Artikel-artikel dari bulan Desember 2010

Menjadi Peziarah di Trichy

Anak & Arum Manis

Dari pengalaman melewati meja imigrasi di beberapa negara, ada satu hal yang saya pelajari, tak perlu berusaha ramah pada para petugas. Serahkan paspor, tak usah tersenyum, jawab singkat jika mereka bertanya, setelah selesai, ucapkan terima kasih.

Tetapi kali ini, petugas imigrasi di bandara Tiruchirapalli ini tersenyum dan mengajak saya bercakap-cakap.
“Apakah kamu bisa berbicara bahasa Inggris?” tanya dia.
“Bisa.”
“Oh baguslah kalau begitu. Banyak orang Indonesia yang datang ke sini, dan ketika saya bertanya sesuatu pada mereka dalam bahasa Inggris, mereka tidak menjawab. Mereka hanya berdiri di situ, dan terus-terusan tersenyum,” kata perempuan itu sambil tertawa. “Selamat datang di India.”

Paspor saya pun dicap.

“Terima kasih.”

***

Semua rencana itu akhirnya terwujud. Saya dan seorang teman tiba juga di India pada 14 Oktober 2010 lalu. Kami melihat dari jendela saat pesawat bersiap mendarat, tanah datar berwarna jingga mendominasi. Dengan waktu yang kami miliki (10 hari), negara bagian Tamil Nadu menjadi pilihan. Tiruchirapalli, atau Trichy untuk singkatnya, salah satu kota dengan bandara internasional di negara bagian Tamil Nadu, menjadi perhentian pertama kami lewat Kuala Lumpur.

Perempuan Sepeda

Trichy

Tak banyak wajah asing yang kami temui selama berperjalanan di Tamil Nadu. Meski di sana-sini, kadang kami disapa oleh warga negara Malaysia keturunan Tamil yang memang datang ke berbagai kuil di negara bagian ini untuk berziarah dan beribadah. Tamil Nadu memang lebih sering menjadi tujuan perjalanan religius dibanding daerah wisata.

Salah satu alasan yang membuat saya memilih negara bagian ini adalah adanya beberapa lokasi yang memiliki keterkaitan dengan candi-candi Asia Tenggara. Saya sering melihat Prambanan, saya jatuh cinta pada Angkor Wat, maka menelusuri akar candi-candi itu sampai ke Tamil Nadu rasanya pas.

Jika dibandingkan dengan kota-kota lain yang kami kunjungi, Trichy termasuk tenang. Tak membuat kepala hampir pecah karena serangan bunyi klakson. Bis kota menjadi moda transportasi dalam sebagian besar perjalanan ini. Tiketnya murah (antara Rs3-Rs5 per perjalanan atau Rp 600-Rp 1000!) dan kami bisa melewati bagian-bagian kota yang menjadi pusat keramaian penduduk lokal.

Rock Fort Temple

Dan lewat perjalanan bus menuju Rock Fort Temple itulah saya baru sepenuhnya menyadari bahwa saya sedang berada di tempat asing, di sebuah tempat yang baru. Bus kami melewati semacam pasar induk berukuran kecil, tumpukan tomat, cabai, dan deretan gerobak dorong yang diparkir menjadi sebuah pemandangan yang fotogenik. Deretan rumah tua berukuran kecil malah membuat saya teringat pada rumah-rumah tradisional di Malaka, atau di Kota Tua, Jakarta, dan beberapa yang masih tersisa di kawasan Kampung Melayu. Ledakan warna dan kekayaan objek seperti inilah yang nantinya akan terus-terusan terjadi selama perjalanan.

Tujuan pertama kami di Trichy adalah Rock Fort Temple. Ada dua kuil yang terdapat di sebuah tebing tinggi, kokoh mencuat di tengah-tengah keramaian bazaar Chinnar. Buku petunjuk yang saya pegang menyebut ada 437 anak tangga menuju kuil di puncak bukit, tempat pengunjung bisa melihat pemandangan lansekap kota dan luasan sebaran permukiman Trichy.

Seperti halnya berkunjung ke tempat-tempat suci, perhatikan mulai dari mana batas alas kaki harus dilepas. Salah satu kuil di tebing itu, Sri Thayumanaswamy, tak boleh dimasuki oleh mereka yang tidak memeluk Hindu. Padahal bagian inilah yang menarik, karena kuil tersebut dipahat di bukit batu. Tampaknya kami harus mulai terbiasa dengan peringatan ‘only Hindus allowed‘ dalam perjalanan ini.

Kami pun kembali menaiki tangga sampai puncak bukit untuk melihat Trichy. Lalu inilah yang saya dapati, kepadatan gedung-gedung berbentuk kotak dengan cat-cat warna pastel yang sudah mulai mengelupas dan jalan-jalan yang rapi membelah kota. Ada juga atap-atap gopura dari kuil-kuil berikutnya yang akan kami lihat nanti di seberang sungai, menyembul dari pohon-pohon kelapa yang masih
banyak terlihat.

Kuil kedua di puncak bukit ini sebenarnya biasa saja. Ukurannya seperti rumah dengan dua kamar, jendelanya berteralis besi, lantainya marmer, dan ada sebuah ruangan gelap di tengah ruangan yang menyimpan patung Ganesha. Di kuil inilah saya pertama kali mengambil foto seorang anak India, objek favorit para turis asing yang datang ke subkontinen ini. Anak lelaki itu tampak senang ketika saya tunjukkan bagaimana wajahnya terlihat di layar LCD kamera.

Lelang Sari

Kami melanjutkan perjalanan dengan bis kota menuju kuil Sri Jambukeshwara. Karena kami datang pada hari Jumat, maka kami berkesempatan melihat aktivitas lelang kain sari. Kuil-kuil kerap menerima pemberian kain sari dari orang-orang yang merasa bersyukur doanya sudah dikabulkan. Setiap Jumat, kain-kain ini kemudian dilelang. Si pemberi kain sari pun ikut hadir dalam acara lelang. Tawar-menawar atau harga akhir harus disetujui oleh pemberi kain.

Sri Jambukeshwara Temple

Kami bertemu keluarga dengan dua anak praremaja yang siang itu membeli kain. Si ibu menjelaskan bahwa nantinya kain tersebut akan diberikan pada ibu mertuanya. Mereka memutuskan membeli karena kain tersebut pernah dikenakan oleh (patung) para dewa sehingga terberkahi.

Oh ya, salah satu hal yang menyenangkan dari berkunjung ke kuil-kuil ini adalah mereka selalu menyediakan keran air dan gelas stainless steel yang bisa digunakan oleh siapa saja.

Higieniskah?

Saya tidak mengalami keluhan kesehatan apa pun selama dalam perjalanan. Dan orang-orang yang kami temui punya kebiasaan minum tersendiri. Baik di tempat makan, atau di kuil, orang-orang meminum air dari gelas stainless steel ini tanpa menyisipnya dari bibir gelas. Dari gelas, mereka menuang air ke mulut. Butuh latihan tersendiri tentunya untuk bisa melakukan itu tanpa menumpahkan air ke pangkuan, sesuatu yang sering terjadi pada saya sampai akhirnya saya menyerah.

Kuil terakhir yang kami datangi siang itu adalah Sri Ranganathaswamy. Ada tujuh gerbang gapura yang harus dilewati sebelum masuk ke kuil inti. Di setiap lapisan gerbang yang mengelilingi kuil, terdapat permukiman dan pasar. Ramai oleh orang-orang yang menjual perlengkapan ibadah, minuman ringan bagi para peziarah, biji kopi, bunga, sayur-sayuran, toko perhiasan, toko pakaian, dan kantor pos.

Di kuil ini tampaknya kami harus menggunakan seorang pemandu. Pemandu kami bernama Bruce Lee. Pemuda Tamil itu meyakinkan kami bahwa itulah nama sebenarnya, dia menunjukkan tato nama tersebut di lengannya, dan teman-temannya pun memanggil dia dengan nama itu.

Satu hal yang menonjol dari bepergian mengunjungi kuil-kuil ini adalah Anda akan selalu dimintai sumbangan meski sudah membayar tanda masuk plus tiket untuk kamera. Di Sri Ranganathaswamy pun Bruce Lee memperingatkan, “Para brahma di sini adalah mafia. Mereka akan menjebak Anda untuk memberikan sumbangan yang sangat banyak. Tapi Anda aman jika bersama seorang pemandu.”

Oh-oh.

Setidaknya harga yang ditawarkan Bruce Lee atas jasanya jauh lebih murah dari yang ia klaim akan dikenakan oleh para brahma ke pengunjung kuil.

Bagian paling menarik dari kuil ini adalah tiang-tiang batu dengan ukiran kuda serta pahatan para serdadu yang menaikinya. Bruce Lee menunjukkan, patung seekor harimau yang tenggorokannya ditusuk tombak oleh serdadu yang menaiki kuda. Menurut dia, dalam perang Hindu-Islam, harimau melambangkan Islam, maka patung itu menggambarkan pasukan Hindu yang berhasil membunuhi orang-orang
Islam. Sementara di patung lain ada sosok Marco Polo yang muncul.

Pola ukiran ulir dalam pilar-pilar ini mengingatkan saya pada Angkor Wat dan candi-candi di Jawa Tengah. Hanya saja, jika batu yang digunakan oleh candi-candi di Jawa Tengah adalah batu kali yang hitam, di sini yang digunakan adalah batu pasir berwarna merah muda.

Pahatan Kuda

Kedetilan pahatan di pilar-pilar itu membuat saya takjub. Jika saya tidak bersama orang lain, saya bisa terus-terusan berada di situ, mengamati setiap ukiran, dan membayangkan kehidupan sehari-hari sebuah peradaban yang menghasilkan karya seperti ini. Untungnya ini baru sekelumit dari peninggalan sejarah kebudayaan Tamil yang kami lihat. Masih ada kuil-kuil dan candi-candi berikutnya.

Disunting oleh SA 29/12/10


Merentas Cepat Negeri Dongeng


Fjord Norwegia

Menjelajahi Norwegia bak menjelajahi karya seni yang tiada akhir. Bentangan geografi yang penuh ketiba-tibaan, ragam fitur dan warna alam membuat siapa saja ingin mencoba mengabadikan setiap detik dalam bingkai perangkat kamera dan pikiran. Tetap saja, itu tak bisa maksimal. Bagai putri yang “jual mahal”, keelokan geografi Norwegia ini seolah tak sudi dibawa pulang dan hanya dinikmati dalam sekali pandang, khususnya bagi para pendatang jauh seperti saya.

Sebut saja saya baru datang dari pekarangan Santa Klaus di utara Swedia. Kereta api yang membawa saya melaju memasuki perbatasan Swedia-Norwegia melalui Riksgransen, menebas salju-salju sampai berterbangan diiringi kilau sinar matahari yang menguning, memberi aksen pada komposisi lukisan yang penuh dengan keseragaman warna biru dan putih. Sebuah danau yang mulai membeku di ujung cakrawala mengantarkan saya ke negeri sejuta fjord. Lanskap yang tadinya datar, tiba-tiba menjadi kasar. Tetapi, tak kenal maka tak sayang. Ternyata setiap kecantikan ada intriknya. Fitur geografis Norwegia sangat dinamis. Satu per satu suguhan itu terungkap: tebing-tebing curam bertabur salju, lembah dengan hulu sungai yang berkelok, tak lama kemudian bentang air menyambut. Inilah fjord yang terkenal itu. Perkenalan saya dengan fjord terjadi di atas kereta api yang melaju menuju sebuah kota kecil di utara Norwegia, Narvik.


Stasiun kereta api di Narvik

Bahkan dalam musim gugur, salju sudah menyelimuti kota kecil Narvik. Turun dari kereta api, perjalanan saya lanjutkan menuju bandara Harstad/Narvik, untuk penerbangan Widerøe menuju Bodø, sebuah kota kecil lain di tengah Norwegia, yang ditempuh dalam waktu 45 menit dengan sebuah Bombardier Dash 8 Q400 NextGen. Sepanjang perjalanan dengan bis selama 60 menit itu, saya hanya bisa terbengong-bengong melihat betapa cantiknya lanskap Norwegia! Udaranya begitu bersih, minim polusi, sinar matahari petang mendukung suasana. Kendaraan yang melaju kencang mengantarkan saya kepada satu adegan ke adegan lain dalam dokumenter hidup. Keluar dari kota utama Narvik, saya dibawa menuju sebuah jembatan yang menghubungkan satu “tebing” ke “tebing” lainnya. Jendela bis dibasahi oleh air hujan yang turun rintik-rintik. Lanskap berubah menjadi daratan putih berkontur yang memiliki kabut, lalu disinari matahari yang menembus memainkan irama. Seketika, jalan berkelok dan naik-turun, membawa bis ke tepi air di mana sebuah darmaga kecil berada. Dataran-dataran tinggi tertutup salju menjadi latarnya.


Pesawat ke Bodø

Sepanjang perjalanan pesawat, saya dapat melihat kontur pesisir Norwegia yang tajam, seolah terbang di atas pegunungan Himalaya. Namun, ujung-ujung pegunungan itu terkadang tak bisa saya lihat jelas karena tertutup kabut, misalnya.
Pesawat mendarat di kegelapan petang. Ya, petang, karena musim gugur berarti periode sinar matahari mulai berkurang dan gelap datang lebih cepat, walau jam di tangan masih menunjukkan pukul empat sore.

Bodø, sebuah kota perhentian saya selanjutnya. Kota ini terletak hanya berpuluh kilometer dari Lingkar Arktik, lingkar yang membatasi antara daerah Arktik dan subtropis. Yang lebih penting lagi bagi saya, Bodø merupakan stasiun kereta api terakhir dan paling utara dari jaringan transportasi rel di Norwegia. Dari sini, saya akan menelusuri The Nordland Railway menuju Trondheim. Perjalanan melalui berbagai kota kecil di utara Norwegia, sesekali menyapa pesisir dengan pandangan langsung menuju air dan fjord di ujung cakrawala. Kabut yang menyeringai melengkapi kesan magis. Sesekali, kereta akan naik ke pegunungan dan lanskap tertutup salju tebal. Butiran-butiran salju yang turun pun menemani teh hangat yang saya minum di gerbong makan. Rileks. Hari sudah larut ketika saya sampai 10 jam kemudian di Trondheim, kota pendidikan dan teknologi di Norwegia. Dibandingkan dua kota sebelumnya, kota ini sangat besar dan modern.


Stasiun kereta api Bodø

Setelah menginap satu malam, saya melanjutkan perjalanan tanpa kereta api. Kali ini saya akan menikmati tujuh jam dengan bis ditambah feri di sela-sela perjalanan. Bis Nor-Way Busekspressen bertolak tepat pada pukul 9 pagi. Menurut rencana perjalanan, bis ini akan melewati jalan antarkota yang saya dengar berliku-liku itu. Bis akan berhenti di beberapa kota. Perjalanan pun dimulai dengan jalan tol yang mulus dan sepi.

Tidak seperti perjalanan bis lainnya, sulit sekali untuk tidur dalam perjalanan kali ini. Bukan karena jalannya yang berliku dan naik-turun, tetapi karena sejauh mata memandang, tak ada yang membosankan. Selalu ada kejutan. Rumputnya begitu hijau, konturnya dinamis, terkadang melewati daerah bebas salju, namun sesekali kita dapat menemukan corak-corak putih yang berserakan menutupi tanah dan pohon. Cuaca hari itu sangat cerah, sinar matahari bebas bersinar, membuat perjalanan semakin menyenangkan dan nostalgis.

Dua kali bis berhenti di dermaga untuk masuk ke dalam feri yang akan menyeberangi fjord. Karena kontur Norwegia yang ekstrim, tidak seluruhnya dapat dilalui oleh jalan tol, sehingga perlu dibangun alternatif seperti penyeberangan feri atau terowongan. Setiap penyeberangan feri ini rata-rata memakan waktu 15 – 30 menit.


Menyeberang dengan feri

Di manakah bis ini akan mengakhiri perjalanannya? Alesund, sebuah kota pesisir yang cukup terkenal bagi nakhoda kapal di Norwegia atau penggemar Hurtigruten, kapal pesiar yang menyisir negara ini dari Bergen di selatan sampai Kirkenes di utara dekat dengan perbatasan Norwegia-Rusia. Faktanya, saya akan melanjutkan perjalanan dengan Hurtigruten dari Alesund menuju Bergen; perjalanan yang mungkin hanya sepersepuluh dari keseluruhan rute Hurtigruten.


Alesund

Puas melintasi fjord dan dataran tinggi Norwegia yang menakjubkan, bis yang saya tumpangi sampai di Skansegata, sebuah terminal bis kecil dekat dermaga. Saya harus menunggu tujuh jam lagi di kota ini. Karena hujan rintik-rintik dan sudah gelap, saya putuskan untuk menunggu di dekat dermaga, di sebuah diner atau tempat makan. Saya gunakan waktu ini untuk beristirahat dan mencoba membuka internet.

Jika membayangkan kapal pesiar Hurtigruten, jangan membayangkan kapal yang sangat besar dan ada kasino serta kolam renang di dalamnya. Hurtigruten cenderung sederhana, nostalgis, namun tetap elegan. Armada-armadanya masih banyak yang tua, namun dipoles agar layak dan nyaman ditumpangi. Pilihan kabinnya beragam, dari yang kabin kecil tanpa jendela sampai suite yang lengkap dengan tempat tidur ukuran ratu dan pandangan terbaik. Saya menumpangi M/S Lofoten, kapal kecil cantik yang berusia 36 tahun, dari Alesund ke Bergen. Sayang, sepanjang perjalanan cuaca cukup buruk sehingga tak banyak pemandangan yang berarti, hanya kabut kelam dan goyangan ombak yang keras. Perjalanan di atas kapal ini mengingatkan saya pada film independen Norwegia, Storm in My Heart karya Pål Jackman, yang mengisahkan obsesi dan mimpi seorang lelaki berusia lanjut untuk berlayar ke utara Norwegia demi menemui wanita idaman yang dulu mengkhianatinya. Laut Norwegia yang cukup keras membuat lamunan saya terhentak. Sesekali saya keluar ke dek kapal untuk menikmati suasana kabut dan sesekali melihat mercusuar di kejauhan.


Navigasi Hurtigruten

Kapal merapat di Bergen, kota hujan, ketika waktu sudah petang. Dari kejauhan, tampak susunan rumah dan gedung yang dibangun di atas tebing dan perbukitan. Sebuah pulau mungil di hadapan menjadi penyambut kami. “Peradaban!”, teriak hati saya. Sayang, cuaca masih juga buruk. Hujan rintik menyambut kami ketika turun di Bergenhavn, pelabuhan kota. Sekumpulan turis dari Australia, Jerman dan Inggris tampak sumringah dan bahagia setelah berhasil menyelesaikan perjalanan pulang-pergi Bergen – Kirkenes. Luar biasa, menurut saya, bagi siapa saja yang bisa melakukan perjalanan dua minggu itu. Tentunya, perjalanan ini bukan untuk mereka yang gampang mabuk laut dan tidak tahan dingin. Dalam periode tertentu, kita bisa berkesempatan melihat aurora borealis atau The Northern Lights, atau yang tak kalah menarik, The Midnight Sun atau sinar matahari sepanjang malam, pada musim dingin. Armada-armada Hurtigruten juga menyediakan ekskursi ke Kepulauan Svalbard dan Greenland, dengan harga yang setimpal tentunya.

Perjalanan merentas negeri dongeng harus saya akhiri di Bergen. Berikutnya, saya akan mencoba jalur kereta api Bergen ke Oslo. Tapi itu lain cerita!


© 2017 Ransel Kecil