Artikel-artikel dari bulan Mei 2011

Ransel Kecil di Majalah Her World Indonesia

Ransel Kecil masuk majalah! Terima kasih untuk Kenny Santana atas rekomendasinya di majalah Her World Indonesia edisi Mei 2011. Klik pada gambar untuk memperbesar.


Tips Menulis Catatan Perjalanan dari Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo

Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi.

“Kunci sebuah perjalanan adalah refleksi,” kata Agustinus, di sela-sela sesi berbagi dengan komunitas National Geographic pada hari Sabtu, 14 Mei lalu.

Agustinus, yang muncul dengan pakaian tradisional Afghanistan shalwar
qamiz
berwarna putih, dengan lancar membagi cerita seputar perjalanannya di Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sebagian besar ceritanya memang sudah dimuat di buku-bukunya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, tapi lebih istimewa memang ketika mendengar langsung pengalaman tukang jalan yang satu ini. Ada beberapa hal tentang proses pembuatan buku yang tidak termuat di mana pun. Misalnya, cerita bahwa buku pertamanya, “Selimut Debu” diselesaikan tanpa sempat bertemu dengan editornya, Hetih Rusli. Buku keduanya, “Garis Batas” dibuat dalam waktu dua tahun dan melalui empat kali penulisan ulang. Naskah pertama “Garis Batas” panjangnya
mencapai 600 halaman. Menurut Hetih, jumlah tersebut terlalu panjang dan perlu peringkasan supaya pembeli mau membaca. Mau tidak mau, beberapa detail terpaksa dibuang untuk menjaga fokus buku.

Agustinus juga dengan rendah hati berbagi tips mengenai caranya menulis sepanjang perjalanan. Menurut pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 29 tahun lalu ini, sebuah catatan perjalanan haruslah sesuatu yang personal dan jujur.

“Buku saya adalah kumpulan potret dan pengalaman supaya pembaca mendapat the bigger picture dari tempat yang saya kunjungi,” ujar Agustinus. Fotografer ini menolak membawa laptop saat dalam perjalanan, tapi ia selalu berbekal kamera, kamera video, perekam suara dan buku harian ke mana pun ia pergi.

“Setiap hari saya menulis, bisa sampai lima dan enam halaman,” katanya. “Kadang, seharian saya sibuk motret dan tidak menulis, jadi tergantung kondisi juga.”

Kamera dan perekam suara adalah senjata Agustinus untuk memecah kebekuan dengan orang yang baru dia kenal. Biasanya, dia memotret orang lokal atau merekam suara mereka untuk diperlihatkan kembali, dan umumnya semua senang difoto atau direkam suaranya. Agustinus, yang lancar berbagai bahasa yang berlaku di Asia Tengah, mulai dari Pashto, Farsi hingga Urdu, mengatakan bahwa orang-orang di Afghanistan, misalnya, kebanyakan tulus dan tanpa kepura-puraan.

Sebuah catatan perjalanan yang baik menurut Agustinus adalah tulisan yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca. Agar bisa mencapai hasil seperti ini, seorang pejalan harus bisa belajar menertawakan kesedihannya. Agustinus mengambil contoh ketika ia mengalami kesialan di perjalanan, seperti kamera hilang atau ditipu orang. Ia menceritakan bagaimana ia terus memacu dirinya untuk terus berjalan walaupun hampir patah semangat.

Travel writing tidak boleh egosentris, ini semua bukan tentang si penulis, walaupun karakter penulis harus ada di dalamnya,” kata Agustinus.

Proses menulis adalah cermin dari proses perjalanan itu sendiri. Ketika di Afghanistan, Agustinus yang menganut agama Buddha sempat mengalami kejadian tidak enak, dimana alat makan yang dia pakai sebelumnya harus dibuang oleh penduduk setempat karena ia seorang bukan beragama Islam.

“Saya luruhkan ego saya dan mencoba berpikir dengan cara pandang mereka,” kata Agustinus.

Sebuah perspektif pejalan akan terbentuk ketika terjadi komunikasi dengan orang yang berbeda. Dengan cara inilah, Agustinus berusaha menceritakan Afghanistan di buku pertamanya, “Selimut Debu”.

“Saya menceritakan Afghanistan melalui pandangan berbeda dari berbagai orang, bukan lewat kuesioner atau semacamnya,” katanya. “Dari sini, saya harap pembaca bisa menggambarkan Afghan yang lain dari yang mereka lihat di televisi.”

Ketika menulis “Garis Batas”, Agustinus merasa perlu memberi sebuah benang merah dari sejumlah catatan perjalanannya. Melalui refleksi pulalah, ia memberi judul “Garis Batas”.

“Saya melihat bagaimana negara-negara ini hanyalah bidak dalam percaturan politik negara tetangga,” kata Agustinus. Sebagai negara eks Uni Soviet, identitas mereka tercabut ketika pemerintahan komunis berkuasa. Sekarang, ketika mereka merdeka, bangsa-bangsa ini merasa bingung dengan identitas aslinya yang sudah sekian lama terambil. Mereka dengan bangga menyebut dirinya orang Muslim, meski tidak tahu apa kalimat syahadat, bacaan shalat dan puasa Ramadan. Yang penting adalah identitas.

“Saya melihat bagaimana garis batas menentukan nasib hidup seseorang,” kata Agustinus. “Di Afghanistan, banyak uang tapi tidak ada fasilitas apa-apa, di Tajikistan, semuanya teratur tapi nyaris 95% penduduknya menganggur.”

Agustinus melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas suku terpecah karena adanya garis batas seusai runtuhnya negara Uni Soviet. Sebuah keluarga bisa mengucap bahasa yang berbeda, mata uang berbeda dan bahkan pahlawan yang beda. Ia juga mengkritisi bagaimana garis batas menciptakan kebanggaan semu bagi orang-orang yang terkotak-kotakkan di dalamnya, terkungkung dalam sebuah konsep bernama negara.

“Saya melihat bahwa tidak semua negara memimpikan kemerdekaan dan demokrasi,” katanya.

Buku-buku Agustinus ditulis dalam bentuk narasi. Selama penulisan dan pengeditan buku berlangsung, selama itulah riset untuk verifikasi data dilakukan. Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukan Agustinus adalah sebuah napak tilas sejarah yang berlangsung sejak dulu kala, mulai dari masa peperangan Gengis Khan hingga terbentuknya pemerintahan Taliban, yang merupakan hasil rekayasa pemerintahan Pakistan dan Amerika Serikat.

Seusai penulisan buku keduanya, “Garis Batas”, Agustinus merasa ia mencapai titik ia menganggap dirinya sebagai penduduk dunia. Tak lagi penting agama yang ia anut dan status kependudukannya, selain untuk masalah formalitas belaka.

“Sekarang, buat saya rumah bukan lagi sebuah konsep geografis,” katanya. “Bukan juga kampung halaman, tapi tempat orang akan menyambut saya.”

Karena itu, Agustinus merasa dirinya kaya karena punya berbagai tempat yang bisa dipanggil rumah di mana-mana.

Kebetulan editor Agustinus, Hetih, duduk di sebelah saya sepanjang diskusi sesi pertama, sebelum akhirnya naik panggung untuk ikut berbagi cerita. Menurut Hetih, sudah ada rencana untuk menerbitkan buku-buku Agustinus ke dalam bahasa asing, tapi ia harus bersaing dengan penulis-penulis dari luar negeri pula. Untuk itu, Agustinus berencana kembali ke Indonesia pada akhir tahun untuk menghadiri Ubud
Writer Festival 2011.

Satu lagi hal penting dalam menulis catatan perjalanan adalah lamanya tinggal di suatu tempat.

“Kita harus menghindari kesan pertama,” katanya. “Sebuah perjalanan tidak boleh singkat, karena kita harus bisa mengangkat selubung impresi tersebut.”

Mendengar perkataan Agustinus tersebut, saya berkesimpulan bahwa ini bukan saja persoalan cara menulis, tetapi juga bekal dalam menjalani hidup.

  • Disunting oleh SA 25/05/2011

Jalur Kereta Api Bergen-Oslo

Pesisir Kota Bergen, Norwegia
Pesisir kota Bergen

Tulisan ini adalah sambungan dari catatan perjalanan sebelumnya menelusuri pesisir Norwegia. Perjalanan terakhir berujung di Bergen, sebuah kota romantis (saya mengatakannya romantis, karena kota ini hampir selalu hujan dan bernuansa sendu pada waktu itu, musim gugur 2010) yang berbukit-bukit di sebelah barat Norwegia.

Bergen adalah kota yang cantik, terletak di pinggiran fjord. Ia merupakan kota kedua terbesar di negara kaya sumber daya alam ini, dan merupakan salah satu tujuan turis yang paling ramai, terutama karena daerah selatan Norwegia memiliki banyak fjord yang padat dikunjungi wisatawan. Sebut saja antara Oslo dan Bergen, beberapa yang terkenal antara lain Sognefjord, fjord yang terbesar dan terpanjang di Norwegia dan kedua terpanjang di dunia. Sepanjang Sognefjord, ada beberapa cabang fjord lain yang tak kalah cantik, yaitu Nærøyfjord, Lærdalfjord, Ardalsfjord dan Lustrafjord. Selain itu, di antara Bergen dan Oslo terdapat beberapa tujuan pariwisata seperti Gudvangen, Flåm (dengan Flåm Railway-nya yang terkenal), Myrdal, dan Voss. Baik ketika musim panas maupun musim dingin, jalur kereta api Bergen – Oslo selalu ramai. Kalau di Indonesia, barangkali ini mirip dengan jalur Jakarta – Surabaya.

Stasiun Kereta Api di Bergen
Stasiun Kereta Api di Bergen

Kabarnya, jalur kereta api Bergen – Oslo adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya setuju.

Perjalanan dimulai pagi hari sekali di stasiun Bergen yang cukup sederhana. Stasiun ini hanya memiliki empat jalur peron (platform). Kereta hari itu dijadwalkan berangkat pukul tujuh pagi. Menurut rencana, kereta akan sampai di Oslo tujuh jam kemudian.

Gerbong kereta yang saya naiki sangat modern, barangkali salah satu yang paling modern di Skandinavia selama perjalanan saya di Denmark, Swedia & Norwegia. Interior bernada warna hijau toska dan coklat muda menyambut ketika pintu otomatis saya buka. Ternyata, di sini, untuk memasuki gerbong tidak harus mendorong pintu sekuat-kuatnya atau meminta bantuan petugas. Cukup tekan tombol lingkaran yang cukup besar, pintu terbuka dengan sistem hidraulik yang mengesankan. Jarak antara platform dan gerbong terlalu tinggi? Jangan khawatir, selain pintu membuka, sandaran kaki pun turun untuk membantu penumpang menaiki gerbong. Serasa seperti masuk ke pesawat luar angkasa.

Saya sempatkan berkeliling dari gerbong ke gerbong. Ternyata ada fitur lain yang mengesankan dari kereta api ini. Setiap gerbong dilengkapi display elektronik yang menyajikan informasi tujuan dan stasiun. Di bagian pintu masuk, terdapat tempat sampah, dan kompartemen penyimpanan barang besar seperti koper. Mereka yang punya koper besar tak perlu bersusah payah mengangkatnya ke kompartemen di atas tempat duduk. Jalan sedikit lagi, kita sampai di family car. Bukan, bukan mobil keluarga. “Car” di sini artinya gerbong. Gerbong keluarga ini dirancang khusus untuk penumpang yang membawa keluarga muda, dalam hal ini ayah, ibu dan anak-anak. Di sini, ada ruang bermain anak, sebuah meja di tengah yang dikelilingi tempat duduk sofa nan nyaman, lalu ada televisi di atasnya. Anak-anak bisa bermain puzzle atau robot-robotan, sementara orang tuanya menonton televisi, mungkin sambil menikmati makanan ringan.

Tak lama setelah itu, kereta bertolak. Pada setengah jam pertama, kereta masih berusaha keluar dari kota Bergen. Hari itu tidak hujan, syukurlah (sudah dari kemarin hujan dan suhu menjadi lebih dingin). Pemandangan di luar sangat menarik. Pertama, Bergen memang kota yang “bertengger” di fjord, sehingga kontur tanahnya sangat dinamis. Kereta bisa melintas di atas bukit, lalu masuk ke dalam terowongan. Di kejauhan, permainan latar depan dan belakang membuat saya berimajinasi saya sedang berada di rangkaian model kereta api. Tak lama kemudian, lanskap yang tadinya hijau, berubah menjadi sebaran putih karena salju mulai turun. Saya sempat bertanya, kenapa salju turun di musim gugur? Ah, belakangan saya sadari, kami mulai menanjak. Kabarnya, ini adalah jalur kereta api dengan level permukaan paling tinggi di dunia, sekitar 1.222m di atas permukaan laut!

Lanskap Tertutup Salju di antara Bergen dan Oslo
Lanskap seketika tertutup salju ketika mendaki ke elevasi tinggi

Masih juga belum selesai terpana, saya sudah disuguhi lanskap yang lebat tertutup salju. Wow! Salju tebal, dengan hujan salju. Ini spektakuler dan tak biasa bagi mata saya. Saya sibuk dengan kamera karena takut sekali kehilangan momen. Karena mengambil foto sulit, saya aktifkan saja mode videonya agar seluruhnya tertangkap.

Kereta sesekali masuk terowongan. Fakta menarik lain: ada 182 terowongan selama perjalanan dari Bergen ke Oslo. Tentu saja, saya tak sempat menghitung.

Jika Anda punya waktu, ketika kereta berhenti di stasiun Myrdal, turun dan naikilah The Flåm Railway ke sebuah kota kecil di pinggiran Aurlandfjord, Flåm. The Flåm Railway adalah jalur kereta api yang melalui tebing terjal, kabarnya melalui pemandangan yang sangat elok, satu jam lamanya dan beroperasi baik ketika musim panas ataupun musim dingin.

Ada beberapa kegiatan penting yang bisa dilakukan di antara Bergen dan Oslo, antara lain wisata alam ke Hardangervidda National Park antara stasiun Gol dan Gelio, wisata alam di Hallingskarvet di Finse, stasiun dengan elevasi tertinggi di jalur ini, lalu tentu saja Flåm, dan Voss untuk olahraga musim dingin seperti ski dan sledding (Tahukah Anda, kalau kata “ski” itu adalah istilah dari bahasa Norwegia?).

Danau di Pinggir Rel Kereta Api Bergen-Oslo
Salah satu pemandangan elok selama perjalanan

Kalau pun Anda tak berhenti, memang benar, sepanjang perjalanan pandangan kita dimanjakan dengan alunan geografis yang silih berganti, mulai dari tatanan fjord di Bergen, mendaki dataran tinggi yang mulai ditutup salju, melewati gunung putih yang membahana, melihat sejauh mata memandang rumah-rumah dan gedung-gedung kayu yang entah digunakan oleh siapa namun menjadi latar depan yang kontras dengan putihnya salju, keluar dan masuk terowongan, turun lagi dan bertemu dengan hamparan luas kehijauan. Akhir dari perjalanan sudah tiba ketika rangkaian gerbong memasuki daerah urban. Sekedip mata, saya sampai di stasiun utama Oslo yang hiruk-pikuk.


Memupuk Persahabatan di Las Vegas

Menikmati Gurun Nevada

Setelah tertidur kurang lebih lima belas menit, saya terbangun mendengar suara telepon teman saya, JB, berdering. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi saat itu, dan kami berada di sebuah hotel di Las Vegas.

“Ada apa?” tanya saya pada JB.

Dengan nada suara mengantuk, JB menjelaskan bahwa teman satu grup kami, Anthony, tidak dapat menemukan jalan pulang menuju hotel. Ketika kami semua terlalu lelah untuk melanjutkan berpesta, Anthony memutuskan untuk tetap tinggal. Tampaknya setelah berpesta Anthony terlalu mabuk sehingga ia tidak dapat menemukan hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari klub yang terakhir kami singgahi.

Didera perasaan cemas, saya dan JB memutuskan untuk mencari Anthony saat itu juga. Namun JB mempersilahkan saya untuk tetap tidur, karena menurutnya saya nampak sangat lelah. Saya menyerah dan melanjutkan tidur saya yang jauh dari lelap, karena kepala masih berputar dan musik dari diskotik sebelumnya masih terngiang di telinga. Ketika JB keluar kamar untuk mencari Anthony, terbayang di kepala saya kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi. Bagaimana jika Anthony tidak bisa ditemukan? Apa yang akan terjadi pada kami semua? Dan sebenarnya, bagaimana saya bisa sampai di tempat ini? Di tengah gurun pasir Nevada? Ah, mungkin saya berlebihan.

Pada awalnya, Vegas tidak pernah menjadi tujuan wisata impian saya. Jadi, ketika para sahabat mengundang untuk menghabiskan liburan musim semi di kota wisata tersebut, awalnya saya tidak tertarik. Namun saya sadar, menemukan teman baru di negara di mana⎯pada saat itu⎯saya baru menghabiskan kurang lebih satu setengah bulan bukanlah hal yang mudah. Dalam pikiran saya, siapa tahu perjalanan ini akan menjadi sebuah pengikat bersama mereka. Demikian, saya menyatakan persetujuan saya untuk pergi. Langkah yang saya ambil tidak salah. Tidak hanya menemukan sebuah grup road trip, saya mengalami petualangan yang sungguh baru dan belum pernah ada dalam pengalaman perjalanan saya sebelumnya.

Melintasi Gurun Nevada

Kami berenam meninggalkan San Francisco, California pada hari Kamis, 24 Maret, pukul delapan pagi. Perjalanan akan membutuhkan waktu kurang lebih sembilan jam untuk sampai ke negara bagian Nevada. Sepanjang perjalanan itu, tidak hanya saya menjelajahi lansekap Amerika dalam alam pikiran, namun saya juga berusaha untuk mempelajari budaya negara ini yang tetap terasa baru.

Kurang lebih dua setengah bulan berselang sejak saya tinggal di benua Amerika, kurang lebih tepat dua bulan saya menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru. Hampir semua sahabat baru saya adalah warga negara Amerika, dengan latar belakang kultur beragam. Bukan karena saya tidak mau berteman dengan anak-anak Indonesia, namun hingga saat ini saya memang belum sempat bertemu dengan satu-pun anak Indonesia di kampus saya maupun di kota ini, kecuali beberapa yang memang dikenalkan sedari saya di Jakarta. Adanya kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan warga negara asing juga menunda niat saya untuk mencari tahu komunitas Indonesia di San Francisco. Jadi, setidaknya untuk saat ini, saya berusaha untuk mengembangkan pengalaman dan jaringan perkawanan dengan bergaul bersama anak-anak dari negeri⎯yang menurut saya⎯asing ini.

Kembali ke perjalanan. Saya merasa seperti terlempar ke dalam sebuah film yang menampilkan adegan road trip di dalamnya. Kami menyetel musik keras-keras, bermain pistol mainan yang memuntahkan bola-bola ping-pong warna-warni, mengagumi deretan bukit-bukit indah sepanjang jalan, sambil menikmati sedikit soda yang dicampur dengan alkohol, yang menghangatkan tubuh kami dan menuai senyum konyol yang selalu muncul di wajah.

Jalan Bebas Hambatan ke Las Vegas

Hamparan padang rumput luas yang membentang di negara bagian Nevada memang memukau. Terlebih lagi karena kami semua menuju Las Vegas, sebuah kota di mana harapan untuk bersenang-senang membumbung tinggi dalam angan. Maka ketika lansekap mulai berubah perlahan, perbukitan yang coklat berubah menjadi biru, dan lampu-lampu mulai berkilau menyapa kami di kejauhan, kami tahu bahwa sebentar lagi petualangan kami akan dimulai. Asyik!

Kira-kira pada pukul tujuh malam, kami tiba di tujuan. Penginapan kami adalah sebuah hotel bernama Circus Circus yang terletak di jalan utama Las Vegas, The Strip. Pemandangan pertama yang saya jumpai ketika masuk hotel adalah kasino beserta ratusan mesin berjejer yang menawarkan keuntungan sekejap. Kami melewati mesin-mesin tersebut dengan tatapan takjub. Berapa banyak wisatawan yang menuai untung? Berapa banyak dari mereka yang merugi besar? Berapa tinggi harapan yang digantung, dan berapa yang kembali dengan memuaskan? Namun pada saat itu, kami hanya ingin berberes dan untuk kemudian secepatnya keluar hotel dan bermain.

Kami bersiap di kamar hotel, menghangatkan diri dengan beberapa teguk minuman sebelum meluncur ke lobi dan akhirnya keluar hotel. Petualangan kami di malam pertama-pun dimulai. Ketika cahaya matahari meredup dan diganti oleh gemerlap bangunan yang berkilau oleh lampu-lampu warna-warni, Vegas nampak seperti perbatasan antara mimpi dan kenyataan. Tidak pernah saya sangka bahwa bangunan yang biasanya saya lihat di layar kaca, nampak jauh lebih besar dan megah. Saya yang selama ini memandang rendah Vegas sebagai tempat yang bodoh, palsu, cetek, dan tidak layak kunjung, mendadak terkesima dan merasa takjub atas kemegahan dan gemerlap kota yang memang sungguh menyilaukan ini. Setelah bertemu dengan beberapa teman yang berangkat terlebih dahulu dari San Francisco, kami akhirnya mulai menelusuri beberapa bar, hotel, dan diskotik yang terlihat menggoda. Dimulai dari Wynn, Caesar’s Palace, sampai ke The Cosmopolitan. Semuanya terletak di satu kawasan The Strip.

Tak dipungkiri, pengaruh alkohol memang begitu mempengaruhi grup kami. Malam itu memang malam pertama, tetapi kami semua hampir tak bisa mengingat detail demi detail yang terjadi. Semua terbayang samar dalam ingatan. Kami hanya ingat akan beberapa hal konyol yang terjadi di perjalanan menuju klub, di mana musik yang diputar dari diskotik terdengar keluar, di mana mesin-mesin kasino nampak menyala liar, dan tawa seperti tak kunjung usai. Kami berkenalan dengan beberapa teman baru malam itu, berbagi ceria dalam waktu singkat, dan berdansa di tengah musik yang menjerit hingga pagi tiba. Namun tidak lama setelahnya, ketika sudah sampai di hotel, saya merasa khawatir akan keberadaan Anthony yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya.

Kira-kira pukul setengah tujuh pagi, saya mendengar pintu kamar hotel terbuka. JB datang dengan membawa Anthony yang terlihat sangat lelah dan hampir tak sadar. Ternyata Anthony tersesat jauh, dan ditemukan JB kira-kira satu kilometer dari hotel di pinggir jalan, hampir tertidur. Melihat Anthony datang dengan keadaan utuh, saya merasa lega dan melanjutkan tidur yang tertunda hingga pukul satu siang.

Langit Las Vegas

Siang terasa seperti malam di dalam kamar. Setiap hotel dipersenjatai dengan tirai anti cahaya matahari yang sungguh ampuh mengimitasi suasana malam hari. Tampaknya semua pengunjung Las Vegas tidak rela tidur pagi mereka diganggu oleh sang surya. Demikian hari kedua kami lanjutkan dengan mengisi ulang tubuh dengan energi, minum air putih yang banyak dan makan apapun yang terlihat pantas. Kemudian ketika matahari terbenam, kami melanjutkan berpesta kembali di beberapa tempat yang berbeda. Begitu pula dengan pagi setelahnya dan malam berikutnya.

Kami tidak sempat menyaksikan berbagai macam pertunjukan menarik yang tersaji, dan saya sendiri cukup menyayangkan hal tersebut. Nampaknya kami terlalu bernafsu untuk menghabiskan akhir minggu dengan berpesta sebanyak mungkin. Hari terakhir di Vegas diakhiri dengan berbagai hal konyol yang bahkan saya sendiri tak percaya bahwa itu bisa terjadi. Hanya, biarkan hal tersebut kami simpan sendiri, sebagai satu-satunya cinderamata yang bisa kami kenang kembali ketika kami sampai di realita.

Hari itu hari Minggu pagi, ketika kami semua berangkat meninggalkan Vegas dan berpulang ke San Francisco. Ketika duduk di mobil dan bersiap melaju, saya menyempatkan diri memperhatikan wajah dan ekspresi kawan-kawan. Ada yang masih terkantuk-kantuk, ada yang tak kuasa menahan senyum karena mengingat kejadian-kejadian konyol hari-hari sebelumnya, ada yang selalu menggumam dan meracau karena masih dipengaruhi alkohol yang tertenggak semalam. Saya menghitung teman-teman di dalam mobil. Enam orang termasuk saya, lengkap sudah, tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang tersesat di luar.

Bersama Sahabat Baru di Dunia Baru

Yang terjadi di Vegas biarkan tetap di sana. Dan biarkan teman-teman ini menjadi sahabat baru saya. Seperti teman saya Cory berkata, “cerita perjalanan ini akan menjadi harta karun yang bisa kita buka dan nikmati kapan saja.”

  • Disunting oleh SA 02/05/2011

© 2017 Ransel Kecil