Artikel-artikel dari bulan Juli 2010

Menggambar Sebuah Kenangan Perjalanan

Andong & pintu biru

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Solo dan Yogyakarta. Tidak ada rencana atau tujuan khusus ketika saya merencanakan liburan di kota tua ini, hanya ada perasaan ingin bertualang yang begitu besar, melepaskan diri dari hiruk pikuk kota Jakarta, kota kelahiran dan tempat tinggal saya yang keadaannya semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Salah satu tujuan yang ingin dicapai ketika merencanakan jalan-jalan ke Solo dan Yogyakarta, adalah untuk menggambar sebanyak mungkin di kota-kota tersebut.

Terminal 3 Soekarno-Hatta

Ketika berkunjung ke sebuah tempat yang jauh, selalu ada hasrat untuk mengabadikan momen dan fenomena yang kita lihat. Ada keinginan untuk suatu saat nanti menatap kembali satu demi satu gambar yang mengingatkan kita akan tempat indah yang pernah kita kunjungi. Selain menggunakan kamera, ada cara lain yang mungkin sudah lama ditinggalkan, yaitu dengan membuat sketsa tempat-tempat yang berkesan di hati kita.

Menggambar ataupun membuat sketsa perjalanan mungkin bukan sebuah ide yang populer lagi, terutama pada jaman di mana teknologi terkadang sudah melampaui imajinasi manusia yang terliar sekalipun. Namun buat saya, selalu ada sebuah perasaan bahagia ketika saya menggoreskan pensil atau pena di atas sehelai kertas putih. Ada sensasi yang tak terkatakan ketika garis-garis yang saya buat membentuk sesuatu yang menyerupai pemandangan cantik yang saya lihat di depan mata. Ketika gambar tersebut sudah hampir selesai, untuk kemudian saya warnai pada kesempatan berikutnya, saya akan menikmati setiap warna yang saya tumpahkan ke dalam kertas. Alangkah ajaibnya ketika saya merasakan bahwa gambar tersebut nampak seperti nyata. Tempat yang dahulu pernah dikunjungi, tempat yang begitu indah, kini hadir kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda, namun tidak kalah cantiknya.

Benteng Kesunanan Surakarta

Pintu biru Daleman, Kasunanan Solo

Ketika kita memindahkan suasana ataupun obyek ke sebuah kertas, besar kemungkinan bahwa kita akan menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari bentuk aslinya. Hal ini tidak semata-mata dikarenakan oleh kecenderungan pelukis untuk melebihkan nilai estetis dari obyek yang ia gambar, namun memang sudah menjadi salah satu karakter khas lukisan untuk tampil lebih menarik dan indah dibanding obyek aslinya. Jika kita menyetujui teori tersebut, maka hampir semua obyek-obyek yang kita lihat selama kita melakukan perjalanan akan terlihat lebih menarik dalam versi sketsa atau lukisan.

Tentunya, untuk mencapai kondisi di mana kita bisa menghadirkan sebuah lukisan yang indah, kita membutuhkan waktu untuk berlatih. Namun hal tersebut bukan alasan untuk menunda kita melakukan aktivitas sketsa dalam perjalanan. Justru untuk meraih kemampuan yang kita inginkan, kita bisa berlatih sebanyak mungkin. Setiap goresan yang kita buat adalah berharga, setiap usaha yang kita lakukan pasti bermanfaat untuk melatih kemampuan gambar kita, dan tidak ada kata terlambat untuk memulai menggambar, kapan saja dan di mana saja. Obyek-obyek yang tersebar pada saat kita melakukan perjalanan merupakan sesuatu yang mungkin tidak akan kita temui lagi pada waktu dekat, dan dengan demikian menjadi sangat berharga untuk kita abadikan dalam suatu bentuk karya seni.

Bangsal Siti Hinggil Keraton Yogyakarta

Sebuah karya yang bisa dikatakan ‘indah’ pun, merupakan bagian dari sebuah kondisi yang sangat subyektif dan tergantung kepada selera orang yang menilai. Sketsa yang tampak sangat sederhana bisa terlihat lebih indah dibanding sketsa yang tampilannya rumit dan detail, demikian juga sebaliknya.

Salah satu pemberi insipirasi saya untuk melakukan kegiatan melukis kota dan suasana adalah sebuah situs internet beralamat www.urbansketchers.com. Dalam situs tersebut, para anggota menyumbangkan gambar atau lukisan yang mereka buat ketika mereka mengunjungi sebuah tempat. Tidak harus tempat atau obyek yang jauh, bisa juga sebuah obyek yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hasil karya para anggota yang bisa kita lihat di situs tersebut mencerminkan betapa luas dan kaya ciri khas serta potensi tiap individu. Dari sketsa dengan garis-garis sederhana sampai lukisan dengan teknik mewarnai yang mendekati aslinya, semua ada tergambar di sana.

Di situs tersebut tidak terlihat ketakutan berlebihan akan garis distorsi ataupun proporsi yang tidak sesuai. Usaha untuk menampilkan garis yang tidak distorsi beserta dengan proporsi yang sesuai tentu ada. Namun hal tersebut bukan fokus utama yang ada dalam pikiran para pelukis ketika mereka menggambar. Terkadang ketakutan kita akan kesalahan, justru merupakan rintangan utama kita dalam menghasilkan sebuah karya. Pelukis di komunitas Urban Sketchers berusaha untuk tetap mengapresiasi setiap karya, sambil terus menghasilkan karya-karya lain yang diharapkan akan lebih baik dari karya sebelumnya.

Urban Sketchers tidak memiliki sebuah peraturan khusus dalam menggambar, namun mereka memiliki satu prinsip dasar: kita menggambar apa yang kita lihat. Kejujuran ketika menggambar sebuah obyek adalah sesuatu yang sangat dihargai, dan dipegang teguh oleh para pelukis kota tersebut. Para pelukis akan menggambar di lokasi, dan mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka lihat, tanpa mengurangi ataupun menambahkan obyek apapun. Hal ini akan menghadirkan sebuah karya seni yang jujur terhadap realita, dan pada akhirnya menambah nilai dari karya itu sendiri. Prinsip inilah yang terus saya pegang ketika saya menggambar obyek ataupun suasana yang bisa saya temukan dalam perjalanan.

Demikian, berbekal semangat untuk menghasilkan karya-karya, dengan dua buah buku sketsa Moleskine yang berbeda (satu diperuntukkan khusus cat air, dan satu lagi diperuntukkan sketsa pensil dan pena), saya menyelusuri kota Solo dan Yogyakarta, mencari sudut-sudut menarik dan kejadian-kejadian unik yang tak akan saya temukan di tempat lain.

Hari pertama, tiba di bandara Adisutjipto Yogyakarta pukul 17.00 WIB. Karena matahari sudah hampir terbenam, saya tidak melakukan aktivitas sketsa outdoor pada hari itu. Satu hal yang sering terlewat dalam perhatian ketika kita merencanakan perjalanan yang melibatkan aktivitas sketsa, adalah bahwa ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan, salah satunya perencanaan kegiatan. Misalnya, aktivitas sketsa outdoor akan jauh lebih baik dan nyaman dilakukan pada waktu pagi, siang, atau sore. Ketika gelap, akan sangat sulit atau bahkan tak mungkin kita menghasilkan sketsa atau lukisan yang sesuai dengan yang diinginkan. Sederhana, namun sering terlupa. Untuk itu ada baiknya mendatangi tempat-tempat yang ingin digambar pada saat pagi, siang, atau sore hari. Malam hari bisa dipakai untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain.

Karena sudah gelap, maka hari pertama saya mampir sebentar di Yogyakarta. Pada malam harinya kami (saya berdua dengan saudara yang menjemput saya di bandara Adisutjipto) menuju Solo untuk menginap di Hotel Lor In. Keesokan paginya, saya memulai perjalanan sketsa pertama di Kraton Kasunanan Surakarta. Keraton Surakarta merupakan salah satu keraton yang paling indah yang pernah saya datangi, dengan sisa-sisa kemegahan masa lalu yang masih tampak. Benteng keraton yang mengelilingi kawasan abdi dalem, kerbau bule yang dinamai Kyai Slamet, sampai pohon besar yang menyerupai gapura di pintu masuk keraton, seperti menyimpan misteri tersendiri.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena media sketsa bisa menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari aslinya, maka setiap obyek menarik yang saya temukan dalam perjalanan menjadi sangat menggoda untuk digambar. Bahkan obyek-obyek wisata yang terdengar umum serta ‘standar’ seperti Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Yogyakarta, sampai Candi Prambanan, akan menjadi sangat menarik untuk dilukis.

Relief singa di Candi Prambanan

Pada hari ketiga dan keempat, saya berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Sketsa dan lukisan yang saya buat di kedua tempat ini merupakan karya yang paling memuaskan untuk saya. Bukan tentang bagus tidaknya karya tersebut, melainkan lebih ke perasaan saya ketika melukis obyek-obyek tersebut. Saya sangat mencintai keraton dan candi yang tersebar di Indonesia, khususnya di Jawa. Merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berhasil menuangkan imaji keraton dan candi yang begitu indah ke dalam lembaran kertas.

Hari kelima, yang merupakan hari terakhir, saya habiskan sepenuhnya di Hotel Lor In, Solo. Kebetulan Hotel Lor In adalah business hotel yang memiliki konsep desain interior menyerupai boutique hotel, dan dengan demikian banyak sekali sudut-sudut yang bisa dieksplorasi dan dipindahkan dalam bentuk gambar.

Sekitar pukul 15.00 WIB di hari kelima, dengan mobil kami meninggalkan hotel untuk meluncur ke bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Beberapa jam lagi pesawat kami akan lepas landas menuju Jakarta. Ada perasaan sedih ketika saya melihat pohon-pohon, pegunungan, dan sawah yang kami lewati. Perasaan yang mengatakan bahwa dalam waktu yang cukup lama, saya tidak bisa lagi menatap salah satu candi Jawa terindah, dan memindahkan relief-relief kuno tersebut ke atas kertas. Saya mungkin harus menunggu entah berapa lama lagi untuk menemukan dan mengeksplorasi langgam-langgam arsitektur tak terduga yang baru tersadari ketika saya menggambar arsitektur kolonial di Malioboro kemarin sore. Saya juga tidak tahu kapan lagi saya bisa menelusuri benteng Keraton Kasunanan, sambil selalu berdecak kagum sekaligus sedih pada kemegahan dan kekuasaan yang kini telah berlalu.

Salah satu transisi menuju halaman Keraton Yogyakarta

Namun saya tahu, sampai waktu yang akan tiba nanti, sampai saya kembali untuk menggambar mereka kembali, saya sudah berhasil menyimpan kenangan indah di dalam dua buku sketsa yang saya bawa. Oleh-oleh yang paling berharga yang bisa saya lihat dan nikmati ketika tiba-tiba saya rindu akan tanah Jawa.

  • Disunting oleh ARW & SA 23/07/10

Mencari Kesederhanaan di Danau Sentarum

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) merupakan taman nasional yang ada di wish list teratas taman nasional wajib kunjung saya. Saya melompat kegirangan ketika kantor mengirim saya ke sana untuk survei lapangan. Satu hal yang membuat saya lebih gembira lagi adalah saya akan ditemani oleh Jimmy Syahirsyah, seorang wildlife photographer handal sekaligus kolega saya di kantor. Jimmy bekerja di Kalimantan Barat dan rutin keluar masuk hutan untuk berbagai ekspedisi sehingga kami jarang sekali bertemu.

Rumah di Danau Sentarum

Untuk menuju TNDS, cara tercepat adalah dengan pesawat Trigana Air dari Pontianak sampai Putusibbau. Pesawat jurusan ini hanya terbang dua kali seminggu, Kamis dan Sabtu dengan harga tiket Rp 700.000,-. Dari Putussibau, kami naik mobil sampai ke daerah Lanjak di Kapuas Hulu. Total perjalanan darat saya 6 jam: dua jam di jalan beraspal sementara empat jam berikutnya jalan tanah putih yang sangat buruk pada beberapa titik. Untung saja malam itu kami hanya ditemani hujan gerimis dan tanpa pungutan liar dari masyarakat sekitar.

Perjalanan ke TNDS memakan waktu 1 jam 10 menit dari pelabuhan Lanjak dengan speedboat. Sebelumnya saya dan Bang Jimmy harus melapor ke kantor perwakilan TNDS untuk membayar karcis masuk dan mengurus Simaksi (Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi). Biaya yang dikenakan adalah Rp 30.000,- untuk Simaksi dan Rp 1,500,- untuk karcis masuk TNDS per orang per hari. Matahari sudah terik di atas sana ketika kami duduk rapi di speedboat. Satu hal yang sangat menarik sekaligus khas dari danau ini adalah warna airnya yang gelap sehingga semua benda di atas air terefleksikan secara sempurna. Namun hal ini juga yang membuat udara dua kali lebih panas karena matahari memantul dengan baik. Ketika saya di sana air sedang pasang akibat musim hujan berkepanjangan tahun ini. Saat kemarau, beberapa wilayah danau bisa dilewati oleh sepeda motor.

Kami menuju rumah kepala desa (kades) di kampung Meliau. Total ada 21 kampung yang tersebar di danau. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  • Listrik belum mencapai TNDS. Listrik bisa dinikmati oleh mereka yang bisa membeli genset.
  • Danau merupakan sumber kehidupan sekaligus pusat kegiatan masyarakat (mulai dari mandi, mencuci, memancing, tempat pembuangan, dll).
  • Ada dua jenis buaya yang hidup di danau: buaya senyulong (buaya pemakan ikan) dan buaya pemakan daging.
  • Danau ini merupakan salah satu penghasil ikan toman (fishzilla).
  • Meskipun semua rumah di atas air, masyarakat juga memelihara ternak seperti sapi, babi dan ayam yang ditempatkan pada kandang terapung lengkap dengan anjing penjaga.
  • Menangkap ikan adalah pekerjaan utama masyarakat danau.
  • Ada petani–petani madu yang menghasilkan madu organik. Produksi mereka mencapai 16 ton pada tahun 2009 kemarin.
  • Dalam kehidupan sehari–hari, masyarakat di sana berbicara dalam bahasa Melayu Iban (bahasa yang sama dipakai di Serawak).
  • Sinyal telepon hanya ada di beberapa area tertentu.
  • Pernikahan di usia remaja merupakan hal yang wajar.

Perahu Panjang

Sisa hari itu kami habiskan untuk berjalan–jalan di danau sekitar kampung Meliau dengan perahu panjang. Saya melihat pulau terapung. Nelayan yang menemani kami bercerita bahwa pulau tersebut sering berpindah–pindah tempat sebelum akhirnya diam di satu titik. Saat pulau bergerak, nelayan sering mengaitkan tali perahu mereka di pohon yang tumbuh di pulau apung, menebeng pulau sampai agak jauh ke tengah. Sebelum sunset, kami berburu foto tanaman kantung semar yang tumbuh subur di pinggir–pinggir hutan.

Di malam hari kami bediskusi dengan Bapak Kades mengenai kegiatan konservasi masyarakat, panen ikan toman, panen padi di Kapuas Hulu sambil membuat rencana survei selama di danau.

Kami bangun pagi sekali keesokan harinya. Di dapur, keluarga Bapak Kades sudah menyiapkan peralatan “piknik” untuk kami yang terdiri dari kompor minyak tanah portable, panci, nasi, piring, sendok sampai bumbu–bumbu untuk memasak. Kami naik perahu kayu ditemani dua orang kampung yang sudah kenal baik dengan Bang Jimmy. Kami menuju hutan untuk melihat kegiatan menangkap ikan masyarakat di sana. Sebuah pengalaman baru bagi saya masuk hutan naik perahu kayu dengan jarak pohon yang rapat di kanan kiri. Beberapa kali kami tersesat dan harus memutar. Ketika air pasang, kondisi “jalan” tidak bisa diprediksi, jarak antar pohon seringkali tidak cukup dilewati perahu. Namun, perjalanan siang itu sungguh luar biasa. Saya melihat banyak binatang liar dan langka di dalam hutan.

Makan Siang bersama Nelayan

Jam satu siang kami kelaparan. Keluar hutan, kami bertemu nelayan–nelayan sedang makan siang. Mereka membagi tangkapan ikan mereka untuk kami masak bersama jamur yang tadi sempat kami petik di dalam hutan. Ikan dan jamur segar direbus kemudian diberi bumbu, makan di tengah danau dengan kicauan burung. Satu hal yang “mahal sekali” harganya untuk warga Jakarta seperti saya.

Kantung Semar

Menunggu matahari bergeser, kami duduk–duduk di gundukan batu sambil mengobrol. Hanya saya satu–satunya orang yang tidak bercakap dalam bahasa Iban. Pukul tiga sore kami masuk hutan lagi menuju Danau Belaram. Pemandangan di sana cantik sekali dan untuk pertama kalinya saya melihat burung pecut ular. Pecut ular memiliki kepala seperti bangau, bersayap seperti elang dan kaki berselaput seperti bebek. Jumlahnya hanya tinggal 2.000 ekor saja di Kalimantan. Sayang saya tidak berhasil memotret burung langka ini karena mereka terbang cepat. Kami pulang saat hari mulai gelap. Suasana danau cukup mencekam ketika malam hari. Kami kembali ke rumah Bapak Kades.

Nelayan Istirahat

Hari berikutnya, saya dan Bang Jimmy mendatangi beberapa kampung. Banyak objek foto menarik kegiatan warga: membuat tepung beras, selai ikan, panen ikan toman serta bekas kebakaran hutan akibat kemarau berkepanjangan pada 2004 silam. Kami juga mengunjungi petani madu organik. Dari petani inilah saya mengetahui satu fakta baru tentang madu: “usia khasiat” madu hanya enam bulan sejak madu tersebut dikemas.

Saya bersiap kembali ke Lanjak dengan speedboat keesokan paginya. Namun sebelum kami menuju pelabuhan Lanjak, kami menyempatkan berpamitan ke kampung sebelah dimana salah satu rumah betan/ rumah panjang (long house) berada. Warga kampung tersebut sedang menyiapkan pesta pernikahan. Sungguh menyenangkan melihat semua orang bergotong royong membantu persiapan pesta. Bahan–bahan sayuran yang sedang direndam semua berasal dari hutan. Bapak – bapak menghias teras rumah panjang dengan kain bermotif warna warni serta pelaminan sederhana namun terkesan meriah. Tidak ada yang rumit buat mereka. Semua tersedia di alam, semua orang bersaudara, semua orang membantu tanpa pamrih—nilai yang tidak banyak saya temui di kota besar.

Burung Enggang (Hornbill)

Dalam perjalanan menuju pelabuhan Lanjak, saya melihat sekumpulan bekantan. Jarak mereka hanya sekitar tiga meter dari speedboat kami. Belum pernah saya melihat primata sedekat itu di alam bebas. Selain bekantan, entah berapa belas hornbill (burung enggang), ular, dan kera yang saya temui selama di sana.

  • Disunting oleh ARW & SA 19/07/10

Bentang Romansa Jalur Baja

The Great Railway Bazaar, novel dari Paul Theroux

Setelah beberapa artikel sebelumnya yang banyak berdasarkan realita, fakta dan pengalaman, kali ini bolehlah kita menilik sedikit tentang hasrat. Kereta api memang penuh romansa. Paul Theroux pun terkesima. Menurutnya, tak ada yang lebih ramah dari kereta api. Tak ada minuman yang tumpah, tak ada rasa mabuk darat, tak ada bising mesin yang memekakkan telinga. Terlalu banyak kisah yang dihasilkan dari sebuah perjalanan kereta api. Sejak dulu, saya selalu menganggap perjalanan adalah masa di mana kita paling bebas. Kita tak terbelenggu rutinitas dan tanggungjawab. Untuk sejenak, kita menjadi penonton panggung kehidupan. Sama juga seperti kereta api. Namun, banyak kelebihan yang kita nikmati dengan kereta api. Perjalanan dengan pesawat terbang tak selalu memberikan kita lanskap yang mengagumkan. Perjalanan dengan mobil tidak memberikan kita dialog yang mengesankan, serta rajutan rasa yang sambung-menyambung.

Ada tidak kekurangan dari kereta api? Ada, khususnya bagi mereka yang terburu-buru. Ah, mungkin tidak juga. Di beberapa negara maju, bepergian dengan kereta api sudah lebih mumpuni kecepatannya dibandingkan moda transportasi lain seperti mobil atau pesawat terbang.

Bagi kita yang suka kebebasan, mungkin lebih memilih bepergian naik mobil. Tapi pikirkan lagi: berapa banyak uang yang harus kita keluarkan? Bagaimana jika terjadi masalah? Apa bisa kita melintasi perbatasan negara? Dengan kereta api, bahkan kita bisa merancang perjalanan kita sendiri, dengan berhenti di stasiun yang satu dan langsung menjajaki jalur lainnya. Mungkin juga, telusuri sampai buntu, lalu kembali lagi. Bebas!

Ada beberapa perjalanan kereta api di dunia ini yang patut dijadikan obsesi. Setidaknya obsesi saya pribadi! Mereka mungkin bukan yang terbaik untuk semua orang, tapi sayang kalau dilewatkan karena uniknya lanskap yang mereka lalui!

h3. Kereta Api Keliling Jawa

Ada yang pernah terpikir untuk berputar keliling Jawa dengan kereta api? Telusuri jalur historis peninggalan Belanda, mulai dari Jakarta – Bandung – Yogyakarta – Solo – Yogyakarta – Surabaya – Banyuwangi – Surabaya – Semarang – Tegal – Cirebon – Jakarta. Teman kita Fajar Nugros telah melakukannya. Siapa sangka kalau Belanda yang menyebabkan beroperasinya lebih dari satu stasiun di sebuah kota:

Selain stasiun-stasiunnya, jalur rel dan bantalan yang dipakai hingga sekarang masih warisan Belanda, bahkan kode lokomotif C dan CC masih dipakai hingga kini. Laiknya pemerintah kerajaan Malaysia, yang membangun Twin Tower Petronas dengan menunjuk dua kontraktor yang berbeda. Maka begitulah Pemerintah Belanda di jaman itu, yang menyerahkan pembangunan jaringan kereta api ke pada pihak swasta. Sehingga ada banyak perusahaan kereta api di Hindia Belanda yang saling bersaing memberikan layanan terbaik. Karena itu pula, terkadang di kota-kota besar di Jawa, kita dapat menemukan dua stasiun dengan nama yang hampir sama. Surabaya Gubeng-Surabaya Pasar Turi, Semarang Tawang-Semarang Poncol, Solo Balapan-Solo Jebres, karena dulunya, stasiun-stasiun itu dimiliki oleh perusahaan kereta api yang berbeda. Jadi kata bapak saya, jaman dulu, sudah ada double track yang diatasnya tengah melaju kereta api dengan tujuan sama yang berebut sampai di stasiun akhir!

h3. Kereta Api Singapura – Nong Khai (Perbatasan Thailand – Laos)

Ada dua alternatif di sini. Murah dan mahal. Murah dengan kereta api nasional yang menyeberangi tiga negara: Singapura, Malaysia, Thailand. Lanjutkan dengan bis ke Vientiane, Laos. Alternatif mahal adalah dengan Orient-Express. Benar, kita tak perlu ke Eropa untuk menikmati kereta api supermewah ini. Tapi siap merogoh kocek hampir 20 juta rupiah.

Apa kelebihan rute ini? Nikmati kontras perjalanan dari negara maju (Singapura) ke negara berkembang (Laos). Anda juga bisa memasuki empat negara sekaligus! Seorang wartawan BBC malah melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

h3. Kereta Api Ho Chi Minh City – Hanoi

Reunification Express adalah kereta api yang melintasi Vietnam. Rute ini unik karena mempersatukan negara yang dulunya terbelah dua oleh ideologi. Nikmati lanskap yang kontras antara selatan yang cenderung tropis dan utara yang subtropis. Baca laporan kami sendiri!

h3. Kereta Api Darwin – Adelaide

Disebut sebagai salah satu perjalanan kereta api terpanjang di dunia, rute ini hanya ditempuh oleh satu kereta api yang diberi nama “The Ghan”. Jarak yang ditempuh hampir 3.000 km dan lamanya 48 jam. Anda akan menikmati pemandangan “outback” yang mistis dan magis! Tahukah Anda kalau sebagian besar dataran Australia terdiri dari gurun, dan bagian sentralnya adalah sebuah depresi, yaitu daratan yang lebih rendah dari permukaan laut! Berhenti di Alice Springs, sebuah kota pertambangan yang dekat dengan Ayers Rock.

h3. Kereta Api Auckland – Wellington

Anda pecinta Lord of the Rings? Jelajahi negeri fantasi itu di Selandia Baru. Dengan lanskap yang mirip dengan Skandinavia, pegunungan bersalju cantik dan padang rumput megah membahana, udara yang menyejukkan (dan mungkin menusuk!), tak ada yang seperti Selandia Baru.

h3. Kereta Api San Francisco/Los Angeles – New York

Bayangkan memandangi ladang gandum di Nebraska, sarapan pagi ala Amerika, melewati Grand Canyon, gurun tandus, pohon pinus sebelum sampai di megapolitan dengan gedung-gedung megah. Negara adidaya ini memiliki infrastruktur yang sangat baik, dan kereta apinya sangat nyaman. Harganya juga terjangkau, tidak sampai dua juta rupiah dari pesisir ke pesisir.

h3. Kereta Api Cusco – Machu Picchu

Perjalanan kereta api pendek yang tak sampai 4 jam, melewati jarak 107 km. Kereta api akan mendaki sebelum turun ke Sacred Valley, melewati perkampungan penuh warna dan gerombolan llama. Cobalah kereta api Vistadrome yang punya kaca di bagian atas untuk menambah luas wilayah pandang Anda.

h3. Kereta Api Tokyo – Sapporo

Pernah terpikir melintasi selat untuk mencapai pulau berikutnya dengan kereta api? Ya, seperti di English Channel itu. Tapi ini di Jepang, yang jauh kalah populer. Walaupun kalah populer, terowongan bawah laut Seikan Tunnel yang melintasi Selat Tsugaru antara Pulau Honshu dan Pulau Hokkaido adalah yang terpanjang di dunia.

h3. Kereta Api London – Fort William (Skotlandia)

Mungkin kita tak akan naik kereta api lokomotif klasik seperti di fiksi Harry Potter, tapi tentu kita bisa melewati lanskap yang digambarkan di situ! Britania Raya sudah lama diidentikkan dengan kereta api. Di sinilah sistem transportasi kereta api yang paling tua berada, sejak 1825. Cobalah Caledonian Sleeper, kereta api malam yang melintasi Inggris dari London ke Fort William selama satu malam:

Imagine the convenience of a train that leaves rainy central London after work at 21:16 and arrives at Fort William in the glorious Scottish West Highlands at the foot of Ben Nevis (the highest mountain in Britain) at 09:54 next morning. Imagine a trip where you go to bed as the train speeds through familiar London suburbs at 80mph, then wake up in the middle of nowhere, surrounded by mountains, streams and woods, sunlight streaming through the window, deer bounding away from the train, a diesel locomotive struggling to haul the two sleeping-cars and lounge car up the gradients and around the sharp curves of the scenic West Highland Line at 40mph.

h3. Kereta Api Trans-Siberia

Jalur ini adalah jalur pamungkas, bak ‘ibadah haji’ bagi para penggemar perjalanan kereta api. Tidaklah mudah dan murah untuk menjalaninya, butuh waktu paling tidak tujuh hari untuk melintasi Siberia, baik dari beberapa jalurnya: Moscow – Beijing, Moscow – Ulanbataar, Moscow – Vladivostok. Jalur ini sangat terkenal bagi para backpacker, karena sifatnya yang ekstrim. Walau begitu, bersiaplah untuk dicengangkan dengan lanskap yang luar biasa berubahnya dari awal hingga akhir perjalanan. Inilah satu-satunya kereta api lintas-benua di dunia.

Google Russia punya dokumentasi dan perjalanan virtual menarik untuk jalur ini.

h3. Kereta Api Johannesburg – Cape Town

Tidak pernah ada yang terbayang berwisata ke Afrika Selatan sampai akhirnya heboh Piala Dunia. Faktanya adalah Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang punya lanskap mengagumkan dan iklim subtropis yang nyaman. Jangan bayangkan negara Afrika yang super miskin, karena GDP Afrika Selatan salah satu yang tertinggi di benua Afrika. Jaringan kereta api yang dimilikinya pun sudah cukup berkembang dengan baik. Rute paling direkomendasikan adalah Johannesburg – Cape Town atau Pretoria – Cape Town, dengan berbagai pilihan kelas dan jenis kereta api.

h3. Kereta api London – Istanbul

Apa lagi yang lebih menarik daripada menjelajahi benua Eropa dan berbagai negara serta lanskapnya dengan kereta api? Dengan harapan, bahwa di akhir perjalanan ini, kita akan membuka mata di kota Istanbul yang menawan? Kelemahannya adalah kita harus bersedia agak repot sedikit membeli beberapa seri tiket kereta api: London – Paris, Paris – Munich, Munich – Budapest, Budapest – Bucharest, Bucharest – Istanbul. Kabar baiknya, total harga tiketnya sekitar Rp5 juta rupiah untuk satu kali jalan. Beberapa opsi menarik seperti The Orient-Express dan Danube-Express juga ada, jika mampu.

***

Bentang romansa di jalur baja. Banyak kisah yang dibangun di atas rel. Bagi yang tinggal di Pulau Jawa, mungkin sejak kecil sudah sangat familiar dengan kereta api. Mungkin ayah kita pernah mengajak kita untuk pulang ke tempat kakek dan nenek dengan kereta api. Mungkin dari mereka yang mahasiswa, sering melakukan perjalanan singkat bolak-balik antara Bandung-Jakarta atau Solo-Yogyakarta. Mungkin orang tua kita sempat panik di dalam kereta api dalam perjalanan ke kota kita untuk menjenguk anaknya yang sakit di tempat kos. Mungkin ada kisah cinta. Mungkin juga kisah pedih. Seiring pohon dan tebing yang berlalu di jendela, gulungan kisah diurai, dipatri, ditulis dan ketika pulang digulung lagi untuk dibuka kemudian hari. Membuka jalan untuk kisah dan harapan berikutnya.

Disunting oleh ARW 11/07/10


Generasi Muda Indonesia Terisolasi?

Harian Kompas hari ini memaparkan Mike Hardy, mantan Direktur Pelaksana British Council di Indonesia, seorang ahli dialog antarbudaya dari British Council, yang menangani program pertukaran pelajar dan dialog antar sekolah. Dalam sebuah seminar yang bertajuk Global XChange di Yogyakarta, beliau mengatakan bahwa generasi Indonesia masih terisolasi dari pergaulan internasional.

Mike mengungkapkan:

Belum banyak pemuda Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri sehingga orang-orang Indonesia tak banyak dikenal di luar negeri.

Akibatnya, citra dan kondisi Indonesia sebenarnya tidak diketahui banyak oleh masyarakat asing. Beliau membandingkan, negara-negara yang citra dan kondisinya sama atau jauh lebih buruk ternyata punya citra yang lebih baik di mata dunia luar. Beliau mengambil contoh Malaysia.

Faktor utama yang menghalangi mereka adalah keterbatasan biaya dan faktor budaya:

Ikatan keluarga di Indonesia sangat kuat sehingga memang tak punya kultur bepergian jauh dari rumah dalam waktu yang lama.

Jika dibiarkan, wawasan generasi muda kurang berkembang dan menjadi penghambat pembangunan.


© 2017 Ransel Kecil