Melihat Terminal 3 Baru Cengkareng


Salah satu sisi keren di bandara ini adalah ketika keluar dari pesawat.

Dalam rangka perjalanan kerja, akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba Terminal 3 baru di bandara Soekarno-Hatta, atau yang lebih sering disebut sebagai Terminal 3 Ultimate. Sebenarnya saya agak kurang setuju dengan istilah ini, karena terlalu membesar-besarkan dan seolah sudah final. Bagi saya, bandara akan selalu diperbaiki, ditingkatkan. Tidak pernah selesai.


Hal yang saya kagumi dari bandara ini: langit-langit tinggi dan kaca-kaca besar.

Catatan ini diambil pada bulan September 2016, yaitu satu bulan sejak dibukanya Terminal 3 ini pada bulan Agustus 2016. Saya paham ada beberapa sudut yang mungkin belum optimal. Ada juga berita-berita yang menunjukkan betapa pembukaannya terkesan terburu-buru dengan segudang masalah. Ada soal banjir, ada soal plafon yang rubuh, ada yang soal kualitas bahan bangunan yang kualitas rendah. Saya juga dengar dari teman-teman, kondisinya memang belum siap, papan marka yang tidak ergonomis karena ukuran hurufnya kekecilan, alur yang aneh, dan lain sebagainya. Macam-macam, pokoknya. Hingga, pada akhirnya, saya mencoba sendiri.


Antrian di salah satu pintu.

Pada malam itu saya akan terbang ke Surabaya dengan Garuda Indonesia, satu-satunya maskapai yang beroperasi di Terminal 3 ini, untuk saat ini. Dengan jantung yang berdebar-debar, saya turun dari taksi di area keberangkatan Terminal 3. Kesan pertama, besar dan luas. Mewah? Tidak. Nyaman? Tidak juga. Lantainya seperti lantai ruko atau rumah tinggal. Beberapa pilar tampak seperti tidak selesai, mungkin maksudnya gaya ala “industrial”.


Beberapa sudut masih terlihat suram dan redup.

Ada pemeriksaaan keamanan sesaat setelah masuk di pintu utama mana pun. Ini mungkin mengantisipasi serangan-serangan teroris atau ancaman keamanan lain. Memang, dari teras depan sampai masuk tidak ada pengecekan kendaraan dan siapapun bisa masuk. Kesan pertama? Megah! Tapi agak redup dengan lampu-lampu yang sinarnya kurang merata. Dengan lampu sinar putih, kesan mewah dan nyaman tidak terasa. Seharusnya, jika mereka belajar dan ingin menyaingi Changi, belajar juga ilmu desain interior dan belajarlah bagaimana penerangan mempengaruhi mood para pengguna ruangan itu. Warna kekuningan dapat menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Karena itulah Changi cenderung seperti ini. Perhatikan saja.

Tapi, yang saya suka adalah langit-langitnya yang super tinggi. Dibandingkan dengan Terminal 1 dan 2, saya tidak merasa klaustrofobik di sini. Karena semua kaunter check-in adalah untuk Garuda Indonesia, saya bebas memilih di mana saja selain Business Class dan First Class. Hampir tidak ada antrian panjang. Hanya dua atau tiga orang di depan saya. Proses check-in pun dilakukan sempurna selama 10 menit saja termasuk menunggu antrian.


Mengintip sisi internasional yang belum selesai.

Setelah itu, saya kelaparan. Saya lihat opsi makanan dan minuman di sini masih sangat sedikit, terutama di ruang publik sebelum keberangkatan. Oh ya, lain dengan Terminal 1 atau 2, pengantar bisa bebas masuk ke ruang check-in dan makan minum di sini. Opsinya hanya kafe seperti Starbucks, Krispy Kreme, makanan Bali (kalau tidak salah ingat) dan beberapa kios kecil. Itu pun semua masih dalam skala kios kecil. Saya tak paham. Masih ada ruang luas di mana-mana tapi yang digunakan hanya kios-kios kecil. Menumpuklah semuanya di situ. Antrian mengular. Saya putuskan hanya beli donat saja buat makan malam.

Setelah itu, saya pergi ke ruang keberangkatan (air side). Saya harus melalui pemeriksaan keamanan. Tempatnya sungguh luas dan bisa memilih di mana saja. Saya suka bagian ini, karena sangat luas, bisa menghindari antrian-antrian mengular seperti di Terminal 1 atau 2.

Setelah berada di ruang keberangkatan, terkejutlah saya karena areanya jauh lebih besar lagi, ada mezzanine-nya juga. Opsi makanan dan tokonya juga lebih banyak, seperti Liberica, Eat and Eat To Go dan beberapa kios makanan nasi dan lauk. Ada Mothercare dan Periplus. Seperti mal pada umumnya. Ada beberapa gerai lain yang masih dipersiapkan. Yang saya lihat ada FamilyMart. Yang lain tidak tahu apa. Semoga cepat selesai dan buka, karena kami semua kelaparan dan kehausan.


Sesaat setelah pemeriksaan keamanan.

Satu hal lain yang saya suka juga adalah ketersediaan toilet yang sangat memadai, dan ada di setiap dua pintu. Di tempat yang sama pula terdapat ruang menyusui bagi ibu-ibu yang punya bayi. Bersih dan besar. Ada travelator yang membantu kita untuk lebih cepat di pintu tujuan (ya, walau masih digunakan untuk “berdiri santai” instead of jalan cepat). Ini juga kali pertama saya bisa bekerja di laptop dengan tenang karena banyak sekali sudut-sudut yang tenang. Bagi penikmat pesawat, pasti senang ada di sini karena tersedia tempat-tempat duduk yang menghadap ke jendela besar nan tinggi melihat pesawat-pesawat lalu lalang.


Tempat duduk yang lumayan keras tapi yang penting menghadap ke jendela.

Secara pribadi, saya lebih suka ruang air side ini, karena lebih tenang, luas dan akomodatif terhadap kebutuhan pejalan seperti saya, paling tidak pada saat ini ketika semua fasilitas belum siap secara merata. Yang bisa saya sarankan adalah, tetap, suasana menjadi redup ketika malam dan tidak nyaman karena memakai penerangan putih. Silau sekali melihatnya. Satu pintu juga masih ada tiga penerbangan dan antrian akan menumpuk sehingga membuat penerbangan yang terakhir menjadi tertunda 45 menit.

Ketika turun dari pesawat, di dalam garbarata juga sangat panas sekali, tidak ada pendingin udara.


Turun dari pesawat, di garbarata. Panas sekali di sini.


Di area pengambilan bagasi, masih ada pekerjaan seperti ini.

Satu hal lagi, saya melihat ada beberapa sudut dinding yang sudah berjamur, atau pekerjaan yang tidak rapi. Setengah-setengah. Tolonglah, ini bandara internasional.


Ada jamur di beberapa sisi dinding.

Tapi saya harus tetap mendukung ya? Nanti ada yang mengejek-ngejek saya tidak nasionalis…


Tentang Kopi

Tulisan ini adalah kontribusi dari Arif Widianto, sahabat kami sejak lama yang juga penginisiasi Ransel Kecil. Terima kasih, Mas Arif!

Biji kopi

Minum kopi akan selalu berbeda.

Saya kenal kopi ya kopi murni. Kopi sejati. Asli. Kopi racikan nenek saya.

Biji kopi mentah berwarna hijau itu dipanggang di atas wajan. Setelah itu biji kopi matang digiling halus. Kopi bubuk dimasukkan kaleng. Setiap hari, kakek dan nenek saya bisa bikin kopi asli seperti itu. Ada dua anak beruntung di rumah, saya dan adik, ya, kita boleh cicip kopi.

Kopi gaya orang Jawa biasanya ditambah gula. Manis. Kental. Kopi akan menghangatkan suasana pagi itu sebelum kakek pergi ke sawah. Atau sebelum nenek pergi ke pasar.

Ketika saya mulai bekerja, saat itu baru mulai budaya minum kopi instan.

Kopi bubuk instan, begitu awalnya. Urusan gula harus ditambah sendiri.

Kemudian ada yang membuat kopi susu. Saya ingat agak merasa aneh saat itu, kopi kok dicampur susu? Mana saya anak desa ini gak senang susu. Eh ternyata semua orang suka saja, termasuk saya. Laris.

Varian kopi instan pun beragam: kopi bubuk, kopi dan gula, kopi-susu-gula, kopi-gula-ginseng, kopi-gula-coklat, dan banyak macam lagi. Ada pula kopi instan dalam kaleng, kopi instan botol plastik. Dengan aneka rasa.

Orang kemudian mengenal kopi dingin. Sebelumnya, kopi itu selalu panas.

Semua yang serba instan mungkin dibuat untuk membuat segalanya gampang. Bahkan untuk urusan kopi.

Tak terasa, setelah puluhan tahun, setelah merasuki jutaan rumah, ratusan juta cangkir, milyaran tegukan, kopi instan sudah menjadi budaya.

Gemerisik bungkus plastik. Tinggal sobek. Tuang air panas. Aduk. Jadilah, kopi instan. Kopinya kita, hingga beberapa saat kemudian…

Budaya instan kemudian menghadirkan kedai kopi. Ada kedai kopi murahan hingga kedai kopi mahal.

Kedai kopi bisa hadir dalam bentuk waralaba kedai yang tertata rapi dan cantik di pojok perempatan di depan Sarinah. Kedai kopi bisa maujud dalam remang-remang berbau busuk got dan semerbak sampah di pinggir terminal Pulogadung.

Bersyukurlah Anda yang pernah menikmati kedua sensasi kedai kopi macam itu. Itulah kehidupan. Kehidupan bisa dikenal dari secangkir kopi setiap orang.

Saya lupa berapa kali minum kopi di warung yang menyajikan kopi bungkus seperti itu. Tak terhitung. Semua itu membawa kenangan tersendiri.

Ada saat tengah malam nongkrong makan Indomie telor bersama kawan-kawan kos di Pasar Cideng.

Ada juga saat ketika di Jakarta tak ada angkutan dan mobil di jalan raya. Hanya lalu lalang mobil tentara, ambulan, dan bunyi sirine. Bahkan saya pun bisa berdiri di tengah jalan Thamrin saking sepinya. Tapi masih ada saja penjaja kopi beredar di jalanan. Dari mereka lah dahaga kopi terpuaskan.

Juga ketika saya terjebak di Terminal Tirtonadi Solo dalam perjalanan ke Jombang menumpang bus. Tak ada bus ke Jawa Timur karena jalan rusuh oleh pendukung Bu Mega yang gagal terpilih jadi presiden. Kopi di terminal mengingatkan saya kejadian ketika saya harus balik lagi naik bus ke Jakarta.

Kopi memang kawan yang tepat untuk saat menunggu.

Jadi ingat pula saat minum kopi berdua saat bersama pacar yang kemudian jadi ibunya anak-anak.

Kopi menciptakan kenangan. Atau kenangan tercipta karena kopi?

Hingga kemudian, saya, dan juga banyak orang lain, kembali ingat bahwa negara ini ada produsen kopi berkualitas.

Kalau kita punya kopi berkualitas, kenapa kita hanya merasakan gula berasa kopi? Karena saking manisnya. Atau kenapa pula hanya puas dengan kopi berasa jagung? Meski sudah diberi banyak tulisan tentang “murni”, “asli”, dll.

Hanya dari kedai kopi lah kita berharap bisa mendapat kopi bermutu. Ya, memang tidak semua kedai kopi. Mayoritas kedai kecil menjual kopi instan. Tapi saya pernah mencicipi kopi asli, khas, kuat, diracik secara tubruk di sebuah kedai pinggir jalan di sebuah kota kecil (lupa di mana!). Beberapa kedai kopi mahal menyajikan varian kopi berkualitas dari lokal hingga asing.

Eh, omong-omong kopi mahal, kopi mahal pertama saya cicipi di kota Las Vegas.

Saya pernah berlagak demikian. Jadi tuan berkantong tebal minum kopi di kedai mahal. Tidak sepenuhnya ingin berlagak sih, tapi keadaan memaksa demikian.

Saya baru kenalan dengan anak Venezuela ini. Saat itu saya tak bisa tidur karena jetlag. Tampaknya dia juga demikian, entah karena apa. Saat itu sudah lewat tengah malam. Kami ketemu di tengah jalan, dan kebetulan ada kedai kopi itu, Saya ajak kawan ini. Perlente dan ganteng anaknya. Hush, jangan curiga macam-macam. Bayangkan Marlon Brando muda ketemu Rano Karno muda, kira-kira begitulah wajah dua orang di kedai itu, tak bisa dibayangkan…

Kami berdua dari negara miskin. Wajar dong sekali-kali ngopi, di Amerika lagi. Ingat pesan istri saya ini, kalau ingin merasakan kemewahan memuaskan mulut dan perut, cicipi makanan atau minuman di tempat makanan itu berasal. Ingin sushi, ya nanti makan di Jepang. Ingin kopi Starbucks, jadi wajar dong di Amerika. Begitulah argumentasi pikiran saya.

Saya bayar $4 untuk secangkir kopi hangat di kedai berlogo hijau itu. Saya kira relatif tidak mahal kalau makanan cepat saji pun dijual seharga $7-$10. Hampir tiap hari makan di restoran cepat saji, sebab itu makanan termurah. Tidak ada warung pojok yang jual nasi bungkus di negeri Amerika. Harga kopi itu relatif murah. Relatif untuk situasi saat itu.

Itulah kopi pertama saya di Starbucks. Bahkan saya lupa bagaimana rasa kopinya.

Secangkir kopi

Kedai kopi yang awalnya murni urusan jual beli kopi, saat ini jadi ranah publik. Tempat untuk bertemu dan bikin janji. Mungkin itulah mereka berani jual lebih mahal.

Kopi instan dan kedia kopi menawarkan budaya instan. Segala yang instan awalnya dibuat sebagai pengganti. Bila bepergian, kita pasti repot bila harus membuat kopi sendiri, maka dibuatlah kopi instan seperti itu. Ironisnya, budaya kopi instan justru menjadi gaya minum kopi massif. Hingga gaya ngopi di rumah pun menjadi budaya kopi instan. Industri punya peran besar dalam hal ini. Tak tak sepenuhnya salah mereka. Kita sendiri yang terlalu terlena. Atau kita sendiri juga menikmatinya.

Konyolnya, produk kopi instan dari dua perusahaan kopi terbesar di Indonesia saat ini sudah menyasar pasar negara lain seperti Malaysia dan bahkan higga Afrika sana.

Tapi jangan lupa, negeri kita mempunya kopi berkualitas. Beragam varian rasa dari seluruh nusantara. Ragam kopi ini, bila dibikin sendiri di rumah, seperti yang dilakukan nenek saya dulu, pasti jadi pengalaman minum kopi tak terlupakan dan tidak mahal.

Kopi Arabika 1.000 gram berkualitas cukup bagus bisa kita beli seharga Rp120.000, termasuk ongkos kirim. Bila dicampur kopi Robusta lokal, biaya itu bisa lebih murah lagi. Katakanlah kita memakai 8 gram biji kopi untuk satu cangkir, sejumlah kopi tadi cukup untuk membuat sekitar 125 cangkir. Ingat 8 gram kopi bisa jadi sudah terlalu “kuat” bagi sebagian orang. Jika satu bungkus kopi instan dijual seharga paling murah Rp1.000, maka kita perlu dana Rp 125.000 untuk membuat 125 cangkir kopi. Di luar gula, bila kita memang suka, dana yang kita keluarkan hampir sama. Anda bisa mencicipi aneka kopi dari Aceh, Jawa, Toraja, Papua, Flores, dan lain-lain. Dengan kualitas dan rasa yang jauh berbeda!

Ada kopi yang pahitnya minta ampun. Ada yang diselingi asam menyakitkan perut, bila Anda tak cocok. Ada pula aneka rasa buah-buahan, coklat, juga aroma sekitar kopi yang bisa masuk ke rasa kopi. Bahkan ada satu jenis kopi asing dari Afrika yang punya tiga rasa berbeda ketika baru masuk mulut, ketika kita hisap di dalam rongga mulut, dan setelah kopi masuk tenggorokan. Sensasi ngopi tak akan sama.

Ah, membahas kopi aja jadi panjang lebar begini. Tapi membahas kopi rasanya tak akan pernah selesai.

Karena terkenalnya kopi sebagai minuman kaum muslim, Paus Pope Clement VIII konon ditekan sejawatnya untuk mendeklarasikan sebagai “Temuan Pahit Setan”. Setelah mencicipinya, konon katanya Paus berkata, “Minuman setan ini begitu lezat. Kita harus mencurangi Setan dengan membaptisnya”. Hehehe, ada-ada saja, anggap saja cerita hiburan.

Kita pergi ke kedai kopi bila memang ada keperluan. Atau, bila suasana tidak mendukung dan perlu tendangan kafein, kadang bikin kopi instan juga tak masalah. Lalu ingatlah saat-saat memilih varian kopi, suara gilingan menghancurkan biji kopi, menunggu tetesan air panas merayu bubuk kopi agar menyumbangkan aroma dan rasanya, hingga kemudian siap satu cangkir kopi hitam. Kemudian saat duduk sendiri, bersama kawan, atau bersama orang yang kita cintai, masuknya rasa pahit, asam, aroma rempah, buah-buahan, coklat, dan ragam rasa lainnya merasuk ke dalam otak kita. Seolah ingin mengatakan dunia begitu berwarna. Pahit, memang. Tapi kita akan selalu menikmatinya.

Pada akhirnya minum kopi adalah merasakan pengalaman yang berbeda.


Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.

Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.

Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.

Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!

Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.

Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.

Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.

Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.

Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.

Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.

Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.


« Artikel sebelumnya

© 2016 Ransel Kecil