Antara Nyaman dan Hemat, Pilih Mana?

Melakukan perjalanan atau liburan identik dengan menghabiskan uang. Karena itu, muncullah kredo jalan-jalan hemat atau backpacking. Lalu muncullah lagi istilah flashpacking, di mana tetap hemat tapi ada kalanya mencari kenyamanan. Bagusnya, industri pariwisata mendukung. Banyak maskapai penerbangan murah, hotel dan hostel yang terjangkau, serta infrastruktur beberapa negara menunjang perjalanan independen.

Ambil kereta api malam untuk menghemat akomodasi.
Ambil kereta api malam untuk menghemat akomodasi.

Awal saya rutin melakukan perjalanan, saya juga mengikuti kredo flashpacking. Ada beberapa hal yang saya hemat sekali, tetapi ada beberapa situasi di mana menurut saya pantas jika kita mendapatkan yang terbaik walau harga lebih mahal.

Ditinjau dari beberapa komponen perjalanan, saya dapat menilik beberapa hal yang bisa dihemat dan beberapa hal yang bisa ditoleransi dari segi anggaran.

Akomodasi

Penginapan bisa dihemat jika kita fokus ke pengalaman di lokasi. Penginapan biasanya hanya untuk istirahat atau tidur. Yang paling penting justru lokasi dari tempat menginap, walau jauh tapi jika akses ke sarana transportasi umum baik, maka semua penderitaan terbayar sudah.

Jika bepergian berdua atau lebih, anda bisa menghemat pengeluaran juga dengan berbagi kamar.

Wisata yang dipandu. Tur atau wisata yang dipandu dapat menjadi lebih hemat atau malah boros. Perhatikan destinasi, apakah bisa dieksplorasi dengan jalan kaki atau harus dengan kendaraan? Ada kalanya akan lebih hemat jika jarak antar destinasi cukup jauh dan mengejar kepastian dari segi waktu dan biaya. Jika semua destinasi bisa dijangkau dengan jalan kaki atau naik kendaraan umum yang relatif murah, maka lebih baik melakukan eksplorasi sendiri.

Penerbangan

Menurut saya, tak apa membayar lebih untuk jam penerbangan yang lebih masuk akal atau sekedar membeli perasaan aman. Penerbangan panjang justru memerlukan kenyamanan lebih, sehingga jangan ragu untuk membeli tiket maskapai yang lebih baik atau kursi ekonomi plus itu.

Selain transportasi udara, transportasi darat seperti bis umum dan kereta api juga lebih baik mengutamakan kenyamanan dan keamanan. Trik menghemat untuk ini adalah selalu gunakan jam malam ke pagi sehingga dapat menghemat akomodasi. Cari sleeper bus atau sleeper train. Tidur di kelas yang lebih nyaman agar bisa segar di esok hari ketika sampai di tujuan.

Kuliner

Untuk saya pribadi, pengalaman kuliner adalah salah satu yang terpenting, oleh karenanya saya tidak masalah untuk sedikit mengeluarkan uang lebih demi pengalaman yang menyenangkan. Tetapi, ada kalanya kita memang harus berhemat. Ketika di Berlin, Jerman, setiap hari saya hanya beli roti yang cukup besar untuk dibawa sambil berjalan kaki. Lumayan menghemat makan siang. Air minum saya bawa dari hostel, diisi dari air keran. Namun, ketika di Hanoi, Vietnam, saya banyak makan karena tertarik dengan hampir semua makanan di jalan.

Tas dan isinya

Baju, alat mandi, dan tasnya sendiri dapat menambah pengeluaran. Saya suka berlatih untuk hidup seadanya dari pilihan yang terbatas. Jika pergi seminggu, saya pak 3 atau 4 pasang baju saja, dengan 1 atau 2 celana pergi. Alat mandi juga saya bawa secukupnya, tidak lebih dari 100ml untuk setiap cairan. Jika terpaksa, kita bisa beli di tujuan dengan harga yang relatif murah. Membawa beban berlebih dan membawa koper dapat menyebabkan kita harus naik taksi, yang tentu saja lebih mahal.

Menghabiskan waktu di bandar bisa menyenangkan sambil menghemat waktu.
Menghabiskan waktu di bandar bisa menyenangkan sambil menghemat waktu.

Komunikasi dan data

Komunikasi dan data cukup penting, sehingga biasanya saya akan membeli paket yang maksimal. Dengan modal internet cepat, kita bisa eksplorasi lokasi lebih cepat dan efektif. Jadi, jangan pelit untuk yang satu ini.

***

Kesimpulannya, saya lebih baik mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi, kuliner dan komunikasi. Namun, tentunya semua ini berbeda untuk setiap orang. Bagaimana dengan anda?

Kaos Ransel Kecil Kembali!

Halo pembaca! Kami punya kabar gembira. Kaos Ransel Kecil kembali. Kali ini kami membuka toko online di Tees.co.id. Kami akan terus menambah koleksinya, kemungkinan tidak hanya kaos tapi juga barang-barang lain. Jadi, tunggu tanggal mainnya!

Kali ini, ada dua pilihan desain kaos. Keduanya merupakan rancangan kaos yang simple namun tetap keren dipakai ketika jalan-jalan.

Ransel Kecil Travel Checklist

Jangan pernah lupa baca ranselkecil.com sebelum berangkat! Ayo beli di sini.

Ransel Kecil Travel Checklist

Ransel Kecil Green Shirt

Warna hijau yang ini kami suka, dan logo ranselkecil.com tampak keren di sini. Yuk, beli!

Ransel Kecil Green Shirt

Terima kasih dukungannya, ya!

Dari Tele, Memandang Toba

Semburat fajar di Danau Toba
Semburat fajar di Danau Toba

Berawal dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Tomok
Tomok

Toba, dari Tele
Toba, dari Tele

***

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Segera mencebur
Segera mencebur

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

Sesampainya di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufik Taqdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Keesokan paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Penginapan bergaya rumah Bolon
Penginapan bergaya rumah Bolon

Patung-patung di makam Raja Sidabutar
Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua.

Taj Mahal: Sebuah Memorial Cinta atau Kuil Bagi Shiva?

Kemegahan Taj Mahal
Kemegahan Taj Mahal.

Di antara sekian banyak warisan UNESCO di India, Taj Mahal merupakan destinasi utama yang biasanya menjadi niat awal para turis mengunjungi negara ini. Namanya muncul lebih dari 42 ribu kali bila kita memasukan kata kunci ini di kotak pencarian Google. Berbagai ulasan di beberapa situs wisata mengenai tempat ini banyak mengungkap keindahannya yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya dan dibuktikan dengan adanya pengunjung yang dapat mencapai sekitar 45 ribu per hari.

Menulis tentang Taj Mahal ternyata lebih sulit daripada menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Taj Mahal adalah salah satu monumen di India yang tidak mampu dideskripsikan keindahannya melalui torehan pena. Mengunjungi Taj kali kedua ini, saya bermaksud membuktikan semua kontroversinya yang pernah marak beberapa tahun lalu. Entahlah, kisah cinta yang melatarbelakangi pembuatan monumen ini yang selalu didengung-dengungkan menurut saya masih “kurang cukup” sebagai alasan pembuatannya.

Berlokasi di Agra yang merupakan bagian utara dari Uttar Pradesh, di pinggir sungai Yamuna, Taj Mahal konon dibangun pada tahun 1631 oleh Shah Jahan, seorang raja dari dinasti Mughal sebagai bentuk cinta kasihnya terhadap istri ketiganya yang bernama Mumtaz ul-Zamani. Mumtaz sendiri diceritakan meninggal dunia saat melahirkan anak ke-14 nya. Bagian utama mausoleum selesai pada tahun 1648, sedangkan lima tahun berikutnya daerah taman dan bangunan lainnya baru dapat diselesaikan. Taj Mahal sendiri merupakan gabungan dari arsitektur Mughal dan Persia, dan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari penjuru dunia lainnya, misalnya Afganistan, Arab, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, dan lainnya. Marmer putih merupakan bahan utama dalam pendirian bangunan megah ini selain berbagai jenis batu berharga lainnya dan konon diperoleh dari daerah Makrana, Rajashtan. Dua puluh ribu buruh bekerja siang-malam selama 22 tahun untuk membangun Taj yang megah ini.

Agra dapat dicapai dengan menggunakan kereta api, bis ataupun pesawat dari kota-kota besar di India. Perjalanan kereta api dari New Delhi sekitar dua jam saja.

Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11
Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11.

Memasuki Taj Mahal, pengunjung lokal akan dikenai biaya 10 rupee (kecuali kunjungan malam 510 rupee), sedangkan turis asing 750 rupee, tiga kali lipat bila dibandingkan tempat peninggalan UNESCO lainnya. Barang-barang elektronik, rokok, korek api, dan bahkan makanan atau minuman tidak diperkenankan untuk dibawa. Sebagai gantinya, pengunjung akan mendapatkan satu botol air mineral setelah membayar tiket masuk. Pengamanan saat memasuki Taj Mahal hampir serupa di bandara. Wajar saja, mengingat beberapa kali monumen ini diancam akan dibom oleh teroris. Bagi para fotografer, pemakaian tripod tidak diperkenankan (percayalah, saya tidak pernah mengerti alasannya) dan harus ditinggal di bagian sekuriti. Kotak deposit disewakan di bagian sekuriti dengan biaya 20 rupee saja. Namun saran saya, sejak awal, hanya membawa tas tangan berisikan kacamata hitam, dompet, hp dan kamera saja untuk menghindari masalah dengan sekuriti ini. Taj Mahal dapat dikunjungi kapanpun, kecuali hari Jumat. Tidak disarankan datang saat musim panas, karena temperaturnya biasa mencapai 50 derajat.

Darwaza-i Rauza merupakan pintu gerbang utama yang akan kita temui sesaat sebelum memasuki area utama Taj Mahal. Dari gerbang ini dapat dilihat kekuatan arsitektur Mughal yang seirama dengan tulisan kaligrafi yang terlukis di dinding Taj Mahal nantinya.

Setelah itu, kita akan disambut dengan taman Mughal seluas 300m. Taman ini terbagi empat dengan adanya air mancur dan sepasang jalan setapak. Konon taman ini merupakan penggambaran dari lukisan tentang surga yang memiliki 4 sungai yang mengalir di dalamnya. Desainnya simetris sedemikian rupa bagaikan bayangan pada kaca dan semua mengarah ke mausoleum. Terdapat kolam berbentuk oktagonal di pertengahan taman yang dapat menunjukkan refleksi Taj di dalam air. Hingga kini, taman ini merupakan area yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengabdikan momen di Taj Mahal dengan kameranya atau sekedar duduk-duduk menikmati keindahan taman yang cukup teduh. Di pertengahan taman terdapat sebuah bangku marmer yang biasanya menjadi tempat bagi para pengunjung untuk berfoto dengan gaya seperti sedang “menjepit” bagian kubah dari Taj Mahal. Bangku ini merupakan bangku yang sama yang diduduki Ratu Diana saat berfoto di depan Taj Mahal.

Di penghujung taman, menjulanglah sosok bangunan utama dari komplek ini yaitu daerah mausoleum yang berbentuk struktur oktagonal simetris dengan empat buah pintu masuk berbentuk lengkung busur. Bangunan marmer putih ini ditaburi arsitektur campuran Persia dan Hindustani. Di sana-sini tampak berbagai pahatan dekoratif dan bunga lotus. Kaligrafi Qur’an mewarnai dinding dengan torehan surat Ya Sin, Al Fajr, AL Ikhlas, dan lain-lain.

Keempat menara (chattris) yang juga berbentuk simetris berada di sekeliling mausoleum ini. Nampak pula kedua makam dari Mumtaz. Di sinilah pemandu tur biasanya akan membuai Anda dengan kisah cinta sang raja yang telah jatuh cinta pertama kali pada Mumtaz saat melihatnya dari balik dinding istana semenjak usia 15 tahun. Mumtaz digambarkan sedemikian cantiknya, yang bahkan diungkapkan dengan untaian baris kata, “even the moon feels shy to hit her face“. Di kanan dan kiri mausoleum ini terdapat bangunan yang hampir sama miripnya satu sama lain, terbuat dari batu pasir merah, dimana yang satu diperuntukan untuk mausoleum kedua istri Shah Jahan lainnya dan yang satunya sebagai makam pembantu kesayangan Mumtaz itu sendiri. Di penghujung kompleks ini sendiri terdapat dua bangunan lainnya, yang digunakan sebagai masjid dan guest house. Desain masjid ini hampir sama dengan desain Jama Masjid di Delhi yang juga dibangun Shah Jahan. Tampak struktur lain yang lebih kecil yang konon merupakan music house di zamannya dan kini dijadikan museum.

Keindahan Taj selain menimbulkan decak kagum, namun juga berbagai mitos dan kontroversi turut berjalan mengiringinya. Adalah P.N. Oak, seorang penulis dari India yang memperdalam mitologi, mengungkap “cerita sesungguhnya” dari Taj Mahal melalui bukunya pada tahun 2001. Sedemikian kuatnya kontroversi ini sehingga pemerintah India melarang pencetakan buku dan bahkan mengancam para penerbit yang berusaha mencetak ulang. Cerita P.N. Oak inilah yang membawa saya kembali mengunjungi Taj setelah bertahun-tahun larut dengan kisah cinta dari tempat ini, yang mestinya dibangun dengan alasan lebih dari sekedar cinta di baliknya. Bagi saya sendiri, semua monumen di India memiliki cerita yang cukup unik untuk ditelusuri.

Opini mengenai Taj awalnya adalah sebuah kuil Shiva diawali dengan kerancuan arti dari nama Taj itu sendiri. Seperti kita telah tahu bahwa pada kata Mumtaz, terdapat lafal Taz dan bukan Taj. Mahal sendiri dapat diartikan sebagai istana; bukan mausoleum atau makam. Nama Taj Mahal sendiri tidak pernah muncul dalam beberapa pencatatan selama dinasti Shah Jahan atau anaknya, Aurangzeb. Padahal dengan jumlah buruh sedemikian banyak dan modal uang yang sedemikian besar untuk membangunnya, sewajarnya terdapat pencatatan mengenai hal ini. Nama Taj ini bahkan justru lebih sering disebutkan dengan kata Tejo Mahalaya, yang menunjukan sebagai nama kuil Hindu bagi Shiva. Aurangzeb yang memang terkenal anti-hIndu bahkan lebih sering menyebutnya sebagai tempat suci.

Di India, konon pernah disebutkan adanya 12 jyotirlingas (lambang Shiva yang utama) dan dikatakan yang terbesar dan terakhir berada di Taj dalam bentuk Naganathesawar; di mana Shiva berada dalam relung ular kobra. Struktur ini yang diprediksi tertimbun di bawah makam “palsu” dari Mumtaz di areal Taj. Agra sendiri sebagai kota Shiva memiliki ritual dan kepercayaan kuno yang telah berlangsung berabad tahun lamanya. Kepercayaan Agra juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki lima patung Shiva, yang hingga kini baru ditemukan empat di antaranya, oleh karena di Taj Mahal-lah patung shiva kelima ini konon berada.

P.N. Oak juga menuturkan berbagai bukti lainnya, misalnya kadar karbon-14 pintu sisi timur Taj yang ternyata berusia 500 tahun sebelum masa pemerintahan Shah Jahan dan hilangnya struktur gajah yang pernah disebutkan oleh turis asing yang pernah mengunjungi Taj pada masa 1700 an. Tidak diketahuinya secara jelas kapan Mumtaz sebenarnya meninggal dunia, kapan Taj didirikan, dan kenyataan bahwa Shah Jahan memiliki lebih dari 5000 wanita di haremnya membuat motif pembuatan Taj berdasar cinta semata rasanya terlalu dipaksakan.

Langkah kaki saya berusaha menyelami bukti arsitektur Taj sebagai kuil Hindu yang konon merupakan rampasan perang dari seorang Raja Rajput bernama Jaisingh dari Jaipur. Di awali dengan gerbang utama, maka dapat dilihat motif seperti kubah atau mangkuk terbalik selalu berjumlah ganjil, yaitu 11, dimana hal ini merupakan kepercayaan dalam Hindu. Memasuki daerah makam yang octagonal. Oktagonal merupakan bangunan bergaya Hindu, karena Hindu sendiri memiliki arti 8 arah mata angin. Keempat menara yang ada di sekililing bangunan utama juga merupakan arsitektur Hindu, karena menara (minaret) dalam bangunan Muslim umumnya berada pada bahu bangunan utama, sedangkan pada Hindu berdiri dari bagian lantainya. Ornamen lotus yang menghiasi di seluruh dinding Taj Mahal jelas bukan menampilkan ciri Islam, karena memang lotus merupakan lambang dari Hindu. Hal ini makin diperkuat oleh adanya lambang Trident yang tersembunyi di antara struktur lotus ini. Trident ini sendiri merupakan lambang dari dewa Shiva. Pada bagian atap dari kubah Taj, tampak lambang yang sering disalahartikan sebagai lambang bulan sabit dan bintang. Namun bila diperhatikan secara awas, maka lambang ini membentuk kalash (pot sesembahan) dan kemudian buah kelapa dan dua buah daun mangga yang jelas merupakan ciri persembahan pemeluk Hindu bagi Dewanya. Tampak di sana-sini motif ular menghiasi dinding Taj, sebuah struktur yang tidak mungkin ada di bangunan Muslim di belahan dunia manapun.

Bila kita memperhatikan dengan seksama, saat kita memasuki bangunan utama Taj, maka dapat terlihat bahwa Taj sebenarnya tidak hanya memiliki satu lantai. Taj sendiri ternyata memiliki tujuh lantai dengan jumlah ruangan hingga 1.000 buah, sebuah kenyataan yang rasanya tidak pas dengan sebutan moumen untuk sebuah makam. Lantai paling dasar yang berada di bawah permukaan air sungai (ciri dari bangunan kuno Hindu) terkubur dalam pintu batu bata. Konon di lantai inilah beberapa patung dewa Hindu ditempatkan di sana. P.N. Oak menuturkan bahwa Taj didirikan di pinggir sungai atau pantai, suatu kekhasan dari kuil Hindu yang memang selalu mendirikan bangunan kuilnya di dekat sungai dan menghadap ke arah Timur.

Mumtaz sendiri meninggal di Bushnapur dan makamnya hingga kini masih terdapat utuh di sana. Maka dipertanyakanlah keberadaan kedua makam di dalam Taj dan mengapa satu makam terletak lebih tinggi dibanding makam yang lain. Apakah bagian tubuh Mumtaz terbelah dua? PN Oak menuliskan bahwa makam ini seakan dibuat untuk menutupi “sesuatu”. Di bagian depan makam akan kita dapati lantai datar tanpa ornamen yang konon awalnya merupakan tempat patung Nandi (sapi) yang memang biasa terletak berhadapan dengan dewa Shiva di setiap bagian depan altar kuil Hindu. Music House yang berada dalam kompleks makin menunjukkan bahwa bangunan ini bukan merupakan bangunan Muslim, karena memang hanya di Hindu terdapat ruang ini untuk mengakomondasi para pemeluknya bernyanyi saat beribadah.

Perjalanan saya ke Taj kali ini tidak membuat saya terjebak dalam opini kontroversi tentang asal muasal Taj. Keindahan bangunan yang dengan seluruh kisah masa lalunya mestinya tidak perlu diperdebatkan. Sebuah bangunan yang membuat India merasa bangga memilikinya sebagai warisan kunonya. Amatlah wajar apabila memang benar Shah Jahan merubah kuil Hindu sebagai bukti kekuasaannya yang telah menang terhadap raja di Rajashtan. Shah Jahan sendiri nampaknya tidak berniat untuk memperoleh kredit atas pendirian Taj. Oleh karenanya struktur awal Taj dirombak dan bagian emas serta batu berlian lainnya dipindahkan dan kaligrafi Quran ditorehkan, hanya agar struktur ini tidak kembali direbut oleh Raja Rajput. Mungkin itulah alasannya mengapa bangunan ini tidak tercatat pendiriannya. Entahlah.

Memandang Taj di kejauhan, maka yang tertinggal hanyalah decak kekaguman dan haru akan suatu monumen megah di pinggir sungai suci Yamuna, yang punya cerita cinta yang sangat besar sebagai latar belakangnya. Sebuah cerita cinta seorang raja terhadap ratu yang paling dikasihinya atau cerita cinta pemeluk Hindu terhadap dewa Shivanya…

Let the splendor of the diamond, pearl and ruby vanish like the magic shimmer of the rainbow. Only let this one teardrop, the Taj Mahal, glisten spotlessly bright on the cheek of time…
(Rabindranath Tagore)

Menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Resorts World Sentosa, Singapura

Semalam saya berkesempatan menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Universal Studios, Singapura. Apa yang terjadi kemarin setelah matahari terbenam? “Demoncracy” merajalela, mengambil-alih Universal Studios dipimpin oleh Minister of Evil.

Empat scare zones dan empat haunted houses yang diset sukses membuat kami merinding disko semalaman.

Jack's Nightmare Circus
Jack’s Nightmare Circus.

Jack's 3-Dementia
Jack’s 3-Dementia.

Acara dimulai dengan Jack’s Nightmare Circus, tentu saja bintang dari pertunjukannya adalah Jack si badut jahat. Sirkus ini menampilkan banyak performers yang ternyata didatangkan dari luar Singapura, tapi, ya, ujung-ujungnya dibunuhin semua sama si Jack (oops, spoiler?).

Selesai sirkus, kami beranjak menelusuri scare zones dan haunted houses.

Haunted houses yang disiapkan ada empat buah, Jack’s 3-Dementia yang keren banget memakai efek 3D untuk menipu color coordination dan depth of field kita. Jing’s Revenge yang berlatar di sebuah sekolah dan sukses membuat orang-orang terbirit-birit karena hantu klasik sekolahnya sangat mengagetkan. Mati Camp yang sangat bising, tempat Minister of Evil mendidik tentara-tentaranya dengan cara yang sangat kejam. Haunted house terakhir adalah Laboratory of Alien Breeding, ini personally bikin saya sangat merinding karena ada banyak humanoid reptil dengan sisik yang banyak pula.

The Lab
The Lab.

The Scary Tales
The Scary Tales.

Di antara empat haunted houses ini terdapat empat scare zone. Bedanya dengan haunted house, scare zone ini tempatnya terbuka. Di siang hari dia seperti setup horor biasa di Universal Studios, tapi di malam hari jadi ada “penunggunya”.

Masing-masing scare zone mengusung tema berbeda, mulai dari kota New York yang disatroni setan (Demoncracy), zombie koboi dan Indian (Canyon of The Cursed), gang yang isinya hantu semasa kecil (Bogeyman) sampai ke zona favorit saya: The Scary Tales. The Scary Tales ini sendiri merupakan zona di mana para putri yang berasal dari dongeng-dongeng berubah menjadi versi horornya. Di sini saya berkesempatan melihat Rapunzel “botak tapi gondrong” dan Red Riding Hood yang bawa kapak berdarah ke mana-mana. Benar-benar kebalikan dari dongeng-dongeng yang biasa saya dengar.

Demoncracy
Demoncracy.

Akhir kata, beberapa jam yang saya habiskan di sana sangat menakutkan namun menghibur. Terima kasih Resorts World Sentosa atas undangannya, besok-besok lagi, ya!