Bulan April 2011

Tersesat dalam Ruang dan Waktu di Phnom Penh

Gersang.

Kata itulah yang pertama keluar dari pikiran saya ketika sang kapten berkata bahwa dalam beberapa menit kita akan mendarat di bandar udara internasional. Ya, pemandangan hanya menyuguhkan hamparan coklat dengan sedikit sentuhan hijau di beberapa titik yang terlihat dari dalam pesawat. Apakah ini karena musim panas yang sedang menghampiri? Saya diperingatkan bahwa cuaca akan sangat panas saat ini.

Perjalanan kali ini membawa saya ke Phnom Penh, Kamboja, kota yang akan saya kunjungi selain Siem Reap. Selain terkenal dengan candi-candi indah luar biasa yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Kamboja juga terkenal dengan masa lalunya yang kelam. Phnom Penh memiliki beberapa bukti sejarahnya.

Kendaraan Umum di Pnomh Penh

Mengutip Lonely Planet, “Sedikit seperti New York,” Phnom Penh adalah sebuah kota yang sedang berkembang, kotanya rapi tertata dalam blok-blok, dan dilengkapi penunjuk jalan yang jelas. Walaupun bangunannya hampir 90 persen didominasi oleh deretan rumah toko (ruko), namun satu hal yang amat sangat mencolok mata saya adalah banyaknya mobil mewah lalu-lalang. Teman saya bilang, masyarakat Phnom Penh masih menomorsatukan citra, maka penampilan dan gaya adalah yang pertama ditonjolkan.

Sungai Tonle Slap di Malam Hari

Agenda hari pertama diisi dengan menghadiri sebuah pesta makan malam di atas perahu sambil mengarungi Sungai Tonle Slap pada gemerlap malam, dalam rangka menyambut tahun baru Khmer bersama teman saya dan koleganya. Sebuah pesta kecil yang menunjukkan keramahan orang-orang Kamboja, dipadu dengan santap malam prasmanan serta pantulan lampu-lampu dari bangunan ruko sepanjang Sungai Tonle Slap adalah satu kenikmatan tersendiri bagi saya pada malam pertama di kota Phnom Penh.

Kamboja memiliki bagian masa lalu yang suram. Hanya membutuhkan waktu 15 menit dari hotel sampai ke sebuah museum yang bernama “Tuol Sleng”. Dari luar, bangunan ini hanya terlihat seperti sekolah biasa, sampai akhirnya pandangan saya tertuju pada sebuah plang dengan tulisan “The Victim’s Grave” tepat di depan gedung. Suasana hati ini langsung berubah. Memasuki gedung pertama, saya langsung disambut dengan ratusan bahkan ribuan foto para tahanan penjara rahasia Pol Pot ini. Tahanan terdiri dari bayi hingga dewasa, laki-laki hingga perempuan. Foto-foto menampilkan kisah ketika masih hidup sampai mereka mati di penjara. Saya banyak kehilangan kata-kata. 

Ruang Penyiksaan di Museum Tuol Sleng, Phnom Penh

Masih berada di Tuol Sleng, pada gedung lain, terdapat ruangan dengan tempat tidur tempat mereka disiksa dan dibiarkan mati (lengkap dengan fotonya), ruangan-ruangan sel kecil yang hanya berukuran satu kali dua meter, hingga ilustrasi bagaimana para tentara Pol Pot menyiksa para tahanan. Hanya ada tiga orang yang selamat dari penjara ini, dan beruntung saya bisa bertemu dengan dua dari tiga orang yang selamat tersebut. Seringkali saya hampir meneteskan air dan hanya bisa terdiam. Kenapa mereka tega melakukan semua ini? Apa yang ada di pikiran orang-orang itu ketika mereka melakukannya? Dua pertanyaan tersebut terus berputar dalam otak saya. Mengunjungi museum Tuol Sleng ini mengingatkan saya kepada kunjungan saya ke museum Lubang Buaya pada waktu saya masih sekolah dasar. Permasalahan masa lalu yang menjadi kenangan pahit  yang selalu patut disorot dunia, karena menyangkut kejahatan terhadap kemanusiaan.
  
Melengkapi pengalaman masa lalu yang kelam dari Kamboja, saya melanjutkan perjalanan ini ke “Killing Fields of Choeung Ek”, sebuah tempat yang berlokasi sedikit di luar kota Phnom Penh, kurang lebih 15 km jauhnya. Tempat ini adalah lokasi eksekusi tahanan dari penjara S-21. Bangunan stupa tinggi menyambut saya dari kejauhan. Di sini, saya bisa melihat cekungan-cekungan tanah tempat para korban dikubur massal setelah dieksekusi. Sobekan baju, serpihan tulang, dan gigi manusia masih bisa saya temukan berserakan di tanah. Semua tersebar di mana-mana. Bukan hanya itu, saya juga bisa memasuki bangunan stupa berisi kurang lebih 5000 tengkorak para korban yang dikuburkan di sekitar lahan pembunuhan massal. 

Korban Genosida di Killing Fields of Choeung Ek

Benar-benar sebuah pengalaman yang menguras habis emosi saya. Para pengunjung yang datang seakan otomatis tidak dapat berkata-kata, hanya kadang terdengar berbisik dengan teman-temannya untuk mengutarakan perasaan mereka.

Perjalanan pulang saya dari tempat ini ini berakhir dengan hening. Ketika saya bertanya kepada seorang teman dia hanya bisa menjawab, “Manusia memang mahluk paling aneh!”.

Destinasi terakhir yang menjadi penentram duka atas kunjungan Tuol Sleng dan Killing Fields of Choeung Ek adalah Royal Palace dan Silver Pagoda. Terletak 500 meter dari tempat saya menginap, ini adalah tempat terakhir yang saya kunjungi di Phnom Penh. Royal Palace bagi saya adalah sebuah taman besar yang terawat dan sangat rapi. Kemegahan Throne Hall membuat saya terkagum-kagum dengan semua perhiasan dan keindahan interiornya. Silver Pagoda, yang dinamakan demikian karena lantainya yang terbuat dari perak membuat batin saya kembali tenang. Terlebih ketika saya menemukan patung-patung Buddha yang tersenyum, ketenangan ini semakin menghibur. Kebetulan, ketika saya mengunjungi Royal Palace, raja sedang berada di dalam istana. Hal ini secara tidak sengaja saya ketahui dari penjelasan sang pemandu wisata yang berkata ketika bendera sedang berkibar tinggi di tiang berarti sang raja sedang berada di dalam Istana. Sayang, saya tidak sempat bertemu dengan beliau (tentu saja!).

Dua hari berada di kota Phnom Penh cukup membuat saya tersesat ke dalam ruang dan waktu. Kota yang berkembang dengan pesat (terlepas dari bangunan-bangunan yang masih berasal dari dekade 1970-an), banyaknya mobil mewah yang berseliweran, kemegahan dari Royal Palace, semua ini masih terasa nyata dan membawa saya terbang ke masa lalu terutama bagiannya yang kelam. Sempat bercanda meminta teman saya untuk menyebutkan tiga kata yang dapat meggambarkan Phnom Penh, dan dia pun menjawab: Tidak Seimbang, Terbagi, dan Egois. Sementara bagi saya pribadi, Phnom Penh adalah: Berkembang, Kelam, dan Muda. 

Bagaimana dengan Anda?

  • Disunting oleh SA 26/04/2011
  • Untuk info lebih lanjut tentang Tuol Sleng Museum bisa langsung klik http://www.tuolsleng.com.

Mempersiapkan Anggaran Liburan

Siapa sih yang tidak senang berlibur? Saya yakin kebanyakan orang menyenanginya. Mungkin setelah menikmati liburan baru-baru ini, Anda sudah buru-buru ingin merencanakan liburan berikutnya, entah bulan depan, tahun depan, atau malah beberapa tahun lagi…

Sayangnya, kebanyakan dari kita bukanlah orang kaya dengan status tabungan Prioritas, selalu naik kelas bisnis di setiap penerbangan, atau menginap di hotel bintang lima. Meskipun demikian, saya meyakini bahwa liburan itu milik semua orang, termasuk yang anggarannya terbatas.

Kata kunci dari bahasan saya kali ini adalah “perencanaan keuangan”. Mungkin sebagian dari Anda bakal sebal, sudah hidup dibatasi anggarannya, ini mau senang-senang kok masih dibatasi juga. Well, reality bites, my friend. Mungkin seluruh tabungan yang Anda punya saat ini bisa dipakai untuk jalan-jalan keliling Eropa sebulan penuh. Tapi setelah kembali ke tanah air, Anda niscaya langsung “jatuh miskin” karena sudah tidak punya apa-apa lagi di genggaman.

Anda yang tidak punya tanggungan mungkin akan lebih mudah menghadapi kenyataan ini, toh meskipun “kere” tidak ada yang protes soal tidak dapat jatah bulanan, selain Anda sendiri tentunya. Tapi buat yang sudah berkeluarga ini pekerjaan rumah besar. Kalau tiba-tiba anak perlu dana imunisasi atau dana masuk sekolah, mau pakai duit dari mana lagi?

Untuk itu, suka atau tidak, kali ini saya akan mencoba membantu teman-teman merencanakan anggaran liburan. Sanggahan sebelumnya, saya bukanlah pakar perencanaan keuangan, jadi pastikan ini jadi sarana berbagi bagi kita bersama. Jika Anda punya permasalahan soal hal yang terkait, silakan kita bahas bersama-sama di sini.

Pertama, sebelum Anda merencanakan liburan, sebaiknya Anda memiliki fundamental keuangan yang lumayan. Fundamental ini bisa terdiri dari dana darurat, dana investasi (baik untuk pensiun maupun untuk pendidikan anak), dan pelunasan utang (cicilan rumah, mobil ataupun kartu kredit, jika ada). Khusus untuk dana darurat, perencana keuangan biasanya memberikan besaran nilai dana darurat sebagai berikut:

  • Lajang: 4 kali pengeluaran bulanan
  • Menikah tanpa anak: 6 kali pengeluaran bulanan
  • Menikah dengan satu anak: 9 kali pengeluaran bulanan
  • Menikah dengan dua anak atau lebih: 12 kali pengeluaran bulanan

Walaupun belum penuh-penuh amat jumlahnya, artinya jumlah tersebut tidak harus dipenuhi saat ini juga, setidaknya Anda sudah memulainya dan memisahkan alokasi penggunaan dana tersebut dan dana liburan. Ingat, jangan sampai malah menggunakan kartu kredit untuk membiayai liburan Anda! Di sana mungkin Anda bersenang-senang, tapi begitu pulang ke sini, yang ada malah pusing tujuh keliling memikirkan pelunasannya.

Yang kedua adalah perencanaan liburan itu sendiri. Anda harus secara detil menghitung berapa total biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan yang diimpikan. Biaya itu dapat berupa tiket pesawat, transportasi selama di negara tujuan, biaya pembuatan visa (jika perlu), akomodasi dan penginapan, biaya makan, biaya oleh-oleh, pokoknya semua yang ingin dikeluarkan. Sebagai perhatian juga, sebagian negara mensyaratkan jaminan aset kas dengan jumlah tertentu. Tidak ketinggalan jika perlu Anda membeli asuransi perjalanan sebagai proteksi seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Nah, kalau setelah dapat nilai pastinya, sekarang tentukan kapan Anda ingin melakukan perjalanan tersebut. Besok? Bulan depan? Akhir tahun? Tahun depan? Saya pribadi cenderung menyarankan tidak lebih dari lima tahun perencanaan waktunya, tapi jika anggaran masih belum mencukupi, ya, apa boleh buat.

Anda bisa lihat ada dua hal yang saya tulis dengan huruf tebal, “total biaya” dan “kapan”. Dari dua variabel itulah perencanaan anggaran liburan ditentukan. Sebagai contoh, total biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan berikutnya adalah Rp 10 juta dan waktu yang diinginkan adalah tahun depan, maka nilai Rp 10 juta itu, dengan asumsi inflasi 10% per tahun, akan menjadi Rp 11 juta tahun depan. Jika merencanakan untuk dua tahun lagi, nilainya menjadi Rp 12,1 juta. Ada faktor “nilai di masa depan” yang menjadi pembeda antara anggaran saat ini dengan anggaran yang akan datang.

Sekarang bagaimana cara mencukupi anggaran tersebut? Pertama, jangan pernah utak-atik dana darurat, dana investasi ataupun alokasi pelunasan utang yang sudah berjalan. Semua hal pokok itu bakal kacau jika diambil, bahkan meski cuma sebagian, untuk alokasi dana liburan ini. Jadi pastikan lagi bahwa dana liburan Anda adalah di luar ketiga hal tersebut plus kebutuhan konsumsi bulanan yang selama ini Anda keluarkan. Terus pakai yang mana lagi dong? Berikut kira-kira gambaran saya:

  • Hal yang paling lazim adalah menggunakan pendapatan tahunan (misalnya bonus, THR atau uang cuti). Tapi hitunglah terlebih dahulu pengeluaran tahunan Anda dulu (misalnya zakat/sedekah hari raya/angpau/kado natal dan THR pembantu di rumah). Sisanya yang akan kita pakai untuk perhitungan ini.
  • Jika masih kurang atau bahkan jika Anda tidak punya sisa pendapatan tahunan, maka kita harus coba menyisihkan pendapatan bulanan kita. Tentunya setelah dikurangi segala alokasi tetap dan kewajiban.

Masih belum cukup juga? Supaya cukup tentu ada beberapa cara, termasuk misalnya mengundur waktu perjalanan, mengurangi konsumsi rutin atau bahkan mencari pendapatan tambahan. Semua demi perencanaan liburan yang sudah ada
Jika Anda sudah punya sumber dananya, sekarang kita hitung cara mencukupi anggarannya. Misalnya A dengan pendapatan Rp 10 juta per bulan. Berikut adalah sejumlah skenario terhadap dana liburan A (anggaran saat ini Rp 10 juta):

  • Sisa pendapatan tahunan A ternyata lebih besar dari Rp 10 juta. Artinya setelah pendapatan tahunan itu diperoleh, A dapat menggunakannya secara langsung
    Tidak punya sisa pendapatan tahunan dan memiliki alokasi dana liburan Rp 1 juta per bulan. Setelah 10 bulan, anggaran liburan sudah terpenuhi.
  • Tidak punya sisa pendapatan tahunan dan hanya memiliki alokasi dana liburan Rp 500 ribu per bulan. Jika ditabung biasa baru cukup setelah 20 bulan, tapi karena ada faktor inflasi 10% per tahun, sebaiknya menabung hingga 22-24 bulan untuk amannya.

Metode lain selain tabungan yang bisa saya perkenalkan adalah penggunaan instrumen investasi berisiko rendah macam Reksadana Pasar Uang ataupun deposito untuk jangka waktu maksimal 1 tahun ataupun Reksadana Pendapatan Tetap untuk jangka waktu 1-5 tahun.

Sebagai gambaran, dengan asumsi return 7% setahun menggunakan Reksadana Pasar Uang, supaya bisa cukup setahun untuk pengumpulan anggaran liburannya, Anda kira-kira perlu menyisihkan Rp 888 ribu setiap bulannya. Sementara jika Anda mengundur waktu eksekusi liburan menjadi 2 tahun, menggunakan Reksadana Pendapatan Tetap yang mempunyai asumsi return 10% per tahunnya, kira-kira Anda cukup mengalokasikan dana Rp 458 ribu per bulannya. Tentunya semua berpulang pada kebutuhan masing-masing.

Nilai yang dicontohkan di atas hanyalah gambaran dan dengan menggunakan suatu instrumen investasi tidak ada kepastian untuk mencapai nilai yang diharapkan. Tentunya tetap lebih baik sedikit meleset perhitungannya, misal ternyata tingkat return tidak setinggi yang diharapkan, ketimbang mengorbankan kondisi keuangan demi liburan dalam jangka waktu pendek yang bakal bikin sengsara dalam jangka waktu lebih lama, bukan? Selamat merencanakan kebutuhan dana liburan Anda dan nikmatilah perjalanan impian tanpa rasa bersalah!

  • Disunting oleh SA 10/04/2011

Mencari Kendaraan Tumpangan

Saya teringat masa kecil itu. Bersama teman seusia saya, kami naik bak belakang mobil atau kontainer di perempatan lampu merah, mengejar mobil boks dan bergantungan di pintu belakang, bahkan menaiki bis umum dan cepat-cepat melompat keluar ketika kenek-nya menagih bayaran. Bukan berarti pada saat itu saya tidak punya ongkos untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah, tapi kenakalan yang spontan dan tanpa memikirkan resiko itu kami lakukan untuk kesenangan semata.

Konsep tersebut kurang lebih sama dengan istilah “hitchhiking” atau menumpang kendaraan di kalangan pejalan. Kendaraan tumpangan tentu saja moda transportasi apa pun yang tersedia agar kita bisa tiba di tempat tujuan. Dengan mencari kendaraan tumpangan kita bisa meminimalkan biaya perjalanan, bahkan gratis, tentunya tanpa mengabaikan faktor keselamatan dan atas kesepakatan kedua belah pihak.

Berikut beberapa tips dari rangkaian pengalaman saya sewaktu melancong melalui jalan darat melintasi tujuh negara di Asia.

Memiliki peta akan sangat membantu dalam melihat lokasi Anda, mempermudah untuk menentukan rute yang akan ditempuh, memperkirakan seberapa jauh dan waktu yang dibutuhkan, dan merencanakan tempat perhentian.

Berpenampilan sopan, perlu diingat bahwa Anda tidak mengenal pemberi tumpangan dan demikian juga sebaliknya. Untuk berhasil membuat seseorang memutuskan menghentikan kendaraannya sangat tergantung dari kesan pertama penampilan Anda. Apa batasannya berpenampilan sopan? Berpikirlah Anda layaknya sebagai pemberi tumpangan, apakah Anda mau memberi tumpangan terhadap diri Anda? Tentunya Anda tidak akan mendekati orang yang berkarakter kriminal bukan?

Lokasi Anda menghentikan kendaraan sangat mempengaruhi keberhasilan mendapatkan tumpangan. Berhentilah di tempat yang mudah dilihat, tidak di belokan jalan atau di tengah keramaian misalnya, ini akan memberi pengendara sedikit waktu berpikir untuk memutuskan menepi. Hindari tempat dengan tanda dilarang berhenti. Akan lebih mudah mencari tumpangan di tempat seperti lampu merah, pom bensin, perhentian rumah makan dan pangkalan truk. Untuk rute antar kota sebaiknya menunggu di pinggir kota atau jalur antar kota, karena kendaraan dalam kota biasanya tidak berpergian jarak jauh.

Menghentikan kendaraan dengan cara melambaikan tangan, mengacungkan ibu jari, atau menuliskan tujuan Anda di karton dengan huruf yang besar. Apabila Anda berkelompok sebaiknya lakukan bersama-sama. Pemberi tumpangan akan mengurungkan niatnya untuk memberi tumpangan apabila hanya satu orang yang menghentikan kendaraan dan tiba tiba muncul yang lainnya. Mendapatkan tumpangan itu perlu waktu. Ingat, tidak semua kendaraan akan berhenti, tidak semua kendaran yang berhenti akan memberikan tumpangan dan tidak semua pemberi tumpangan memiliki arah yang sama dengan Anda. Jadi, harus sabar dan punya waktu yang fleksibel.

Komunikasi akan menjadi sulit terutama di negara yang tidak menggunakan huruf latin dan tidak berbahasa Inggris seperti di Thailand, Kamboja dan Republik Tiongkok, apalagi di kota-kota kecil. Jangan sia-siakan kesempatan apabila Anda berhasil menghentikan kendaraan, inilah peluang Anda meyakinkan untuk mendapatkan tumpangan. Jelaskan kondisi dan tujuan Anda, tanya ke mana tujuan mereka. Jangan hanya mencari kendaraan yang memiliki tujuan akhir yang sama dengan Anda. Yang penting searah dan Anda bisa berhenti di lokasi strategis tempat di mana mudah mendapatkan kendaraan. Selanjutnya carilah tumpangan yang lain hingga tiba di tempat tujuan. Menyiapkan kartu bertuliskan kata atau kalimat sederhana dan nama tempat dalam bahasa mereka akan sangat membantu menyampaikan pesan yang Anda ingin sampaikan.

Berkemas seringan mungkin. Tidak mudah mendapatkan tumpangan di jalan. Biasanya saya memutuskan berjalan sambil berharap ada kendaraan yang mau berhenti daripada menunggu berjam-jam di tempat yang sama. Membawa ransel seringan mungkin sangat memudahkan perjalanan Anda. Sudah pasti ransel Anda akan setia menempel di pundak Anda kemanapun Anda pergi. Walaupun tujuan Anda menumpang kendaraan, bisa dipastikan Anda tetap harus berjalan. Selain itu akan memudahkan pemberi tumpangan karena tidak memakan tempat. Ada baiknya membawa beberapa cinderamata dari tempat Anda untuk diberikan kepada pemberi tumpangan.

Keamanan adalah yang paling utama, gunakan akal sehat. Apabila pemberi tumpangan bersedia memberi tumpangan lalu Anda berubah pikiran, jangan segan-segan membatalkannya. Bilang saja Anda menunggu di sisi jalan yang salah. Sebenarnya pemberi tumpangan memiliki kekhawatiran yang lebih besar daripada kekhawatiran penumpang.

Terakhir, nikmati perjalanan Anda. Anggaran transportasi yang Anda hemat dapat digunakan untuk memperpanjang masa liburan selama beberapa hari, atau berikan hadiah untuk diri Anda dengan makan makanan enak atau membeli sesuatu karena telah berhasil menumpang.

Walaupun menumpang memiliki resiko yang sangat kecil, tulisan ini tidak bermaksud mempengaruhi pembaca untuk melakukannya.

  • Disunting oleh SA 06/04/2011