Melakukan perjalanan adalah menikmati pengalaman. Menikmati pengalaman tentu bisa berbeda-beda cara. Tidak ada kata benar atau salah dalam menikmati pengalaman.

Begitu pula jumlah tim atau orang dalam melakukan perjalanan. Ada orang yang suka melakukan jalan-jalan sendiri. Ada banyak pula yang berkata mereka senang pergi bersama-sama.

Lalu bagaimana sih enaknya jalan-jalan, apakah sendiri atau bersama teman?

Pergi Sendiri

Banyak yang bilang jalan-jalan sendiri memang asyik. Tapi banyak juga yang tak suka, karena faktor sendirinya itu.

Ada kesan bebas. Dan itu memang menarik. Bebas mengatur waktu. Bebas berhenti. Bebas malas. Bebas gerak cepat. Lebih tenang. Bebas kalau mau memotret sepuasnya. Bebas beli banyak barang dan tak usah malu dituduh boros atau sok kaya. Bebas berlama-lama menikmati detil terkecil, lalu baru beranjak pergi setelah di mulut tersungging senyum menikmati kepuasan batin ketika melihat begitu banyak keajaiban di dunia orang lain. Dan macam-macam alasan lainnya.

Bila dianggap resiko, pergi sendirian juga banyak resiko. Tak ada bantuan, dan satu-satunya bantuan adalah orang lokal. Tak ada yang menolong kalau terjadi masalah, dan hanya kepada orang lokal saja tempat berharap pertolongan. Bila dikatakan resiko, tanggungjawab pun semua ada pada diri sendiri. Berjalan sendiri juga mengundang keterbatasan. Misal di daerah asing, karena sendiri, kita akhirnya tidak berani mencoba daerah tertentu yang mungkin terkesan seram. Padahal kalau berdua atau bersama-sama, tentu itu hal mudah.

Ada pula yang beralasan sendiri adalah seperti merengkuh pengalaman perjalanan itu selengkapnya. Menikmati rasanya tersesat, tanpa perasaan tak enak dengan teman karena salah baca petunjuk. Ya tersesat pun memang perlu dinikmati, dan tidak ada cara menikmati tersesat yang terbaik selain sendiri. Kita mau marah, kita mau menangis, kita mau berteriak (dalam hati), kita mau frustasi sendiri. Tapi setelah itu bangkit, berjalan ke tempat yang benar, lalu tertawa. Sendiri tentunya. Menikmati kebahagian bisa dapat transportasi tepat dan murah. Mau tidur sepuasnya. Mau makan sepuasnya.

Ya sendiri memang seperti impian, karena kebebasannya itu. Tapi sendiri juga membuka keterbatasan, karena kesendiriannya itu.

Bersama-sama

Begitupula jalan bersama-sama. Bahkan mungkin lebih banyak yang bilang itu lebih asyik. Tapi ada juga yang bilang lebih tak enak.

Pergi bersama-sama bisa saling tolong menolong dan saling mendukung, yang kuat membantu yang lemah, yang periang menghibur si pemurung, yang rajin mendorong si pemalas agar terus teguh. Jalan-jalan jadi lebih ramai, katanya. Jadi tak harus merasakan sepi, sendiri, sunyi, ketika menelusuri perjalanan kereta kotor dan rusuh di suatu negara dunia ketiga. Juga ada yang bilang lebih aman, tak bakal ada yang berani mengeroyok rombongan cewek dengan dua lelaki gede, begitu katanya. Juga ada yang bilang seperti dapat guide gratis, ada yang pintar bahasa Inggris, sementara kita tidak bisa, ada yang cas-cis-cus bahasa Mandarin sementara kita tertawa mendengarnya. Ada yang pintar ngobrol, sementara kita tidak suka memulai pembicaraan. Ada yang kerja sementara kita malas (sebaliknya bisa pula terjadi). Dan macam-macam alasan lainnya pula.

Tapi di sisi lain jalan bersama-sama juga membuka banyak keterbatasan. Misalkan saja, waktu jadi berjalan lebih panjang karena harus menunggu teman satunya berdandan lama, atau menunggu si doyan makan yang terlalu sering di kamar mandi. Berjalan ramai-ramai juga jadi lambat, karena banyak kepentingan. Di suatu tempat ada yang pingin lihat toko mainan, di tempat lain ada yang suka barang antik, di tempat berikutnya ada yang pingin lihat buku-buku asyik, atau ada yang suka mampir berkali-kali ke toko baju. Eh bukan hanya belanja lho. Contoh lain, yang satu suka lihat patung dan memelototi lama-lama, lainnya suka memperhatikan pakaian dan kehidupan tradisional, sementara satunya suka cemberut kalau lainnya suka berhenti.

Ya, jangan kira jalan bersama-sama juga mengundang konflik. Konflik? Bertengkar? Oh bersiaplah. Sekali lagi, perjalanan adalah menikmati pengalaman. Dan seperti pengalaman hidup lainnya, ada marah, sedih, mencak-mencak, dan seterusnya. Konflik dua orang mungkin mudah diselesaikan. Konflik empat orang, dengan masing-masing pasangan, akan lebih susah diselesaikan. Mungkin perlu sebuah kepala yang sangat dingin dan sikap mengalah agar konflik bisa selesai. Dan kalau ada konflik, penyelesaiannya harus pintar, agar kita segera dapat resolusi dan meneruskan perjalanan. Kalau tidak, bisa berabe, tersangkut di negeri orang sementara tiket sudah lewat. Atau sering terjadi perjalanan jadi banyak sialnya karena ada yang marah-marah. Benar kan?

Faktor-faktor yang mengundang problem dalam jalan-jalan bersama biasanya adalah perbedaan persepsi jalan-jalan, yang satu pingin hanya foto-foto di negeri asing, satunya pingin mengenal budaya negeri asing. Yang satu sok tahu, yang lain hati-hati. Yang satu pingin buru-buru, yang lain pelan tapi tertata. Juga persepsi agama bisa aja terjadi, yang satu pingin beribadah tepat waktu, padahal ada kebebasan bagi pelancong (dalam contoh ini agama Islam misalnya dalam ibadah salat) untuk menyingkat, menggabung, atau kondisi darurat, dan seterusnya. Sangat bisa terjadi lho, dan saya pernah mengalaminya.

Jadi Bagaimana?

Menurut pendapat saya, di dunia yang fana ini, kita tentu perlu teman. Jadi secara umum, jalan-jalan bersama-sama lebih banyak kelebihannya. Tapi terlalu banyak orang juga belum tentu bagus. Menurut saya, pergi berdua adalah ideal. Bertiga masih lincah. Berempat ideal untuk dua pasangan, misal berpasang bersama pasangan saudara dan istri/suaminya. Tapi berempat untuk single mungkin berlebihan, cukup banyak konflik bisa terjadi. Lebih dari itu sangat berlebihan dan bisa memperlambat perjalanan.

Bepergian sendiri juga banyak hal baiknya. Apalagi jika tujuan perjalanan adalah petualangan di alam liar (meski dengan seorang teman lain justru bisa lebih bagus), atau di negara yang cenderung berat medannya, atau untuk tujuan perjalanan yang relaks, cepat, dan ringkas. Atau hanya sekadar ingin melakukan penelusuran sendiri, privat, eksplorasi, renungan, dan banyak alasan lainnya.

Bila ingin berjalan-jalan bersama pastikan hanya bersama teman dekat yang Anda kenal luar dalam. Tapi jangan pula menutup peluang pertemanan di perjalanan, lalu bisa jalan bareng ke tempat lain. Tentu dengan banyak pertimbangan, perasaan, dan insting. Intinya semua tetap bebas. Lalu tetapkan pemimpin dan pertegas posisi, sikap, tujuan, dan bagaimana keputusan nanti dibuat, sebelum kita menjejakkan kaki di tanah orang.

Saya pernah mengalami kedua hal di atas, baik pergi sendiri atau bersama-sama. Dan ada hal buruk dan baik di kedua hal tersebut. Kita tidak bisa memilih mana yang lebih baik, selain tentu saja kadangkala pilihan itu tidak tersedia. Dan memang tidak bisa dikatakan mana yang lebih baik.

Sekali lagi perjalananan adalah menikmati pengalaman. Dan itu adalah pengalaman hidup. Naik turunnya perjalanan adalah naik turunnya hidup. Suka dukanya adalah seperti kehidupan itu sendiri. Adalah salah bila perjalanan hanya senang-senang, karena bisa pula terjadi hal-hal penting dalam kehidupan. Mengenal dunia orang lain, mengenal negara lain adalah hal penting yang bisa dinikmati, mengubah banyak hal dalam pikiran dan kesadaran tentang hakikat hidup, dan mungkin mengubah sikap kita akan hidup selamanya.

Mari kita nikmati pengalaman perjalanan itu sebaik-baiknya.