Catatan Perjalanan

Menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Resorts World Sentosa, Singapura

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Semalam saya berkesempatan menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Universal Studios, Singapura. Apa yang terjadi kemarin setelah matahari terbenam? “Demoncracy” merajalela, mengambil-alih Universal Studios dipimpin oleh Minister of Evil.

Empat scare zones dan empat haunted houses yang diset sukses membuat kami merinding disko semalaman.

Jack's Nightmare Circus
Jack’s Nightmare Circus.

Tips

Menggunakan Mobile Wi-Fi Router untuk Berwisata di Singapura

dalam kategori Tips ditulis oleh

Salah satu masalah ketika bepergian ke luar negeri adalah kebutuhan paket telepon dan data. Paket data bisa jadi adalah masalah yang lebih penting saat ini karena hampir semua kegiatan di telepon atau perangkat mobile kita dilakukan over the cloud atau melalui internet.

Sudah tidak zaman lagi kita berkirim SMS, kita akan bertukar pesan melalui aplikasi ngobrol seperti WhatsApp, Line atau iMessage. Sudah tidak zaman lagi kita mengkhawatirkan bertelepon mahal ke keluarga di tanah air, karena kita sudah bisa menggunakan Skype atau Google Hangout. Semua dalam satu tarif yang jauh lebih ekonomis. Selain itu, kebutuhan navigasi di daerah tujuan menjadi hal lain yang penting. Dengan Google Maps atau aplikasi peta lain, kita tak perlu bertanya jika sesat di jalan. Kita bisa lihat ulasan restoran atau atraksi tertentu sebelum mencobanya agar tidak kerugian. Kita tahu jarak dan waktu yang harus ditempuh dari titik A ke titik B. Bagi yang senang ngeblog atau beraktivitas di media sosial, kebutuhannya lebih konstan dari menit ke menit.

Wi-Fi Router
Wi-fi router.

Ulasan

Mengalami Halloween di Resorts World Sentosa, Singapura

dalam kategori Ulasan ditulis oleh

Salam hangat dari Resorts World Sentosa, Singapura!

Resorts World Sentosa telah beroperasi lebih dari empat tahun, dan mereka terus mengajak para pengunjung datang kembali. Ini adalah resor terintegrasi pertama di Singapura.

Oktober mendatang, Universal Studios Singapura akan mempersembahkan acara Halloween unggulan – Halloween Horror Nights. Acara yang telah dilangsungkan ke empat kalinya, dijanjikan sebagai pengalaman Halloween paling menyeramkan di Asia. Dengan 4 rumah hantu, 4 scare zone yang menyeluruh, dan 13 malam acara menakutkan selama bulan Oktober dan November, para pengunjung akan dibawa ke dalam set film horor berkualitas tinggi ketika mereka menghadapi ketakutan mereka. Alami Universal Studios Singapura tidak seperti biasanya dengan beberapa pilihan wahana, pertunjukan dan atraksi yang tersedia sepanjang malam. Ini adalah pengalaman taman bermain Halloween yang menyeluruh, hanya untuk Anda yang bernyali besar.

Catatan Perjalanan

Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.
Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.

Pelesir itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

Makanan

Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat: Rajanya Makanan Laut

dalam kategori Makanan ditulis oleh

Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.
Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.

Namanya “Tembok Berlin”, seperti nama kota di Eropa, namun ini hanya kemiripan nama saja dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Eropa. Tembok Berlin adalah tempat makan makanan laut paling ramai di kunjungi di Kota Sorong, Papua Barat.

Saya kurang begitu paham mengapa tempat ini dinamakan Tembok Berlin. Saya sempat bertanya kepada pedagang disekitar Tembok Berlin dan petugas hotel tempat saya menginap, namun mereka pun kurang begitu paham mengenai filosifi asal-muasal nama itu.

Saya berjalan menyusuri Tembok Berlin, megarahkan pandangan ke arah laut, terlihat kapal-kapal besar mulai dari kapal tanker sampai dengan kapal pinisi, angin berhembus sejuk membawa hawa kesegaran. Saya menghentikan langkah di sebuah tenda, tempat penjual makanan kecil untuk rehat sejenak ditemani segelas susu hangat. Saya duduk tepat di depan tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai, santai sambil menyeruput susu hangat, kehangatannya sangat cocok di udara dingin akibat mendung.

Sore hari yang damai, awan-awan terlihat sedikit menghitam, namun tidak mengurangi magnet keindahan Kota Sorong menjelang senja. Suasana begitu santai, berkumpul bersama penduduk lokal, kawula muda, berdialog santai menunggu senja.

Senja yang ditunggu tidak begitu sempurna, terhalang awan-awan hitam, sang surya pun tidak begitu terlihat jelas, namun tetap terlihat rona jingga khas senja yang menjadi pemanis suasana.

Ulasan

Bagaimana AirAsia Mengubah Hidup (Jalan-Jalan) Saya

dalam kategori Ulasan ditulis oleh

Pramugari AirAsia melayani penumpang
Pramugari AirAsia melayani penumpang

Saya baru senang jalan-jalan sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009, itu juga karena beberapa tahun sebelumnya saya sudah mulai bekerja, bisa menabung dan bisa menentukan bagaimana saya membelanjakan tabungan saya. Dari kuliah, saya sudah senang membaca artikel-artikel perjalanan. Bahkan, dari SMP pun, saya kadang membaca majalah National Geographic dan bermimpi menjadi fotografer. Fotografer idola saya waktu itu adalah Reza Deghati. Liputan yang membuat saya terinspirasi adalah liputan tentang Iran dan Maroko. Warna-warna menarik dan lanskap yang getir membuat saya ingin langsung pergi ke sana dan mencoba merekam semuanya dari kacamata saya sendiri.

Catatan Perjalanan

Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Transportasi

Menyentuh Hati Pejalan dengan “The Changi Experience

dalam kategori Transportasi ditulis oleh

Bandara Internasional Changi di Singapura adalah hub udara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu yang terbesar di Asia. Menghubungkan lebih dari 270 kota di 60 negara, bandara ini menawarkan maksimum waktu transfer 60 menit untuk perjalanan transit. Bagi pejalan ransel, juga ditawarkan program Changi Connects yang membuat transfer penerbangan dari dan ke penerbangan hemat biaya tanpa harus melewati imigrasi atau harus mengambil bagasi mereka dulu. Efisiensi perjalanan penerbangan adalah kunci di bandara ini.

Bandara Changi dari menara
Bandara Changi dari menara

Catatan Perjalanan

“Live on Board” di Komodo

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Catatan Perjalanan

Memburu Salju Musim Gugur (Bagian 1)

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Toko peta tua di Gamla Stan
Toko peta tua di Gamla Stan.

Beberapa perjalanan udara, darat dan air membawa saya ke kota keberangkatan: Stockholm, Swedia, kota berpenduduk 1,2 juta jiwa. Musim gugur berarti kunjungan turis mengalami penurunan, sebelum melonjak lagi pada musim dingin yang sudah di pelupuk mata. Bis yang membawa saya dari Kopenhagen, Denmark itu berhenti di Cityterminalen pada waktu subuh. Hari sangat gelap, suhu dan angin menusuk dan menembus kulit. Hitungan suhu pun masih dianggap relatif “hangat” dengan kisaran 0-10°C, tetapi tentu ini sama sekali tidak hangat buat saya dan mereka yang berasal dari negara tropis.

Saya lihat dompet. Beruntung, saya sempat menukarkan sisa krona Denmark ke krona Swedia. Setelah mampir ke Pressbyrån, sebuah toko kecil serba ada, sarapan roti isi dan segelas susu hangat melegakan tubuh yang kelaparan ini. Jadwal selanjutnya, mencari hostel di bilangan Södermälarstrand, daerah yang cukup sentral di kota Stockholm. Perjalanan dengan kereta bawah tanah untuk satu zona mencabai 40 krona Swedia atau sekitar Rp52.000,-. Tarif ini relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain seperti Jerman atau Amerika Serikat. Apalagi setelah menyadari ternyata jarak yang ditempuh cukup dekat, hanya sekitar tiga stasiun. Beberapa pertanyaan dan salah jalan berikutnya, sampailah saya di hostel yang dibangun dari kapal bermesin uap yang sudah dinon-aktifkan, tetapi masih mengapung di dermaga.

MEDIA SOSIAL

LANGGANAN