Bulan: May 2011 (halaman 1 dari 2)

Ransel Kecil di Majalah Her World Indonesia


Ransel Kecil masuk majalah! Terima kasih untuk Kenny Santana atas rekomendasinya di majalah Her World Indonesia edisi Mei 2011. Klik pada gambar untuk memperbesar.

Tips Menulis Catatan Perjalanan dari Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo
Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi.
“Kunci sebuah perjalanan adalah refleksi,” kata Agustinus, di sela-sela sesi berbagi dengan komunitas National Geographic pada hari Sabtu, 14 Mei lalu.
Agustinus, yang muncul dengan pakaian tradisional Afghanistan shalwar
qamiz
berwarna putih, dengan lancar membagi cerita seputar perjalanannya di Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sebagian besar ceritanya memang sudah dimuat di buku-bukunya, “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, tapi lebih istimewa memang ketika mendengar langsung pengalaman tukang jalan yang satu ini. Ada beberapa hal tentang proses pembuatan buku yang tidak termuat di mana pun. Misalnya, cerita bahwa buku pertamanya, “Selimut Debu” diselesaikan tanpa sempat bertemu dengan editornya, Hetih Rusli. Buku keduanya, “Garis Batas” dibuat dalam waktu dua tahun dan melalui empat kali penulisan ulang. Naskah pertama “Garis Batas” panjangnya
mencapai 600 halaman. Menurut Hetih, jumlah tersebut terlalu panjang dan perlu peringkasan supaya pembeli mau membaca. Mau tidak mau, beberapa detail terpaksa dibuang untuk menjaga fokus buku.
Agustinus juga dengan rendah hati berbagi tips mengenai caranya menulis sepanjang perjalanan. Menurut pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 29 tahun lalu ini, sebuah catatan perjalanan haruslah sesuatu yang personal dan jujur.
“Buku saya adalah kumpulan potret dan pengalaman supaya pembaca mendapat the bigger picture dari tempat yang saya kunjungi,” ujar Agustinus. Fotografer ini menolak membawa laptop saat dalam perjalanan, tapi ia selalu berbekal kamera, kamera video, perekam suara dan buku harian ke mana pun ia pergi.
“Setiap hari saya menulis, bisa sampai lima dan enam halaman,” katanya. “Kadang, seharian saya sibuk motret dan tidak menulis, jadi tergantung kondisi juga.”
Kamera dan perekam suara adalah senjata Agustinus untuk memecah kebekuan dengan orang yang baru dia kenal. Biasanya, dia memotret orang lokal atau merekam suara mereka untuk diperlihatkan kembali, dan umumnya semua senang difoto atau direkam suaranya. Agustinus, yang lancar berbagai bahasa yang berlaku di Asia Tengah, mulai dari Pashto, Farsi hingga Urdu, mengatakan bahwa orang-orang di Afghanistan, misalnya, kebanyakan tulus dan tanpa kepura-puraan.
Sebuah catatan perjalanan yang baik menurut Agustinus adalah tulisan yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca. Agar bisa mencapai hasil seperti ini, seorang pejalan harus bisa belajar menertawakan kesedihannya. Agustinus mengambil contoh ketika ia mengalami kesialan di perjalanan, seperti kamera hilang atau ditipu orang. Ia menceritakan bagaimana ia terus memacu dirinya untuk terus berjalan walaupun hampir patah semangat.
Travel writing tidak boleh egosentris, ini semua bukan tentang si penulis, walaupun karakter penulis harus ada di dalamnya,” kata Agustinus.
Proses menulis adalah cermin dari proses perjalanan itu sendiri. Ketika di Afghanistan, Agustinus yang menganut agama Buddha sempat mengalami kejadian tidak enak, dimana alat makan yang dia pakai sebelumnya harus dibuang oleh penduduk setempat karena ia seorang bukan beragama Islam.
“Saya luruhkan ego saya dan mencoba berpikir dengan cara pandang mereka,” kata Agustinus.
Sebuah perspektif pejalan akan terbentuk ketika terjadi komunikasi dengan orang yang berbeda. Dengan cara inilah, Agustinus berusaha menceritakan Afghanistan di buku pertamanya, “Selimut Debu”.
“Saya menceritakan Afghanistan melalui pandangan berbeda dari berbagai orang, bukan lewat kuesioner atau semacamnya,” katanya. “Dari sini, saya harap pembaca bisa menggambarkan Afghan yang lain dari yang mereka lihat di televisi.”
Ketika menulis “Garis Batas”, Agustinus merasa perlu memberi sebuah benang merah dari sejumlah catatan perjalanannya. Melalui refleksi pulalah, ia memberi judul “Garis Batas”.
“Saya melihat bagaimana negara-negara ini hanyalah bidak dalam percaturan politik negara tetangga,” kata Agustinus. Sebagai negara eks Uni Soviet, identitas mereka tercabut ketika pemerintahan komunis berkuasa. Sekarang, ketika mereka merdeka, bangsa-bangsa ini merasa bingung dengan identitas aslinya yang sudah sekian lama terambil. Mereka dengan bangga menyebut dirinya orang Muslim, meski tidak tahu apa kalimat syahadat, bacaan shalat dan puasa Ramadan. Yang penting adalah identitas.
“Saya melihat bagaimana garis batas menentukan nasib hidup seseorang,” kata Agustinus. “Di Afghanistan, banyak uang tapi tidak ada fasilitas apa-apa, di Tajikistan, semuanya teratur tapi nyaris 95% penduduknya menganggur.”
Agustinus melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas suku terpecah karena adanya garis batas seusai runtuhnya negara Uni Soviet. Sebuah keluarga bisa mengucap bahasa yang berbeda, mata uang berbeda dan bahkan pahlawan yang beda. Ia juga mengkritisi bagaimana garis batas menciptakan kebanggaan semu bagi orang-orang yang terkotak-kotakkan di dalamnya, terkungkung dalam sebuah konsep bernama negara.
“Saya melihat bahwa tidak semua negara memimpikan kemerdekaan dan demokrasi,” katanya.
Buku-buku Agustinus ditulis dalam bentuk narasi. Selama penulisan dan pengeditan buku berlangsung, selama itulah riset untuk verifikasi data dilakukan. Bagaimanapun, perjalanan yang dilakukan Agustinus adalah sebuah napak tilas sejarah yang berlangsung sejak dulu kala, mulai dari masa peperangan Gengis Khan hingga terbentuknya pemerintahan Taliban, yang merupakan hasil rekayasa pemerintahan Pakistan dan Amerika Serikat.
Seusai penulisan buku keduanya, “Garis Batas”, Agustinus merasa ia mencapai titik ia menganggap dirinya sebagai penduduk dunia. Tak lagi penting agama yang ia anut dan status kependudukannya, selain untuk masalah formalitas belaka.
“Sekarang, buat saya rumah bukan lagi sebuah konsep geografis,” katanya. “Bukan juga kampung halaman, tapi tempat orang akan menyambut saya.”
Karena itu, Agustinus merasa dirinya kaya karena punya berbagai tempat yang bisa dipanggil rumah di mana-mana.
Kebetulan editor Agustinus, Hetih, duduk di sebelah saya sepanjang diskusi sesi pertama, sebelum akhirnya naik panggung untuk ikut berbagi cerita. Menurut Hetih, sudah ada rencana untuk menerbitkan buku-buku Agustinus ke dalam bahasa asing, tapi ia harus bersaing dengan penulis-penulis dari luar negeri pula. Untuk itu, Agustinus berencana kembali ke Indonesia pada akhir tahun untuk menghadiri Ubud
Writer Festival 2011.
Satu lagi hal penting dalam menulis catatan perjalanan adalah lamanya tinggal di suatu tempat.
“Kita harus menghindari kesan pertama,” katanya. “Sebuah perjalanan tidak boleh singkat, karena kita harus bisa mengangkat selubung impresi tersebut.”
Mendengar perkataan Agustinus tersebut, saya berkesimpulan bahwa ini bukan saja persoalan cara menulis, tetapi juga bekal dalam menjalani hidup.

  • Disunting oleh SA 25/05/2011

Jalur Kereta Api Bergen-Oslo

Pesisir Kota Bergen, Norwegia
Pesisir kota Bergen
Tulisan ini adalah sambungan dari catatan perjalanan sebelumnya menelusuri pesisir Norwegia. Perjalanan terakhir berujung di Bergen, sebuah kota romantis (saya mengatakannya romantis, karena kota ini hampir selalu hujan dan bernuansa sendu pada waktu itu, musim gugur 2010) yang berbukit-bukit di sebelah barat Norwegia.
Bergen adalah kota yang cantik, terletak di pinggiran fjord. Ia merupakan kota kedua terbesar di negara kaya sumber daya alam ini, dan merupakan salah satu tujuan turis yang paling ramai, terutama karena daerah selatan Norwegia memiliki banyak fjord yang padat dikunjungi wisatawan. Sebut saja antara Oslo dan Bergen, beberapa yang terkenal antara lain Sognefjord, fjord yang terbesar dan terpanjang di Norwegia dan kedua terpanjang di dunia. Sepanjang Sognefjord, ada beberapa cabang fjord lain yang tak kalah cantik, yaitu Nærøyfjord, Lærdalfjord, Ardalsfjord dan Lustrafjord. Selain itu, di antara Bergen dan Oslo terdapat beberapa tujuan pariwisata seperti Gudvangen, Flåm (dengan Flåm Railway-nya yang terkenal), Myrdal, dan Voss. Baik ketika musim panas maupun musim dingin, jalur kereta api Bergen – Oslo selalu ramai. Kalau di Indonesia, barangkali ini mirip dengan jalur Jakarta – Surabaya.
Stasiun Kereta Api di Bergen
Stasiun Kereta Api di Bergen
Kabarnya, jalur kereta api Bergen – Oslo adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya setuju.
Perjalanan dimulai pagi hari sekali di stasiun Bergen yang cukup sederhana. Stasiun ini hanya memiliki empat jalur peron (platform). Kereta hari itu dijadwalkan berangkat pukul tujuh pagi. Menurut rencana, kereta akan sampai di Oslo tujuh jam kemudian.
Gerbong kereta yang saya naiki sangat modern, barangkali salah satu yang paling modern di Skandinavia selama perjalanan saya di Denmark, Swedia & Norwegia. Interior bernada warna hijau toska dan coklat muda menyambut ketika pintu otomatis saya buka. Ternyata, di sini, untuk memasuki gerbong tidak harus mendorong pintu sekuat-kuatnya atau meminta bantuan petugas. Cukup tekan tombol lingkaran yang cukup besar, pintu terbuka dengan sistem hidraulik yang mengesankan. Jarak antara platform dan gerbong terlalu tinggi? Jangan khawatir, selain pintu membuka, sandaran kaki pun turun untuk membantu penumpang menaiki gerbong. Serasa seperti masuk ke pesawat luar angkasa.
Saya sempatkan berkeliling dari gerbong ke gerbong. Ternyata ada fitur lain yang mengesankan dari kereta api ini. Setiap gerbong dilengkapi display elektronik yang menyajikan informasi tujuan dan stasiun. Di bagian pintu masuk, terdapat tempat sampah, dan kompartemen penyimpanan barang besar seperti koper. Mereka yang punya koper besar tak perlu bersusah payah mengangkatnya ke kompartemen di atas tempat duduk. Jalan sedikit lagi, kita sampai di family car. Bukan, bukan mobil keluarga. “Car” di sini artinya gerbong. Gerbong keluarga ini dirancang khusus untuk penumpang yang membawa keluarga muda, dalam hal ini ayah, ibu dan anak-anak. Di sini, ada ruang bermain anak, sebuah meja di tengah yang dikelilingi tempat duduk sofa nan nyaman, lalu ada televisi di atasnya. Anak-anak bisa bermain puzzle atau robot-robotan, sementara orang tuanya menonton televisi, mungkin sambil menikmati makanan ringan.
Tak lama setelah itu, kereta bertolak. Pada setengah jam pertama, kereta masih berusaha keluar dari kota Bergen. Hari itu tidak hujan, syukurlah (sudah dari kemarin hujan dan suhu menjadi lebih dingin). Pemandangan di luar sangat menarik. Pertama, Bergen memang kota yang “bertengger” di fjord, sehingga kontur tanahnya sangat dinamis. Kereta bisa melintas di atas bukit, lalu masuk ke dalam terowongan. Di kejauhan, permainan latar depan dan belakang membuat saya berimajinasi saya sedang berada di rangkaian model kereta api. Tak lama kemudian, lanskap yang tadinya hijau, berubah menjadi sebaran putih karena salju mulai turun. Saya sempat bertanya, kenapa salju turun di musim gugur? Ah, belakangan saya sadari, kami mulai menanjak. Kabarnya, ini adalah jalur kereta api dengan level permukaan paling tinggi di dunia, sekitar 1.222m di atas permukaan laut!
Lanskap Tertutup Salju di antara Bergen dan Oslo
Lanskap seketika tertutup salju ketika mendaki ke elevasi tinggi
Masih juga belum selesai terpana, saya sudah disuguhi lanskap yang lebat tertutup salju. Wow! Salju tebal, dengan hujan salju. Ini spektakuler dan tak biasa bagi mata saya. Saya sibuk dengan kamera karena takut sekali kehilangan momen. Karena mengambil foto sulit, saya aktifkan saja mode videonya agar seluruhnya tertangkap.
Kereta sesekali masuk terowongan. Fakta menarik lain: ada 182 terowongan selama perjalanan dari Bergen ke Oslo. Tentu saja, saya tak sempat menghitung.
Jika Anda punya waktu, ketika kereta berhenti di stasiun Myrdal, turun dan naikilah The Flåm Railway ke sebuah kota kecil di pinggiran Aurlandfjord, Flåm. The Flåm Railway adalah jalur kereta api yang melalui tebing terjal, kabarnya melalui pemandangan yang sangat elok, satu jam lamanya dan beroperasi baik ketika musim panas ataupun musim dingin.
Ada beberapa kegiatan penting yang bisa dilakukan di antara Bergen dan Oslo, antara lain wisata alam ke Hardangervidda National Park antara stasiun Gol dan Gelio, wisata alam di Hallingskarvet di Finse, stasiun dengan elevasi tertinggi di jalur ini, lalu tentu saja Flåm, dan Voss untuk olahraga musim dingin seperti ski dan sledding (Tahukah Anda, kalau kata “ski” itu adalah istilah dari bahasa Norwegia?).
Danau di Pinggir Rel Kereta Api Bergen-Oslo
Salah satu pemandangan elok selama perjalanan
Kalau pun Anda tak berhenti, memang benar, sepanjang perjalanan pandangan kita dimanjakan dengan alunan geografis yang silih berganti, mulai dari tatanan fjord di Bergen, mendaki dataran tinggi yang mulai ditutup salju, melewati gunung putih yang membahana, melihat sejauh mata memandang rumah-rumah dan gedung-gedung kayu yang entah digunakan oleh siapa namun menjadi latar depan yang kontras dengan putihnya salju, keluar dan masuk terowongan, turun lagi dan bertemu dengan hamparan luas kehijauan. Akhir dari perjalanan sudah tiba ketika rangkaian gerbong memasuki daerah urban. Sekedip mata, saya sampai di stasiun utama Oslo yang hiruk-pikuk.

Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil