Artikel-artikel dari bulan November 2010

Memilih Hostel yang Tepat

Hostel adalah pilihan tepat untuk menginap dengan tarif yang relatif murah. Ada pilihan lain seperti apartemen mingguan, rumah penduduk atau hotel melati; namun untuk tinggal selama 2-3 hari hostel masih pilihan praktis tanpa pikir panjang. Hostel juga masih menjadi pilihan populer di negara-negara maju terutama bagi kawula muda.

Kelebihan hostel dibanding yang lain: prosedur pemesanan yang relatif cepat dan mudah (dapat dilakukan melalui internet), harga terjangkau (bisa sepersepuluh harga hotel!), dan lebih fleksibel dalam hal-hal tertentu (walau menuntut tanggungjawab lebih).

Namun, jika kurang cermat, kita bisa bagai membeli kucing dalam karung: lokasi tidak strategis, kotor, tidak aman, fasilitas kurang memadai, harga mahal, dan keluhan lain.

Kira-kira apa yang pantas menjadi pertimbangan dalam memilih hostel? Berikut tipsnya:

Lokasi: Tentukan lokasi yang paling strategis dengan tujuan perjalanan Anda. Jika ingin dekat dengan lokasi menyelam, pilih hostel di dekat laut. Jika ingin belanja di sebuah pasar tradisional, cari hostel 500-1000m dari pasar tersebut. Jika belum memiliki agenda pasti, lebih baik lokasi yang dekat dengan sarana transportasi, seperti stasiun kereta api, terminal bis, stasiun subway, atau bandara. Pertimbangannya, akan menghemat waktu dan tenaga untuk melancarkan perjalanan. Pertama, tak sulit dan memakan biaya untuk sekedar mencari lokasi hostel. Kedua, Anda bisa tepat waktu memperkirakan waktu keberangkatan dengan moda transportasi berikutnya!

Fasilitas: Beberapa hostel tak menyediakan mesin cuci, internet dan seprei. Usahakan semuanya termasuk dalam harga, atau bisa dibeli/disewa dengan ekstra harga yang murah. Jika bisa mencari hostel yang menyediakan keleluasaan menggunakan mesin cuci, Anda dapat menghemat bawaan! Cek juga apakah hostel tersebut menyediakan:

* Loker di dalam kamar hostel
* Free wifi sampai kamar
* Colokan listrik di setiap tempat tidur
* Pantry untuk memasak
* Lokasi yang dekat supermarket dan penukar mata uang asing

Sarapan: Jangan anggap enteng! Bisa saja mencari sarapan di luar, tapi jika bisa mendapatkan hostel yang harga per malamnya termasuk sarapan pagi, apalagi yang sifatnya prasmanan, akan jauh lebih baik. Sarapan yang bergizi adalah awal dari hari dan stamina yang prima. Minimal, hostel tersebut menyediakan pantry untuk memasak.

Tatacara pembayaran dan pembatalan: Pastikan apakah pembayaran dilakukan dengan deposit online lalu dilunaskan pada saat tatap muka atau sudah dibayar di muka seluruhnya. Lebih baik deposit sedikit (biasanya 2% – 10%), karena memberikan kita fleksibilitas dan jika hangus, tak rugi besar. Periksa juga peraturan pembatalan tempat tidur, apakah diperbolehkan. Jika diperbolehkan, berapa hari sebelum kedatangan, dan berapa biayanya.

Baca ulasan: Sangat sulit untuk menentukan tingkat kebersihan dan kenyamanan hostel hanya dari situs webnya. Coba lihat ulasan atau rekomendasi teman, salah satunya melalui blog ini!

Harga: Perhatikan harga pasar hostel di daerah yang Anda kunjungi dan bandingkan dengan fasilitas yang didapat. Periksa jika ada diskon untuk pemuda di bawah 26 tahun!

Tips ekstra: Beberapa hostel membolehkan kita untuk membawa seprei dan sarung bantal sendiri. Namun, mereka biasanya melarang keras kita tidur tanpa menggunakan seprei dan sarung bantal atau menggunakan kantung tidur, atas alasan kebersihan. Kalau kita tak membawa seprei dan sarung bantal sendiri, biasanya kita diharuskan menyewa milik hostel! Siapkan juga alternatif hostel lain di kota yang sama, tidak perlu pesan, hanya hafalkan atau catat alamatnya. Mana tahu, kita tak cocok atau sulit menemukan hostel yang kita pesan.

Selamat berhostel ria!

Disunting oleh ARW 22/11/10


MEININGER Hotel & Hostel, Frankfurt

Asrama enam tempat tidur
Asrama enam tempat tidur.

Lokasi hostel ini dekat dengan Messe Frankfurt, kompleks gedung balai sidang yang biasa digunakan untuk pameran dan konferensi internasional. Aksesnya dari bandara relatif mudah, hanya satu kali kereta listrik ke Frankfurt Hauptbanhof (stasiun kereta api utama), lalu jalan kaki 10-15 menit. Anda juga bisa melanjutkan dengan S-bahn (jalur kereta listrik S) ke stasiun Messe lalu jalan kaki 5 menit.

Menurut saya, hostel ini memiliki konsistensi yang sama dengan sebuah hotel jaringan, dinilai dari konsistensi identitas yang digunakan dan aplikasinya pada seluruh lini fasilitasnya, sehingga kita bisa memastikan jaminan mutu untuk semua hostel di bawah namanya. MEININGER memiliki jaringan hostel di berbagai kota, antara lain Berlin, München, Frankfurt/Main, London, Köln, Hamburg, Wien dan Salzburg. Jaringan MEININGER juga memiliki hotel, lokasinya satu gedung dengan hostelnya.

Tanda nama di tempat tidur
Tanda nama di tempat tidur.

Fasilitas? Kualitasnya melebihi hostel rata-rata. Kamarnya bersih, sangat rapi dan nyaman. Saya merasa tinggal di hotel yang dibuat seperti asrama. Setiap tempat tidur juga memiliki tempat untuk dimasukkan kartu yang berisikan nama dan tanggal check-in dan check-out pelanggan. Kartu ini didapat ketika check-in. Dengan begitu, kita tak perlu pusing tempat mana yang masih kosong dan sudah terisi. Dalam setiap kamar juga terdapat loker dengan sistem deposit (€1). Kamar mandi ada di dalam area asrama yang terkunci rapat. Ruang mandi (shower) dipisahkan dari ruang kakus dan wastafel. Semua pintu menggunakan sistem elektronik. Lif tersedia.

Meja bersama di dalam asrama
Meja bersama di dalam asrama.

Koridor masuk asrama dengan kamar mandi di sebelah kiri
Koridor masuk asrama dengan kamar mandi di sebelah kiri.

Sarapan tersedia dengan biaya tambahan €4. Kalau pesan rombongan 12 orang, sarapan gratis. Tidak usah khawatir dengan seprei dan sarung bantal, selalu tersedia baru setiap hari dan tidak usah repot menyarungkannya sendiri. Handuk pun begitu. Di dekat resepsionis ada kafe tempat sarapan atau untuk kita beli sendiri ketika makan siang atau makan malam. Saya hanya tak percaya semua ini didapatkan dengan harga cukup hemat: €19 per malam untuk kamar asrama berisi enam tempat tidur, tidak termasuk sarapan pagi. Satu komplain saya, wifi gratisnya hanya ada di lobby dan tidak sampai ke kamar.

Kesimpulannya, hostel ini murah meriah namun super nyaman dan strategis. Cocok bagi Anda yang baru sampai Frankfurt dari penerbangan panjang dan ingin beristirahat sejenak satu malam. Satu peringatan bagi Anda, jika datang pada saat ada pameran atau konferensi harga kamar single di sini bisa mencapai €500 per malam.

Kisaran harga (harga akurat pada tanggal terbit artikel ini, perubahan adalah hak hostel/hotel terkait dan bukan tanggungjawab kami):

  • Asrama (dorm) berisi enam tempat tidur: €14-€20 per malam per orang tergantung periode.
  • Kamar single: €30-€50 euro per malam per orang, namun pada periode tertentu dapat mencapai €100-€500 euro.

Fasilitas:

  • Bangunan dan fasilitas bersih
  • 163 kamar
  • Tujuh lantai, bisa diakses dari dua lif
  • Wifi seluruh hotel (yang gratis hanya di lobby)
  • Penitipan barang gratis dan safe deposit box
  • Mesin cuci dan pengering

Alamat

MEININGER Hotel/Hostel Frankfurt/Main Convention Center
Europaviertel
Europaallee 64
60327 Frankfurt/Main
Tel. :+49 69 4015 90 52
Situs web: http://www.meininger-hotels.com

Peta

  • Disunting oleh ARW 3/11/10

Etika dan Tips Tidur di Asrama Hostel

Hostel biasanya memiliki kamar yang ditata seperti asrama: beberapa tempat tidur bertingkat ditata di dalam sebuah kamar/ruang. Dalam keadaan seperti ini, privasi menjadi kurang berlaku, setiap tamu bisa tahu kegiatan tamu yang lain. Mandi dan kegiatan lain di kakus dilakukan bergantian. Tidak semua nyaman dan terbiasa. Apalagi dalam satu asrama tidak hanya satu kewarganegaraan, tapi banyak, dan usianya sangat beragam!

Jika hendak tidur, pasti ada yang belum akan tidur. Lampu dimatikan, pasti akan ada yang menyalakannya lagi. Hal ini sudah lumrah. Sebaiknya kita menghargai mereka yang mencoba istirahat dengan membantu mematikan lampu. Kita yang mau istirahat juga harus menghargai mereka yang masih membutuhkan lampu. Mungkin bisa memakai penutup mata (eye shade). Jika masih ada kegiatan yang perlu kita lakukan, lebih baik menyalakan lampu kecil di dekat tempat tidur, atau turun ke ruang bersama (pantry, ruang tamu, dll).

Jika bercakap-cakap, jaga percakapan dan volumenya, jangan sampai mengganggu atau mengutarakan kata-kata sensitif.

Setelah memakai toilet, bersihkan toilet sebagaimana kita mau ketika awal ingin memakai. Jangan tinggalkan tisu atau sampah. Siramlah kloset hingga bersih.

Ketika meninggalkan kamar, jangan lupa untuk memberi tanda bahwa tempat tidur kita adalah milik kita, dengan menaruh tas kecil kosong atau baju di atasnya. Jangan meninggalkan barang-barang berharga apalagi yang berbahaya. Ada beberapa hostel yang menyediakan penanda untuk mengklaim tempat tidur, ini akan lebih baik dan jelas. Biasanya, penanda dibubuhkan nama kita. Barang-barang berharga ada baiknya disimpan di loker.

Selalu kunci pintu utama menuju kamar/ruang asrama untuk menjamin keamanan. Jangan sampai ada yang bisa menyusup masuk sembarangan dan membahayakan keamanan bersama.

Setiap hostel mewajibkan penggunaan seprei dan sarung bantal. Jangan lupa mengganti seprei dan sarung bantal baru jika disediakan setiap harinya. Jaga kerapihan kamar/ruang asrama dan kamar mandi bersama.

Kala bepergian dengan keluarga atau teman-teman, coba opsi kamar privat, atau pesan satu kamar asrama yang sesuai jumlah anggota kita. Misalnya, kalau empat orang, pesan yang “4-bed dorm“. Pasti lebih aman dan menyenangkan. Tak perlu segan satu sama lain.

Perlu diingat juga bahwa kamar asrama tidak selalu satu gender. Bagi wanita, coba pesan kamar asrama khusus wanita. Jika tidak tersedia, cari hostel yang menyediakannya. Hal ini untuk menjamin keamanan juga!

Di atas semua itu, perlu ada semangat menghormati dan menghargai satu sama lain. Semuanya ingin menikmati perjalanan atau liburan, jangan sampai merusak momen orang lain!

Disunting oleh ARW 22/11/10


Duka Kami untuk Korban Bencana Wasior-Mentawai-Merapi

Bencana beruntun melanda negeri kita. Mulai dari banjir di Wasior. Gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai. Lalu letusan Gunung Merapi.

Kita semua berduka. Mari kita bantu melalui berbagai lembaga kemanusiaan yang ada, semoga sedikit yang bisa kita salurkan bisa meringankan beban saudara-saudara kita.

Palang Merah Indonesia

# Bank BCA, KCU Thamrin Jakarta, Nomor Rekening 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
# Bank Mandiri, KCP JKT Krakatau Steel, Nomor Rekening: 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia.
# BRI, KC Pancoran, Jakarta, Nomor Rekening: 0390-01-000030-30-3, atas nama Palang Merah Indonesia.
# Donasi dari luar negeri, Bank Mandiri KCP Jakarta Wisma Baja, No. Rekening: 070-00-0584905-9, Atas nama: Palang Merah Indonesia, SWIFT code: BMRIIDJA

Telepon Humas PMI: +62.21.7992325
E-mail: pmi@pmi.or.id
Sumber: http://www.pmi.or.id/ina/

Disunting oleh ARW 05/11/10


Gerbang ke Masa Silam

Mungkin pagi hari itu bukan pagi yang biasa untuk saya. Ia tidak biasa bukan karena matahari yang bersembunyi di balik awan mendung, atau karena udara sejuk yang saya rasakan ketika kami menginjakkan kaki di bandara. Pagi itu menjadi luar biasa karena saya mengalaminya di sebuah negeri asing yang selama ini hanya bisa saya bayangkan lewat mimpi, atau saya rasakan kehadirannya melalui lembaran buku.

Selasa, 12 Oktober 2010, pesawat yang ayah dan saya tumpangi mendarat di Siem Reap, sebuah kota kecil yang terletak di jantung Indo-China, Kamboja. Sebuah saksi di dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi panggung perhatian para arkeolog dan sejarawan dunia. Mahakarya apa yang tertinggal di Siem Reap, mungkin kita semua sudah tahu. Namun, sebelum tulisan ini menuju ke sana, saya akan menceritakan kronologi perjalanan saya yang tak kalah menarik.

Lanskap Siem Reap hampir sama dengan pulau Jawa, namun ia tidak memiliki pegunungan. Sepanjang mata memandang adalah tanah datar yang di beberapa bagiannya ditanami sawah.

Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya
Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya

Pada hari pertama, kami memilih untuk tidak mengunjungi candi-candi yang berserakan di kota kecil itu. Kami mengelilingi Siem Reap sambil melihat-lihat pemukiman yang pada musim hujan tergenang oleh air. Kami diantar kendaraan Tuk-Tuk, kendaraan sejenis delman namun menggunakan motor sebagai penariknya.

Kami menyaksikan dan merasakan detail-detail yang sering kami—sebagai orang yang tinggal di kota besar Jakarta—lupakan atau mungkin kami abaikan. Sepanjang perjalanan tercium bau tanah yang segar, bercampur dengan aroma ternak yang samar. Angin bertiup sepoi-sepoi. Langit memamerkan arak-arakan awannya yang berkumpul semakin padat di utara. Kemudian saya sadari bahwa awan-awan di Siem Reap memiliki formasi yang sedikit berbeda dengan awan di daerah kepulauan Indonesia. Tentu saja, karena Siem Reap merupakan bagian dari benua Asia yang maha luas, maka baik kontur tanah maupun langitnya-pun pasti akan berbeda walau hanya sedikit. Sebuah detail menarik yang baru saya temui kali ini di dalam “sejarah perjalanan” saya.

Candi di kompleks Ta Prohm
Candi di kompleks Ta Prohm

Dalam perjalanan berkeliling kota hari pertama itu, kami menemukan banyak hal menarik. Sapi-sapi yang berkeliaran di pinggir jalan. Anjing liar yang selalu menggongong bercanda. Candi-candi kecil yang menyembul dari balik pepohonan di hutan, sampai kepada anak-anak Kamboja yang memiliki sorot mata begitu ramah.

Siem Reap adalah kota yang sangat bersahaja, dengan masyarakat yang terlihat sederhana. Sulit untuk membayangkan bahwa pada keesokan harinya, kami akan menyaksikan salah satu kompleks bangunan terindah yang pernah diciptakan oleh umat manusia.

Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam
Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam

Kami memulai tur keliling candi pada hari kedua, dan berangkat pukul sembilan pagi dari hotel. Setelah membeli tiket terusan untuk tiga hari seharga US$40 per orang, kami langsung meluncur ke kompleks Angkor Wat. Udara pagi itu sedikit dingin dan berangin, memperindah suasana mistis Siem Reap, dan tentunya membuat saya semakin gelisah serta tidak sabar untuk menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri candi legendaris itu.

Angkor sebenarnya bukan sekedar candi. Lebih dari itu, ia merupakan kompleks kota kuno, yang dipercaya memiliki tata kota terbaik pada masanya dan dihuni oleh penduduk sebanyak satu juta jiwa. Sebagai perbandingan, kota London pada saat itu dihuni sebanyak “hanya” sekitar 100 ribu jiwa.

Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat
Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat

Perjalanan menuju kompleks Angkor bisa ditempuh sekitar 15 menit dari tengah kota Siem Reap menggunakan Tuk-tuk. Kami melewati jalan yang begitu bersih dan tampak masih asli, diselingi kicauan burung dan sosok monyet-monyet yang bergantung dari dahan satu ke dahan lainnya. Kemudian kami disambut oleh kolam yang sangat besar, mengingatkan saya akan kolam-kolam kuno Majapahit yang tersebar di daerah Jawa Timur. Di tengah kolam tersebut, sebuah jembatan kokoh berdiri memanjang. Di ujung jembatan tersebut, terlihat mahakarya yang selama ini saya tunggu-tunggu kehadirannya di depan mata. Situs yang menggetarkan dunia, Angkor Wat.

Dari kejauhan, pucuk-pucuk Angkor Wat terlihat sangat tinggi menantang angkasa. Pada masa di mana gedung pencakar langit merupakan hal biasa, dan menara Eiffel sudah tidak terlalu ajaib lagi, penampakan Angkor Wat tetap menimbulkan sensasi aneh dalam tubuh. Ada desir yang terasa kuat di dalam dada setiap saya menyaksikan bangunan candi. Aura mistis yang begitu kuat mencengkram setiap indra, membumbungkan imajinasi saya akan sebuah kota yang dulu pernah jaya, bangsa besar yang mampu memahat budaya mereka di atas tanah kekuasaannya.

Dibangun pada masa pemerintahan Jayawarman II pada tahun 1112, Angkor Wat merupakan sebuah candi Hindu yang sekaligus berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir Jayawarman II. Ketika saya memasuki candi ini, terbersit sedikit perasaan iri dan terkalahkan yang berhubungan dengan kondisi candi-candi di Indonesia. Candi-candi di Indonesia tidak kalah rumit dan megahnya, bahkan menurut saya dalam beberapa aspek candi-candi Indonesia memiliki pencapaian yang lebih dari candi di Kamboja. (Tentu tujuan dari tulisan ini bukan untuk membandingkan. Saya hanya ingin berbagi kegelisahan saya terhadap kondisi candi di Indonesia yang oleh pemerintah direnovasi sedemikian rupa, namun malah menjauhi nuansa asli yang mereka bawa.) Angkor Wat hanya satu dari puluhan candi-candi yang tersebar di Siem Reap, yang bahkan menurut saya pribadi bukan yang “terbaik” dari semua candi Kamboja. Ia memang sebuah karya arsitektural yang luar biasa, dilihat dari ukurannya, dan pencapaian artistiknya yang nyaris sempurna. Namun, ketika saya menaiki Tuk-Tuk ke perhentian selanjutnya, kejutan yang saya temui bahkan lebih dahsyat dari Angkor Wat.

Pintu gerbang candi Ta Prohm
Pintu gerbang candi Ta Prohm

Perhentian selanjutnya adalah sebuah candi yang diapit oleh empat gerbang raksasa. Di dalam candi tersebut bertahtakan wajah-wajah Jayawarman VII yang tersenyum dingin, menghadap ke arah empat mata angin. Angkor Thom atau disebut juga dengan Bayon, adalah candi terunik, dengan representasi wajah raja yang mungkin merupakan raja yang memiliki narsisisme tertinggi di dunia. Memasuki Angkor Thom seperti membiarkan diri tersesat ke dalam masa lampau. Yang membuat Angkor Thom lebih memikat dari Angkor Wat adalah situsnya yang masih relatif sepi. Kicau burung-burung saling bercengkrama menemani “wajah-wajah raja” yang setiap saat menyembul dari balik bebatuan.

Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan
Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan

Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap empat arah mata angin
Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap 4 arah mata angin

Hampir semua candi di Siem Reap menawarkan “karcis menuju masa lalu,” dan akan terlalu panjang jika saya menjelaskan satu-persatu pengalaman saya di candi-candi lain. Saran yang bisa saya berikan dalam wisata candi di Siem Reap, adalah agar Anda menyediakan waktu beberapa hari untuk mengelilingi kota Angkor. Adalah mustahil untuk mengelilingi kota Angkor dan berhenti di setiap candinya hanya dalam satu hari. Anda membutuhkan minimal dua hari untuk turun dan meresapi keindahan candi-candi tersebut. Saya pribadi menganjurkan tiga hari, atau bahkan lebih.

Selain mahakarya berupa candi-candi, Siem Reap juga menawarkan restoran-restoran dan warung kopi kelas atas. Anda bisa berkunjung ke kawasan Old Market di tengah kota, dan di sini akan anda temui bangunan-bangunan kolonial peninggalan Perancis yang disulap menjadi tempat wisata. Old Market adalah tujuan yang tepat bagi yang gemar berbelanja, serta melepas penat pada sore atau malam hari.

Apa lagi yang ada di Siem Reap? Banyak, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dihabiskan hanya dalam waktu lima hari. Siem Reap adalah permata baru di Asia yang akan semakin bersinar. Banyak tempat-tempat yang belum saya kunjungi seperti Floating Village, candi Banteay Srey, Night Market, dan Artisan Angkor. Beberapa candi sedang dalam rekonstruksi besar-besaran, dan dalam tahun-tahun berikutnya diperkirakan akan selesai. Saya sendiri berencana untuk datang kembali.

Pagi itu, tanggal 16 Oktober 2010, saya akan meninggalkan Siem Reap. Saya akan merindukan candi-candi indah di dalam hutan, semilir angin yang bertiup di wajah ketika Tuk-Tuk membawa saya pergi jauh, aroma tanah dan rerumputan yang menebarkan hawa sejuk, serta senyuman dari masyarakat Kamboja yang sangat tulus dan ramah. Ketika pesawat mulai lepas landas, saya mengintip dari balik jendela dan menatap ke bawah. Ada genangan banjir di beberapa tempat. Siem Reap mungkin tidak sempurna, tapi ia adalah salah satu kenangan perjalanan terbaik yang pernah saya punya. Masyarakat bersahaja yang menciptakan mahakarya.

Disunting oleh ARW 3/11/10


Naga Pendamping Raja ke Nirwana

Saya harus ke Bali, itu adalah hal yang menyenangkan. Tapi kalau harus terbang ke Bali, itu kabar lain lagi.

Meski penerbangan ini hanya akan memakan waktu 1,5 jam, entah mengapa perasaan yang pernah saya alami ketika harus mengudara selama 14 jam ke Amsterdam mendadak menyerang. Terlebih lagi ketika saya sadar bahwa pesawat yang akan ditumpangi adalah Boeing 747 yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding pesawat yang mengantar saya ke Eropa itu. Aduuh… pesawat kecil kan ketinggian jelajahnya rendah dan untuk itu resiko terkena turbulensi yang bisa jadi jauh lebih besar. Ya… saya memang fobia terbang!

Pelebon Raja Puri Peliatan IX Ida Dwagung

Tapi ketakutan itu saya lawan habis-habisan. Pada 2 November 2010 ini ada upacara Pelebon. Jika saya melewatakan Palebon ini hanya gara-gara takut terbang, seumur hidup pasti akan menyesalinya. Ya, kapan lagi saya bisa menyaksikan Upakara Pelebon yang hanya diadakan untuk seorang raja!

Upacara sebelum Pelebon
Foto-foto oleh Faramita Dewi

Sebenarnya saya sudah ketinggalan beberapa prosesi upakara awal seperti memandikan jenazah, mencari air suci dan lain-lainnya, namun saya beruntung masih bisa melihat arak-arakan Nagabanda dari Puri Ubud.

Pelebon adalah sebutan lain Ngaben yang diperuntukkan raja, pada hakikatnya adalah pengembalian wujud manusia pada esensinya: tanah, air, udara dan api. Melalui media pembakaran, abu yang dihasilkan merepresentasikan tanah, uap dan asap yang dihasilkan adalah manifestasi udara, api yang menjilat jilat adalah amarah (keburukan) yang sirna, dan sisa tulang belulang yang dihaluskan dan dicampur dengan air merepresentasikan air. Esensi raga yang berunsur air ini lah yang kemudian dilarung ke laut. Pelebon hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan dalam upacara hari ini adalah Puri Peliatan Ubud. Lalu, dengan purnanya prosesi pelebon, secara fisik mendiang Raja Ida Dwagung akan sempurna kembali ke asalnya, dan rohnya akan sempurna pergi ke nirwana.

Pelebon bagi keluarga yang ditinggalkan juga mengandung banyak arti. Salah satunya adalah sebagai cara untuk melupakan satu sama lain: keluarga tak boleh lagi mengingat-ingat raja, dan raja tak lagi mengingat-ingat keluarganya. Namun yang paling menarik adalah bahwa prosesi Pelebon ini ternyata juga menjadi sarana bagi keluarga untuk memanjatkan pengharapan kepada Sang Hyang Widhi supaya kelak raja bereinkarnasi menjadi karakter atau personalitas yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah keluarga mengadakan Pelebon dengan semegah-megahnya. Mereka percaya bahwa keindahan, kemegahan, dan kesempurnaan fisik dari sarana Pelebon seperti Bade, Lembu, Nagabanda dan lainnya menyimbolkan kebaikan.

Pelebon Ida Dwagung Penglingsir Puri Peliatan ini adalah Pelebon termegah kedua setelah Presiden NIT bertahun-tahun yang lalu yang secara sosial juga berkedudukan sebagai raja di Bali. Jika pada umumnya keluarga kerajaan non Raja memakai Bade bertingkat tujuh atau sembilan, rakyat strata terendah memakai bade bersusun hanya satu atau tiga, maka Raja memiliki bade bersusun sebelas; jumlah tingkatan bade paling tinggi dalam strata sosial di Bali.

Lembu Pelebon

Simbol kemegahan sebuah Pelebon juga dilambangkan oleh Lembu yang dinaiki raja ketika kremasi. Lembu tunggangan raja dibuat sangat istimewa dan paling besar ukurannya dibanding anggota kerajaan lainnya. Dan untuk melengkapi kesempurnaan fisiknya, lembu ini dibuat dari material bermutu tinggi dengan kehalusan pahat yang luar biasa, dihias dengan perhiasan emas berdetail ukiran nan indah, dan dinaikkan di atas undakan emas yang juga berukir teramat indah.

Nagabanda

Untuk menyimbolkan strata sosial tertinggi, Raja yang wafat juga ditemani oleh sebentuk Nagabanda. Hanya raja yang pergi ke nirwana dengan didampingi sosok naga nan anggun dan perkasa berwarna hitam dan berhias mahkota. Nagabanda yang dikirim oleh Puri Ubud ini sebelum sampai di Puri Peliatan dijamu terlebih dahulu dengan upakara penyambutan di sekitar pasar Ubud yang menyimbolkan bahwa keluarga kerajaan Peliatan telah menerima Nagabanda dengan baik dan menyampaikan rasa terima kasihnya pada pihak Puri yang mengirim Nagabanda.

Pemandangan arak-arakan patung naga itu benar-benar menakjubkan. Terlihat patung ini dibuat sangat teliti dan indah. Naga ini berwarna hitam. Hitam dalam terminologi Bali adalah simbol dari air atau kehidupan. Di sekujur lehernya terdapat bertumpuk-tumpuk perhiasan emas, ini melukiskan tingginya kasta empunya naga. Dan tentu saja, hanya raja yang berhak ditemani Nagabanda dalam perjalanannya menuju nirwana.

Nagabanda ini tak sendiri. Beberapa hasta di depannya terdapat sepasang ogoh-ogoh berbentuk kakek nenek yang bernama Kaki Patuk dan Dadong Roret. Kedua ogoh-ogoh itu secara kasat mata adalah karya seni nan luar biasa naturalis. Saya jadi teringat koleksi Madamme Tussaud, namun saya yakin seniman-seniman Museum lilin itu tak akan bisa menandingi kesempurnaan Kaki Patuk dan Dadong Roret ini karena kedua ogoh-ogoh ini tak terbuat dari lilin, melainkan kombinasi styrofoam, busa, dan cat saja. Material yang terdengar sangat sederhana ini bisa menjelma menjadi patung yang sedemikian nyatanya. Kaki Pathuk dan Dadong Roret ini adalah simbolisasi untuk Sang Hyang Widhi yang kepada-Nya umat Hindu memohon dan memberikan penghormatan. Bersanding di sisi kanan kiri Nagabanda di dalam puri, ketiga simbol sakral ini sangat mencuri perhatian.

Kaki Patuk dan Dadong Roret

Benar-benar pemandangan nan indah. Semua fobia terbang itu terbayar sudah.

Saat ini, semua sarana Pelebon telah selesai dirakit dan ditempatkan di Puri Peliatan. Lembu dan Bade yang berukuran sangat besar terpaksa harus bersanding di luar Puri. Sementara Nagabanda yang memang bertugas mendampingi Raja sudah lima hari ini menjalankan perannya, mendampingi jasad Sang Raja. Dan tak lama lagi, semua simbol kemegahan upakara Pelebon itu nanti akan dikremasi bersama jasad Ida Dwagung Penglingsir Puri Peliatan pada tanggal 2 November 2010 (hari ini).

Disunting oleh ARW 2/11/10


© 2017 Ransel Kecil