Artikel-artikel dari bulan Januari 2010 (halaman ke-2 dari 2)

Ide Isi Ransel

Bingung dengan persiapan untuk jalan-jalan? Berikut adalah contoh daftar isi ransel yang kami sarikan dari OneBag dan sumber-sumber lainnya:

  • jaket semiformal
  • 2-4 kaos/blus/atasan
  • 2 pasang celana (panjang/pendek)/rok
  • 3+ pasang kaus kaki
  • 3+ pasang pakaian dalam
  • celana dalam yang panjang
  • pakaian renang
  • kardigan/sweater
  • jas hujan/payung kecil
  • parka, jubah
  • kaos lengan panjang atau sarung
  • dasi/scarf/bandana
  • sarung tangan
  • topi (rupa apapun)
  • 1 pasang sepatu resmi
  • 1 pasang sepatu jalan
  • flip-flop atau sendal
  • sabuk
  • tas punggung/troli kecil
  • tas kecil bawaan (bisa selempang, atau ransel mungil)
  • kantong untuk baju kotor
  • gembok tas
  • jam tangan
  • senter, baterai ekstra
  • Swiss Army, gunting
  • alat makan
  • kompas
  • peluit
  • penahan pintu (doorstop)
  • bantal balon/inflatable pillow
  • sleeping bag
  • peniti, karet
  • perangkat menjahit (sewing kit)
  • dental floss
  • kantong sampah
  • kantong Ziploc®
  • isolasi
  • sikat gigi
  • alat mencukur
  • sisir
  • sampo, sabun dan lain-lain
  • deodoran
  • gunting kuku
  • cermin kecil
  • handuk kecil
  • penyumbat saluran (sink stopper)
  • deterjen ukuran kecil
  • clothesline
  • gantungan baju (mungkin ukuran kecil)
  • tisu/tisu toilet/tissue antibakteri
  • pemurni air (kimiawi atau mekanikal)
  • analgesik
  • obat diare
  • obat infeksi
  • tablet malaria
  • anti-nyamuk
  • sunblock
  • lip balm
  • pinset
  • perangkat P3K mini
  • pembalut wanita
  • kontrasepsi
  • vitamin
  • botol/cangkir plastik
  • kacamata minus/plus, kacamata hitam
  • pembersih kacamata, tempat kacamata
  • earplugs
  • pulpen, buku nota kecil, lem batang
  • buku alamat
  • peta, buku panduan, buku bahasa, stiker Post-it®, daftar restoran, kartu-kartu keanggotaan, kartu-kartu nama, kartu-kartu telepon, daftar nomor telefon dan kode wilayah/negara
  • buku, majalah
  • amplop besar
  • paspor, visa, foto ukuran paspor ekstra, sertifikat vaksinasi
  • fotokopi dokumen-dokumen penting
  • surat izin mengemudi
  • informasi/kartu asuransi kesehatan
  • tiket-tiket perjalanan
  • kartu ATM, tunai, travellers’ cheque
  • cek-cek lain
  • kantong/tas keamanan yang bisa diselipkan di bawah baju untuk uang, paspor dan lain-lain

Barang-barang khusus:

  • kamera dan aksesoris
  • ponsel
  • komputer jinjing
  • kalkulator (tenaga surya?)
  • oleh-oleh

Bubur Nasi — Khao Tom

Sejak menemukan daun ketumbar ketika belanja di hipermarket terdekat, saya semakin tertarik ingin nyobain masak dengan resep khas Thailand. Dua makanan Thailand yang kami suka terutama Thom Yam dan Khao Tom. Soalnya dua makanan itu yang paling melekat di hati kami sewaktu backpacking ke Thailand tahun kemarin. Jadi ketika mencium aroma daun ketumbar, dia seakan-akan membawa saya kembali ke Krabi dengan bau pantainya yang khas itu.

Saya selalu terbayang-bayang dengan rasa Tom Yam yang sempat kami cicipi ketika ikut tur Phi Phi Island. Walaupun sempat sempat berkali-kali makan di Bangkok, tapi belum ada yang bisa menandingi kenikmatannya. Juga bubur nasi, atau Khao Tom ini, yang sempat selalu kami cicipi ketika sarapan pagi di daerah pertokoat dekat pasar Krabi. Ceritanya, sang penjual adalah ibu-ibu dan anaknya semuanya berjilbab, jadi artinya makanan halal. Tapi Kali ini saya akan bagi resep Khao Tom saja dulu. Thom Yam lain kali ya.

Nama melayu dari Khao Tom adalah bubur nasi Thailand (Thai Rice Soup). Yaitu nasi yang dimasak dengan campuran daging atau ikan. Ada Khao Tom Goong yang artinya bubur nasi dengan udang, Khao Tom Moo maksudnya bubur nasi dengan daging babi, dan ada juga Khao Tom Pla yaitu bubur nasi dengan ikan. Tapi yang di Krabi saya lihat buburnya dengan udang dan cumi. So saya menirunya. Jadi kita namakan saja saja Rice Soup with Seafood, bubur ayam dengan makanan laut.

Usut punya usut, akhirnya saya harus mencari resep Bubur Nasi ini hingga ke negeri China. Hehe, cuma hiperbola. Soalnya, setelah mencari, menelusuri, dan googling berhari-hari lamanya, anehnya, masing masing situs penyedia resep Khao Tom memberikan bumbu yang berbeda-beda. Apa karena soalnya selera orang kan juga beda beda ya? Ah mungkin sih.

Akhirnya saya pede aja bahwa saya adalah chef yang keren, dan saya coba menyarikannya dengan resep yang mudah bagi orang Indonesia, seperti saya. Halah. Beginilah resep Khao Tom a la saya:

Siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, yaitu:

* 2 piring – nasi yang sudah matang (ini untuk 4 orang), beberapa situs menyarankan nasi kemarin atau yang sudah menginap semalam. Mungkin karena untuk orang sakit biar kadar gulanya sedikit kali ya? _Kali aja sih_!
* 2 sendok makan – kecap ikan atau _fish sauce_,
* 1 sendok makan – kecap kedelai,
* 1/2 sendok teh – lada bubuk,
* Seledri atau daun bawang,
* 1 ruas jahe di iris iris seperti korek api, ini nanti untuk pelengkap,
* 5 siung – bawang putih diiris iris lalu di cacah-cacah, goreng sampai berwarna coklat ke emasan. Di bagi dua bagian untuk masak dan untuk pelengkap,
* Daun ketumbar secukupnya,
* Udang/cumi/ikan kakap/daging ayam/daging sapi,
* Air kaldu. (Dikira-kira sendiri ya.)

Cara masaknya:

* Saya memakai udang dan cumi, jadi untuk kaldunya saya kupas udang terlebih dahulu. Kemudian kulit udangnya yang saya rebus dengan air sebagai kaldu. Sisihkan.
* Goreng irisan bawang putih sampai coklat keemasan. Bagi dua bagian.
Didihkan kaldu tadi lagi. Setelah mendidih masukkan sebagian bawang goreng. Aduk.
* Lalu masukkan seledri, kecap, kecap ikan, dan lada. Aduk-aduk.
* Setelah mendidih masukkan nasinya. Aduk-aduk dan biarkan sampai mendidih.
* Kemudian masukkan daging atau seafoodnya. Aduk-aduk sampai matang.
* Setelah matang semuanya angkat.
* Sajikan dengan di taburi irisan daun ketumbar, irisan jahe, dan bawang goreng.
* Bisa juga ditambahin lada atau bubuk cabai kering kalo pengen pedas dan juga cuka.

Nah, jadilah Bubur Nasi dengan Makanan Laut ini.

Khao Tom Goong

Bubur ini cocok untuk orang yang sedang sakit atau dalam masa penyembuhan. Karena rempah-rempahnya mempunyai efek menghangatkan tubuh. Sehingga cocok juga di makan ketika hawa sedang dingin seperti musim bediding atau musim penghujan. Kalau di Thailand, bubur ini biasanya dihidangkan untuk sarapan. Disamping bisa membuat orang bersemangat untuk beraktivitas juga karena cara penyajiannya yang cepat.

Oke, selamat mencoba ya! Kalo enak kabar-kabar. Kalo _nggak_ enak, coba lagi!

Tulisan ini dimuat ulang (dan diedit secukupnya) dari blog Yani Widianto di:
http://yani.widianto.com/2010/01/11/bubur-thailand-khao-tom/


Alas Kaki

Berikut beberapa tips soal alas kaki yang bisa dibawa ketika melakukan perjalanan:

  • Sandal. Ya, sangat mungkin memakai sandal dalam seluruh rangkaian perjalanan, terutama di negara tropis. Tapi pilihlah sandal yang berkualitas dan kuat. Jangan sampai tiba-tiba terputus dalam perjalanan. Untuk sebagian daerah Asean, memakai sandal mungkin cukup.
  • Sepatu sandal yang mempunyai perekat atau kunci juga praktis digunakan. Tapi cari yang bahannya lembut dan tidak membuat iritasi. Cepat kering. Ringan. Dan kuat.
  • Sepatu berventilasi juga praktis, terutama untuk medan liar, air, dan panas/dingin.
  • Sepatu ringan untuk penjelajahan tergantung tujuan. Sepatu ini juga praktis dan bisa dipakai untuk momen agak resmi dan mejeng (bila diperlukan!)
  • Sepatu hiking (tergantung tujuan). Dan ini sangat berat dan menyita ruangan. Tapi sekali lagi, bila tujuan memerlukan, tak ada salahnya dibawah. Cucilah bila memungkin tapi harus sampai kering karena baunya bisa sangat menyengat.
  • Satu buah alas kaki biasanya cukup. Dua membuat beban. Tapi ini tergantung daerah tujuan. Misal Anda melewati daerah berbagai macam iklim, sandal dan sepatu tentu penting.

Intinya cari yang ringan, mudah dicuci, cepat kering, dan melindungi kaki dalam rangkaian waktu kunjungan.


Dua Hari Yogyakarta: Ketep Pass, Borobudur, Kota, dan Parangtritis

Ini adalah rencana perjalanan cukup santai untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Fokus dari rencana perjalanan ini adalah rekreasi sejarah ke Borobudur melalui wilayah segar lewat Boyolali, lalu menikmati pusat kota Yogyakarta dan sedikit menikmati segarnya pantai Parangtritis di kala sore.

Tentu ada banyak variasi yang lebih menarik, dan saya yakin pembaca pasti mempunyai ide lain yang lebih fantastik. Tapi ide dari rencana perjalanan ini adalah singkat dan cukup menjangkau pusat wisata Yogyakarta dan juga menikmati pantai yang cukup terkenal di wilayah ini.

Hari ke-1

Tujuan pertama kita adalah Ketep Pass. Ini adalah obyek wisata yang letaknya persis di antara dua gunung itu, Merapi dan Merbabu. Bahkan, jaraknya hanya 2 km dari puncak Garuda, titik tertinggi Gunung Merapi. Ada persewaan teleskop. Penjual jagung. Asyik memantau indahnya Merapi. Juga bisa menyaksikan asap lava yang bergolak, asal tidak tertutup awan.

Untuk mengingatkan karena tujuan kita adalah Ketep Pass, asumsi perjalanan kita adalah ke tempat ini baru disambung kemudian Borobudur. Namun bila Anda dari Yogyakarta dan lebih memilih jalur dari Magelang, bisa pula perjalanan ini dibalik.

Setelah cukup istirahat, lalu ke arah Magelang meluncur ke Candi Borobudur. Silakan menikmati kemegahan kompleks Candi Budha ini hingga siang hari atau secukupnya.

Sore hari atau sekitar 14:00, bila dirasa cukup, langsung melaju pusat kota Yogyakarta. Karena siang/sore, mungkin lebih nyaman ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, alun-laun, dan/atau Taman Sari. Sore atau malam ke Malioboro menikmati Yogyakarta di malam hari.

Hari ke-2

Berangkat pagi atau agak siang (karena mungkin malamnya capek). Lalu, usahakan sebelum pukul 10, pergi ke Candi Prambanan. Sampai siang lalu mampir ke Pasar Bringharjo untuk membeli oleh-oleh Batik yang murah dan harganya terjangkau.

Bila sudah puas dengan oleh-oleh, segera meluncur ke Parangtritis menikmati Gumuk (atau gurun pasir) yang biasanya hanya ada di sahara. Dan juga menikmati segarnya pantai di sore hari.

Sore sebelum malam, kembali ke kota Yogya. Dan menikmati sisa hari di kota Jawa yang penuh nuansa ini.


Duka Kami untuk Haiti

Sebagai warga global yang merasakan nikmatnya persaudaraan, budaya, dan juga keindahan dari seluruh tempat di dunia. Kami seketika ikut berduka mendengar saudara kita di Haiti, sebuah negara di kawasan Atlantik, terkena bencana gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter.

Gempa berpusat sekitar 25 km barat Port-au-Prince, ibukota Haiti, sekitar pukul 16:53:10 waktu setempat pada Selasa, 12 Januari 2010. Gempa terjadi pada kedalaman 13 km. The United States Geological Survey (USGS) mendeteksi rangkaian gempa susulan setelahnya, sekitar 33 gempa, 14 di antaranya dengan kekuatan 5,0 hingga 5,9 skala Richter.

Palang Merah Internasional memperkirakan sekitar tiga juta orang terkena dampak gempa, dan Menteri Dalam Negeri Haiti percaya sekitar 200,000 orang meninggal, melebihi perkiraan Palang Merah yaitu 45.000 – 50.000.

Sebagai warga global pelancong independen, kami mengajak mari berusaha membantu korban gempa Haiti dengan kemampuan kita. Bila ingin membantu via online, ada beberapa cara:

Pemutakhiran 16 Januari 2010: Menurut data terakhir dari Antara, jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat di Haiti mungkin mencapai 50.000 hingga 100.000, kata Organisasi Kesehatan Amerika Raya (PAHO), Jumat.


Kredo Satu Ransel

Ketika kita bepergian baik itu jauh maupun dekat dengan durasi yang panjang, kita cenderung untuk mengemas banyak sekali bawaan. Seringkali kita lupa dan kalap sehingga jumlah tas yang dibawa melebih kapasitas, atau beratnya seperti membawa batu! Ketika pulang, baru kita menyadari bahwa ternyata yang dipakai hanya sebagian. Sisanya ternyata hanya memberatkan bawaan, apalagi jika sampai harus masuk bagasi pesawat dan harus menunggu bagasi di karousel bandara.

Tahukah Anda, menurut situs OneBag, overpacking adalah salah satu kesalahan terbesar dalam melakukan perjalanan! OneBag.com mengusung konsep satu tas carry-on (jinjing) dimana semua keperluan kita selama perjalanan, tidak peduli berapa lama, harus cukup dalam satu tas. Berikut alasan-alasannya:

Keamanan

Berapa banyak dari bagasi yang kecolongan dan hilang? Dengan hanya satu tas yang dibawa dalam kabin pesawat, seluruh tanggungjawab pengawasan jatuh pada diri kita sendiri. Untuk moda transportasi lain, pada prinsipnya, kita tak perlu menitipkan tas kita pada orang lain (baca: berpindah tangan), sehingga menurunkan resiko pembobolan dan kehilangan. Satu hal lagi, Anda tak perlu berlama-lama di proses x-ray atau lapisan keamanan di mana pun.

Ekonomi

Kita tak perlu membeli banyak tas, cukup sedikit tas dengan kualitas yang prima. Kita tak perlu membayar porter untuk membawakan tas-tas kita. Kita terhindar dari biaya bagasi berlebih (excess baggage) yang bisa ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan rupiah kalau di luar negeri! Bayangkan juga manfaat berikut: kita bisa menggunakan transportasi umum seperti bis dan kereta api tanpa susah, menghindarkan kita dari biaya taksi atau limo yang mahal.

Fleksibilitas

Kita bisa menghindari antrian panjang check-in bagasi (di bandara-bandara tertentu), datang lebih telat dan menikmati perjalanan ke bandara, misalnya. Kalau ada penundaan penerbangan atau pengalihan, kita tak perlu mengurus bagasi. Dalam kasus transit di beberapa kota, kita juga tak perlu khawatir apakah bagasi akan terus sampai ke tujuan akhir. Kebebasan waktu dan kegiatan ada di tangan kita!

Ketenangan Pikiran

Sama halnya seperti memiliki harta atau anak yang banyak, banyak pula yang dipikirkan. Apakah ada yang ketinggalan, kekurangan, kehilangan. Membawa lebih dari satu bawaan (apalagi lebih) membuat kita semakin cemas.

Lingkungan

Selain itu, kita juga tidak usah terlalu lama mengepak dan membereskan barang-barang, kita tidak membebani moda transportasi dan menghemat bahan bakar. Kita mendorong produsen tas untuk menciptakan tas yang all-in, tahan lama dan ringkas, sehingga menggunakan lebih sedikit bahan baku.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengepak pakaian untuk perjalanan satu minggu, satu bulan dan bahkan berbulan-bulan dengan hanya satu tas?

Masih menurut OneBag, kita harus membuat sebuah checklist barang yang punya kemungkinan untuk dibawa. Perlu dicamkan bahwa checklist adalah semacam panduan kebutuhan kita dalam seluruh kemungkinan perjalanan (destinasi, maksud perjalanan, kegiatan, dan lain-lain) dan tidak seluruhnya harus dibawa. Setiap perjalanan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, tetapi dalam setiap perjalanan isi tas kita harus berasal dari checklist yang sudah ada, tidak lebih. Anda bisa menyesuaikan checklist dari waktu ke waktu. Perlu diingat juga jika seluruh barang di dalam checklist ini dibawa, maka seluruhnya harus muat dalam satu tas saja. (Perlu ide? Silakan baca Ide Isi Ransel).

Pertanyaan berikutnya: tas macam apa yang cocok? Tentunya, pemilihan tas sesuai selera dan anggaran, pada prinsipnya harus bisa dibawa dengan mudah dan tidak memberatkan. Tiga hal utama dalam memilih tas adalah portabilitas, kualitas dan sesuai dengan regulasi. Hal berikutnya, untuk memaksimalkan ruang, maka kita harus mendapatkan tas yang dimensinya persegi, bukan bulat, bukan oval. Dalam kasus ini kita harus mengucapkan selamat tinggal pada tas dorong yang memiliki roda!

Jika Anda ingin tahu lebih lanjut, silakan kunjungi OneBag.


Hanoi: Jeda Penuh Karisma

Adalah mudah bagi saya untuk kembali lagi ke Hanoi di masa akan datang. Hanoi memang tak sempurna, mirip kebanyakan kota di Indonesia yang kurang teratur, kurang rapi, organik dan ada bagian-bagian yang kurang cantik. Tapi di antara semua itu, ada aura lain yang memancar dari Hanoi. Aura historis peninggalan Perancis dan romantika Asia yang kental mengudara seketika kita menginjakkan kaki di pusat kotanya. Lingkar luar kotanya memang sedang berbenah dan berencana dengan pusat-pusat industrinya, namun di hatinya, ia tetap kota yang punya karisma tersendiri.

Empat hari saya habiskan di Hanoi bersama teman saya, Muhammad Arif, dan kami menginap di teman lama di salah satu bilangan pemukiman di Hanoi. Lan Nguyen adalah host kami, seorang warga lokal Vietnam. Kami kenal di Internet melalui program internasional yang pernah kami ikuti bersama. Beliau tinggal di sebuah flat (apartemen sederhana) yang ukurannya kira-kira 15 x 6 meter. Walaupun terhitung kecil, tapi flatnya amat nyaman dan rapi. Lan juga hanya tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal.

Pertama kali menjejakkan kaki di bandara Noi Bai, Hanoi, Vietnam, udara sejuk seperti tidak ada bedanya dengan suhu pendingin udara di pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur. Perjalanan tiga jam tidak menjadi masalah besar kecuali rasa ingin sampai yang ada di lubuk hati karena penasaran. Permainan Fieldrunners di iPod Touch pun terasa amat sangat hambar dibandingkan dengan kesenangan yang saya rasakan.

Bandara Noi Bai sendiri tidak besar. Mirip ukuran bandara Polonia di Medan, Sumatera Utara. Setelah keluar dari imigrasi dan menukar mata uang dong di money changer (waktu itu kursnya 1 USD = 17,400 dong; saya tukar 50 USD = sekitar 800,000-an dong), saya kirim pesan singkat ke teman saya, Lan Nguyen, yang menjemput saya dengan taksi. Bau keringat di badan diri pun tak saya hiraukan dan saya peluk Lan yang sudah tidak saya temui tiga tahun lamanya (terakhir kali kami bertemu di San Francisco, Amerika Serikat). Kami bertiga pun mencari taksi yang tadi ditumpangi Lan. Tak disangka, taksinya hilang tanpa alasan jelas, padahal belum dibayar. Akhirnya kami naik minibus dengan harga 30.000 dong per orang. Lan terpaksa menelepon ke perusahaan taksinya untuk meminta taksinya datang ke rumah dan membayarnya.

Untuk sampai ke rumah Lan, butuh waktu 1 jam 30 menit, ditambah macet. Itu pun tidak sampai ke rumah, kami masih harus naik taksi kecil (dengan ukuran mirip mobil merek Chery QQ) ke daerah tempat tinggalnya. Keluarlah uang sekitar 50,000 dong untuk bertiga. Karena sampai di Hanoi pada malam hari, kami tak begitu sempat melihat suasana kota, yang relatif sepi setelah melewati kemacetan. Sesampainya di rumah Lan, kami disuguhi makan malam lezat berupa ayam yang dikukus dan sayur kailan, beserta nasi panas. Yum!

Kota Hanoi pada pagi hari, di bulan Januari, adalah bicara musim dingin. Suhu antara 15-25°C. Kabut menyelimuti berbagai sisi kota, dengan fluktuasi yang tak tentu. Pagi bisa terang, ketika hari mulai siang, kabut bisa menebal disertai rintik-rintik hujan. Tapi tak masalah, sejauh mata memandang, di pusat kota, bangunan-bangunan berwarna kuning milik pemerintahan dan bangunan bersejarah lain melengkapi danau dalam kota yang menyiratkan rasa bahagia. Sendu, memang, dan jalanan sepi dari mobil, tapi kami merasa lebih bisa bertukar pikiran satu sama lain lebih baik. Berjalan dari Temple of Literature, menyusuri diplomatic enclave dengan trotoar yang lebar dan penjaga keamanan yang berdiri diam di atas podium, lalu ditawari untuk memotret seorang pedagang buah yang menggantungkan jajaannya di badan, sampai akhirnya berhenti di sebuah toko bubble tea untuk melepas dahaga sejenak. Kabut semakin menebal ketika kami mencapai Ho Chi Minh Mausoleum, makam Ho Chi Minh, bapak pejuang kemerdekaan Vietnam.

Untuk urusan gastronomi, tidak ada tempat yang lebih baik untuk mencoba phở daripada di Vietnam sendiri dan Hanoi khususnya. Semangkuk phở yang dijual di pinggir jalan, baik sebagai sarapan, makan siang atau malam, dijual dengan pilihan daging ayam atau babi. Jangan kaget dengan kesederhanaan phở. Masakan Vietnam memang sangat sederhana. Warnanya tidak seindah masakan Indonesia, misalnya. Namun, rasanya sungguh nikmat. Kesegaran kuah bening phở, lembutnya daging ayam dan takaran mi yang pas membuat saya melupakan tampilannya yang tidak atraktif. Tidak seperti phở yang saya coba di Jakarta. Jika sempat, kunjungilah tempat nongkrong anak muda Hanoi: sebuah “warung jongkok” dengan suguhan pencuci mulut yang menggoda: Che Bap (sup santan dengan butiran tapioka dan butiran jagung/pisang) atau Es Teh Lemon Vietnam yang sudah kurang terasa lagi asamnya, namun tetap nikmat. Kami juga sempat mengunjungi sebuah restoran di pinggir danau Hồ Tây (West Lake), danau terbesar di Hanoi untuk menikmati bakwan udang yang disajikan dengan salad dan kacang.

Satu hal yang saya salut adalah kebanyakan masakan Vietnam, terutama masakan rumahannya, tidak digoreng atau dibakar, tapi direbus, lalu ditambah dengan bumbu yang minimal. Kesederhanaan ini justru membuatnya jadi kenikmatan tersendiri dan sehat, tentunya. Hal ini saya nikmati selama persinggahan saya di rumah Lan dan undangan makan siang dan malam di rumah neneknya yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggal Lan.

Setelah kenyang, Anda bisa menikmati secangkir kopi atau potongan kue di warung-warung kopi tradisional ataupun di Highlands Coffee, sebuah jaringan warung kopi yang lebih modern. Nikmati Vietnamese Iced Coffee yang terkenal itu!

Bagi Anda yang suka membeli buah tangan, perjalanan ke Hanoi tidaklah lengkap jika tidak mengunjungi sentra sutra untuk membeli buah tangan berupa kain sutra. Harganya bisa mencapai ratusan ribu dong. Buah tangan lain yang dapat Anda beli antara lain topi, gelang atau tempat koin, di lingkungan Old Quarter (daerah pertokoan padat yang gedung-gedungnya masih tua), tapi itu semua terserah Anda.

Ketika malam tiba, sempatkanlah untuk menyelinap di bar untuk menikmati pertunjukan musik jazz gratis (tentu saja, Anda tidak harus memesan minuman beralkohol). Tentu saja, bar mana yang baik tidak akan saya temukan kalau tidak dengan bantuan teman-teman lokal saya.

Tempat-tempat lain apa yang menarik untuk dikunjungi? Saya dibawa oleh teman-teman saya berkeliling naik sepeda motor. Benar, tidak ada cara lebih menarik dan autentik ala Vietnam modern daripada berkendara dengan sepeda motor. Bis umum tersedia, mobil juga ada, tetapi sepertinya sepeda motor tetap jadi andalan utama masyarakat lokal. Kami di bawa ke jembatan terpanjang di Hanoi, Long Bien Bridge. Jembatan ini melintasi Sungai Merah (Red River), sungai yang mengalir dari pedalaman Cina selatan hingga teluk Tonkin. Jembatan ini dirancang oleh Gustave Eiffel, yang juga merancang menara Eiffel di Paris. Jembatan ini juga dilalui oleh lintasan kereta api.

Dari semua kegiatan tersebut, menurut saya, tidak ada yang paling membahagiakan daripada duduk di sebuah kafe di tengah danau, atau hanya duduk di pinggir danau sambil memegang segelas kopi ditemani pembicaraan hangat. Cobalah berkeliling danau Hoan Kiem, danau utama di Hanoi, dan nikmatilah orang tua yang sedang menemani anaknya, romantika pasangan muda, atau anak muda dan orang tua yang berlari kecil di pagi hari.

Masih ada hal-hal lain yang saya ingin lakukan. Saya tidak sempat menonton wayang boneka air dan menonton film di salah satu sinemanya. Betapa saya berharap, saya ditakdirkan untuk kembali ke Hanoi yang penuh romantika!

Beberapa tempat menarik yang wajib dikunjungi di Hanoi: Hoan Kiem Lake, Ho Chi Minh Mausoleum, Temple of Literature, Old Quarter, Water Puppet Theatre, serta sentra penjualan sutra.


Pentingnya Rencana Perjalanan

Dalam bahasa Inggris, rencana perjalanan itu adalah itinerary (itineraries dalam bentuk pluralnya). Kalau kita baca buku panduan perjalanan terbitan Lonely Planet atau Rough Guides atau buku lainnya, pasti akan mudah kita temukan hal ini. Dan biasanya berada di halaman-halaman awal tujuan wisata kita.

Sebelum memulai perjalanan Anda, sebaiknya kita mempunyai sebuah atau lebih rencana perjalanan. Rencana perjalanan itu penting agar kita mudah merencanakan, mengatur, dan mengevaluasi kesuksesan perjalanan kita. Dengan rencana perjalanan, kita juga bisa realistis mengatur logistik, tiket, akomodasi, transportasi dan juga bujet untuk keperluan perjalanan kita.

Itulah pentingnya Rencana Perjalanan. Tapi apa sih yang harus kita rencanakan?
Rencana perjalanan bisa berupa hal singkat, seperti contoh di bawah ini:

Rencana Backpacking Negara-Negara ASEAN

  • Hari ke-1: Singapura, Marina Bay, Kampung Glam & Little India.
  • Hari ke-2: Singapura, National Orchid Garden & jalan-jalan ke Orchard Road
  • Hari ke-3: Singapura, China Town, Marina Bay, Singapore Flier, lalu sore naik kereta ke Malaysia.
  • Hari ke-4: Malaysia, pagi ke Petronas tower dan siang istirahat. (Menurut riset * waktu kunjungan dimulai pukul 9 pagi)
  • Dan seterusnya…

Itu adalah contoh rencana perjalanan yang sangat sederhana. Dan juga cukup fleksibel. Perlu diingat, rencana perjalanan di atas tidak memuat detil waktu. Kenapa waktu tidak perlu, karena ini adalah rencana perjalanan. Cukupkan rencana perjalanan itu sederhana, fleksibel, dan masih bisa diubah atau diatur ulang sesuai dengan kesepakatan para peserta perjalanan independen tersebut.

Lalu apa yang perlu dan bisa dilakukan setelah kita mendapat rencana perjalanan seperti ini? Oh banyak sekali. Jangan kira setelah membuat hal di atas Anda bisa menganggur. Itulah keunikan perjalanan independen, dan pasti pembaca Ransel Kecil semua suka dengannya.

Setelah rencana perjalanan ini siap, biasanya kita segera bisa melakukan riset, apakah rencana tersebut patut dan realistis.

Mari kita lihat pada rencana hari ke-3 dan hari ke-4 pada contoh di atas. Hari ke-3 malam, rencananya adalah naik kereta malam (Keretapi Melayu Berhard) ke Malaysia via darat.

Setelah melakukan riset kecil, kita tahu kereta akan sampai di Malaysia kira-kira Subuh atau sebelum pukul enam pagi. Jadi apakah mungkin langsung berkunjung ke Petronas Tower?

Nah di sini titik realisasinya bisa dicapai. Bila Anda masih punya waktu senggang untuk rencana besoknya dan tidak ada rencana yang mengharuskan pergi pagi hari, maka sebaiknya rencana ke Petronas ditunda esoknya. Bila tidak bisa, dan esoknya ada rencana perjalanan lain yang bagus pula, pergi ke Petronas pagi hari pun masih bisa dilakukan. Apakah realistis? Ya, masih mungkin kok. Tapi dengan catatan, Anda harus membawa ransel beserta bawaan langsung ke gedung Petronas langsung setelah sampai di Kuala Lumpur.

Begitulah contoh kegunaan rencana perjalanan. Disamping itu, dengan rencana perjalanan yang bagus, kita bisa memulai mencari informasi, dan juga melakukan booking hostel atau hotel, pesan tiket transportasi bilamana hal itu dimungkinkan, dan seterusnya. Rencana perjalanan juga dibuat untuk lebih segera mengetahui bila ada masalah dalam rencana perjalanan kita, dan memungkinkan kita menggantinya dengan rencana perjalanan yang lebih realistis.

Bila ada yang berdalih, kan perjalanan kami singkat, cuma tiga hari? Tak perlu lah rencana perjalanan yang rumit. Ya, tiga hari itu singkat, dan lebih mudah diatur secara rileks. Tapi kami semua yakin, bila kita punya rencana perjalanan yang bagus, kita bisa lebih menikmati perjalanan itu, lebih mudah merencanakannya, lebih mudah mengatur dan efisien bujet, dan seterusnya.

Kami menyaranakan rencana perjalanan dibuat kurang lebih sembilan hingga tiga bulan sebelum perjalanan dilakukan. Lebih awal lebih baik tentunya. Satu hal paling penting dari awalnya rencana perjalanan dibuat adalah tujuan efisiensi bujet. Semakin awal dan jauh dari jadwal perjalanan, harga tiket dan akomodasi bisa jadi lebih murah. Sebaiknya rencana perjalanan direvisi hingga periode tiga bulan perjalanan.

Hal lain, kadang rencana perjalanan sebaiknya juga fleksibel, demi kenikmatan perjalanan independen itu sendiri. Misalnya saja Anda sudah punya rencana perjalanan di Maroko selama tiga hari, dan Anda sudah pesen tiket untuk beberapa tujuan dan tempat (misalnya hari ke-1 dan ke-3). Tapi ketika di Maroko, ada teman yang memberi tips sebaiknya mencoba pergi ke Majorelle Garden, tamannya indah. Nah, bila memungkinkan, kita bisa mengatur ulang jadwal kita, misal hari ke-2 untuk ke Majorelle, selama hal itu tidak menabrak rencana kita, atau bila perlu rencana lain digagalkan demi tujuan yang lebih bagus dan menarik, kenapa tidak?

Jadi, segera atur rencana perjalanan Anda sekarang juga.


Perhentian Waktu di Ha Long Bay

Perjalanan ke Ha Long Bay memakan waktu sekitar empat jam melalui jalan darat, dari Hanoi. Hari itu hari yang cerah, kami menumpangi sebuah minibus penuh dengan turis asing. Pemandu kami pun sangat bersahabat dengan guyonan-guyonannya yang ringan.

Perjalanan pulang pergi ke Ha Long Bay dijual dengan sistem paket, dan banyak sekali agen perjalanan yang menawarkannya di Hanoi, tentu dengan harga yang amat beragam. Anda harus memesannya setidaknya sehari sebelumnya. Ada paket yang hanya sehari, tanpa menginap. Ada juga paket 2 hari, 3 hari dan bahkan seminggu, menginap di sebuah pulau. Kami memesan paket sehari, sudah termasuk ongkos naik kapal junk (kapal khas Indochina terbuat dari kayu seperti dipaparkan di film James Bond yang Tomorrow Never Dies) plus makan siang makanan laut dan nasi. Minuman sayangnya harus dibayar lagi (sekitar 10.000 dong). Total biaya yang kami keluarkan sekitar USD30 per orang. Tak buruk untuk perjalanan sejauh itu!

Petualang di atas kapal menyusuri Ha Long Bay

Sepanjang perjalanan dari Hanoi ke Ha Long Bay, kami disuguhi berbagai pemandangan pinggiran Vietnam. Rata-rata kontur tanahnya datar, mungkin karena menuju laut. Sawah padi ada tetapi tidak ekstensif. Kebanyakan ladang atau tanah luas yang belum digarap. Rumah-rumah penduduk tersusun dengan jarak yang jauh, per kluster. Satu sampai dua jam pertama kami lalui di atas jalan tol, sebelum keluar ke jalan biasa. Minibus sempat berhenti istirahat di dua titik, yang juga difungsikan sebagai sentra buah tangan. Makanan dan minuman juga tersedia, walau tak spesial. Gedungnya pun biasa saja, besar seperti gudang.

Beberapa pegunungan kapur mulai terlihat ketika mendekati tujuan. Udara dingin di Hanoi sudah tak ada lagi. Gedung-gedung tak selesai dan trotoar yang ditumbuhi alang-alang menyambut, menyirat sebuah rencana jangka panjang yang tak kunjung selesai. Pikiran tak sempat tuntas ketika minibus yang kami tumpangi berhenti di sebuah dermaga.

Sir, madame. Two days? Come with him. Three days? You come with me.” Setiap pelanggan paket sudah punya pemandu sendiri-sendiri, dan naik kapal yang berbeda.

Seketika kami disambut dengan junk boat yang dapat menampung kira-kira 40 – 50 turis di dek dalam dan atas. Kapal ini terdiri dari ruang penumpang dengan tempat duduk yang nyaman, yang juga berfungsi sebagai ruang makan. Dek atas juga memiliki tempat duduk, namun khusus untuk observasi. Kapal berangkat tidak lama setelah kami naik.

Agenda pertama adalah makan siang. Makan siangnya cukup standar, makanan laut seperti cumi, ikan dan sayur pelengkap. Kecuali minuman, semuanya sudah termasuk paket senilai USD30 itu tadi.

Petualang di atas kapal menyusuri Ha Long Bay

Ha Long Bay mirip dengan daerah selatan Thailand seperti “Phang Nga”:http://en.wikipedia.org/wiki/Phang_Nga_Province di dekat pulau Phuket, penuh dengan pulau-pulau yang terbuat dari batu gamping. Namun begitu, airnya cukup tenang dan kapalnya cukup lambat untuk membuat kita hanyut dalam lamunan, apalagi jika tidak ada kabut.

Ada beberapa perhentian di perjalanan ini, tergantung dari paket yang kita ambil. Bahkan kita bisa menginap di salah satu pulaunya. Paket standar adalah mengunjungi salah satu gua yang terbesar: Hang Đầu Gỗ. Di sini, kita dipandu ikut masuk menuju sistem stalaktit dan stalakmit yang beberapa di antaranya dianggap mirip dengan sosok hewan/mitologi seperti kelinci, singa dan naga.

Saya tak cukup tertarik dengan gua. Yang lebih membuat saya tertarik adalah perjalanan setelahnya menuju pulau tempat penginapan. Waktu itu jam tiga sore, matahari sudah tidak tepat berada di atas. Kabut pun luput dari penglihatan, suhu menjadi bersahabat. Kapal melaju tenang. Tak ada musik, tak ada keributan. Seketika, semua orang yang ada di kapal pun menikmati keheningan yang luar biasa. Lamunan pun hanya bisa dihentikan dengan menyadari kapal sedang melewati perkampungan apung yang biasa digunakan sementara untuk para nelayan.

Karena tak menginap, kami pun tak turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan pulang setelah mengantar turis lainnya. Perjalanan pulang kami ditemani langit yang mulai meredup menjelang senja, dan suhu yang bertahap turun. Jaket dan syal pun tak terhindarkan.


Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil