di samping stasiun menurunkan anak muda, bapak yang menggendong anak, pasangan renta yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Ada yang berjaket, blazer dan berjas. Ada anak yang kemudian lapar, dan meminta ayahnya singgah ke tempat saya singgah.

U-Bahn

Alexanderplatz berfungsi sebagai pemadu moda transportasi yang mengakomodasi dua jenis moda, yakni S-Bahn/U-Bahn (kereta api dalam kota, S dan U mengisyaratkan jenis kereta, di atas jalan/strasse atau di bawah tanah/unter) dan tram. Di sini juga terdapat banyak toko dan atraksi, letaknya juga di pusat kota.

Sistem S/U-Bahn di Berlin menggunakan tarif berdasarkan zona. Kota dibagi menjadi tiga zona, dan zona yang paling murah bertarif €2.30. Anda membeli tiket di sebuah mesin, dengan memilih zona/stasiun yang ingin dituju. Jangan lupa, di Berlin, anda harus melakukan validasi tiket dengan mesin kecil. Ingat kondektur kereta yang membolongkan tiket? Sama seperti itu, hanya ini dilakukan di sebuah mesin. Tiket ini berlaku dua jam setelah divalidasi, hanya berlaku di zona yang sama dan tidak boleh pulang pergi di jalur yang sama. Walaupun saya sudah mampir Alexanderplatz, saya tidak perlu beli tiket lagi karena masih dalam batas dua jam.

Saya lihat U-Bahn menggunakan gerbong yang agak klasik, rasanya seperti masih di Berlin dekade 80-an. Terlihat grafiti/vandalisme di stasiun, badan dan interior gerbong. Stensil bergambarkan Bradenburg Gate melapisi kaca, seolah mengkonfirmasikan memang saya ada di Berlin.

Senefelderplatz ada di Mitte. Mitte adalah distrik yang cukup sentral dan trendi, menyimpan hampir semua atraksi Berlin yang dipromosikan oleh agen perjalanan: Bradenburg Gate, Berliner Dom, gedung Reichstag, Weltzeituhr, Deutsche Guggenheim, Fernsehturm/TV Tower (menara televisi “asparagus”), dan masih banyak lagi. Beberapa titik lokasi bersejarah ketika Berlin dipisahkan oleh sebuah tembok juga ada di distrik ini.

Bradenburg Gate

Tidak sulit untuk berkelling Mitte dan menikmati hampir seluruh atraksi utama Berlin dalam sehari dengan berjalan kaki. Neue Synagogue dapat diraih dalam sekitar 15 menit, tempat ibadah kaum Yahudi yang dibangun pada abad ke-18, berarsitektur Moor (ingat Alhambra). Bradenburg Gate dapat diraih dalam 15 menit dari Neue Synagogue. Gerbang ini dibangun sebagai pintu masuk untuk pusat pemerintahan kerajaan Prussia. Dahulu, lokasi ini adalah bagian dari benteng berparit. Sekarang, ia menjadi monumen kebanggaan bangsa Jerman dan bangsa Eropa, namun fungsinya hampir sudah tidak ada. Sekilas saya lihat di koin Euro produksi Jerman, maka terdapat Bradenburg Gate di sana. Berjalan masuk ke gerbang ini, Anda akan sampai di Unter den Linden, sebuah bulevar panjang yang menghubungkan pejalan kaki ke Friedrichstrasse (distrik belanja utama) dan Checkpoint Charlie, salah satu checkpoint perbatasan yang penting dalam sejarah Berlin Barat dan Timur.

Menurut saya, yang paling menarik dari Berlin adalah sejarah politiknya. Setelah perang dunia II, ada perjanjian empat pihak antara sekutu (Amerika, Perancis dan Inggris) dan Uni Soviet yang mengatakan bahwa Jerman akan dikelola oleh empat negara tersebut, di mana wilayahnya dibagi menjadi sektor Amerika, sektor Perancis, sektor Inggris dan sektor Uni Soviet. Bagian Jerman yang sekarang masuk ke wilayah Polandia dinyatakan sudah merdeka. Berlin, sebagai ibukota de facto, juga mengikuti pembagian pemerintahan ini, dengan empat sektor juga. Sektor sekutu di bagian barat, dan sektor Uni Soviet di bagian timur. Pemerintahan bersama ini bersifat sementara, dan Jerman direncanakan akan menjadi satu dan independen pada akhirnya. Namun, karena terjadi ketegangan lanjutan antara sekutu dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin, Berlin, pada akhirnya, terbelah dua dan Uni Soviet membangun tembok Berlin yang memisahkan kota tersebut. Negara Jerman pun terbelah dua, menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur.

Checkpoint Charlie

Situasi yang lebih menarik lagi adalah seluruh Berlin terletak di wilayah Jerman Timur. Otomatis, wilayah Berlin Barat adalah sebuah exclave, wilayah yang terkurung di negara Jerman Timur, tetapi menjadi bagian terpisah dari negara Jerman Barat. Secara hukum ada beberapa perbedaan yang meregulasi hak/kewajiban dan status warga Berlin Barat yang membedakan mereka dengan warga negara Jerman Barat, tetapi pada dasarnya mereka adalah warga negara Jerman Barat. Keadaan ini berlangsung hampir tiga dekade sampai tembok Berlin diruntuhkan mendekati dekade 90-an. Kompleks, memang.

Peninggalan tembok Berlin ini masih terlihat di Berlin modern, namun banyak yang sudah tidak utuh. Beberapa papan pengumuman/penanda perbatasan pun masih ada, bertuliskan, “You are now leaving the American sector!”. Bagian yang sudah diruntuhkan ditandari dengan segaris perunggu yang ditanamkan di atas trotoar, bertuliskan: “BERLINER MAUER 1961–1989”. “Mauer” artinya tembok.

Bagian Tembok Berlin

Tembok Berlin menjadi saksi bagaimana beberapa orang melarikan diri dan merenggut nyawanya sendiri. Banyak dari mereka yang tewas ditembak karena mencoba melarikan diri dari Berlin Timur ke Berlin Barat. Namun, tidak semuanya gagal. Ada prajurit Uni Soviet yang bernama Conrad Schumann yang berani melompat dari Jerman Timur ke Jerman Barat saat tembok masih dibangun, dan pembatasan masih sebatas kawat berduri. Conrad selamat dan dapat menyaksikan Tembok Berlin runtuh tahun 1989. Ia wafat pada tahun 1998. Seorang jurnalis mengambil fotonya ketika dia melompat dan foto tersebut menjadi ikon Perang Dingin.

Melihat Berlin sekarang, semuanya berubah. Ia sudah menjadi kota modern, berukuran masif dan makmur. Ia menjadi pusat pemerintahan Jerman, di mana anggota legislatif bertemu di sini untuk menentukan arah negara.

Saya kagum melihat gedung Reichstag, gedung parlemennya. Pengunjung bisa menyaksikan bagian dalam gedung ini, gratis. Pemerintah memutuskan untuk “membuka” ruang publik di sekitar parlemennya, di mana pengunjung bebas berjalan kaki melihat kantor pegawai negeri sipil, tempat kongres dan gedung Reichstag yang tua yang dilengkapi dengan hamparan lapangan hijau luas. Di tengah-tengah pusat pemerintahan ini terdapat sungai, yang kabarnya, pernah menjadi saksi pertumpahan darah mereka yang melarikan diri dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Saya bergidik, tapi biarkanlah itu jadi saksi sejarah dan pengingat bagi masyarakat Jerman akan masa lalu mereka.


Kaos Ransel Kecil

Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Pemutakhiran 1 Juli 2011: 27 kaos gelombang 1 sudah dikirim hari ini.

Bagaimana rasanya jika bepergian dengan kaos Ransel Kecil?

Bekerjasama dengan Neuro-Designs, kami akan memproduksi kaos Ransel Kecil. Kaos-kaos ini dibuat dari bahan cotton combed 24S dan dikemas oleh Neuro-Designs.

Keuntungan dari penjualan ini bukanlah untuk kepentingan komersil. Setidaknya ada dua hal yang mendasari produksi kaos Ransel Kecil ini.

Yang pertama, kami ingin bisa mulai memberikan sesuatu kepada kontributor kami. Dengan membeli kaos-kaos ini, keuntungannya akan kami gunakan untuk membelikan kaos lagi kepada setiap kontributor lama dan baru.

Kedua, untuk jangka panjang. Akhir-akhir ini, kami mengalami lonjakan pengunjung yang luar biasa, dengan rata-rata 1.000 – 1.500 pageview unik setiap bulan sejak awal tahun 2011. Server kami sempat kelebihan bandwidth dua kali, yang membuat kami terpaksa menaikkan batasnya. Ke depan, jika memang kebutuhan server Ransel Kecil semakin meningkat, dana yang ada digunakan untuk menopang sebagian pengeluaran bulanan.

Dari dua tujuan kami itu, kami sangat mengharapkan bantuan Anda untuk meningkatkan kualitas blog ini dari masa ke masa, salah satunya adalah dengan membeli kaos ini!

Desain Kaos

Konsep rancangan kaosnya seputar brand dari Ransel Kecil itu sendiri, dengan kutipan perjalanan dari pelaku perjalanan legendaris Paul Theroux di depannya.

Kaos Tampak Depan
Tampak Depan

Kaos Tampak Belakang
Tampak Belakang

Desain kaos lebih jelas (jika ada perbedaan warna, itu karena warna monitor dan cetak berbeda, pada intinya coklat tua):

Desain & Warna

Kaos akan dikirim dalam kemasan seperti ini:

Kemasan Neuro-Designs

Pemesanan

Harga: IDR80.000,- per kaos*

Pemesanan dilakukan dengan mengisi formulir ini. Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Setelah email kami terima, kami akan mengkonfirmasi lagi pesanan Anda jika produksi kaos telah selesai, menginformasikan total biaya yang diperlukan (harga kaos + biaya pengiriman) dan memberitahukan rekening bank yang dituju.

*Belum termasuk biaya pengiriman dari Jakarta. Pengiriman domestik akan dilakukan via TIKI. Pengiriman internasional akan dilakukan via kurir yang disetujui oleh pembeli. Semua jenis pajak dan bea cukai pengiriman internasional dibebankan pada pembeli.

Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau masalah, silakan kirim email ke info@ranselkecil.com.

Terima kasih atas dukungannya!


Cerita Si Pembuat Roti

Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan

Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.

Di hari yang lain secara tidak sengaja saya melewati sebuah toko penjual roti, tidak jauh dari “Chicken Street” jalan yang sangat populer di kalangan turis sebagai tempat membeli cinderamata. Setelah beberapa langkah melewati toko roti itu, saya berhenti sejenak dan kemudian kembali ke toko tersebut untuk mengambil beberapa gambar. Siang itu tepat pukul dua belas siang ketika orang sedang berangkat menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat, sedangkan pembuat roti sedang membuat dan mempersiapkan roti jualannya.

Toko roti kecil itu disebut “Nanwaee”, dari luar terlihat hanya pintu dan jendela kaca yang bertuliskan karakter bahasa Dari dengan cat berwarna merah. Di balik kaca tertata rapih roti pipih berbentuk panjang yang masih panas. Masyarakan lokal menyebut roti ini naan atau lebih tepatnya naan-i-Afghani berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti roti Afghanistan. Naan sangat umum didapatkan di negara-negara di Asia Tengah dan Asia Selatan, hanya saja bentuk dan variasi bahan dan topping yang sedikit berbeda.

Bediri di depan pintu dengan kamera di tangan, tukang roti itu sudah mengenali bahwa saya adalah orang asing yang datang bukan untuk membeli roti. Sambil menggerakan tanggannya dia menyuruh saya masuk “Come in, take picture”. Setelah mengambil beberapa gambar sesuai permintaan mereka, saya dipersilahkan duduk di atas dipan kayu yang sedikit kotor dengan serpihan tepung gandum.

Keempat pembuat roti itu bekerja sama sesuai tugasnya masing masing. Yang duduk di sudut ruangan dengan lengan baju tergulung mengaduk adonan gandum yang dicampur sedikit garam dan ragi. Pembuat roti di depannya memotong, menimbang dan membentuk adonan yang telah siap. Pembuat roti yang duduk di depan tungku api atau tandoor dengan cekatan menempelkan adonan roti panjang dengan bantalan kain ke dalam dinding tandoor yang berupa tungku api terbuat dari tanah liat. Dan yang terakhir duduk dekat jendela kaca bertugas menata roti yang sudah matang untuk siap dijual.

Pembuat roti itu adalah Ahmed, dengan dua tongkat besi, kedua tangannya sangat terampil mencungkil roti-roti yang telah matang berwarna kecoklatan dari tandoor. Sejak umur dua belas tahun, selepas pulang sekolah Ahmed selalu membantu seorang pembuat roti di dekat rumahnya. Pada saat itu Ahmed harus bekerja untuk membantu keluarganya. Selain membawa pulang sepotong roti gratis, Ahmed juga mendapatkan sedikit uang yang diberikan kepada Ibunya. Saat ini Ahmed berumur tiga puluh lima tahun, dengan dibantu tiga temannya Dia mengelola toko rotinya sendiri.

Walaupun hanya mengelola toko roti kecil, hingga kini Ahmed tidak pernah menyesali keputusannya dulu meninggalkan sekolah. Pada masa itu Ahmed kecil hidup di keluarga yang berkekurangan. Orang tuanya bekerja serabutan dan uang yang dihasilkan habis untuk kebutuhan sehari hari. Ditambah lagi mencari pekerjaan sangatlah sulit di tengah perang yang berkelanjutan saat itu.

Sampai akhirnya Ahmed menemukan seorang Mullah yang memiliki usaha toko roti dan membutuhkan pembuat roti. Pengalamannya membuat roti membuat Ahmed diterima bekerja penuh waktu di toko roti milik Mullah. Seiring berjalannya waktu Ahmed membuat toko rotinya sendiri dengan pinjaman modal dari Mullah tempat di mana dia bekerja saat itu.

Dalam sehari Ahmed bisa menjual 1.500 buah roti yang harganya telah ditetapkan pemerintah Afghanistan sebesar 10 Afs per buah. “Biasanya orang selalu datang pada saat jam jam makan pagi siang dan malam untuk membeli roti,” kata Ahmed. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kabul, mereka hanya menyiapkan lauknya di rumah dan membeli roti di toko roti yang menjamur di setiap sudut kota Kabul.

Tak lama seorang gadis kecil bermata hijau dengan pakaian yang lusuh datang ke toko roti Ahmed meminta sepotong roti. Sambil memberikan sepotong roti, Ahmed berkata, “Gadis itu berasal dari keluarga orang miskin seperti saya dulu. Miskin, kaya, polisi, pemerintah, masyarakat biasa bahkan Taliban, semua makan roti ini,” candanya sambil menunjukan naan yang baru diangkat dari tandoor.

  • Disunting oleh SA 23/06/2011

Pasar Burung Ka Firushi

Lelaki Tua Penjual Burung

Lelaki Tua Penjual Burung

Jalan beraspal dua arah itu padat disesaki mobil-mobil tua. rumah rumah toko tiga lantai di sepanjang jalan terlihat kusam bercat pudar tertutup debu. Setiap jengkal tempat kosong di pinggir jalan selalu terisi gerobak pedagang kaki lima yang menjual kebutuhan sehari-hari seolah berlomba mencari nafkah. Belum lagi ditambah ramainya pengunjung yang berlalu lalang menambah kesemerawutan siang itu. Wajah yang berparas asing ini pun tenggelam dalam kesibukan mereka. Tidak ada anak-anak kecil yang membuntuti ke mana saya pergi, tidak ada sorotan mata mengikuti seperti alat perekam gambar, tidak ada ramahnya tegur sapa “Hello, mister”. Saya pun tidak merasa sebagai orang asing ketika mereka tidak peduli dengan keberadaan saya.

Di bawah teriknya matahari dan hembusan angin kencang bercampur debu, dengan cekatan teman saya Qurban Ali membelah keramaian dan hiruk-pikuknya Pasar Kabul sambil sesekali menoleh ke belakang untuk meyakinkan saya tidak tertinggal. Pasar Kabul ini memang termasuk pasar yang besar di kota Kabul, Afghanistan. Hampir semua kebutuhan sehari hari bisa didapati di pasar ini. Uniknya mereka juga mengenal sistem pengelompokan tempat, penempatan toko yang menjual produk yang sama di satu tempat yang mempermudah pengunjung mencari barang tertentu. Ada tempat khusus menjual daging potong, buah dan biji-bijian, tekstil, plastik, karpet, gerabah, alat-alat dapur dan lain lain. Semakin kami masuk jauh ke dalam pasar, kepadatan pengunjung pun semakin berkurang hingga akhirnya kami tiba di tempat khusus menjual burung dan perlengkapannya yang disebut masyarakat lokal Ka Firushi.

Sangkar-Sangkar Burung

Sangkar-Sangkar Burung

Memasuki kawasan pasar burung Ka Firushi yang terletak di belakang Masjid Pul-e Khishti seperti mundur ke kehidupan berpuluh-puluh tahun yang lalu, tidak tersentuh oleh perang dan modernisasi. Lorong-lorong panjang dan sempit beratapkan terpal dan beralaskan tanah dengan bangunan tanah lempung dan struktur kayu yang tak terpelihara di kiri dan kanannya. Sangkar burung yang beraneka ragam besar dan bentuknya tergantung di sepanjang lorong Ka Firushi. Kicauan merdu berbagai jenis burung turut meramaikan perbincangan tawar-menawar antara pembeli dan penjual burung.

Sudut Lain Pasar Burung

Walaupun penjudian tidak dibenarkan pada masa kekuasaan Taliban di Afghanistan, pertaruhan burung dibenarkan pada saat ini dengan alasan adu burung merupakan tradisi yang menyenangkan dan sudah dilakukan secara turun-temurun. Dimulai di musim semi, kegiatan favorit di Kabul ini diadakan setiap hari Jumat di taman-taman kota, dengan nilai taruhan per orang sebesar antara USD20 sampai USD200. Burung yang menang bisa dihargai sampai USD500, tak heran pemilik burung tersebut sangat memelihara dan memanjakan burung pemenangnya.

  • Disunting oleh SA 20/06/2011

Lima Video Keselamatan Maskapai Terunik

Penggemar aviasi pasti tak ketinggalan untuk mengamati hal-hal kecil ketika mereka naik pesawat, termasuk membawa pulang barang-barang yang sifatnya cinderamata/promosi yang ada di pesawat, misalnya majalah, tempat makan, tisu, mainan sampai tiket dan boarding pass.

Bagi saya yang seorang penggemar aviasi dan bekerja sebagai desainer grafis, pernak-pernik manifestasi branding menarik perhatian saya. Menumpang pesawat tidak saja pengalaman fisik. Ia bukan saja tentang memindahkan badan dari satu tempat ke tempat lain yang jauh. Perjalanan dengan pesawat adalah mengalami sebuah pengalaman, menikmati kesan dan impresi yang ditawarkan oleh maskapai tersebut. Menumpang maskapai rendah-biaya (low-cost) memberikan kita pengalaman yang paling dasar, tanpa layanan “ekstra” seperti makanan, hiburan dalam pesawat (in-flight entertainment) dan beberapa komponen lain. Sedangkan ketika kita menumpang maskapai yang layanannya penuh (full-service airline), hampir semua detil diurus, mulai dari ruang tunggu, makanan, pusat informasi sampai layanan plus lainnya. Beberapa maskapai sudi mengantarkan bagasi ke ruang tunggu imigrasi bandara di Amerika karena lamanya proses wawancara, seperti pengalaman saya dengan Cathay Pacific di bandara San Francisco.

Apa saja manifestasi branding maskapai? Banyak sekali. Pengalaman mulai dari kita menunggu di bandara (bahkan sekarang, terminal untuk beberapa maskapai itu dibedakan), proses check-in, kualitas fisik tiket dan boarding pass, saat pemanggilan penumpang, cara memasuki ke pesawat, sampai wangi dan sambutan yang disediakan ketika memasuki kabin… semua menjadi bagian dari branding. Termasuk juga, jika Anda sering memperhatikan, bahan dan warna dari tempat duduk. Pesawat “didandani” sedemikian rupa untuk merefleksikan citra maskapai (brand). Saya juga suka menikmati seragam pramugara dan pramugari, sampai bagaimana mereka menyapa penumpang dan ketika menawarkan sesuatu.

Hal yang lain yang suka saya perhatikan adalah musik yang dimainkan di dalam kabin, interface dari sistem hiburan di kursi, sampai video demonstrasi keselamatan maskapai (in-flight safety demonstration). Semua itu menjadi pembeda pengalamaan antara satu perjalanan dan perjalanan yang lain, dan menjadi cinderamata nirfisik yang menjadi referensi dan inspirasi saya.

Ketika iseng-iseng mencari video keselamatan ini di YouTube, saya berjumpa lagi dengan beberapa video yang pernah saya lihat, dan ternyata ada lagi yang belum saya lihat tapi cukup memukau. Dari banyak video yang saya lihat di YouTube, saya coba kumpulkan lima besar yang cukup unik dan berbeda dari yang lain. Berikut ini adalah daftarnya.

5. Virgin Australia

Grup Virgin memang terkenal dengan nafasnya yang eksentrik dan berjiwa muda. Virgin Australia menampilkan video keselamatan yang mendobrak kebiasaan dengan menggunakan animasi 3 dimensi. Ada beberapa video keselamatan yang menggunakan animasi di luar sana, tetapi yang satu ini tidak membuat saya bosan karena ceritanya mengalir dan informasinya disampaikan dengan jelas.

4. Virgin America

Masih dari Grup Virgin, tetapi versi Amerika. Animasinya tidak 3 dimensi, cukup 2 dimensi, tetapi lebih kasual dan lebih menggelikan dari Virgin Australia sebelumnya. Karakter-karakter yang digunakan juga di luar kebiasaan, mereka malah menggunakan kombinasi hewan dan manusia. Yang paling menggelikan bagi saya adalah adegan antara matador dan bantengnya!

3. Thomson

Susah untuk tidak tersenyum dengan video keselamatan yang satu ini. Thomson adalah maskapai carter dari Inggris. Mereka menampilkan anak kecil yang menggemaskan. Ada maskapai yang kemudian mengikuti gaya ini.

2. Emirates

Setelah semua video menampilkan pramugari dan pilot yang berbicara di depan kamera, menurut saya, Emirates menjadi salah satu contoh menyampaikan pesan keselamatan dan selamat datang yang segar dan modern. Video yang elegan, animasi yang memukau dan pilihan musik latar yang cocok membuat saya tak berhenti mengaguminya.

1. Air New Zealand

Air New Zealand juga sudah beberapa kali menerbitkan video keselamatan yang kualitasnya sinematik, tetapi yang satu ini punya konten yang sungguh-sungguh membuat saya geleng-geleng. Richard Simmons, bintang acara kebugaran dari Amerika, dikontrak untuk menjadi pemeran utama dalam video yang diberi judul “Fit to Fly”, dengan tampilan psychedelic dan eksentrik gaya khas Richard, mengingatkan saya pada acara senam tahun 80-an. Kalau Anda pernah mengikuti serial Amazing Race, Anda pasti kenal Phil Keoghan yang ternyata ada di video ini juga. Bravo Air New Zealand!

Dari semua video yang saya referensikan, terlihat bahwa maskapai tidak perlu mengikuti pakem tradisional atau konvensional untuk menyampaikan pesan. Cara penyampaian dan kemasan yang lebih menarik dan kasual justru akan lebih dipahami, tanpa bermaksud merusak konteks dan pesan penting yang ingin disampaikan.


Mengubek-ubek Museum di Stockholm

Mengunjungi Stockholm dan Swedia sudah menjadi impian saya sejak dulu. Keinginan itu berawal dari beberapa hal naif, yakni kesukaan saya pada IKEA (walau pada akhirnya tidak mengunjungi toko IKEA di Stockholm), lalu keinginan melihat salju (walau pada akhirnya saya salah musim, dan salju belum turun). Alasan yang lebih serius barangkali adalah citra Swedia di mata saya sebagai negara yang aman, damai, maju dan jarang penduduknya: saya berfantasi tentang tempat yang sangat elok dan tenteram, jauh dari hiruk-pikuk Indonesia yang sangat padat penduduknya.

Tak ada alasan yang cukup serius apalagi intelektual. Barangkali.

Saya datang di Stockholm akhir bulan Oktober, di mana suhu sudah mulai menyejuk, tetapi belum bersalju. Langit tidak sebiru musim panas, tetapi masih menyenangkan untuk jalan kaki di luar. Kenapa saya di sini? Jalan-jalan saja. Sebenarnya, tujuan saya adalah untuk menelusuri 50% jalur kereta api di Swedia, yang berujung di Norwegia. Jadi, Stockholm praktis hanya tempat singgah untuk memulainya.

Stockholm yang saya kenal pertama kali itu dua derajat Celcius. Saya turun dari bis di Cityterminalen, setelah hampir 12 jam di dalam bis dari Copenhagen, Denmark, melewati gelap dan dinginnya malam menelusuri semenanjung Swedia. Dalam kelamnya malam, saya menyadari bahwa sebagian besar jalan tol di sana tidak diterangi lampu. Sayup-sayup ketika tertidur saya mendengar supir bis mengumumkan tempat-tempat persinggahan seperti Helsingborg, Jönköping (dibaca “yonkyoping”), Linköping, Norrköping…

Karena sampai di Cityterminalen pukul 6 pagi, kebanyakan toko di sana masih belum buka, kecuali Pressbyrån, sebuah toko serba ada. Tak lama kemudian ada warung kopi yang buka. Saya sempatkan sarapan di situ.

Selanjutnya, saya harus mencari hostel di bilangan Söder Mälarstrand, lokasinya cukup sentral. Söder Mälarstrand adalah jalan di pesisir sebuah distrik yang menghadap langsung ke air, dengan pemandangan distrik Norrmalm, pusat kota Stockholm dan Gamla Stan, kota tua Stockholm yang banyak dikunjungi turis.

Secara geografis, Stockholm sangat menarik. Distrik-distriknya dibatasi oleh garis batas nyata: air. Kota ini adalah kota kepulauan dengan beratus-ratus jembatan dan sistem bawah tanah. Jika musim dingin dan bersalju, maka “sungai-sungai” di sekitar kota akan membeku, putih, seolah menghilangkan batas nyata itu tadi.

Ternyata dari Cityterminalen, saya hanya harus menempuh beberapa stasiun tunnelbana, atau jaringan rel ringan/kereta bawah tanah. Tarifnya terhitung mahal, sekitar 40 krona Swedia, kira-kira Rp53.000. Dari stasiun Mariatorget, saya berjalan kaki ke arah utara berpandukan sebuah peta. Dengan bantuan bertanya pada seorang penduduk, akhirnya saya menemukan hostel saya: Rygerfjord Hotel & Hostel, sebuah hostel yang unik karena tidak menghuni sebuah gedung, tetapi kapal uap tua yang sudah disandarkan. Harganya waktu itu 250 krona (sekitar Rp350.000) setiap malam untuk kelas asrama berisikan 8 orang. Saya suka tempat ini, walau pun bergoyang-goyang ketika malam. Internetnya cepat, suasananya nyaman dan sarapan gratisnya sangat lezat!

Dari awal saya pelajari, Stockholm adalah kota yang penuh dengan museum. Jika Anda suka ke museum seperti saya, maka kota ini seperti surga. Kabarnya ada lebih kurang 100 museum tersebar di seluruh kota. Saya memutuskan membeli Stockholm Card seharga 395 krona (sekitar Rp500.000) yang membebaskan saya membeli tiket masuk museum dan menaiki tunnelbana tanpa batas selama kurun waktu 24 jam dari tanggal diaktifkan. Kartu ini dapat dibeli di beberapa stasiun tunnelbana. Anda bisa juga membeli masa aktif lebih dari 24 jam dengan harga yang berbeda. Menurut saya, cara ini lebih efektif dan murah daripada harus membeli tiket museum dan tunnelbana satu per satu.

Ada beberapa museum yang bisa dikunjungi di pusat kota Stockholm tanpa harus jauh-jauh berkeliling:

Kapal Vasa Hasil Evakuasi
Kapal Vasa hasil evakuasi.

Vasamuseet: Tema utamanya adalah konservasi kapal Vasa, sebuah kapal medieval dari kayu yang tenggelam di perairan kota pada abad ke-16. Kapal ini awalnya dibuat berdasarkan mandat dari Raja Swedia saat itu, Gustavus Adolphus, untuk menegaskan kekuatan maritim kerajaan Swedia kepada negara-negara Laut Baltik (Jerman, Denmark, Norwegia). Ketika itu Swedia sedang berperang dengan Polandia, dan tidak ingin kalah pamor dengan Denmark yang mendominasi perairan. Sayang, karena kesalahan teknis, kapal ini tenggelam bahkan sebelum unjuk gigi kepada dunia luar. Museum ini memiliki kapal asli hasil evakuasi berukuran sebenarnya, di mana di sekelilingnya kita bisa mempelajari benda-benda yang sempat dibawa, tengkorak-tengkorak dan rekonstruksi wajah para awak kapal, analisa cat dan dekorasi visual kapal (sampai analisa semiotikanya!), selain dokumentasi proses evakuasi itu sendiri. Menyenangkan! Menyegarkan!

Rekonstruksi Wajah Awak Kapal Vasa
Rekonstruksi wajah awak kapal Vasa.

Analisa Warna dan Bubuk Warna Kapal Vasa
Analisa warna kapal Vasa. Warna yang ada sudah pudar.

Korban Kapal Vasa
Tengkorak hasil evakuasi korban.

Moderna Museet: Jika Anda penggemar pop art dan seni kontemporer, maka koleksi di museum ini dijamin membuat Anda bahagia. Ada koleksi Andy Warhol di dalamnya, termasuk film-filmnya dari tahun 1960. Beberapa karya Picasso, Salvador Dali dan Rauschenberg juga bagian dari pameran permanennya.

Nationalmuseet: Museum kecil yang cukup tua, tetapi tetap layak dikunjungi. Isinya adalah karya-karya seni seperti Rembrandt dan Renoir, atau beberapa seniman Swedia seperti Carl Larsson dan Ernst Josephson.

Nobelmuseet: Alfred Bernhard Nobel adalah ilmuwan kebangsaan Swedia, beliau mendedikasikan kekayaan warisan dari bisnis dinamitnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, seperti banyak dari kita tahu. Nah, museum ini mendokumentasikan sejarah, konsep dan penerima Hadiah Nobel secara lengkap. Gedungnya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung beberapa eksibisi dan ruang untuk pameran sementara.

Naturhistoriska Riskmuseet: Namanya gampang diterjemahkan: Museum Sejarah Alam (Natural History Museum). Anak-anak akan suka museum ini karena mereka bisa belajar tentang dinosaurus, fitur geografis seperti samudera, hutan, ekosistem, habitat dan flora-fauna yang menghuni bumi kita. Di sini juga terdapat Cosmonova, teater IMAX yang menyajikan film-film bertema alam dan sejarahnya seperti dinosaurus dan antartika.

Globe Arena SkyView: Mungkin ini bukan museum, tetapi karena saya tertarik dengan iming-iming bisa melihat kota Stockholm dari ketinggian 130m, dan karena Stockholm Card menggratiskan biaya masuk, saya akhirnya mengunjungi bangunan yang berbentuk kubah ini. Di sini, kita bisa menaiki sebuah “bola” atau “kapsul” yang akan naik ke puncak kubah, tidak melalui sumbu tengah tetapi justru dari bagian luarnya. Romantis!

Nordiskamuseet: Museum yang temanya sejarah kebudayaan Swedia ini sangat, sangat menarik. Tidak lupa juga, tempatnya sangat besar dan masih bergaya abad pertengahan dengan langit-langit yang tinggi dan lantai ubin. Di sini, kita akan diberikan perangkat audio tour untuk menemani kunjungan. Anda dapat mempelajari kehidupan masyarakat Swedia mulai dari zaman prasejarah sampai zaman modern dilihat dari berbagai manifestasi kebudayaannya seperti busana, tempat tinggal, perabot, tekstil dan karya intelektual lainnya. Disajikan juga beberapa diorama berskala 1:1 tentang suasana ramah-tamah ketika jamuan musim panas, tata cara makan sampai suasana kamar beberapa tokoh penting. Tidak lupa juga mereka mendedikasikan satu ruang untuk suku asli Skandinavia, yakni Saami.

Skansen: Ini adalah museum terbuka, layaknya Taman Mini Indonesia Indah. Di sini, pengunjung dapat mempelajari tentang kehidupan rakyat Swedia dalam sebuah perkampungan buatan. Anak-anak juga akan menyukai kebun binatang yang ada di dalamnya.

Kaki terasa hampir mau putus ketika hari sudah hampir berakhir karena terlalu banyak berjalan kaki. Apa daya, saya berusaha memaksimalkan Stockholm Card saya, daripada harus ikut tur yang belum tentu saya suka. Ketika Anda lelah, jangan lupa untuk berkunjung ke salah satu kafe yang biasanya menempel di museum, dengan seleksi makanan gourmet yang menggugah selera, walau tidak selalu murah. Ingin makanan murah? Jalan saja sebentar ke tempat umum dan biasanya Anda akan menemukan gerai kebab yang seporsinya hanya sekitar 40 – 70 krona Swedia (Rp50.000 – Rp80.000). Oh ya, harga makanan memang relatif mahal di sini dibandingkan negara Eropa lain.

Sepertinya masih ada 94 museum lagi yang belum saya kunjungi. Mungkin lain kali!

  • Disunting oleh ARW 6/6/2011

© 2017 Ransel Kecil