Artikel-artikel dari bulan Oktober 2010

Ketika Anak Bertamasya

Liburan bersama keluarga tentu menjadi impian kita semua. Lebih-lebih bisa melaksanakannya lengkap dengan seluruh keluarga. Saya dan istri pernah suatu ketika liburan ke tiga negara ASEAN tanpa putri kecil kami. Jalan-jalan berdua tanpa anak mungkin memang asyik. Rasanya bisa terbebas dari kesibukan mengasuh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kangen. Sepi. Keceriaan yang sehari-hari kami hadapi rasanya hilang. Aduh, rasanya trenyuh. Maklum, sehari-hari kami biasa bertiga dan saya kerja di rumah. Sejak itu kami bertekad tidak akan pernah meninggalkan anak kami liburan.

Namun, ternyata jalan-jalan bersama anak tidak selalu segampang yang kita bayangkan. Berikut cerita kami.

Anak Jalan-jalan
Dalam perjalanan naik motor.

Usia Anak

Kami mengajak putri kami liburan “sungguhan” pertama kali pada awal 2008. Catatan: yang saya maksud sungguhan adalah meniatkan perjalanan itu sebagai liburan, bukan perjalanan untuk urusan lain sambil liburan. Usianya saat itu masih 1 tahun 8 bulan. Kami membayangkan mengenalkan liburan tentu mudah dan menyenangkan. Namun apa yang terjadi? Ia sering menangis, sering takut pada hal-hal yang kita rasa “biasa”, takut pada orang yang tidak dikenal (lebih-lebih wisatawan mancanegara), lalu menangis lagi.

Anak terlalu kecil lebih banyak menangis, karena mungkin takut, kurang pengenalan, atau pada dasarnya karakter anak begitu. Saat itu putri kami takut melihat gelombang di pantai, maklum, rumah kami jauh dari laut. Tapi tak lama ia jadi suka bermain air. Ia juga takut melihat orang asing. Makanan juga jadi hal yang vital untuk diperhatikan. Untungnya karena masih ASI, faktor makanan masih agak mudah.

Kemudian ada masalah penting yang justru harus dipertimbangkan jauh hari sebelum ingin mengajak anak berjalan-jalan. Ingatan anak di bawah tiga tahun itu masih tidak permanen. Jadi bila Anda bayangkan mengajak anak jalan-jalan lalu berharap itu jadi tabungan kenangannya di masa mendatang, jangan berharap demikian. Pada umur 4 tahun, putri kami sudah melupakan kenangannya pada saat jalan-jalan di usia 2 tahun. Untungnya kami punya rekaman lengkap perjalanan dan video perjalanan lampau. Putri kami suka melihat-lihat foto dan video perjalanannya dulu. Jadilah ia selalu memperbarui kenangan-kenangannya meski banyak yang terlupa.

Mengenal Penyu
Agak takut dengan Penyu.

Menurut saya, usia paling pas untuk mengajak anak jalan-jalan adalah ketika usianya empat tahun atau lebih. Pada usia itu, anak sudah terbentuk nalar dan logikanya, jadilah ia lebih gampang diberi pengertian, lebih menikmati perjalanan dan tempat baru, dan juga bisa mengingat kenangan perjalanannya. Pada usia anak empat tahun, ia juga mudah diarahkan untuk mempunyai banyak kegiatan, dan menikmati kegiatan itu.

Namun, ada dilema pula, karena logikanya sudah “berjalan”, kadang-kadang anak jadi ribet, susah untuk dikendalikan. Alasannya macam-macam. Banyak protes. Suka mengeluh. Dan seterusnya. Tapi itulah tantangannya sebagai orang tua. Kita akan senang kalau bisa menghasilkan petualangannya yang hebat dan dikenang anak, sementara ia juga bisa menikmatinya.

Penginapan

Menginap adalah hal wajib ketika jalan-jalan. Namun ada sedikit masalah bagi putri kami yang sudah lama tidak menginap di hotel/hostel itu. Ketika awalnya dibilang akan menginap di hotel, ia tidak tahu hotel itu apa. Awalnya ia senang-senang saja. Masalah baru dimulai setelah anak akan tidur.

Ternyata ia tak mau tidur. Lalu ia menangis. Kemudian dia bilang sedih. “Aku tak mau tidur di sini. Aku mau tidur di kamarku sendiri di rumah Jakarta.” Nah, ketahuan deh alasannya. Malam itu kami berusaha menjelaskan konsep hotel itu bagaimana, bahwa rumah akan kami tinggalkan beberapa hari, dan nanti setelah liburan kita bisa kembali ke rumah lagi. Setelah itu kami cerita dongeng tentang anak yang suka berpetualang meski pada awalnya takut tidak bisa tidur di tempat asing. Karena keberaniannya, akhirnya sang anak bisa melihat tempat-tempat indah di seluruh dunia.

Menggambar di waktu senggang dalam liburan
Kegiatan senggang waktu liburan.

Beberapa hari kemudian kami pindah hotel ke daerah lain. Kebetulan hotelnya lebih nyaman dari yang pertama. Anak kami langsung cocok. Meski ada sedikit masalah dengan shower, karena ia takut mandi disiram langsung dari pancuran! Tapi secara keseluruhan akhirnya anak kami sudah bisa menginap dengan nyaman. Ketika sampai di rumah ia malah merengek, “Aku pingin mandi pakai shower yang airnya langsung bisa panas.”

Makanan

Makanan adalah hal penting yang tak boleh diremehkan dalam setiap perjalanan bersama keluarga. Jangan sampai tidak. Jangan sampai keluarga ada yang sakit akibat telat makan. Atau sakit perut gara-gara makan yang tidak benar.

Makanan di Pesawat
Mengenal makanan di pesawat.

Namun topik makanan dengan anak kecil tidak berhenti di situ. Bagi anak kecil, makanan juga harus menarik, tidak membosankan, dan juga tidak pedas. Merica aja bagi mereka pedas! Setiap orang tua pasti pernah merasakan hal ini, ketika asyiknya makan, eh si anak melihat ada butir hitam di sayur. Tiba-tiba saja selera makan hilang. Ketika ditanya, ia bilang ia tak mau makan karena ada bintik hitam. Ketika bintik hitam dihilangkan, ia masih saja berdalih dengan macam-macam alasannya lainnya.

Yang pasti, anak juga perlu diajak menikmati makanan. Berbagai jenis makanan! Sudah sejak lama kami mengajari putri kami agar ia berani mencoba makanan baru yang pertama kali ia lihat. Kami bilang padanya kalau dia tidak berani mencicipi, ia tentu tak tahu apa rasa makanan itu. Kami bilang, kalau ia tak suka, ia boleh bilang nanti ia bisa memilih makanan yang lain.

Sebenarnya tidak hanya untuk anak, tapi kalau ingin jalan-jalan dengan lancar, kita harus bisa mencicipi segala jenis makanan di daerah tujuan. Khususnya ke daerah lain yang punya kebiasaan makanan berbeda. Anak seyogyanya dilatih terlebih dahulu. Anak harus terbiasa makan tidak hanya gurih dan enak, namun eksotismenya juga harus dinikmati: apakah itu sayuran, agak pedas sedikit, makanan asin, makanan asam, makanan manis dan jenis makanan lainnya. Nasi, pasta, spaghetti, kentang, roti, ubi, mi, pizza, shawarma, salad, dan seterusnya. Dan jangan lagi kambuh alasan kalau tidak makan nasi nanti tidak kenyang.

Petualangan

Dan pada akhirnya adalah petualangan. Sebagai orang tua, kita punya tanggungjawab tentang hal ini. Dalam menyusun rencana perjalanan, adalah penting untuk membawa misi menjadikan perjalanan itu petualangan yang hebat. Petualangan bisa mengajarkan kesenangan, keceriaan, tantangan, sejarah, seni, keindahan, kedamaian desa, kebaikan, kerja keras, menabung, dan seterusnya. Jangan sampai jalan-jalan hanya untuk niatan negatif, seperti gengsi, pamer, atau hal-hal lainnya.

Di Kebun Bunga
Di kebun anggrek.

Seyogyanya anak juga menikmati perjalanan itu sendiri, juga makna dalam perjalanan. Kita sebagai orang tua selalu harus bisa menjelaskan konsep-konspep rumit yang kita temui dalam perjalananan kepada anak, seperti: perbedaan budaya, perilaku sosial, perbedaan agama, arti kesenian, dan lain-lain. Cara lain biar anak menikmati perjalanannya adalah membawa serangkaian mainan atau rancangan kegiatan yang bisa ia nikmati selama perjalanan. Kita bisa membawa semacam puzzle, alat untuk permainan fisik misalnya layangan, frisbee, buku gambar dan pensil warna, dan lain-lain. Contohnya putri kami, ia suka menggambar, maka setiap pulang bepergian dari suatu tempat, ia bisa menikmati kesendiriannya menggambar.

Tarian tradional Bali
Tarian tradisional.

Pada jalan-jalan terakhir kami beberapa bulan lalu, rencana perjalanan kami agak lengkap: mulai dari melihat pantai, sunset/sunrise, tarian tradisional, kebun binatang, kebun bunga, desa konservasi, dan juga melihat hewan langka. Kami juga sempatkan mengunjungi pasar tradisional, pasar oleh-oleh, dan kampung-kampung lokal untuk menikmati makan yang murah. Sayang kami tidak bisa mengunjungi museum karena keterbatasan waktu.

Kalau anak mendapatkan petualangan berharga dalam hidupnya, kita tentu bisa berdoa semoga ia bisa menjadikan hal itu bekal yang berharga dalam kehidupannya.

  • Disunting oleh SA 13/10/2010

Menjadi Pengelana yang Beretika

Industri pariwisata adalah industri yang sangat besar. Menurut data barometer World Tourism Organization (WTO), jumlah turis sepanjang tahun 2009 adalah 880 juta jiwa, peningkatan tajam terjadi di wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah. Jumlah uang yang dibelanjakan hingga tengah tahun 2010? Sekitar US$852 milyar! Untuk Indonesia sendiri, data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan ada sekitar 6,5 juta kunjungan pada tahun 2009, setidaknya satu juta rupiah dibelanjakan oleh setiap turis asing setiap hari. Kehadiran sarana transportasi yang memudahkan dan murah membuat perjalanan untuk tujuan apapun menjadi mudah, bahkan spontan. Semakin mudahnya regulasi dan infrastruktur membuat mereka yang tadinya berpikir dua kali untuk membelanjakan uangnya demi sebuah liburan langsung tanpa pikir panjang membeli tiket jauh-jauh hari demi harga murah, lalu memesan tempat penginapan di daerah tujuan, yang diselesaikan kurang dari sepuluh menit! Begitu mudahnya, sekarang semua orang bisa liburan, bukan orang kaya saja.

Semua ini ada dampaknya, tentu, secara positif ia meningkatkan sirkulasi uang dan menggairahkan ekonomi. Perjalanan juga mencerahkan dan mendidik masyarakat regional dan internasional. Namun, pasti ada dampak negatifnya. Dampak lingkungan, sosial, budaya dan bahkan ekonomi.

Perjalanan menghabiskan sumber daya alam secara signifikan jika dilihat secara kolektif. Hotel menggunakan banyak sekali air dan listrik, misalnya. Apalagi ketika musim puncak. Semakin populer sebuah destinasi wisata, maka semakin banyaklah sumber daya alam dan manusia yang dibutuhkan untuk menopangnya. Pencemaran udara, air dan tanah tak dapat dihindarkan. Seberapa banyak dari kita yang cukup sebal dengan pembangunan beragam hotel mewah di Bali atau daerah yang sedang naik daun? Kalau kita menyusuri perjalanan dari Da Nang, sebuah kota di Vietnam tengah menuju kota kecil bersejarah Hoi An, maka kita mendapati banyak sekali proyek konstruksi resor-resor mewah dari luar negeri, yang menurut saya, mengurangi jiwa dari tujuan tersebut. Contoh lebih dekat adalah Pulau Tidung di lepas pantai Jakarta. Beberapa waktu lalu di Twitter ada yang menampilkan foto di sekitar pulau itu yang cantiknya sempurna seperti dalam sebuah kartu pos. Lalu seketika, teman saya, Monika Halim, menyahut bahwa gambar itu tidak sesuai aslinya. Bagi seorang Monika yang sudah pernah mengunjungi Pulau Tidung secara langsung, ternyata daerah itu sudah kotor dengan sampah, dan tak secantik foto tersebut.

Keterlibatan turis asing dalam membangun ekosistem tertentu, seperti misalnya, pelacuran, juga berdampak negatif pada aspek sosial. Belum lagi jika bicara peredaran obat-obatan terlarang dan bentuk human trafficking lain. Beberapa waktu lalu kita juga dihebohkan dengan isu kawin kontrak antara wanita lokal dan pengunjung asing, di Jawa Barat.

Terkadang, bahkan suatu lokasi terpaksa menyingkirkan budaya dan norma aslinya demi mendukung kebutuhan dan permintaan turis asing. Turis datang dengan ekspektasi yang sudah dibangun oleh pendatang sebelumnya yang kemudian semakin membiaskan identitas awal dari sebuah destinasi. Contohnya, Bandung dikenal sebagai kota belanja, padahal penobatannya adalah sebagai pusat pendidikan, teknologi dan baru-baru ini, industri kreatif.

Istilah “turis” sendiri sudah membentuk konotasi negatif. “Industri pariwisata” menjadi wilayah yang kental dengan kebutuhan untuk memenuhi target penjualan. Tujuannya adalah menarik sebanyak mungkin turis domestik atau internasional dengan mengemas pengalaman secara kolektif, yang belum tentu memberikan makna sesungguhnya dari sebuah perjalanan bagi konsumen. Contoh dekat, Singapura. Mereka berusaha keras membangun negara menjadi sebuah tujuan wisata “buatan” dan menjualnya selayaknya makanan cepat saji. Kalau saja kita ingat Universal Studios. Siapa lagi konsumennya kalau bukan masyarakat regional seperti keluarga-keluarga mampu Indonesia.

Inilah yang salah dari istilah “industri pariwisata”. Pariwisata menjadi dunia yang termanufaktur. Persepsi ideal dari sebuah destinasi dibuat dan dipasarkan mengikuti konsep industri. Akibatnya, makna pengelanaan yang sesungguhnya gagal didapatkan. Pengalaman otentik dari identitas lokal tidak tersentuh sama sekali. Berapa banyak dari kita yang tahu sejarah Singapura, misalnya? Apa yang membuat kita datang ke Singapura? Tahukah dulu Singapura itu adalah perkampungan pelabuhan miskin bagian dari Malaysia bernama Temasek? Siapa sajakah yang menjadi bagian sejarah populasi di sana? Tak ada yang tertarik mempelajarinya.

Hal ini jugalah yang mendasari konsep Ransel Kecil, bagaimana istilah “turis” dan “wisatawan” itu kurang cocok dengan semangat yang kami usung. “Pengelana” atau “pelaku perjalanan” rasanya lebih tepat, karena menyiratkan semangat menggebu untuk tidak sekedar terperangkap stereotipe destinasi, tapi membuat diri kita siap untuk terkejut, terkesima, kesal, senang, marah. Perjalanan bukanlah berusaha menyamakan foto atau gagasan tentang suatu lokasi atau pengalaman, tapi menemukan kisah, empati dan kejutan kita sendiri.

Bagaimana menjadi pengelana yang beretika? Besok, ketika merencanakan perjalanan, cobalah pelajari secara ekstensif daerah tujuan Anda, tidak hanya soal akomodasi, transportasi dan pusat perbelanjaan, tapi tentang sejarah kota atau negara tersebut, kondisi geopolitis, seni dan sastra, makanan, temukan teman lama atau baru, serta berusaha untuk tidak ikut paket tur lokal. Sebisa mungkin, perjalanan antarkota dilakukan dengan moda transportasi lokal seperti bis atau kereta api. Banyak-banyaklah bersepeda. Habiskan uang Anda untuk pengrajin dan makanan lokal, bukan makanan cepat saji jaringan. Tinggal di hostel atau hotel lokal. Jalan kaki. Belanja di pasar lokal. Hindari memberi kepada pengemis atau berterimakasih dengan bentuk uang atau benda, karena akan membentuk budaya pamrih. Jangan buang sampah sembarangan. Habiskan makanan Anda. Buang sisa makanan tersebut ke tempat sampah. Pelajari sopan santun dan adat lokal.

Menjadi turis atau pelaku perjalanan bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Sudah bayar mahal, bukan berarti kita menjadi raja beberapa hari di tempat tujuan. Tetap saja, banyak etika dan aturan yang perlu kita perhatikan selama di tempat tujuan. Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Ketika perjalanan itu selesai, renungkanlah kembali, tidak hanya soal berapa banyak uang yang Anda habiskan, tapi tentang makna yang Anda dapatkan dari perjalanan tersebut. Apa yang bisa saya pelajari untuk diri saya, keluarga saya, teman-teman saya, kota saya, negara saya?

Disunting oleh ARW 14/10/10


Otomatis Minimalis!


Foto oleh Sean Bonner.

Beberapa waktu lalu saya sempat berkunjung ke tumblog berjudul “Pack Light. Go Fast.“, yang, seperti tren Tumblr lainnya, menyajikan gambar-gambar singkat beserta komentar padat berisi, mengenai isi ransel/tas jinjing para pengelana di luar sana yang ternyata setelah ditelusuri, jumlahnya rata-rata hanya sekitar 20 – 30 benda, termasuk kantong (pouch) yang isinya kabel dan benda kecil-kecil seperti alat mandi. Bahkan mungkin ada yang cuma 10 – 15. Lama perjalanan ada yang 3 hari sampai berbulan-bulan. Jenis kegiatan ada yang sekedar kunjungan ke tempat teman sampai mendaki gunung.

Seperti sudah pernah dijelaskan di artikel di awal tahun, dan juga sesuai nama dari blog ini, berkemas dengan isi seminim mungkin tidak hanya menguntungkan buat kita, tapi juga buat orang lain, dan bahkan bagi bumi karena lebih ramah lingkungan. Namun, setiap berkemas, sudah bisakah kita mengurangi semua yang “mungkin dibutuhkan” dan sampai pada prinsip berkemas untuk barang-barang yang “pasti dibutuhkan”? Apa saja alasan yang kita punya untuk berusaha mengepak barang tambahan ini dan itu?

Biasanya, alasan pertama adalah “Saya tak bisa memakai pakaian yang sama berulang-ulang. Saya orang yang bersih dan selalu mengenakan pakaian baru setiap habis mandi.” Kalau kita pergi ke daerah yang kemungkinan bersuhu tinggi dan peluang berkeringat itu sering, mungkin alasan ini masuk akal. Tapi coba diingat lagi, kira-kira ada kesempatan mencuci baju tidak? Carilah bahan baju non-katun (atau persentase katunnya sebagian) yang lebih mudah kering. Ada juga tips yang berkata pakailah langsung baju walaupun masih basah, karena akan cepat kering lagi setelah kena suhu tubuh. Benar juga! Oh ya, hindari penggunaan pakaian dalam pakai buang, karena selain tidak ramah lingkungan, kualitasnya miris. Lebih baik investasi ke pakaian dalam yang cepat kering, tahan lama dan nyaman dipakai. Khusus untuk deterjen, jika naik pesawat terbang, jangan dibawa di kabin, ya!

Kalau pun kita tetap ingin membawa baju yang banyak, apalagi ke negara bermusim dan bersuhu dingin, coba trik layering. Kenakan berlapis-lapis baju, tak hanya untuk menahan dingin (nanti akan dibahas terpisah!) tapi juga untuk meringankan ransel. Cari juga ransel atau tas jinjing yang mendukung. Kalau bisa, ukurannya persegi sehingga kapasitas ruangnya maksimal. Organisir dan kategorisasi isi juga penting, kalau bisa gunakan kantong-kantong kecil untuk memisahkan satu jenis isi dengan jenis isi yang lain. Misalnya, baju dalam dan baju pergi, alat-alat mandi dan kabel-kabel elektronik.


Contoh kategorisasi isi ransel oleh pengguna ldave1 di Flickr.


Cara melipat baju menentukan banyak baju yang bisa dibawa, salah satunya ala OneBag.com.

Alasan kedua, “Tapi saya melakukan perjalanan bisnis dan akan menghadiri acara penting”. Kalau perjalanan bisnis, kemungkinan besar perjalanan itu dibiayai bukan dari kas sendiri, tapi kas perusahaan. Lalu, biasanya kita tinggal di hotel yang menyediakan jasa binatu. Tak perlu khawatir biaya, baiknya bawa satu setel jas saja. Atau, di beberapa negara ada tempat penyewaan baju resmi. Ada juga cara berkemas ringkas dalam ransel/tas jinjing kompak yang bisa menghindari kusut.

Alasan ketiga, “Saya butuh membawa banyak sekali peralatan elektronik.” Seberapa banyak? Komputer jinjing, ponsel dan kamera D-SLR beserta lensa? Daripada beli banyak tas, lebih baik investasi di satu tas yang bisa menampun semuanya sekaligus seperti tas National Geographic ini (bukan promosi)! Punya banyak lensa kamera? Baca ini.


Tas punggung National Geographic yang mengakomodasi perangkat elektronik secara ringkas!

Berikutnya, alasan keempat, “Saya membawa bayi dan anak kecil”. Tips utamanya: hindari membawa tas bagasi besar. Coba membawa tas jinjing yang tak terlalu kecil tapi juga tak terlalu besar untuk menampung hampir semua kebutuhan si kecil. Pilih stroller yang ringkas (bahkan, lebih baik: gendongan), dan sebisa mungkin berikan ASI untuk menghindari membawa banyak sekali botol. Khusus penerbangan, kurangi membawa cairan dan sebisa mungkin membeli di tempat tujuan.

Alasan kelima, “Saya butuh sepatu untuk jalan-jalan di trotoar, sendal di pantai, sepatu hak tinggi untuk clubbing. Ribet, ya? Kalau liburan ke Bali, cukuplah bawa sendal. Kalau liburan ke Norwegia, kenakan satu pasang sepatu tahan angin dan kalis air. Satu. Pasang. Saja! Beli sendal di tempat tujuan kalau perlu, murah, kok!

Keenam, “Saya tak bisa hidup tanpa satu buku satu hari; dan berbagai mainan untuk anak saya!”. Coba, deh, bookswapping dengan teman seperjalanan atau bahkan, teman baru. Bawa satu buku, lalu ketika sudah selesai tukarkan dengan punya teman/keluarga atau teman baru. Harga buku juga relatif tak mahal, mungkin seharga 2 – 3 kali makan di negara maju; coba beli buku baru dan tukarkan dengan sesama pengelana. Pergi ke toko buku bekas dan beli lebih murah sehingga bisa ditinggal di mana pun, atau diberikan ke mereka yang membutuhkan. Beli iPad atau Kindle jika memang kita kutubuku sejati! Mainan anak, bagaimana? Didik anak kita untuk tak tergantung pada mainan fisik. Kalau perlu, miliki peralatan elektronik ringkas seperti iPad, iPod Touch atau PlayStation Portable. Lebih baik lagi, tunjukkan sisi menyenangkan dari perjalanan kita bersama anak-anak kita: interaksi antarpersonal!

Ketujuh, Masa’ saya mau bawa seluruh barang-barang saya seperti baju ke mana pun saya pergi, misalnya, waktu ke pusat perbelanjaan?”. Ada yang namanya daypack, atau ransel yang ukurannya kecil dan bisa dilipat masuk ke dalam tas yang lebih besar. Tinggalkan semua barang-barang lain di kamar hotel atau locker di hostel dan pergi dengan tas kecil, bersama kamera mungkin? Kalau pun kita tak membawa daypack, ransel atau tas jinjing yang sudah ada bisa digunakan. Keluarkan sebagian besar isi (yang tentunya tidak bernilai terlalu tinggi, seperti misalnya komputer jinjing atau perhiasan, yang harus disimpan di loket khusus) dan pergi dengan ransel/tas jinjing tersebut. Gampang, kan?

Kedelapan, Males nyuci, ah!”. Lebih males mana sama bagasi hilang, kecurian, geret-geret tas besar di trotoar mencari hostel di malam hari, kena razia acak sampai amburadul isi tasnya, berkemas selama lima jam, membongkar selama tiga jam, dan pulang membawa baju kotor segudang? Jika kita berkunjung ke negara dengan suhu dingin atau bahkan ketika musim dingin dan antisipasinya kita tak akan banyak berkeringat, baju tak akan cepat bau.

Kesembilan, “Tapi saya pakai hijab, banyak tudung dan baju panjang, nih!” Sekali lagi, kuncinya di bahan. Cari bahan yang cepat kering ketika selesai dicuci, dan lupakan skema warna berbeda untuk setiap hari. Cobalah untuk bisa kompromi dengan skema warna netral yang bisa dikombinasikan satu sama lain untuk semua jenis baju yang dibawa.

Lalu… ada tidak ya, yang kesepuluh? Ada yang punya ide?

Disunting oleh ARW 09/10/10


© 2017 Ransel Kecil