Bulan: January 2011 (halaman 1 dari 2)

Satu Tahun Perjalanan

Pada hari ini satu tahun lalu, sebuah ruang baru di dunia maya terbuka. Ruang itu bernama Ransel Kecil. Seperti sudah kami kenalkan melalui tulisan perdana, ini adalah awal dari semua perjalanan impian kita semua!
Kisah blog ini memang berawal dari mimpi. Bagaimana bukan mimpi, dua orang pengelola blog ini adalah pemula dalam dunia perjalanan. Keduanya tidak dekat dengan agen perjalanan, bukan praktisi penerbangan/transportasi, dan juga tidak berkecimpung di dunia hospitality. Namun keduanya sangat antusias dengan perjalanan. Sigit adalah seorang desainer. Arif adalah seorang programmer-desainer-wirausahawan-dan-bapak-seorang-anak. Pekerjaan sehari-hari keduanya jauh dari dunia perjalanan. Dengan segala keterbatasan waktu, batasan karena urusan pekerjaan, keterbatasan biaya, dan urusan keluarga (bagi Arif), impian jalan-jalan banyak yang harus disimpan dahulu. Namun mereka tak bisa menyimpan impiannya untuk berbagi tentang perjalanan mereka. Tentu saja mereka juga ingin membaca dan terinspirasi dengan membaca cerita dari pelancong lainnya. Keduanya percaya setiap cerita perjalanan dari masing-masing individu mempunyai ruh untuk menginspirasi bagi kebaikan orang lain. Itulah niat dan misi singkat Ransel Kecil. Menginspirasi melalui berbagi cerita perjalanan.
Catatan perjalanan dua orang mungkin akan terbatas, namun catatan dari 15 kontributor akan membuat sebuah media berbeda. Dari 15 kontributor itu lahirlah 74 tulisan yang selalu memberi inspirasi setiap kita membaca. Dedikasi kami persembahkan kontributor kami (urut abjad): Arif Widianto, Dessy Tri Anandani Bambang, Dianing Ratri, Dita Ramadhani, Faramita Dewi, Fuji Adriza, Galih Suharjan, Isyana Artharini, Muhammad Arif, Pria Purnama, Rika Safrina, Samanta Limbrada, Sigit Adinugroho, Willy Irawan dan Yani Widianto.
Dari tangan-tangan 15 orang inilah kita bisa berbagi cerita tentang kota yang indah, makanan yang menggugah selera, penginapan yang menarik, hingga tempat dan kegiatan dari berbagai dunia. Dari 15 orang ini kita dibawa berkeliling dunia mulai dari ujung Pulau Sempu hingga pelosok hutan Kalimantan Barat; berkunjung ke negeri-negeri eksotis seperti Vietnam dan Kamboja; hingga dunia Barat yang menarik seperti Berlin dan Las Vegas; menikmati indahnya lanskap Vietnam hingga Norwegia; membayangkan lezatnya makanan dari Thailand dan Korea; dan juga menengok kegiatan Palebon (Ngaben) dan Nyepi di Bali.

Tapi akhirnya 74 tulisan tidak akan bermakna bila tidak ada yang membaca, dan untuk itulah ucapan apresiasi kami persembahkan pada pembaca Ransel Kecil. Menurut statistik dari Google Analytics: tak kurang dari 17.290 pengunjung mampir ke ruang ini, mencatatkan 35.064 halaman yang terbaca. Dari catatan terakhir, Ransel Kecil dikunjungi oleh 1.840-an pengunjung per bulan, semua itu membaca kira-kira 3.800-an halaman.
Terakhir, dalam perjalanan satu tahun ini, kami pengelola Ransel Kecil pasti ada banyak kekeliruan, kesalahan, atau kekhilafan. Bagi para kontributor mungkin ada yang kurang puas dengan cara kami mengedit tulisan, bagaimana kami memotong, mengubah redaksi tulisan, atau juga tidak menampilkan foto yang telah Anda buat dengan bagus. Bagi pembaca, mungkin kami kurang bagus dalam editan, kurang sopan dalam penyajian, atau mungkin ada kealpaan untuk membalas sapaan Anda. Untuk itu semua, kami mohon maaf. Kami berniat untuk memberikan yang terbaik. Tapi kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, untuk itulah kami menerima kritik dan saran dari Anda.
Sungguh perjalanan yang menarik dalam satu tahun ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana perjalanan Ransel Kecil di tahun yang akan datang. Pasti akan lebih menarik.
Anda tertarik untuk berbagai pengalaman perjalanan? Ayo, kami bersedia dan akan gembira menampungnya. Tulisan Anda pasti akan memberi impian dan inspirasi. Juga pihak-pihak lain yang ingin berbagi kepada pembaca Ransel Kecil, kami siap menyambut ajakannya.
Mari kita lanjutkan perjalanan!

Memburu Udang Raksasa


Suatu pagi di bulan Juli. Pak Adi tampak gagah dengan pakaian melautnya; kaos lengan panjang berkerah, celana training, dan sepatu boot. Beliau berjalan menyusuri jalan setapak menuju dermaga nelayan tradisional Teluk Karang. Saya dan Fajar mengekor di belakang karena pagi itu kami akan ikut melaut, menemani Pak Adi menjaring lobster.
Pak Adi adalah salah satu dari sekian banyak nelayan pemburu udang raksasa di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Di usia paruh bayanya beliau masih kuat melaut setiap pagi demi beberapa kilogram lobster. Biasanya Pak Adi ke dermaga mengendarai motor Jupiter MX kesayangannya. Namun karena hari ini kami ikut, beliau rela berjalan kaki.
“Perahu yang agak besar itu punya Lung Madi,” ujar Pak Adi ketika kami tiba di dermaga. Lung, bagi masyarakat Melayu Singkawang, merupakan panggilan terhadap orang yang dihormati. “Perahu saya yang itu.”
Perahu bermotor tempel Pak Adi panjangnya hanya sekitar tiga meter dan berwarna hijau pupus. Bagian haluannya dilukis membentuk kepala ikan hiu, dengan mata dan gigi yang sama tajamnya. Mesin tempelnya, tentu saja, berada di buritan.
“Airnya kita pompa dulu, baru kemudian kita melaut.” Pak Adi mengeluarkan sebuah pompa air paralon dari buritan. Sementara beliau memompa, saya dan Fajar membantu menimba air dengan botol bekas oli mesin. Sebentar kemudian air yang menggenangi dek sudah kering. Tambatan sudah dilepas dan kami siap untuk melaut.
Kami bertiga mendorong perahu kecil itu ke laut, lalu melompat ke atasnya. Setelah agak jauh dari dermaga barulah mesin dinyalakan dan perahu meluncur santai di laut yang tenang. Pemandangan pagi itu sungguh mengagumkan. Matahari baru saja muncul dari cakrawala, menyinari deretan batu granit raksasa yang memagari pesisir Teluk Karang dengan semburat jingga.

“Itu namanya Batu Peringgi,” kata Pak Adi sambil menunjuk sebuah batu besar seperti labu. Di dekat batu peringgi beberapa orang bercaping tampak sibuk melakukan sesuatu. “Mereka sedang mencari udang kecil,” jelas Pak Adi tanpa diminta.
Perahu terus meluncur. Batu Burung sudah terlewati dan sebentar lagi kami akan memapas Pulau Simping, pulau terkecil di dunia yang telah diakui PBB. Pulau Simping berada dalam kawasan Sinka Island Park yang dikelola oleh pihak swasta. Kawasan wisata ini komplit; ada pantai, kolam renang, taman Rindu Alam di puncak Gunung Kote, dan kebun binatang Sinka Zoo.
Di sebelah daratan, lereng Gunung Lapis tampak masih diselimuti kabut tipis sehingga obyek wisata Rindu Alam seolah-olah berada di atas awan.
Namun ada sesuatu yang aneh. Sampai saat itu saya belum melihat satu pun instrumen penangkap lobster. Penasaran, saya bertanya pada Pak Adi. Beliau lalu menjawab, “Cara menangkap lobster berbeda dengan menangkap ikan. Lobster ditangkap pakai labuh, jaring. Labuh ditaruh di laut, dibiarkan di sana, waktu melaut pagi-pagi begini labuh diangkat. Nanti lobsternya terperangkap di sana.”
Saya dan Fajar manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Tidak disangka-sangka pagi itu kami dapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru.
Ketika kami sedang asyik berfoto-foto, tiba-tiba Pak Adi memelankan laju perahu. “Nah, kita sudah sampai,” ujarnya. Sejurus kemudian beliau sudah sibuk menarik-narik dan memeriksa labuh. Perahu kecil itu bergerak pelan seiring tarikan demi tarikan.
Agak jauh ke tengah laut, kapal-kapal pukat tarik berseliweran dengan berisik. Tadi Pak Adi sempat menyinggung soal keresahan nelayan tradisional terhadap eksistensi kapal pukat tarik tersebut. Pukat tarik merusak ekosistem laut karena sistemnya “hajar bleh!”, semua diembat. Beliau juga menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut kebanyakan bukan dari Teluk Karang, “Mereka dari kampung yang jauh di selatan sana.”

Di labuh pertama hanya ada satu ekor lobster. Selebihnya hanya laba-laba laut, kepiting, ikan, tengkuyung, dan bulu babi yang terjaring. Kemudian kami meluncur ke labuh kedua.
Labuh kedua sedikit lebih baik, dapat dua ekor lobster. Kami diajari Pak Adi cara melepaskan lobster dari labuh. Triknya sederhana; cukup pegang punggungnya dan lepaskan tubuhnya dari jaring dengan lembut. Ekornya akan menggelepar-gelepar, tapi jika kau memegangnya dengan benar tidak akan sampai melukai tanganmu.
Peruntungan kembali memburuk di labuh ketiga, cuma dapat satu ekor. “Beginilah hidup nelayan. Kadang dapat banyak, kadang sedikit, kadang nggak dapat sama sekali,” jelas Pak Adi ketika mendapati muka kecewa kami karena tangkapan hari itu hanya sedikit. “Udangnya kita taruh di laut saja dulu. Jualnya sekalian saja sama tangkapan besok.”

Biasanya, jika cuaca bagus, dalam sehari Pak Adi bisa membawa pulang sekitar 2 kg lobster. Per kilogramnya dihargai sekitar Rp. 50,000. “Rekor saya 32 kg,” dengan senyum bangga beliau berkata. “Waktu itu saya sampai kesusahan membawanya pulang.”
Selain kenangan gembira itu Pak Adi juga pernah punya pengalaman buruk selama melaut. Beberapa tahun yang lalu, ketika istrinya ikut melaut, perahu kecil itu oleng, terbalik, kemudian tenggelam. Untung beberapa orang nelayan yang kebetulan sedang nongkrong di pantai melihatnya lalu bergegas menolong. Perahu dan istri beliau berhasil diselamatkan.
Ketika pantulan cahaya matahari sudah mulai membutakan, kami meluncur kembali ke daratan. Usai sudah perburuan lobster hari ini.
Tiba-tiba saya teringat kisah “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway. Pak Adi persis seperti si orang tua, melaut sendiri setiap hari tanpa ada kawan yang menemani.

Disunting oleh SA 22/01/11

Melintas Borneo Utara

Mesjid Omar Ali, Bandar Sri Begawan
Sejak tahun 2008 saya ingin mengunjungi Brunei Darussalam. Alasannya hanya karena jarang ada yang pergi ke sana dan penasaran seperti apa, karena tidak ada yang tahu. Akhirnya rasa penasaran itu terpenuhi pada bulan Desember 2010.
Karena cukup mahal untuk terbang langsung dari dan ke Brunei, serta karena ingin mengeksplorasi Borneo bagian utara, saya memperluas rute perjalanan menjadi: Pontianak — Kuching (Malaysia) — Miri (Malaysia) — Brunei — Labuan (Malaysia) — Kota Kinabalu (Malaysia), dengan total durasi tujuh hari. Tiket pesawat pun sudah dipesan sebelumnya untuk rute Jakarta — Pontianak, Kuching — Miri, dan Kota Kinabalu — Jakarta.
Mendekati hari-H, ternyata ada hal mendesak yang memaksa saya untuk menunda perjalanan sampai tanggal 22 dan mempersingkat lamanya menjadi lima hari saja. Saya harus mengganti rencana perjalanan dengan tiket Garuda Indonesia dan Air Asia yang sudah dibeli dengan biaya yang hampir sama dengan tiketnya. Tak apalah, daripada batal berangkat.
Perjalanan ini juga menjadi perjalanan solo saya yang pertama, meski di awal tahun 2010 saya pernah ke Banjarmasin sendirian untuk melihat pasar terapung Lok Baintan. Namun, itu hanya semalam dan dilakukan ketika saya ditugaskan di Balikpapan. Cukup deg-degan juga, apakah akan terasa sepi dan apakah akan aman-aman saja.
Tanggal 24 saya mengejar pesawat Garuda jam 6 pagi tujuan Pontianak. Sampai di Bandara Supadio saya langsung keluar untuk naik ojek ke pusat kota (Rp50.000). Di perjalanan, tukang ojek menawarkan untuk mengantar berkeliling. Setelah menawar, akhirnya saya setuju (Rp70.000).
Mesjid Terbesar di Pontianak
Saya diantarkan ke terminal bis Damri untuk memesan tiket bis ke Kuching, Malaysia nanti malam (Rp165.000), ke Tugu Khatulistiwa, ke rumah makan untuk mencoba Es Lidah Buaya (sangat menyegarkan!), dan ke Mesjid Jami. Ternyata, tukang ojek itu tidak membawa saya ke Mesjid Jami, dan malah membawa saya ke mesjid baru yang memang terbesar se-Pontianak. Dia juga lupa kalau hari itu hari Jumat dan harus shalat Jumat. Akhirnya dia meminta ongkos saat itu juga dan memutuskan segera mengantar saya pulang ke terminal bis Damri. Spontan saya marah karena perjanjian awalnya tidak begitu. Awalnya bahkan dia bilang setuju mengantar ke empat sampai lima tempat. Akhirnya saya mengalah dengan membayar tapi tetap minta diantar ke dermaga untuk naik sampan ke Mesjid Jami. Sebelumnya memang dia sudah mencoba untuk mengantar saya ke Keraton yang ternyata ada di samping Mesjid Jami. Namun, air pasang dan motor tidak bisa lewat. Sepanjang perjalanan dari bandara tadi memang banyak terlihat rumah dan ruko-ruko yang terendam air se-mata kaki.
Sekat Warna-Warni
Anak-anak di Pinggiran Sungai di Pontianak
Sampan ke Mesjid Jami bertarif Rp10.000 pulang pergi dan di depan mesjid saya bertemu dengan anak-anak kecil yang sedang bermain dengan membentangkan sarungnya di atas kepala sehingga tertiup angin kencang. Mereka menghampiri saya dan terlihat penasaran dengan “abang dari Jakarta” ini. Ada satu kakak-beradik kelas 1 SD dan 2 SD yang lucu dan saya ngobrol dengan mereka selama 10 menit, sebelum mereka ikut shalat Jumat.
Sederetan Kapal di Pontianak
Sampan, Pontianak
Pada dasarnya masyarakat di Pontianak itu cukup baik dan santun, meski kesimpulan saya adalah semakin suatu kota ramai dengan turis, semakin banyak penipu yang memanfaatkan ketidaktahuan turis. Sebelas-duabelas seperti Ho Chi Minh City (Vietnam) dan Yogyakarta.
Keraton di Pontianak
Mesjid Jami sendiri adalah mesjid tua yang cukup menarik, tapi saya tidak masuk karena sedang ada shalat. Sekitar 200m dari mesjid ada Keraton Pontianak yang hanya berupa rumah kuno saja tapi cukup menarik dan ada benda-benda bersejarah seperti Kaca Seribu dan Al-Qur’an yang berumur dua abad!
Es Nona di Pontianak
Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang angkot Gajah Mada untuk kembali ke terminal Damri dan istirahat di lantai atas. Sekitar pukul empat saya mandi lalu naik ojek ke Jl. Pattimura yang ada banyak tempat jajannya. Es Nona patut dicoba di sini. Karena itu adalah malam Natal, maka saya sempatkan ke gereja terdekat yang dijaga banyak polisi, ditutup dengan makan malam di warung kopi “Tubrux” yang menyediakan koneksi internet nirkabel gratis.
Pukul 10 malam bus saya baru berangkat setelah ditunda satu jam karena ada kemacetan. Saya sempat istirahat dulu di lantai atas dan berbincang-bincang dengan seorang supir bis asal Klaten dan penjaga warung asal Makassar. Perjalanan selama hampir sembilan jam itu saya lewati dengan tidur dan kondisi bus cukup nyaman dengan AC dan tempat duduk yang bisa direbahkan.
Saya sampai di perbatasan Entikong jam 6 pagi di hari Natal. Proses imigrasi berjalan lambat karena hanya ada dua loket. Kita harus jalan sendiri ke gerbang perbatasan, lalu mengantri imigrasi lagi di sisi Malaysia.
Sekitar jam 8 waktu setempat saya akhirnya tiba di Kuching dengan tanpa satu ringgit pun. Beruntung ada penukar mata uang asing di pujasera sebelah terminal. Saya langsung ke perhentian bis untuk mencari transportasi ke pusat kota. Ternyata di Kuching pun ada angkot berupa minivan. Saya memutuskan menaiki itu untuk ke daerah pasar.
Setelah berjalan kaki memikul ransel ke Serawak Museum, saya mendapati museum itu tutup karena libur hari besar! Akhirnya saya langsung menuju waterfront dengan menumpang mobil seseorang yang menawarkan untuk mengantar ke sana.
Waterfront Kuching cantik! Rindang, asri, sepi, dan terawat. Pada dasarnya selama 10 jam di Kuching saya hanya berputar-putar di sekeliling waterfront saja plus menaiki kapal berkeliling sungai bertarif RM19 (sekitar Rp55.000). Tak lengkap ke Malaysia tanpa icip teh tarik, maka saya sambangi After 2 Café untuk memesan satu gelas. Saya sempatkan juga membeli oleh-oleh di pusat kerajinan. Nasi Hainan menjadi makan siang saya. Sempat juga ke India Street tapi tidak beli apa-apa.
Jam delapan malam saya harus meninggalkan Kuching untuk terbang ke Miri, meski belum puas. Mungkin suatu saat saya akan mengunjungi Kuching lagi.
Miri adalah kota terakhir di Serawak sebelum Brunei. Tidak ada yang terlalu menarik dan kebanyakan turis hanya mampir untuk pergi ke Brunei atau ke Mulu National Park. Di Miri saya menginap di hostel (setelah melalui 2 kota tanpa menginap) bernama Highlands (RM25 per malam per orang, sekitar Rp70.000). Pemilik Highlands awalnya cukup galak ketika saya bilang ingin melihat kamar. Rupanya dia mengira saya ingin mengecek apakah ada kutu kasur atau tidak dan merasa tersinggung.
Pagi-pagi saya ketinggalan bis menuju Brunei karena tidak menyangka bahwa bis berangkat jam 8 dari terminal jauh di luar kota, bukan terminal dalam kota. Untungnya owner hostel bilang bisa pakai mobil sewaan, pukul 11 (RM60/Rp180.000, kalau naik bis RM40/Rp110.000). Positifnya, saya jadi bisa keliling Miri dulu selama tiga jam.
Saya sampai di Brunei pukul empat sore karena mobil sewaan yang dimaksud baru jalan pukul 12 dari Miri dan sepanjang jalan harus menjemput dan mengantar penumpang lain. Sebetulnya praktek ini ilegal namun sudah menjadi moda transportasi yang biasa untuk orang lokal.
Brunei tidak semegah yang saya kira. Bahkan jalan menuju Bandar Seri Begawan rusak dan sepanjang jalan relatif tidak ada apa-apa. Saya diturunkan di Pusat Belia (Pusat “Pemuda”) dan untung saja penjaga hostelnya sedang ada di tempat.
Kondisi hostel kurang begitu terawat tapi masih memadai dan nyaman. Kamar saya (B$10/Rp70.000) seharusnya untuk empat orang namun malam itu satu kamar milik saya sendiri. Setelah menaruh tas, saya keluar untuk cari makanan. Panas sekali sore itu di Bandar Seri Begawan. Matahari menyengat. Sepi. Sangat sepi. Sebagai orang dari Jakarta yang sangat padat saya merasa aneh. Saya melewati beberapa restoran India dan Melayu namun kurang berselera. Akhirnya saya masuk ke Jolibee, sebuah restoran makanan cepat saji Filipina yang ada di mal dekat Mesjid Omar Ali. Ternyata, di Brunei memang ada banyak orang Filipina.
Setelah itu baru saya masuk ke mesjid berkubah emas dan berpendingin udara 24 jam seminggu itu. Mesjid Omar Ali membuat orang ternganga ketika masuk ke dalam aulanya yang dingin. Sayang sekali dilarang memotret di dalam mesjid. Bagi yang ingin melihat memang harus datang sendiri ke sana. Waktu itu saya mengenakan celana pendek dan penjaga berkata saya harus memakai jubah juga jika ingin masuk. Alhasil, jadilah saya mengenakan jubah hitam semata-kaki itu seperti pengunjung perempuan! Setidaknya tidak disuruh pakai tudung…
Senja di Kampung Ayer
Dari mesjid saya jalan kaki ke Kampung Ayer, tempat tinggal warga Brunei yang memilih untuk hidup dengan cara tradisional dengan tinggal di rumah di atas air. Saya menyusuri jalan-jalan kayu di antara rumah-rumah dan sempat bermain juga dengan anak kecil di kampung itu. Anak kecil memang objek foto yang paling menarik!
Adik dan Kakak, Kampung Ayer
Satu lagi yang tidak boleh terlewat dari mengunjungi Kampung Ayer adalah keliling kampung dengan menggunakan taksi air alias perahu motor. Saat itu ada sepasang bule juga yang kemudian saya ajak untuk berbagi perahu. Setelah menawar akhirnya disepakati per orangnya B$5 (Rp35.000). Tukang perahu itu membawa keliling Kampung Ayer selama kira-kira 40 menit, termasuk sampai ke dekat Istana Sultan. Ada sekawanan burung yang terbang berputar-putar di atas kepala.
Malamnya saya makan malam bersama sepasang bule tadi yang ternyata dari Belanda (berdasarkan pengalaman, saya hanya pernah bertemu turis bule asal Belanda, Jerman, Australia, dan Perancis). Mereka juga menginap di Pusat Belia dan sama-sama berencana untuk ke Kota Kinabalu besok. Saya pun meminta izin untuk bergabung dalam perjalanan itu.
Bertemu Teman Baru di Brunei
Setelah makan malam saya berpisah dan memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe kecil yang keren dan buka 24 jam untuk mencari koneksi internet nirkabel dan juga untuk menonton pertandingan final AFF antara Indonesia dan Malaysia (Indonesia kalah 3-0, seperti semua Anda tahu). Minuman di sana ternyata mahal dan tidak enak. Mereka tidak punya alkohol karena alkohol dilarang di Brunei.
Esok paginya saya sudah meninggalkan Pusat Belia pukul tujuh pagi dan pergi ke terminal bis untuk naik bis no. 37 (atau no. 38) menuju Muara (B$1/Rp7.000). Perjalanan bis di Brunei ini sangat menyenangkan karena supir bis mengenal semua orang dan menurunkan semua orang di tempat masing-masing tanpa perlu bilang apa-apa. Suasananya seperti keluarga. Saling tegur sapa dan bercanda. Bisnya pun meski sudah tua tetap nyaman dan dingin.
Dari Muara saya harus naik bis lain lagi ke Serasa Ferry Terminal. Saat itu ada satu supir bis yang mau mengantar kita di sela-sela shift-nya, karena bis yang dimaksud belum datang. Mungkin dia tahu kita sudah telat lalu bersedia mengantar (B$1 juga per orang). Jadilah tiga orang diantar menggunakan satu bis besar!
Serasa Ferry Terminal pun sepi dan untungnya saya belum telat. Perjalanan ke Labuan memakan waktu satu jam, lalu transit di Labuan selama tiga jam (sempat makan siang dan foto-foto juga, meski tidak terlalu ada yang menarik), lalu berangkat lagi ke Kota Kinabalu, menempuh waktu selama tiga jam.
Sampai di Kota Kinabalu sudah pukul empat sore. Jesselton Point Ferry Terminal sangat menarik dan santai. Sepertinya menyenangkan melihat matahari terbenam di sana sambil minum teh. Setelah berputar-putar di kota, saya memutuskan untuk menginap di Hotel Capital (RM130/Rp370.000), karena sedang ingin memanjakan diri setelah satu malam di bis dan dua malam di hostel.
Sarapan favorit di Malaysia: Mee Goreng, Kopi Panas dengan Susu, Bakpau
Memberi Makan Merpati
Kota Kinabalu punya atmosfer yang sedikit seperti Bali meski tidak se-menyenangkan Bali! Waterfront-nya menarik dan ada bagian khusus untuk warung-warung penjual makanan seperti ikan bakar, barbeque, es buah, dan lain sebagainya. Suasananya lebih seperti di Indonesia dibanding seperti di Penang misalnya.
Setelah tidur cukup di hotel, jam delapan pagi saya keluar mencari sarapan, karena hotel itu tidak menyediakan sarapan! Syukurlah di samping hotel ada pujasera semacam kopitiam yang enak dan saya pesan mi goreng, secangkir kopi dan tidak lupa sebungkus bakpau juga di jalan pulang.
Saya jalan kaki ke Sabah Museum selama kurang lebih 40 menit, sambil melihat-lihat dan mengambil gambar. Saya sarankan untuk naik bis ke Wawasan Plaza, dan lanjut lagi bis no. 13 ke museum, masing-masing RM0.50 (Rp1.400). Sabah Museum (RM8/Rp22.000) biasa saja, namun Heritage Village-nya bagus, meski tidak sebesar Taman Mini Indonesia Indah. Hutan tanaman obat-obatannya juga menarik. Museum itu memang sangat luas dan memiliki hutan sendiri.
Sore harinya sewaktu saya berencana untuk ke pusat kerajinan dan ke pasar ikan, hujan turun dengan lebatnya. Sayang sekali.
Hujan tidak berhenti juga sampai saat-saat saya harus mengejar pesawat untuk pulang ke Jakarta. Padahal saya ingin sekali melihat matahari tenggelam di waterfront. Saya sempat menunggu bis untuk ke bandara namun bisnya tidak kunjung datang. Daripada ketinggalan pesawat, akhirnya taksi pun dipanggil (RM25/Rp70.000). Ini hal yang paling tidak enak dari berkelana sendirian: membayar ongkos taksi sendiri.
Kota Kinabalu Waterfront
Saya akhiri lima hari perjalanan singkat ini di Kota Kinabalu. Berikutnya, ada keinginan mendaki Gunung Kinabalu. Semoga terwujud!

Disunting oleh SA 13/01/11

Halaman sebelumnya

© 2021 Ransel Kecil