Buku-Buku Penginspirasi Perjalanan

Berikut beberapa buku yang dapat menginspirasi anda untuk melakukan perjalanan. Ketagihan tidak ditanggung, ya. Bukan, bukan “Eat, Pray, Love”, kok.

The Great Railway Bazaar oleh Paul Theroux

Paul Theroux adalah salah satu penulis perjalanan paling terkenal di dunia. Buku-bukunya menangkap esensi perjalanan dengan narasi yang jujur tetapi tetap imajinatif. Dalam buku ini, ia menceritakan tentang perjalananannya melalui kereta api di benua Asia, mulai dari The Orient Express di Singapura, Malaysia dan Thailand, Khyber Pass di Afganistan, Golden Arrow di Malaysia, Mandalay Express di Myanmar sampai Trans-Siberian Express yang membentang dari Cina, Mongolia sampai Rusia.

Istanbul oleh Orhan Pamuk

Siapa yang tidak tertarik pada Istanbul? Sejatinya, kota ini memang selalu dalam persimpangan, bahkan sejak dulu, jaman Kekaisaran Ottoman. Orhan Pamuk, seorang sastrawan terkemuka dari Turki, dilahirkan dan dibesarkan di Istanbul. Dalam buku ini, beliau menceritakan dan menggambarkan dengan detil dan menarik tentang semua sudut-sudut kota tempat ia dibesarkan. Tapi, tidak hanya itu, ia juga membumbuinya dengan cerita-cerita masa kecilnya, mulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti makanan masa kecilnya, ketidaksukaannya pada beberapa aspek di keluarganya, sampai bagaimana kota ini membentuknya sebagai penulis. Jika ada tulisan yang “cantik dan menawan”, inilah hasilnya.

The Rice Mother oleh Rani Manicka


Saya tak pernah merasa jatuh cinta lebih besar pada Asia Tenggara, terutamanya Malaysia, sebelum membaca buku ini. Namun, fiksi yang berlatar belakang Malaysia dan Sri Lanka ini membuat saya lebih mengapresiasi detil-detil kultural dan kehidupan sehari-hari di ranah geografi yang lebih dekat dengan tempat saya dibesarkan: Indonesia dan Malaysia. Mulai dari detil-detil seperti kain, rumah, buah dan makanan lokal, sampai detil-detil sosiokultural seperti kebiasaan atau adat-istiadat. Semuanya diramu dalam fiksi tentang pubertas, pernikahan, pertikaian keluarga sampai konflik eksternal: penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Di sini, kita bisa melihat perjuangan seorang Lakshmi, gadis desa dari Sri Lanka yang pindah ke Malaysia karena pernikahan (yang agak dipaksakan). Melihat budaya dari sisi pendatang dan bagaimana pendatang itu berusaha dengan keras untuk berasimilasi, walau dengan konflik batin.

The Lonely Planet Story oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler

Tidak banyak yang tahu tentang pendiri (atau istilah kerennya sekarang, founders) Lonely Planet, penerbit buku-buku panduan perjalanan. Adalah Tony Wheeler dan Maureen Wheeler, sepasang suami istri yang awalnya berasal dari Inggris, dan mengawali konsep backpacking dengan melakukan perjalanan darat dari Inggris ke Australia. Dari hasil perjalanannya ini, mereka memutuskan untuk membuat sebuah panduan perjalanan pertama di dunia, yang diberi judul “Across Asia on the Cheap“. Ternyata, edisi pertama laku keras. Mereka akhirnya “ketagihan” untuk menulis buku-buku lainnya, hingga pada akhirnya meminta penulis-penulis lain untuk berkontribusi dalam satu brand yang sama, yakni Lonely Planet.

Mereka memutuskan untuk berdomisili di Melbourne, Australia, dan beroperasi dari situ.

Di buku ini, mereka bercerita tidak hanya soal detil perjalanan lintas negara dari Inggris ke Australia melalui jalan darat, tetapi juga tentang motivasi bagaimana Lonely Planet lahir, serta apa visi dan misi mereka melalui publikasi ini.


Tempat-Tempat Ramah Anak Kecil di Singapura

Sebenarnya, agak bingung juga membuat daftar ini karena hampir semua tempat wisata atau tempat umum di Singapura itu ramah anak kecil. Bayangkan saja, setiap sudut ditata rapi, trotoar hampir selalu tidak putus, keamanan dan kenyamanan ruang publik selalu dijaga. Tapi, tentu saja kami suka bingung jika akhir pekan tiba, karena opsi-opsinya biasanya mal lagi, mal lagi. Syukurlah, tidak seperti ketika kami tinggal di Jakarta, untuk sekedar ngadem, tidak perlu ke mal. Berikut beberapa tempat yang sudah kami kunjungi, yang kiranya cocok untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami.

Satu hal yang kami cari adalah ruang publik atau lokasi yang tidak terlalu ramai pengunjung, sehingga anak-anak pun lebih betah.

National Library

Terletak di Bugis, gedung perpustakaan pusat ini terdiri dari 16 lantai yang isi koleksinya bermacam-macam. Terdapat juga ruang kuliah dari beberapa universitas ternama. Tapi, yang paling penting, ada surga untuk anak-anak di lantai B1. Begitu masuk ke ruang perpustakaan pusat, carilah My Tree House, ruang buku dan bermain khusus anak-anak. Ruang ini sangat luas, dan ada replika rumah pohon di tengahnya, semuanya karpet, sehingga anak-anak bisa leluasa berlari-lari dengan membuka sepatunya. Orang tua pun senang dan adem ayem, sambil sesekali membacakan buku kepada anaknya.

Bandara Changi

Warga Singapura menganggap bandara kesayangannya sebagai sebuah destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Setiap ujung minggu, ada saja yang berkunjung hanya untuk makan, minum, belajar atau bermain. Ruang publik yang melimpah, opsi makanan dan belanja yang juga seperti mal, membuat bandara ini praktis menjadi tempat nyaman untuk menghabiskan waktu walau tidak terbang ke mana-mana. Di semua terminal terdapat ruang bermain anak yang tak kalah menarik dengan apa yang ada di mal, bahkan jauh lebih baik.

National Gallery

Atraksi baru ini terdapat di dekat MRT City Hall, tepat di depan Padang, lapangan besar yang menjadi saksi perayaan kemerdekaan tiap tahun. Baru saja diresmikan tahun 2015, museum seni ini memiliki ruang khusus anak-anak, yang bernama Keppel Center for Art Education. Di sini, ada bagian yang gratis, dan ada yang berbayar. Untuk yang gratis, ada ruang bermain dengan replika taman yang mengingatkan saya pada pesta teh di Alice in Wonderland. Untuk opsi berbayar, ada berbagai workshop menarik buat si kecil, tentunya bertema kesenian.

Stadium

Kami sekeluarga suka ruang terbuka, karena di sini si kecil bisa menyalurkan energinya secara bebas tanpa harus khawatir akan celaka atau mengganggu orang lain. Di Stadium, ada banyak ruang terbuka, mulai dari lingkaran untuk berlarinya di sekitar stadium—yang tertutup—sehingga bisa menghindari hujan, sampai di kawasan tepi airnya yang cukup luas. Ada juga taman air yang bisa digunakan jika anak anda ingin bermain air.

Changi Beach Park

Untuk opsi alternatif selain East Coast Park, bisa dicoba berkunjung ke Changi Beach Park, di timur Singapura dekat dengan bandara Changi. Ukurannya lebih kecil, tapi juga cukup leluasa untuk berjalan kaki. Yang menjadi sumber keramaian di sini adalah Changi Food Village, pujasera serba ada, tapi lumayan untuk mengisi perut ketika sudah lapar.

Kira-kira itulah tempat-tempat yang sudah kami kunjungi dan rekomendasi. Tentunya, ini bukan daftar yang definitif dan terbatas, nanti pasti kami perbaharui lagi.


Pindah ke Singapura

Hari pertama di Singapura

Mohon maaf karena kami sudah sangat sibuk akhir-akhir ini, untuk pindah ke Singapura. Ya! Kami sekeluarga akhirnya bisa merasakan hidup hijrah di luar negeri, walau hanya dekat, ke Singapura. Tapi, ini pengalaman yang luar biasa buat kami. Anak kami, Janis, yang baru berusia 1,5 tahun, ikut bersama kami.

Ketika tahu akan pindah ke Singapura, kami mulai mencari-cari apartemen. Pilihan pertama kali selalu ke Airbnb, lalu baru beberapa situs lokal seperti 99.co dan Nestia. Kami juga sempat melihat-lihat PropertyGuru. Tetapi, pilihan selalu jatuh pada properti yang ada di Airbnb. Menurut kami, properti-properti yang ada di Airbnb terasa lebih bersahabat dan bernada “selamat datang”. Properti yang ada di situs-situs khusus properti lebih bersifat berjualan, dan kami selalu was-was apakah kami akan diwajibkan membayar banyak hal. Trik kami, cari apartemen yang disewakan utuh, kelihatan biasa saja, dengan pemilik langsung yang profilnya baik dan bersahabat, lalu mencoba negosiasi sewa jangka panjang. It always worked like a charm.

Ada beberapa pilihan daerah yang kami inginkan di Singapura, walau sebenarnya hampir setiap daerah baik. Paling hanya masalah jarak. Tapi, bertahun-tahun tinggal di pinggiran di Bekasi dan Depok, lalu bekerja di Jakarta setiap hari pulang-pergi, tidak membuat kami goyah hanya karena dapat tempat tinggal jauh. Beberapa pilihan kami adalah Pasir Ris, Katong, Tanah Merah dan sekitar Botanic Gardens.

Taman di samping tempat tinggal kami

Pasir Ris, karena menurut kami daerah itu cukup ramah dengan keluarga, dan relatif masih murah, tetapi sangat jauh dari kantor. Tapi, dekat dengan bandara. Katong, karena saya pribadi senang dengan suasananya yang seperti Kemang, namun aksesnya agak nanggung dengan MRT, walau akses bis cukup banyak. Tanah Merah juga punya beberapa lokasi yang cukup mumpuni, tapi terlalu ramai buat saya karena daerah persinggungan. Botanic Gardens, karena daerahnya tenang, banyak penghijauan, tetapi mungkin agak mahal.

Ketika memilih, akhirnya pilihan jatuh pada Katong. Terutama karena dapat Airbnb yang bersahabat di sini. Sebuah kondominium tua yang masih terawat, dikelola oleh sebuah perusahaan keluarga yang memang memiliki tanah dan propertinya sejak bertahun-tahun. Saya merasa lebih percaya karena langsung berhubungan dengan salah satu anggota keluarga yang mengelolanya, dan lebih percaya karena mereka sudah mengelolanya paling tidak 20 tahun. Kami menemukan sebuah unit apartemen sederhana satu kamar dengan luas lebih kurang 90 meter persegi (total). Pikir saya, paling tidak ini cukup buat sekarang. Harga sewa per bulan sudah termasuk listrik, air dan gas (utility). Wah, ini terbaik buat lokasi dan luasnya. Memang, kami bisa mencari unit dua kamar yang lebih luas dengan harga seperti itu, terutama di pinggiran, tapi akhirnya kami memutuskan untuk di sini dulu, minimal setahun. Anak kami, Janis, juga masih kecil.

Yang jadi kekurangan adalah unit ini berada di lantai empat dan tidak ada lif. Artinya, kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari. Seminggu pertama sulit, tetapi setelah ditekuni, tidak begitu berarti. Kesulitan ini dikompensasi dengan fasilitas umum yang tersedia di dalam kondominium, seperti kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket dan area publik (rumput dan fasilitas bermain anak) di tengahnya yang dapat kami akses 24 jam. Selain itu, di sebelah kondominium terdapat taman umum yang juga cukup luas. Tak ada halaman rumah, tapi kami punya dua halaman besar! This is very important!

Syukur, ketika kami datang, walau belum ada seprei, ada beberapa perabot dan alat rumah tangga yang sudah dipersiapkan, seperti kulkas, mesin cuci dengan pengering, AC, sofa dan meja, meja makan dan kursi, jemuran, sampai ketel buat masak air. Alat makan seperti sendok, garpu, piring, mangkok dan gelas juga sudah ada walau sedikit. Hari pertama kami datang, kami hanya perlu membeli rice cooker.

Silakan tunggu cerita-cerita kami selanjutnya di Singapura (dan harapan besar kami, juga di perjalanan lain di luar Singapura dan Indonesia).


« Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil