Artikel-artikel dari bulan September 2010

Memilih Kamera untuk Perjalanan

Berbagai pilihan kamera!

Merekam kegiatan selama perjalanan adalah hal utama yang harus dilakukan, selain tentu saja menikmatinya secara langsung. Kenangan yang didapat dari memori bisa hilang atau tergerus dengan memori selanjutnya, tapi dengan bantuan alat perekam seperti kamera atau tulisan, perjalanan menjadi monumen yang lebih konkrit, dapat kita rujuk berkali-kali di masa akan datang, semoga sampai ke generasi anak cucu kita.

Kamera apakah yang kita diskusikan di sini? Dua jenis kamera: kamera fotografi (still photography) dan kamera video.

Banyak dari kita yang sudah memiliki kamera untuk merekam kegiatan sehari-hari, tak hanya perjalanan. Tapi ada juga yang masih mencari, atau memang merencanakan untuk memaksimalkan perekaman perjalanan dengan perangkat yang lebih memberikan fleksibilitas dan kemudahan. Ingat, kata kuncinya adalah fleksibilitas dan kemudahan, karena seberapa bagus pun kualitas kameranya, secara teknis fotografi, tetap manusia di belakang alatnya yang menentukan apakah hasil foto itu bagus atau tidak. Kamera-kamera lebih canggih, mahal dan yang memiliki fitur terkini bukan berarti dapat secara otomatis menghasilkan foto yang lebih baik! Kemajuan teknologi hanya membuat segalanya menjadi lebih fleksibel dan mudah. Misalnya, jika dulu kita harus “sedikit” repot dengan membeli dan memasang film, kini tidak lagi. Kamera digital sekarang juga memiliki layar elektronik sehingga kita tak perlu memicingkan mata lewat viewfinder.

Sebelum membeli kamera baru, perlu diperhatikan pertimbangan berikut ini:

Tujuan dokumentasi

Apa yang kita inginkan dari dokumentasi perjalanan kita? Apakah sebatas sebagai album yang kita lihat di kemudian hari? Atau sebagai sarana belajar fotografi dan menangkap momentum? Atau mungkin, bagian dari proyek kreatif pribadi (misalnya, kita bisa membuat film pendek ala dokumenter yang kemudian bisa kita tunjukkan ke teman-teman dan keluarga)?

Portabilitas

Setelah menentukan tujuan di atas, kita bisa menentukan seberapa banyak atau seberapa besar yang bisa kita bawa. Hal ini tidak hanya melihat dari seberapa jauh kita ingin mendedikasikan waktu kita untuk dokumentasi, tapi juga jenis kegiatan dan destinasi. Tidak pantas, misalnya, membawa begitu banyak peralatan jika kita berada di tengah keluarga yang justru membutuhkan perhatian lebih dari kita. Atau, tidak membawa tripod ketika ada kans bagus untuk mengambil foto long exposure. Umumnya, untuk perjalanan pribadi atau wisata yang cenderung santai, kita tak perlu membawa begitu banyak lensa dan kamera. Cukup satu kamera berkualitas, mata yang jeli, serta pengetahuan yang memadai.

Bagaimana dengan membawa dua jenis kamera? Misalnya, kamera Digital-Single Lens Reflex (D-SLR) dan kamera saku point-and-shoot? Kalau kita jalan sendirian, rasanya kurang praktis. Memang, ada kredo yang mengatakan bahwa D-SLR kita bawa ketika kita ingin menangkap momentum yang lebih ‘serius’ atau ‘teknis’, lalu secara bersamaan kita bawa kamera saku, yang sewaktu-waktu bisa kita keluarkan ketika momentum bagus tiba-tiba muncul dengan cepat. Kamera D-SLR tidak dapat menangkap momentum ini secepat kamera saku, misalnya. Tapi menurut saya, selama kita bukan fotografer professional yang sedang bekerja dalam sebuah penugasan, atau benar-benar mendedikasikan sepenuhnya waktu berlibur kita untuk dokumentasi, rasanya tak perlu membawa dua kamera sekaligus. Istilahnya, kalap, karena kita punya semua, maka harus semuanya. Dokumentasi adalah suatu seni juga, tujuannya bukan merekam sebanyak-banyaknya (kecuali memang ingin begitu), tetapi bagaimana semua direncanakan dengan matang, sehingga kita lebih selektif dalam merekam. Percayalah, berapa banyak foto-foto yang tak kita gunakan atau benar-benar dibanggakan?

Pengetahuan dan Pengalaman

Banyak yang bisa membeli kamera sangat mahal tapi ternyata hasilnya tidak nyata atau biasa saja. Bagaimana hasil yang nyata itu? Mungkin kita punya situs Flickr yang aktif, dan tidak hanya memotret ketika liburan. Atau, punya photoblog yang rutin diisi. Atau, kita seorang profesional. Yang jelas, kita memang punya antusiasme terhadap fotografi sehingga pengetahuan yang dimiliki pun memadai. Punya kamera mahal, tapi digunakan. Pengalaman dan jam terbangnya tinggi.

Jika memang siap untuk meginvestasikan uang dalam bentuk kamera yang mahal, ada baiknya diimbangi dengan dedikasi yang “mahal” juga. Jangan sampai sudah beli kamera mahal-mahal tetapi hasilnya tetap “sama” saja dengan kamera lebih murah. Yang membedakan adalah tujuan-tujuan spesifik, misalnya dalam kasus kamera D-SLR vs. kamera saku, D-SLR lebih unggul dalam menangkap objek-objek bergerak. Semuanya kembali ke tujuan dokumentasi di atas.

Membawa terlalu banyak kamera tapi naif menggunakannya juga membuat kita tampak seperti turis yang terlalu sibuk dengan hal-hal teknis tapi lupa menangkap dan merasakan momentum yang sebenarnya!

Membawa begitu banyak kamera, inginkah kita?

Anggaran

Faktor ini yang paling bisa diukur. Seberapa banyak uang yang mau kita keluarkan (atau, investasikan) untuk sebuah perangkat dokumentasi, baik itu kamera fotografi atau video. Ada yang berpendapat bahwa kita harus menganggap pembelian sebuah kamera sebagai sebuah investasi, dalam arti, uang yang benar-benar dihabiskan adalah setara jumlah penyusutan nilai barang ketika dijual lagi. Jadi, misalnya, kita beli kamera yang kemungkinan besar masih dicari orang di masa akan datang, sehingga ketika dijual lagi, turunnya nilai jual tidak terlalu jauh. Selisih antara nilai waktu dibeli dan dijual inilah yang sebenarnya kita bayar. Menurut saya, jangan ragu untuk berinvestasi di kamera yang kualitas dan reputasinya sangat baik. Mungkin permintaannya juga tinggi.

Kesimpulannya, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Tidak hanya soal uang, tapi juga soal manusianya. Tujuan utama dari perjalanan adalah menangkap pengalaman yang tak bisa ditangkap oleh alat buatan manusia. Kecuali kita seorang profesional yang ditugaskan untuk meliput, ada baiknya kita teguh pada nalar dan kepraktisan kamera itu sendiri.

Disunting oleh ARW 26/09/10 & SA 15/11/10


Visa: Membatasi atau Memudahkan?

Di sebuah forum di internet, ada yang menanyakan, apa itu visa. Pernah dengar kata visa? Mungkin lebih sering dikaitkan dengan Visa, jaringan kartu kredit dan debit global. Walaupun kita sering menemukan manfaat dalam jaringan pembayaran Visa ketika dalam perjalanan, visa yang dimaksud di sini adalah dokumen verifikasi yang dikeluarkan oleh suatu negara terkait dengan pemohon dari negara lain yang ingin melakukan perjalanan ke negara yang dimohonkan visanya.

“Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia. ”

Lho, kenapa? Bukankah berbekal paspor saja cukup? Begini, situasi sosial, geografi dan politik banyak menentukan bagaimana pemerintah sebuah negara bersikap dalam menerima pendatang dari negara lain. Keadaan ini dipengaruhi lagi oleh hubungan bilateral dan multilateral, baik dalam lingkup yang spesifik maupun universal. Aman dikatakan bahwa sebagian besar perjalanan antara penduduk negara yang satu dan yang lain di seluruh dunia ini memerlukan visa sebagai sarana verifikasi apakah si pelaku perjalanan layak melakukan perjalanan tersebut, sekaligus meregulasi kegiatan dan lalu lintas pendatang (“alien”) di negara masing-masing. Ada beberapa pengecualian, di mana menurut asas reciprocal (balasan), perjalanan penduduk antara dua negara satu sama lain dibebaskan dari ketentuan tertentu, misal, membebaskan keperluan untuk memohon visa kunjungan sementara. Namun, tidak semua berasas reciprocal. Ada yang hanya satu pihak, kembali lagi tergantung dari hubungan bilateral, multilateral dan berbagai dimensi kepentingan lainnya. Asas reciprocal juga merambah elemen-elemen lain seperti besarnya biaya yang dikenakan. Misalnya, Amerika Serikatmengenakan biaya sebesar USD131 kepada setiap pemohon visa kunjungan, maka beberapa negara seperti Brazil dan Chile juga menetapkan tarif yang sama, khusus pada warga negara Amerika Serikat!

Itu baru soal kunjungan sementara, mungkin kunjungan wisata, mengunjungi teman/keluarga, bisnis dan lain-lain. Ada beragam kepentingan non-penduduk/non-warganegara, misalnya belajar atau bekerja. Hal ini dimungkinkan dengan regulasi yang bervariasi. Jenis-jenis visa yang ditawarkan tergantung kebijakan negara bersangkutan. Lazimnya, semakin penting peran atau posisi negara tersebut di percaturan dunia, semakin kompleks jenis-jenis visa yang ditawarkan. Permohonan visa biasanya dilakukan di kedutaan negara bersangkutan di negara kita, atau kalau tidak ada, di negara terdekat. Ya, benar, kita harus menuju ke negara terdekat dulu sebelum bisa memohon visa.

Sebuah visa bukanlah izin, apalagi kepastian. Ia juga bukan undangan, dan tidak menaruh hak apapun terhadap si pelaku perjalanan. Dengan memegang visa negara tertentu, jika memang diperlukan, maka si pelaku perjalanan semata telah diverifikasi identitas dan niatnya. Mereka yang tidak memiliki visa tidak akan diperbolehkan masuk ke negara tujuan, karena dinilai belum “memperkenalkan diri dan maksud” kunjungan, berpotensi membahayakan keamanan negara tujuan.

Penerbitan visa biasanya dilakukan dengan cara menempelkan secarik kertas atau stiker di atas satu atau dua halaman paspor, disertai informasi mengenai identitas pemohon dan regulasi yang diterapkan ke atasnya. Ketika sudah tidak berlaku lagi, lembar ini biasanya dicoret, dicap atau ada juga yang dibiarkan saja.

Ada beberapa asosiasi negara/regional yang memanfaatkan sistem aplikasi visa bersama, biasanya hanya berlaku untuk kunjungan wisata, sosial atau bisnis, di mana satu kali permohonan, visa yang didapatkan berlaku untuk beberapa negara yang tergabung dalam asosiasi tersebut. Contoh paling mudah adalah visa Schengen di negara-negara Uni Eropa, visa untuk beberapa negara Amerika Tengah seperti Guatemala, El Salvador, Honduras, dan Nikaragua, visa CAPRICOM untuk negara-negara Karibia (sudah tidak berlaku) dan yang dalam perencanaan adalah Univisa untuk negara-negara regional Afrika di bagian selatan dan Afrika bagian timur. ASEAN? Belum punya rencana, tampaknya!

Dari penerapan kebijakan visa ini bisa kita lihat bagaimana pergaulan antarnegara di dunia. Semakin bebas rakyat suatu negara untuk melakukan perjalanan ke negara lain, tanpa harus memohon visa kunjungan, misalnya, maka dapat dikatakan pemerintah dan rakyat negara tersebut semakin dipercaya di pergaulan dunia.

Jangan abaikan keperluan permohonan visa ini, karena selain bisa jadi satu-satunya jalan menuju ke tempat tujuan, juga terkadang menguras energi, waktu dan biaya. Beberapa negara maju menerapkan tarif visa yang mahal dan itu hanya tarif administrasi, artinya jika visa tak keluar, uang pun tak kembali! Selalu cek keperluan visa ketika ingin berkunjung ke suatu negara. Memang menyusahkan, tetapi mari kita sama-sama menjadi warga negara Indonesia yang baik dan patuh, sehingga semakin dipercaya sebagai warga dunia yang baik dan patuh, pula. Mana tahu, ada negara yang lambat laun menghapuskan kebijakan visa kunjungan terhadap kita, sehingga semakin mudahlah kita jalan-jalan!

  • Menurut data dari Henley & Partners, warga negara Indonesia bisa memasuki 46 negara tanpa harus melakukan permohonan visa kunjungan sebelum keberangkatan. Warga negara Malaysia sejumlah 151 negara, dan yang paling tinggi adalah warga negara Inggris, sejumlah 166 negara.
  • Bagaimana pun, Wikipedia menunjukkan data berbeda: warga negara Indonesia bisa memasuki 63 negara tanpa permohonan visa sebelum keberangkatan. Namun di Wikipedia dijelaskan bahwa angka tersebut termasuk paspor diplomatik dan dinas.

© 2017 Ransel Kecil