Bulan: June 2011 (halaman 1 dari 2)

Berlin, Sebuah Dialog dengan Dua Masa

Berlin Hauptbahnhof
Hari masih pagi ketika saya menjejakkan kaki di Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin, ibukota Jerman. Bayangan saya pada stasiun kereta api tua berarsitektur Baroque atau Roman sirna, karena stasiun ini berstruktur modern dengan kaca dan besi berpadu jadi satu, mempersilakan sinar matahari masuk dengan bebasnya sehingga tidak diperlukan banyak penerangan. Tetap cantik.
Saya sempat termenung sebentar di peron, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Barangkali mereka akan bertemu dengan keluarganya di kota lain. Ada anak kecil yang berlarian, lalu kembali ke orang tuanya, menunggu kereta ke ujung Berlin. Apapun tujuan mereka, peron kereta ini menjadi persinggahan.
Wilayah Berlin sangat masif ukurannya. Sebagai perbandingan, daerah khusus ibukota Jakarta bahkan hanya 80% dari total luas wilayah Berlin. Untungnya, kota ini dihubungkan oleh sistem transportasi massal yang memadai, terutama sistem rel dan bis.
Senefelderplatz di utara distrik (bezirke) Mitte adalah stasiun tujuan saya.
Secangkir Susu dan Setangkap Roti Isi
Transit di Alexanderplatz, saya minum segelas susu hangat dan makan siang roti isi. Tidak lebih dari €5. “Warung” ini mungil, dengan kursi tinggi tanpa sandaran, meja kecil kota terselimuti taplak kotak-kotak hijau dan putih. Semua pesanan dilakukan di etalase, pembayaran di kasir dan makanan akan diantarkan. Saya duduk di dekat jendela. Matahari sangat bersahabat. Beberapa orang duduk di luar. Tram yang turun di samping stasiun menurunkan anak muda, bapak yang menggendong anak, pasangan renta yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Ada yang berjaket, blazer dan berjas. Ada anak yang kemudian lapar, dan meminta ayahnya singgah ke tempat saya singgah.
U-Bahn
Alexanderplatz berfungsi sebagai pemadu moda transportasi yang mengakomodasi dua jenis moda, yakni S-Bahn/U-Bahn (kereta api dalam kota, S dan U mengisyaratkan jenis kereta, di atas jalan/strasse atau di bawah tanah/unter) dan tram. Di sini juga terdapat banyak toko dan atraksi, letaknya juga di pusat kota.
Sistem S/U-Bahn di Berlin menggunakan tarif berdasarkan zona. Kota dibagi menjadi tiga zona, dan zona yang paling murah bertarif €2.30. Anda membeli tiket di sebuah mesin, dengan memilih zona/stasiun yang ingin dituju. Jangan lupa, di Berlin, anda harus melakukan validasi tiket dengan mesin kecil. Ingat kondektur kereta yang membolongkan tiket? Sama seperti itu, hanya ini dilakukan di sebuah mesin. Tiket ini berlaku dua jam setelah divalidasi, hanya berlaku di zona yang sama dan tidak boleh pulang pergi di jalur yang sama. Walaupun saya sudah mampir Alexanderplatz, saya tidak perlu beli tiket lagi karena masih dalam batas dua jam.
Saya lihat U-Bahn menggunakan gerbong yang agak klasik, rasanya seperti masih di Berlin dekade 80-an. Terlihat grafiti/vandalisme di stasiun, badan dan interior gerbong. Stensil bergambarkan Bradenburg Gate melapisi kaca, seolah mengkonfirmasikan memang saya ada di Berlin.
Senefelderplatz ada di Mitte. Mitte adalah distrik yang cukup sentral dan trendi, menyimpan hampir semua atraksi Berlin yang dipromosikan oleh agen perjalanan: Bradenburg Gate, Berliner Dom, gedung Reichstag, Weltzeituhr, Deutsche Guggenheim, Fernsehturm/TV Tower (menara televisi “asparagus”), dan masih banyak lagi. Beberapa titik lokasi bersejarah ketika Berlin dipisahkan oleh sebuah tembok juga ada di distrik ini.
Bradenburg Gate
Tidak sulit untuk berkelling Mitte dan menikmati hampir seluruh atraksi utama Berlin dalam sehari dengan berjalan kaki. Neue Synagogue dapat diraih dalam sekitar 15 menit, tempat ibadah kaum Yahudi yang dibangun pada abad ke-18, berarsitektur Moor (ingat Alhambra). Bradenburg Gate dapat diraih dalam 15 menit dari Neue Synagogue. Gerbang ini dibangun sebagai pintu masuk untuk pusat pemerintahan kerajaan Prussia. Dahulu, lokasi ini adalah bagian dari benteng berparit. Sekarang, ia menjadi monumen kebanggaan bangsa Jerman dan bangsa Eropa, namun fungsinya hampir sudah tidak ada. Sekilas saya lihat di koin Euro produksi Jerman, maka terdapat Bradenburg Gate di sana. Berjalan masuk ke gerbang ini, Anda akan sampai di Unter den Linden, sebuah bulevar panjang yang menghubungkan pejalan kaki ke Friedrichstrasse (distrik belanja utama) dan Checkpoint Charlie, salah satu checkpoint perbatasan yang penting dalam sejarah Berlin Barat dan Timur.
Menurut saya, yang paling menarik dari Berlin adalah sejarah politiknya. Setelah perang dunia II, ada perjanjian empat pihak antara sekutu (Amerika, Perancis dan Inggris) dan Uni Soviet yang mengatakan bahwa Jerman akan dikelola oleh empat negara tersebut, di mana wilayahnya dibagi menjadi sektor Amerika, sektor Perancis, sektor Inggris dan sektor Uni Soviet. Bagian Jerman yang sekarang masuk ke wilayah Polandia dinyatakan sudah merdeka. Berlin, sebagai ibukota de facto, juga mengikuti pembagian pemerintahan ini, dengan empat sektor juga. Sektor sekutu di bagian barat, dan sektor Uni Soviet di bagian timur. Pemerintahan bersama ini bersifat sementara, dan Jerman direncanakan akan menjadi satu dan independen pada akhirnya. Namun, karena terjadi ketegangan lanjutan antara sekutu dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin, Berlin, pada akhirnya, terbelah dua dan Uni Soviet membangun tembok Berlin yang memisahkan kota tersebut. Negara Jerman pun terbelah dua, menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur.
Checkpoint Charlie
Situasi yang lebih menarik lagi adalah seluruh Berlin terletak di wilayah Jerman Timur. Otomatis, wilayah Berlin Barat adalah sebuah exclave, wilayah yang terkurung di negara Jerman Timur, tetapi menjadi bagian terpisah dari negara Jerman Barat. Secara hukum ada beberapa perbedaan yang meregulasi hak/kewajiban dan status warga Berlin Barat yang membedakan mereka dengan warga negara Jerman Barat, tetapi pada dasarnya mereka adalah warga negara Jerman Barat. Keadaan ini berlangsung hampir tiga dekade sampai tembok Berlin diruntuhkan mendekati dekade 90-an. Kompleks, memang.
Peninggalan tembok Berlin ini masih terlihat di Berlin modern, namun banyak yang sudah tidak utuh. Beberapa papan pengumuman/penanda perbatasan pun masih ada, bertuliskan, “You are now leaving the American sector!”. Bagian yang sudah diruntuhkan ditandari dengan segaris perunggu yang ditanamkan di atas trotoar, bertuliskan: “BERLINER MAUER 1961–1989”. “Mauer” artinya tembok.
Bagian Tembok Berlin
Tembok Berlin menjadi saksi bagaimana beberapa orang melarikan diri dan merenggut nyawanya sendiri. Banyak dari mereka yang tewas ditembak karena mencoba melarikan diri dari Berlin Timur ke Berlin Barat. Namun, tidak semuanya gagal. Ada prajurit Uni Soviet yang bernama Conrad Schumann yang berani melompat dari Jerman Timur ke Jerman Barat saat tembok masih dibangun, dan pembatasan masih sebatas kawat berduri. Conrad selamat dan dapat menyaksikan Tembok Berlin runtuh tahun 1989. Ia wafat pada tahun 1998. Seorang jurnalis mengambil fotonya ketika dia melompat dan foto tersebut menjadi ikon Perang Dingin.
Melihat Berlin sekarang, semuanya berubah. Ia sudah menjadi kota modern, berukuran masif dan makmur. Ia menjadi pusat pemerintahan Jerman, di mana anggota legislatif bertemu di sini untuk menentukan arah negara.
Saya kagum melihat gedung Reichstag, gedung parlemennya. Pengunjung bisa menyaksikan bagian dalam gedung ini, gratis. Pemerintah memutuskan untuk “membuka” ruang publik di sekitar parlemennya, di mana pengunjung bebas berjalan kaki melihat kantor pegawai negeri sipil, tempat kongres dan gedung Reichstag yang tua yang dilengkapi dengan hamparan lapangan hijau luas. Di tengah-tengah pusat pemerintahan ini terdapat sungai, yang kabarnya, pernah menjadi saksi pertumpahan darah mereka yang melarikan diri dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Saya bergidik, tapi biarkanlah itu jadi saksi sejarah dan pengingat bagi masyarakat Jerman akan masa lalu mereka.

Kaos Ransel Kecil

Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Pemutakhiran 1 Juli 2011: 27 kaos gelombang 1 sudah dikirim hari ini.

Bagaimana rasanya jika bepergian dengan kaos Ransel Kecil?
Bekerjasama dengan Neuro-Designs, kami akan memproduksi kaos Ransel Kecil. Kaos-kaos ini dibuat dari bahan cotton combed 24S dan dikemas oleh Neuro-Designs.
Keuntungan dari penjualan ini bukanlah untuk kepentingan komersil. Setidaknya ada dua hal yang mendasari produksi kaos Ransel Kecil ini.
Yang pertama, kami ingin bisa mulai memberikan sesuatu kepada kontributor kami. Dengan membeli kaos-kaos ini, keuntungannya akan kami gunakan untuk membelikan kaos lagi kepada setiap kontributor lama dan baru.
Kedua, untuk jangka panjang. Akhir-akhir ini, kami mengalami lonjakan pengunjung yang luar biasa, dengan rata-rata 1.000 – 1.500 pageview unik setiap bulan sejak awal tahun 2011. Server kami sempat kelebihan bandwidth dua kali, yang membuat kami terpaksa menaikkan batasnya. Ke depan, jika memang kebutuhan server Ransel Kecil semakin meningkat, dana yang ada digunakan untuk menopang sebagian pengeluaran bulanan.
Dari dua tujuan kami itu, kami sangat mengharapkan bantuan Anda untuk meningkatkan kualitas blog ini dari masa ke masa, salah satunya adalah dengan membeli kaos ini!

Desain Kaos

Konsep rancangan kaosnya seputar brand dari Ransel Kecil itu sendiri, dengan kutipan perjalanan dari pelaku perjalanan legendaris Paul Theroux di depannya.
Kaos Tampak Depan
Tampak Depan
Kaos Tampak Belakang
Tampak Belakang
Desain kaos lebih jelas (jika ada perbedaan warna, itu karena warna monitor dan cetak berbeda, pada intinya coklat tua):
Desain & Warna
Kaos akan dikirim dalam kemasan seperti ini:
Kemasan Neuro-Designs

Pemesanan

Harga: IDR80.000,- per kaos*

Pemesanan dilakukan dengan mengisi formulir ini. Pemutakhiran 4 Juli 2011: Pemesanan kaos sudah ditutup. Jika Anda ingin memesan kaos, tunggu pengumuman kami selanjutnya. Terima kasih!

Setelah email kami terima, kami akan mengkonfirmasi lagi pesanan Anda jika produksi kaos telah selesai, menginformasikan total biaya yang diperlukan (harga kaos + biaya pengiriman) dan memberitahukan rekening bank yang dituju.
*Belum termasuk biaya pengiriman dari Jakarta. Pengiriman domestik akan dilakukan via TIKI. Pengiriman internasional akan dilakukan via kurir yang disetujui oleh pembeli. Semua jenis pajak dan bea cukai pengiriman internasional dibebankan pada pembeli.
Jika ada pertanyaan lebih lanjut atau masalah, silakan kirim email ke info@ranselkecil.com.
Terima kasih atas dukungannya!

Cerita Si Pembuat Roti

Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan
Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.
Di hari yang lain secara tidak sengaja saya melewati sebuah toko penjual roti, tidak jauh dari “Chicken Street” jalan yang sangat populer di kalangan turis sebagai tempat membeli cinderamata. Setelah beberapa langkah melewati toko roti itu, saya berhenti sejenak dan kemudian kembali ke toko tersebut untuk mengambil beberapa gambar. Siang itu tepat pukul dua belas siang ketika orang sedang berangkat menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat, sedangkan pembuat roti sedang membuat dan mempersiapkan roti jualannya.
Toko roti kecil itu disebut “Nanwaee”, dari luar terlihat hanya pintu dan jendela kaca yang bertuliskan karakter bahasa Dari dengan cat berwarna merah. Di balik kaca tertata rapih roti pipih berbentuk panjang yang masih panas. Masyarakan lokal menyebut roti ini naan atau lebih tepatnya naan-i-Afghani berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti roti Afghanistan. Naan sangat umum didapatkan di negara-negara di Asia Tengah dan Asia Selatan, hanya saja bentuk dan variasi bahan dan topping yang sedikit berbeda.
Bediri di depan pintu dengan kamera di tangan, tukang roti itu sudah mengenali bahwa saya adalah orang asing yang datang bukan untuk membeli roti. Sambil menggerakan tanggannya dia menyuruh saya masuk “Come in, take picture”. Setelah mengambil beberapa gambar sesuai permintaan mereka, saya dipersilahkan duduk di atas dipan kayu yang sedikit kotor dengan serpihan tepung gandum.
Keempat pembuat roti itu bekerja sama sesuai tugasnya masing masing. Yang duduk di sudut ruangan dengan lengan baju tergulung mengaduk adonan gandum yang dicampur sedikit garam dan ragi. Pembuat roti di depannya memotong, menimbang dan membentuk adonan yang telah siap. Pembuat roti yang duduk di depan tungku api atau tandoor dengan cekatan menempelkan adonan roti panjang dengan bantalan kain ke dalam dinding tandoor yang berupa tungku api terbuat dari tanah liat. Dan yang terakhir duduk dekat jendela kaca bertugas menata roti yang sudah matang untuk siap dijual.
Pembuat roti itu adalah Ahmed, dengan dua tongkat besi, kedua tangannya sangat terampil mencungkil roti-roti yang telah matang berwarna kecoklatan dari tandoor. Sejak umur dua belas tahun, selepas pulang sekolah Ahmed selalu membantu seorang pembuat roti di dekat rumahnya. Pada saat itu Ahmed harus bekerja untuk membantu keluarganya. Selain membawa pulang sepotong roti gratis, Ahmed juga mendapatkan sedikit uang yang diberikan kepada Ibunya. Saat ini Ahmed berumur tiga puluh lima tahun, dengan dibantu tiga temannya Dia mengelola toko rotinya sendiri.
Walaupun hanya mengelola toko roti kecil, hingga kini Ahmed tidak pernah menyesali keputusannya dulu meninggalkan sekolah. Pada masa itu Ahmed kecil hidup di keluarga yang berkekurangan. Orang tuanya bekerja serabutan dan uang yang dihasilkan habis untuk kebutuhan sehari hari. Ditambah lagi mencari pekerjaan sangatlah sulit di tengah perang yang berkelanjutan saat itu.
Sampai akhirnya Ahmed menemukan seorang Mullah yang memiliki usaha toko roti dan membutuhkan pembuat roti. Pengalamannya membuat roti membuat Ahmed diterima bekerja penuh waktu di toko roti milik Mullah. Seiring berjalannya waktu Ahmed membuat toko rotinya sendiri dengan pinjaman modal dari Mullah tempat di mana dia bekerja saat itu.
Dalam sehari Ahmed bisa menjual 1.500 buah roti yang harganya telah ditetapkan pemerintah Afghanistan sebesar 10 Afs per buah. “Biasanya orang selalu datang pada saat jam jam makan pagi siang dan malam untuk membeli roti,” kata Ahmed. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kabul, mereka hanya menyiapkan lauknya di rumah dan membeli roti di toko roti yang menjamur di setiap sudut kota Kabul.
Tak lama seorang gadis kecil bermata hijau dengan pakaian yang lusuh datang ke toko roti Ahmed meminta sepotong roti. Sambil memberikan sepotong roti, Ahmed berkata, “Gadis itu berasal dari keluarga orang miskin seperti saya dulu. Miskin, kaya, polisi, pemerintah, masyarakat biasa bahkan Taliban, semua makan roti ini,” candanya sambil menunjukan naan yang baru diangkat dari tandoor.

  • Disunting oleh SA 23/06/2011
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil