Artikel-artikel dari bulan Februari 2011

Dunia Baru

Sudut kota San Francisco

Hampir setiap tengah malam, saya terbangun dari tidur. Udara terasa begitu dingin, dan suara mobil terdengar lalu lalang di kejauhan. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sadar bahwa saya tidak berada di rumah. Saya meringkuk di atas ranjang yang terletak di apartemen, dan mengendus aroma ruangan yang mungkin masih tercium berbeda walau sebenarnya saya sudah mulai terbiasa. Dinginnya terasa berbeda, begitu juga dengan udara luar yang tercium sampai ke dalam. Ternyata roommate saya membuka jendela kamar. Ketika saya melihat ke luar jendela yang terbuka, terlihat jelas jalanan lengang, beberapa bangunan bertingkat yang saya tidak familiar sebelumnya. Ya, saya berada di tempat asing.

Hampir satu bulan berselang semenjak saya meninggalkan Jakarta, Indonesia. Saya ingat, pada hari itu semuanya terasa begitu sulit. Perasaan hati campur aduk, di antara kesedihan yang amat sangat terselip secercah harapan akan sesuatu yang lebih baik. Hari demi hari yang semakin merapat selalu mengingatkan saya bahwa saya akan meninggalkan keluarga dan sahabat tercinta, dan saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa itu tidak apa. Negeri Paman Sam tidak jauh, hanya selang terbang sehari. San Francisco sesungguhnya dekat, hanya ketakutan dan kesedihan yang membuat jarak jadi begitu terasa.

Caffe Triste

Setelah terbang kurang lebih dua puluh jam, saya sampai. Mungkin benar kata para petualang, San Francisco sangatlah indah. Tak henti-hentinya saya bergumam dalam hati, bahwa kota ini mungkin adalah salah satu ‘hadiah’ yang diberikan bumi kepada Amerika. Sebuah pahatan alam yang terasa nyata di dalam hiruk-pikuk kota modern, di antara penghuninya yang bekerja dan bermain siang maupun malam, di antara udara sejuk yang bergumul dengan hangatnya sinar matahari pantai barat, dan di atas bukit-bukitnya yang selalu menciptakan bayangan panjang dari gedung-gedungnya yang tinggi menjulang. Saya langsung jatuh cinta. Seperti laiknya pendatang yang mengarungi samudera dan udara, seberapa lama-pun perjalanan mereka, lelah terobati ketika samar-samar lampu gemerlap tampak di bukit-bukit. Kabut tipis datang dan menciptakan ilusi magis. Burung camar berterbangan di teluk yang terletak di sisi jalan bebas hambatan, berkicau menyambut pendatang untuk bersenang-senang.

Lalu Lintas di Jembatan Golden Gate

Garis langit San Francisco di malam hari

Lalu lintas di San Francisco

Distrik Bisnis di San Francisco

Sebagai calon pelajar yang akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga setengah tahun, saya memiliki banyak waktu untuk menjelajahi kota. Dan dengan demikian tak perlu terburu-buru. Namun tetap naluri wisatawan mendominasi diri. Dan karena saya datang bersama paman—yang hanya akan berada di kota selama dua minggu—maka semakin lengkaplah nafsu untuk berplesir. Perjalanan saya di kota ini diwarnai oleh kekaguman sekaligus keterkejutan yang datang silih berganti. Misalnya, saya terkejut akan bedanya pecinan di San Francisco dengan pecinan Jakarta. Pecinan San Francisco terasa seperti dunia lain. Sebuah daerah masyarakat Cina yang terkonsentrasi, di mana para penghuninya tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali untuk bercakap-cakap, menyerahkan bon restoran dengan aksara Cina, serta adanya kebiasaan meludah di pinggir jalan. Sangat aneh untuk saya, yang terbiasa dengan pecinan di Jakarta (Indonesia) di mana komunitas Tionghoa-nya bisa berbahasa Indonesia dan membaur dengan masyarakat setempat. Terlalu dini untuk menilai apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang positif maupun negatif, namun ‘kejanggalan’ itu tetap membuat saya berdecak.

Amerika memang sebuah ‘benua baru’. Sebuah keajaiban yang seperti dihadiahkan kepada bangsa Eropa ratusan tahun yang lalu, walau demi itu mereka membunuh sebuah peradaban tua yang sudah menempati benua ini sebelumnya. Apa yang ada di pikiran Christopher Columbus ketika ia melihat sebuah daratan di barat, setelah berbulan-bulan mengarungi samudera tanpa beristirahat? Apakah ia melihat sebuah cikal bakal negara adidaya? Sebuah Romawi modern. Sulit dibayangkan bahwa negara ini dibangun dan berdiri di atas tanah ‘baru’. Memang, sejarah peradaban dunia tidak pernah lepas dari penaklukan dan perebutan wilayah, serta pembantaian besar-besaran. Namun tetap saja pencapaian yang diraih Amerika berhasil membuat hati saya ciut. Ada di antah berantah mana saya sekarang? Dunia ini baru buat saya, dan saya merasa sungguh kecil.

Walau demikian, di antara perasaan tertinggal dan galau yang kerap menghampiri, saya tak kuasa untuk mengagumi setiap sudut kota ini. San Francisco terasa sangat romantis. Ia cantik laiknya seperti seorang putri yang menggeliat bahagia ketika pagi tiba, dan bersolek nakal ketika malam datang. Ia sejuk dan terkadang dingin menggigit pada waktu tertentu, namun kembali menghangat ketika matahari bersinar cerah tanpa awan. Selusuri jalanan ramai di pecinan dan anda akan bersua dengan wajah-wajah tua ras Asia, yang seakan baru saja mengadu nasib di negeri ini beberapa hari yang lalu. Anda juga akan menemukan ratusan galeri seni yang tersebar di seluruh kota, mungkin minimal dua galeri pada setiap blok-nya, memajang hasrat kreatif yang menggebu-gebu ingin diapresiasi. Di antara pencakar langit yang menjulang tinggi, anda bisa menangkap siluet tipis Bay Bridge berdiri di atas laut. Tengadahkan kepala anda setiap saat, dan bila beruntung anda akan menyaksikan burung-burung camar yang terbang beriringan, mungkin mereka berusaha menghindari kabut dingin yang datang dari teluk. Atau jika anda berkelana lebih jauh lagi ke selatan, anda akan disambut oleh bendera raksasa bermotif pelangi, silahkan tersenyum dan selamat datang sekali lagi ke San Francisco.

Tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa ‘tiada waktu terbuang di San Francisco’. Setiap detiknya adalah santapan lezat, pemandangan indah yang selalu menghampiri, dan inspirasi tiada henti.

Panorama Jembatan Golden Gate

Baru kemarin, saya terbangun lagi dari mimpi. Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dingin masih menusuk, langit gelap, dan teman-teman saya terlelap. Saya melihat ke arah luar jendela, dan tampak bulan sabit bersinar terang. Bintang bersinar cerah seperti biasa, tanda bahwa kota ini baru selesai berpesta. Saatnya San Francisco, putri yang cantik, untuk tidur dan menyambut pagi yang sebentar lagi tiba. Siapa tahu, sewaktu matahari menyambut saya di antah-berantah, saya akan semakin berbahagia.

Disunting oleh SA 14/02/2011


Jalan Panjang ke Kawah Ijen

Belum pukul delapan ketika kami berempat akhirnya diturunkan Pak Nurul Anshori di depan pos ojek Tamansari, Jambu, Banyuwangi. Tujuh belas kilometer dari Kawah Ijen. Selanjutnya kami harus menumpang truk pembawa belerang ke Paltuding, titik awal pendakian Gunung Ijen.

Kawah Ijen 17km

Sebelumnya, dari Sasak Perot kami menumpang angkutan pedesaan (angdes) yang dikemudikan Pak Nur. Di atas pick-up Daihatsu, yang baknya sudah dimodifikasi itu, kami berhimpit-himpitan bersama beberapa penduduk sekitar yang baru kembali dari pasar. “Angkutan dari Sasak Perot ke Jambu semakin jarang,” ujar Pak Nur tadi. “Kalah saing sama sepeda motor. Sekarang setiap orang bisa saja menjadi tukang ojek.”

Sebelum melompat ke atas mobil Pak Nur, saya sempat dibuat kesal oleh beberapa orang tukang ojek yang memaksa kami untuk menumpang motor mereka. Berkali-kali mereka membual bahwa tidak ada angkutan ke Tamansari. Bahkan ketika akhirnya ada angdes yang berhenti, para tukang ojek ini berkongsi dengan sopirnya untuk menaikkan ongkos gila-gilaan. Tarif yang seharusnya Rp. 7.000/orang naik drastis menjadi Rp. 25.000/orang. Kami beruntung karena menyetop Pak Nur, beliau mematok tarif biasa.

Pagi itu Tamansari tampak lengang. Semua warung dan kios masih tutup. Jalanan sepi. Dari tadi hanya beberapa motor tua yang lewat. Di belakang pos ojek tersebut terhampar luas kebun cengkeh milik Perkebunan Lidjen. Pepohonan cengkeh di sana kebanyakan sudah tua dimakan usia.

Di pos ojek itu kami berkenalan dengan Pak Abidi, seorang penambang belerang. Beliau sangat ramah dan murah senyum. “Saya sudah sembilan belas tahun,” jawab Pak Abidi sambil tersenyum bangga ketika ditanyai sudah berapa lama menjadi penambang. Kata beliau, sekarang para penambang sedang senang karena baru-baru ini harga belerang naik Rp. 50, dari Rp. 600/kg menjadi Rp. 650/kg. Dalam sehari seorang penambang bisa membawa turun lebih dari satu kuintal bongkahan sulfur padat.

Penambang belerang istirahat

“Semua tergantung kekuatan. Kalau kuat, ya, bawa pulang banyak. Kalau sedang tidak fit tentu cuma bisa bawa sedikit,” lanjut Pak Abidi.

Sekitar pukul setengah delapan truk pembawa belerang muncul. Bak birunya sudah dipenuhi para penambang lain yang juga akan mencari nafkah pagi itu. Kami berempat melompat naik ke atas bak truk. Kemudian truk tersebut menderu ke arah Paltuding. Melewati perkebunan cengkeh, berganti menjadi perkebunan kopi, kemudian tanpa diduga menelusup ke kanopi rerimbunan hutan raya.

Truk seringkali terguncang-guncang karena mulai dari awal kebun kopi jalanan mulai berantakan. Aspalnya jebol dan hancur di mana-mana. Di pertengahan jalan, truk kami berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang kerepotan mendorong motor rusak akibat tidak kuat menanggung medan yang ekstrem. Jelas rute ini kurang sesuai jika dijajal touring sepeda motor.

Pangkalan penambang di Paltuding

Satu jam kemudian kami tiba di Paltuding. Truk berhenti di halaman sebuah pondok yang digunakan untuk menimbang bawaan para penambang belerang. Pagi itu sudah banyak pikulan yang keranjangnya penuh oleh bongkah belerang. Mereka ditaruh di sekitar pondok, menunggu untuk ditimbang.

Selain yang berangkat pagi-pagi, ternyata juga banyak para penambang yang bermalam di sekitar lokasi penambangan. Tidak puas dengan bawaan siang, sebagian rela lembur demi mendapatkan uang lebih. “Ada yang bermalam di Paltuding, ada juga yang di Pondok Bunder,” ujar Bu Yati, seorang pemilik warung di depan pondok penimbangan belerang. Kami sarapan dulu di warung milik Bu Yati. Harga makanan di sana murah sekali; nasi telor dengan mie dan kering tempe dijual Rp 3.000. Beliau menambahkan, “Jangan khawatir, Dik. Di atas sana (Pondok Bunder) masih ada warung, kok.”

Syarat mendaki ke Kawah Ijen gampang saja. Anda hanya perlu mengisi buku tamu kemudian membayar biaya retribusi Rp 4.000/orang. Jika membawa kamera anda diwajibkan membayar ekstra Rp 3.000/kamera.

Jalan tanah curam dan panjang

Dari Paltuding rute hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 3 km menyusuri jalan tanah yang lumayan lebar. Dua per tiga trek awal–dari Paltuding sampai Pondok Bunder–lumayan terjal. Sepertiga terakhir, mulai dari Pondok Bunder sampai ke bibir kawah, trek berubah menjadi landai. Yang seru adalah jalur dari bibir kawah sampai ke bawah, lokasi penambangan belerang. Mengingatkan saya pada summiting Gunung Merapi, Jawa Tengah, dari Pasar Bubrah ke Puncak. Total waktu trekking sampai turun ke kawah adalah sekitar tiga jam.

Tiap sebentar kami berpapasan dengan para penambang yang tampak kesusahan memikul keranjang belerang masing-masing. Sesekali, di antara derit bambu pikulan dan langkah-langkah kecil kepayahan mereka, para penambang menawarkan dagangan sampingan, “Kembang belirang, Mas?”

Kawah Ijen

Ketika akhirnya tiba di bibir Kawah Ijen, saya terpana mendapati kombinasi menawan antara toska, abu-abu, putih, dan biru langit. Kawah Ijen berdiameter sekitar 1 km. Titik terdalamnya adalah 175 m. Pemandangan yang tidak biasa. Pantas saja Lonely Planet edisi Indonesia menobatkannya sebagai salah satu dari empat top volcanoes di Pulau Jawa.

Dari bibir kawah kami berempat melanjutkan perjalanan ke bawah, ke lokasi penambangan belerang. Fase inilah yang paling berat. Untuk turun kami harus menembus asap belerang coklat pekat yang menghambat padangan dan pernapasan. Asap tebal dan jalur kecil nan terjal membuat perjalanan ini menjadi mengerikan. Berkali-kali langkah saya terhenti di antara boulder besar andesit. Mata ini terasa pedas. Udara juga susah untuk dihirup. Apalagi kami harus berbagi jalan dengan para penambang. Salah-salah melangkah alamat tamat ditelan jurang.

Perjalanan ke Kawah Ijen

Di tengah asap tebal itu jalan kami hanya dituntun oleh keranjang-keranjang penuh belerang para penambang yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Untuk menghemat waktu, para penambang sengaja membawa dua set keranjang bambu sekaligus. Keduanya akan dipikul secara bergantian. Bolak-balik memang, tapi rasa-rasanya itu cara yang paling efektif untuk menghemat waktu dan tenaga.

Pikulan Belerang

Saya senang sekali ketika akhirnya keluar dari cekikan asap belerang, sampai juga kami di bawah. Genangan raksasa berwarna hijau toska sudah di depan mata. Dengan riang kami meniti jalan setapak melewati aliran air panas, tantangan terakhir sebelum tiba di lokasi penambangan.

Bersama Pak Tasripan

Ketika kami tiba hanya tampak satu orang di sana. Dia sedang sibuk mengutak-atik sebuah pompa air. Namun tidak ada lagi aktivitas penambangan belerang, semuanya sudah ke bawah kecuali bapak itu. Namanya pak Tasripan. “Saya nanti jam empat turun ke Pos Bunder. Malam ini mau menginap di sana saja,” ungkapnya. “Oh, iya. Besok Jumat nggak ada yang nambang.”

Pak Tasripan berbaik hati mengambilkan lelehan belerang yang sudah membeku dari bibir pipa untuk kami. Dengan gesit beliau menembus asap panas, meruduk ke bawah pipa besi yang mengalirkan belerang. Terjawab sudah mengapa ekspresi Pak Tasripan selalu meringis, itu adalah sikap defensif terhadap hawa panas yang dikobarkan asap sulfur.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tidak lama lagi asap belerang akan semakin pekat. Kami tidak mau mengambil risiko, waktunya pulang. Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan salam perpisahan ke Pak Tasripan, kemudian kembali meniti jalan terjal berbatu ke bibir kawah. Dan turun dari haribaan Gunung Ijen, Si Gunung Kesepian.

Disunting oleh ARW 11/02/2011


Munich, Kota Para “Biksu”

Marienplatz Town Hall
Marienplatz Town Hall, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Munich atau Munchen berasal dari kata “Munch” yang berarti biksu atau pendeta. Satu fakta yang menarik dari kota ini adalah bir. Bukan dari rasa saja, namun dari sejarah dibalik pembuatannya. Ketika orang-orang Eropa bermigrasi ke Munich untuk belajar teologi, kota ini dipenuhi para pendeta/calon pendeta. Bahkan penentuan lokasi pembangunan gedung-gedung di pusat kota disesuaikan dengan letak gereja terbesar di sana. Sebagai calon pendeta, hal-hal yang berbau duniawi tentu saja dilarang, kecuali minum bir. Para calon pendeta ini kemudian menciptakan bir mereka masing-masing dan diberi nama sesuai dengan “pemimpin” mereka. Paulaner untuk pengikut Santo Paul dan Agustiner untuk pengikut Santo Agustin. (Paulaner Brauhaus bisa ditemui di East Mall Grand Indonesia, Jakarta).

Sampai sekarang, baik Paulaner maupun Agustiner merajai pasar bir di Munich. Di pusat kota Munich, Marienplatz, restoran khas Bavaria, Agustiner, menggunakan gedung bekas seminari masih lengkap dengan patung-patung kayu malaikat. Saya ditemani seorang wartawan kenalan saya, Sonja Gibis. Dialah yang menceritakan kisah di balik restoran tersebut.

Boot di Mittenwald
Foto oleh Dita Ramadhani

Sebagai sebuah kota, Munich merupakan kota tua yang sangat rapi dan “berkelas”. Bayangkan saja betapa kagetnya saya ketika naik taksi Toyota hybrid Prius. Di Indonesia yang punya mobil ini masih sangat jarang. Di sana armada taksi menggunakan mobil-mobil mewah keluaran VW, Mercedes, BMW dan Volvo. Nyaman? Pasti!

Satu pengalaman menarik yang saya dapati di kota Munich adalah “para peselancar” sungai. Di Eisbach, sebelah Haus der Kunst ada sebuah jembatan yang dilewati sungai buatan. Entah tahun berapa sebuah bendungan dibangun. Akibat aliran sungai yang deras, bendungan itu menjadi semacam tembok yang membuat air sungai “terbentur” dan kembali ke arah air datang. Di titik inilah, orang-orang mulai mendapat ide untuk berselancar di sungai. Yang lebih gila lagi, suhu air sungai tersebut bisa mencapai empat derajat celcius atau lebih rendah dari itu. Para peselancar wajib menutupi seluruh bagian badan mereka.

Pegunungan Alpen Mittenwald
Pegunungan Alpen, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Selain menjelalah kota Munich dan beberapa museum seperti Alte Pinakhotek dan Pinakhotek der Moderne, saya menyempatkan diri ke Mittenwald, sebuah kota perbatasan Jerman dan Swiss. Yang menarik di sana tentu saja pegunungan Alpen. Waktu kecil salah satu buku favorit saya adalah Heidy dari Alpen. Saya selalu membayangkan pegunungan Alpen yang dingin, penuh domba, rerumputan, serta bunga-bunga kecil. Citra pegunungan Alpen begitu identik dengan salju dan dingin. Ketika saya berkunjung ke sana, Alpen masih hijau, hanya puncak-puncaknya yang mulai memutih oleh salju.

Hari Gereja di Mittenwald
Hari Gereja, foto oleh Jimmy Syahirsyah

Udara hari itu cukup hangat. Yang saya sayangkan saya datang di hari gereja. Kota itu sepi, hampir semua toko dan restoran tutup, penduduk berada di gereja untuk berdoa meminta kebaikan untuk keluarga atau kenalan mereka yang sudah tiada. Saya tidak patah semangat dan tetap berjalan ke atas, berharap kantor turis dan kereta gantung beroperasi. Sesampainya di atas, parkiran kantor penuh mobil, namun kereta gantung tidak bergerak. Ada alur jalan ke atas untuk para wisatawan yang ingin melanjutkan ke sisi yang lebih tinggi. Tapi saya tidak mencoba naik karena harus mengejar kereta pulang ke Munich yang memakan waktu hampir 3 jam. Jadi, yang saya lakukan adalah duduk-duduk memandang ke bawah. Melihat penduduk kota yang berpakaian serba hitam khusus hari itu, berkumpul di town hall dan berdoa. Pemandangan yang langka bagi saya.

Satu catatan penting jika berpegian ke Munich: urus multiple schengen visa! Dari Munich, Anda bisa ke Italia dengan kereta selama tiga jam dan Austria satu jam saja. Saya harus cukup puas dengan visa single entry dan melihat kemungkinan jalan-jalan menarik di luar kota Munich tapi tetap berada di dalam Jerman.

Sebelum pulang ke tanah air, saya memutuskan ikut tur ke kastil Neuschwanstein di Schwangau. Kastil inilah yang menginspirasikan Walt Disney menciptakan kastil Putri Tidur Aurora atau Kastil “Disney” yang selalu kita lihat di setiap film dan publikasi keluaran Disney. Saya tetap semangat menjelajah kastil meskipun hujan gerimis dan berkabut sepanjang hari. Ludwig II, raja yang memerintahkan pembuatan kastil tersebut adalah seorang eksentrik, individualis, homoseksual, dan kematiannya masih menjadi misteri hingga kini.

Kata teman jurnalis saya yang asli warga Munich, dibandingkan kastil lain di Eropa, Neuschwanstein adalah kastil “maksa”. Kastil ini dibangun saat Bavaria sedang mengalami krisis ekonomi, sehingga banyak memakai materi bangunan berkualitas menengah dan rendah. Ludwig II ingin mempersembahkan Neuschwanstein untuk teman baik sekaligus komposer terkenal asal Jerman, Richard Wagner. Ludwig II seorang pecinta opera. Cerita yang paling disukainya adalah Tristan dan Isolde (kisah cinta tragis yang mirip Romeo dan Juliet). Di kamar tidur sang raja ada mural yang bercerita mengenai Tristan dan Isolde dari awal hingga akhir cerita. Dia memiliki satu ruangan opera di dalam kastil. Penyanyi opera saat itu umumnya bertubuh besar dan subur. Sang raja menganggap hal itu tidak indah. Dia selalu memerintahkan penyanyi opera tidak beraksi di atas panggung. Mereka harus menyanyi dari balik layar atau sisi lain yang tertutup. Ludwig II juga tidak suka bertemu orang lain. Dia membuat sistem meja makan mekanik yang memungkinkan meja berisi makanan lengkap bisa ditarik muncul ke kamar tidurnya lewat lantai kamar. Sayang para pengunjung tidak diperkenankan memotret bagian dalam kastil, tidak ada gambar untuk memperlihatkannya.

Disunting oleh ARW 08/02/2011


© 2017 Ransel Kecil