Artikel-artikel dari bulan Agustus 2010

Kopitiam dan Mamak

Foto Oriental Kopitiam, Malaysia
Oriental Kopitiam, Malaysia. Foto oleh Mohd. Fahmi Mohd. Azmi, (lisensi Creative Commons)

Di Jakarta khususnya akhir-akhir ini sering ditemukan restoran atau warung makan yang di depannya ada panggilan “kopitiam”. Setidaknya, sepengetahuan saya, ada beberapa merek kopitiam di Jakarta: Kopitiam Oey, milik pengamat kuliner Bondan Winarno, Killiney Kopitiam, Lau’s Kopitiam, KL Village Kopitiam, Old Town Kopitiam, dan barangkali beberapa kopitiam lain yang tidak kita ketahui. Sekilas, penampilan kopitiam hampir tak ada bedanya dengan restoran biasa, baru bisa diketahui bedanya ketika melihat perabotan dan dekorasi yang digunakan, biasanya menyiratkan khazanah visual dan budaya peranakan. Peranakan sendiri adalah asimilasi dari budaya Cina dan budaya setempat, dalam hal ini, Melayu, karena asal kopitiam adalah dari ranah Singapura dan Malaysia.

Kedai Kopitiam Oey di Jakarta
Kopitiam Oey di Jl. H. Agus Salim, milik Bondan Winarno

Bagaimana awalnya kopitiam itu ada? Sebenarnya tak ada bedanya dengan warung kopi di Indonesia. Nama kopitiam itu sendiri artinya adalah warung kopi. Kopi, kita tahu bersama, adalah istilah untuk coffee, dan tiam adalah kosakata Hokkien untuk toko atau shop. Jadi, kopitiam = coffee shop = warung kopi.

Istilah kopitiam sendiri memang asalnya dari Singapura, menyajikan minuman kopi dan teh, lalu dengan sarapan sebagai menu utamanya. Tidak ada makanan “berat” di kopitiam. Menu yang biasa disajikan adalah kopi, teh, teh susu/teh tarik, Milo, roti bakar dengan berbagai selai (biasanya srikaya), dan telur setengah matang yang disajikan dengan merica, garam dan kecap asin. Kopitiam lalu berkembang menjadi food court (pujasera), dengan pemilik kopitiam yang menyewakan tempatnya untuk penjaja lain. Alhasil, menu yang ditawarkan berkembang menjadi full meal (char kway tiao, nasi lemak dan mie hokkien), tetapi si kopitiam asal tetap mempertahankan menu utamanya: sarapan. Setelah itu, muncullah kopitiam yang lebih mandiri dan eksklusif, menyajikan menu spesialis sarapan sampai ada juga yang lebih komplit, tetapi tetap oleh satu pengelola.

Lokasi kopitiam biasanya berada di pusat-pusat perbelanjaan atau lingkungan perumahan. Tempat ini menjadi favorit masyarakat Singapura untuk bertemu ketika pagi hari maupun sore hari.

Dekorasi yang paling khas dari kopitiam adalah meja kayu yang dilapis pualam di atasnya. Selebihnya, bisa bervariasi. Kalau tak mampu menyediakan meja pualam, meja dan bangku apapun jadi, yang penting makanannya!

Lalu, apa pula itu “mamak”? Bukan, ini bukan panggilan ibu di Singapura. “Mamak” adalah warung kopi ala Malaysia yang akarnya dari pendatang Tamil dari negeri India. Menu yang disajikan sedikit berbeda, dan tidak hanya sarapan, melainkan lebih luas, dan, seperti bisa ditebak, memiliki pengaruh India yang kental.

Kedai mamak yang dimiliki oleh Melayu di Singapura
Kedai mamak yang dimiliki oleh Melayu di Singapura

Di Malaysia sendiri, istilah “kopitiam” lebih merujuk pada warung kopi ala peranakan, khususnya Cina, dan sifatnya lebih eksklusif. Mamak, di sisi lain, lebih merakyat. Mamak biasanya terdapat di ruko, di satu sisi daerah permukiman, atau yang lebih modern pun ada, di dalam mall yang menjadi satu dengan pujasera.

Menu apa saja yang disajikan di sebuah kedai mamak? Hampir sama dengan kopitiam: teh tarik, kopi susu, teh, kopi, es teh jeruk nipis, Horlicks, Milo, es jeruk nipis. Makanan yang disajikan merupakan variasi makanan India seperti roti canai dengan saus kari, martabak, chappati, nasi briyani, nasi kandar (nasi rames ala India) sampai asimilasi makanan Thailand dan Melayu: nasi lemak, tomyam, nasi goreng pattaya.

Apa kesamaan dari kopitiam dan mamak? Pada dasarnya, kopitiam dan mamak adalah sebuah budaya kuliner rakyat di Singapura dan Malaysia, berakar dari negeri asing, yang sudah berasimilasi dengan budaya warga setempat. Mereka sama-sama menjadi wadah sosialisasi warganya dengan harga yang murah meriah. Sama seperti warung kopi angkringan di Indonesia. Yang menarik, mereka bisa mengekspornya ke luar negeri sebagai alternatif coffee culture yang berasal dari barat seperti Starbucks dan The Coffee Bean and Tea Leaf.

Oh ya, mereka juga punya kosakata yang sama untuk menyebut menu minumannya:

* kopi oh = kopi saja, panas, manis
* kopi oh peng = kopi saja, dingin, manis
* kopi oh kosong = kopi saja, panas, tak manis
* kopi oh kosong peng = kopi saja, dingin, tak manis
* kopi = kopi susu, panas, manis
* kopi peng = kopi susu, dingin, manis
* kopi ‘c’ = kopi panas dengan susu kental, manis
* kopi ‘c’ kosong = kopi panas dengan susu kental, tak manis
* kopi ‘c’ peng = kopi dingin dengan susu kental, manis
* teh oh = teh saja, panas, manis
* teh oh peng = teh saja, dingin, manis
* teh oh kosong = teh saja, panas, tak manis
* teh oh kosong peng = teh saja, dingin, tak manis
* teh = teh susu, panas, manis
* teh peng = teh susu, dingin, manis
* teh ‘c’ = teh panas dengan susu kental, manis
* teh ‘c’ kosong = teh panas dengan susu kental, tak manis
* teh ‘c’ peng = teh dingin dengan susu kental, manis

Disunting oleh ARW 31/08/10


Pentingnya Asuransi Perjalanan

Satu anggaran yang sering terlupakan dalam setiap perjalanan adalah asuransi perjalanan. Banyak dari kita, apalagi yang muda, yang pergi ke luar negeri jauh-jauh tanpa persiapan ini. “Sayang uangnya,” atau “saya optimis, tak akan terjadi apa-apa,” adalah beberapa tanggapan kenapa melangkahi kewajiban yang satu ini. Memang, hidup-mati, sehat-sakit dan kaya-miskin, tak ada yang tahu apa dan kapan akan terjadi pada diri kita. Namun, sebagai tanda sayang pada keluarga yang menunggu di rumah, pedulikah kita untuk membebaskan mereka dari rasa khawatir dan beban finansial?

Dalam setiap perjalanan, perlu dipahami bahwa resiko fisik dan psikologis itu nyata:

Sakit: Siapa yang mau sakit, tapi kita tak pernah tahu. Apalagi kalau kita berada di negeri antah-berantah yang biaya perobatannya mahal. Kalau sakitnya parah dan butuh evakuasi, siapa yang mau tanggung biaya dan koordinasinya?

Tindak kejahatan: Kecopetan, terluka karena tindak kriminal dan pelecehan seksual adalah beberapa kemungkinan terburuk. Tidak mengharapkan itu untuk terjadi, tetapi setidaknya setelah kita urus ke polisi setempat dan kedutaan besar Indonesia, kerugian finansial dapat tergantikan.

Kesalahan Maskapai: Seringkali kita mendengar bagasi yang salah kirim atau tertinggal. Seringkali juga kita mendengar penundaan atau pembatalan perjalanan pesawat terbang karena kelalaian maskapai, kesalahan teknis atau cuaca buruk. Tanpa asuransi, kemungkinan besar kitalah yang harus menanggung beban finansialnya.

Bencana alam: Memang asuransi perjalanan secara gamblang tak mendukung klaim berdasarkan kejadian yang tidak bisa dikontrol manusia seperti bencana alam, tetapi dalam kasus meletusnya gunung berapi Ejyafjallajokull di Islandia beberapa waktu lalu, ada satu analisa yang dapat diambil: pihak asuransi akan menilai berdasarkan peristiwa-peristiwa sekunder yang disebabkan oleh bencana tersebut, seperti penundaan/pembatalan penerbangan.

Kecelakaan: Rasanya skenario ini cukup jelas, tidak hanya kecelakaan transportasi udara tapi juga kecelakaan transportasi darat dan laut. Bagian ini juga mencakup kecelakaan yang disebabkan oleh kegiatan dalam perjalanan, misalnya yang terjadi ketika berenang di laut, atau mendaki gunung. Silakan periksa kembali polis asuransi kita apa benar ada lingkupnya.

Berapa anggaran yang perlu dialokasikan untuk asuransi perjalanan? Banyak macamnya, tergantung lama perjalanan, lingkup dan perusahaannya. Paling tidak, untuk perjalanan ke negeri-negeri di ASEAN, butuh anggaran minimal sekitar USD25 untuk 7-10 hari per orang. Untuk perjalanan ke Amerika atau Eropa, paling tidak minimal sekitar USD40 – 50 untuk satu minggu, sampai USD100 untuk satu bulan.

Selalu periksa lingkup asuransi perjalanan yang akan kita beli. Biasanya, asuransi perjalanan yang baik lingkupnya mencakup:

  • Kecelakaan fisik – termasuk meninggal dan cacat permanen
  • Transportasi – pembatalan atau penundaan
  • Bagasi – keterlambatan, kehilangan atau kerusakan
  • Rawat inap selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Rawat jalan
  • Obat-obatan selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Biaya dokter selama di lokasi perjalanan dan setelah pulang ke rumah
  • Biaya evakuasi ambulans (udara dan darat), baik masih hidup atau sudah meninggal dunia
  • Penggantian tiket pulang-pergi
  • Biaya penjemputan oleh keluarga, termasuk transportasi dan akomodasi

Jadi, ketika merencanakan perjalanan kita selanjutnya, masukkanlah anggaran untuk asuransi perjalanan. Sayangi diri kita dan keluarga yang menunggu di rumah!


Menghadapi Imigrasi

Jam Digital
Jam digital di Bandara Narita, menuju imigrasi

Melakukan perjalanan sebagai warga negara Indonesia (WNI) dan memegang paspor berwarna hijau itu suka membuat deg-degan jantung, apalagi kalau yang dituju negara yang memiliki sentimen terhadap WNI, baik itu tentang terorisme maupun tenaga kerja. Semua itu tak ubah juga seperti mencurigai seluruh WNI sebagai kriminal. Lebih deg-degan lagi kalau kita ternyata butuh visa yang didaftarkan sebelum berangkat, biasanya oleh negara-negara yang maju dan sentimennya tinggi sekali. Apa yang akan ditanya? Apa barang kita akan dibongkar? Prosedur macam apa yang harus dilalui? Apa visa yang tertera di paspor menjadi penjamin mutlak? Berikut beberapa tips universal menghadapi imigrasi, semoga dapat memperlancar urusan kita di pintu masuk negara mana pun!

h3. Lengkapi dokumentasi perjalanan

Menggunakan Google Docs untuk arsip dokumentasi perjalanan

Sebelum berangkat, lengkapi seluruh dokumentasi kita, sampai yang terkecil dan serasa “tak penting”. Yang pasti harus diingat:
* Nama dan alamat hotel/hostel/apartemen/rumah tempat tinggal di negara tujuan
* Hasil cetak reservasi hotel/hostel/apartemen yang kita pesan di internet atau agen perjalanan
* Tiket pesawat/kereta api/kapal pulang-pergi atau terusan (untuk keluar dari negara tersebut)
* Surat undangan untuk keperluan (bisa dari sebuah acara resmi atau dari warga negara/permanen di negara tujuan)
* Jadwal/rencana perjalanan (itinerary) yang ringkas dan informatif

Dokumentasi di bawah ini juga dibawa sebagai informasi pendukung:

* Bukti yang menunjukkan bahwa kita terikat tanggungjawab untuk kembali ke tanah air, misalnya Kartu Tanda Pelajar, kartu nama bisnis, atau kartu identitas pegawai
* Bukti yang menunjukkan kemampuan finansial seperti kartu kredit dan rekening koran
* Alamat kedutaan besar/konsulat jenderal Indonesia
* Hasil cetak Google Maps tempat-tempat penting yang akan kita kunjungi, misal hotel atau gedung pertemuan
* Fotokopi identitas seperti KTP dan paspor—untuk yang satu ini bisa diunggah dalam versi elektronik ke layanan seperti Google Documents
* Hasil cetak situs web atau brosur tempat-tempat yang kita kunjungi
* Tiket transportasi dalam-negara yang akan kita naiki (di luar tiket internasional), jika sudah siap

h3. Berpenampilan memadai

Bukan berarti sepatu kita harus mahal atau pakai dasi dan jas ke mana pun, tapi tunjukkan bahwa kita memang terpelajar dan berbudaya. Ada “sense of purpose“.

* Pakai kaos, blus, jas, atau kemeja? Apapun yang kita pakai, jangan pakai baju yang sudah rusak
* Jangan menampilkan grafis atau tulisan di baju yang memprovokasi, misalnya kalau ke Amerika jangan pakai kaos bernada intifada, kalau ke India jangan menunjukkan simbol yang menghina kebudayaannya
* Pakai jins oke-oke saja, tapi tinggalkan jins yang bolong-bolong itu di rumah, membuat kita tampak seperti gembel yang tak punya tujuan
* Hindari juga mengenakan pakaian dan perhiasan yang berlebihan, terlalu menarik perhatian (kalau berlapis, takut dicurigai membawa sesuatu; kalau terlalu ‘silau’, membuat kita mudah menjadi sasaran inspeksi acak)
* Sisir/ikat rambut, benahkan kerah, benahkan sepatu, intinya rapikan diri kita
* Pakai ikat pinggang yang tak menggunakan bahan metal yang mudah terdeteksi
* Tegakkan tubuh dan jalan dengan normal
* Yang terpenting, kita harus tampak nyaman, percaya diri dan mengenakan sesuatu yang memudahkan perjalanan

h3. Siapkan diri menjawab pertanyaan petugas

Tergantung negara tujuannya, ada baiknya kita menanyakan pada teman yang sudah pernah ke sana. Kira-kira apa yang akan ditanyakan, lalu bagaimana sebaiknya menjawabnya.

* Kalau tak yakin, pikirkan atau tuliskan mengenai pertanyaan yang mungkin dan siapkan jawabannya
* Tenangkan tubuh dan pasang wajah yang percaya diri, jawab *seperlunya*, jangan menambah-nambahkan atau bercanda berlebihan
* Jangan terlihat ragu dan bingung
* Jangan pernah melirik teman seperjalanan untuk menjawab sebuah pertanyaan, kecuali sangat diperlukan
* Jangan panik jika terjadi sesuatu, ikuti petunjuk, siapkan semua dokumentasi di atas

Pertanyaan yang lazim ditanyakan (beserta contoh jawaban) adalah:

* T: Berapa hari di sini? J: Satu minggu.
* T: Mau apa di sini? J: Mengunjungi teman.
* T: Temannya tinggal di mana? J: [sebutkan alamat lengkap]
* T: Bagaimana kamu kenal dia? J: Lewat internet
* T: Mau ke mana saja selama di negara ini? J: Kota A, kota B, kota C
* T: Mana tiket terusannya? J: [tunjukkan tiket-tiket]

Ada beberapa inspeksi sekunder yang membuat kita makin tertekan, tapi tetap jangan panik dan ikuti petunjuk petugas. Mereka biasanya melakukan inspeksi acak terhadap wajah-wajah yang mereka curigai, atau usia tertentu. Bukan berarti kita salah, kan? Kalau sudah masuk ke inspeksi sekunder, biasanya kita akan ditanyai hal-hal lebih dalam:

* Siapa nama ayah dan ibu?
* Kamu bekerja di mana, sekolah di mana?
* Apakah ada niat untuk bekerja dan tinggal di negara kami?
* Apa isu yang berkembang di negara kamu?
* Apa yang kamu tahu tentang hubungan negara kamu dan negara kami?

Bukan tidak mungkin mereka juga akan menggeledah isi tas kita. Tetap tenang dan jelaskan isinya jika ditanya.

h3. Etika bepergian bersama

* *Jangan* menunggu teman/anggota keluarga yang sedang diinspeksi terlalu dekat dengan kaunter imigrasi. Kita pasti diusir, kalau tidak dicurigai.
* *Dahulukan* yang lebih muda, anak kita, atau yang uzur, sehingga kalau ada masalah, kita masih ada di belakang. Untuk yang paspornya masih jadi satu dengan anak-anak kita, pergi bersama.
* Jika teman kita masuk ke inspeksi sekunder, bersabarlah. Kalau terlalu lama, kita bisa menanyakan petugas, dan memperkenalkan diri bahwa kita adalah temannya dan menanyakan apa yang menghambatnya terlalu lama.

h3. Etika di area imigrasi

* *Jangan* mengeluarkan kamera dan mengambil foto. Area imigrasi adalah area dengan pengamanan tinggi.
* *Sebisa mungkin* tidak mengoperasikan ponsel atau gadget lain. Nanti ada waktunya. Fokus pada kegiatan mengantri.
* Antri dengan tertib. Atur anggota keluarga kita dengan baik, terutama jika ada anak-anak.
* Jangan bercanda berlebihan hingga terdengar keras, apalagi bercanda tentang bom!

Disunting oleh ARW & SA 13/08/10


A untuk Apel

Salah satu kenangan dalam perjalanan ke negeri asing adalah masalah berkomunikasi. Bagi Anda yang bisa bahasa lokal negeri itu, tentu hal ini tidak terasa. Tetapi bagi yang tidak bisa pasti ada beberapa kesan tentang hal ini. Ini adalah catatan perjalanan saya.

Bandara Los Angeles
Bandara Los Angeles

Saat itu saya berada di bandara Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Bandara LA, adalah kanal transportasi udara yang sibuk. Maklumat dalam bahasa Inggris, Spanyol, China, dan Jepang itu terdengar membahana tiada henti; pesannya agar kita tidak meninggalkan bagasi sembarangan. Memandang sekilas, banyak manusia dari segala ras, berjalan-berkeliling, sibuk dengan segala urusan mereka. Ada muda-mudi Jepang yang ngejreng dandanannya. Seorang pekerja yang menilik penampilannya adalah dari India, terlihat rapi dan ringkas. banyak wisatawan China yang sudah renta, dan lebih banyak lagi warga A.S. Sekelompok keluarga, dengan beberapa wanita, lelaki, dan anak-anak, patuh berjalan seperti gembalaan. Menilik perawakan dan wajah mereka, saya kira dari Bangladesh. Seorang petugas membawa tanda besar bertuliskan IOM dengan sabar melayani mereka. Kelompok itu menjalani imigrasi khusus yang terpisah untuk imigran. Riuh dan ramai, itulah bandara LA.

Perlu diketahui, ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, juga pertama kali ke Amerika, demikian halnya uji-coba perdana kemampuan bahasa Inggris saya, yang menurut saya masih belepotan. Karena tujuan akhir adalah AS, maka saya diwajibkan mendaftarkan di imigrasi sebelum melanjutkan untuk transit penerbangan lokal. Setelah masuk imigrasi dan diikuti registrasi kedua di imigrasi, semuanya memakan waktu hampir 2 jam, akhirnya saya bisa keluar gerbang.

Akibatnya, saya hampir terlambat mengejar penerbangan selanjutnya. Waktu tersisa kira-kira 40-an menit. Mana saya tidak punya referensi atau riset mengenai bandara itu sebelumnya.

Saya keluar dan bertanya kepada seorang petugas bandara berkulit hitam. Saya tahu dia petugas bandara karena ada lencana bertuliskan TSA. “Bagaimana saya harus ke Gerbang 6?,” tanya saya. Bapak agak diam sejenak. Apakah bahasa Inggris saya kurang jelas? Ataukah pertanyaan saya yang bodoh?

Tapi dia lalu menjawab, “Oh, kamu bisa jalan ke sana” Dia menunjuk arah di belakang saya. “Atau kamu bisa naik bis berkode A” Saya saat itu di Gerbang 7. Tapi saya benar-benar tak tahu bahwa Gerbang 6 adalah gerbang selanjutnya, bukan memutar atau berada di wilayah lain, seperti di Bandara Soekarno-Hatta misalnya. Perlu diketahui, bandara LA strukturnya berbentuk U. Makanya saya memutuskan bertanya takut gerbang itu berada di wilayah lain itu.

“Ugh, okay. Bus A, ya?” tanya saya.

“Ya, A… seperti untuk A, p, e, l. Apel. Tahu kan?”

Apel? Batin saya. Oh iya, A, si Apel. Ah parah betul nih, masak A saja saya tidak tahu. Demikian pikir saya. Lalu saya bilang, “Terima kasih, Tuan.”

Itulah sebagian contoh komunikasi di negeri asing, dengan kemampuan bahasa Inggris seperti saya. Problem komunikasi dalam bahasa adalah sebuah hal yang menarik dalam setiap perjalanan. Banyak kisah lain. Anda pun pasti punya.

Tapi ketika saya mendarat di lokasi tujuan dan menumpang taksi. Saya sempatkan ngobrol dengan pengemudinya. Dan saya mendapatkan pujian bahwa bahasa Inggris saya bagus. Dia bertanya, “Apakah saya sering berkunjung ke Amerika?” Nah. Belum tentu kalau kita merasa kurang bagus ternyata menurut orang lain tidak bagus. Bahkan menurut pengemudi itu, dia bilang banyak orang Amerika yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Saya agak tak percaya. Tapi ketika ada orang lain yang memuji bahasa Inggris saya lagi, saya baru percaya bahwa bahasa saya meski jelek, cukup untuk bisa bertahan berpetualang di sana.

Masalah lain adalah ketika melakukan perjalanan di negara yang tidak mempunyai tulisan dasar huruf latin, seperti Jepang, China, Thailand, atau negera-negara Arab.

Papan Petunjuk di Bandar Beijing
Di Bandara Beijing

Suatu ketika di bandara Beijing, China, saya ingin bertanya di manakah lokasi tempat makan. Dan meluncurlah jawaban ala pantomim itu. Tunjuk sana. Tunjuk situ. Wajah melotot. Frustrasi. Tanya ke petugas lain sama saja. Tanpa keluar bahasa Inggris pun. Mungkin ada yang bisa, tapi sangat sedikit.

Suasana di sebuah pasar malam, Thailand
Suasana di sebuah pasar malam, Thailand

Di Thailand juga sama parahnya. Rata-rata orang di sana kurang cakap berbahasa Inggris. Tapi jangan takut untuk mencoba, ada beberapa yang bisa bahasa Inggris, meskipun itu juga sangat terbatas. Suatu ketika ketika sampai lokasi pemberhentian terakhir angkutan di Krabi. Saya tanya pada petugas tentang lokasi hotel saya, saya tunjukkan cetakan nama hotel itu sambil mengucapkannya. Dia mungkin tahu. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Atau dia juga tidak bisa menulis aksara latin. Parah kan?

Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang lokal pun tidak mengenal angka. Tuntas sudah keterasingan kita. Bayangkan ketika untuk membayar pun tidak tahu. Salah satu strategi saya biasanya hanya menyodorkan uang kecil, lalu meminta penjual itu mengambilnya. Beres sudah.

Yang agak tak enak adalah ketika kita mencicipi makanan lezat, lalu kita tak tahu nama makanan itu. Orang lokal pun tak bisa menjelaskan dengan jelas. Kita tak mampu menangkap bahasanya. Tulisan pun tidak membantu.

Itulah problem bahasa. Susah, memang. Tapi jangan takut. Berani untuk berkomunikasi sering membantu perjalanan kita. Bahkan mungkin jadi kenangan terindah dalam perjalanan Anda.

Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan orang Thailand, Jepang, dan Arab. Mereka semua tidak bisa bahasa Inggris. Dan saya tidak bisa bahasa mereka. Dan meluncurlah bahasa kita yang asing itu. Bahasa tubuh. Bahasa melotot. Bahasa senyum. Tapi saya tahu mereka bilang bahwa Indonesia itu bagus, orangnya suka senyum seperti mereka. Dan komunikasi dunia tercipta.


© 2017 Ransel Kecil