Bulan: March 2011 (halaman 1 dari 2)

Ksatria Pengantar Makan Siang di Mumbai

Dabbawalla di Mumbai
Dabbawalla di Mumbai. Foto oleh Steve Evans, (lisensi Creative Commons)
Ketika makan siang bersama kolega kantor saya beberapa minggu lalu, di sela-sela santapan yang menggugah selera dan diskusi produktif tentang pekerjaan, kami sampai pada cerita tentang ksatria-ksatria Mumbai. Kolega kantor saya memang berasal dari Mumbai, India, namun sudah bekerja di Indonesia hampir 15 tahun lamanya. Ksatria apa yang dimaksud? Jangan membayangkan mereka ksatria berbaju besi yang naik kuda untuk membela kepentingan negaranya. Ksatria yang kami bicarakan adalah ksatria pelanjut kehidupan: sang dabbawalla. Mereka adalah pekerja-pekerja gigih yang berkontribusi membantu jutaan rakyat Mumbai untuk makan siang. Kenapa saya juluki ksatria, kita akan tahu sebentar lagi.
Mumbai adalah kota besar berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa di sebuah pesisir India bagian barat, ibukota dari negara bagian Maharashtra. Setiap harinya bisa jadi 25% dari jumlah itu sedang bekerja atau belajar di luar rumah. Satu hal yang biasa menjadi dilema dan pikiran kita ketika bekerja atau belajar di luar rumah adalah makan siang.
Semua dari kita pasti pernah mengalami dilema memilih makan siang: di mana, apa, dan kapan. Makan siang di rumah? Tidak selalu mungkin untuk pulang ke rumah ketika ada di kantor. Makan siang di kantin atau warung murah terdekat terkadang membuat kita khawatir akan kebersihannya. Makan siang di mal atau kafe tidak bisa setiap hari karena harganya kurang terjangkau. Lalu, makan apa? Pilihan makanan belum tentu sehat dan sesuai dengan selera. Karena tak ada waktu, kebanyakan kita memilih yang enak dan bikin kenyang saja. Kemudian, ada pertanyaan kapan kita makan siang? Terkadang kita lupa atau tak sempat beranjak dari tempat duduk. Alangkah enaknya jika ada yang mengantarkan makan siang di kantor kita.
Persoalan-persoalan inilah yang coba dijawab oleh para dabbawalla atau “pengantar makan siang” di Mumbai. Pertama, makan siang yang paling sehat, murah dan baik adalah makan siang yang dibuat di rumah: bahannya pasti, orang rumah tahu apa yang terbaik buat kita, dan hampir pasti selalu enak. Kedua, bagaimana jika kita membawa makan siang rumahan ini ke kantor atau sekolah, tapi tanpa bersusah-payah membawanya sendiri? Ketiga, bagaimana jika makan siang rumahan itu diantar tepat waktu setiap hari jam 12 siang, lalu rantang (disebut “tiffin” atau “dabba” di India) kosongnya diantarkan lagi pulang ke rumah untuk dibersihkan dan dipersiapkan keesokan harinya? Menyenangkan bukan?
Para dabbawalla ini bekerja setiap hari melakukan semua itu.
Dengan biaya tak sampai Rs. 300 (Rp50.000-an) per bulan tunai, kita dapat menikmati makan siang rumahan di kantor (porsi penuh dan besar!) tanpa harus repot-repot membawa rantang besar di tas. Bagaimana caranya?
Ada 5.000-an dabbawalla tersebar di berbagai distrik Mumbai dengan radius 60-80km yang siap menjemput rantang makan siang di rumah kita setiap pagi buta. Tentunya, makan siang ini harus dibuat oleh orang rumah, seperti ibu atau pembantu, atau kita sendiri kalau sempat. Para dabbawalla kemudian mengantarkan ke tempat kerja atau sekolah kita secara estafet. Satu rantang tidak dibawa oleh satu orang saja selama perjalanan. Mereka yang langsung mengambil rantang di rumah kita mungkin hanya membawanya sekian ratus meter atau beberapa kilometer, lalu memindahtangankan ke dabbawalla lain, yang kemudian, dengan modal sederhana seperti gerobak, sepeda atau rak yang dipanggul, melanjutkan perjalanan menemui dabbawalla berikutnya. Mungkin saja, dabbawalla berikut sudah menunggu di stasiun kereta api. Di sebuah gerbong khusus, mereka memasukkan ratusan bahkan ribuan rantang dari berbagai daerah. Gerbong kereta ini akan sampai di suatu tempat di tengah kota, lalu dabbawalla lain sudah menunggu di situ untuk dilanjutkan ke gedung kantor yang kita tuju. Begitu rantang sampai di kantor kita, jam sudah menunjukkan hampir makan siang, dan sesuai jadwal, kita bertemu kembali dengan rantang kita tadi pagi!
Akhirnya makan siang pun disantap. Lalu bagaimana nasib rantang kosong itu?
Rantang kosong kita tinggalkan saja di situ. Satu jam kemudian, ada dabbawalla yang sama yang akan mengambil rantang tersebut untuk diantarkan pulang, dengan rute yang sama ketika berangkat! Kita sebagai pelanggan pun bisa melanjutkan bekerja tanpa memikirkan ke mana rantang kita pergi. Kita pulang dan rantang kosong sudah ada di rumah, siap untuk dicuci dan digunakan kembali esok hari.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mereka bisa tahu rantang mana dikirim ke mana, dan ke kantor mana, untuk siapa? Para dabbawalla dibantu oleh sistem kode tulisan dan warna di rantangnya. Mereka tak peduli nama dari si pengirim dan penerima. Pelanggan hanya perlu memberitahukan lokasi pengiriman, (misalnya kalau di Jakarta, minta dikirimkan dari Tanjung Barat ke sebuah gedung kantor di Sudirman). Selanjutnya, “manajemen” dabbawalla yang akan memberikan kode sesuai sistem mereka sendiri. Berikut contoh kode dabbawalla yang dicat di atas rantang, berikut penjelasannya.
Kode dabbawalla
Data diaptasi dari mumbaidabbawala.org
Dalam kasus di atas, rantang dikirimkan ke sebuah gedung bertingkat. Dalam kasus gedung bertingkat, biasanya rantang hanya disampaikan di lantai dasar, untuk kemudian diambil oleh pegawai bersangkutan.
Menurut diskusi saya dengan kolega kantor tadi, tidak pernah terjadi kesalahan selama enam tahun dia menggunakan jasanya ketika masih di Mumbai dulu. Tingkat kesalahannya hanya satu dari 16 juta pengiriman. Padahal, setiap harinya ada 200.000 rantang yang dikirim dan katanya mereka tidak berhenti bekerja walaupun dalam badai monsoon sekalipun. Mereka juga bekerja tanpa kendaraan bermotor. Mereka mengandalkan jalan kaki, sepeda atau gerobak. Terbayang laju yang tidak cukup cepat, tetapi tetap sampai pada tujuan tepat waktu.
Distribusi rantang makan ala Mumbai ini juga tidak menggunakan teknologi tinggi seperti reservasi internet atau alat-alat canggih lainnya. Sebuah kenyataan menohok bagi kita barangkali yang selalu memuja perkembangan teknologi seluler!
Sistem kerja dabbawalla ini sangat tersohor di dunia bisnis karena konsepnya yang dekat dengan logistik dan supply chain management. Beberapa pekerja dabbawalla bahkan sempat diundang ke seminar-seminar dan kuliah-kuliah bisnis di India untuk menjelaskan konsep mereka bekerja kepada para mahasiswa modern. Perlu diingat bahwa pekerja dabbawalla bukanlah individu berpendidikan tinggi (rata-rata berpendidikan SMP) dan tidak ada manajemen resmi, apalagi perusahaan yang mengatur semua ini.
Penghasilan yang didapat oleh masing-masing dabbawalla per bulan paling rendah adalah US$40 (Rp360.000) sampai US$80 (Rp720.000). Beberapa ada yang mendapatkan Rs. 5.000 – 6.000 (Rp 971.000 – 1.100.000).
Terbukti, bisnis dabbawalla ini memiliki banyak keunggulan dan manfaat. Ia merupakan bisnis yang rendah investasi, minim teknologi, ramah lingkungan, tetapi sangat efisien dan efektif, sangat berdedikasi, memberikan 100% kepuasan pada pelanggan dan dengan tingkat kesalahan yang hampir nihil.
Wajar jika mereka saya juluki ksatria, karena berkat pengorbanan dan dedikasi mereka, warga Mumbai dapat menikmati makan siang murah, sehat dan teratur setiap hari.
Seusai berbincang dengan kolega kantor, saya menatap kembali piring kosong di depan saya sisa makan siang kami hari ini dan berharap makanan yang baru kami santap telah diantarkan oleh seorang dabbawalla pertama di Jakarta…

  • Disunting oleh ARW 30/03/2011

Ransel Kecil di The BOBs

Penghargaan blog The BOBs oleh Deutsche Welle
Berita menggembirakan datang malam kemarin dari panitia penghargaan blog The BOBs, yang diorganisir oleh Deutsche Welle, sebuah kantor berita/media dari Jerman: Ransel Kecil menjadi salah satu dari 11 nominasi untuk kategori Blog Indonesia terbaik (“Best Blog Indonesian”). Selanjutnya, untuk bisa memenangkan penghargaan ini ada dua jalur, yakni BOBs User Prize yang dilihat dari jumlah pemilih terbanyak dari sesi jajak pendapat sampai 11 April, lalu BOBs Jury Prize yang ditentukan oleh panelis juri, dan pemenangnya akan diundang ke Bonn, Jerman untuk menerima hadiahnya.
Kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih atas kontribusi, saran, kritik dan dukungan teman-teman pembaca sekalian selama lebih dari satu tahun blog ini berdiri.
Dengan segenap hati, kami mengajak teman-teman untuk membantu kami mendapatkan BOBs User Prize dengan memilih kami di jajak pendapat the BOBs sampai 11 April 2011.
Bagaimana caranya? Tinggal klik di sini, sign in melalui Facebook atau Twitter dan pilih kami dari kategori “Best Blog Indonesian”. Anda bisa melakukan pemilihan setiap 24 jam sekali, jadi, tolong bantu kami!
Terima kasih sekali lagi!

Menjadi Orang Danau di Kashmir

Perahu di Dal Lake, Kashmir
Saat saya terbangun pada pagi pertama saya di Dal Lake yang terletak di negara bagian Kashmir, saya merasa seperti berada di rumah di Jakarta. Saya mendengar suara adzan subuh bersahut-sahutan di danau. Bedanya, danau tersebut baru sepi kembali setelah pukul enam pagi. Seiring matahari menampakkan diri, kecantikan gunung Himalaya yang berpucuk salju pun mulai terlihat.
Di antara kami berempat, saya mungkin yang paling tidak banyak tidur selama tinggal di Dal Lake, danau kedua terbesar di Srinagar, ibukota musim panas untuk negara bagian India paling utara, Kashmir. Walaupun suhu di luar sangat dingin untuk saya yang biasa hidup di negara tropis, saya selalu bangun paling pagi dan tidur paling malam. Saya sangat menikmati duduk di teras depan, menonton langit berubah warna dan warga danau yang lalu lalang dengan perahu tradisional mereka, shikara.
Perajin di Kashmir
Kalau berkunjung ke Kashmir, tinggal di rumah perahu adalah pengalaman unik yang harus dicoba. Di Dal Lake, ada sekitar 500 keluarga yang tinggal di atas rumah perahu (houseboat). Setiap rumah perahu sudah dipalang sedemikian rupa sehingga tidak akan bergoyang kalau kita berjalan-jalan di atasnya. Memang, ruang gerak jadi terbatas karena kita tidak bisa melangkah kaki keluar begitu saja untuk jalan-jalan. Namun lokasi Dal Lake yang dikelilingi pegunungan Himalaya membuat betah untuk diam berlama-lama. Biaya penginapannya juga tidak mahal. Ketika saya menginap dua malam di sana, saya hanya membayar Rs. 4000 (sekitar Rp800.000). Biaya ini termasuk makan pagi, makan malam, dan tur sehari ke tujuan pilihan.
Rumah Sampan di Kashmir
Karena mereka sudah sekian lama tinggal di danau, unit-unit kecil masyarakat pun sudah terbentuk untuk mempermudah kehidupan mereka. Inilah warna kehidupan orang danau. Mereka tidak harus pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dari pasar apung, toko obat, warung sampai bank, semuanya lewat di depan rumah perahu tempat kami tinggal.
Setiap rumah perahu di Dal Lake punya nama, mulai dari “Morning Glory” hingga “Bob Marley”. Rumah perahu pilihan kami kebetulan punya nama yang sederhana, “Bul-Bul”, sesederhana hidup keluarga Ahmad yang mengurusnya. Walaupun sederhana, nama itu cukup berkesan untuk saya, karena di Kashmir inilah kali pertama saya melihat burung Bul-Bul yang mungil dan memiliki jambul melengkung di kepalanya.
Kashmir adalah negara bagian dengan mayoritas Muslim terbanyak di India. Di India, nama negara bagian ini dikenal sebagai Jammu dan Kashmir, jadi jangan bingung kalau kamu akan sering melihat akronim J&K di sekitar kota Srinagar.
Orang-orang yang saya temui menyebut diri mereka orang Kashmir (Kashmiri), bukan India (Indian). Mayoritas Muslim di Kashmir menjunjung tinggi budaya Sufi, menjadikan kehidupan sehari-hari mereka damai. Walau begitu, saya menangkap adanya kegelisahan seiring krisis politik yang kerap melanda daerah ini. Sampai saat ini, Kashmir menjadi wilayah sengketa antara India dan Pakistan. Wajah cantik Kashmir menyimpan banyak konflik berdarah yang puncaknya terjadi pada tahun 1990, dimana terjadi kerusuhan dan serangan bom oleh pemerintahan India.
Tahun lalu, Kashmir mendapat peraturan jam malam dari pemerintah India karena banyaknya demonstrasi dan peledakan bom oleh gerakan separatis di beberapa kota kecil di sekitar lembah tersebut. Selama enam bulan, kondisi industri pariwisata di Srinagar menurun drastis karena tidak ada turis. Anak lelaki tertua keluarga Ahmad kemudian pindah keluar kota untuk menjalankan bisnis lain. Menurut keluarga Ahmad, saat ini bisnis pariwisata sudah mulai bangkit semenjak peraturan tersebut dicabut bulan Januari lalu. Namun saya sendiri jarang sekali melihat turis di seputar Srinagar. Mungkin banyak yang menganggap lokasi tersebut tidak aman. Bahkan ketika kami baru mendarat di bandara internasional Srinagar, suasana cukup terasa tegang karena bandara dan jalan utama dijaga ketat oleh tentara India.
Karena lokasinya yang berada di kaki Himalaya, Kashmir menyimpan potensi pariwisata yang unik dari wilayah-wilayah lain di India. Di Srinagar sendiri, ada empat taman cantik warisan pemerintahan Mughal yang menguasai India sejak 1526 selama lima abad. Di taman Chesmashahi, ada mata air pegunungan yang dulu dianggap suci. Dari taman Nishat dan Shalimar, kita bisa melihat Dal Lake dari atas karena lokasinya di lansekap bukit. Yang paling unik adalah Tulip Garden, yang hanya dibuka ketika tulip berkembang setiap bulan Juni selama lima belas hari setiap tahunnya.
Ada juga situs-situs suci yang menjadi kebanggaan orang Srinagar. Salah satunya adalah masjid putih Hazratbal yang terletak di pinggir Dal Lake. Masjid ini dibuat sebagai tempat penyimpanan janggut nabi Muhammad. Saya sempat mengunjungi masjid tersebut. Awalnya, saya tertegun melihat pintu masuk masjid yang dijaga tentara.
Why do they guard the mosque?” tanya saya kepada seorang penduduk Dal Lake yang juga teman baru saya. “Craziness.” jawabnya. Sebagai orang Muslim, menjadi bagian dari umat minoritas adalah hal yang baru untuk saya, dan ini adalah pengalaman berharga yang saya dapat di Srinagar.
Walaupun dijaga ketat, semua orang tetap bisa keluar masuk dengan leluasa. Saya sempat sedih ketika melihat larangan perempuan masuk ke dalam masjid. Namun ternyata, ada bagian khusus yang dibangun untuk perempuan, jadi bukan dipisah oleh hamparan kain seperti masjid umumnya di Jakarta.
Bahkan ketika pukul sepuluh pagi, banyak yang mengunjungi masjid ini untuk beribadah. Beberapa di antara mereka duduk di atas rumput halaman masjid untuk shalat dan berdoa. Saya pun ikut-ikutan duduk di rumput. Tanahnya dingin dan bersih. Karena lokasinya di pinggir danau, suasananya sangat tenang. Rasanya damai sekali dan tidak ingin pergi. Dan yang jelas, saya bisa merasakan atmosfir kecintaan terhadap Islam yang sangat tebal. Ada seorang bapak yang berkendara motor dan berhenti sejenak di depan masjid untuk berdoa dan menyampaikan penghargaannya. Saya melihat dua orang ibu berjalan mundur ketika mereka meninggalkan masjid supaya tidak membelakangi situs suci tersebut.
Dari Srinagar, ada beberapa tur sehari untuk diikuti. Kita bisa memancing ikat trout, atau sekadar trekking di Himalaya. Saya dan teman-teman pergi ke Sonamarg, sebuah kota kecil sekitar tiga jam perjalanan dari Dal Lake, dimana kita bisa menikmati sisa-sisa salju musim dingin. Kebanyakan turis pergi main ski di Gulmarg, kota lain yang juga berjarak tiga jam perjalanan. Kota-kota ini terletak di lereng gunung, sekitar tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Supaya tidak salah kostum (seperti saya!), jangan lupa untuk memeriksa temperatur lokasi sebelum waktu ketibaan kita di Kashmir.
Walaupun banyak hal yang bisa dilihat, hal-hal yang paling saya ingat jsutru adalah waktu yang saya habiskan di rumah perahu Bul-Bul. Menonton cricket (mereka terkejut ketika tahu kami tidak pernah main cricket), mendengarkan cerita rakyat (Dal Lake adalah danau yang dibuat oleh laki-laki bernama Kash untuk perempuan yang dicintainya, Mir), belajar bahasa Kashmiri sembari minum teh Kashmir (kahwa) untuk menahan dingin.
Mereka juga tidak materialistis hanya karena kami turis. Beberapa kali, keluarga Ahmad justru membantu kami menawar harga belanjaan dengan alasan, orang lokal harus menghargai tamu agar mereka mau datang lagi. Sewaktu akan bertolak ke Sonamarg, kami meminta mereka menyiapkan makan siang.
How much will our lunch cost?” tanya saya kepada salah seorang anak keluarga Ahmad. “A couple of euros, or poundsterlings,” jawabnya bercanda. Jawaban yang sama juga diberikan ketika saya bertanya berapa biaya ekstra yang harus kami bayar untuk kunjungan ke masjid Hazratbal dan tur keliling danau naik shikara di pagi terakhir kami di Kashmir. Pada akhirnya, mereka hanya meminta tambahan Rs. 500 (sekitar seratus ribu rupiah) untuk biaya makan siang kami berempat. Dua wisata terakhir yang tidak termasuk biaya akomodasi malah digratiskan.
Disinilah saya merasa terkesan dengan kesederhanaan hidup mereka. Tidak banyak barang yang bisa disimpan di dalam rumah perahu, tapi begitu banyak kenangan yang dibagikan untuk setiap tamunya. Mereka juga meminta saya menulis pesan dan kesan dalam bahasa Indonesia di buku tamu untuk diperlihatkan kalau nanti ada orang Indonesia yang berkunjung ke sana.
Oh ya, satu catatan penting kalau kita berkunjung ke Kashmir, pastikan kita sudah mengatur waktu pulang sejak awal. Keketatan pengamanan di bandara Srinagar bisa menyita waktu dua-tiga jam, karena ada banyak pos pemeriksaan yang harus dilewati. Waktu kami akan pulang, kami melewati sekitar lima pos pemeriksaan. Itupun kami beruntung karena supir kami memiliki authorized pass untuk melewati dua gerbang penjagaan sebelum masuk bandara, sehingga kami bisa check in tepat waktu.
Selain dipenuhi tentara, banyak burung beterbangan di dalam bandara Srinagar. Sungguh pengalaman yang berbeda.
Ketika menunggu panggilan boarding, saya melihat seekor burung berjambul yang bertengger di atas papan pengumuman. Seperti diingatkan akan waktu yang saya habiskan di rumah perahu Bul-Bul, saya pun tersenyum. Kalau ada kesempatan kembali, saya tahu di mana saya akan tinggal.

  • Disunting oleh SA 22/03/2011
Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil