Bulan Februari 2010 (halaman 1 dari 3)

Sebulan Ransel Kecil

Ransel Kecil berusia satu bulan hari ini.

Tak terasa telah 28 hari kami menyapa dan menyajikan hal-hal menarik seputar perjalanan. Ucapan dan dedikasi kami sampai kepada kontributor kami (urut abjad): Arif Widianto, Dessy Tri Anandani Bambang, Muhammad Arif, Sigit Adinugroho, dan Yani Widianto. Tanpa para kontributor tentu tidak akan ada kisah-kisah perjalanan yang menarik.

Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan pembaca, pengikut (_follower_) dan fans Rancel Kecil yang telah mengikuti kami di situs, via RSS, Twitter, dan Facebook.

Statistik Ransel Kecil 1 bulan

Menurut laporan statistik dari Google Analytics, Ransel Kecil mendapat kunjungan dari 1.019 pengunjung. Jumlah halaman dikunjungi adalah 2.618, atau 2,57 halaman per kunjungan. Hal yang menggembirakan untuk sebuah awal yang sangat sederhana bila mengingat jumlah tulisan yang telah terbit hingga saat ini sekitar 30 artikel. Semua berkat dukungan Anda, para pembaca dan komunitas Ransel Kecil.

Sementara itu, akun Twitter @ranselkecil mempunyai pengikut 164 orang. Halaman Facebook Ransel Kecil mempunyai fans sejumlah 5 orang. Kami undang untuk menjadi fans Ransel Kecil agar bisa mendapatkan pemberitahuan bila ada tulisan dan kisah baru yang terbit.

Seiring dengan perjalanan satu bulan ini, kami juga mengadakan evaluasi internal dan mungkin akan melakukan perubahan signifikan terhadap internal Ransel Kecil, terutama sistem manajemen konten. Kami juga merencanakan beberapa penambahan fasilitas baru. Kami berharap perubahan dan penambahan ini tidak mengganggu kenyamanan pembaca, dan semua dilakukan untuk kebaikan dan kenyamanan dalam menikmati artikel kami.

Oh yah, tak lupa kami masih menunggu kisah-kisah perjalanan dari Anda semua lho! Kami sudah tak sabar untuk ikut menyebarkan kejutan, kegembiraan, ketakjuban yang Anda nikmati kepada komunitas Ransel Kecil lainnya. Menurut kami, tak ada perjalanan yang biasa, jika itu dilihat dengan perspektif personal yang unik dari pelakunya. Kami menerima semua cerita: perjalanan dekat, jauh, baik itu ke tempat yang sudah sering dikunjungi orang, atau tempat pelosok yang hanya mengundang para pelaku perjalanan paling pemberani. Tak ada cerita yang “sederhana”, “klise” atau “biasa”, semua cerita seunik diri kita masing-masing. Karena itu, jangan ragu untuk bercerita! Caranya bagaimana? Silakan baca halaman Kontributor dan ikuti petunjuk di sana.

Disunting oleh ARW & SA 01/03/2010.

Ziarah Wali Sembilan

Baiklah, ini bukan ide biasa. Rencana perjalanan ini bisa dibilang khusus dibuat bagi pemeluk agama Islam. Bahkan ide ini pun bisa mengerucut lagi kepada sebagian umat Islam yang tidak mempunyai masalah dengan kegiatan ziarah ke makam. Karena kami tahu ada sebagian yang mempunyai pandangan ziarah ke makam adalah kegiatan bid’ah, kami mohon maaf, tulisan ini dibuat tidak untuk mengundang perdebatan fikih agama. Namun sebagai wisata sejarah, kami kira ziarah wali sembilan sangat masuk akal dilaksanakan oleh siapa saja.

Apa dan Kemana Ziarah Wali Sembilan?

Yang dimaksud Ziarah Wali Sembilan (atau Wali Songo dalam bahasa Jawa) adalah mengunjungi (minimal) sembilan lokasi makam orang-orang khusus yang dikenal sebagai wali, dan juga mengunjungi beberapa lokasi sejarah kewalian lainnya (bila ada). Makam-makam mereka tersebar di seluruh Jawa. Wali adalah tokoh agama Islam yang dipercaya sebagai penyebar awal ajaran agama Islam di Indonesia (dan Jawa pada khususnya) pada abad 17.

Sembilan Wali Sembilan ini antara lain:
* Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, juga dikenal Syaikh Makhdum Ibrahim As-Samarqandy adalah wali pertama dan sesepuh dari wali sembilan. Ia adalah keturunan ke-11 dari Husain bin Ali r.a. (cucu Nabi SAW). Makamnya di Desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
* Sunan Ampel atau Raden Rahmat, putra Maulana Malik Ibrahim, ia konon mempunyai garis keturunan dari Majapahit juga. Makamnya dekat Masjid Ampel (area Kembang Jepun), Surabaya.
* Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim, putra Sunan Ampel. Makamnya dekat alun-alun Tuban, Jawa Timur.
* Sunan Drajat atau Raden Qasim, putra Sunan Ampel. Makamnya di Desa Drajat, Lamongan, Jawa Timur.
* Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq, putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Makamnya di areal Masjid Menara Kudus, Kudus, Jawa Tengah. Masjid Menara Kudus juga menarik dari sisi arsitektur karena mengusung seni Jawa (menara) sebagai bangunan masjid.
* Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin, adalah keturunan Maulan Ishak. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Makamnya di Giri, Gresik, Jawa Timur.
* Sunan Kalijaga atau Raden Said, adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Ia adalah murid Sunan Bonang. Makamnya di Kadilange, Demak, Jawa Tengah.
* Sunan Muria atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga. Makamnya di Bukit Muria, Jawa Tengah.
* Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Makamnya di Cirebon, Jawa Barat.

Ziarah Wali Sembilan secara tradisional lazimnya dilakukan oleh jamaah pengajian. Tapi kadangkala ada kelompok lepas, lintas desa, dan ada orang yang mengkoordinir pelaksanaan perjalanan ini, termasuk menyewa bus dan sopir, lalu mereka yang menjadi pemimpin perjalanan. Karena tradisional, akomodasinya pun sangat sederhana, disamping alasan penghematan dan alasan lain. Misal, busnya tidak ber-AC, selain karena murah, kebanyakan orang desa tidak kuat ber-AC. Lalu menginapnya pun di masjid-masjid di sepanjang perjalanan yang biasanya terbuka kepada para peziarah semacam ini. Sopir-sopir bis paket ziarah seperti ini biasanya sudah tahu letak masjid-masjid tertentu yang bisa digunakan untuk menginap.

Karena letak tempat ziarah wali sembilan terhitung dekat dan dalam Pulau Jawa, tidak menutup peluang melakukan perjalanan ini secara independen. Perjalanan bisa dilakukan dengan kendaraan roda empat, menggunakan bis atau mini bus. Bahkan ada beberapa orang yang penulis ketahui melaksanakan dengan kendaraan bermotor roda dua, meski pelaksanaan dan pragmatisnya kurang kami sarankan. Jangan heran pula bila saat ini ada pula agen wisata di Jawa Timur yang mengusung paket ziarah Wali Sembilan dan memberi tarip dolar.

Selain berkunjung ke wali-wali di atas, biasanya ada pula tempat persinggahan dan kunjungan lain, misalnya: Masjid Agung Demak, Gua Saparwadi (lebih dikenal dengan nama Gua Pamijahan) terletak di kaki gunung Mujarod di desa Pamijahan, Tasikmalaya, Masjid Banten, dan juga lokasi Makam KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur di Jombang. Sebagai bonus, sifat kunjungan ke tempat-tempat ini tidak wajib, namun peziarah Wali Sembilan banyak mengunjunginya selain karena letaknya yang juga terlewati oleh jalur, juga sebagai alternatif perjalanan agar tidak membosankan (setelah dari pantai utara lalu lewat jalur selatan).

Rencana Perjalanan

Bila dilakukan dari Jakarta, perjalanan ini bisa dilakukan dengan urutan berikut: Masjid Agung Banten, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Masjid Demak, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Jombang, dan Gua Pamijahan.

Bila dilakukan dari Jawa Timur, urutannya sebagai berikut: Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Masjid Demak, Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Banten, Gua Pamijahan, lewat jalur selatan, dan Jombang.

Tentunya alur dan lokasi bisa disesuai dari jalur mulai perjalanan. Lama waktu bisa dilakukan antara lima hari dan enam hari. Bisa pula ditambah mengunjungi berbagai tempat wisata yang tersebar di sepanjang jalur perjalanan tersebut. Tempat menginap ideal dengan kemungkinan hotel tersedia di Surabaya, Tuban, Kudus, Cirebon.

Referensi data Wali Sembilan: Wikipedia.

Disunting oleh SA 28/02/10.

Duka Kami untuk Chili

Belum usai warga dunia menghapus sedih dari bencana di Haiti yang diguncang gempa besar awal Januari lalu, kita baru saja mendengar kabar duka lainnya.

Gempa dengan kekuatan 8,8 Skala Richter baru saja terjadi di Chili, sebuah negara dengan garis pantai panjang di sepanjang barat Amerika Latin. Gempa terjadi pada 27 Februari 2010 (hari ini), di lepas pantai Concepción, Chili. Gempa terasa hingga ibukota Chili, Santiago, dan beberapa kota di Argentina.

Titik episentrum gempa berada pada lepas pantai Maule, sekitar 6,4 km sebelah barat Curanipe, Chili dan 115 utara-timur laut dari kota terbesar kedua di Chili, Concepción. Gempa terjadi pukul 3:34 waktu lokal dan dilaporkan gempa dirasakan antara 10-30 detik.

Peringatan terjadi tsunami diberikan kepada Chili dan Peru, sementara itu peringatan tsunami juga terjadi untuk Ekuador, Kolombia, Antartika, Panama, dan Kosta Rika.

Peringatan tsunami ini kemudian diperluas hingga seluruh wilayah Samudera Pasifik, kecuali untuk wilayah pantai barat Amerika Serikat, British Colombia, dan Alaska. Ketinggian tsunami mencapai 2,6 meter (8,6 kaki) terjadi di laut Valparaiso, Chili. Ketinggian tsunami mencapai 2,34 meter tercatat di Talcahuano, Biobío Region.

Atas terjadinya gempa ini, kami warga dunia dari Indonesia di komunitas Ransel Kecil ikut sangat berduka. Doa dan belasungkawa kami atas seluruh warga Chili.

Sumber berita dan gambar: Wikipedia Indonesia (USGS).

Disunting oleh ARW 27/02/2010

Ayah dan Perjalanan 56.000 Km Itu

!http://ranselkecil.com/images/67.jpg (Golden Gate Park)!

Saya tak cukup dekat dengan ayah saya, walau seminggu sekali bertemu. Ayah lebih banyak diam, dan kami tak banyak menghabiskan waktu bersama. Kalau di rumah, saya biasanya hanya ngobrol panjang lebar dengan ibu. Pergi bersama pun lebih banyak dihabiskan dengan ibu, entah itu ke supermarket terdekat, atau menemani mengantarkan adik. Komunikasi saya dengan ayah lebih banyak dilakukan dengan ponsel, terbatas untuk hal-hal yang perlu saja. Apalagi selama saya empat tahun kuliah di Bandung, dan sekarang delapan bulan tinggal terpisah lagi. Tapi toh bukan berarti beliau tak mengerti kebutuhan anak-anaknya. Dalam diamnya, beliau punya banyak rencana dan selalu membantu dengan ikhlas dan sangat baik.

Karena tak banyak waktu yang saya habiskan dalam kehidupan sehari-hari bersamanya itu, justru waktu-waktu perjalanan yang singkat bersamanya yang bisa membawa kami lebih dekat satu sama lain. Perjalanan yang hanya berumur seminggu, paling lama 10 hari, menjadi salah satu cara saya untuk lebih dekat dengan sosok ayah saya. Interaksi yang lebih dari sekedar “kewajiban” anak pada ayah, atau sebaliknya. Lebih kepada hubungan seperti teman yang sangat baik. _Dad, not as a parent, but as a best friend_. Walau mungkin tak banyak bicara satu sama lain, tetapi, dengan hanya bersamanya di tempat yang jauh, jauh dari kewajiban dan rutinitas, sedikit meleburkan jarak yang selama ini ada.

Beberapa kali kami melakukan perjalanan bersama, berdua saja. Dari yang dekat, dalam negeri, sampai yang jauh, ke belahan bumi lain. Saya menghabiskan waktu dua kali 7 hari bersama ayah saya ke San Francisco, Amerika Serikat, dan satu kali ke Tokyo, Jepang. Semuanya untuk urusan saya, ayah hanya menemani. Walaupun begitu, saya tak membayangkan ke sana sendiri tanpa beliau, ketika itu saya masih berusia 19 tahun.

Satu hal yang saya suka dari beliau, rencana perjalanan selalu dibuat sangat matang. Beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana merencanakan perjalanan. Biasanya, beliau akan membuat satu folder khusus berkantung plastik atau folder yang memiliki _punch ring_ itu. Dipersatukan olehnya seluruh berkas seperti fotokopi identitas, paspor, rencana perjalanan, informasi hotel, peta lokasi, jadwal salat, brosur yang relevan sampai alamat-alamat penting seperti kedutaan besar, rumah sakit, atau lokasi-lokasi lain yang relevan. Saking detailnya, tebal folder ini bisa sampai 20 – 30 lembar. Perfeksionisme dalam perencanaan ini saya rasakan juga walau beliau tak ikut serta dalam perjalanan. Ketika beberapa hari sebelum berangkat, misalnya ketika saya hendak magang di Kuala Lumpur, Malaysia selama 2,5 bulan, beliau memberikan saya satu berkas tebal berisi semua informasi yang saya butuhkan. Riset saya tak seberapa dibanding folder yang beliau buatkan. Beliau juga pernah menitipkan saya brosur mengenai Taiwan, padahal saya hanya transit, tak keluar imigrasi!

Tahun 2005. Ketika saya transit di bandara Narita, Tokyo, kami kelaparan. Spontan, beliau langsung berkata, “Kamu tunggu di sini saja, ya.” 15 menit kemudian, beliau membawa sebungkus besar penuh dengan makanan instan dan ringan. “Bisa berhemat!” Saya tahu ayah saya sebenarnya tak pelit, tapi kapan lagi kami bisa menikmati sarapan pagi “miris” seperti itu di hadapan kaca besar sambil menikmati pemandangan pesawat lalu lalang, di antara deretan tempat duduk yang sepi. Sempurna dalam ketidaksempurnaan.

Pertama kali melakukan perjalanan lebih dari 10 jam dengan pesawat, seperti dari Hong Kong ke San Francisco pada 2004, beliau lebih banyak tidur. Sesekali mencoba menonton TV. Dengan usianya yang kepala lima, suhu dingin sedikit langsung berselimut atau memakai _sweater_. Ini adalah perjalanan ke Amerika Serikat pertama kali seumur hidupnya. Wajahnya terlihat letih sekali ketika sampai di tujuan setelah 13 jam perjalanan. Belum lagi ketika dibentak oleh petugas imigrasi Amerika Serikat hanya karena salah paham yang tak seberapa. Miris hati saya, sudah letih-letih begini, tapi beliau tetap sabar. Ingin rasanya saya bentak balik, tapi ah, buat apa. Beliau juga sabar menunggu saya diwawancara sampai dua jam karena petugasnya juga sudah cukup tua dan gaptek! Sampai-sampai bagasi kami dibawakan oleh petugas Cathay Pacific. Hebatnya, setelah seluruh urusan kelar, beliau masih bersemangat mengobrol dengan penumpang _shuttle van_ kami ke pusat kota San Francisco, bercerita mengenai Indonesia. Begitu sampai di hotel, kami langsung tertidur pulas selama enam jam.

San Francisco Museum of Modern Art (MoMA)

Gereja di dekat Taman Yerba Buena, San FranciscoAda satu warung kopi favoritnya di San Francisco di bilangan Market St. Warung kopi ini mungil, nyaris tak ada tempat duduk, mungkin untuk orang sibuk di daerah bisnis itu. Menu favorit beliau adalah roti bagel dan kopi hazelnut. Beberapa kali saya pergi sendiri ke San Francisco setelah itu, beliau selalu bertanya, apakah warung kopi itu masih ada. Terakhir pada 2006, warung kopi itu sudah tak ada. Sayang sekali, padahal saya masih memimpikan makan bagel dan minum kopi bersamanya di pagi dingin Desember, di taman Yerba Buena, sambil memandangi indahnya arsitektur sebuah gereja tua dan Museum of Modern Arts. Mungkin dengan beberapa anak kecil lalu lalang bersama orang tuanya. Setiap kali saya menginjakkan kaki di Yerba Buena dalam dua kali perjalanan sendiri setelah itu, saya selalu membayangkan ayah saya. Suatu malam di 2008 bersama kenalan seorang bapak berusia 50-an tahun, kembali di taman itu, kami berbicara tentang putranya. Pembicaraan itu membuat saya kangen Ayah, walau saya tahu akan pulang beberapa hari lagi. Tempat ini, tempat yang jauh ini, serasa sangat spesial di hati saya, untuk ayah saya.

!http://ranselkecil.com/images/64.jpg (Cable Car di Fisherman’s Wharf, San Francisco)!

Atau mungkin restoran Indonesia di bilangan Gary St. yang membuat kita terlalu bergembira, karena akhirnya menemukan nasi rames seharga 20 dolar. Atau mungkin beliau yang tergila-gila dengan _cable car_ menuju Fisherman’s Wharf. Atau mendengar betapa kesalnya beliau dengan pulau Alcatraz, karena dianggap tak manusiawi dijadikan objek wisata. Atau, ketika kami tak bisa menghabiskan pizza ukuran besar yang ternyata sepadan dengan dua kali pizza ukuran besar di Indonesia. Atau tersasar sampai Oakland, dan mencoba mencari Golden Gate Park dengan kombinasi BART dan Muni sampai dibantu oleh seorang ibu lokal baik hati yang mengajak kami ke rumahnya di sekitar taman sepanjang 40 blok itu!

Masih pada 2005. Sore itu cukup cerah di bandara Narita. Kami berencana menginap dua malam di Tokyo sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Beliau senang sekali bisa kembali ke Tokyo setelah hampir 15 tahun tak ke sana. Karena salah menghitung jarak, kami harus berjalan kaki hampir 2 km mencari hotel kami di bilangan Shinjuku, dari stasiun kereta api terdekat. Padahal waktu itu kami membawa tas geret dan tak tidur selama 10 jam di pesawat. Badan lemas. Suhu cukup panas, gerah. Mata mengantuk. _Lost in translation_. Namun begitu, kami benar-benar mengalami pengalaman yang tak terlupakan. Kami melihat pengemis dengan keranjang dorong. Kami meminta petunjuk pegawai berkemeja yang jalan cepat sekali ingin pulang dari kantor, lalu kesulitan berbicara bahasa Inggris. Kami melihat mesin pachinko. Kami melihat promotor toko yang berteriak keras sekali mengulang perkataan dengan cepat seperti robot, dan dia mengenakan pakaian kimono. Ketika sampai di hotel tujuan, kami dikejutkan dengan betapa mungilnya kamar kami. Dengan ukuran kamar sekitar 4x4m sudah dengan kamar mandi di dalam, dengan dua tempat tidur super hemat tempat. Kami tertawa cekikikan berdua, apalagi melihat toiletnya yang super imut, masih juga dipaksakan dengan bak berendam! Kalau bicara soal toilet, kami lebih geli lagi dengan penampilan toilet Jepang di bandara Narita, yang terlihat seperti persilangan antara toilet duduk dan jongkok. Saya tak pernah melihat beliau tertawa lepas seperti itu.

Oh ya, ayah saya juga tak suka memesan hal yang berkaitan dengan perjalanan melalui Internet, apalagi dengan kartu kredit. Jika bisa, semua harus dilakukan melalui agen dan dibayar _face to face_. Ketika memesan hotel di San Francisco, beliau memesan di agen dan menitipkan saya _voucher_ untuk diperlihatkan di hotelnya. Ketika merencanakan perjalanan ke Eropa, saya masih berusaha untuk meyakinkan beliau bahwa memesan lewat Internet adalah hal yang paling praktis.

Ayah suka perjalanan, seperti saya. Saya ingin sekali mengalami setidaknya sekali lagi perjalanan jauh seperti itu dengan beliau. Terkadang, untuk menjadi dekat, memang butuh lebih kurang 56.000 kilometer.

Ayah dan Hong Kong International Airport

Disunting oleh ARW 25/02/2010.

Kisah Uang $100 yang tak Sampai ke Amerika

Uang $100 dan paspor

Jika ada pertanyaan, apa perjalanan saya yang paling bermakna, saya pasti langsung bilang perjalanan pada bulan Juni-Juli 2007. Seluruh hal yang memberikan makna dan daya tarik ada pada perjalanan medio 2007 itu. Kejutan, impian, kepertamaan, dan _happy ending_. Semua ada. Inilah cerita saya.

Kejutan pertama adalah pada Maret 2007. Dalam sebuah klasemen lomba, saya merasa bahwa ada kans cukup besar kalau saya akan mendapat tempat untuk diundang dalam lomba desain di Amerika Serikat. Ceritanya begini, ada sebuah perusahaan Amerika yang mengadakan lomba tahunan, lombanya bidang komputer, mulai dari pemrograman hingga desain grafis. Lomba diadakan secara online, dan semua peserta dari seluruh penjuru dunia bisa mengikutinya. Dari hasil lomba online tersebut, akan diambil 12 besar peraih skor terbanyak, dan mereka akan diundang untuk berlomba langsung di Las Vegas, Amerika Serikat (A.S.). Wow. “Gilaaaaaaaa!”, begitulah saya membatin.

Meski belum cukup pasti apakah saya akan diundang karena hasil akhir menunggu pengumpulan skor pada akhir April 2007, saya beranikan diri untuk mempersiapkan segala macam dokumen. Alasan saya: 1) saya punya _feeling_ saya bisa dapat tempat; dan 2) Ini ke Amerika, dan saya dengar segala persiapan dokumen di sana _ribet_, lebih baik saya siap lebih awal. Dan lagi, saya belum punya paspor! Ini paspor pertama.

Pada akhir Maret 2007 saya bergegas ke kantor imigrasi Jakarta Selatan. Pada awal April akhirnya paspor jadi. Rasanya saya begitu terpesona. Betapa tidak, saya sudah berumur, 28 tahun cukup berumur bukan? Sudah menikah. Sudah mempunyai anak. Baru punya paspor. Udik _bener deh_ saya. Tapi memang, hingga awal 2007, saya tidak pernah punya impian bisa ke luar negeri. Alih-alih berpikir, seperti kebanyakan orang Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan, jalan-jalan adalah urusan nomor sekian dan ini mungkin mendekati daftar paling akhir prioritas kami. Jadi inikah paspor pertama itu, demikian batin saya. Saya tatap kertas-kertas kosong dengan nomor berlobang di setiap halamannya. Saya merasa ini dokumen paling keren sepanjang hidup saya. Saya punya banyak buku, tapi menurut saya buku kecil ini paling keren. Berapa stempel negara akan menghiasi halaman-halaman ini ya? Dari kecil saya selalu punya cita-cita untuk mempunyai pekerjaan yang bisa membawa saya keliling dunia. Tapi semua cita-cita itu kandas setidaknya hingga usia saya 28 tahun itu, karena ternyata saya tersesat dan hanya _ngumpet_ di kolong Jakarta. Inikah saatnya semua petualangan itu akan dimulai?

Sebenarnya kalau dibilang paspor pertama dan perjalanan pertama, jujurnya ini bukan yang pertama. Saya bepergian ke luar negeri pertama kali pada 2002, untuk menunaikan ibadah haji (ssst, saya diberangkatkan orang tua, saya pasti tidak mampu menabung pada tahun itu dan saya masih bujangan). Jadi kalau dibilang apakah haji itu perjalanan independen, sepertinya bukan. Perjalanan ibadah haji cukup gampang, semua sudah diatur mulai dari keberangkatan, jalur khusus imigrasi, termasuk akomodasi dan transportasi utama di Arab Saudi. Semua sudah siap. Kita tinggal mengikuti jadwal dan kegiatan yang sudah diberikan, pasti dijamin lancar. Ya, menurut saya _travel agent_ haji bernama pemerintah Indonesia sudah mengatur semua dengan cukup baik meski fasilitas bisa dipertanyakan. Kemudian ketika dalam dokumen pembuatan paspor ada sebuah kolom isian semacam ini, apakah Anda mempunyai paspor sebelumnya. Saya tanyakan kepada petugas imigrasi di sana, mereka bilang paspor haji itu dokumen khusus dan bukan paspor. Jadi, ya, ini adalah perjalanan ke luar negeri pertama dengan paspor pertama.

Baiklah, mari kita percepat kisah ini. Saya akhirnya mendapat tempat di daftar klasemen lomba tersebut. Saya masuk dalam salah satu orang yang diundang untuk berangkat ke Las Vegas, Amerika Serikat, dengan syarat harus punya dokumen visa. Dua minggu hampir tiga, aplikasi visa turis B1/B2 Amerika Serikat itu akhirnya disetujui. Wah, terima kasih pak Bush, presiden AS saat itu, saya tidak menyangka Anda sebaik itu memberikan peluang bagi orang dari Jombang udik ini. Saya takut setengah mati bakal ditolak karena asal saya Jombang dikenal kota santri. Anda tahu bukan, santri banyak mengaji. Dan mengaji adalah kegiatan umat Islam. Muslim itu kebanyakan teroris, bukan begitu pemikiran teman-teman pak Bush saat itu? Tapi syukurlah, mungkin karena bantuan teman-teman di tempat saya bekerja sebelumnya yang saya sebut sebagai referensi dalam dokumen aplikasi visa, akhirnya saya diberi kesempatan ini. Padahal ada seorang teman istri saya yang bekerja di kedutaan Amerika bilang, “Ini susah, _lho_. Kamu harus bisa menunjukkan komitmen akan kembali ke Indonesia. Biasanya yang disetujui adalah orang yang sudah pernah melakukan kunjungan ke negera lain, jadi ada komitmen mereka akan kembali” Sebagai informasi, Amerika dikenal ketat dalam pemberian visa kunjungan karena banyak kejadian orang tidak ingin kembali ke negara asalnya sesampainya mereka di negeri impian orang itu. Paspor baru dengan visa baru untuk kunjungan ke Amerika. Benar-benar tidak dibayangkan.

Waktu berlalu cepat. Setelah sibuk berkemas, saya mulai berpikir tentang uang saku. Betapa tidak. Ini Amerika, dan Las Vegas. Kota judi. Jadi pasti tidak ada nasi. Saya yakin pasti harus makan burger, mungkin BigMac atau Wendy’s. Untung saya suka keduanya. Makan burger adalah hobi sampingan saya saat usia 22-25 tahunan, dan itulah yang membuat saya buncit. Harga burger di Vegas tentu lebih mahal daripada di sini. Dan _oh my_, dompet dan kartu gesek saya lagi kembang kempis. Selain persiapan, saya tentu harus meninggalkan dana untuk keluarga di rumah, dan sisa uang sangat sedikit. Setelah buat belanja tas koper dorong merk Condotti dan juga keperluan lain, saya hitung uang tersisa hanya sekitar $300. Berapa duit yang harus saya bawa ya, untuk minimal bertahan hidup? Karena saya diundang, penyelenggara bilang akan memberikan makan pagi dan siang di tempat. Jadi kira-kira saya hanya perlu mengeluarkan dana untuk makan malam, atau kadang-kadang makan siang bila ingin jalan-jalan. Saya bisa menghemat ongkos untuk hal itu. Karena bingung dan tidak tahu tanya ke mana, saya kemudian tanya penyelenggara, berapa sih uang saku yang cukup untuk hidup di Vegas selama satu minggu? Jessie Ford, sang _event manager_ tersebut pasti cukup heran. Ini orang dari dunia ketiga kasihan amat. Makanya dia lalu bilang $100 dolar mungkin cukup. Kalau dihitung-hitung sehari makan burger atau lainnya, dan sebuah paket burger (atau makanan) seharga $15, lima hari akan menghabiskan $75. Jadi sepertinya cukup. Uang $100 dolar yang katanya harus rapih dan tidak boleh terlipat itu akhirnya saya masukkan amplop. Saya letakkan amplop itu di ruas tersendiri dalam tas pinggang. Ruas lainnya berisi paspor, tiket, dan dokumen lain.

Dengan itu semua saya lalu berangkat ke Vegas. Saya menyisakan beberapa ratus ribu rupiah (tak sampai 500 ribu rupiah) untuk transpor dari dan ke bandara, dan untuk jaga-jaga ketika pulang ke Indonesia nanti.

Berikut adalah rangkaian perjalanan saya ke Vegas:
# 25 Juni 2007, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) – Suvarnabhumi, Bangkok (BKK), menumpang Garuda Indonesia kode penerbangan GA 866. Berangkat pada 10:00 PM. Sampai di Bangkok 1:30 AM. Lama perjalanan 3 jam 30 menit. Transit di Suvarnabhumi sekitar 4 jam 30 menit.
# 26 Juni 2007, Suvarnabhumi, Bangkok (BKK) – San Fransisco, A.S. (SFO), menumpang Northwest Airlines kode penerbangan NW 28. Berangkat pada 6:00 AM. Sampai di San Fransisco diperkirakan pada 9:55 AM, pada tanggal yang sama waktu setempat (telat 1 hari di sana). Lama perjalanan 17 jam 55 menit. Transit di San Fransisco sekitar 2 jam 10 menit.
# 26 Juni 2007, San Fransisco, A.S. (SFO) – MacCarran, Las Vegas, A.S (LAS), menumpang pesawat US Airways kode penerbangan US 395. Berangkat pada 12:45 PM. Sampai di Las Vegas pada 2:14 PM.

Saya berangkat sendiri. Pada 26 Juni 2007 dini hari itu, sampailah kaki pemuda kelahiran Jombang ini di negeri Siam. Bandara Suvarnabhumi sungguh megah. Bangunannya modern. Bersih. Elok. Pas kalau ditujukan sebagai bandara transit dunia. Bandara ini baru dibuka pada September 2006. Pada Juni 2007 ketika saya ke sana, tentu semua masih baru dan _kinclong_.

Koridor ruang keberangkatan Suvarnabhumi

Setelah keluar pesawat Garuda, saya lalu mengklaim bagasi dan keluar imigrasi. Entah bagaimana saya merasa aneh, kenapa harus keluar imigrasi? Konon ini berhubungan dengan tiket saya yang dipesan atas nama Garuda Indonesia, dan penerbangan Northwest seperti rangkaian tiket lain. Akhirnya saya keluar dari lantai dua (kalau tidak salah). Saya sempatkan diri melihat area kedatangan di lantai satu. Lalu kemudian naik ke lantai tiga dan kemudian ke lantai empat.

Hampir semua toko di lantai tiga saat itu tutup. Tapi saya masih ada melihat beberapa buka, termasuk sebuah toko _grocery_ FamilyMart di sudut kelokan dekat tangga otomatis di lantai tiga itu. Di lantai tiga itu pula saya lihat pula ada ruang mushalla. Wah, hebat Thailand ini. Saya tak mengira negeri dengan penduduk mayoritas Budha menyediakan ruang ibadah bagi umat muslim yang sangat representatif dan tempatnya tidak tersembunyi pula. Kemudian saya naik ke lantai empat. Di sinilah area utama keberangkatan. Dari ujung koridor luas dan terbuka itu berderet gerbang reservasi tiket. Di kejauhan terlihat koridor A dan di kejauhan lainnya koridor W yang paling ujung.

Loket NorthwestSaya kemudian mencari koridor tempat maskapai Northwest, saat itu pada koridor N. Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi lebih beberapa menit. Gerai tiket internasional baru akan dibuka pukul tiga, karena penerbangan saya pukul enam, standar untuk penerbangan internasional loket akan dibukan tiga jam sebelumnya. Baiklah saya mau mencoba tidur sebentar di kursi tunggu yang dingin itu.

Pada pukul tiga pagi terlihat beberapa staf bandara mengatur sistem antrian berkelok-kelok. Wah, pasti penumpangnya banyak sekali. Setelah dibuka pada pukul tiga, saya langsung ikut antri. Tampak seluruh penumpang dicek ulang, dan bagasi diberi tag dari perusahaan keamanan (saya lupa namanya). Keren. Atau gila? Ya, mungkin wajar, ini adalah perjalanan ke Amerika. Saya lalu maju ke meja tiket untuk mengklaim tiket saya (biasanya yang disebut tiket hanyalah kupon penerbangan, dan bukan _boarding pass_). Baru melangkah beberapa saat, baru sadar saya harus berbahasa Inggris. Panik. Harap maklum, karena sebelumnya saya menumpang Garuda, mereka juga masih memakai bahasa Indonesia. Tapi ini harus terjadi. Dan terjadilah.

Klik, klak, demikian bunyi papan ketik komputer. Wajah petugas wanita keturunan India itu tampak heran. Lalu dia telpon-telpon. Bahasa Inggrisnya nyerocos. Saya penasaran dan menajamkan telinga. Saya mendengar lamat-lamat kata ini: “Contract stopped. Failed. Problem. Garuda Indonesia.” Wow. “Apa ini?” batin saya. Saya teringat berita beberapa hari sebelumnya tentang Garuda Indonesia dan maskapai penerbangan lain yang dilarang masuk ke negara-negara Uni Eropa. Apakah ini berhubungan? Hati saya berdegup.

Akhirnya setelah cukup jelas, sang petugas lalu menerangkan kepada saya. Beritanya bisa dirangkum seperti ini. Menurut sang petugas, maskapainya saat itu menghentikan kerjasama dengan Garuda (dan dia bilang baru saja terjadi). Karena penghentian kerjasama ini, mungkin kerjasama penerbangan lanjutan, maka maskapainya, Northwest, tidak bisa bisa lagi menerima penerbangan lanjutan dari Garuda, seperti tiket saya ini. Dia menyarakan saya menghubungi petugas Garuda, mengapa mereka melakukan itu, sebab menurut dia ini bukan kesalahan saya atau _travel agent_ saya (sebenarnya perusahaan sponsor yang memesankan itu lewat _travel agent_ di Amerika Serikat).

_Ugh_. Bencana.

Saya lalu berkeliling mencari loket Garuda Indonesia. Ada seorang petugas wanita di sana. Orangnya bisa berbahasa Indonesia. Asyik. Saya lalu bercerita masalah saya. Wah, tampaknya dia bingung kenapa ini terjadi. Dia lalu telpon supervisornya, seorang laki-laki. Setelah tahu masalah saya, bapak tersebut lalu mengajak saya ke loket Northwest lagi, dan kali ini saya cuma diam menunggu. Akhir setelah mereka berdiskusi, sang bapak petugas kembali ke saya dan menjelaskan berita duka itu. Tiket saya memang tidak diakui. Petugas Garuda menyalahkan pihak _travel agent_. Tapi saya menyalahkan Garuda, kenapa masih menjual tiket terusan kalau kontrak sudah akan dihentikan. Ah, karena saya bingung siapa yang salah, saya lalu tanya petugas Northwest, menurut dia saya sebaiknya bagaimana? Setelah berpikir sebentar, wanita keturunan India berusia 30-an itu lalu menyarankan saya untuk menghubungi _travel agent_ atau perusahaan sponsor. Apalagi waktu masih pukul empat pagi. Di Amerika masih siang. Demikian katanya. Semoga mereka masih membantu.

Menelpon ke Amerika. Habis berapa duit ya? Apakah tidak mahal? Perlu diketahui, saat itu saya tidak tahu ada teknologi bernama Skype. Hal lain adalah saya takut tidak bisa menjelaskan dengan baik masalah ini. Inggris saya belepotan. Tapi baiklah, saya harus berusaha.

Untungnya saya mempunyai kartu kredit. Meski limit tidak begitu banyak. Tapi saya kira cukup untuk menelpon. Katakanlah sampai 1 juta rupiah pun saya siap. Bila itu terjadi. Saya berpikir, sejelek-jeleknya ini tidak ada solusinya, saya akan beli tiket balik ke Jakarta saja. Untungnya pula di bandara Suvarnabhumi tersedia pay phone berbasis kartu kredit yang jumlahnya melimpah. Saya tidak membayangkan bagaimana tagihan telepon nanti bila harus memakai fasilitas roaming internasional dari ponsel saya.

Peta Lantai Empat Bandara Suvarnabhumi
Klik untuk melihat gambar ukuran lebih besar

Akhirnya saya sukses menjelaskan masalah saya lewat telepon. Dan pihak _travel agent_ berjanji akan membantu saya. Nyalakan saja _handphone_-mu. Wow, untung telpon seluler saya yang dua band bisa aktif di Thailand. Baik, demikian pikir saya. Beberapa saat kemudian mereka menelpon, dan bilang, tolong saya ke loket Northwest, dia ingin berbicara dengan petugas yang menangani saya tadi. Saya kembali ke loket Northwest, lalu saya berikan ponsel saya. Petugas wanita tadi lalu berbicara dengan _travel agent_ saya melalui telepon. Setelah itu saya disuruh menunggu.

Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Jarum jam bergerak lambat tak mau kompromi dengan degup jantung saya. Tak terasa pukul lima pagi. Belum ada kabar dari _travel agent_. Saya sudah duduk. Sudah tidur-tiduran di kursi yang makin terasa seperti es. Mencoba selonjorkan kaki di atas koper. Mencoba membaca buku. Saya siap apapun yang terjadi.

Prayer Room di Suvarnabhumi Airport

Tak lama kemudian jarum jam bergerak ke pukul lima lebih 10 menit. Ah, waktunya Subuh. Saya lalu turun ke lantai tiga, tempat Prayer Room, dengan semua bawaan saya. Setelah salat Subuh, saya sempatkan meluruskan punggung di mushalla yang sepi itu. Hanya ada seorang, sepertinya warga Thailand, mungkin seorang petugas kebersihan yang salat di situ. Lalu sepi kembali. Saya tidak dapat memejamkan mata.

Pukul enam lewat beberapa menit, mungkin lebih 10 menit, tiba-tiba telpon saya berbunyi. Singkat kata, _travel agent_ bilang dia mendapat tiket pengganti. Saya akan terbang dengan maskapai United yang akan berangkat pada pukul tujuh pagi. Dia lalu tanya saya di mana. Saya bilang di bandara, lantai lainnya dari area keberangkatan. Dia lalu bilang, cepetan kamu lari. Bergegas saya merapikan barang. Mencatat detil maskapai United tadi. Terakhir saya tanya, ini bagaimana saya meminta tiket saya, kan semuanya sudah tidak diakui? Petugas _travel agent_ itu lalu menjawab, berikan saja paspormu dan bilang kami sudah memesankan tiketmu.

Saya lalu bergegas. Berlari. Hampir melompat. Mendorong kereta dorong sekencang-kencangnya. Lalu di lantai empat, membabi buta untuk mencari letak kaunter tiket maskapai United, dan segera meluncur menuju mereka. Terengah-engah. Saya berikan paspor saya. “Saya punya tiket untuk ke Las Vegas baru dipesan oleh _travel agent_ saya. Tolong segera diproses. Ini paspor saya!” Demikian kata saya hampir setengah berteriak. Petugas itu tanya “Mana bukti kupon tiket dan lain-lain?” Saya menjawab, “Sudah cari saja pasti ada nama saya!”

Dan benar. Ada sebuah tiket tercantum atas nama saya. Tiket segera dicetak. Ada perubahan rute penerbangan. Penerbangan tidak langsung ke Amerika, tapi harus transit di Tokyo, Jepang. Saya akan menumpang United kode penerbangan UA 838 dari Bangkok (BKK) ke Narita, Tokyo, Jepang (NRT). Berangkat pada 6:50 AM. Akan sampai di Narita pada 3:00 PM. Dari Tokyo nanti saya akan Los Angeles, kemudian dilanjutkan ke Las Vegas.

Petugas itu lalu bilang, nanti kamu ikuti petugas ini. Dia menunjukkan seorang pemuda Thailand. Karena penerbangan akan segera berangkat dalam sepuluh hingga dua puluh menit ke depan, kamu akan diantarkan melalui imigrasi yang cepat. Ikuti saja dia. Baik, kata saya. Kami lalu berlari-lari ke pintu masuk keberangkatan. Menuju ruang imigrasi khusus diplomat, dan memang sangat cepat. Lalu masuk ke area pemeriksaan barang. Gila. Semua tas harus dibuka. Amerika memang paranoid. Dan karena panik, saya akhirnya merelakan pasta gigi Pepsodent saya ikut dibuang di tempat sampah karena tidak terbungkus plastik dengan baik. Pemuda Thailand yang mengawal saya di luar area tunggu teriak ikuti saja alur menuju ke _gate_. “Baik. Terima kasih banyak ya!”

Akhirnya saya masuk ke pesawat. Lima atau sepuluh menit kemudian pintu pesawat ditutup. _Ufffh_. Saya tak bisa melukiskan perasaan yang tepat saat itu. Beberapa saat kemudian saya mengecek semua barang bawaan dan akhirnya tahulah saya. Amplop tempat berisi uang $100 tadi hilang entah di mana. Ah, semoga itu berguna untuk orang yang menemukannya. Kemungkinan besar tertinggal di mushalla saat saya terburu-buru mencatat detil penerbangan dan amplop terlupa di rak sepatu. Jadi saya akan terbang ke Amerika Serikat berbekal beberapa ratus ribu rupiah.

Saya tersesat di Vegas

Sesampainya di Vegas, saya lalu mengambil dana sisa di rekening saya sebesar $200. Sepertinya tak mungkin hanya memegang $100. Dan $200 itulah sisa uang saya. Tak ada dana lain.

Dengan dana itulah saya bisa bertahan lima hari di Vegas (dan diperpanjang menjadi enam hari, karena terjadi kesalahan pemesanan tiket kembali). Dengan dana itu pula saya sempat membeli beberapa suvenir untuk dibagikan, termasuk aksesoris bayi untuk anak saya Sofia. Hanya $200. Tapi kalau dipikir-pikir kembali. Dari jumlah, nilai, dan pengalaman, pengeluaran sebesar $200 pada 2007 jauh lebih berharga dibanding pengeluaran saya tahun-tahun berikutnya yang lebih banyak.

Itulah cerita perjalanan pertama saya. Itulah kisah uang $100 dolar yang tak sampai ke Amerika. Kisah ini tidak akan terlupakan dalam sejarah hidup saya.

Disunting oleh SA 24/02/10.