Paella Nikmat di Tower Bridge


Naik tube pertama kali

Siapa sangka, pertama kali kami makan paella, makanan kebanggan Spanyol, malah bukan di Spanyol. Tapi di Inggris. Di London. Tepatnya, di pinggir Tower Bridge. Itu pun juga mendadak, karena kami semua keburu lapar, dan Janis lagi senang nasi. Untung, ada bazar makanan di sekitar Tower Bridge waktu itu, dan pilihan jatuh ke paella, antara makanan Thailand dan Korea yang juga ada nasinya.


Makan siang paella di Tower Bridge

Ternyata, Janis pun suka. Syukurlah.

London, buat kami, bukan destinasi kuliner. Walau ternyata kami salah, karena seperti ibukota negara lain yang dinamis, banyak imigran di sini yang pada akhirnya membawa banyak pengaruh budaya, salah satunya makanan.

Tower Bridge adalah atraksi turis pertama yang kami kunjungi, karena dekat dengan hotel. Sebenarnya tidak dekat juga sih, sekitar lima atau enam stop bis kota.

Hari itu juga kami pertama kali naik bis double decker merah yang terkenal itu. Sayangnya, bukan versi routemaster. Namun, jauh lebih modern, dan agak berbeda dari versi bis tingkat Singapura yang kami biasa naiki: penumpang bisa naik dan turun dari tiga pintu, di depan, di tengah dan di belakang. Di Singapura, kami hanya bisa naik dari pintu depan dan turun dari pintu tengah atau depan. Ternyata, stroller bayi juga bisa masuk tanpa harus dilipat.

Kami menghabiskan banyak waktu di Tower Bridge, hanya melihat-lihat keramaian yang ada, sembari menunggu check-in di hotel yang baru bisa pukul dua siang. Kami juga sempat eksplorasi beberapa sudut kota sambil menuju British Museum.


Salah satu fasad kafe di Bloomsbury


Beberapa sudut kota London yang menarik hati kami

Perjalanan kami hari itu sebenarnya dimulai di hotel dekat bandara. Begitu datang, kami memang pesan hotel dekat bandara sehingga bisa cepat istirahat. Pengalaman kami di Melbourne tahun lalu, satu hingga dua hari pertama dihabiskan di tempat tidur karena jetlag. Karena kami membawa anak kecil, maka kami tak ambil resiko. Daripada linglung dan keletihan mencari alamat penginapan di pusat kota London, mungkin ada baiknya kami langsung istirahat saja.


Bersiap naik bis ke bandara dari hotel dekat bandara, untuk naik kereta ke kota


Tiba di stasiun kereta di bandara Heathrow

Benar, kami tertidur pulas delapan jam setelah itu. Janis lebih lama lagi, mungkin sekitar 12 jam.

Bandara Heathrow terletak 23 km di sebelah barat kota London, dan hitungannya mungkin lebih ke “countryside“. Lingkungan sekitarnya cukup rileks dan sepi. Kami berpikir, lucu juga ya, kalau lain kali kita berlibur menghindari kota besar dan hanya mampir di sebuah desa.


Naik kereta Heathrow Express, cuma 15 menit sampai ke kota!

Untuk ke kota London dari bandara, ada banyak opsi. Opsi paling sering digunakan adalah Heathrow Express (tanpa berhenti, sekitar 15 menit, paling mahal) dan Heathrow Connect (berhenti di beberapa stasiun, sekitar 30-45 menit) tube (paling lama, sekitar 1 jam 15 menit), bis (1 jam lebih) dan taksi (1 jam lebih). Saran kami, jika banyak bawaan dan ada anak kecil, naik taksi atau Uber saja. Biayanya memang agak mahal, sekitar Rp1.000.000-an, tapi langsung ke penginapan tanpa basa-basi. Pengalaman kami waktu itu, naik kereta Heathrow Express sampai ke Paddington (karena memang akhirnya di situ), masih harus disambung beberapa line underground yang ternyata tidak ramah stroller dan koper. Alhasil, kami kesulitan menggotong koper dan membawa Janis di gendongan dan stroller. Opsi lain yang murah adalah menyewa penginapan di Paddington atau sepanjang underground jalur biru, Picadilly line.


Ruang stroller di bis kota


Transit di Paddington

Tapi, tak apa. Dari sini belajar. Begitulah gunanya traveling, ya kan?

UPDATE: Tonton vlog kami tentang hari ini di sini:


Perjalanan ke London Itu

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pergi ke London, Inggris. Destinasi ini adalah salah satu bucket list kami, selain Iceland. Mengingat usia Janis yang masih dua tahun, kami memutuskan untuk pergi ke London dulu, karena secara tantangan lebih mudah.

Akhir Januari 2017, kami mulai merencanakan kapan berangkat. Setelah menimbang-nimbang, dipilihlah sekitar bulan April atau Mei 2017, karena pada saat itu sudah terkumpul cukup cuti dan uang untuk bisa berangkat. Pertengahan Februari 2017, kami mulai daftar visa Inggris. Kami bisa melakukannya melalui VFS Global di Singapura, dan ternyata prosesnya cukup mudah. Formulirnya diisi online lalu dicetak, dan dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung standar. Karena kami penduduk Singapura, maka kami juga perlu melampirkan izin tinggal di sini.

“Visa diperkirakan jadi 15 hari kerja.”

Tidak masalah buat kami, karena perjalanan masih jauh hari. Beruntung, enam hari kemudian, visa kami semua sudah keluar. Syukurlah!

Kami pun sibuk cari tiket pesawat. Akhirnya, setelah menimbang antara Malaysia Airlines dan Qatar Airways, pilihan jatuh pada Qatar Airways. Harga lebih mahal sedikit, tetapi perjalanan dibagi menjadi dua bagian (masing-masing sekitar tujuh jam dengan transit di Doha, Qatar).

Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari belanja baju hangat (karena diperkirakan suhu masih antara 8 hingga 15 derajat Celcius), sampai makanan, untuk mengantisipasi lapar malam karena jetlag. Dua koper medium, satu tas stroller dan dua ransel menjadi teman kami. Kami juga membeli stroller kompak dan kamera mungil untuk mengurangi beban dalam perjalanan kali ini.

Kamis, 27 April 2017, 18:00. Kami sudah tiba di bandara Changi, dan proses check-in sudah dilakukan untuk penerbangan dari Singapura ke Doha, lalu dari Doha ke London. Kami sempat was-was, apakah Janis bisa tidur? Apakah dia betah? Terakhir kali waktu perjalanan ke Melbourne yang juga tujuh jam lamanya, ia masih berusia satu tahun dan masih muat di baby bassinet. Sekarang, badannya sudah besar, dan sudah mendapatkan tempat duduk sendiri. Kami pasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Area bermain di Changi


Menunggu sambil menelepon eyang dan tante


Sudah boarding di Qatar Airways tujuan Doha


Child’s meal versi Qatar Airways

Janis sempat rewel di bandara, mungkin merasa asing. Tapi setelah diajak main jungkat-jungkit di bandara, ia pun senang lagi. Tersenyum bahagia. Kami sempatkan menelepon eyang dan tantenya, agar ia merasa senang. Saya sempat menukar uang secukupnya, supaya dapat digunakan untuk, terutama, makan dan transpor ketika sudah sampai di London.

Ini pertama kali kami naik Qatar Airways. Cukup menyenangkan. Para pramugara dan pramugarinya sangat ramah dan baik hati, terutama terhadap anak kecil. Janis dapat berbagai macam hadiah, dan makanannya diberikan dalam bentuk koper mungil. Perjalanan tujuh jam pun tidak terasa, walau saya tidak bisa tidur. Syukurlah, Janis bisa tidur sepanjang perjalanan!

Sampai di bandara Doha, Qatar, sekitar pukul satu pagi waktu lokal, atau sekitar pukul enam pagi waktu Singapura. Sesuai dengan waktu bangun Janis. Janis pun bangun seketika mendarat, dan kami bisa “sarapan” walau seadanya. Dalam perjalanan kali ini, kami mencoba sebuah lounge berbayar, tapi suasananya ternyata tidak nyaman: ruang sempit dan ada yang merokok di dalam ruangan. Pelajaran: tidak usah begini lagi lain kali, mending di luar saja, pilihan banyak dan ruang lebih luas buat anak untuk berlari-lari.


Berfoto di depan instalasi seni karya Urs Fischer yang populer itu


Tiba di Doha

Transit kali ini sekitar lima jam. Tidak terasa. Hanya saya yang memanfaatkan fasilitas mandi, ibu dan anak tidak karena penuh sekali antriannya. Hanya lap badan dan ganti popok untuk Janis.

Seketika, waktu untuk boarding ke pesawat A380-800 tujuan London pun tiba. Kami sangat terpompa semangatnya. Ini pengalaman pertama kami semua naik pesawat sebesar ini, sayang Janis tidur, walau tak lama setelah lepas landas, ia bangun. Alhamdulillah, lepas landas sangat mulus, pesawat tidak mengalami guncangan berarti, dan walau mata terbuka, Janis tidak rewel dan malah mau makan dan bermain.


Menunggu boarding A380-800!


Pertama kalinya kami sekeluarga naik pesawat sebesar ini


Akhirnya mendarat di London Heathrow!

Kami tiba di bandara Heathrow, London, di terminal 4, dalam cuaca mendung. Setelah melewati antrian imigrasi yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya menunggu bis untuk menuju hotel di hari pertama. Hotel di hari pertama ini kami pilih di dekat bandara, untuk bisa segera beristirahat. Esok harinya baru kami akan ke tengah kota.


Menunggu bis Hotel Hoppa ke hotel dekat bandara

Untuk lebih dekat dengan kami, silakan tonton vlog kami di hari perjalanan ini. Bagaimana pengalaman hari ke-2? Tunggu ceritanya ya.


Kape Barako, Warung Kopi Dadakan di London


Warung kopi yang mungil tapi lengkap. Bisa berlaptop ria segala.

Saya bukan penggemar kopi sejati, tapi senang ke warung kopi. Senang minum kopi racikan bagaimana pun, terutama dengan coklat atau lebih sering disebut moka. Ketika berkunjung ke London, Inggris, baru-baru ini, saya menemukan sebuah warung kopi lucu nan mungil di utara London. Tepatnya di daerah Hampstead, yang bisa diakses dengan tube ke stasiun Hampstead.

Istimewanya warung kopi ini adalah karena ia berada di kotak telepon merah yang ikonik itu. Bagaimana bisa? Sejak kehadiran teknologi seluler, kotak-kotak telepon merah di London yang ikonik itu sudah tidak digunakan sebagai sarana berkomunikasi lagi. Akhirnya, mereka terbengkalai. Isinya kosong. Untungnya, karena menjadi ikon pariwisata, mereka dirawat dengan baik, menjadi ajang foto-foto bagi turis.


Suasana sekitar warung kopi.

Namun, tidak begitu dengan Khalid, seorang wirausahawan Jerman yang menetap di London bersama istrinya yang berasal dari Filipina. Ia melihat peluang bisnis di kotak-kotak telepon yang terbengkalai ini. Mendengar ada perusahaan yang sudah membeli beberapa kotak telepon di daerah tempat tinggalnya di Hampstead, dan menyewakannya kepada siapa saja yang berminat, ia langsung memutuskan untuk berbisnis warung kopi pinggir jalan di kotak-kotak telepon ini. Mirip seperti pedagang kopi keliling di Indonesia, atau yang menjajakan kopi di kios pinggir jalan. Yang menjadikannya unik adalah nilai sejarah dan budayanya.


Tulisan menu sederhana di samping kotak telepon.

Nama “Kape Barako” sendiri diambil dari istilah varietas kopi dari Filipina. Istri Khalid berasal dari Filipina. Ada pun varietas kopi yang digunakan ternyata bukan varietas barako itu sendiri. “Mahal jika diimpor ke sini. Saya pakai nama ini karena istri saya dari Filipina. Namanya keren, jadi kenapa tidak (dijadikan nama warung),” kata Khalid.

Walaupun biji kopinya diambil dari supplier lokal, tetap saja nikmat. Yang membuat lebih nikmat adalah suasana pinggir jalan. Apalagi musim semi yang masih sejuk. Duduk di pinggir jalan melihat orang-orang lalu-lalang.

Ah, kape barako. Nikmat.


GB Pockit: Stroller Ringan Ramah Jalan-Jalan


Tampak depan dan samping GB Pockit.

Ini bukan artikel berbayar. Kami menulisnya karena memang dasar suka sama suka. Kami punya beberapa stroller buat anak kami, Janis. Pada awal kelahiran Janis, kami punya dua: Cocolatte New Life (untuk kegunaan utama, dengan sandaran yang bisa direbahkan dan ukuran yang lebih besar untuk bayi) dan Cocolatte iSport (persiapan kami jika Janis sudah bisa duduk, dan lebih ringan serta mudah dilipat).


Ketika dibawa, ukurannya cukup mungil.

Kenyataannya, stroller-stroller itu jarang digunakan ketika kami masih tinggal di Jakarta, karena Janis lebih banyak digendong dengan baby carrier. Sepertinya lebih cocok untuk menghadiahkan baby carrier kepada orang tua-orang tua baru, lebih sering dipakai daripada stroller!

Saat ini, Janis sudah menginjak dua tahun. Ukuran badannya sudah terlalu besar untuk digendong di baby carrier, sehingga kami lebih banyak mengandalkan stroller. Ketika baru pindah ke Singapura, kami membeli stroller City Mini GT, karena kami pikir di sini lebih banyak jalan kaki dan butuh roda serta suspensi yang kuat. Ukurannya pun besar, tapi cukup nyaman buat Janis juga.


Detil pegangan dan tutup kepala.

Kami menyukai kombinasi City Mini GT dan Cocolatte New Life di Singapura. City Mini GT untuk kegiatan yang lebih “adventurous“, seperti ke kebun raya, taman atau belanja bulanan dengan jalan kaki (ke mana-mana relatif dekat dan bisa dijangkau dengan jalan kaki dari apartemen kami). Cocolatte New Life untuk petualangan yang agak jauh dan menggunakan kendaraan umum seperti taksi, bis atau MRT, karena gampang dilipat dan ringan dibawa.

Ketika merencanakan liburan ke London, Inggris, pada awal tahun, kami mencoba untuk mencari stroller baru yang lebih compact dan kalau bisa tidak perlu check-in bagasi. Tadinya kami ingin menyewa, tapi ternyata harga sewa ditambah sedikit dapat stroller baru. Kebetulan kami sudah lama kesengsem dengan GB Pockit, stroller super compact yang bisa dilipat sampai masuk ke tas duffel atau semacamnya.


Proses melipat.

Pada suatu Sabtu kami pun memutuskan untuk membelinya, dan tidak menyesal sampai sekarang. Ada juga sih alternatif lain, yaitu Cocolatte Pockit. Lha, kok namanya sama? Memang sama, dan desainnya juga mirip, hanya ada perbedaan sedikit dari sisi desain dan materi. Selain itu, Cocolatte Pockit kabarnya bisa direbahkan sandarannya. Tapi GB Pockit juga baru saja mengeluarkan edisi baru, yakni GB Pockit Plus, yang juga bisa direndahkan sandarannya, sehingga anak bisa tidur dengan lebih pulas atau rileks. GB Pockit lebih mahal (S$299) dari Cocolatte Pockit (S$199), tapi kami kesulitan menemukan Cocolatte Pockit di Singapura, adanya online. Namun, kami ingin mencoba merek lain selain Cocolatte, akhirnya pilihan jatuh pada GB Pockit.

Sejauh ini, kami senang. Bahkan, stroller ini hampir menggantikan Cocolatte New Life kami 100%. City Mini GT juga jadi jarang dipakai karena ukurannya masif. Ke mana-mana pun kami pakai GB Pockit. Rasanya best value buy sekali. Untuk perjalanan ke London kami pun, kami merasa adem ayem, karena hadirnya stroller ini. Gampang dilipat, mungil dan ternyata rodanya kuat. Sebagai pembanding, Cocolatte New Life memiliki roda yang suka menyangkut di bebatuan atau besi di jalan, sedangkan roda-roda GB Pockit lebih ampuh melewati halangan. Memang, tidak seampuh roda City Mini GT yang memang dirancang untuk “offroad“, tapi lumayanlah ya?

Melipatnya pun sederhana. Hanya dorong pegangan ke bawah (harus kedua handle), lalu dorong lagi satu kali untuk melipat. Versi lipatan ada dua. Yang pertama compact fold, yang kedua super compact fold. Lihat gambar di bawah.

Bedanya adalah untuk compact fold, eksekusinya lebih cepat, dan cocok untuk skenario masuk bis, kereta, taksi atau kondisi lain yang butuh kecepatan dan kegesitan. Untuk super compact fold, melipatnya butuh ekstra waktu dan tenaga, karena harus melipat roda belakang masuk ke dalam, tetapi hasilnya menjadi sangat kecil dan bisa masuk ke tas jinjing (yang ukurannya pas). Cocok untuk skenario masuk pesawat, bagasi, atau disimpan di gudang.


Versi lipat “super compact“.


Versi lipat “compact“.

Soal kenyamanan, kami serahkan pada Janis, anak kami. Selama menggunakannya hampir sebulan ke belakang, Janis lebih cepat tidur nyenyak di atas stroller ini, walau sandaran tidak bisa direbahkan. Entah kenapa. Selain itu, dia juga jarang minta turun lagi, hanya sesekali.

Kesimpulannya, untuk jalan-jalan, GB Pockit sangat direkomendasikan. Sekali lagi ini bukan artikel berbayar, murni keikhlasan hati kami. Tertarik?


Memilih Kamera Jalan-Jalan

Memilih kamera untuk jalan-jalan adalah hal yang rumit dilakukan, buat saya. Walau ada yang bilang, dan saya juga percaya akan hal ini, “gears don’t matter“. Tapi ada kalanya kita butuh evaluasi apa peralatan yang harus kita bawa sesuai konteks dan kondisinya.

Saya sudah memiliki Nikon D5000, sebuah DSLR yang sudah lumayan jadul, tapi masih berfungsi dengan baik. Di sisi lain, saya juga punya iPhone 7 dan iPhone 6. Nikon D5000 ini sudah saya beli tujuh tahun yang lalu, saat saya pertama kali backpacking ke Eropa. Waktu itu saya masih sendiri, belum menikah. DSLR masih menjadi tren. Belum banyak alternatif seperti kamera mirrorless. Saya belilah dengan harapan hasil yang saya dapat bisa lebih baik. Saya sempat membuat video-video dokumentasi perjalanan saya, ini dan ini. Bukan vlog sih, hanya klip singkat. Pada saat itu, saya cukup puas dengan kamera itu.


Nikon D5000, teman setia selama 7 tahun

Oh ya, sebenarnya cerita saya soal kamera digital ini panjang. Yang pertama kali saya gunakan dulu adalah Sony Digital Mavica, yang menyimpan data di floppy disk! Bayangkan, dulu saya harus menenteng satu tas penuh disket-disket kecil, dan satu disket biasanya isinya hanya puluhan gambar sebelum diganti lagi. Kamera ini bukan milik saya, tapi milik sekolah yang saya pinjam karena saya terlibat seksi dokumentasi di OSIS sekolah.

Setelah itu, saya sempat memiliki kamera Sony pertama, tipenya adalah DSC-F717. Kamera ini keren di jamannya, dan saya bersyukur bisa memilikinya pada saat itu. Saya gunakan terutama untuk tugas kuliah di Desain Komunikasi Visual. Saya juga sempat membeli kamera film, Nikon FM10, juga untuk tugas kuliah fotografi.


Sony DSC-F717, bentuknya memang unik


Nikon FM10

Dua kamera itu saya jual, sebelum membeli Nikon D5000 yang saya miliki sampai sekarang. Selama tujuh tahun, saya tidak membeli kamera baru, karena memang minat saya kepada fotografi hanya sebatas dokumentasi. Pada perjalanan kami terakhir ke Melbourne, Australia, pun, saya masih menggunakan Nikon D5000 ini.

Tahun ini, saya berencana pergi liburan lagi dengan keluarga. Dengan hadirnya Janis, anak kami yang sudah dua tahun, kami berpikir untuk lebih mengutamakan perjalanannya daripada “ribet” dengan alat-alat yang berkaitan. Saya pun merasa mungkin Nikon D5000 ini tidak cocok lagi dengan gaya jalan-jalan kami yang sudah lebih menurut kondisi Janis, bukan maunya kami saja. Kami memutuskan untuk mencari-cari kamera yang lebih kecil ukurannya. Ukuran jadi pertimbangan utama karena kami ingin lebih fleksibel dalam menemani Janis ke mana pun kami bereskplorasi nantinya.

Pilihan tentu saja jatuh kepada beberapa merek dan tipe kamera mirrorless. Setelah membanding-bandingkan sesuai anggaran, pilihan jatuh pada beberapa merek dan tipe berikut ini:

  • Sony A5000/6000/6300: Kompromi antara kualitas dan harga, serta pilihan lensa yang sepertinya sudah mumpuni.
  • Sony A7 (Mark II): Kualitas dan spesifikasi yang tertinggi, tetapi mahal.
  • Panasonic Lumix GX85: Kualitas dan spesifikasi yang lumayan, sesuai dengan anggaran.

Setelah ditimbang-timbang lagi, kami ternyata juga kepincut beberapa premium compact seperti Sony RX100 (antara Mark IV atau Mark V) dan Canon G7X atau G9X. Pertimbangan utamanya adalah ukuran dan tidak ribet gonta-ganti lensa. Lagipula, menurut banyak ahli fotografi, yang paling kita butuhkan untuk perjalanan kasual adalah kamera yang bisa dengan cepat kita gunakan dalam berbagai situasi, tanpa harus khawatir gonta-ganti lensa atau pengaturan yang berlebihan. Kecuali subjek fotonya adalah kehidupan hewan liar yang harus dipotret dari jarak jauh, atau potret manusia yang butuh mengaburkan latar belakang, sehingga butuh apertur yang lebih besar, misalnya. Lensa zoom juga sebenarnya tidak begitu penting dalam konteks perjalanan kasual, karena mendorong kita untuk memilih subjek atau objek dengan lebih hati-hati, dan mencoba eksplorasi sudut pandang dengan lebih bervariasi.

Sebenarnya, hal ini juga sudah saya praktekkan dengan iPhone, yang mendorong kita untuk hadir di lokasi, dekat dengan subjek atau objek, dan berpikir lebih pada komposisi daripada teknologi. Saya tidak ingin teknologi menjadi penghambat spontanitas. Apalagi jika hasil akhirnya hanya posting di Instagram.

Banyak juga kok di Instagram yang kualitas fotonya bagus, bukan dari kameranya, tapi dari orang yang memotretnya. Setelah dilihat, ternyata mereka hanya mengambil foto dengan iPhone atau kamera ponsel, lalu disunting sedikit dengan aplikasi seperti Snapseed atau VSCO.

Akhirnya, dengan pertimbangan di atas, dan dengan niat untuk memperbaiki kemampuan komposisi terlebih dahulu, kami memutuskan membeli Sony RX100 V, kamera compact dengan bodi yang sangat kecil tapi dengan kemampuan segudang. 


Sony RX100 V, dengan layar yang bisa dilipat ke depan


Sony RX100 V, tampak atas

Mungkin kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di sini ya, saya tidak akan bercerita panjang lebar. Yang paling penting buat saya pada saat ini, auto-fokus yang cepat, sehingga tidak perlu lama-lama mengambil gambar. Yang kedua, sensitivitas cahaya gelap (low-light sensitivity) yang walaupun tidak sempurna, tapi sebanding dengan DSLR saya, atau minimal lebih baik dari iPhone saya, apertur yang besar (f1.8-f2.8), sehingga bisa melakukan potret wajah (anak saya, istri saya) dengan lebih baik pada kondisi-kondisi tertentu, kecepatan operasi, dan yang paling penting, video HD dan 4K (jika diperlukan), kalau-kalau saya harus membuat vlog.

Ini beberapa hasilnya:

Hello.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Little feet.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Rainless. #SonyRX #SonyRXMoments #SonySG_RX #RXthroughmyeyes #SonyRX100M5 @sonysingapore

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Lumayan, kan!

Kemungkinan, jika ada uangnya lagi, saya akan berinvestasi di kamera Sony lainnya, yakni Sony A7 atau A7 Mark II.

Sejauh ini, saya puas, dan sangat merekomendasikan kamera ini untuk perjalanan jenis apapun!


Vlogging: Alternatif untuk Dokumentasi Perjalanan

Hari ini, banyak sekali vlog-vlog bertebaran di Youtube. Vlog, atau singkatan dari “video blog”, alias mendokumentasikan peristiwa melalui video, sebenarnya adalah konsep yang sudah lama ada. Tapi, baru mulai tahun 2015 mulai populer. Pengalaman saya pribadi, pertama kali mengenal konsep vlog ini adalah tahun 2015, tentu saja dengan Casey Neistat. Namun, pada saat itu, tak terpikir oleh saya ada orang-orang lain juga yang melakukan vlog ini hampir setiap hari. Sebelumnya, saya sempat melanggan beberapa Youtuber, terutama Mark Wiens, yang mengulas kuliner. Tapi tentu saja, istilah vlog itu belum sempat saya asosiasikan dengan Mark Wiens, karena beliau hanya menerbitkan video setiap Rabu dan Sabtu.

Vlog pada dasarnya menyiratkan kita harus bisa melakukannya hampir setiap hari, mengingat konsep blog pada awalnya juga begitu, seperti diary atau jurnal harian. Isinya juga tidak mesti bertema atau bermanfaat dalam arti memecahkan masalah orang lain, misalnya berbagi ilmu. Cukup keseharian saja, tapi dikemas dan diceritakan semenarik mungkin. Salah satu tema vlog yang paling populer tentu saja adalah perjalanan. Ada beberapa pejalan yang menceritakannya dalam vlog, contoh saja Louis Cole, Ben Brown, Vagabrothers atau Mike Dewey.

Saya sempat ngobrol dengan teman saya blogger Arif Widianto (yang dulu pernah ikut bersama mengelola Ransel Kecil), tentang apakah vlog benar-benar memberi manfaat bagi orang banyak. Menurut saya, tidak selalu konten harus memberi manfaat secara langsung. Membangun konten dan audiens itu bisa banyak caranya. Ada dua jenis tipe konten: vanity dan yang bermanfaat. Vanity artinya konten yang condong pada gimik, kosmetik, visual. Ini kita lihat dalam beberapa konten vlog, atau konten media sosial yang lebih bercerita pada sisi material: apakah kegiatannya itu dilakukan secara menarik, ditampilkan dan disunting sehingga “menjual”, tapi tidak perlu memiliki bobot atau filosofi tertentu. Yang kedua, konten bermanfaat, adalah konten yang berusaha untuk memberi nilai bagi orang lain. Misalnya, konten ulasan produk, tips dan trik fotografi, belajar mendesain web, dan lain sebagainya. Menurut saya, tidak ada yang salah dari keduanya. Yang penting, fokus menelurkan konten-konten secara konsisten, jelek atau baik.

Vlog bertema perjalanan ini cukup bagus menurut saya, karena lebih berkata banyak hal melalui visual dan suara. Tidak hanya kata. Selain itu, lebih dekat dengan pejalannya, lebih otentik. Kami juga ingin memulai vlogging, tapi belum pasti apakah akan bertema perjalanan. Yang jelas, untuk awalnya, kami akan coba untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan akhir minggu kami di Singapura. Mudah-mudahan kami punya anggaran untuk jalan-jalan lagi dan bisa memberikan konten perjalanan yang menarik dan juga bermanfaat bagi anda semua.

Oh ya, kalau penasaran, ini dia vlog termutakhir kami di channel Youtube kami (jangan lupa subscribe, ya!):


Merencanakan Perjalanan dengan Trello

Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”

Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.


Wah, unyu juga, ya, background-nya?

Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.


Menambahkan lampiran seperti gambar


Jadinya ada preview seperti ini

Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.

Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?

Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:


Contoh itinerary per hari

Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.

Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.


Trik Memilih Kursi Penerbangan

Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.


6 Hal Kenapa Singapura Lebih Baik Buat Anak-Anak


Terpukau di National Library, Bugis

Suatu ketika, saya mengobrol dengan teman saya. Saya bertanya, “Kenapa orang Indonesia kalau ke Singapura selalu mengeluh Singapura itu membosankan? Sudah ke mal ini dan itu, lalu tidak ada apa-apa lagi.”

Teman saya itu kemudian menjawab, “Karena mereka tidak melihat sisi lain dari Singapura. Mereka ke sini hanya ingin bersenang-senang tapi dari sudut pandang mereka saja. Tidak salah sih, tapi andaikan mereka melihat dari sisi lain, Singapura itu tidak membosankan.”

Dia melanjutkan, “Di sini, anakmu bisa leluasa berjalan dan bermain, tanpa takut kena polusi, macet, bahaya ditabrak, atau kejadian-kejadian lain. Coba saja melakukan itu di Jakarta. Paling aman anak diajak ke mal atau ke luar kota. Lihat di sini, begitu banyak ruang publik, gratis pula.”


Berlarian tanpa henti di Marina Bay Sands

Betul. Saya mensyukuri saya tinggal di sini saat ini. Memang, semuanya mahal, paling tidak lebih mahal dari di Indonesia. Tapi mahal-nya itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sini. Terutama, untuk saat ini, buat anak saya yang masih dua tahun.

Jika dipikir-pikir, ada beberapa hal yang membuat anak saya, Janis, bahagia di sini:

1. Perpustakaan yang selalu punya ruang khusus anak

Stigma perpustakaan yang membosankan, kusam dan jelek sirna seketika, ketika mengunjungi hampir semua perpustakaan umum di Singapura. Rasanya, Singapura lebih punya banyak perpustakaan per 10 km persegi dibanding kota mana pun di Indonesia. Ini bukti komitmen pemerintahnya untuk meningkatkan minat baca dan literasi penduduknya. Pendidikan benar-benar utama di sini, baik formal maupun informal. Bayangkan, bagian anak-anak di perpustakaan nasional di Bugis saja punya ruang bermain yang luas. Anak-anak bisa berlari-lari sepuasnya di sini. Orang tuanya? Malah membaca buku anak-anak. Nah, Bugis bukan hanya belanja, kan?

2. Main air, tak perlu bayar

Main air di Indonesia, di tempat yang bersih dan terjamin keselamatannya, biasanya harus bayar. Mahal pula. Di Singapura, taman bermain air tersedia banyak dan gratis. Contohnya, Gardens by the Bay. Berapa banyak dari turis Indonesia tipikal yang tahu ada tempat bermain air anak gratis di belakang Flower Dome dan Cloud Forest?

Atau, di mal apakah cuma makan dan belanja, tapi anaknya dibiarkan saja tanpa bermain? VivoCity, Katong I12 Mall dan Kallang Wave semuanya adalah pusat perbelanjaan yang di atasnya ada tempat bermain air anak. Kalau pun bayar, biasanya tidak mahal. Go splash your heart out, kids!


Aku main air, tidak ya?

3. Menikmati hutan kota

“Lho, bukannya Singapura itu kota besar yang isinya gedung semua?” Begitulah pemikiran orang Jakarta yang di kotanya memang susah ditemukan ruang terbuka hijau. Di Singapura, pemerintahnya berusaha untuk merencanakan hutan dan taman kota sebagai bagian utama, bukan “selipan”. Contoh saja, dekat tempat tinggal kami, ada East Coast Park, taman dengan pantai terpanjang di Singapura sepanjang 15km dari Marine Parade ke Changi. Di sini, anak-anak bisa bersepeda dan berlari dengan aman. Pantai juga ada, walau tak sebagus di Bali, tapi cukup.

Alternatifnya, tidak usah ke taman yang besar dan terkenal. Bahkan, di antara gedung-gedung dan kompleks perumahan tempat tinggal, juga ada taman-taman kecil yang dilengkapi fasilitas bermain dan olahraga. Semua taman-taman itu dipelihara dengan baik, dan tentu saja, ada burung-burung yang terbang, menandakan betapa sehatnya lingkungan di sini.


Bersantai di hamparan rumput di Botanic Gardens


Piknik di telaga di MacRitchie Reservoir

4. Trotoar dan ruang publik yang besar

Tak perlu jauh-jauh untuk menemani anak ke ruang yang cukup besar untuknya berlari-lari ke sana kemari, atau membayar uang ke tempat bermain anak di dalam mal-mal. Cukup jalan-jalan di Esplanade, Gardens by the Bay, Clarke Quay, atau bahkan di antara flat-flat dan apartemen, ada saja trotoar lebar yang cukup aman dan nyaman untuk berlari-lari. 

Ingin naik bukit atau hutan? Bisa saja ke MacRitchie Reservoir. Selain itu, anak-anak bisa saja main ke sekitar Asian Civilisations Museum atau Bishan Park dan habiskan petang di sana dengan rasa senang di hati, energi pun tersalurkan.


Kanopi, ruang yang luas untuk berlarian, bahkan “berpose ala putri duyung”

5. Aturan yang berpihak pada keselamatan

Keselamatan di ruang publik adalah hal yang penting dan ditegakkan di Singapura. Di dalam bis, orang tua yang membawa anak diwajibkan untuk diberi ruang untuk duduk, dan itulah yang kami alami. Hampir setiap saat ada orang yang berbaik hati merelakan tempat duduk di bis atau di MRT untuk kami. Supir bis pun menunggu kami untuk duduk dengan sempurna sebelum menginjak pedal gas. Jika anda penyandang disabilitas, supir bis wajib membantu menurunkan anda sebelum mempersilakan orang lain untuk masuk. Di jalan-jalan hampir selalu ada trotoar dan kanopi sambung-menyambung, melindungi anda dari kecelakaan dan cuaca. Menyeberang juga tidak sembarangan dan jelas aturannya, dibantu lampu penyeberangan orang. Jembatan hampir selalu ada lif atau ramp untuk stroller.


Sarana bis yang memadai, dan jalan yang aman untuk dilintasi

6. Tidak selalu ke mal

Seperti saya bilang di atas, a good weekend is not always about going to the malls. Anak saya punya opsi untuk pergi ke taman, ruang publik mana pun, ke pantai, ke tempat bermain air. 

Bahkan, jika anaknya suka pesawat, kita bisa mengajaknya berkunjung ke bandara (dapat ditempuh hanya 20 menit dari tempat kami). Bandara Changi tidak membosankan, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam di situ bersama Janis. 

Museum juga menjadi opsi yang sangat memungkinkan. Kami belum memutuskan apakah anak kami akan kami daftarkan ke pre-school, tapi kami bisa ajak mereka ke museum dan mendapatkan pengalaman yang sama mendidiknya. Museum di sini tidak kusam, malah selalu dihidupkan (tidak mesjid saja yang dihidupkan, ya). Suka seni? Bisa ke National Gallery, ArtScience Museum atau Singapore Arts Museum. Jangan lupa pula, di Esplanade Theatres on the Bay, ada banyak acara yang bisa dipilih untuk anak anda.


Mau ke kafe tanpa ke mal? Bisa! Mau ke museum dan tetap bersenang-senang? Bisa!


Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura

Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.

Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.

Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.

Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.


« Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil