Artikel-artikel dari bulan Maret 2010

Menaklukkan Puncak Wat Tham Sua

Hari itu adalah Senin. Siang pun sudah terik. Panas matahari terasa membakar kulit. Saya lihat jam Casio digital di tangan, ternyata sudah pada angka sembilan. Siang itu adalah hari terakhir kami di Krabi, Thailand. Tidak ada rencana perjalanan siang itu sebab sorenya nanti kami harus siap untuk perjalanan kami ke Bangkok.

Kami lalu melapor akan meninggalkan (check out) guest house pada resepsionis. Urusan uang dan tagihan tuntas sudah. Tapi kami masih punya waktu enam jam tersisa. Setelah berunding sebentar, kami lalu bikin rencana instan. Kami akan menghabiskan waktu ini dengan bersepeda motor. Mungkin asyik bermotor di Krabi. Cuaca juga cerah, kalau tidak dibilang panas.

Kami tanya pada resepsionis, kemana kira-kira kami bisa menghabiskan waktu tiga jam di Krabi? Dari berbagai pilihan, akhirnya kami setuju untuk pergi ke Wat Tham Sua atau Tiger Cave Temple (Candi Gua Harimau). Wat ini terletak sekitar 5 km dari kota ke arah timur. Yang menarik adalah, untuk mencapai areal utama wat, kita harus naik anak tangga yang berjumlah 1.237 buah!

Areal Wat Tham Sua bawah

Menurut Krabi Tourism, selain sebagai pusat meditasi dan ibadah, ini adalah juga tempat arkeologi dan sejarah. Peralatan dari batu, keramik, dan cetakan untuk membuat kaki Budha ditemukan di sini. Tidak ada harimau atau hewan liar di komplek candi ini, kecuali monyet-money nakal dan usil.

Setelah menitipkan ransel kami di penginapan, kami lalu bergegas ke persewaan motor terdekat. Kami mendapatkan dua sepeda motor tipe otomatis, sebuah Yamaha dan Fina (entah apakah ini merk motor atau bukan). Harga sewanya sekitar 150 Baht / hari. Kondisi motor tersebut cukup bagus, meski tidak bisa dibilang baru. Sebelum keluar dari kota kami mampir ke kantor pariwisata di jalan Utarakit. Ada seorang ibu bertugas di sana. Inggrisnya cukup fasih. Kami diberi dua buah peta Krabi. Setelah itu perjalanan berlanjut. Satu kilometer dari kota, kami menjumpai pom bensin, dan siaplah motor itu untuk mengantarkan petualangan kami.

Jalanan Krabi ke arah timur itu bagus dan halus. Siang itu saya memakai kaos berkerah tanpa lengan berwarna hijau. Udara cukup panas. Namun semilir angin dan segarnya udara cukup menyejukkan kami. Tapi tak lama, kami lalu menjumpai pertigaan ke kanan arah Bandara Krabi (dan Had Yai), dari situ Wat tujuan kami sudah dekat. Rambu-rambu di Krabi cukup ramah, semua dalam dua bahasa Thai dan Inggris. Kami tidak kesulitan menemukan lokasi itu meski sempat barbalik arah karena melewatkan sebuah petunjuk jalan.

Dan benar, beberapa menit kemudian ada tanda belokan ke kiri menuju Wat Tham Sua. Memang jalanan masuk ke wat masih beberapa kilometer, tapi dari kejauhan tampak megah stupa besar berwarna putih dan stupa keemasan di atas bukit yang tinggi. Dengan berbekal petunjuk itu kami mengarahkan kendaraan ke sana. Sampai di sana, kami memarkirkan motor di tempat yang disediakan. Tak ada preman parkir di sini.

Anak Tangga ke Puncak Wat Tham Sua

Sesampainya di lokasi, kami semua semua terkejut. Kami tampaknya cukup meremehkan arti 1.237 anak tangga itu (atau sekitar 600m). Atau mungkin kami mendengarkan penjelasan sebelumnya sambil lalu, lewat telinga kiri keluar telinga kanan. Ternyata artinya benar-benar literal. anak tangganya berjumlah 1.237 buah untuk menuju lokasi wat utama di atas bukit. Yang parah, anak tangganya ternyata sangat terjal!

Sontak sebagian dari kami semua langsung patah arang, putus asa sebelum bertanding. Setelah berunding, saya dan istri memutuskan untuk mencoba ke atas, kami ingin melihat wat tersebut. Kakak ipar dan suaminya memilih di bawah. Kami maklum dengan keputusan dan kondisi mereka saat itu. Tapi sebelum berangkat, Yani istri saya, memutuskan membeli bekal di sebuah toko di area wat itu. Saya, kakak ipar, dan suaminya memilih menunggu duduk di bawah pohon melihat sekelompok monyet bermain di areal permainan mereka, dengan ayunan ban bekas, saling mengejek dan kejar-kejaran dengan teman-teman mereka.

Yani kembali dengan sekantung makanan, terlihat dua buah pisang, botol minuman, dan kantung snack. Dia tampak gembira ingin memberi makan monyet. Tapi kami bertiga langsung tersenyum kecut. Sebelum istri kembali tadi, kami melihat sendiri ada seorang wisatawan membawa snack dan dijarah oleh sekelompok monyet itu. Lalu seorang raja monyet, maklum badannya besar, muncul dari entah di mana kemudian merebut makanan itu dari kawanannya. Dan ia berpesta snack itu di atas pohon. Ya, banyak isinya berjatuhan ke bawah. Hal yang kami khawatirkan itu langsung terbukti, tiba-tiba saja datang tiga hingga empat monyet merebut semua yang dibawa istri saya. Dia langsung teriak-teriak dan tak kuasa mempertahankan bawaannya. Satu-satunya jalan aman adalah melepaskan itu semua, dan mereka langsung membawanya kabur. Pisang dan snack dijarah siang bolong! Untung dia tidak dicakar atau digigit. Kami semua tertawa!

Sekelompok monyet berpesta pora

Yang tersisa dari bawaan istri hanyalah sebotol air dalam kemasan. Cukuplah untuk bekal kami. Kami kemudian kemudian memulai perjalanan ke atas. Bismillah semoga kami bisa mencapai puncak wat! Sayang kalau melewatkan kesempatan padahal kami sudah di sini.

Sambil melangkahkan kaki perlahan, saya bercerita pada istri bahwa saya pernah merasakan pengalaman naik ke puncak wisata religi semacam ini di tanah Jawa, yaitu di lokasi makam Sunan Muria, dekat Kudus, Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi makam Sunan Muria kita harus naik anak tangga yang jumlahnya lebih dari 700-an buah. Anak tangga di Wat Tham Sua ini jumlahnya lebih banyak. Selain itu alurnya pun berbelok-belok dan lebih terjal.

Alur tangga Wat Tham Sua

Kami menjumpai beberapa wisatawan, dan ketika mereka bisa bahasa Inggris, kami menanyakan apakah cukup berharga untuk naik ke atas. Jawaban mereka hampir mirip, keren, pemandangannya bagus, sepadan dengan usahanya. Wah tampaknya menarik. Kami berusaha memantapkan kaki ke atas.

Tapi pada anak tangga ke 250-an, istri saya menyerah. Kakinya gemetar. Cukup melelahkan memang. Selain terjal ruas anak tangga pun sangat sempit, bahkan ada yang selebar 10 cm (bila sangat terjal), dan dengan tinggi antar anak tangga sekitar 30 cm. Saya menyadari ketakutannya bila hal ini terjadi hingga puncak. Setelah berunding dan ambil napas di perhentian, akhirnya dia memutuskan turun. Saya memutuskan akan mencoba hingga puncak. Saya bertekad penuh untuk berhasil agar bisa melihat puncak wat.

Pada anak tangga ke 500-an ke atas, ternyata anak tangga mulai landai dan normal. Landai di sini maksudnya tidak terlalu terjal. Ruas anak tangga normal kira-kira 25 cm, dengan tinggi antar tangga lebih dari 20 cm. Ya, seperti jarak tangga pada umumnya. Saya berpikir mungkin anak tangga awal memang didesain untuk mengetes pengunjung yang ingin naik, benarkah begitu?

Toilet di Wat Tham Sua

Beberapa kali saya istirahat. Maklum, saya tidak melakukan latihan khusus sebelum melakukan perjalanan ini. Saya mudah cepat lelah. Entah berapa kali saya berhenti dan istirahat, sekadar meringankan napas dan minum air. Tapi mungkin akibat terlalu sering berhenti inilah malah semakin mempercepat rasa lelah dan payah. Pada anak tangga ke-520 saya menjumpai toilet. Saya menyempatkan kencing sebentar di situ. Ada dua toilet dalam alur ke atas, sebuah lagi ada di dekat puncak wat. Toilet terakhir adalah untuk membersihkan badan bagi mereka yang berniat ibadah.

Patung Hariam Wat Tham Sua

Di pertengahan jalur ada sebuah tempat sesembahan(?) dengan patung seorang pendeta dan harimau. Mungkin inilah visualisasi pendeta Jumnean Seelasettho yang kisahnya bermeditasi di bukit ini lalu mendengar suara harimau, maka kemudian Wat ini diberi nama demikian. Suasana cukup sepi dan hening. Karena merasa saya orang asing dan saya bukan orang Budha, pikiran macam-macam bergejolak, campur aduk antara takut dan ingin menghormati tempat ini. Semakin ke atas memang semakin sepi. Mungkin semakin sedikit orang yang kuat melanjutkan perjalanan ke puncak wat. Semakin sepi, saya semakin ingin menuntaskan perjalanan ini dan segera kembali ke bawah. Ada seorang wanita melewati saya yang kelelahan terduduk di ruas anak tangga. Saya tak malu, dia lebih hebat. Tak tampak tersengal sedikit pun napasnya.

Akhirnya sampailah saya pada anak tangga ke-1.237 itu. Fiuuuuuh. Lelah tapi juga puas telah sampai di tingkat ini. Tampak seekor anjing putih belang tidur di bawah bangunan bawah yang teduh itu. Saya merasa agak tenang dan nyaman karena ada seseorang lain di areal wat, wanita tadi yang telah melewati saya. Saya melepas alas kaki saya di areal wat itu.

Stupa Emas Wat Tham Sua

Patung Budha di Wat Tham Sua

Ada stupa emas di wat itu. Juga sebuah patung Budha berlapis emas. Keduanya besar dan megah. Patung Budha itu sendiri dikelilingi patung ular. Entah apa arti simbolisnya. Di area tengah patung dan stupa ada patung-patung Budha kecil dalam berbagai posisi, mungkin ini areal sembahyang. Juga ada bendera resmi Thailand dan bendera kuning agama Budha negara itu. Ada pula deretan antena, mungkin antena komunikasi. Inilah campuran budaya dan teknologi maju. Bukit ini, mungkin tertinggi di Krabi, adalah areal tepat untuk menaruh antena komunikasi.

Puncak Wat Tham Sua dan Pemandangan Krabi

Pemandangan Kota Krabi dari Puncak Wat Tham Sua

Udara terasa segar di puncak wat itu. Angin berhembus kencang. Bunyinya kencang menggetarkan. Saya bisa melihat berkeliling, seluruh area Krabi terlihat dari sini. Perbukitan. Hutan. Pinggir pantai.

Awan hitam yang besar dan terasa dekat bergulung-gulung di angkasa. Wanita muda tadi sudah turun. Saya sendiri lagi. Sepi. Sunyi. Menenangkan sesungguhnya. Tapi saya juga takut. Saya tunggu beberapa menit ternyata belum ada pengunjung lain yang sampai ke tingkat atas ini. Saya tidak ingin berbuat salah dengan melakukan kegiatan tidak pantas di wat ini. Saya tidak tahu saya harus apa lagi, akhirnya saya memutuskan turun.

Ketika memasang sendal, saya melihat anjing tadi ternyata sudah bangun. Dia sudah menunggu saya di pintu keluar menuju anak tangga di bawah. Hebat sekali anjing ini. Dia tahu ada pengunjung dan berusaha menyambutnya. Saya pikir para pendeta sengaja meletakkan makhluk ini sebagai penjaga di sana. Padahal mereka tinggal di tempat lain, melalui alur tangga yang lain, sekitar 130 buah anak tangga dari bawah.

Dalam perjalanan turun saya menjumpai beberapa pengunjung lain. Lebih banyak penduduk lokal Thailand. Ada bapak dengan anak. Dua lelaki muda bergaya punk. Turis asing dengan anak-anak mereka yang berusia 7 dan 10 tahunan. Lebih banyak berpasangan dan hanya satu orang (wanita tadi) yang sendirian. Beberapa dari mereka bertanya pada saya bagaimana di atas. Saya bilang bagus. Saya ingin menyemangati mereka untuk melihat dan merasakan pengalaman berhasil sampai di atas. Lebih-lebih bisa menikmati pemandangan Krabi dari ketinggian itu. Saya juga cukup banyak bertukar senyum dan salam dengan penduduk lokal yang tak bisa berkomunikasi selain Thai. Saya berjumpa dua orang wanita lokal Thailand, dan kebetulan salah seorang dari mereka bisa bahasa Inggris. Dia memuji saya bahwa meski bukan penganut Budha saya dianggap mengagumkan karena berhasil mencapai puncak wat dengan seluruh usaha saya. Saya kemudian melanjutkan perjalanan turun kembali.

Perjalanan turun, seperti umumnya perjalanan pulang, biasanya terasa lebih cepat. Total waktu yang saya perlukan untuk perjalanan naik dan turun adalah 1 jam 30 menit. Waktu yang sangat lama mengingat orang lain hanya memerlukan 50 menit saja.

Satu hal yang selalu saya ingat dari perjalanan ke puncak Wat Tham Sua adalah saya berhasil mencapai sesuatu. Entah ini spiritualitas atau semacam kebajikan. Tapi menurut saya, bila kita sudah menetapkan tujuan dan berhasil mencapainya dengan seluruh usaha, itu adalah kepuasan batin dalam spiritualitas.


Cerita Nyepi di Bali

Catatan Redaksi: ini adalah cerita dari perspektif pribadi dan sangat subyektif menurut pengalaman penulisnya. Bila judul sebelumnya mengatakan seperti realita suatu ritual, kami mohon maaf. Beberapa penyuntingan juga telah kami lakukan.
—Redaksi Ransel Kecil

Banyak teman saya di Twitter bertanya tentang Nyepi yang dirayakan hari ini. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan selama hari Nyepi? Saya bukan orang Hindu dan bukan orang Bali, tapi saya sudah tinggal di sini seumur hidup. Saya sedikit banyak tahu mengenai apa yang terjadi di hari Nyepi.

Saat Nyepi ada empat aturan yang harus ditaati. Aturan ini disebut sebagai Tapa Brata Penyepian. Amati geni, tidak boleh ada api/lampu; amati karya, tidak boleh bekerja; amati lelungan, tidak boleh bepergian; dan amati lelanguan, tidak boleh ada hiburan.[1] Pada intinya melaksanakan Tapa Brata Penyepian adalah hanya diam saja, tidak melakukan apa pun mulai dari pukul enam pagi sampai jam enam pagi keesokan harinya. Suatu cara yang luar biasa untuk merayakan tahun baru, bukan?

Cerita Nyepi yang Saya Alami

Beberapa hari sebelum Nyepi, semua orang gila belanja. Mereka belanja makanan atau bahan makanan, DVD, games dan lain sebagainya karena mereka paranoid akan satu hari ini dimana mereka tak bisa keluar rumah seharian. Karena paranoia itu, beberapa orang yang lebih kaya memutuskan untuk tinggal di hotel selama Nyepi. Pada hari Nyepi hotel-hotel mendapatkan ijin khusus untuk beroperasi terbatas di dalam area hotel saja. Orang-orang yang lebih pas-pasan (baca: miskin) terjebak di rumah saja, contoh A: saya.

Hari Nyepi -1 adalah puncaknya gila belanja, orang-orang perlu mempersiapkan banyak hal untuk besok sementara toko-toko ingin tutup secepat mungkin karena jalan-jalan mulai ditutup pada sore hari dikarenakan pawai Ogoh-ogoh yang diadakan di beberapa bagian di kota-kota besar.

Fakta menarik: beberapa orang menyalakan petasan (raksasa) dan kembang api pada hari ini. Seakan-akan mereka berkata “Peduli amat, besok mau nyepi seharian jadi sekarang harus berisik!“.

Dan akhirnya, hari Nyepi tiba. Jalanan kosong, tidak ada kendaraan sama sekali. Toko-toko ditutup. Semua orang berada di rumah mereka masing-masing. Tidak ada aktivitas sama sekali kecuali beberapa polisi tradisional, pecalang, berpatroli. Pecalang bisa dikenali dari pakaian mereka, mereka mengenakan sarung kotak-kotak seperti pola papan catur.

Pagi hari di kala Nyepi sangat luar biasa. Udaranya sangat bersih, dan dimana-mana sangat tenang. Inilah Nyepi yang tenang dan damai itu.

Lalu, akhirnya siang hari tiba. Beberapa anak mulai berlarian di jalan raya. Lalu beberapa teman mereka ikut berlarian, lalu orang tuanya, lalu kakek-neneknya. Dan tiba-tiba saja sudah ada sebuah pertandingan sepakbola anak di tengah jalan raya yang kosong. Dimana pecalang saat hukum harus ditegakkan? Saya pernah mengetahui ada beberapa pecalang di dalam sebuah warung nasi goreng yang tutup, namun tetap beroperasi.

Tahun lalu saya mengabadikan pertandingan sepakbola ini dengan ponsel kamera saya, namun seorang pecalang dan seorang opsir polisi datang dan mengancam menjebloskan saya ke penjara apabila foto-foto itu dipublikasikan. Saat itu saya berjanji untuk tidak mempublikasikan foto-foto tersebut, jadi maaf artikel ini tanpa foto.

Saat malam tiba, orang-orang kembali ke rumah mereka. Ini adalah salah satu dari aturan tapa brata: amati geni atau tidak ada api/lampu. Paling tidak cahayanya tidak kelihatan oleh para pecalang dari luar rumah anda. Jadi ya, Anda yang tidak merayakan boleh menyalakan lampu di dalam rumah asal cahayanya tidak “bocor” ke luar. Dari luar kelihatannya rumah saya gelap gulita, tapi di dalam kamar saya sedang bermain Need For Speed Underground di kamar saya yang terang benderang. Triknya adalah: tutupi jendela dengan kardus.

Saran saya adalah, Anda dapat melakukan aktivitas sehari-hari selama itu tidak berisik dan dilaksanakan di dalam (bangunan) rumah. Bila Anda ingin mendengarkan musik, main video game atau menonton film, gunakan earphones/headphones. Hanya nyalakan lampu yang penting saja dan pastikan cahayanya tidak terlihat dari luar. Dan tentu saja, siapkan stok makanan dan minuman. Anda juga boleh memasak asal prosesnya tidak berisik dan masakan anda tidak berbau menyengat.

Mudah saja, and the next thing you know Nyepi is over already. 🙂

Saya sebenarnya sedikit bersemangat di Nyepi tahun ini karena saya harus bekerja, keheningan ini pasti akan membantu mood saya bekerja. Mudah-mudahan jasa penyedia layanan internet menyala seharian penuh besok.

Disunting oleh ARW 16/03/2010, 19/03/2010 & SA 15/06/2010


Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand (BKK)

Bandara Suvarnabhumi

Bandara Suvarnabhumi (kode IATA: BKK, ICAO: VTBS), juga dikenal sebagai Bandara Internasional Bangkok, adalah bandara internasional yang melayani wilayah Bangkok, Thailand. Bandara ini resmi dibuka untuk penerbangan terbatas pada 15 September 2006, dan dibuka untuk semua rute domestik dan internasional pada 28 September 2006. Kode nama BKK diturunkan dari nama Don Mueang setelah bandara lama itu meniadakan penerbangan internasionalnya.

Koridor ruang keberangkatan Suvarnabhumi

Bandara ini terletak di Racha Thewa di distrik Bang Phli, provinsi Samut Prakan, sekitar 25 km timur Bangkok. Nama Suvarnabhumi dipilih sendiri oleh Raja Bhumibol Adulyajed, merujuk pada kerajaan emas yang diduga berada di Asia Tenggara (Thailand, red). Bandara ini didesain oleh Helmut Jahn dari Murphy/Jahn Architects. Badana ini mempunyai menara kontrol tertinggi di dunia (132.2 m), dan bangunan-tunggal bandara ke-3 terbesar di dunia (563.000 km²). Bandara ini merupakan bandara tersibuk di Asia dan juga pertemuan jalur kargo yang utama.

Churn Milk Sculpture
Copyright Wikipedia

Melihat bandara ini, yang terlihat adalah struktur dan imaji modernitas. Gaya dan arsiteknya modern. Warna metalik adalah mayoritas, dengan kerangka dan penyangga terlihat terbuka. Namun warna siluet biru menghias kerangka logam itu dan nyalanya membuat pendar-pendar indah. Kaca adalah struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitektur ini. Kerangka penyangga tampak kokoh memamerkan kekuatannya dan ini memang sengaja ditunjukkan oleh desainernya. Selain itu, struktur dan siluet melengkung, pola atap memang seperti bongkah telur yang banyak, adalah mayoritas. Untuk mengimbangi modernitasnya, bandara ini menambahkan instalasi seni yang bergaya Thailand seperti di area keberangkatan yang akan segera terlihat segera setelah melewati imigrasi, juga patung besar di area kedatangan (lantai dua atau satu?).

Peta Lantai Empat Bandara Suvarnabhumi
Klik untuk melihat gambar ukuran lebih besar

Fasilitas yang ada di bandara ini: berbagai restoran makanan siap saji dari berbagai jaringan internasional, makanan Asia atau Thailand, dan juga beberapa restoran dan toko yang buka 24 jam di area keberangkatan. Area ruang tunggu bahkan menyediakan lebih banyak pilihan lagi selain melimpahnya toko bebas pajak menjual berbagai produk bermerk internasional. Telepon umum berbayar kartu kredit juga melimpah di area keberangkatan di lantai empat dan beberapa di lantai lainnya. Umat muslim jangan khawatir untuk mendapat makanan halal karena ada beberapa toko yang khusus menjualnya (ada tiga atau empat) di keberangkatan, entah di area tunggu. Jangan khawatir pula, ada musholla yang sangat representatif di lantai tiga.

Bila Anda melakukan perjalanan ke banyak negara Asia, atau melakukan perjalanan ke Amerika dan negara utara lainnya, kemungkinan banyak akan melalui bandara ini. Mungkin ini bukan bandara terbaik di dunia, terlebih dari fasilitas untuk pelancong yang melakukan transit, tapi saya mempunyai pengalaman tak terlupakan di bandara ini.

Sumber: Wikipedia


Tiga Hari di Berlin yang Putih

Berlin

Ketika saya datang, Jerman sedang tertutup salju. Putih di mana-mana.

Penerbangan Frankfurt – Berlin yang seharusnya saya tumpangi dibatalkan dua jam sebelumnya karena cuaca buruk. Saya mengantri kurang lebih satu jam untuk check in dan baggage drop di bandara Frankfurt ketika petugas Lufthansa berkata pada saya, “Your plane has been cancelled. I will transfer you to a long distance train.” Saya lalu bertanya, “How long does it take from here to Berlin by train?” Dia menjawab, “Four to five hours. And the train will leave in 20 minutes.” Spontan saya membalas, “That’s bad.” Petugas Lufthansa tadi hanya meringis, sambil mengangguk. Tampaknya saya pelanggan nomor ke sekian yang memberi respon seperti itu.

Singkat cerita, saya mengikuti tanda menuju peron Long Distance Train dan mendapati lorong-lorong yang dingin dan sepi. Saya harus naik kereta tujuan Frankfurt Main Stadion sebelum akhirnya berganti kereta Inter City Express (ICE) menuju stasiun Hauptbahnhof di Berlin. Udara Frankfurt hari itu menemani saya di angka minus empat.

Kereta ICE mengingatkan saya sedikit pada Hogwarts Express, tentu saja dengan versi lebih modern. Saya duduk di kompartemen dengan jendela besar. Pemandangan hanya terdiri dari pohon–pohon tak berdaun dan salju tebal. Empat jam yang cukup depresif.

Sesampainya di Berlin, saya disambut rasa lapar dan kesal karena _SIM card_ (kartu telpon seluler) yang saya beli di Frankfurt ternyata tidak ada voucher isi ulangnya di Berlin. Alhasil saya membeli _SIM card_ O2 baru seharga 14 Euro dan _voucher_ kredit pulsa senilai 16 Euro. Mahal memang.

Namun hati saya langsung terhibur ketika menemukan restoran kebab Turki di stasiun Hauptbahnhof. Saya menghabiskan sepiring besar nasi dan daging lembu berbumbu sambil mengobrol dengan dua orang teman yang menjemput saya, Nelva dan Mas Yusuf.

Seharian saya habiskan untuk perjalanan tadi. Badan terasa capek. Saya langsung tidur lebih cepat malam itu agar besok badan segar dan siap menikmati kota Berlin.

Berlin yang Dingin dan Putih

13 Februari 2010

Saya memutuskan untuk menikmati Berlin dengan Sightseeing Bus Hop On Hop Off. Harga tiketnya 15 Euro dengan 16 perhentian (tujuan wisata). Saya berkeliling dengan bis sambil mendengarkan cerita masing-masing tempat perhentian dengan earphone yang tersedia. Saya turun di perhentian ke-13 di Brandenburg Tor atau Gerbang Brandenburg.

Bradenburg Tor
Bradenburg Tor

Gerbang Brandenburg dulunya adalah gerbang kota, adalah simbol kemenangan bagi Berlin dan Jerman. Gerbang ini juga dekat dengan Hotel Aldon, tempat Leonardo DiCaprio dan Ewan McGregor menginap hari itu terkait dengan pemutaran film di acara The 60th Berlinalle. Banyak orang berkumpul di depan hotel menanti sang bintang. Saya?

Meneruskan petualangan musim dingin ini, saya menumpang bis nomor 100 jurusan Zoological Garten–Alexanderplatz yang melewati banyak objek wisata di Berlin. Hasilnya? Saya bolak-balik dengan bis 100 sampai empat kali. Saya memuaskan diri turun di Berliner Dom, German Historical Museum, Gedung Berlin TV, dan Reichstag Building. Meskipun sendiri, saya puas dengan jalan–jalan hari itu.

Berlin TV Building
Berlin TV Building

Berliner Dom
Berliner Dom

14 Februari 2010

Suhu udara naik sedikit. Matahari bersinar terang sejak pukul delapan. Tapi angin dingin luar biasa menusuk tulang berhembus sejak pagi. Hari ini saya ditemani oleh Nelva, mahasiswi Indonesia yang sudah lima tahun menetap di Berlin. Menu kami hari itu adalah Tembok Berlin dan Checkpoint Charlie.

Kami naik kereta S Bahn dari Zoological Garten dan turun di Osbahnhoft, lalu jalan kaki sedikit. Saya sungguh menyukai grafiti yang ada di sepanjang sisa tembok Berlin. Masing–masing grafiti menceritakan pemikiran sang artis. Menarik. Sangat menarik.

Berlin Wall GraffitiBerlin Wall Graffiti
Grafiti di Berlin Wall

Setelah cukup berlama–lama di Tembok Berlin, saya menuju Checkpoint Charlie—tempat pengecekan paspor ketika Rusia dan Amerika masih membagi wilayah Berlin. Satu hal yang sangat saya sayangkan dari lokasi ini, semua dikelilingi toko-toko dan kafe yang kekini-kinian sehingga jalan bersejarah Checkpoint Charlie menjadi sempit. Sisi historis jalan tersebut menjadi baur dengan kehidupan urban kota Berlin. Saya sendiri tidak menikmati Checkpoint Charlie karena penuh dengan turis yang sibuk berfoto–foto dan menelusuri sisa-sisa sejarah yang ada di situ. Mereka berjalan lambat dan membuat pedestrian zone padat tersendat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang ketika saya dan Nelva menuju restoran Lebanon Al Redda di dekat daerah Pankow—daerah yang populasinya penuh para imigran. Saya cukup kaget bahwa hampir setengah pengunjung restoran tersebut adalah orang Indonesia. Setelah makanan tersaji, rasanya saya mengerti alasannya kenapa: dengan harga 6 Euro kita bisa makan nasi dan daging dengan porsi sangat besar! Sambal yang tersaji pedas berminyak (pasti disuka orang Indonesia) serta teh panas refill yang bisa diambil sebanyak kita mau. Saya pun ingin kembali lagi ke restoran ini jika diberikan kesempatan berkunjung ke Berlin di lain waktu.

Reichstag Building
Reichstag Building

Nelva dan saya menuju Reichstag Building dan Brandenburg Tor untuk foto–foto di sore hari. Akhirnya saya punya kesempatan foto diri dengan ikon–ikon kota Berlin (terima kasih buat Nelva!).

Pukul enam sore, I called it a day. Angin dingin masih berhembus sadis. Yang ada di kepala saya hanya kamar hangat dan mandi air panas.

15 Februari 2010

Hari terakhir di Berlin. Saya memutuskan untuk berkunjung ke German Historical Museum. Harga karcis masuknya 5 Euro untuk semua pameran. Gedung berlantai dua itu membagi koleksinya menjadi dua zaman. Lantai pertama untuk sejarah Jerman modern. Lantai dua untuk sejarah Jerman lama.

German Historical Museum
German Historical Museum

Saya melakukan kunjungan saya sesuai dengan kronologis waktu. Saya naik ke lantai dua dan menemukan koleksi peninggalan sejarah invasi Roma. Baju zirah peperangan, lukisan–lukisan Rembrandt, mesin cetak pertama di Jerman, topi Napoleon Bonaparte ketika perang Waterloo, baju kaisar, sampai lukisan Germania dalam beberapa versi. Luar biasa. Semua lukisan di sana berkesan magis. Namun satu lukisan yang sangat spesial buat saya hari itu adalah lukisan Marriane (lukisan yang dijadikan cover album terakhir Coldplay, Viva La Vida). Peperangan dan wanita sebagai simbol kemerdekaan. Menatap lukisan tersebut, saya merasakan kerinduan besar pada semangat kemerdekaan dan kemenangan atas perang sekaligus keletihan yang amat sangat.

Saya menikmati sejarah Jerman modern di lantai satu. Tentu saja kebanyakan bercerita soal Nazi, holocaust dan kamp konsentrasi Auswitch. Saya bergidik sembari mengingat–ingat film berlatar belakang Nazi yang saya tonton: Schindler List, The Downfall dan Inglorious Basterds. Pengutukan atas nama HAM yang pernah saya lakukan ketika menonton film–film tersebut tidak ada apa-apanya dengan perasaan saya ketika melihat foto–foto penghuni kamp Auswitch dan instalasi seni proses pembunuhan massal orang–orang Yahudi dengan gas beracun. Perasaan saya campur aduk: marah, sedih dan terhina sekaligus. Tapi lebih dari itu, saya menyukai keseluruhan koleksi lantai satu German Historical Museum.

Kunjungan saya berikutnya adalah masjid. Saya penasaran dengan kehidupan muslim Indonesia di Berlin. Menurut Wikipedia, terdapat 36 masjid di Jerman dan 9% populasi masyarakat Jerman merupakan orang muslim. Untuk negara Eropa, jumlah tersebut cukup besar. Saya datang ke masjid khusus orang Indonesia di daerah Pankow. Di Jerman hanya ada satu masjid yang berbentuk masjid (dengan kubah dan bulan bintang), yaitu milik orang–orang Turki. Konon tanah untuk pembangunan masjid tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Jerman untuk Turki. Sementara itu masjid–masjid lain biasanya berbentuk hall di gedung–gedung apartemen.

Selesai salat Asar, saya menuju Alexanderplatz untuk menemui Nelva. Ternyata dia bersama dua orang temannya. Saya diajak mereka makan prasmanan di restoran milik orang Indonesia. Namanya restorannya MamaYes. Pemiliknya adalah Reza dan Tengku. Menyenangkan. Restoran mungil yang sangat homey. Makanan prasmanan bisa dinikmati dengan harga 5 Euro saja.

Malamnya kami menuju perayaan film Berlinalle untuk mencari suasana festival dan crowd pecinta film. Tentu saja acara sudah selesai, tapi orang–orang masih berkumpul dan memenuhi arena red carpet. Berlinalle mengingatkan saya akan Jiffest di Jakarta. Bedanya, aktor–aktor film yang diputar pada acara tersebut datang menghadiri pemutaran film mereka. Leonardo DiCaprio datang pada preview Shutter Island dan Ewan McGregor datang pada preview Ghostwriter. Kami berfoto dekat red carpet sebelum menutup hari dengan pergi ke Billy Wilder’s pub. Kami menghabiskan beberapa jam dengan ngobrol–ngobrol sampai pagi. Di perjalanan pulang, saya melihat Berlin untuk terakhir kalinya.

Tujuh Hal tentang Jerman

  1. Hampir semua film berbahasa selain Jerman disulih suara (dubbing), baik yang tayang di televisi maupun di bioskop. Saya menonton rerun Friends dan Southpark berbahasa Jerman di televisi. Hilarious.
  2. Tanda–tanda jalan dan papan informasi di Jerman menggunakan bahasa Jerman. Jadi ada baiknya belajar sedikit bahasa Jerman sebelum pergi ke sana.
  3. Orang Turki adalah imigran terbanyak di Jerman, hampir 14.000 orang. Karena itu Anda tidak akan kesulitan mencari restaurant Turki.
  4. Tembok Berlin yang masih asli tanpa grafiti berada di daerah Mitte, Berlin.
  5. Walikota kota Berlin, Klaus Woweirit, adalah seorang gay. Masyarakat Berlin menyukai walikota mereka.
  6. Pada bulan Februari, Jerman mengadakan karnaval untuk mengusir roh jahat musim dingin. Selama karnaval berlangsung orang bebas minum minuman alkohol kapan saja. Kota teramai yang merayakan karnival ini adalah Bonn.
  7. Selalu beli tiket harian untuk transportasi publik. Tiket tersebut bisa dipakai untuk bis dan kereta (bahn).

Disunting oleh ARW & SA 08/03/2010


Warung Kopi Namu Are, Seoul

Kafe Namu Are, SeoulHari ini saya memutuskan untuk mengunjungi warung kopi Namu Are di Seoul, Korea Selatan, walau sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Sulit untuk tidak mengunjungi beragam warung kopi di Seoul karena biasanya mereka mendekorasi warungnya dengan tema yang menarik dan lucu.

“Namu” dalam bahasa Korea berarti pohon. Dan “are” berarti “di bawah”. Jadi sudah jelas maksudnya adalah “di bawah pohon”. Warung kopi Namu Are terletak di dekat kampus saya di Ewha Women’s University dan stasiun kereta api Sinchon. Lokasinya sulit ditemukan karena warungnya mungil, dan terletak di gang kecil. Hanya ada satu penanda kecil di depannya. Bentuk warung kopi ini seperti sebuah rumah kecil. Begitu masuk, Anda akan disambut dengan sebuah mesin penggerinda kopi.

Latte ArtSeperti halnya warung-warung kopi lainnya di Seoul, Namu Are menyajikan berbagai kopi _hand-drip_, kopi reguler, teh, jus buah, serta kue dan cokelat buatan rumahan. Harga minumannya antara 5.000 – 6.000 won (Rp 40.000 – Rp 50.000). Berbagai camilan ditawarkan antara 1.000 – 10.000 won (Rp 8.000 – Rp 80.000).

Kopi _hand-drip_ terlalu kuat buat saya, jadi saya lebih memilih _vanilla latte_. Teman saya memilih _black cappucino_. Minuman saya datang dengan penampilan _latte art_ yang lucu sekali, karakter Sinchan! Kami juga memesan kepingan kue cokelat. Kami mendapatkan nougat pisang dan air mineral gratis! Rasa kopinya lezat sekali. Anda juga bisa mengisi ulang (_refill_) gratis kopi Americano untuk kopi jenis apapun yang Anda beli.

Peppermint Tea

Kami memang ingin duduk lama di warung kopi itu. Pesanan selanjutnya pun tak dapat dielakkan. Kali ini teh _peppermint_. Harganya hampir sama dengan kopi, yaitu 5.000 won. Mahal juga buat secangkir teh! Tapi saya tak menyesal karena disajikan dengan poci, dua gelas dan sebuah jam pasir. Mereka menggunakan daun teh, bukan seduhan. Bau dan rasanya sangat kuat. Sayang mereka tak menambahkan gula. Masyarakat Korea tidak minum teh dengan gula.

Mesin Penggerinda Kopi di Namu Are

Suasana di warung kopi ini sungguh unik. Walaupun tempatnya kecil, kita merasa ada di rumah dengan lantunan musik yang menenangkan. Mereka punya banyak koleksi buku berbahasa Korea, _board game_ (permainan papan), juga selimut untuk melindungi tubuh Anda ketika musim dingin. Koneksi internet nirkabel juga tersedia dengan colokan listrik di berbagai sudut. Dapurnya sendiri adalah dapur terbuka.

Dapur terbuka Namu Are

Disunting oleh SA, ARW 1/3/2010.


© 2017 Ransel Kecil