Artikel-artikel dari bulan Juni 2010

Le Bambino Guesthouse, Da Nang

Tampak depan Le Bambino Guesthouse

Mencari penginapan di negeri orang adalah hal yang suka menyesakkan dada. Foto dan kenyataan bisa saja tak sesuai. Harga terlalu mahal. Lokasi tak tepat. Begitu sampai di lokasi, pelayanan tak maksimal—entah itu mereka ternyata tak pandai berbahasa Inggris atau tak bersahabat. Bagi orang muda, mungkin boleh untuk bertaruh sedikit dengan menyewa tempat penginapan yang murah meriah. Untuk tidur saja, tak perlu mahal. Namun, bagaimana dengan kita yang punya gaya perjalanan yang berbeda: ingin nyaman, aman, dan layanan yang prima, tapi harga tak selangit? Atau perjalanan yang dilakukan bersama keluarga, dengan anak kecil?

Bulan Maret lalu saya menginap di tempat yang sempurna untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Saya berada di Da Nang, sebuah kota di sentral Vietnam, sebenarnya hanya untuk transit satu malam untuk melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh City esok harinya. Kebetulan pula, ada kompetisi kembang api internasional. Ketika memesan di internet pun, saya sudah capek mencari harga murah dan presentasi yang generik dari berbagai hotel murah di Vietnam. Tak pikir panjang, saya kirim email ke penginapan yang tipenya rumah singgah ini, dan berani membayar USD35 untuk satu malam, sebuah harga yang bisa dua malam di hotel lain.

Dari gambar yang saya lihat di situs webnya, ternyata aslinya jauh lebih bagus. Saya tak mengira dapat kamar sebesar 10m x 5m! Belum lagi lengkap dengan kamar mandi yang ada bathtub-nya, meja nakas panjang begitu masuk, lemari lega, daerah sofa untuk nonton TV kabel, lantai parkit, karpet, tempat tidur ukuran raja, jendela masif gaya Perancis, dua nakas lengkap di samping tempat tidur… Saya speechless. Hanya ada tiga kamar tamu di rumah singgah ini, ketiganya bisa disewa harian, mingguan maupun bulanan. Untuk harian, tarifnya USD35. Untuk bulanan, tarifnya sekitar USD600. Cukup mahal, memang, apalagi untuk ukuran kota sedang seperti Da Nang. Tetap saja, harga itu melebihi ekspektasi. Di hotel berbintang, harga itu tak dapat fasilitas semacam ini.

Kamar luas di Le Bambino Guesthouse

Pemilik Le Bambino adalah pasangan Perancis-Vietnam, Jean Paul Ernecq dan Vinh Ernecq. Pak Jean sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Da Nang sejak menikah dengan istrinya, pekerjaan utamanya adalah mengelola rumah singgah ini dan sebuah restoran Perancis di bawahnya. Le Bambino sebenarnya adalah rumah tiga tingkat, lantai dasar untuk restoran, dan sisanya untuk kamar.

Tak cukup dari ukuran kamar yang masif untuk saya seorang, kita mendapatkan interaksi yang tak seperti di hotel. Lebih dekat seperti konsep homestay, sebenarnya. Pemilik akan senang hati mengobrol dengan kita, menanyakan asal, menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil menyeduh kopi, jus jeruk atau kue jika kita mau. Bahkan beliau tak sungkan menceritakan anaknya yang sedang kuliah di Perancis. Saya bahkan sempat diantarkan ke Museum Cham, ketika pasangan itu sedang berangkat ke pasar. Ketika datang, saya dibuatkan sarapan ala Perancis: baguette, omelet jamur, kopi hitam, selai stroberi dan jus jeruk. Penyajiannya pun sempurna! Sarapan dan hospitality ini sudah termasuk dengan harga itu. Hanya saja, untuk makan siang dan makan malam, tetap harus kita cari sendiri. Namun begitu, ada rekomendasi dan petunjuk jalan. Menyenangkan, bukan?

Sarapan pagi di Le Bambino Guesthouse

Dekorasi di Le Bambino Guesthouse

Untuk keluarga, saya tak tahu berapa orang maksimal bisa menginap di sini. Tapi jika Anda berdua, atau dengan satu anak, saya rasa tak masalah. Sayang, seharusnya penginapan semacam ini ada di kota yang lebih touristy, tapi cukup baik untuk mereka yang ingin jeda sejenak beberapa hari!

Pemesanan dilakukan dengan email, mereka belum terhubung dengan reservasi kolektif. Untuk foto-foto dan informasi lanjutan, silakan kunjungi situs web mereka.

  • Le Bambino Guesthouse and Restaurant. 122/11 Quang Trung Street, Da Nang. Tel.: +84 0511 896386. Faks: +84 0511 886098. E-mail: jpernecq@yahoo.fr. Situs web: www.lebambino.com.

Disunting oleh ARW 16/06/2010


Mencari Santapan Halal di Ho Chi Minh City

Bagi Anda yang memeluk agama Islam, setiap perjalanan selalu disibukkan dengan kegiatan mencari makanan halal, terutama di negeri yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam. Tentu, kita dapat mengunjungi beragam tempat makan yang ada dan memesan menu vegetarian atau ikan dan ayam, tetapi banyak juga dari kita yang cemas dengan cara mereka memasak, dan peralatan yang digunakan (apakah bekas memasak yang mengandung babi dan lain sebagainya). Kebutuhan mencari tempat makan yang benar-benar berkomitmen menyediakan makanan halal dengan metode yang halal pun tak terelakkan. Di Vietnam, relatif sulit menemui tempat makan yang 100% halal.

Interior Halal@Saigon

Kunjungi Halal@Saigon, restoran 100% halal di Ho Chi Minh City. Letaknya cukup strategis, di sebuah jalan yang dipenuhi dengan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi kebanyakan turis asing seperti convenience store dan penukar mata uang asing. Terletak di jalan yang sama juga adalah hotel mewah Sheraton Ho Chi Minh City. Yang menarik, di jalan yang sama pula, terdapat sebuah mesjid (Mesjid Indian Jamia), yang mungkin satu-satunya di sini. Letaknya persis di seberang restoran ini.

Masjid Indian Jamia, Dong Du St., Ho Chi Minh City

Cara terbaik menuju restoran ini adalah dengan taksi. Banyak sekali pengunjung dari Malaysia yang datang di sini. Ho Chi Minh City sudah menjadi tujuan utama bagi wisatawan Malaysia dan Indonesia, dan pasar untuk restoran halal sangat besar.

Halal@Saigon sendiri adalah satu dari sekian (mungkin hanya ada tiga atau lima tempat serupa di kota ini) restoran yang menyediakan menu halal, baik itu sajian Vietnam atau Melayu/Malaysia. Pemiliknya adalah Dr. Shimi, seorang Malaysia yang sudah tinggal selama 15 tahun di Ho Chi Minh City. Tempat ini dibuka pada Februari 2009, jadi masih relatif baru! Dr. Shimi sendiri aktif dalam advokasi bisnis untuk pengusaha Malaysia di sini. Beliau adalah ketua Malaysian Business Chamber di Ho Chi Minh City. Anda pun tak perlu ragu kredibilitasnya.

Dari segi sajian, menurut saya pribadi, rasanya lebih cocok untuk lidah orang Indonesia dan Malaysia yang peka terhadap rasa asin, asam dan gurih. Kebanyakan wisatawan Indonesia dan Malaysia mungkin menganggap makanan Vietnam terlalu hambar. Makanan di Halal@Saigon adalah penyesuaian yang mendekati sempurna, walau ada kasus tertentu yang agak berlebihan, misalnya spring roll yang disajikan dengan saus kacang.

Pengalaman makan di sini akan dilengkapi dengan Dr. Shimi sendiri yang menyambut Anda dengan ramah. Beliau dengan mudah mengenali wajah Melayu atau Indonesia, dan langsung menyapa, “Apa kabar?”. Selain itu, pelayan di sini tidak ada yang berasal dari Malaysia atau Indonesia, tapi bisa berbahasa Melayu dengan fasih sekali. Bayangkan seseorang dari Kamboja yang bisa “bercakap Melayu”!

Vietnamese Springroll dengan Saus Kacang!

Sup Asam Manis yang segar di Halal@Saigon

Tumisan sapi yang harum dan segar

Ada beberapa restoran lain yang menyajikan menu halal seperti Lion City. Bedanya, Lion City tampaknya lebih fokus untuk menyajikan menu yang familiar dengan masyarakat Singapura. Ada opsi khusus yang menyajikan menu halal. Sedangkan Halal@Saigon sepenuhnya berkomitmen menyajikan menu halal.

Jika Anda sempat berkunjung ke Halal@Saigon, dan Anda adalah seorang muslim, tak perlu ragu untuk memesan apapun di sini, walau itu masakan Vietnam yang sudah Anda incar sebelumnya, tapi takut untuk pesan di restoran Vietnam lain. Butuh bukti lagi? Restoran ini sudah disertifikasi halal oleh Commission Board of Islam in Ho Chi Minh City!

Disunting oleh ARW 16/06/2010


“Pelarian” Phuket Itu

Pantai Maya di Pulau Phi Phi

Pada akhir Maret 2010, saya dan teman-teman berlibur ke Phuket, Thailand, untuk pertama kalinya. Saya berangkat dari Singapura sendirian pada pagi hari, sedang teman-teman dari Jakarta akan berangkat sore harinya.

Setibanya di Phuket International Airport, sempat bingung bagaimana cara ke Patong, tempat penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Karena sendiri, agak mahal rasanya kalau menyewa taksi sekitar 550 Baht. Transportasi umum yang paling murah adalah Airport Bus, yang berangkat setiap satu jam dari bandara menuju Phuket Town dengan tarif 70 Baht. Dari sana tersedia banyak angkutan kota menuju daerah-daerah Phuket yang lain, termasuk Patong (sekitar 10 menit dari Phuket Town).

Setelah melihat keadaan bisnya yang tidak terlalu bagus dan tanpa pendingin udara. Ini sangat berbeda dari gambar-gambar Airport Bus di artikel yang saya lihat di internet. Apa mungkin kebetulan saja bis yang kurang bagus yang sedang “ngetem“, ya? Saya kemudian kembali ke balai kedatangan untuk mencari alternatif transportasi yang lain. Akhirnya saya putuskan naik minivan, yang meskipun tidak semurah bis, tetapi sangat nyaman dan tidak terlalu mahal. Seperti angkutan ‘travel’ Jakarta-Bandung, minivan ini diisi oleh 10 penumpang dengan harga tiket yang berbeda-beda tergantung tujuannya: Phuket Town 100 Baht, Patong 150 Baht, Kata/Karon 180 Baht. Kendaraan mulai berjalan jika kursi sudah terisi penuh. Tapi tenang saja, tak akan menunggu lama, banyak turis yang juga berangkat menuju Patong.

Pulau James Bond

Minivan berhenti di tengah perjalanan, sebuah agen wisata yang bekerja sama dengan sang supir kemudian menyapa dan mempromosikan paket-paket tur mereka. Setiap orang dilayani oleh satu agen yang menanyakan tempat penginapan yang telah mereka pesan dan tempat-tempat wisata yang ingin kami tuju. Waktu itu saya cukup tertarik dengan paket mereka karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah daripada booking online di situs-situs web agen wisata. Saya memutuskan menolak karena memang harus berdiskusi dulu dengan teman-teman saya yang belum datang. Kami berencana untuk ikut tur sehari ke Phang Nga Bay (Pulau James Bond) dan sehari ke Pulau Phi Phi (Pulau Leonardo DiCaprio).

Sesampainya di Patong Voyage Place Hotel, saya langsung ditawari paket tur dari kenalan dekat pemilik penginapan, yang ternyata lebih murah lagi dari tarif agen wisata tadi. Dengan alasan yang sama saya menolak paket tur Pulau Phi Phi dan Phang Nga Bay. Tapi saya akhirnya mengambil paket tur Elephant Trekking 2 jam di Amazing Bukit Safari (ABS) dengan harga 800 Baht, untuk mengisi waktu sembari menunggu kedatangan teman-teman.

Para tamu duduk di dipan yang telah disiapkan di atas gajah, lengkap dengan tali pengamannya, lalu berjalan masuk ke dalam hutan bersama pawangnya. Walaupun berukuran sangat besar, gajah mampu menjaga keseimbangannya dengan baik. Si pawang memandu gajah melewati jalanan curam dan sempit, lumayan bikin jantung deg-degan! Di tengah jalan si pawang bahkan menawarkan saya untuk duduk di leher gajah, tanpa tali pengaman, tentu saja saya mau! Oh ya, sebelum mulai trekking, pihak ABS menanyakan apakah saya mau foto di atas gajah dengan tambahan biaya. Saya jawab tidak mau. Eh, di dalam hutan si pawang berinisiatif sendiri, meminta kamera saya untuk mengambil gambar saya di atas gajah, dan berpesan jangan memberi tahu pihak ABS. Tentunya setelah trekking selesai saya memberikan sedikit tip.

Balik ke Patong, saya berjalan kaki ke Pantai Patong sambil mengamati harga paket tur di agen-agen sepanjang jalan ke sana. Bayangkan, saya menemukan harga yang lebih murah lagi dari yang ditawarkan oleh kenalan pemilik penginapan! Intinya sih menawar gila-gilaan, biasanya kalau memesan buat banyak orang sekaligus dan kita adalah turis dari Asia Tenggara, bisa dapat lebih murah. Akhirnya saya dapat harga yang paling murah untuk paket tur Phang Nga Bay dan Pulau Phi Phi masing-masing sekitar 800 Baht. Saya jadi menyesal, merasa Elephant Trekking tadi adalah overpriced!

Pantai Patong sangat ramai, sepanjang pesisir pantai penuh dengan kursi dan payung besar. Terdapat palang “Tsunami Hazard Zone” di beberapa tempat, setelah tsunami melanda sebagian besar daerah Patong di tahun 2004 lalu. Walaupun begitu, makin banyak turis yang mengunjungi tempat ini dan air lautnya cukup bersih. Sebenarnya ada daerah pantai lain di Phuket yang lebih sepi dan menyenangkan, yaitu pantai Kata dan pantai Karon. Namun penginapan di sana dikuasai oleh resor-resor mahal, sehingga kebanyakan turis dengan bujet kecil tidak memilih daerah ini.

Malamnya setelah rombongan teman saya tiba, kami berenam berjalan mencari makan di Jungceylon Shopping Mall. Kebetulan waktunya tepat untuk melihat Water Fountain Show, semacam pertunjukan air mancur yang bergerak naik turun mengikuti iringan musik, yang dimainkan setiap hari pukul tujuh dan sembilan malam. Setelah itu kami menelusuri Bangla Road, jalanan yang penuh dengan bar dan diskotik (Patong memang terkenal dengan kehidupan malamnya). Kalau malam, jalanan ini ditutup untuk kendaraan, jadi khusus untuk pejalan kaki saja.

Bangla Road di Patong

Esok paginya kami dijemput agen wisata untuk melakukan perjalanan sehari ke Phang Nga Bay. Lokasi ini terkenal karena keindahan tebing terjal dan batuan karas di perairan, terutama satu batuan kecil dan menjulang ke atas yang muncul di film James Bond: The Man with the Golden Gun. Tapi sebelum ke sana, agenda tur kami yang pertama adalah kayaking atau canoeing. Satu kano diisi oleh dua orang dan satu pengayuh. kami diantar melewati gua-gua dan tebing curam yang warnanya sangat indah. Perairannya sendiri sangat dangkal jadi kami tidak perlu menggunakan baju pelampung.

Canoeing

Setelah itu kami berangkat ke Pulau James Bond. Pemandu tur berulang kali mengingatkan untuk tidak berbelanja di sana dan sebaiknya menggunakan waktu 30 menit untuk melihat-lihat dan berfoto di sekitar pulau. Tidak berbelanja sih bukan masalah bagi saya, lagipula di sana barang-barangnya lebih mahal dari Patong, tapi batasan 30 menit keliling pulau kurang menyenangkan. Ada paket tur lain yang lebih privat, tidak menggunakan long tail boat bersama 20-30 orang lainnya, melainkan speed boat kecil. Bagaikan raja, tapi Anda harus membayar lebih mahal! Dari sana, kami berlanjut ke Fisherman Village, perkampungan muslim yang berada di atas air, dan makan siang di sana. Setelah itu kembali ke daratan, dan dibawa ke Sleeping Buddha Cave Temple, atau disebut juga Monkey Cave karena terdapat banyak monyet di sekitar temple, sebelum diantar pulang kembali ke hotel.

Fisherman Village

Malamnya saya dan teman-teman berpisah, sebagian mau belanja oleh-oleh, sebagian lagi termasuk saya mau menonton Simon Cabaret. Pertunjukan ini berlangsung setiap malam pukul 7.30 dan 9.30 malam, dengan pilihan kursi biasa (regular) di bagian atas dan VIP bagian bawah dekat panggung. Kami membeli tiket regular seat untuk jam 9.30 malam, sekitar 430 Baht per orang, setelah menawar di tiga agen wisata. Pertunjukan tarian dan nyanyian selama 1,5 jam ini dimainkan oleh “ladyboys“, yang dari jauh kelihatan cantik dan seksi tapi dari dekat lumayan menyeramkan! Setelah selesai manggung, mereka berbaris di halaman parkir melambai-lambaikan tangan ke arah tamu. kami dengan semangat minta foto bareng, ternyata sekali jepretnya bertarif 50 Baht dan mereka menghitung berapa kali kami menjepret kameranya. Benar-benar perhitungan! Pertunjukannya sendiri cukup menarik dan menggelikan, dengan dekorasi dan kostum yang sangat meriah sekaligus berlebihan. Mereka membawakan beragam lagu dan tarian, dari yang jadul sampai yang agak baru seperti “Nobody“-nya Wonder Girls, dari yang lokal sampai yang mancanegara, dari yang gerakannya cantik gemulai sampai yang lucu maskulin seperti “I Will Survive“.

Keesokan harinya kami tur ke Pulau Phi Phi, dengan bawaan agak banyak karena seharian akan berenang. Sebelumnya, perjalanan minivan dari Patong ke pelabuhan Chalong Bay, tempat kapal feri yang sudah menunggu, melewati Phuket Town yang jalanan dan bangunannya bernuansa tua dan antik, seperti daerah Braga di Bandung. Agenda pertama tur adalah snorkeling di Pulau Khai Nok. Kapal berhenti di tengah laut dan penumpang dibawa satu-persatu menggunakan long tail boat ke pulau itu, karena kapal tidak bisa berlabuh kesana. Di pulau itu kita bisa menemukan banyak ikan di pinggiran pantai tanpa perlu bergerak jauh ke tengah laut. Kembali ke kapal, penumpang mulai menyantap makan siang yang sudah disiapkan sembari bergerak menuju Pulai Phi Phi.

Walaupun bisa ditempuh dari Phuket, Pulau Phi Phi sebenarnya masuk ke dalam provinsi Krabi, terletak antara Phuket dan Krabi, namun lebih dekat sedikit ke arah Krabi. Phi Phi terdiri dari dua pulau yakni Phi Phi Don yang berpenghuni, dan Phi Phi Lay yang lebih kecil dan tidak berpenghuni, tempat pengambilan gambar film “The Beach“. Kapal pun berhenti di tengah laut menghadap ke pantai Maya, pantai terindah di Phi Phi Lay, yang dikelilingi oleh tebing-tebing. Penumpang dihadapkan dengan pilihan antara naik long tail boat menuju pantai, atau snorkeling di sekitar kapal (karena ikan dan karang adanya di tengah laut), dan tidak bisa memilih keduanya. Rombongan saya dan teman-teman pun terpisah, sebagian yang tidak ingin berenang bergerak menuju pantai Maya untuk foto dan ngécéng (siapa tahu ketemu pria tampan ala Leonardo DiCaprio!), sedangkan saya dengan seorang teman lainnya memutuskan untuk berenang di tengah laut. Surga dunia!

Selama perjalanan dari Phi Phi Lay menuju Phi Phi Don, kapal sempat melaju pelan saat melewati gua Viking, gua di pinggir laut tempat tumbuhnya sarang burung walet. Kenapa dinamakan demikian, karena di dinding gua terdapat banyak lukisan kapal laut yang mengingatkan kita pada kapal Viking. Sayang sekali kami hanya bisa memandang dari jauh, tidak bisa masuk ke dalamnya. Agenda terakhir adalah berjalan-jalan sebentar di Phi Phi Don. Karena seharian capek berenang, saya kalap membeli banyak makanan ringan seperti crepes dan manisan jagung di sana. Pulaunya sendiri mengingatkan saya pada Gili Trawangan.

Tidak mau berpisah begitu cepat dengan lautan dan deretan pulau indah ini, di jalan pulang saya dan seorang teman duduk dan menikmati pemandangan di atas dek kapal bersama turis-turis asing. Biasanya yang duduk di atas dek kapal terbuka cuma turis asing yang mau sekalian berjemur di bawah sinar matahari, sedangkan turis lokal dan Asia yang takut kulitnya hitam lebih memilih duduk di bagian bawah.

Malamnya liburan kami di Phuket ditutup dengan berkeliling daerah Patong mencoba makanan seafood khas Thailand. Pada dini hari keesokan harinya kami berangkat dari hotel ke bandara dengan menggunakan minivan yang juga dipesan dari agen wisata. Tarifnya buat satu orang 150 Baht, tapi kalau sudah pesan terlebih dahulu buat banyak orang sekaligus (bulk) bisa ditawar jadi 100 Baht per orang. Bagian perjalanan ini yang paling berkesan buat saya pribadi tentunya Pulau Phi Phi. Saya ingin sekali kembali ke sana, mungkin lain kali lewat Krabi atau sekalian menginap di Phi Phi Don.

  • Foto-foto oleh Neni Adiningsih.

Disunting oleh SA 06/06/2010 & ARW 07/06/2010


Menjadi Penumpang yang Beradab

Pernahkah Anda tak acuh pada peragaan keselamatan oleh pramugari ketika pesawat terbang bersiap untuk tinggal landas? Pernahkah Anda menunda mematikan ponsel sesaat sebelum masuk kabin? Pernahkah Anda membawa jinjingan lebih dari satu benda ke dalam kabin? Atau mungkin memangku tas jinjing Anda ketika lepas landas atau mendarat? Langsung mengaktifkan ponsel ketika pesawat masih jalan di apron? Langsung membuka sabuk pengaman dan berdiri ketika pesawat belum benar-benar berhenti, dan lampu tanda sabuk pengaman belum dipadamkan? Jika salah satunya dijawab “ya”, maka Anda belum sepenuhnya taat dengan peraturan keselamatan penerbangan, dan etika sesama penumpang sekaligus.

Mungkin banyak dari kita yang tak tahu bahwa tindakan-tindakan seperti itu tidak hanya berbahaya, tetapi juga mengganggu kenyamanan penumpang lain. Selama perjalanan, kita praktis untuk sementara “hidup” bersama orang lain dalam sebuah kabin yang sempit, bahkan kita semua bertaruh nyawa satu sama lain. Setiap orang bertanggungjawab terhadap satu sama lain. Kita harus menjadi penumpang yang beradab. Bayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi, kita pasti akan membutuhkan bantuan paling tidak penumpang di kanan dan kiri kita, kan? Selain itu, tentu saja, kita semua bertanggungjawab terhadap keselamatan diri kita masing-masing.

Ponsel dan Alat Elektronik

Kenapa ponsel dan alat elektronik lain yang memancarkan gelombang radio tidak diizinkan selama di dalam kabin dan penerbangan? Alat-alat seperti ponsel berpotensi mengganggu peralatan elektronik penerbangan, mengganggu tidak hanya instrumen yang berhubungan dengan komunikasi:

…the risk is real. Mobile phones have the potential to interfere with the operation of sensitive electronic equipment. That much is known. Modern aircraft are jammed full of sensitive electronic equipment, much of which is ‘safety-critical’ including navigation, aircraft control and communications equipment.

Fakta lainnya, beberapa jenis ponsel yang dilengkapi dengan penerima GPS dapat mengganggu alat GPS pesawat:

A particular cellphone model, equipped with a built-in GPS receiver, was found to consistently cause an aircraft’s GPS receiver to lose its signal entirely when switched on.

Sebenarnya, penggunaan alat elektronik yang memancarkan gelombang seperti ponsel tidak akan langsung menyebabkan kecelakaan atau kegagalan alat komunikasi, tetapi akan tetap mengganggu alat GPS (global positioning system) di pesawat tersebut:

It could be making a critical difference: “We also found quite a lot of interference in the GPS band — that’s the global positioning satellite band — and that’s really troubling because increasingly airlines are using this for precision approach.”

Dalam riset tersebut, periset menaruh alat pelacak gelombang radio di pesawat dan menemukan bahwa tetap saja ada penumpang yang menggunakan ponsel ketika lepas landas dan hendak mendarat. Tidak terjadi kecelakaan, bahkan tidak ada selama ini pesawat yang mengalami kecelakaan gara-gara ponsel (isu ini sengit diperdebatkan, ketika pesawat itu, misalnya, kecelakaan karena alat navigasi terganggu, sulit menentukan siapa yang bersalah: maskapai, penumpang, atau produsen alat elektronik!)

Alasan lain berkaitan dengan teknologi seluler itu sendiri. Menara yang bertugas menerima sinyal ponsel tidak didesain untuk sinyal ponsel yang bergerak dengan cepat. Bayangkan, satu pesawat seperti Airbus A380-800 bisa membawa lebih dari 500 ponsel, bukan? Bagaimana jika 500 ponsel yang bergerak cepat ini berlomba untuk menghubungi menara pemancar terdekat? Akan terjadi overload dalam jaringan. Ingat bagaimana komputer kita bisa hang? Potensi yang sama bisa terjadi pada perangkat lunak yang digunakan penyedia layanan seluler.

Resiko kecelakaan pesawat terjadi karena alat elektronik yang memancarkan gelombang sangat rendah. Tetapi, seperti kita ketahui, tidak ada resiko sekecil apapun yang dapat dibiarkan dalam dunia penerbangan.

Bagaimana kalau menyalakan ponsel ketika pesawat masih berjalan (taxiing) di landasan dan apron? Ketika pesawat masih berjalan, alat komunikasi pesawat masih menyala. Selain itu, untuk alasan keamanan. Bagaimana jika ada teroris yang mengaktifkan bom di bagasi, atau di lokasi lain di dekat pesawat itu melalui ponsel?

Selain semua masalah teknis dan keamanan di atas, kembali lagi ke masalah etika. Apakah kita nyaman jika penumpang di sekeliling kita berbicara dengan keras di telepon, atau ponselnya berdering keras sekali?

Untuk menyiasati kebutuhan berkomunikasi para penumpang, beberapa maskapai penerbangan menyediakan jasa telepon di dalam pesawat, yang dipasang baik di tempat duduk masing-masing atau di ruang tertentu, dengan biaya yang dibayar melalui kartu kredit. Cara seperti ini lebih aman, karena sudah dirancang dengan baik sehingga tidak mengganggu alat-alat elektronik yang sensitif dalam badan pesawat. Selain itu, tingkat kenyamanan penumpang masih terjaga, karena sang penelepon bisa menuju ke ruang khusus.

Tidak sabarkah Anda menunggu untuk menghubungi atau dihubungi keluarga dan teman? Bedanya hanya lebih kurang 30 menit, sabarlah.

Tas dalam Kabin

Tas dalam kabin di sini maksudnya adalah tas atau barang yang dibawa ke dalam kabin. Biasanya setiap maskapai punya aturan yang berbeda-beda. Cek ketentuan maskapai Anda, atau negara di mana Anda berada. Lazimnya, hanya satu tas jinjing yang boleh Anda bawa.

Sebisa mungkin, hindarilah membawa lebih dari satu tas ke dalam kabin. Alasannya lebih seputar keamanan dan kenyamanan. Jangan sampai tas itu terlalu berat atau besar sehingga mencederai penumpang lain ketika dibawa. Selain itu, kenyamanan Anda dan penumpang lain: jika terlalu berat, banyak dan besar, bukankah itu merepotkan Anda? Belum lagi jika penumpang lain sama-sama membawa banyak bawaan. Bisa jadi, kompartemen bagasi di atas tak cukup dan pramugari pun terpaksa memindahkan tas Anda jauh dari tempat duduk Anda. Susah, kan?

Satu lagi. Tas dalam kabin lebih baik bukan tas yang beroda. Kenapa? Tas beroda punya material yang lebih solid, sehingga berpotensi mencederai orang lain dan merusak harta benda penumpang lain. Makan tempat juga. Bayangkan Anda harus menyeretnya di koridor kabin padahal ada penumpang yang ingin lewat? Atau anak kecil yang tersandung? Lain kalau Anda di kelas bisnis yang lebih lega.

Bayangkan juga skenario ini: seorang wanita membawa satu tas beroda, satu tas wanita, dua kantong belanjaan, mungkin makanan, atau oleh-oleh. Di saat antrian panjang, wanita ini sibuk menaruh barang dan terpaksa meminta bantuan pramugara atau orang lain. Bayangkan sepuluh saja wanita seperti ini “menyumbat” lalu lintas di koridor kabin! Jika Anda pernah menaiki pesawat besar seperti Boeing 747-400, maka terbayang berapa menit sudah terkuras habis untuk menunggu penumpang seperti itu menyelesaikan urusannya.

Sabuk Pengaman dan Turun dari Pesawat Udara

“Bayangkan Anda sudah berdiri di koridor siap mengambil bagasi, dan tiba-tiba Anda sudah membuka kompartemen, dan bagasinya jatuh mengenai penumpang lain.

Ada alasan kenapa sabuk pengaman harus tetap dikenakan sampai lampu penanda sabuk pengaman dipadamkan. Ketika pesawat masih berjalan, mesin masih berfungsi. Bayangkan jika terjadi kesalahan teknis dan pesawat itu berguncang, atau tiba-tiba kehilangan kendali. Bayangkan Anda sudah berdiri di koridor siap mengambil bagasi, dan tiba-tiba Anda sudah membuka kompartemen, dan bagasinya jatuh mengenai penumpang lain. Bayangkan menurunkan langsung tas jinjing beroda yang berukuran besar padahal ada orang tua atau anak-anak yang perlu didahulukan! Bayangkan, jika Anda duduk di window seat dan Anda memaksa keluar, sedangkan ada orang tua atau anak kecil di sebelah Anda. Mungkin juga Anda belum mandi satu hari, dan mengganggu kenyamanan orang lain.

Cara sistematis untuk turun pesawat adalah biarkan pramugari mendahulukan mereka yang perlu didahulukan seperti lansia atau anak-anak yang bepergian sendiri. Setelah itu, utamakan mereka yang duduk di dekat koridor (isle seat). Kapan membuka kompartemen? Ketika mesin sudah dimatikan, pesawat berhenti sempurna. Utamakan menurunkan yang besar terlebih dahulu. Bagi tugas dengan teman seperjalanan. Jangan berdesak-desakan. Utamakan alur dari belakang. Sabar, pesawat tidak akan membawa Anda kembali lagi ke tempat awal!

Naik Pesawat Udara

Mungkin ini terlewat tadi, tapi sama pentingnya. Ketika naik pesawat udara, jangan bergerombol terburu-buru di depan pintu masuk ke garbarata atau bis perantara. Utamakan lansia, anak-anak yang bepergian sendiri, atau penyandang cacat untuk masuk terlebih dahulu. Kelas bisnis/pertama biasanya juga masuk dahulu. Antri dengan sempurna. Jika ada yang tidak disiplin, mengalahlah. Pesawat akan menunggu. Siapkan semua dokumen dengan sempurna. Dengarkan dengan seksama panggilan masuk ke pesawat udara. Pesawat berbadan besar dengan penumpang lebih dari 300 orang memiliki segmentasi dan urutan boarding yang lebih kompleks. Dalam penerbangan antarbenua, terutama ke Amerika, biasanya diadakan inspeksi lapis akhir sebelum masuk garbarata, memeriksa tas jinjing. Kooperatif-lah!

Disunting oleh ARW 05/06/2010


© 2017 Ransel Kecil