Artikel-artikel dari bulan April 2010

Hanami, Ritual Menikmati Sakura di Jepang

Ranting Sakura

Jika Anda ingin ke Jepang, datanglah ketika musim semi. Sebagai negara yang memiliki empat musim seperti banyak negara subtropis lainnya, ada masa-masa di mana penduduknya dapat menikmati musim semi yang mengagumkan. Salju mencair, matahari mulai bersinar lebih lama, dan yang paling penting, suhu menghangat dan tanaman-tanaman indah mulai merona. Tak kurang di Jepang, setiap bulan Januari sampai Mei setiap tahunnya, pohon yang berbunga Sakura menjadi semacam “pelarian” bagi warganya untuk sejenak meninggalkan rumah dan melakukan piknik di bawah pohon Sakura. Ritual ini dikenal dengan istilah _hanami_ (花見 – secara harfiah bermakna, “kegiatan memandangi bunga”).

Apa yang dilakukan ketika hanami berlangsung? Biasanya, masyarakat akan mengunjungi taman di mana banyak pohon Sakura dan mulai “menunggui” tempat dari pagi, seolah “memesan”-nya agar tidak diambil orang lain nantinya. Caranya? _Nongkrong_ di bawah pohon dari pagi atau menggelar terpal yang berfungsi untuk menandai tempat yang “dipesan”. Tidak hanya keluarga atau kelompok anak muda yang menikmati hanami. Grup sejawat kantoran pun banyak, menikmati Sakura bersama sebagai bagian dari acara kebersamaan kantor untuk menghilangkan rasa jenuh. Biasanya, pegawai baru disuruh untuk menunggu tempat dari pagi sekali!

Duduk dan Makan Ketika Hanami

Duduk dan Makan Ketika Hanami

Mendekati siang, taman-taman berpohon Sakura sudah mulai dipenuhi orang dan mereka mulai melakukan berbagai kegiatan. Ada yang berkaraoke, berdansa, makan siang _bento_ atau _dango_ (bulatan-bulatan tepung beras yang ditusuk sate, disajikan dengan saus manis atau gurih), minum sake atau berjalan keliling, suatu prosesi untuk “membangkitkan ruh”. Makanan yang disantap bisa dibawa dari rumah, dibeli dari _kombini_ (_convenience store_), atau dengan alat _barbeque_ komplit langsung dimasak di tempat. Sorenya, mereka pulang ke rumah dengan kereta api atau bis sewaan. Sebenarnya, hanami bisa dinikmati mulai pagi mendekati makan siang, sore, dan bahkan juga ada yang malam hari (disebut _yozakura_). Pada kasus hanami malam hari, biasanya pohon Sakura juga diterangi lampu dan terlihat sangat cantik!

Sejarah hanami sendiri berawal dari abad ke-7. Ritual ini awalnya berfungsi sebagai bentuk rasa syukur terhadap panen yang melimpah. Ia bermula dari pulau Kyushu (pulau di selatan Jepang dekat dengan Korea Selatan) dan terus berkembang ke seluruh pulau di Jepang. Setelah itu, keluarga ningrat di Jepang turut mengadopsi hanami. Mereka membuat dan membaca puisi sambil menikmati Sakura di istananya.

Keunikan hanami terletak pada waktunya yang pendek, paling lama hanya dua minggu, kecuali masa-masa tertentu seperti tahun 2010 di mana suhu ternyata sangat dingin. Pohon Sakura hanya bisa hidup dalam rentang suhu tertentu, tidak bisa terlalu dingin dan tidak bisa terlalu panas. Hal ini dianggap sebagai simbol kehidupan di mana kita semua hanya “transit”. Dalam kasus musim, Sakura menandakan “transit” antara musim dingin ke musim semi dan seterusnya. Ada juga yang menganggapnya sebagai “kelahiran kembali” alam.

  • Foto: Wikipedia & Annisa Mahdia Pratiwi

Disunting oleh: ARW 26/04/2010.


Bersahabat dengan Perjalanan yang Panjang

Setiap pelancong pasti pernah bertemu dengan perjalanan yang panjang. Lagipula, perjalanan lintas benua atau lintas negara mana ada yang tanpa perjalanan panjang. Bahkan perjalanan lokal pun pasti mengalami perjalanan yang panjang.

Perjalanan panjang bisa terjadi pada moda transportasi apa saja. Contoh kecil saja, dalam perjalanan antar kota di Jawa atau Sumatera dengan bis, perjalanan akan menghabiskan waktu enam jam, atau lebih. Bahkan bis lintas Jawa-Sumatera bisa menempuh waktu dua hari atau lebih. Begitu pula perjalanan dengan kereta api, atau juga dengan pasawat terbang lintas benua.

Suasana Kabin pesawat

Interior bis jarak jauh

Perlu disadari bahwa ada moda transportasi yang memang pada dasarnya membosankan, seperti bis atau pesawat. Bila kita bosan, kita hanya bisa berdiri atau olah tubuh secukupnya, lalu kita dipaksa menancapkan pantat kita di kursi kembali. Di pesawat agak lumayan, kadang-kadang kita bisa berjalan berkeliling sampai kita bosan. Di bis, kita harus berpuas diri dengan kursi kita yang nyaman itu.

Tentu saja waktu perjalanan juga mempengaruhi hal ini. Perjalanan panjang tapi terjadi malam hari tentu akan mengurangi unsur bosan ini. Bahkan kita bisa memanfaatkan untuk istirahat. Tapi, banyak pula saat kita tak dapat berkompromi dengan waktu. Kita mendapatkan perjalanan siang hari dengan waktu lebih dari delapan jam misalnya.

Perasaan-perasaan seperti bosan, stres, mengesalkan, atau ketersendirian adalah hal biasa dalam perjalanan yang panjang. Belum lagi kondisi fisik lelah, pantat panas, punggung nyeri, atau kesulitan menuntaskan hajat, dan rasa lapar yang menggila.

Nah, cukup dengan alasan-alasan buruk di atas? Tulisan ini dibuat tidak untuk mengajak takut akan perjalanan panjang, lebih-lebih membencinya. Sejujurnya saya sangat rindu akan perjalanan panjang. Mungkin rindu tapi benci. Ia bikin kangen, tapi kalau kita mengalaminya membuat kita ingin secepatnya melewati tapi kita juga takut itu akan segera selesai.

Kita harus berteman dengannya. Juga mungkin saya bisa bilang setiap pelancong yang sukses adalah mereka yang selalu dapat bersahabat dengan perjalanan yang panjang, dan mereka itu mampu menjadikan perjalanan itu kehidupan yang bermakna, tak peduli apakah itu perjalanan yang panjang atau pendek.

Beberapa cara bersahabat dengan perjalanan yang panjang:

* Mencari teman baru. Bila tak kenal dengan orang sebelah dalam suatu perjalanan, saatnya membuat perkenalan dan jadikan mereka sahabat baru. Mulailah dengan tersenyum. Lalu katakan hai. Dan kita akan lupa dengan waktu. Tentu saja bila mereka mau.
* Wah, orang disamping kiri dan kanan tidur. Lalu orang di depan kita asyik nonton video, sementara orang di belakang kita hanyalah anak kecil yang asyik main PSP. Gawat. Gimana dong? Saatnya ambil buku bacaan. Buku adalah teman perjalanan abadi yang tak pernah membosankan. Kalau orang sebelah kanan bangun, letakkan buku dan ajak ngobrol buku kesukaan mereka. Syukur-syukur bila mereka bertanya dahulu Anda membaca apa.
* Bila semua orang tidur. Anda terbangun sendiri. Buku sudah habis terbaca. Saatnya me-review perjalanan. Cek tiket. Menuliskan catatan penting, siapa tahu berguna. Menulis formulir visa. Membaca kembali syarat-syarat imigrasi dan hal-hal lainnya.

Mengisi imigrasi

* Kalau semua sudah dilakukan padahal perjalanan masih empat jam lagi, saatnya berkeliling pesawat. Selain untuk meluruskan kaki, bisa pula untuk melihat situasi dan penyegaran. Ajak ngobrol orang-orang yang juga sama-sama bosan dan melakukan hal yang sama, biasanya mereka di tempat dekat toilet. Biasanya mereka melakukan senam yoga yang tak beraturan. Atau hanya pura-pura menunggu WC. Padahal mereka hanya ingin berdiri saja, capek duduk selama 10 jam lebih.
* Mengecek foto dan mentransfer hasil jepretan ke laptop.
* Makan dan minum. Dalam perjalanan panjang, apalagi lintas benua dan lintas waktu, kita biasanya mendapatkan jatah konsumsi selama dua kali, atau bisa lebih. Dalam pengamatan saya, strategi pemberian konsumsi biasanya dilakukan satu hingga dua jam setelah _take off_ dan juga satu hingga dua jam sebelum mendarat. Pemberian pertama mungkin untuk menjaga agar penumpang tidak kelaparan. Pemberian kedua dilakukan untuk “membangunkan” penumpang dan menjaga kondisi agar mereka siap untuk pendaratan. Bila Anda terlalu lelah dan mungkin melewatkan hal itu karena tertidur, Anda bisa bertanya dan meminta apakah melewatkan konsumsi.

Makanan di pesawat

Kontrol Hiburan dan telepon dalam pesawat

* Bila moda transportasi menyediakan hiburan, seperti dalam pesawat jarak jauh, manfaatkan untuk menonton video atau mendengarkan musik. Atau bila Anda punya alat elektronik seperti iPod, bisa pula membawa dan mengatur koleksi pribadi untuk dinikmati dalam perjalanan. Ada pula yang bilang menonton video atau musik selama perjalanan lintas benua juga sebagai strategi untuk mengatasi _jetlag_. Jadi fisik dipaksa untuk lelah, sehingga ketika akan sampai tujuan, kita akan kelelahan dan tidur. Tapi ini tidak sepenuhnya sukses. Ini juga tergantung lama dan jadwal perjalanan. Beberapa maskapai saat ini bahkan menyediakan saluran telepon berbayar kartu kredit atau Wi-Fi di atas pesawat. Bisa pula Anda memanfaatkan hal ini, tapi pastikan Anda mengetahui biayanya sebelum menggunakan fasilitas ini.
* Apalagi, ya? Bila tak ada ide lagi yang bisa dilakukan, Anda bisa memotret. Memotret jalanan yang dilewati, memotret awan, atau memotret orang-orang yang tertidur. Tapi jangan semua orang dipotret. Hati-hati, ada sopan santun untuk hal ini karena posisi tidur adalah pose yang kurang bagus. Potretlah hanya teman Anda. Atau konteks seluruh pesawat. Bahkan untuk hal terakhir ini usahakan mereka yang dipotret mengetahui dan memperbolehkan Anda memotret. Pramugari biasanya keberatan dipotret, tapi juga mungkin karena kebijakan perusahaannya.

Tentu saja banyak hal lain yang bisa dilakukan selain hal-hal di atas. Tulisan ini hanya menggambarkan dan memberi bayangan apa yang terjadi dalam perjalanan panjang. Seyogyanya kita sudah siap sebelum melakukan perjalanan dan kita bisa bersahabat dengannya.

Bila tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Satu-satunya hal terbaik untuk berteman dengan perjalanan panjang adalah dengan tidur yang nyenyak.

Disunting oleh SA 20/04/2010


Hoi An, Quang Nam — Vietnam

Pintu Dekoratif, Hoi AnHoi An adalah kota bersejarah yang diakui oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage. Letaknya di provinsi Quảng Nam di bagian sentral Vietnam. Dengan luas hanya sekitar 60 km per segi dan 120.000 jiwa penduduk, ia telah menjadi salah satu tujuan utama pengunjung ke Vietnam. Hoi An sangat tergantung dengan keberadaan kota Da Nang, kota berkembang sekitar 30km di utaranya, karena di Da Nang-lah terletak bandara internasional dan stasiun kereta api terdekat.

Sebagai bekas kota pelabuhan dan perdagangan pun, Hoi An tak memiliki fasilitas pelabuhan yang memadai untuk menampung jumlah pengunjung yang semakin melonjak. Kebanyakan pengunjung mencapai Hoi An melalui pesawat yang mendarat di bandara internasional atau pun stasiun kereta api yang berada di Da Nang. Dari situ, mereka dapat menaiki taksi (sekitar USD 12-20) atau bis (turis maupun umum) dengan tarif yang berbeda-beda (sekitar USD 0.80 untuk bis umum atau USD 4 untuk bis turis). Pengunjung dapat meminta hotel di Hoi An untuk menjemput di bandara atau stasiun kereta api dengan tambahan biaya, biasanya tak jauh beda dengan biaya taksi.

Hoi An Ketika MalamJudul resminya adalah “Hoi An: The Ancient Town“. Terletak di jantung hati kota Hoi An adalah Old Town, yakni kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya. Mengunjungi Old Town serasa mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17. Hanya saja, pengunjung tak akan menemui pedagang yang menjual keramik, mendorong gerobak ataupun menjajakan rempah-rempah, tapi justru pernak-pernik cenderamata, memorabilia, baju khas Vietnam yang tersedia untuk beragam usia, benda-benda seni seperti lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer, sampai miniatur beragam kapal antik! Ruas jalan yang cukup sempit membuat beberapa jalan benar-benar tak bisa dilalui mobil dan hanya dilalui sepeda biasa dan sepeda motor. Ruas jalan yang sempit ini pulalah, yang menjadi andalan para pemilik restoran di sekitar situ untuk memanggil Anda masuk karena pada jam-jam tertentu memang cukup padat dengan pejalan kaki. Pada malam hari, banyak sekali lampion yang dipasang di pohon-pohon dengan warna-warni yang menyenangkan, apalagi ditambah alunan tembang instrumental yang mengumandang dari sistem audio yang memang dipasang di beragam penjuru kota. Siap-siaplah memakai baju berlapis karena suhu bisa lebih sejuk pada malam hari.

Hoi An tak pernah sepi pengunjung. Setiap hari selalu saja ada turis dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia yang berjalan kaki keliling, memandang kagum akan kualitas konservasi kota tua ini. Bagi mereka yang senang fotografi, Old Town adalah ladang yang siap dipanen sepanjang tahun. Peluang eksplorasi fotografi sangat terbuka luas. Anda bisa fokus pada arsitektur kota tua atau mencoba menangkap nadi kegiatan penduduk dan pengunjungnya. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah _shophouse_ yang belum tentu bisa mengakomodir kepala kita saking rendahnya langit-langit yang dimiliki, lalu memotret ke arah jalan. Atau menghabiskan waktu hanya duduk di salah satu kafenya sambil memotret mereka yang lalu lalang, naik perahu kecil di sungainya untuk melihat Hoi An dari perspektif yang berbeda.

Fasad Salah Satu Bangunan di Hoi An

Tips ideal: Pesan salah satu hotel murah meriah (satu kamar dengan tempat tidur double hanya bertarif USD 15 – USD 20 per malam) yang terletak sedikit jarak jalan kaki dari Old Town, lalu jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD 0.50 per hari!) berkeliling Old Town. Sewa sepeda motor tarifnya sekitar USD 4 per hari. Setelah itu, Anda bisa beli tiket terusan 3 hari untuk mengunjungi beberapa situs menarik di Old Town seperti rumah-rumah tua yang sengaja tak dijadikan situs komersil, museum-museum, jembatan dengan arsitektur Jepang (_Japanese Covered Bridge_) serta beberapa gedung pertemuan rakyat (_assembly hall_) dengan arsitektur mirip pagoda. Dari sejumlah kualitas arsitektur, dapat dilihat bahwa memang kota ini dulu menjadi ruang leburnya beberapa etnis dan budaya: Vietnam, Cina, Jepang dan India.

Penjual Makanan di Hoi AnSetelah puas berkeliling, coba duduk di salah satu kafe atau rumah makan. Pilih tempatnya dengan bijak, karena tak semua berharga ramah bagi kantong orang Indonesia (sama seperti Bali, harga-harga di sini sudah “di-westernisasi”). Kalau Anda berani, cobalah makan makanan pinggir jalan yang mirip dengan jajanan Indonesia: pisang goreng penyet, lalu semacam onde-onde yang berisi kelapa. Selain itu, cobalah sajian khas Hoi An yang disebut Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat.

Wisata pantai juga tak ketinggalan dengan dua pantai yang paling dekat yakni pantai Cua Dai dan An Bang. Namun bersiaplah, jika Anda berharap pantai di sini adalah pantai tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun, karena pada masa-masa tertentu anginnya cukup kencang, ombak tinggi dan tanpa sinar matahari. Walau begitu, banyak sekali hotel mewah yang lokasinya di sepanjang pantai Cua Dai.

Candi My Son

Bagi Anda yang tertarik wisata sejarah, cobalah untuk mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi peninggalan masyarakat Cham ini memang tak sebesar kompleks candi Prambanan atau Borobudur, tapi cukup impresif, walau banyak yang sudah tinggal puing-puing karena sempat dibom ketika perang. Masyarakat Cham sendiri konon berasal dari Borneo, mayoritas memeluk agama Islam dan memiliki bahasa yang mirip dengan bahasa Indonesia, Melayu dan Tagalog karena termasuk dalam satu keluarga bahasa Malayo-Polynesia. Kompleks candi Mỹ Sơn sendiri adalah pusat peribadatan masyarakat dan makam raja-raja Cham. Ada sekitar 70 candi besar dan kecil di kompleks ini yang sedang dipugar.

Disunting oleh ARW 12/04/2010 & SA 26/04/2010


Memahami Vietnam melalui Reunification Express

Trung Nguyen Coffee di Stasiun Kereta Api Ho Chi Minh CityLaju taksi yang saya tumpangi sekencang laju degup jantung saya mengantisipasi perjalanan yang akan saya lalui. Saya akan melalui 20 jam di atas kereta api, di sebuah negara berkembang dengan bahasa yang tak saya pahami sama sekali.

Ho Chi Minh City menuju Hue. 12:20 siang. Gerbong nomor 1, kabin nomor 3 dan _berth_ nomor 18. Lima perhentian stasiun.

Bayangan stasiun kereta api yang padat, bising dan kotor langsung sirna ketika saya sampai di Ga Sài Gòn. Stasiun ini modern dan bersih. Setelah melakukan klarifikasi di sana-sini, saya merasa lega. Ini memang tempat yang benar. Stasiun kereta api ini tidak besar. Sejauh mata memandang, sepertinya hanya ada dua jalur kereta api.

Trung Nguyen Coffee, produk kopi kebanggaan Vietnam, ternyata punya gerai di stasiun ini. 12:01. Saya sempatkan duduk dan pesan kopi untuk menenangkan diri. Kafe ini melayani penumpang dalam ruangan berpendingin udara dan dengan sajian kopi yang cukup nikmat untuk lidah penikmat kopi awam seperti saya. Disajikan dengan es, pilihan kopi tertentu bisa menyejukkan tubuh yang sudah didera panas kota Ho Chi Minh City yang sama seperti Jakarta.

Pukul 12:15 saya putuskan untuk masuk ke peron. Karcis kereta api yang berukuran seperti kartu nama itu pun hanya dilihat, tanpa dilubangi apalagi disobek. Begitu masuk, saya dengan mudah menemukan nomor gerbong. Dibantu salah satu petugas, saya mengkonfirmasikan _berth_ saya. Dalam satu kabin, ada empat _berth_ (tempat tidur) yang cukup nyaman, dilengkapi selimut. Beruntung, saya dapat _berth_ yang di bawah. Lima menit kemudian, dua wanita berusia kira-kira 30-an tahun masuk dan menempati kedua _berth_ di atas.

Kabin dan BerthKereta api bertolak tepat waktu pada 12:20. Saya coba rilekskan diri, tiduran, sambil mencoba membaca buku _Istanbul: Memories of a City_ karangan Orhan Pamuk. Buku yang cukup memberi makan pada laparnya nafsu perjalanan saya, dan cocok sekali dibaca dalam suasana seperti ini. Laju kereta api ternyata tak sekencang laju degup jantung saya tadinya. Ia bertolak dengan anggun, dengan irama yang familiar. Beberapa menit kemudian, lantunan lagu berkumandang. Ternyata itu adalah pendahulu pengumuman penumpang yang memberitahu bahwa kereta api telah berangkat. Tidak hanya sampai di situ, ada rekaman yang menjelaskan tentang sejarah perkeretaapian di Vietnam.

Hari ini, hanya ada satu perusahaan yang mengelola jalur kereta api di Vietnam, yaitu “Vietnam Railways”:http://www.vr.com.vn/English/. Jalur kereta api utama di Vietnam adalah jalur Utara-Selatan sepanjang 1.726 km, jalur yang telah menjadi nadi utama transportasi di Vietnam sejak diresmikan tahun 1936 oleh kolonialis Perancis. Jalur kereta api Utara-Selatan ini juga menjadi saksi sejarah pemersatu Vietnam. Ketika perang Vietnam, jalur ini sempat banyak sekali dibombardir oleh tentara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Ketika kedua negara pecahan tersebut bersatu pada dekade 70-an, jalur ini juga diperbaiki.

Hingga sekarang, ini adalah jalur vital yang melayani arus transportasi awam ataupun industri antara dua kota utama di Vietnam, Hanoi dan Ho Chi Minh City. Sama seperti di Indonesia, ada istilah mudik. Saya tak tahu pasti apa istilah Vietnamnya. Setiap tahun, masyarakat Vietnam merayakan Tết, yaitu istilah tahun baru kalender lunar yang sudah dilokalisasi. Perayaannya selama tiga hari, dan kebiasaannya masyarakat di perkotaan akan melakukan perjalanan ke kota atau daerah. Kereta api, pesawat dan bis akan dipenuhi oleh mereka yang akan ‘mudik’. Harga tiket pesawat dan kereta api pada saat ini memang berkompetisi, hanya berbeda beberapa ratus ribu rupiah. Jika tiket pesawat habis, maka kereta api menjadi alternatif kedua.

Koridor di Reunification ExpressKereta api yang saya tumpangi berjudul Reunification Express. Setidaknya itulah yang saya tahu dari internet. Tak ada tulisan khusus. Ada beberapa kelompok Reunification Express, dibedakan dari kualitas dan waktu operasi. Kereta yang saya tumpangi bernama “SE6”. Berangkat pukul 12:20, sampai di Hue pada pukul 07:00 pagi berikutnya. Untuk mencapai Hanoi dari Ho Chi Minh City, dibutuhkan paling tidak 30 jam. Jika Anda kuat duduk selama waktu tempuh tersebut, Anda bisa memesan tiket _seater_. Jika tidak, tersedia opsi _sleeper_, atau gerbong dengan tempat tidur. Untuk saat ini, hanya tersedia pilihan _sleeper_ dengan enam atau empat tempat tidur (_berth_) dalam satu kabin, tergantung dari jenis kereta api yang Anda pilih. Ada sekitar delapan sampai sepuluh kabin dalam satu gerbong. Untuk kenyamanan yang lebih, Anda bisa memilih perusahaan transportasi swasta seperti “LiviTrans”:http://www.livitrans.com, yang memiliki gerbong dengan kabin berinterior yang relatif lebih mewah, tentu dengan harga yang lebih tinggi.

Bagaimana memesan tiket? Anda bisa menitipkan pada teman Anda atau menggunakan jasa online seperti “Vietnam Impressive”:http://www.vietnamimpressive.com. Tentu akan lebih murah jika memesan dengan menitipkan pada teman Anda di Vietnam atau beli langsung di lokasi.

Saya sempatkan membaca sampai habis sisa buku yang saya pegang. Ketika selesai, hari sudah lewat senja. Lampu pun dinyalakan. Kereta berhenti di sebuah stasiun entah di mana. Seorang nenek masuk, dan melengkapi jumlah penumpang kabin saya menjadi empat orang. Sepertinya beliau berusia sekitar 70-an tahun, namun masih tampak sangat sehat. Beliau membawa sebuah tas tanpa pengait yang berisi, tampaknya, makanan.

Ketika saya mencoba tidur, salah satu penumpang di atas memanggil saya. Seorang ibu, kisaran usia 30-an tahun, seorang guru di kota Da Nang. Beliau tertarik dengan buku yang saya baca. “Boleh saya pinjam?” Tak lama kemudian, kami berbincang panjang lebar. Tentang apa yang saya lakukan di sini, tentang pekerjaan masing-masing sampai tentang agama. “Di Vietnam, hampir seluruh populasinya tak memeluk agama. Mereka bukan tak percaya Tuhan, tapi mereka tak memilih untuk memeluk agama satu pun.” Spontan saya bertanya tentang Tết, hari raya terbesar bagi masyarakat Vietnam. Apakah itu merupakan ritual agama? “Tidak, itu lebih pada ritual budaya.”

Pemandangan antara Ho Chi Minh City dan Nha Trang

“Kamu punya bahasa Inggris yang baik. Kebanyakan orang Vietnam tidak,” kata Ibu itu lagi. Lantas saya bertanya, apa tidak diajarkan di sekolah? “Untuk generasi sekarang, sudah diajarkan. Tapi generasi seperti saya, hanya diajarkan bahasa Rusia. Itu pun jarang digunakan hari ini.” Vietnam memang erat dengan komunisme, dan pengaruh itu masih terlihat di bagian-bagian Vietnam yang saya kunjungi. Entahlah apakah semangat itu masih mendarah daging. Vietnam sudah tampak seperti negara yang mulai menerima kapitalisme, dilihat dari berbagai investasi yang masuk. Lihat saja di Ho Chi Minh City, merek-merek lambang kapitalis terpampang. Gucci, Louis Vuitton, Christian Dior, semua memiliki outlet tersendiri di Ho Chi Minh City. Belum lagi jika melirik investasi properti pariwisata seperti Hilton dan Sheraton. Perlahan tapi pasti. Pelajar Vietnam juga lebih banyak belajar di negara-negara seperti Australia dan Amerika Serikat. Generasi muda di perkotaannya tak ubahnya berpenampilan seperti pemuda dan pemudi di Indonesia.

Pembicaraan ditutup dengan santapan makan malam yang dijual oleh penjaja yang juga merupakan staf kereta api. Makanan berat maupun makanan ringan dijual. Ada nasi dengan daging sapi atau babi yang direbus, disajikan dengan tauge, dilengkapi dengan sup sayur sederhana. Nenek sebelah saya menawari saya nasi kepal bawaannya yang dimakan dengan sayuran yang sekilas mirip kangkung. Saya tak pasti itu apa, ketika saya tanya, mereka tak tahu istilahnya dalam bahasa Inggris. Kebanyakan masakan Vietnam memang sederhana, mungkin dipengaruhi oleh kemiskinan yang sempat dibawa oleh komunisme. Masyarakat Vietnam cenderung menikmati hal-hal sederhana. Saya cukup terpana melihat seseorang melahap nasi, daging rebus dan tauge dengan nikmatnya. Bagi lidah Indonesia, masakan seperti itu kurang bisa saya nikmati.

Pemandangan di luar tak ubahnya seperti pemandangan di Indonesia. Sawah padi, pegunungan, sungai dengan rumah-rumah kecil di sepanjang pinggirnya. Sesekali melewati jembatan, sehingga suara kereta api terdengar lebih keras. Sesekali, sistem audio kereta api mengumandangkan rekaman yang menjelaskan daerah yang dilalui, dalam bahasa Vietnam dan bahasa Inggris. Luar biasa, menurut saya, karena sangat membantu orang asing untuk memahami perjalanan ini.

Kereta berhenti di beberapa stasiun, untuk menurunkan dan mengambil penumpang. Ketika pemandangan mulai ditutup oleh gelapnya malam, saya memutuskan untuk mencoba tidur: mengambil selimut dan merebahkan badan. Pintu kabin saya coba tutup, lagipula yang lain sudah tidur. Sesekali terdengar penumpang atau pegawai yang hilir mudik.

Pukul empat pagi saya terbangun, hanya untuk melihat bahwa hari masih gelap. Tak berapa lama kemudian, saya sampai di kota terakhir pemberhentian sebelum Hue, yaitu Da Nang. Pemandangan dari Da Nang ke Hue, yang disebut sebagai Hai Van Pass, sangat mengagumkan. Kami melewati pesisir pantai, pegunungan di pinggir laut dengan saksi tebing yang memukau. Sesekali melewati terowongan. Ombak berlaga dengan bebatuan, berlatar belakang matahari terbit. Suhu udara di kabin rendah dan saya harus memakai selimut sembari menikmati pemandangan di jengkal terakhir perjalanan 20 jam ini. Ibarat film, 2 jam terakhir ini adalah klimaksnya.

Perjalanan kereta api ini merupakan tujuan tersendiri bagi saya, karena banyak hal yang bisa dipelajari daripada naik pesawat. Saya mencoba memahami Vietnam melalui secercah kehidupan yang terus bergerak, seumpama menyusuri museum hidup yang akan terus ada merajut sejarah.

Disunting oleh ARW 02/04/2010


© 2017 Ransel Kecil